Indische Partij

Indische Partij

Indische Partij merupakan organisasi modern ketiga yang berdiri di Indonesia setelah Budi Utomo dan Sarekat Islam. Sejak awal didirikan, organisasi Indische Partij secara terang – terangan menyatakan sebagai organisasi beraliran politik. Dengan demikian, Indische Partij menjadi organisasi beraliran politik pertama di Indonesia. Indische Partij berdiri menggantikan Indische Bond yang sebelumnya berdiri pada tahun 1899. Indische Bond merupakan organisasi kaum Belanda peranakan (Indo Belanda) yang dipimpin oleh K. Zaalberg seorang Indo Belanda. Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk memperbaiki nasib kaum peranakan Indo Belanda. Pada saat itu, peranakan Indo Belanda menaruh dendam kepada Belanda karena mereka seolah dilupakan oleh bangsa Belanda.

Indische Partij didirikan oleh Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau dikenal dengan nama Setyabudi di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912. Keanggotaan Indische Partij berasal dari kaum Indo Belanda dan bumi putera. Douwes Dekker melanjutkan Indische Bond yang merupakan organisasi campuran Asia dan Eropa yang telah berdiri sejak 1898. Indische Partij sebagai organisasi politik semakin kuat ketika dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) bergabung. Ketiganya kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Douwes Dekker berpendapat bahwa dengan melakukan aksi perlawanan terhadap kolonialisme, bangsa Indonesia memiliki peluang untuk merubah sistem yang berlaku serta keadilan pada sesama suku yang menjadi keharusan dalam pemerintahan. Douwes Dekker juga berpendapat bahwa setiap gerakan politik haruslah menjadikan kemerdekaan sebagai tujuan akhir. Pendapat tersebut disalurkan dalam majalah Het Tjdschrift serta surat kabar De Espres.

Disisi lain, Douwes Dekker banyak berhubungan dengan pelajar STOVIA yang ada di Jakarta. Sebab, ia menjadi redaktur di Bataviaasch Nieuwsblad, maka tidak mengherankan dia sering memberi kesempatan pada para penulis muda dalam surat kabarnya. Menurut Suwardi Suryaningrat, meskipun organisasi Indische Partij beranggotakan Indo Belanda dan bumi putera, namun tidak ada kata supremasi Indo Belanda atas bumi putera. Bahkan Suwardi Suryaningrat menghendaki agar dihilangkannya golongan Indo Belanda dan melebur kedalam masyarakat bumi putera.

Pandangan inilah yang kemudian menjadi dasar pendirian Taman Siswa (1922) dan menentang Undang – Undang Sekolah Liar (1933) oleh Suwardi Suryaningrat. Di sisi lain, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo meneruskan perjuangan radikal walaupun ia dibuang bersama Douwes Dekker ke Belanda pada tahun 1913. Selanjutnya, ia dipenjara di Bandung dan dibuang lagi ke Banda. Sebelum Jepang menjajah, ia dibebaskan dan ia meninggal pada tahun 1943.

Tujuan Indische Partij
Tujuan Indische Partij yang tertuang dalam anggaran dasar Indische Partij (Pasal 2), diantaranya :
  • Untuk membangun patriotism semua bangsa Hindia kepada tanah air yang telah memberi lapangan hidup kepadanya.
  • Menganjurkan kerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan.
  • Memajukan tanah air Hindia. 
  • Mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.
Adapun usaha untuk mencapainya, diantaranya :
  • Memeilihara nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita – cita kesatuan kebangsaan semua bangsa Hindia, meluaskan pengetahuan umum tentang sejarah kebudayaan Hindia, menyatupadankan intelek secara bertahap kedalam golongan – golongan bangsa yang masih hidup bersama dalam keadaan terpisah karena ras dan ras peralihan masing – masing, menghidupkan kesadaran diri dan kepercayaan terhadap diri sendiri. 
  • Menyingkirkan kesombongan rasial dan keistimewaan ras, baik dalam bidang ketatanegaraan maupun dalam bidang kemasyarakatan, melawan usaha membangkitkan kebencian agama dan sektarisme yang bisa mengakibatkan bangsa Hindia tidak mengenal satu sama lain, dan memajukan kerjasama nasional. 
  • Memperkuat tenaga bangsa Hindia dengan usaha kemajuan terus menerima dari individu kearah aktivitas yang lebih besar dalam bidang teknik dan kearah penguasaan diri serta pola berfikir dalam bidang kesusilaan. 
  • Penghapusan ketidaksamaan hak kaum Hindia. 
  • Memperkuat daya pertahanan bangsa Hindia untuk mempertahankan tanah air dari serangan asing, apabila perlu. 
  • Mengusahakan unifikasi, perluasan, pendalaman dan Hindianisasi pengajaran, yang didalam semua hal harus ditujukan kepada kepentingan ekonomi Hindia, dimana tidak diperbolehkan adanya perbedaan perlakuan ras, seks, atau kasta dan harus dilaksanakan sampai tingkat setinggi – tingginya yang bisa dicapai. 
  • Memperbesar pengaruh pro-Hindia ke dalam pemerintahan. 
  • Memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama dengan memperkuat yang lemah ekonominya.
Keanggotaan Indische Partij
Keanggotaan Indische Partij terbuka pada siapa saja tanpa ada pembedaan kelas, jenis kelamin, ras ataupun kasta. Keanggotaan Indische Partij berasal dari golongan bumi putera, golongan Indo Belanda, Tionghoa dan Arab. Keanggotaan Indische Partij tersebar pada 30 cabang dengan jumlah seluruh anggota sebanyak 7.300 orang dengan anggota yang paling banyak adalah dari golongan Indo Belanda, sedangkan anggota bumi putera berjumlah 1.500 orang yang kebanyakan berasal dari golongan terpelajar. Cabang Indische Partij diantaranya Semarang dengan anggota sebanyak 1.300 orang, Surabaya dengan anggota sebanyak 850 orang, Bandung dengan jumlah anggota 700 orang serta Batavia dengan jumlah 654 orang.

