Perdaban Pulau Kreta

Perdaban Pulau Kreta

Sejarah Eropa Kuno diawali dengan munculnya peradaban Pulau Kreta. Pulau Kreta secara geografis terletak di selatan Yunani dengan pusat pemerintahan di Knossus. Selain kota Knossus juga terdapat kota - kota lain seperti Phaestos, Tylissos, dan Hanos. Letak Pulau Kreta sangat strategis yaitu berada diantara jalur pelayaran Mesir, Yunani dan Mesopotamia. Dari letaknya ini kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan pelayaran dan perdagangan. Pulau Kreta juga menjadi jembatan benua Asia, Eropa dan Afrika. Sejarah Pulau Kreta dapat diketahui dari karya sastra berupa legenda dan mitologi karangan Homerus yang berjudul Illiad dan Odysseia. Homerus menceritakan Pulau Kreta yang indah permai, memiliki kurang lebih 90 kota. Uraian tersebut diperkuat oleh Sir Arthur Evans yang berasal dari Inggirs yang pertama kali melakukan penggalian pada tahun 1878 M. Melalui penggalian tersebut ditemukan bukti - bukti arkeologi mengenai kejayaan Pulau Kreta.

Kota - kota pada Pulau Kreta seperti Knossus dan Phaestos telah tertata dengan baik. Bangunan pada umumnya terbuat dari batu - bata dan sebagian bertingkat. Di Knossus ditemukan reruntuhan istana berbentuk labyrinth (rumah siput). Labyrinth berasal dari kata Labrys yang berarti tersesat. Bangunan istana labirin didesain sedemikian rupa untuk menyesatkan orang yang ingin mencuri dan menjarah dengan susunan - susunan kamar, ruangan dan lorong yang ruwet. Tujuan didirikannya istana labyrin adalah karena letak dari Pulau Kreta yang terbuka dan strategis sehingga menjadi incaran bangsa lain.

Masyarakat Pulau Kreta juga mengenal seni Lukis Fresko, seni porselin / gerabah, seni pahat pada gading atau media lain seperti logam. Peninggalan Pulau Kreta juga menghasilkan peralatan seperti alat pertukangan, sepatu, pengecoran logam dan lain - lain. Mereka juga mengenal tulisan yang disebut Minos. Nama Minos berasaldari nama seorang raja besar di Pulau Kreta, dan bahkan nama kebudayaan Pulau Kreta dinamakan Minoa. Meskipun ditemukan peninggalan berupa tulisan Pulau Kreta, namun hingga kini tulisan tersebut belum bisa dibaca dan sejarah Pulau Kreta belum bisa diungkap secara jelas.


Kejayaan Peradaban Pulau Kreta
Kebudayaan Kreta  mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Raja Minos (periode Minoan) yang ditandai dengan dikuasainya Laut Aegean hingga Swedia dan mampu menyatukan daratan Eropa, Asia dan Afrika. Kerajaan Minos telah memanfaatkan letaknya yang strategis dengan mengembangkan armada laut. Armada laut Pulau Kreta merupakan armada laut pertama di dunia. Pencapaian armada maritim ini telah berhasil membina hubungan dagang dengan Mesir, Syria, Babylonia, Asia Kecil dan wilayah lain. 

Kehidupan di Pulau Kreta
Pulau Kreta pertama kali dihuni oleh orang - orang Minran dengan pemerintahan Minos. Peradaban Pulau Kreta mewariskan dasar - dasar dan aturan pemerintahan ke pemerintahan Yunani Kuno.Terdapat dua kota legendaris di Pulau Kreta yaitu Knossus dan Paestos. Peninggalan berupa makam, bekas benteng dan alat - alat kehidupan lain. Hal tersebut tercantum pada prasasti yang ada di makam raja - raja, Minran datang dari Balkan dan melalui laut hitam kemudian menyebrang ke Pulau Kreta. Ada juga yang menuju Pheloponesos yaitu yang menamakan diri mereka Arkhadia. Disisi lain ada juga yang bersal dari Balkan ke selatan kemudian menundukkan pemerintahan Minos serta membuka kota baru bernama Mycenae.

Agama
Agama Minoa dipercaya berasal dari kebudayaan Neolitikum yang selanjutnya digantikan bangsa Minoa. Terdapat sebuah ritual keagamaan yang dinamakan lompat banteng. Simbol keagamaan Minoa diantaranya matahari dan pohon. Adapula bukti yang menunjukkan Minoa melakukan pengorbanan manusia. Masyarakat Minos berkepercayaan Politeisme atau memuja banyak dewa berupa dewa - dewa dengan kekuatan - kekuatan alam. Dewa dalam kepercayaan Pulau Kreta tidak berfungsi sebagai pencipta malapetaka, melainkan pelindung dan pemberi berkah.

Seni

Pada kegiatan penggalian diwilayah Pulau Kreta menunjukkan adanya lukisan dinding, patung, dan tembikar. Tembikar menjadi barang dominan pada bangsa Minoa sejak kedatangan mereka di Kreta hingga masa Istana Baru, ketika akhirnya ditemukan teknologi tembikar guna standarisasi desain. Lukisan dinding di Pulau Kreta menunjukkan tema - tema natural dan keagamaan dengan gambar banteng dan ular yang sering muncul dari karya seni Minoa.

Masyarakat Minoa mengenal seni lukis Fresko, seni porselin atau gerabah, seni pahat pada gading atau media lain. Fresko merupakan teknik melukis di dinding dengan menampakkan pigmen pada plaster dinding yang baru dilapisi. Pigmen yang ditimpa pada plester basah akan melekat sangat kuat sehingga hasil karya ini dapat dinikmati selama berpuluh - puluh tahun. Adonan Fresko harus memiliki takaran yang tepat, sebab apabila terlalu basah maka akan menyebabkan munculnya jamur dan apabila terlalu kering maka pigmen tidak dapat menempel.

