Apa itu Marhaenisme?

Apa itu Marhaenisme?

Marhaenisme diambil dari nama seorang petani miskin yang benama Marhaen yang ditemui Soekarno. Kondisi prihatin seorang petani tersebut menjadi inspirasi bagi Soekarno untuk mengadopsi gagasan proletar yang khas dengan ideologi Marxisme. Belum diketahui secara pasti tujuan Soekarno menceritakan pertemuannya dengan Marhaen, kapan dan dimana pertemuannya, benarkah ada pertemuan tersebut? atau sebatas rekaan dari Soekarno saja?

Namun, dalam Penyambung Lidah Rakyat (Cindy Adams) ia bercerita mengenai pertemuannya dengan Marhaen. Ia bercerita bahwa ia bertemu dengan Marhaen di Bandung Selatan di daerah persawahan yang terhampar luas. Ia menemui Marhaen dan menanyakan kepemilikan atas sawah tersebut. Yang ia temukan adalah walaupun sawah, bajak, cangkul, adalah kepunyaannya sendiri dan ia mengerjakannya sendiri, namun hasil yang didapat tidak pernah mencukupi untuk istri dan keempat anaknya. Gagasan Marhaenisme jelas mengacu pada Marxisme yang berfaham proletariat. Bahkan, banyak yang mengatakan Marhaenisme merupakan Marxisme yang diterapkan di Indonesia.

Sejak tahun 1932, ideologi Marhaenisme telah mewarnai wacana politik di Indonesia. Pada 4 Juli 1927, ia mendirikan PNI dimana Marhaenisme menjadi asas dan ideologi partai di tahun 1930-an. Dalam bukunya yang berjudul "Indonesia Menggugat", Soekarno telah menekankan pentingnya penggalangan massa untuk sebuah gagasan ideologis. Menurut penuturan Sutan Syahrir, Marhaenisme jelas menekankan pengumpulan massa. Untuk itu, dibutuhkan dua prinsip gerakan yang kelak dapat dijadikan pedoman dalam sepak terjang kaum Marhaenis. Dua prinsip tersebut adalah sosio-nasionalis dan sosio-demokratis. Untuk menjelaskan hal tersebut, Soekarno mengadopsi pemikiran Jean Jaurhs (sosialis) dari Perancis dan Karl Kautsky (komunis) dari Jerman. Ajaran Jaurhs yang melawan demokrasi parlementer digunakan Soekarno untuk mengembangkan sikap para Marhaenis yang wajib taat kepada pemimpin revolusi, tanpa boleh banyak bertanya mengenai persoalan yang pelik dalam bidang politik.

Sedangkan pandangan Karl Kautsky, Soekarno semakin percaya bahwa demokrasi parlementer merupakan sistem masyarakat borjuis yang tidak mengenal kasihan kepada kaum miskin. Bahkan dalam bukunya yang berjudul "Dibawah Bendera Revolusi", Soekarno benar - benar terpengaruh oleh Kautsky dengan menyatakan bahwa seseorang tidak perlu menjadi komunis jika hanya ingin mencermati demokrasi sebagai benar - benar produk masyarakat borjuis. Kemudian, Soekarno menambahkan bahwa setiap Marhaenis harus menjadi revolusioner sosial, bukan revolusioner borjuis, dan sosok tersebut ditujukan pada Soekarno sebagai sosio-nasionalisme atau nasionelisme marhenis. Namun pada tanggal 26 November 1932 di Yogyakarta, Soekarno menandaskan bahwa Partai Nasionalis Indonesia tidak menginginkan adanya pertarungan antar kelas. Disini, Soekarno memperlihatkan awal watak anti-demokratisnya dan hendak menafikan keberadaan pertarungan antar kelas sebagai bagian tak terpisahkan untuk memperjuangkan kelas lemah yang tertindas.

Kediktatoran Soekarno mulai terlihat sejak konsep Marhaenisme berusaha diwujudkan menjadi ideologi partai. Syahrir dan Hatta yang memperkenalkan kehidupan demokratis dengan media Partindo (Partai Indonesia) yang pelan - pelan dipinggirkan oleh Soekarno dan kehidupan partai mulai diarahkan pada disiplin ketat dan tunduk pada pucuk pimpinan. Untuk mewujudkan hal ini, Soekarno tidak menggunakan cara yang sama dengan Lenin yang dengan kelompok Mensheviksnya ketika Lenin menjadi diktator, melainkan sibuk dengan penjelasan - penjelasan penting tentang keberadaan partai pelopor yang memiliki massa besar.

Bagi Soekarno, menegakkan Marhaenisme lebih penting dari pada membangun kehidupan demokratis. Baginya, massa harus dibuat lebih radikal dan jangan diberi kesempatan untuk pasif menghadapi revolusi. Meski kelak setelah sesudah kemerdekaan tercapai cita - cita Soekarno mengenai Marhaenis, para penganut Marhaenisme cenderung bergabung dengan partai Murba. Namun Marhaenisme ini lebih menyepakati tafsiran Tan Malaka dari pada Marhaenisme sendiri.
Apa itu Nasakom?

Apa itu Nasakom?

Nasakom merupakan sebuah ideologi yang dicetuskan oleh Soekarno pada Orde Lama. Nasakom sendiri merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama dan Komunis. Ideologi Nasakom ingin menggabungkan orang - orang berpandangan nasionalisme, agama (terutama Islam) dan kaum komunisme yang sebenarnya merupakan konsep dasar Pancasila. Bisa dibilang konsep Nasakom merupakan penjelmaan dari konsep Bhinneka Tunggal Ika yang ingin menggabungkan bangsa Indonesia terlepas dari perbedaan pandangan, agama, ras maupun suku. Tujuan dari dicetuskannya ideologi Nasakom adalah untuk mempersatukan golongan - golongan yang terpecah belah untuk bersatu melawan kolonialisme Belanda yang pada saat itu terus mengusik kemerdekaan Indonesia.

Berbagai reaksi muncul ketika Soekarno memperkenalkan konsep Nasakom. Salah satunya dari Islam yang terbagi menjadi dua, yaitu gerakan Islam yang menerima adanya faham komunisme dan partai PKI serta gerakan gerakan Islam yang menolak faham komunisme dan partai PKI. Mereka yang menerima komunisme beranggapan bahwa mereka yakin pada kemampuannya dalam bersikap dan berkiprah menghadapi PKI. Sedangkan mereka yang menolak jelas - jelas menentang adanya PKI dan menuntut atas pembubaran.