Jika dibandingkan dengan organisasi Budi Utomo dan Sarekat Islam, keanggotaan Indische Partij lebih kecil. Diperkirakan perasaan takut untuk masuk dalam organisasi bidang politik pada orang – orang, baik Indo Belanda maupun bumi putera yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Hal ini dikarenakan terdapat pasal yang menjelaskan hal tersebut, seperti tertuang pada pasal 111 Regerings-Reglement (RR) yang berbunyi “Bahwa perkumpulan – perkumpulan atau persidangan – persidangan yang membicarakan soal pemerintah (politik) atau membahayakan keamanan umum dilarang di Hindia Belanda”. Pasal inilah yang menjadi penghalang Indische Partij untuk mengembangkan keanggotaannya.

Perjuangan Indische Partij dalam Memperoleh Badan Hukum
Pada tanggal 25 Desember 1912 dimana diadakan rapat didirikannya Indische Partij ditetapkan pula anggaran dasar organisasi. Selanjutnya anggaran tersebut diajukan ke pemerintah untuk mendapatkan pengesahan menjadi badan hukum. Sikap Gubernur Jenderal Idenberg terhadap didirikannya Indische Partij berbeda dengan Budi Utomo dan Sarekat Islam. Pada saat Budi Utomo dan Sarekat Islam didirikan, Gubernur Jenderal Idenberg bersikap sangat berhati – hati sedangkan sikapnya terhadap didirikannya Indische Partij sangat tegas menolak.

Dengan putusan tertanggal 4 Maret 1913, Gubernur Jenderal Idenberg menolak anggaran dasar Indische Partij dengan alasan “Oleh karena perkumpulan itu berdasar politik dan mengancam hendak merusak keamanan umum, harus dilarang pendiriannya, menurut pasal 111 RR”.

Dalam rapat yang diadakan pada tanggal 5 Maret 1913, pimpinan Indische Partij memutuskan mengubah pasal 2 tentang tujuan Indische Partij. Setelah dirubah kemudian berbunyi sebagai berikut :
  • Memajukan kepentingan anggota di dalam segala lapangan, baik jasmani maupun rohani.
  • Menambah kesentosaan kehidupan rakyat di Hindia Belanda.
  • Berdaya upaya menghilangkan segala rintangan dan Undang – Undang Negara yang menghalangi terciptanya tujuan, dan 
  • Minta diadakan undang – undang dan ketentuan – ketentuan yang menunjang tercapainya tujuan.

Pada tanggal 5 Maret 1913, Indische Partij mengajukan untuk kedua kalinya anggaran dasar untuk disahkan pemerintah Belanda. Kemudian pada tanggal 11 Maret 1913, Gubernur Jenderal Idenberg kembali menolak dengan alasan sebagai berikut “Menimbang bahwa perubahan yang diadakan pada pasal 2 anggaran dasar itu, sekali – sekali tidak bermaksud merubah dasar dan jiwa organisasi itu yang sebenarnya, sebagai diterangkan di dalam surat keputusan tanggal 4 Maret 1913 No. 1 maka kenyataan itu adalah jelas dari pada keterangan ketua organisasi, atas pertanyaan Cabang Indramayu yang tertulis di dalam notulen persidangan tanggal 25 Desember 1912 dan dilampirkan di dalam surat permuhonan pucuk pimpinan Indische Partij tanggal 16 Maret 1913. Berhubung dengan itu, pemerintah Hindia Belanda tetap menguatkan surat keputusan 4 Maret 1913”.