Kehidupan Perekonomian
Kegiatan perekonomian di Minoa bermacam - macam. Kegiatan pertanian di Minoa didominasi tumbuhan seperti gandum, anggur, zaitun, dan ara. Mereka beternak domba, kambing dan babi. Bangsa Minoa juga merupakan bangsa pedagang. Komoditas yang diperjualbelikan diantaranya seperti timah. Wilayah perdagangan bangsa Minoa meliputi Mesopotamia, Mesir dan Spanyol. Seiring munculnya besi yang menggantikan perunggu, perdagangan Minoapun runtuh.

Aksara dan Bahasa
Bangsa Minoa sudah mengenal tulisan yaitu huruf hieroglif yang digunakan sampai 1700 SM. Setelah itu berkembang sistem tulisan Linier A pada periode istana purba dan terus digunakan hingga masa istana baru. Linier A memiliki banyak simbol, masing masing melambangan satu suku kata, kata atau angka. Setelah penaklukan Mikenai, Linear A diganti Linear B. Hingga saat ini Linear A belum dapat diterjemahkan,

Runtuhnya Pulau Kreta
Keruntuhan Peradaban Pulau Kreta belum diketahui secara pasti. Menurut para ahli ada kemungkinan Pulau Kreta runtuh dikarenakan bencana alam. Sekitar abad 15 SM, Gunung Thera yang letaknya 100 km diutara Pulau Kreta meletus dan memuntahkan lava dan juga abu yang menyebabkan langit Pulau Kreta tertutup dan akibatnya mematikan berbagai tumbuh - tumbuhan. Selain dugaan adanya bencana alam, ada juga yang menduga adanya invasi dari bangsa pendatang yang berasal dari ras Indo Jerman yang berasal dari Asia Tengah yang bergerak ke Yunani kemudian menyebar ke Pulau Kreta. Dari letaknya, Pulau Kreta sangat rentan terhadap pengaruh Mesir dan Mesopotamia karena letaknya yang sangat dekat. Setelah peradaban Pulau Kret runtuh, mulailah berkembang peradaban Yunani di kota Mycena (salah satu daerah kekuasaan pemerintahan Pulau Kreta sebelumnya).
Peradaban Mohenjodaro dan Harappa

Peradaban Mohenjodaro dan Harappa

Peradaban Harappa muncul lebih awal daripada kitab Weda, saat itu bangsa Arya belum sampai ke tanah India. Pada tahun 2500 SM, bangsa Troya mendirikan kota Mohenjodaro dan Harappa serta kota megah lain di sepanjang aliran sungai India. Pada tahun 1500 SM,  suku Arya datang ke tanah India. Asal mula peradaban India berasal dari aliran sungai di India yang sekarang menjadi letak dari kota Mohenjodaro, provinsi Sindu Pakistan dan kota Harappa di provinsi Punjabi.

Mohenjodaro
Mohenjodaro merupakan salah satu situs yang tersisa dari peradaban Sungai Indus yang terletak di Provinsi Sind, Pakistan. Mohenjodaro dibangun pada tahun 2600 SM, kota ini merupakan kota pemukiman pertama di dunia, bersamaan dengan peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia dan Yunani Kuno. Kata "Mohenjodaro" berarti "bukit orang mati". Kota Mohenjodaro juga sering disebut "Metropolis kuno di Lembah Indus".

Benda yang ditemukan di situs Mohenjodaro diantaranya seperti huruf, bangunan, perhiasan, alat rumah tangga, permainan anak - anak yang telah dihiasi berbagai seni gambar dan seni ukir yang indah dengan corak binatang seperti gajah, unta, kerbau, anjing dan lain - lain.

Harappa
Harappa merupakan sebuah kota di Punjab, timur laut Pakistan yang berjarak sekitar 35 km tenggara Sahiwal. Kota ini berada di bantaran bekas sungai Ravi. Peradaban Harappa muncul sebelum munculnya kitab Veda, saat itu bangsa Arya belum datang ke India. Kota Harappa dibangun pada 3300 hingga 1600 SM. Di kota ini banyak ditemukan relik dari masa Budaya Indus yang juga terkenal dengan budaya Harappa. Harappa memiliki lay-out kota yang sangat canggih.
Benda - benda yang ditemukan di Harappa diantaranya arca - arca (terra cotta) yang diukir dalam bentuk wanita telajang dada (ukiran tersebut menggambarkan ibu sebagai sumber kehidupan), alat dapur dari tanah liat, periuk belanga, pembakaran batu keras, (masih kuat hingga sekarang), sebuah patung disamping dewa (gambaran kesucian pohon bodhi tempat dimana Sidharta menerima wahyu); arca - arca yang melukiskan lembu yang menyerang harimau, lembu bertanduk sebagai gambaran bahwa mereka mensucikan binatang.

Tata Kota Mohenjodaro dan Harappa
Mohenjodaro dan Harappa merupakan kota terbesar yang ada di lembah sungai Indus. Mohenjodaro dan Harappa menjadi simbol peradaban India kuno yang  tinggi yang ditandai adanya kota yang teratur dari segi penataan. Kota Mohenjodaro dan Harappa merupakan kota pertama yang merancang sistem sanitasi. Penataan masa pembangunan yang diterapkan oleh kota Mohenjodaro adalah organisasi grid. Jalan di kota Mohenjodaro berupa jalan sejajar tegak lurus sehingga membentuk blok - blok yang digunakan sebagai tempat pendirian bangunan. Konsep ini bisa dilihat pada kawasan perumahan modern atau apartemen yang tiap rumah tertata sangat rapih dan berada dijalur lurus.