Nasakom pertama kali dirumuskan pada tahun 1926 yang pada saat itu diistilahkan dengan tiga hal pokok yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Yang pada intinya adalah tujuan untuk menuju Revolusi Indonesia dalam melawan imperialisme. Baru pada 1960, Soekarno mencetuskan Nasakom yang mencakup Nasionalisme, Agama dan Komunisme. Pada awalnya Nasakom memberikan etikad yang baik yaitu mempersatukan warga Indonesia yang kala itu terpecah menjadi banyak golongan. Partai PKI yang pada tahun 1946 terpuruk karena peristiwa pemberontakan Madiun perlahan naik keanggotaannya. Terlebih setelah pencetusan Nasakom oleh Soekarno yang membuat orang - orang banyak yang beralih pada partai PKI. Puncaknya pada Pemilu 1955 dimana PKI menempati urutan 4 besar. Hal yang sangat mengagetkan mengingat PKI sebagai partai pemberontak. Terlebih ketika Soekarno sedikit memberi hawa segar ketika mencetuskan Nasakom pada tahun 1960.

Ideologi Nasakom runtuh saat PKI melakukan pemberontakan yang kedua kalinya yaitu pada tanggal 30 September 1965. Setelah tragedi ini, partai PKI resmi dibubarkan dan faham komunis dilarang. Soekarno bahkan dianggap menjadi salah satu dalang dalam peristiwa ini. Peristiwa G30S/PKI ini menjadi alasan pembunuhan masal (genosida) orang - orang PKI. Diperkirakan sebanyak 1 juta jiwa telah terbunuh pada peristiwa tersebut.
Reservoir Siranda

Reservoir Siranda

Reservoir Siranda merupakan sebuah penampungan air yang dibangun oleh pemerintahan Belanda,  terletak di Jl. Diponegoro yang menghubungkan Simpang Lima dengan Taman Diponegoro kawasan Candi di Kota Semarang. Terdapat dua bangunan pada kompleks Reservoir Siranda yaitu bangunan utama berupa penampungan air dan bangunan lain yaitu bangunan rumah tinggal yang meliputi kantor penjaga reservoir, ruang kontrol dan laboratorium.

Bangunan pertama adalah bak penampungan air berukuran besar. Sekilas bak penampungan lebih mirip gundukan tanah dengan ketinggian 4,7 meter dan berdiameter 32 meter. Pada salah satu dinding gerbang tertulis angka "1912" yang diyakini sebagai tahun pembangunan bak penampungan air. Luas dari bak penampungan yaitu sekitar 2500 m2 dan mampu menampung air bersih sebanyak 3750 m3.

Bangunan kedua adalah sebuah rumah tinggal dengan ketinggian bangunan mencapai sekitar 2,5 meter dan berdiameter 20 meter. Terdapat tulisan "1923" pada salah satu dinding yang diyakini sebagai tahun pembuatan rumah jaga ini. Dari tulisan angka yang ada pada bak penampungan maupun bangunan rumah tinggal dapat ditarik kesimpulan bahwa bak penampungan dibangun terlebih dahulu daripada rumah tinggal. Jarak antara bak penampungan dan bangunan rumah tinggal +- 4 meter.

Hingga saat ini bangunan Reservoir Siranda masih digunakan oleh PDAM sebagai penampung air guna memenuhi kebutuhan masyarakat dengan cakupan Simpang Lima dan sekitarnya (Gajahmada, Depok, Kauman, dan Jurnatan). Pipa air dari Reservoir di Kalidoh (Babadan) hingga ke Reservoir Siranda merupakan pipa asli dari zaman Belanda yang belum pernah diganti.

Sejarah Singkat
Reservoir Siranda terkenal dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari Semarang (15 Oktober 1945 – 20 Oktober 1945). Diyakini peristiwa Pertempuran 5 Hari Semarang diawali dengan adanya desas desus yang menyebutkan bahwa Jepang telah meracuni cadangan air di Reservoir Siranda. Untuk memastikan kebenarannya, pimpinan Rumah Sakit Purusara meminta dr. Kariadi yang ketika itu menjabat sebagai kepala Laboratorium Purusara untuk segera memeriksa kondisi air yang ada di bak penampungan Reservoir Siranda. Namun, dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda beliau dicegat dan dibunuh tantara Jepang. Akibat hal ini, warga Semarang marah dan meletuslah peristiwa Pertempuran 5 Hari Semarang.
Biografi Karl Marx

Biografi Karl Marx

Karl Marx dikenal sebagai tokoh revolusioner dengan berbagai pandangannya. Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ia adalah anak dari seorang pengacara bernama Heinrich Marx yang menafkahi keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah pendeta Yahudi (rabbi). Namun, karena alasan bisnis ayahnya beralih menjadi penganut Luther ketika Karl Marx masih sangat muda.

Marx Muda
Sangat sedikit informasi yang diketahui mengenai masa kecil Karl Marx. Marx kecil mendapat pendidikan secara pribadi oleh ayahnya. Pada tahun 1830, Karl Marx masuk di sekolah Trier High School. Setelah berumur 17 tahun, Karl Marx melanjutkan kuliah di Universitas Bonn. Karl tertarik dengan kajian filsafat dan sastra namun ayahnya bersikeras memasukkannya ke jurusan hukum. Di Universitas Bonn, ia bergabung dengan komunitas sastrawan yang mempunyai pemikiran radikal.

Pergaulan dengan komunitasnya membuat pemikiran Karl Marx cenderung kearah radikal dan sempat terlibat dalam perselisihan dengan organisasi kampus lainnya. Akhirnya, ayahnya memindahkan Karl Marx dari Universitas Bonn ke Universitas Berlin. Pada tahun 1841, Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universita Berlin, universitas yang dipengaruhi oleh pemikiran Hegel dan guru - guru muda penganut Hegel tetapi berpikir kritis. Gelar Karl Marx didapatnya dari kajian filsafat yang membosankan, namun dari hal tersebut kemudian muncul berbagai gagasan yang mendunia.

Kehidupan Karl Marx
Setelah menyelesaikan studinya, Karl Marx berprofesi menjadi penulis pada sebuah koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan, ia menjadi editor kepala koran itu. Namun karena pendirian politiknya, koran ini ditutup oleh pemerintah. Esai - esai awal yang diterbitkan mulai membimbing pemikiran Marx. Esai tulisan Karl Marx secara bebas ditaburi prinsip - prinsip demokrasi yang menolak keabstrakat filsafat hegelian, mimpi naif komunis utopia dan gagasan aktivis yang mendesak apa yang dianggap sebagai tindakan politik prematur. Dalam menolak gagasan aktivis ini, Karl Marx menekankan pada landasan bagi gagasan hidup sendiri.

Karl meninggalkan Jerman dan memilih Paris, kota yang lebih liberal. Di Paris, ia bergulat dengan gagasan Hegel dan pendukungnya, namun ia juga menghadapi dua kumpulan baru, sosialisme Prancis dan politik ekonomi Inggris.

Frederich Engels dan Karl Marx
Dengan cara yang unik, Karl Marx menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentukan orientasi intelektualnya. Hal yang sangat penting adalah pertemuannya dengan teman seumur hidup, donatur dan kolabolatornya, Fredrich Engels. Dalam biografinya, diketahui Engels adalah seorang anak penguasa panrik tekstil yang menjadi sosialis yang mengkritik kondisi kehidupan yang dihadapi kelas buruh. Banyak diantara rasa kasihan Marx kesengsaraan kelas buruh berasal dari paparannya kepada Engels dan gagasannya sendiri. Pada tahun 1844, Marx dan Engels mengadakan diskusi panjang di sebuah cafe terkenal di Paris dan meletakkan landasan kerja untuk bersahabat seumur hidup.