Walaupun sudah ditolak, pucuk pimpinan Indische Partij berusaha beraudiensi dengan Gubernur Jenderal Idenberg namun Gubernur Jenderal Idenberg tetap saja pada pendiriannya. Dengan adanya penolakan tersebut, Indische Partij menjadi partai terlarang dan hanya berdiri selama 6 bulan. Meskipun demikian, semangat dan jiwa Indische Partij tetap mendapat tempat para pemimpin pergerakan pada saat itu.

Penangkapan dan Pengasingan
Pada tahun 1813, negara Belanda dikuasai Prancis dan menempatkan Louis Napoleon menjadi raja Belanda. Dalam perang Koalisi VI (1813 – 1814) Rusia, Inggris, Australias, Spanyol, Prusia serta Jerman mengalahkan Napoleon Bonaparte dalam Pertempuran Bangsa – Bangsa di Leipzig pada tahun 1813. Dengan runtuhnya kekuasaan Prancis, Belanda menjadi negara yang merdeka dengan ditandai perjanjian Perdamaian Paris (1814).

Selanjutnya, 100 tahun kemudian dilakukan perencanaan perayaan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda di tanah jajahan yang kemudian memunculkan rasa perasaan ingin mengurangi rasa anti pati dan penghinaan rakyat jajahan. Untuk merealisasikan niat tersebut kemudian didirikanlah Komite Boemi Puetra di Bandung. Tujuan komite ini adalah :
  • Mencabut pasal 111 RR 
  • Membentuk majelis perwakilan rakyat sejati 
  • Adanya kebebasan berpendapat di tanah jajahan
R.M. Soewardi Soerjaningrat menulis dalam sebuah risalah yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was yang artinya seandainya aku seorang Belanda. Ia menulis

..... Seandainya Aku Seorang Belanda, masih belumlah saya dapat berlaku sekehendak hati saya. Dengan sesungguhnya saya akan mengharap – harap, semoga peringatan hari kemerdekaan itu, di pesta seramai – ramainya, tapi saya tidak akan emnyukai, jika anak – anak negeri dari tanah jajahan ini dibawa – bawa larut berpesta. Saya akan melarang mereka turut bergembira dan bersuka ria di hari – hari keramaian itu, bahkan saya akan meminta dip agar tempar berpesta, agar tidak ada seorang diantara anak – anak negeri yang dapat terlihat, secara apa kita beriang – riang dalam memperingati hari kemerdekaan itu.

...... Sejalan dengan aliran itu, bukan saja tidak adil, tapi terlebih lagi tidak patut, jika anak – anak negeri disuruh menyumbang uang pula untuk turut membelanjai pesta itu. Jika mereka itu telah diperhatikan dengan laku mengadakan pesta kemerdekaan untuk negeri Belanda, sekarang orang bermaksud pula hendak mengosongkan kantong uangnya. Sesungguhnya suatu penghinaan lahir dan batin.

Tulisan tersebut kemudian mendapat reaksi dari pemerintah Belanda. Terjadilah pemeriksaan kepada Tiga Serangkai oleh Kejaksaan Belanda. Dengan menggunakan Exorbitante rechten (hak luar biasa) Gubernur Jendral Idenburg mengeluarkan putusan untuk mengasingkan Tiga Serangkai pada tanggal 18 Agustus 1913. R.M. Soewardi Soerjaningrat diasingkan ke Banda, Tjipto Mangunkusumo ke Kupang, dan Douwes Dekker ke Bengkulu. Dalam putusan Gubernur Jendral Idenburg juga tertera, mereka bebas keluar dari Hindia Belanda. Dengan poin tersebut ketiganya sepakat untuk mengasingkan diri ke negeri Belanda. Mereka berangkat ke Belanda pada tanggal 6 September 1913. Hari keberangkatan Tiga Serangkai kemudian diproklamasikan sebagai “Hari Raya Kebangsaan”. Dengan diasingkannya ketiga pimpinan Indische Partij, maka secara otomatis organisasi ini fakum dan tidak berperan dalam pergerakan nasional. Namun ternyata selama pengasingan di Belanda, Tiga Serangkai sangat berpengaruh terhadap para mahasiswa yang ada di Belanda.