Didalam kota, rumah - rumah perorangan maupun kelompok dibangun dalam suatu pemukiman yang memungkinkan adanya sirkulasi udara agar selalu mendapatkan udara yang segar. Air yang ada dirumah didapatkan dari sumur - sumur. Didalam rumah sudah disediakan satu kamar untuk mandi, air limbah diarahkan ke saluran tertutup yang menuju ke jalan utama. Sistem pembuangan dan saluran air di Indus kuno jauh lebih maju bila dibandingkan dengan lokasi perkotaan kontemporer di Timur Tengah dan bahkan lebih efisien daripada didaerah Pakistan dan India lain. Mohenjodaro dan Harappa menggunakan sistem irigasi yang telah dipertimbangkan agar rumah - rumah tidak terkena banjir dengan membuat jalan air. Semua rumah memiliki fasilitas air dan saluran air. Saluran air digunakan untuk pembuangan yang dibangun dibawah tanah dengan menggunakan batu bata.

Mengingat banyaknya patung yang ditemukan disekitar lembah Indus, hal ini menimbulkan pemikiran bahwa orang - orang Mohenjodaro dan Harappa menyembah patung yang disebut ibu dewi yang dilambangkan sebagai simbol kesuburan. Beberapa lembah Indus menunjukkan swastika yang dikemudian hari berkembang menjadi agama dan mitologi Hinduisme dan Jainisme. Bukti adanya unsur - unsur Hindu sebelum dan sesudah periode Harappa adalah ditemukannya simbol - simbol Hindu berupa siva lingam.

Kota Mohenjodaro dan Harappa hilang menjadi kota mati sekitar tahun 1750. Faktor yang menyebabkan hilangnya kedua kota ini diperkirakan adanya invasi yang dilakukan bangsa Arya kedaerah peradaban Hindustan pada sekitar tahun tersebut. Hingga 1000 tahun setelahnya tidak ada pembangunan kota dengan peradaban yang tinggi diwilayah tersebut.
 
Bekas bangunan di wilayah Mohenjodaro dan Harappa terlihat sangat teratur dalam penataannya. Puing - puing tersebut terbuat dari bahan yang sama yaitu batu bata dan tanah liat. Dari hal tersebut dapat disimpulkan kemajuan tata kota Mohenjodaro dan Harappa yang sangat maju yakni dengan adanya pola jalan raya dan adanya saluran bawah tanah.
Dinasti Hsia

Dinasti Hsia

Dinasti Hsia merupakan dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok yang berlangsung hampir 500 tahun antara abad ke 21 hingga 16 SM. Wilayah kekuasaan Dinasti Hsia terbentang dari bagian selatan Provinsi Shanxi Tiongkok Utara dan bagian barat Provinsi Henan Tiongkok Tengah. Da Yu merupakan pendiri dari Dinasti Hsia dan merupakan tokoh pahlawan yang berhasil menjinakkan banjir serta memberi kehidupan tentram bagi rakyat Tiongkok. Da Yu dipercaya telah menjinakkan Sungai Kuning yang setiap tahun meluap sehingga mendapatkan dukungan dari marga dan akhirnya mendirikan Dinasti Hsia.

Berdirinya Dinasti Hsia menandakan berakhirnya masa primitif di Tiongkok yang digantikan dengan masyarakat sistem milik pribadi dimana muncul juga sistem perbudakan. Pada akhir Dinasti Hsia, terjadi kekacauan politik dalam keluarga Kerajaan Hsia dan kontradiksi kelas semakin meruncing. Raja Xia Jie yang merupakan raja terakhir Dinasti Hsia naik tahta, ia memiliki sifat suka berfoya - foya tanpa memikirkan perbaikan pemerintahannya sendiri. Setiap hari ia cuma minum - minuman dan main - main dengan selirnya tanpa peduli penderitaan rakyat. Menteri yang mengajukan nasehat dibunuh oleh Xia Jie. Negara - negara kepangeranan dari Dinasti Hsia beramai - ramai melakukan pemberontakan. Muncul seorang bernama Shang yang mengambil kesempatan  untuk menyerang Xia Jie dan akhirnya bisa mengalahkannya. Xia Jie meninggal dalam pelariannya di Nan Cao dan berakhirlah Dinasti Hsia.

Wilayah Dinasti Hsia
Oleh karena sumber sejarah yang membahas tentang Dinasti Hsia sangat sedikit, keberadaan Dinasti Hsia masih menjadi kontroversi. Namun, genealogi Dinasti Hsia tercatat dalam catatan sejarah sebuah buku terkenal di Tiongkok. Para arkeolog menggunakan sumber instrumen arkeologi dalam menemukan peninggalan materi dan budaya Dinasti Hsia untuk mengembalikan sejarah dinasti sebagai mana adanya.

Sejak tahun 1959, para arkeolog telah melakukan penyelidikan atas pertilasan Dinasti Hsia. Kini, sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa, untuk menjajaki budaya Dinsati Hsia, para ilmuwan perlu mempelajari petilasan Erlitou, Yanshi, Provinsi Henan Tiongkok Tengah. Menurut hasil pengetesan, keberadaan petilasan tersebut diperkirakan berasal dari tahun 1.900 tahun SM termasuk dalam lingkup kronologi Dinasti Hsia. Meskipun hingga sekarang belum ada cukup bukti mengenai Dinasti Hsia, namun dari hasil penyelidikan tersebut dengan kuat telah mendorong penjajakan budaya Dinasti Hsia. Alat - alat hasil budaya yang ditemukan dari budaya Erlitou adalah alat dari batu, alat - alat dari tulang dan kulit. Didasar sejumlah rumah terdapat lubang abu dan dinding kubur dan terdapat pula bekas  penggalian tanah dengan alat dari kayu. Dengan alat - alat yang masih sederhana dan primitif tersebut, rakyat pekerja mengembangkan kerajinan dan kecerdasannya untuk menjinakkan sungai, menggarap tanah dan mengembangkan produksi.

Walaupun hingga kini belum ditemukan alat - alat perunggu di petilasan Dinasti Hsia, namun Petilasan Kebudayaan Erlitou sudah ditemukan alat - alat seperti pisau, tusuk, pahat serta senjata bejana dari perunggu. Disisi lain ditemukan juga bekas tempat pengecoran perunggu dan digali sisa tembikar dan perunggu serta keping ketel pengecoran. Selain itu pada petilasan Kebudayaan Erlitou ditemukan banyak benda jade atau giok yang taraf pembuatannya cukup tinggi seperti seperti barang hiasan bertahtakan batu permata dan alat musik yang terbuat dari batu. Hal ini menunjukkan teknik kerajinan tangan dan pembagian kerja intern telah mengalami kemajuan.