Karl Marx dan Ilmu Ekonomi
Marx menghasilkan karya yang sangat sukar dipahami (kebanyakan belum diterbitkan semasa hidupnya) termasuk Holy Family dan German Ideology (ditulis bersama Engels) dan ia juga menulis The Economic and Philosophic Manuscripts 1844 yang menandakan perhatiannya terhadap bidang ekonomi yang semakin meningkat.

Meskipun antara Marx dan Engels memiliki orientasi teoritis yang sama, namun ada perbedaan diantara mereka. Marx cenderung menjadi seorang intelektual teoritis yang kurang teratur dan sangat berorientasi pada keluarga. Sedangkan Engels merupakan pemikir praktis, rapi dan pengusaha teratur serta orang yang tidak percaya pada lembaga keluarga. Meski keduanya berbeda, Marx dan Engels memiliki hubungan yang erat yang ditunjukkan kolaborasi mereka berdua dalam penulisan buku dan artikel dan bekerjasama dalam organisasi radikal.

Bahkan, Engels membantu pembiayaan Marx selama sisa hidupnya sehingga Marx mampu mencurahkan perhatiannya pada kegiatan intelektual dan politiknya. Meski ada hubungan yang erat antara Marx dan Engels, namun Engels menjelaskan bahwa ia teman junior. Banyak yang percaya bahwa Engels gagal memahami seluk beluk Marx. Setelah Marx meninggal, Engels menjadi juru bicara utama bagi teori marxian dan dalam berbagai cara, menyimpangkan dan terlalu menyederhanakannya pemikiran Marx, meski ia tetap setia terhadap poitik yang ditempa bersama Karl Marx.

Karena beberapa tulisannya mengganggu pemerintahan Prusia, pemerintahan Prancis (atas permohnan Prusia) mengusir Karl Marx pada tahun 1845 dan karenanya ia pindah ke Brussel. Radikalismenya meningkat selama di Brussel dan menjadikan ia menjadi anggota yang aktif dalam bidang gerakan revolusioner internasional.

Manifesto Partai Komunis
Ia dan Engels bergabung dengan liga komunis dan diminta menulis anggaran dasar partai, hasilnya  manifesto komunis 1848, sebuah karya besar yang ditandai oleh slogan - slogan politik yang termasyur (seperti "kaum buruh seluruh dunia bersatulah!!"). Pada tahun 1849, Karl Marx pindah ke London dan mengingatkan kegagalan revolusi politik tahun 1848, ia menarik diri dari aktivitas revolusioner dan beralih pada kegiatan riset yang lebih terperinci tentang peran sistem kapitalis.

Buku 'Das Kapital'
Studi Karl Marx akhirnya menghasilkan tiga jilid buku yang berjudul 'Das Kapital'. Jilid pertama Das Kapital terbit pada tahun 1867, jilid kedua diterbitkan setelah Karl Marx meninggal. Selama riset dan menulis ini, ia hidup dalam kemiskinan, biaya hidupnya secara sederhana didapatkan dari honorarium tulisannya dan bantuan dana dari Engels.

Pada tahun 1864, Marx terlibat kembali dalam politik, bergabung dengan 'The Internasional', sebuah gerakan buruh internasional. Karl Marx segera menonjol dalam gerakan ini dan mencurahkan perhatiannya untuk gerakan ini. Ia mulai mendapatkan popularitas, baik sebagai pemimpin nasional maupun sebagai penulis Das Kapital. Terjadi perpecahan gerakan The Internasional pada tahun 1876, kegagalan dari gerakan revolusioner dan penyakit - penyakit akhirnya membuat Max jatuh sakit. Istrinya wafat pada tahun 1881 dan anak perempuannya meninggal pada tahun 1882, sedangkan Marx sendiri meninggal pada tahun 1883.
Dampak Perang Dingin

Dampak Perang Dingin

1. Uni Soviet
Setelah Perang Dingin, Rusia menjadi pihak yang mewarisi kekuasaan Uni Soviet. Rusia memotong pengeluaran militer secara drastis. Restrukturisasi ekonomi dilakukan yang berdampak pada melonjaknya angka pengangguran. Disisi lain, reformasi yang dijalankan Gorbachev mengakibatkan terjadinya resesi yang parah, lebih parah daripada yang dialami Amerika Serikat dan Jerman selama masa Depresi Barat.

2. Amerika Serikat
Setelah berakhirnya Perang Dingin, dampaknya masih mempengaruhi dunia. Setelah pembubaran Uni Soviet, dunia pasca Perang Dingin secara luas dianggap sebagai dunia yang unipolar dan menyisakan Amerika Serikat sebagai satu – satunya adidaya di dunia. Pada tahun 1989, Amerika menjalin kerjasama militer dengan 50 negara dan memiliki 526.000 tentara di luar negeri yang tersebar di puluhan negara, diantaranya sebanyak 326.000 di Eropa (dua pertiga di Jerman Barat), dan sekitar 130.000 terdapat di Asia (terutama di Jepang dan Korea Selatan). Perang Dunia juga menandai puncak industri pada bidang persenjataan Amerika serta pendanaan militer secara besar – besaran.

Diperkirakan sebanyak $8 triliun dikeluarkan oleh Amerika selama masa Perang Dingin, sedangkan hampir 100.000 orang Amerika kehilangan nyawa dalam Perang Korea dan Perang Vietnam. Sulit memperkirakan berapa jumlah korban dan kerugian dari pihak Uni Soviet, namun bila diperkirakan dari komparasi nasional bruto, biaya kerugian Uni Soviet lebih besar daripada yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat.

3. Dunia Ketiga
  • Konflik baru di sejumlah negara
    Banyak korban tewas di berbagai belahan dunia terutama di Asia Tenggara akibat Perang Dingin. Pasca Perang Dingin, perang antarnegara, perang etnis dan perang revolusi, jumlah pengungsi menurun drastis. Namun, konfik dinegara ketiga tidak sepenuhnya terhapus.

    Hal ini disebabkan kegagalan pengawasan negara disejumlah wilayah yang dulunya merupakan wilayah pemerintahan komunis. Sebagai contoh konflik sipil dan etnis yang terjadi di bekas negara Yugoslavia. Disisi lain, berakhirnya Perang Dingin telah membawa Eropa Timur pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah negara demokrasi liberal. Namun, dibeberapa negara, kemerdekaan diikuti dengan gagalnya negara mengisi kemerdekaan seperti yang terjadi pada Afghanistan.
  • Mendorong perkembagan teknologi
    Persaingan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat pada Perang Dingin membuat teknologi berkembang pesat, terutama pada bidang militer. Pada periode ini, kedua negara adidaya saling berlomba memajukan teknologi pada masing – masing negara anggotanya. Kemajuan teknologi ini juga dinikmati negara – negara ketiga.

    Disisi lain, pengembangan teknologi pada ranah kebanggaan nasional dapat kita lihat pada perkembangan teknologi ruang angkasa. Perlombaan ini diawali Uni Soviet yang meluncurkan pesawat Sputnik I dan Sputnik II pada tahun 1957, yang kemudian ditandingi Amerika Serikat dengan meluncurkan pesawat satelit Explorer I dan Explorer II, Discovere dan Vanguard pada tahun 1958. Uni Soviet kemudian mendaratkan Lunik di bulan melalui astronot pertamanya Yuri Gagarin dengan pesawat Vostok I yang berhasil berhasil mengitari bumi selama 108 menit. Amerika Serikat mengikuti dengan mengirim astronot pertamanya, Alan Battlett Shepard, yang berada di luar angkasa selama 15 menit. Puncaknya ketika Neil Amstrong dan Edwin Aldrin berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai manusia pertama yang menginjak permukaan bulan melalui misi Apollo 11 pada tanggal 17 Juli 1969.
    Pendaratan Neil Amstrong di bulan
  • Berkembangnya demokrasi dan kesadaran terhadap hak – hak asasi manusia
    Perang Dingin berimbas pada kesadaran terhadap hak asasi manusia. Pihak barat yang menyokong demokrasi dan kapitalisme secara gencar menyerang Uni Soviet atas tindakannya yang melnggar hak asasi manusia. Paham komunisme dinilai bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. Para akademisi kemudian mengkaji dampak negatif dari komunisme dan kapitalisme. Namun, sebenarnya persaingan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat bukan masalah cita – cita luhur penegakan HAM, melainkan bersiat politis dan ekonomis.

4. Bagi Indonesia
Pada tahun 1960-an, di era Perang Dingin, Indonesia menerapkan Demokrasi Terpimpin. Soekarno dianggap lebih berhaluan ke Blok Timur dengan faham komunis. Pada saat yang sama, Partai Komunis Indonesia (PKI) mendominasi politik Indonesia. Puncak kedekatan Soekarno dengan Blok Timur adalah pendirian poros Jakarta-Hanoi-PyongYang-PhnomPenh. Hal ini membuat Indonesia dianggap berhaluan kiri oleh masyarakat Internasional. Turunnya Soekarno dari tampuk kepemimpinan pada tahun 1966 diduga kuat dibantu oleh CIA yang tidak ingin Indonesia berailiasi ke Uni Soviet.
Konflik Kamboja

Konflik Kamboja

1. Kamboja Sebelum 1975
Kamboja merupakan salah satu negara di Asia Tenggara. Wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban kuno yaitu pada masa Kerajaan Khmer dengan ibukotanya Angkor. Selain itu Kamboja juga terkenal dengan kuil – kuilnya yang berasal dari abad ke 12. Kini, Kamboja beribukota di Phnom Penh. Pada tahun 1953, Kamboja berhasil meraih kemerdekaan setelah hampir 100 tahun dijajah oleh Prancis. Pada tahun 1960-an, penduduk Kamboja mencapai lebih dari 7 juta jiwa yang hampir seluruhnya beragama Buddha dengan rajanya bernama Norodom Sihanouk.

Pada tahun 1970, Norodom Sihanouk digulingkan dalam kudeta militer pimpinan Jenderal Lol Nol. Kudeta ini berhasil mengangkat Jenderal Lol Nol menjadi Presiden Republik Khmer. Norodom Sihanouk yang telah dilengserkan bersama pengikutnya bergabung dengan organisasi Khmer Merah, sebuah organisasi gerilya komunis yang berdiri sejak 1960. Mereka mengemban misi menggulingkan pemerintahan Lon Nol dan memicu perang bersaudara berkepanjangan di Kamboja.

Pada era Norodom Sihanouk, Kamboja tetap menjaga netralitas selama perang saudara Vietnam dengan memberikan sedikit bantuan kepada kedua belah pihak. Kaum komunis Vietnam diijinkan menggunakan pelabuhan Kamboja untuk mengangkut makanan dan persenjataan. Disisi lain, Kamboja mengijinkan Amerika Serikat mengebom tempat – tempat persembunyian Viet-Cong di Kamboja. Kamboja pun menjadi salah satu medan perang pada Perang Vietnam. Selama empat tahun selanjutnya, sebanyak 750.000 warga dari Kamboja tewas oleh pesawat pengebom B-52 Amerika yang berusaha menghancurkan jalur pasokan Vietnam Utara yang dicurigai.

Pada tahun 1970, Khmer Merah masih dianggap sebagai organisasi kecil apabila dilihat dari kuantitasnya pengikutnya. Pemimpin mereka, Pol Pot, merupakan pengikut komunis beraliran Maois (Maozedong, Tiongkok) dan juga pernah mengenyam pendidikan di Prancis. Pol Pot sangat menentang adanya pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat dan disetujui oleh Lon Nol. Atas perlawanan ini, Khmer Merah banyak mendapat simpati dari rakyat Kamboja. Alhasil, banyak rakyat Kamboja yang bergabung dengan Khmer Merah. Disisi lain, Khmer Merah juga mendapat dukungan dari Tiongkok dan mendapat pelatihan militer dari Vietnam Utara. Pada tahun 1975, pasukan Pol Pot sudah mencapai lebih dari 700.000 orang.

Pada tahun 1975, pasukan Vietnam Utara berhasil merebut ibu kota Vietnam Selatan, Saigon. Disisi lain, pada tahun yang sama, Lon Nol berhasil digulingkan oleh Khmer Merah. Diperkirakan sebanyak 156.000 orang tewas dalam perang saudara itu, separuhnya berasal dari sipil.

2. Kamboja 1975-1979 (Masa Genosida)
Khmer Merah akhirnya menggulingkan pemerintahan Lon Nol dan menguasai Kamboja. Pol Pot dan Khmer merah merancang sebuah misi ekstrem yang terorganisasi dengan rapi. Dia memberlakukan sebuah program ektrem untuk merekonstruksi Kamboja sesuai paham komunisme ala Mao di Tiongkok. Pol Pot memberlakukan kewajiban penduduk untuk bekerja sebagai buruh dalam satu federasi pertanian kolektif yang besar. Siapapun yang menentang, baik itu biksu, rakyat biasa atau kaum intelektual akan disingkirkan.
Kerja paksa para sipil Kamboja dibawah rezim Khmer Merah

Penduduk yang berada di kota – kota dipaksa meninggalkan kota yang berakibat adanya eksodus besar – besaran. Kemudian, semua hak individu baik politik dan sipil dihapuskan. Anak – anak diambil dari orang tua mereka dan menjadi pekerja paksa di kamp – kamp yang jauh. Pabrik, sekolah, universitas dan rumah sakit ditutup. Pengacara, guru, dokter, insinyur, ilmuwan dan orang – orang yang ahli dibidang apapun, termasuk tantara dibunuh besarta keluarganya. Agama dilarang, semua biksu Buddha dibunuh dan hampir semua kuil dihancurkan. Musik dan radio dilarang. Seseorang yang ketahuan menguasai bahasa asing, menggunakan kacamata, tertawa atau menangis bisa ditembak mati. Satu slogan terkenal dari Khmer Merah berbunyi, “To spare you is not profit, to destroy you is no loss” (Menyeamatkan anda tidak ada untungnya, menghancurkan anda tidak ada ruginya).