Dalam dokumen kuno yang paling patut dicermati adalah adanya sistem penanggalan yang dipakai oleh Dinasti Hsia. Menurut dokumen tersebut, Dinasti Hsia sudah bisa memastikan bulan menurut posisi yang ditunjukkan oleh gagang bintang kejora, itulah sistem penanggalan awal Tiongkok. Sesuai dengan urutan 12 bulan penanggalan Dinasti Hsia masing - masing tercatat astrologi, meteorologi dan  lain - lain berkaitan dengan kegiatan pertanian dan pemerintahan yang perlu dikerjakan. Pada taraf tertentu telah mencerminkan taraf perkembangan produksi pertanian Dinasti Hsia dan menyimpan pengetahuan ilmu yang relatif bernilai dan paling tua di Tiongkok.
Candi Morangan

Candi Morangan

Sumber : wisatapriangan.co.id
Candi Morangan terletak di kaki gunung merapi tepatnya Dusun Morangan, Sindumartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad ke 9 dan 10 M pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Bangunan Candi Morangan terdiri dari candi induk dan candi perwara yang masing - masing terbuat dari batu andesit. Candi Morangan dalam keadaan terpendam pada saat pertama kali ditemukan pada tahun 1982 yaitu pada kedalaman 6,5 meter dibawah permukaan tanah. Terdapat relief pada bagian batang kaki, batang tubuh candi yang terletak diantara perbingkaian atas dan perbingkaian bawah.

Candi perwara menghadap ke arah timur dengan ukuran 4 x 4. Candi Morangan memiliki ciri khas dimana terdapat panel relief yang merupakan bagian dari cerita Tantri Kamandaka tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing. Cerita tersebut hanya ada dalam candi Buddha.  Terdapat arca yoni dan arca resi didalam relung - relung candi. Candi induk sendiri menghadap ke barat, memiliki 1 bilik dan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 7,95 m x 7,95 m. Candi Morangan juga memiliki selasar dengan lebar 90 m. Profil candi ini terdiri atas sisi genteng belah rotan, bingkai persegi, serta takuk ganda. Candi Morangan berlokasi dekat dengan Kali Gendol yang sangat rawan akan adanya sapuan banjir lahar dingin.

Sumber : Gudeg.net
Kerajaan Medang Kamulan

Kerajaan Medang Kamulan

Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Medang Kamulan bukan diperintah oleh wangsa dari Mataram Kuno, melainkan wangsa lain. Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Jawa Timur pada abad ke 10. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Wangsa Sanjaya (Kerajaan Mataram Kuno yang ada di Jawa Tengah) yang memindahkan kekuasaan ke wilayah Jawa Timur. Pemindahan Mataram Kuno ke Jawa Timur diperkirakan terjadi karena adanya letusan gunung merapi pada tahun 929 M. Dari beberapa sumber menjelaskan bahwa wilayah Medang Kamulan berada di Watu Galuh, tepi Sungai Brantas yang beribukota di Watan Mas yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Mpu Sendok merupakan raja pertama Kerajaan Medang Kamulan sekaligus pendiri Wangsa Isyana yang menurunkan raja - raja Medang selanjutnya. Wangsa Isyana memerintah selama 1 abad sejak tahun 929 M.

Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Medang Kamulan mencakup beberapa wilayah, diantaranya Nganjuk disebelah barat, Pasuruan disebelah timur, Surabaya disebelah utara, dan Malang disebelah selatan. Dalam perkembangannya, wilayah Medang Kamulan semakin luas mencakup hampir seluruh wilayah Jawa Timur.

Sumber Sejarah
1. Berita Asing
  • Berita India mengatakan bawa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Chola. Hubungan ini untuk membendung dan menghalangi kemajuan Kerajaan Medang Kamulan yang pada saat itu dipimpin oleh Dharmawangsa.
  • Berita Cina yang ditulis oleh Dinasti Sung menyatakan bahwa terjadi permusuhan antara kerajaan di Jawa dan Sriwijaya sehingga duta Sriwijaya yang berada di Negeri Cina (990 M) terpaksa harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan reda. Pada tahun 992 M pasukan Jawa meninggalkan Sriwijaya dan pada saat itu Kerajaan Medang Kamulan dapat memajukan pelayaran dan perdagangan.
2. Prasasti
  • Prasasti Tangeran (933 M) berasal dari Desa Tangeran, Jombang, yang berisi bahwa  Mpu Sendok memerintah bersama permaisurinya Sri Wardhani.
  • Prasasti Bangil yang berisi perintah Mpu Sendok untuk membangun tempat peristirahatan mertuanya, Rakryan Bawang.
  • Prasasti Lor (939 M) dari Lor, dekat Nganjuk yang berisi perintah Mpu Sendok dalam membangun Candi Jayamrata dan Jayamstambho (tugu kemenangan) di Desa Anyok Lodang.
  • Prasasti Kalkuta yang berisi hancurnya istana Dharmawangsa dan memuat silsilah raja Medang Kamulan.
Kehidupan Politik
  • Mpu Sindok (929 - 949 M) merupakan raja pertama yang memerintah Medang Kamulan selama 20 tahun. Mpu Sindok bergelar Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa. Dalam memerintah kerajaan Medang Kamulan dibantu oleh permaisurinya bernama Sri Wardhani Pu Kbin. Mpu Sindok merupakan raja yang bijaksana. Kebijakan Mpu Sindok diantaranya membangun bendungan atau tanggul untuk pengairan, melarang penangkapan ikan pada siang hari guna pelestarian sumberdaya alam, melakukan pengubahan kitab Buddha Mahayana menjadi kitab sang hyang kamahayanikan.
  • Sri Isyana Tunggawijaya atau bernama Sri Lokapala (947-9xx M)
  • Sri Makutawangsawardhana (9xx-985 M)
  • Dharmawangsa Teguh (990 - 1016 M) merupakan cucu Mpu Sindok. Ia memiliki tekat memperluas wilayah perdagangan hingga ke kekuasaan Sriwijaya. Salah satu penghalang berkembangnya Medang Kamulan pada masa pemerintahan Dharmawangsa adalah keberadaan Kerajaan Sriwiaya. Medang Kamulan sempat menyerang Sriwijaya, namun gagal. Bahkan Kerajaan Sriwjaya melakukan serangan balik melalui serangan Kerajaan Wurawari atau dinamakan Pralaya Medang. Pada peristiwa ini Dharmawangsa gugur.
  • Airlangga / Erlangga (1019 - 1042 M) merupakan putera dari raja Bali Udayana dan Mahendradatta, saudari Dharmawangsa Teguh. Ia dinikahkan dengan putri Dharmawangsa Teguh ketika terjadi Pralaya Medang. Ketika terjadi Pralaya Medang, Airlangga melarikan diri ke hutan Wonogiri, hingga 1019 M ia dinobatkan sebagai raja. Airlangga memulihkan kewibawaan dan kekuasaan Medang Kamulan dengan mengalahkan raja - raja terdahulu seperti raja Bisaprabhawa (1029), raja Wijayawarman (1030), raja Adhamapanuda (1031), dan raja Wuwari (1035). Kebijakan Airlangga diantaranya memperbaiki pelabuhan Hujung Galung yang teretak di Kali Brantas, membangun Waduk Waringin Sapta guna mencegah banjir, membangun jalan antara pesisir dengan pusat kerajaan. Kerajaan Medang Kamulan mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Airlangga.
Kehidupan Ekonomi
Mpu Sindok memerintah membangun bendungan dan kebijakan lain. Pada pemerintahan Dharmawangsa menginginkan peningkatan perdagangan dan pertanian. Begitu pula pada masa pemerintahan Airlangga yang berusaha memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Berantas dengan memberi tanggul - tanggul untuk mencegah banjir.