Orang – orang yang lolos dari pembunuhan menjadi buruh yang tidak dibayar. Mereka bekerja berdasarkan jatah makanan dan minuman dengan jam kerja yang tidak terbatas. Mereka tidur ditempat yang telah dipilih dan jauh dari tempat tinggal lama mereka. Hubungan personal antar orang dilarang, begitu pula ekspresi kasih saying. Mereka yang jatuh sakit tidak mendapat perawatan dan pengobatan. Akibatnya, tidak ada pilihan selain menunggu maut menjemput.

Kelompok minoritas menjadi target penindasan. Kelompok tersebut termasuk etnis Tiongkok, Vietnam dan Thailand, Kamboja keturunan Tiongkok, keturunan Vietnam dan Thailand. Setengah populasi dari Muslim Cham dan 8.000 penganut Kristen dibunuh. Khmer Merah juga banyak menginterogasi anggotanya sendiri, memenjarakan, serta mengeksekusi orang – orang yang dianggap melakukan pengkhianatan dan sabotase. Kematian warga sipil mencapai lebih dari dua juta orang baik karena eksekusi, penyakit, kelelahan maupun kelaparan.

3. Kamboja Setelah 1979
Pada tahun 1978, Vietnam menginvasi Kamboja dan berhasil menggulingkan pemerintahan Khmer Merah. Dibawah kekuasaan komunis Vietnam, Kamboja sama sekali tidak berubah dan bahkan semakin terpuruk. Selain diakibatkan terbunuhnya para professional akibat aksi genosida, keterpurukan Kamboja juga disebabkan oleh kurangnya perhatian dari Barat yang demokratis. Amerika Serikat dan Inggris, selama masa 1980-an bahkan menawarkan pendanaan ekonomi dan militer pada Khmer Merah untuk menggulingkan komunis Vietnam. Kamboja pun semakin terbelakang dan hidup seperti masa prasejarah. Kondisi ini terus berlanjut hingga mundurnya Vietnam dari Kamboja pada tahun 1989.

Dalam konflik militer berikutnya dari 1978, hingga 1989, sebanyak 14.000 warga sipil Kamboja tewas. Pada tahun 1991, sebuah kesepakatan damai akhirnya tercapai, dan Buddha menjadi agama resmi di Kamboja. Selanjutnya pada tahun 1993, pemilu pertama diadakan dan dianggap benar – benar demokratis.

Pada tanggal 25 Juli 1983, Komite Penelitian Rezim Genosida Pol Pot mengeluarkan laporan final, termasuk data tiap provinsi secara detail. Data tersebut menunjukkan sebanyak 3.314.768 orang tewas selama rezim Pol Pot. Sejak 1995, banyak kuburan masal ditemukan. Namun membawa para pelaku ke meja perundingan tidaklah hal yang mudah. Pada tahun 1994, PBB menyerukan diadakannya persidangan untuk menghukum para anggota Khmer Merah. Persidangan baru terealisasi pada November 2007 dan terus berlanjut hingga 2010.

Pada tahun 1997, Pol Pot ditangkap oleh anggota Khmer Merah. Sebuah pengadilan “akal-akalan” diadakan dan Pol Pot dinyatakan bersalah. Setahun kemudian, ia meninggal dunia karena gagal jantung. Organisasi Khmer Merah secara resmi dibubarkan pada tahun 1999.
Antara Marshall Plan dan Molotov Plan, Perebutan Hegemoni pada Perang Dingin

Antara Marshall Plan dan Molotov Plan, Perebutan Hegemoni pada Perang Dingin

Pada awal 1947, terjadi pertemuan antara Inggris, Prancis, Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam rangka pembahasan mengenai rencana mewujudkan kemandirian ekonomi. Pertemuan tersebut berakhir dengan kegagalan mencapai suatu keepakatan. Setelah itu, pada bulan Juni 1947, sesuai Doktrin Truman, Amerika Serikat mengesahkan Marshall Plan atau Rencana Marshall yang berisi janji kepada negara – negara Eropa untuk memberikan bantuan ekonomi, termasuk Uni Soviet yang bersedia membangun kembali perekonomian Jerman. Truman bermaksud membangun ulang sistem demokrasi dan perekonomian Eropa serta membatasi ruang gerak komunis. Rencana ini menegaskan kemakmuran Eropa bergantung pada pemulihan ekonomi Jerman.

Penerima bantuan ekonomi Marshall Plan, negara Blok Barat, Turki, Italia dan Yunani


Satu bulan setelahnya, Truman mengesahkan Undang – Undang Keamanan Nasional 1947. Setelah itu ia membentuk badan Central Intelligence Agency (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSC). Hal inilah yang pada kemudian hari akan menjadi birokrasi utama kebijakan Amerika Serikat dan Perang Dingin.

Disisi lain, Uni Soviet sangat terancam dengan adanya Marshall Plan. Ada tiga alasan mengapa Uni Soviet merasa terancam dengan adanya Marshall Plan, diantaranya :
  • Dalam pandangan Uni Soviet, integrasi ekonomi dengan Barat akan memicu negara – negara Blok Timur untuk memisahkan diri dari pengawasan Uni Soviet.
  • Marshall Plan juga dituduh sebagai upaya licik Amerika “membeli” Eropa agar berpihak kepada mereka.
  • Stalin khawatir bantuan ekonomi Marshall Plan kepada Jerman akan berakibat pada kemajuan Jerman dan menimbulkan ancaman bagi Uni Soviet.

Atas dasar tiga hal diatas, Stalin melarang negara – negara Blok Timur menerima bantuan dana dari Marshall Plan Amerika Serikat. Uni Soviet kemudian mengeluarkan program Molotov Plan atau Rencana Molotov pada tahun 1947 (yang dilembagakan pada Januari 1949 dengan nama Comecon) sebagai tandingan dari Marshall Plan. Mirip dengan Marshall Plan, Comecon juga memberi bantuan ekonomi kepada negara – negara Blok Timur dan negara – negara satelit Uni Soviet. Tujuannya adalah agar negara – negara Blok Timur tidak menerima bantuan Marshall Plan dan tetap berada dibawah pengaruh Uni Soviet.

Pada awal tahun 1949, Cekoslovakia dituduh membelot ke Barat dengan menerima bantuan ekonomi Marshall Plan. Melalui kudeta berdarah, Uni Soviet mengambil alih pemerintahan Cekoslovakia. Peristiwa ini membuat gerakan Marshall Plan yang sebelumnya ditolak kongres dalam negeri berbalik mendukung.

Kebijakan kembar AS, yaitu Doktrin Truman dan Marshall Plan membuat negara – negara Blok Barat kebanjiran bantuan ekonomi dan militer. Atas bantuan ini Turki mampu mengalahkan kaum komunis di negerinya sendiri. Partai Demokrasi Kristen Italia juga mampu mengalahkan Komunis-Sosialis dalam pemilihan 1948. Pada saat yang bersamaan, terjadi peningkatan aktivitas intelijen dan spionase, aksi pembelotan dari Blok Timur, serta tindakan saling mengusir diplomat antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Terbentuknya Blok Barat dan Blok Timur serta NATO dan Pakta Warsawa

Terbentuknya Blok Barat dan Blok Timur serta NATO dan Pakta Warsawa

Blok Barat dan Blok Timur
Perang Dingin (Cold War) merupakan istilah yang menggambarkan konflik antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Konflik ini dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. Amerika Serikat dan Uni Soviet muncul sebagai kekuatan adidaya pasca Perang Dunia II. Selama Perang Dunia II, keduanya saling membantu dalam mengalahkan Jerman, Italia dan Jepang. Amerika Serikat banyak membantu negara – negara Eropa Barat dalam melawan Jerman dan Italia di belahan barat Eropa, sedangkan Uni Soviet melakukan perlawanan terhadap Jerman di Eropa timur dan di Jepang.

Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet merasa berjasa dalam mengalahkan Jerman dan Italia yang ingin menginvasi daratan Eropa. Alasan inilah yang selanjutnya secara tidak langsung memaksa Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk ikut serta dalam Perang Dunia II. Pasca Perang Dunia II, keduanya terlibat dalam konflik perbedaan faham dimana Amerika Serikat bersifat liberalis kapitalis dan Uni Soviet bersifat sosialis komunis. Keduanya menghindari perang secara langsung dan lebih memilih perang menggunakan pihak ketiga atau disebut perang proksi. Perang proksi yang terjadi diantaranya adalah konflik Afganistan, Korea Utara, Vietnam, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Uni Soviet diantaranya memberikan bantuan kepada negara – negara Amerika Latin dan Asia Tenggara menjalankan revolusi komunis. Amerika Serikat bertindak dengan melakukan serangan militer untuk membendung tersebarnya pengaruh komunis di negara – negara tersebut.

Adapun Amerika Serikat bekerjasama dengan Inggris dan Prancis untuk menghadapi Uni Soviet. Amerika Serikat dan Uni Soviet beserta masing – masing sekutunya menduduki Jerman dan wilayah bawahannya. Uni Soviet bahkan membangun tembok pemisah di Kota Berlin pada tahun 1948 yang merupakan ibu kota Jerman ketika Nazi dibawah Hitler berkuasa. Pembangunan tembok berlin bertujuan menahan ancaman Amerika Serikat dan sekutunya. Dibagian timur negara Jerman, berdiri pemerintahan Uni Soviet yang membentuk Negara Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) pada tanggal 7 Oktober 1949. Hal ini kemudian diimbangi oleh Blok Barat yang membangun Negara Republik Federasi Jerman (Jerman Barat) pada tanggal 23 Meri 1949 yang didukung oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet beranjut pada perebutan negara bawahan dari Jerman. Hasilnya, sebagian besar negara jajahan Jerman di Eropa Timur dikuasai oleh Uni Soviet. Akibatnya, Eropa terpecah menjadi dua, yaitu Blok Barat dan Blok Timur. Setiap blok memiliki persekutuan militer untuk melindungi masing – masing anggota dari ekspansi negara lain.

Pembentukan NATO dan Pakta Warsawa
Amerika Serikat, Inggris dan Perancis merupakan tiga negara terpenting dalam Blok Barat. Ketiganya membuat perjanjian dimana apabila salah satu negara diserang, maka anggota dari tiga negara tersebut akan saling membantu. Perjanjian ini ditandatangani di Brussel, Belgia oleh lima negara diantaranya Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belgia dan Denmark. Berdasarkan kota disetujuinya perjanjian ini, maka perjanjian tersebut kemudian dinamakan Perjanjian Brussels.

Pada April 1949, Perjanjian Brussels diperbaharui dengan menambah negara – negara anggota diantaranya Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belgia, Denmark, Kanada, Eslandia, Italia, Belanda, Norwegia, Luksemburg, Portugal dan Turki. Mereka kemudian membuat organisasi pertahanan bersama yang dinamakan NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Selanjutnya, menyusul beberapa negara lain diantaranya Yunani (1951), Jerman Barat (1954), dan Spanyol (1981). Markas besar NATO terletak di Brussels sedangkan Komite Eksekutif NATO berada di Washington, Amerika Serikat.
Wilayah NATO dan Pakta Warsawa
NATO memiliki tiga komando, yakni Komando Eropa, Komando Atlantik dan Komando Laut Utara. Setiap negara yang tergabung dalam NATO wajib membiayai pasukan NATO. Terbentuknya NATO memaksa Blok Timur untuk mengimbangi peta kekuataan militer yaitu dengan didirikannya Pakta Warsawa pada tahun 1955. Pembentukan Pakta Warsawa dilakukan di Warsawa, ibu kota Polandia. Sejak tahun 1945, Polandia bergabung dengan Uni Soviet. Hal ini dikarenakan Polandia pernah dibantu Uni Soviet mengusir Jerman dari tanah Polandia.

Pakta Warsawa dipimpin oleh Uni Soviet sebagai negara terkuat di Eropa Timur. Sejumlah negara yang tergabung dalam Pakta Warsawa diantaranya Albania, Bulgaria, Cekoslovakia, Hongaria, Jerman Timur dan Rumania. Markas besar Pakta Warsawa berada di Moskow. Pembentukan NATO dan Pakta Warsawa merupakan bentuk polarisasi kekuatan pertahanan dari negara – negara Blok Timur dan Blok Barat.

Pembentukan NATO dan Pakta Warsawa telah membuat keduanya berlomba – lomba dalam peningkatan kemiliteran, salah satunya menciptakan senjata nuklir. Persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur telah meluas ke berbagai belahan dunia. Kedua blok berlomba – lomba memperluas pengaruhnya di Benua Asia, Afrika, dan Amerika. Sejak setelah Perang Dunia II, banyak negara – negara bekas jajahan bangsa Barat yang memerdekakan diri. Negara – negara koloni ini sebagian bergabung dengan negara induknya yaitu Bangsa Barat.

Uni Soviet memberikan pengaruh di dunia salah satunya dengan memberikan bantuan militer kepada bangsa – bangsa yang ingin memerdekakan diri dari sistem kolonialisme Bangsa Barat. Negara – negara Barat juga tak kehilangan akal untuk menarik simpati negara bawahannya yaitu dengan memberikan kemerdekaan seperti pada Singapura dan Malaysia. Namun, banyak juga wilayah bawahan Blok Barat yang berjuang membebaskan diri melalui jalan perang kemerdekaan seperti Indonesia, Republik Rakyat Tiongkok, Korea, India, dan Vietnam.