Kehidupan Sosial Budaya
Dalam bidang sastra, Mpu Sindok mengizinkan penyusunan kitab Sanghyang Kamahayamikan (Kitab suci agama Buddha), padahal Mpu Sindok sendiri beragama Hindu. Pada masa pemerintahan Airlangga dikembangkan kitab Arjunawiwaha yang dikarang Mpu Kanwa. Begitu pula seni wayang yang berkembang dengan baik di Medang Kamulan diambil dari epic Ramayana dan Mahabarata yang ditulis ulang dan dipadukan menggunakan budaya Jawa.

Peninggalan Kerajaan
Berikut merupakan peninggalan kerajaan Medang Kamulan :
  • Pertapaan Pucangan yang berada di Gunung Penanggungan, terdapat prasasti yang berbahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, merupakan peninggalan dari pemerintahan raja Airlangga yang berisi penjelasan tentang peristiwa serta silsilah keluarga raja secara berurutan. Prasasti ini disebut prasasti kalkuta, karena prasasti ini disimpan di Museum India di kota Kalkuta, India. 
  • Candi Lor (Anjuk Ladang) berada di wilayah Brebek, Nganjuk yang berisi bahwa Mpu Sindok memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai tanda penetapan area Anjuk Ladang (sekarang dinamakan Nganjuk) sebagai area swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan. Di situs ini ditemukan Prasasti Anjuk Ladang yang disimpan di Museum Anjuk Ladang.

  • Candi Gunung Gangsir terletak di wilayah Bangil yang dibangun pada masa pemerintahan Airlangga sekitar abad 11 M. Candi Gunung Gangsir dibangun menggunakan batu bata, bukan batu andesit.
  • Candi Songgoriti terletak di Batu, Malang merupakan satu - satunya peninggalan Mpu Sindok di Kota Batu. Cerita yang beredar, kisah Candi Songgoriti berawal dari keinginan Mpu Sindok yang ingin membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan di pegunungan yang terdapat mata airnya. Seorang petinggi kerajaan yang bernama Mpu Supo diperintahkan untuk membangun tempat tersebut. Dengan upaya yang keras, Mpu Supo menemukan kawasan yang sekarang dikenal dengan kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan, Mpu Supo membangun kawasan tersebut menjadi tempat peristirahatan yang sekarang dikenal dengan nama kawasan Songgoriti.

  • Candi Belahan dibangun pada masa pemerintahan Airlangga pada abad ke 11. Petirtaan Belahan terletak disisi timur Gunung Penanggungan tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Menurut sejarah,selain digunakan sebagai pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga difungsikan sebagai pemandian para selir prabu Airlangga. Oleh karena itu, untuk menghormati dua selirnya, Airlangga membangun dua patung perlambang Dewi Laksmi dan Dewi Sri dengan patung seorang wanita telanjang dada dimana payudara patung tersebut mengalirkan air. Petirtaan ini diberi nama Sumber Tetek.

  • Temuan Wonoboyo merupakan salah satu temuan arkeologi terpenting di Indonesia dimana temuan ini terdapat penemuan logam mulia emas dan perak. Penemuan ini mengungkapkan kekayaan, ekonomi, serta pencapaian seni dan budaya Kerajaan Medang pada abad ke 9 M.Temuan emas ini menampilkan kesenian yang halus serta menunjukkan estetika emas kuno Jawa. Pada permukaan koin terdapat ukiran huruf "ta", singkatan dari "tail" atau "tahil" unit mata uang Jawa Kuno. Ditemukan juga tulisan "Saragi Diah Bunga" dalam bahasa Kawi.

Runtuhnya Medang Kamulan
Airlangga mundur dari tahtanya pada tahun 1042 M dan memutuskan menjadi petapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra). Menjelang akhir pemerintahannya, raja Airlangga menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya Sangrama Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya lebih memilih menjadi seorang pertapa dengan nama Ratu Giriputri. Tahta beralih ke keturunan Airlangga dari para selir. Untuk menghindari perang saudara, maka kekuasaan Medang Kamulan dibagi menjadi dua oleh Mpu Baradha yakni wilayah timur dari Surabaya hingga Pasuruan yang beribukota di Kahuripan (Jiwana) diberikan kepada Garasakan (Jayengrana), dan wilayah barat meliputi Kediri hingga Madiun yang bernama kerajaan Kediri (Panjalu) yang beribukota di Kediri (Daha).
Mengenal Hieroglif Mesir

Mengenal Hieroglif Mesir

Hieroglif merupakan tulisan atau abjad pada masa Mesir Kuno yang terdiri atas 700 gambar dan lambang diantaranya dalam bentuk manusia, hewan dan benda. Hiroglif Mesir memadukan antara alfabet dan logogram. Penulisan hieroglif di Mesir mulai digunakan sejak 3000 SM. Hieroglif di Mesir digunakan untuk sastra pada papyrus dan kayu. Sistem penulisan Hieroglif di Mesir sudah ada sebelum kesusastraan tradisi artistic Mesir. Sebagai contoh simbol pada tembikar gerzean dari tahun 4000 SM menyerupai hieroglif. Atau prasasti hieroglif pertama yang ditemukan oleh Namer Palette yang diperkirakan dibuat pada tahun 3200 SM. Pada tahun penemuan Gunter Dayer, seorang arkeologis Jerman yang pada tahun 1998 menemukan sebuah makam yang didalamnya terdapat pahatan nama yang diperkirakan dibuat pada abad ke 33 SM. Dapat disimpulkan dari contoh - contoh diatas bahwa hiroglif Mesir sudah ada sejak 4000 -  3000 SM. Penulisan aksara hieroglif selanjutnya terus dipakai hingga diberhentikan pada tahun 391 M oleh kaisar Romawi, Theodosius.


Pada awalnya penggunaan hieroglif gambar diperuntukkan untuk mewakili tulisan yang kasar. Contoh penggunaan hieroglif diantaranya seperti piringan untuk simbol matahari, bulan sabit untuk bulan, dan garis gelombang untuk air. Tulisan ini hanya mewakili bentuk benda yang terlihat saja. Tulisan ini tidak dapat mewakili benda - benda yang tidak dapat dilihat seperti cahaya, udara, hari ataupun pikiran. Oleh sebab itu hieroglif dianggap sebagai simbol ide - ide atau yang dinamakan ideogram. Pada perkembangannya hieroglif menggunakan gambar lebah untuk mewakili bunyi. Contohnya bila ada gambar lebah, gambar tersebut menunjukkan kepada kita kata "lebah" dan bukan serangga. Penulisan tersebut dinamakan fonogram. Orang - orang Mesir juga bisa menulis apapaun yang mereka ingin tuliskan, namun mereka menuliskan hanya huruf konsonan, seperti kata "minum" yang mereka tulis adalah "mnm". Seiring berjalannya waktu semua penulisan tersebut semakin berkembang dan semakin rumit untuk orang awam. Penulisan hieroglif dapat dimulai dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah ataupun dari bawah ke atas. Namun biasanya huruf hieroglif ditulis dari kanan ke kiri seperti huruf arab.
Kuil Parthenon, Peninggalan Peradaban Yunani

Kuil Parthenon, Peninggalan Peradaban Yunani

Parthenon merupakan salah satu hasil kebudayaan bangsa Yunani Kuno untuk menyembah Athena, dewi yang menjadi patron orang - orang Athena. Bangunan Parthenon terletak di Akropolis. Parthenon dibangun pada masa puncak kejayaan polis Athena (477 SM). Eksterior Parthenon berhasil diselesaikan pada 438 SM dan selesai didekorasi pada tahun 432 SM.

Sebenarnya, Parthenon merupakan pengganti dari kuil Athena yang hancur akibat invasi Persia pada tahun 480 SM. Selain sebagai pengganti, bangunan Parthenon juga merupakan wujud syukur orang - orang Athena yang telah diberikan keselamatan oleh Dewi Athena pada serangan bangsa Persia.

Pada abad akhir ke - 6 M, kuil ini didedikasikan kepada Perawan Maria dan beralih fungsi menjadi gereja. Ketika Ottoman menguasai Athena sekitar tahun 1460, Parthenon beralih fungsi menjadi masjid. Pada tanggal 26 Desember 1687, ledakan terjadi di dalam Parthenon karena serangan dari Venezia sehingga arsitektur megah Parthenon mengalami kerusakan parah. Dapat disimpulkan bahwa bangunan Parthenon pernah digunakan sebagai tempat peribadatan oleh tiga agama yang berbeda yaitu Yunani Kuno, Kristen dan Islam.

Parthenon bukanlah kuil yang besar, namun nilai dari bangunan ini adalah akumulasi dari estetika dan filsafat Yunani : idealisme cara hidup, perhatian yang detail, pengertian matematis yang menjelaskan keharmonisan alam. Tingkat presisi yang sangat akurat diperlihatkan di bangunan Parthenon. Hal ini yang membedakan Partenon dengan bangunan dari kebudayaan lain. Parthenon merupakan perlambang dari demokrasi Athena. Orang Athena percaya bahwa mereka berbeda dengan orang barbar karena mereka hidup berdemokrasi. Parthenon merupakan salah satu tempat dimana mereka mempraktikkan demokrasi. Disana setiap individu dianggap penting dan layak dipertimbangkan.

Bangunan Parthenon
Dasar bangunan Parthenon terbuat dari batu kapur dan tiangnya terbuat dari marmer Pentelic. Dasar bangunan Parthenon memiliki ukuran 23.028 kaki persegi atau sekitar setengah lapangan sepak bola dengan 46 tiang luar dengan tinggi 34 kaki. Arsitek dari bangunan Parthenon adalah Iktinos dan Kallikrates. Fungsi utama Parthenon adalah untuk menampung patung - patung monumental Athena yang terbuat dari emas dan gading ciptaan Pheidias. Pembangunan Parthenon menelan biaya 469 perak talents. 1 talents zaman itu bisa untuk membuat satu trireme, kapal perang paling canggih pada masanya.