Perbedaan Konsep antara Blok Barat dan Blok Timur
Antara Blok Barat dan Blok Timur terdapat beberapa konsep yang berbeda terutama pada bidang politik dan ekonomi. Blok Barat menerapkan sistem politik liberal yang mengharuskan setiap negara memberlakukan sistem multipartai. Setiap partai diberikan hak untuk memerintah apabila berhasil memenangkan pemilihan umum yang diselenggarakan secara berkala. Adapun negara Blok Timur menganut sistem monopartai yaitu Partai Komunis. Negara – negara Blok Timur juga memiliki model pergantian pemerintahan secara berkala, hanya perbedaannya pemerintahan tidak diperebutkan oleh pertai politik seperti yang berlaku di negara – negara Barat.

Dalam sistem perekonomian, Blok Barat menerapkan sistem kapitalisme dimana semua orang atau perusahaan memiliki kebebasan dalam memperluas pangsa pasar (liberalisme). Pemerintahan di Blok Barat memiliki keterbatasan dalam bidang ekonomi. Sistem ini tentu saja menguntungkan orang – orang yang bermodal besar (kapital). Modal besar memungkinkan mengalahkan pemodal kecil. Pemodal besar mampu meningkatkan perekonomian negara, namun disisi lain mampu menghancurkan pemodal kecil. Akibatnya muncul kesenjangan antara pengusaha.

Adapun di negara – negara Blok Timur menggunakan system berbeda. Mereka justru mencegah persaingan bebas diantara kaum pemodal. Dalam hal ini, pemerintah berperan sangat besar pada perekonomian negara. Hilangnya persaingan telah membuat negara – negara Blok Timur mengalami keterlambatan memperoleh kemajuan ekonomi.
Sejarah Singkat Berdiri dan Runtuhnya Uni Soviet

Sejarah Singkat Berdiri dan Runtuhnya Uni Soviet

1. Terbentuknya Uni Soviet
Lenin
Meletusnya Revolusi Rusia atau Revolusi Oktober pada tanggal 25 Oktober 1917 merupakan awal dari terbentuknya Uni Soviet. Revolusi Rusia merupakan puncak kekecewaan warga negara Rusia atas pemerintahan Tsar Nicholas II yang dianggap korup dan sewenang – wenang. Selain itu, revolusi ini juga dilatarbelakangi kaum Bolshevik atas keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia I. Kaum Bolshevik dipimpin oleh seorang Marxis bernama Vladimir Ilyich Lenin (1870-1924). Ekspansi wilayah dilakukan Lenin sejak ia mengambil alih tangkup kepemimpinan Rusia. Pada tanggal 30 Desember 1922, Lenin membentuk sebuah federasi bernama Uni Soviet. Federasi ini beranggotakan Rusia, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kirghistan, Latvia, Lithuania, Moldovia, Tajikistan, Turkmenistan, Ukraina, dan Uzbekistan. Lenin menjadi pemimpin pertama Uni Soviet sampai ia wafat pada tahun 1924 dan digantikan oleh Joseph Stalin (1878-1953).


2. Uni Soviet Era Joseph Stalin
Stalin
Ketika Stalin naik menjadi pemimpin Uni Soviet ia menerapkan pengawasan secara total atas perekonomian Uni Soviet dengan mengendalikan aktivitas industri dan membangun sistem pertanian kolektif. Kebijakan ini mengalami kegagalan dan menyebabkan banyak rakyat mati kelaparan. Stalin juga mengendalikan kehidupan politik dan sosial Uni Soviet. Orang – orang yang menentang kebijakannya ditangkap dan dikirimkan ke kamp – kamp kerja paksa atau bahkan dieksekusi. Tokoh politik maupun militer yang berpengaruh pada era Lenin dilenyapkan. Pembersihan Massal (Great Purge) yang dilakukannya sejak 1937 terhadap lawan politiknya menjadi sejarah kelam Uni Soviet.

Pasca Perang Dunia II, Stalin berusaha membangun kembali ekonomi Uni Soviet yang hancur sambil menjalankan kebijakan lamanya, yaitu membangun industri berat dan kebijakan militeristik. Kepiawaiannya dalam berpolitik membentuknya menjadi seorang diktator yang mengantarkan Uni Soviet sebagai negara komunis terkuat. Stalin meninggal pada tahun 1953 dan digantikan Nikita Khrushchev.

3. Uni Soviet Era Khrushchev
Nikita Khrushchev
Joseph Stalin wafat pada tahun 1953 yang selanjutnya digantikan oleh Nikita Khrushchev (1894-1971) berdasarkan kongres ke-20 Partai Komunis yang diadakan pada tahun 1956. Ia mengganti kebijakan – kebijakan Stalin yang dianggap kejam. Proses politik ini disebut destalinisasi. Maksud dari proses ini adalah menghilangkan segala hal berbau Stalin dalam kehidupan berpolitik di Uni Soviet. Sebagai bagian dari proses destalinisasi, ada dua hal pokok yang dilakukan diantaranya :
  • Segala sesuatu yang dianggap sebagai kegagalan dan kesalahan, termasuk brutalitas dan kultus individu terhadap Stalin, disingkapkan dan dikecam secara publik
  • Doktrin Marxisme-Leninisme yang dikembangkan Stalin ditinjau ulang dalam upaya penyesuaian diri terhadap perkembangan sosio-politik, baik yang terjadi di luar negeri maupun di dalam negeri. Di dalam negeri misalnya, muncul generasi baru yang terdiri atas manajer, usahawan, dan cendekiawan. Sesuatu yang sebetulnya tidak dimungkinkan oleh sistem komunisme. Disisi lain, di luar negeri muncul perkembangan baru yang harus mendapat perhatian yaitu penemuan bom nuklir.

Khruschev berusaha meredam ketegangan dengan Barat. Ia mencetuskan beberapa gagasan yang sebenarnya menyimpang dari ajaran Karl Marx dan Stalin, diantaranya :
  • Mengemukakan bahwa perang dapat dihindari dan bukan lagi tak terelakkan
  • Membuka kemungkinan hidup berdampingan dengan negara lain yang berbeda sistem sosial politiknya atau suatu keadaan yang disebut peaceful co-existence

Meski demikian, persaingan dengan Barat masih ada seperti pada bidang penerbangan ruang angkasa dan senjata nuklir dengan Amerika. Pada perkembangannya, proses destalinisasi memberikan pengaruh yang besar kepada negara – negara komunis lain. Pemimpin Moskwa yang pada masa pemerintahan Stalin disegani terutama di Eropa Timur, perlahan – lahan luntur. Disisi lain mulai berkembang gagasan polisentrisme atau pusat komunisme tidak hanya terbatas pada satu tempat, Moskwa, melainkan berbagai negara komunis. Khruschev diturunkan dari jabatannya pada tahun 1964 setelah Krisis Rudal Kuba yang terjadi pada 1963. Krisis Rudal Kuba nyaris memicu perang nuklir dengan Amerika Serikat. Posisi Khruschev kemudian digantikan oleh Leonid Brezhnev, seorang pengagum Stalin. Pada masa pemerintahan Brezhnev, ia menghentikan proses destalinisasi dan memulihkan nama Stalin di panggung politik Uni Soviet.