Berbeda dengan bangunan Yunani lain yang tiang depannya berjumlah enam, kuil Parthenon memiliki delapan tiang. Kuil Yunani lain memilki hiasan friz (bongkahan batu panjang dengan pahatan bersambung) saja, atau metope (panel batu individual berhias) saja, namun pada Parthenon terdapat friz dan metope sekaligus. Ada serangkaian triglif dan metope di akitraf utama, diatas tiang bergaya Doria, dan ada friz di arkitraf dalam, diatas tiang bergaya lonia. Jadi ketika kuil - kuil Yunani lain memiliki tiang dengan satu gaya saja, tiang - tiang Pantheon dibuat dengan dua gaya. Para arsitek Yunani membuat Parthenon seindah mungkin.

Parthenon tidak menggunakan adukan pasir, kapur maupun semen. Penyambung antara tiang dan bagian lain menggunakan cara unik. Para pekerja membuat lekukan kecil dibagian atas dari setiap blok batu. Lekukan tersebut juga dibuat pada blok batu yang letaknya bersebrangan di sebelahnya. Lalu mereka menuangkan timah cair kedalamnya. Apabila timah sudah mengeras, blok batu tersebut sudah bersatu dengan erat. Marmer putih Parthenon didapat dari hasil menambang di gunung Pantelicus. Marmer tersebut diangkut sejauh enam kilometer ke kota Athena menggunakan kereta yang ditarik oleh lembu.

Tiang - tiang pada Parthenon berupa potongan marmer berbentuk drum yang disatukan dengan bahan logam. Jalur - jalur marmer dipahat ketika potongan marmer masih diatas tanah dan diselesaikan ketika tiang itu sudah berdiri tegak. Kuil Parthenon sebenarnya hanya sedikit memiliki garis lurus di seluruh kuil, namun arsitek Parthenon sangat pintar dalam perhitungan bangunan sehingga bangunan Parthenon terlihat simetris. Tiang Parthenon memiliki ukuran besar dibagian bawah dan mengecil dibagian atas. Sementara itu pada tiang bagian tengah lebih kurus daripada bagian lain dan bagian sudut merupakan tiang yang paling gemuk.

Parthenon dirancang sebagai simbol kejayaan Athena selama 800 tahun berdiri. Parthenon menjadi salah satu simbol keagungan kejayaan Yunani Klasik. Melalui Parthenon kita dapat melihat bagaimana rakyat Athena memuja dewanya serta kecerdasan dalam membuat bangunan kolosal Parthenon.
Peradaban Cina Kuno (Lembah Sungai Hwang Ho dan Sungai Yang Tze)

Peradaban Cina Kuno (Lembah Sungai Hwang Ho dan Sungai Yang Tze)

Peradaban Cina kuno terletak di sekitar Sungai Hwang Ho (Kuning) di utara dan Sungai Yang Tse di selatan. Penyebutan Sungai Kuning karena kandungan air Sungai Hwang Ho yang membawa unsur lumpur sehingga menyebabkan warna air berwarna kuning. Kedua sungai ini membawa bencana banjir dan sekaligus berkah berupa kesuburan bagi rakyat sekitar kedua sungai tersebut. Setiap tahun luapan air kedua sungai ini membawa endapan tanah yang subur yang memungkinkan berbagai tanaman tumbuh disekitar wilayah tersebut. Sejak masa neolitikum, penduduk Cina kuno sudah memanfaatkan wilayah yang subur ini dengan mengembangkan pertanian.

Sekitar 2500 SM, Bangsa Han yang merupakan percampuran dari ras Mongoloid dan Kaukasoid menjadi pendukung dari peradaban lembah Sungai Kuning dengan budaya agrarisnya. Pada tahun 1800 SM – 1600 SM mulai muncul bentuk pemerintahan dinasti tertua di Cina yaitu Dinasti Hsia dengan kebudayaan perunggu yang kemudian dilanjutkan oleh dinasti – dinasti yang lain yang berkembang hingga abad ke 20 M.

a. Ilmu dan Teknologi
Penguasaan ilmu dan teknologi pada kebudayaan Cina kuno dapat dilihat dari bangunan, ilmu filsafat, astronomi dan ragam keramik. Bangunan Tembok Besar Cina (The Great Wall) merupakan salah satu bangunan peninggalan kebudayaan Cina kuno. Tembok Besar Cina dibangun pada masa Kaisar Chin Shih Huang Ti dari Dinasti Cin dengan panjang bangunan 2.430 km, lebar 8 m dan tinggi 16 meter. Bangunan ini didirikan dengan tujuan untuk menahan serangan Bangsa Barbar (Hun / Shungnu) dari utara.


Pada teknologi penulisan, bangsa Cina pada awalnya menggunakan tulisan bergambar (pictograp) dengan aksara Honji yang merupakan cikal bakal aksara Cina modern. Pada awalnya tulisan Cina ditulis diatas bilah bambu atau kulit binatang sebelum ditemukannya kertas oleh Tsa'i Lun. Ilmu filsafat di Cina, berkembang pesat pada masa pemerintahan Dinast Chou yang ditandai dengan munculnya tokoh seperti Kong Fu Tse dengan ajaran Kongfusianisme yang berisi perilaku bijak individu dalam masyarakat, tata krama dalam keluarga dan pemerintahan yang bijaksana. Lao Tse dengan ajaran Taoisme yang menjelaskan tentang jalan alam atau jalan Tao. Dalam bukunya yang berjudul Tao Te Ching, Lao Tse menjabarkan bahwa pemerintah harus dijalankan sesuai dengan kehendak alam dan pemerintah harus mengelola dan memanfaatkan alam dengan baik. Mang Tse mengajarkan tentang Mengcius yang membahas mengenai hubungan baik antara pemerintah dengan rakyat. Rakyat harus tunduk kepada pemerintah apabila pemerintah berlaku benar, dan rakyat harus mengingatkan apabila pemerintah salah bahkan berhak memberontak apabila pemerintah tidak peduli dengan rakyat.