4. Uni Soviet Era Leonid Brezhnev
Leonid Brezhnev
Pada tahun 1970, Brezhnev secara resmi menjadi pemimpin tunggal Uni Soviet. Setelah Stalin wafat, Uni Soviet sempat dipimpin secara bersama oleh Leonid Brezhnev sebagai Sekretaris Jenderal, Alexei Kosygin sebagai perdana Menteri, dan Nikolai Podgrny sebagai ketua presidium. Pada masa pemerintahan Brezhnev, Uni Soviet dan negara – negara Pakta Warsawa lainnya menginvasi Cekoslovakia guna mencegah meluasnya reformasi Musim Semi Praha.

Disisi lain, pengawasan politik terhadap masyarakat diperkuat. Meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat membuat Brezhnev memusatkan pengembangan pada bidang pertahanan dan angkatan bersenjata. Era Brezhnev juga dikenal sebagai “masa stagnasi”. Pasalnya, pengaturan ekonomi yang ketat serta birokrasi Soviet yang kaku merintangi inovasi dan pembaruan dalam segala bidang. Pada bidang politik luar negeri, Brezhnev mulai menggunakan politik détente (Prancis: relaksasi) dengan Barat guna meredakan ketegangan dengan Barat. Meski demikian, ia tetap mengembangkan pengaruh Uni Soviet dengan mendukung negara – negara berpaham komunisme, sosialisme dan anti Barat. Sebagai contoh dia mendukung Viet Cong dan Tentara Rakyat Vietnam dalam Perang Vietnam. Disisi lain, pada tahun 1980, Perang Soviet-Afganistan pecah. Dalam perang ini, Amerika Serikat mendukung para mujahidin Afganistan untuk berperang melawan Uni Soviet. Perang ini juga mengakhiri politik détente Brezhnev di Uni Soviet.

5. Uni Soviet Era Mikhail Gorbachev
Mikhail Gorbachev
Pada tahun 1982, Brezhnev wafat dan posisinya digantikan oleh Yuri Andropov dan Konstantin Chernenko. Namun, pada tahun 1984 Andropov wafat dan menyusul Chernenko pada tahun 1985. Setelah itu, politbiro mengangkat Mikail Gorbachev pada bulan Maret 1985 dan menjabat hingga 1991. Diangkatnya Gorbachev menandai lahirnya generasi dan tonggak kepemimpinan baru. Gorbachev memberi kebebasan bagi liberalisasi politik dan ekonomi, serta mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan Barat.

Guna memperbaiki kondisi ekonomi di Uni Soviet, Gorbachev memperkenalkan dua model kebijakan, yaitu glasnost dan perestroika. Glasnost berarti keterbukaan politik dengan menghilangkan jejak – jejak Stalin, seperti pelarangan buku dan penyebaran polisi rahasia, serta memberi kebebasan baru bagi warga negara Uni Soviet. Para tahanan politik dibebaskan. Majalah dan surat kabar dapat mengkritik kebijakan pemerintahan. Selain itu, untuk pertama kalinya, partai – partai lain selain Partai Komunis dapat berpartisipasi dalam pemilihan umum.

Perestroika berarti restrukturisasi ekonomi yang dimaksudkan untuk menghidupkan perekonomian Uni Soviet. Gorbachev yakin dengan kebijakan perestroika, para swasta akan berlomba – lomba dalam inovasi dan diberi kelonggaran. Sebetulnya, sudah ada sedikit toleransi swasta untuk mengembangkan usahanya pada pemerintahan Lenin melalui kebijakan ekonomi baru (New Economic Policy/NEP). Pekerja diberi hak mogok untuk mendapatkan upah dan kondisi yang lebih baik. Disisi lain, Gorbachev juga mendorong investasi asing di Uni Soviet.

6. Bubarnya Uni Soviet
Usaha Gorbachev dalam merampingkan sistem komunisme membawa harapan baru. Namun, ketidakmampuan dalam mengendalikan kondisi politik jalannya pembaruan melahirkan serangkaian peristiwa yang bermuara pada bubarnya Uni Soviet. Glasnost dan perestroika yang awalnya ditujukan untuk pemulihan ekonomi malah memunculkan dampak – dampak yang tidak diinginkan. Ada beberapa faktor penyebab runtuhnya Uni Soviet, diantaranya :
  • Sistem marxisme-komunisme ternyata tidak memiliki pengawasan efektif terhadap bidang politik dan ekonomi
  • Marxisme-komunisme tidak memiliki kelenturan dalam berbagai perubahan
  • Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi menuju desentralisasi telah memberi peluang kepada anggota negara – negara Uni Soviet untuk melepaskan diri
  • Sistem ekonomi baru yang diterapkan Gorbachev telah mengundang liberalisme dan kapitalisme yang sangat bertentangan dengan komunisme
  • Kaum buruh yang merupakan andalan dari marxisme-komunisme ternyata lebih memihak pada kapitalisme yang memberikan kebebasan untuk memilih sesuatu daripada sistem komunisme yang tidak mengakui hak individu

Dengan melihat faktor – faktor tersebut, bubarnya federasi Uni Soviet tinggal menunggu waktu. Pada akhir 1980-an, arus keterbukaan yang dilancarkan tidak bisa membendung tumbuhnya nasionalisme di negara – negara bagian yang menginginkan haknya untuk lepas dari Uni Soviet. Nasionalisme tersebut berusaha merubah tatanan dari komunisme menjadi demokrasi ala Barat. Akhirnya, satu persatu negara – negara bagian melepaskan diri dan mendirikan negara yang berdaulat. Hal tersebut dimungkinkan melalui Pasal 72 Konstitusi Uni Soviet yang berbunyi, “Negara bagian memiliki kebebasan untuk melepaskan diri.”

Dalam perkembangannya, reformasi yang dikeluarkan Gorbacev tidak berhasil memperbaiki perekonomian Uni Soviet. Kekuasaan Gorbachev semakin melemah dan sentimen anti komunis di negara – negara Baltik (Estonia, Latvia, dan Lithuania) semakin menguat. Pada tanggal 8 Desember 1991, Presiden RSFS Rusia, RSS Ukraina, dan RSS Belarusia menandatangani Perjanjian Belavezha yang menandakan pembubaran kesatuan (Uni) dan digantikan Persemakmuran Negara – negara Merdeka (CIS). Di tengah – tengah kondisi seperti ini muncul satu pertanyaan siapa yang berhak membubarkan Uni Soviet? Gorbachev meletakkan jabatannya sebagai Presiden Uni Soviet pada tanggal 25 Desember 1991 dan memberikan kekuasaannya kepada Boris Yeltsin. Pada tanggal 26 Desember 1991, Majelis Agung membubarkan diri dan sekaligus menandakan pembubaran atas Uni Soviet sebagai suatu federasi. Hal ini hanya terpaut empat hari sebelum hari jadinya yang ke 69.