Masyarakat Cina kuno juga telah mengembangkan pengetahuan dibidang astronomi yang dimanfaatkan pada bidang pertanian, pelayaran dan pergantian musim. Selain itu pengetahuan pada bidang astronomi juga dimanfaatkan masyarakat Cina kuno untuk menyusun kalender dan zodiak (Shio). Oranamen dan ragam hias dari Cina memiliki mutu tinggi seperti guci, pot, piring – piring dan perabot rumah yang menjadi komoditas perdagangan utama dari Cina selain sutera.

b. Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat Cina Kuno terdiri dari tiga hal diantaranya :
  • Penghormatan terhadap para dewa seperti Dewa Pa (dewa musim kemarau), Dewa Lei Shi (dewa angina topan yang digambarkan dengan wujud naga), Dewa Ho-Po (dewa Sungai Hwang-Ho) dan dewa tertinggi Dewa Shang Ti (dewa langit) 
  • Penghormatan terhadap kekuatan alam seperti guntur, kilat, matahari, bintang dan lain – lain.
  • Penghormatan terhadap arwah leluhur atau nenek moyang keluarg.

c. Pemerintahan
Pada awalnya, sistem pemerintahan Cina Kuno didasarkan pada sistem primus interpares yang didasarkan pada kekayaan. Namun pada perkembangannya, sistem ini mengalami pergeseran menjadi sistem dinasti dimana kekuasaan berganti melalui pewarisan secara turun - temurun. Ada beberapa dinasti yang akan dibahas secara singkat diantaranya :

  • Dinasti Hsia
    Dinasti Hsia diperkirakan berdiri sekitar tahun 2697 SM. Tidak banyak data yang dapat dikemukakan pada dinasti ini. Beberapa ahli meyakini bahwa dinasti Hsia belum mengenal tulisan. Beberapa informasi yang didapatkan dari dongeng menjelaskan bahwa kaisar terakhir pada Dinasti Hsia adalah Kaisar Chieh.
  • Dinsati Hsang
    Dinasti Hsang memerintah sekitar tahun 1300 – 1027 SM yang beribukota di An-Yang. Raja yang terkenal dari dinasti ini adalah Kaisar Shang yang memerintah sebagai Raja Imam (Priest King). Sumber yang menyebutkan keberadaan Dinsati Hsang adalah bejana perunggu dan tempurung kura – kura.
  • Dinasti Chou
    Dinasti Chou didirikan oleh Kaisar Chou Wu Wang dengan pusat pemerintahan berada di Kota Chang – An. Dinasti Chou bercorak feodalis yang artinya pemerintahan yang didasarkan pada kepemilikan tanah. Dengan sistem ini Cina dibagi menjadi beberapa negara vassal (bawahan). Pada masa Dinasti Chou inilah muncul filsuf – filsuf terkenal diantaranya Kong Fu Tse, Lao Tse dan Meng Tse.
  • Dinasti Chin
    Dinasti Chin memindahkan ibu kota ke Han Tan. Raja yang termasyur adalah Kaisar Chin Shih Huang Ti. Pemerintahan feodal yang sebelumnya berlaku berganti dengan pemerintahan sentralistik (terpusat). Pada masa pemerintahan Shih Huang Ti mengeluarkan kebijakan pembangunan Tembok Besar Cina (The Great Wall) untuk menahan serangan bangsa Barbar yang datang dari utara. Dinasti Han mempekerjakan narapidana, budak dan pemberontak negara untuk membangun proyek Tembok Besar Cina dimana selama masa pembangunan diawasi oleh para tentara, sehingga diperkirakan banyak orang yang meninggal pada masa pembangunan. Kaisar Shih Huang Ti juga melarang faham dari Kong Fu Tse, Lao Tse dan Meng Tse karena dianggap memperlemah kekuatan bangsa dan merongrong wibawa pemerintah.
  • Dinasti Han
    Dinasti Han merupakan dinasti oleh suku Cina asli. Pada pemerintahan Dinasti Han, ibu kota dipindah kembali ke Kota Chang-An. Raja yang terbesar adalah Kaisar Han Wu Ti yang memperluas kekuasaan hingga ke Korea, Manchuria dan mampu membangun jalur sutera yang menghubungkan perdagangan Cina ke Asia Tengah, Asia Barat, hingga Romawi. Ajaran Kong Fu Tse, Lao Tse, dan Meng Tse dihidupkan kembali. Pada masa Dinasti Han ajaran agama Buddha masuk dan berkembang melalui perdagangan. Pada masa Dinasti Han ditemukan kertas oleh Tsa’i Lun pada 105 M yang banyak memberi dampak positif pada perkembangan peradaban dunia.
  • Dinasti Tang
    Pada masa Dinasti Tang ibukota dipindah ke Sian Fu. Raja yang terbesar adalah Kaisar Tang Tai Sung. Pada masa pemerintahannya, Cina mampu dipersatukan kembali bahkan memperluas wilayahnya hingga ke Teluk Tonkin Kamboja dan ke barat hingga laut Kaspia. Selanjutnya dinasti yang berkuasa hingga abad ke 20 diantaranya Sung (906 – 1280 M), Mongol (1259 – 1368 M), Ming (1368 – 1644 M) dan Manchu (1644 – 1912 M).

d. Pertanian
Masyarakat Cina kuno melakukan kegiatan pertanian di sekitar hilir sungai Huang Ho dan sungai Yang Tse. Hasil pertanian diantaranya padi, gandum, the dan kedelai. Selain bertani,masyarakat Cina kuno juga memelihara ulat sutera untuk diambil serat benang dari kepompongnya dan dijadikan pakaian dan kain. Bahkan sutera Cina menjadi komoditas dagang sampai ke Eropa melalui Asia Tengah.