Meskipun usia Indische Partij tergolong pendek, namun semangat dari Indische Partij sangat berpengaruh dari waktu ke waktu. Terlebih tujuan Indische Partij yang menginginkan adanya satu kesatuan penduduk multirasial. Tujuan organisasi ini benar – benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah Belanda.
Museum Purbakala Pleret

Museum Purbakala Pleret

Sumber : pleret.museumjogja.org
Museum Pleret merupakan museum purbakala yang terletak di Dusun Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul dan didirikan pada tahun 2004 sebelum terjadinya gempa DIY. Pada masa awal pendirian Museum Pleret hanya terdiri dari satu unit bangunan. Dengan luas 2.500 m2, Museum Pleret telah direnovasi dalam tiga tahap selama tiga tahun berturut – turut yakni pada tahun 2007 dibangun gedung pada sisi barat museum, setahun berikutnya gedung pada sisi tengah dan terakhir tahun 2009 dilakukan renovasi besar – besaran dengan membangun gazebo, perbaikan Sumur Gumuling, tempat parkir dan papan nama. Hingga saat ini, Museum Pleret belum diresmikan menjadi museum mandiri dan masih dalam pengelolaan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Museum Pleret menyimpan benda – benda bersejarah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah di sekitar kawasan Pleret. Wilayah Pleret diduga memiliki nilai sejarah tersendiri karena pernah menjadi tempat berdirinya Keraton Kerto dan Keraton Pleret dari Kerajaan Mataram Islam. Keberadaan tempat tersebut kini memang tidak bisa dilihat lagi, namun sebagian bangunan dari Keraton tersebut masih terkubur didalam tanah. Beberapa bangunan keraton yang telah rusak kini tersebar disekitar wilayah di sekitar Museum Pleret yang kini berdiri.

Sumur Gumuling merupakan simbol adanya peradaban di tempat tersebut karena keberadaan sumur menandakan adanya lokasi bekas Keraton Pleret. Sumur Gumuling kini berada di dalam area museum. Dulu, Sumur Gumuling dalam kondisi tidak terawat dan terbengkalai, namun sekarang Sumur Gumuling telah dipugar dan masih berfungsi dengan baik.

Sumber : jalanjogja.com

Penemuan yang berkaitan dengan Keraton Pleret diantaranya berbagai macam batuan dan sisa – sisa bangunan keraton yang ditemukan di sekitar berdirinya Museum Pleret. Contoh benda – benda peninggalan Keraton Pleret adalah umpak, arca bercorak Hindu, antefik, berbagai benda logam seperti uang logam cina, talam, entong dan peralatan – peralatan rumah yang berusia ratusan tahun yang sempat terpendam dan kini menjadi koleksi Museum Purbakala Pleret.

Profil Museum
Museum Purbakala Pleret dibangun dengan tujuan untuk melestarikan benda – benda cagar budaya pada kawasan cagar budaya Pleret khususnya situs Sumur Gumuling, Masjid Kauman, situs Kedaton, Kerto, Keputren, dan lain – lain. Fungsi Museum Pleret adalah menyimpan, merawat dan memajang benda – benda bersejarah di sekitar Sumur Gumuling dan situs – situs lain di Kabupaten Bantul serta melakukan penelitian mengenai data terkait Kerajaan Mataram Islam yang didirikan pertama kali di Kota Gede dan selanjutnya dipindah ke Kerto lalu ke Pleret dan terakhir di Kartasura sebelum terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Gedung sebelah barat Museum Pleret mengoleksi benda – benda cagar budaya yang sudah teridentifikasi. Sebanyak 71 koleksi berasal dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY dan ratusan koleksi lain yang diumpulkan oleh Dinas Kebudayaan DIY Ke – 81 yang terdiri dari : mata uang Cina, genda pendeta, talam, fragmen cepuk, beliung, bokor, batu dan batu putih pipih, entong, arca Ganesha, arca Agastya, pipisan, gandik dan lain – lain.

Selain difungsikan sebagai kantor, bangunan pada sisi tengah digunakan untuk menyimpan benda – benda cagar budaya yang telah ditemukan namun masih dalam tahap identifikasi. Nantinya sebagian bangunan ini juga digunakan untuk memajang dan menyimpan benda – benda koleksi museum yang telah teridentifikasi. Masih dilakukan pendataan dan pengumpulan benda cagar budaya di kawasan cagar budaya kelas C.

Selain koleksi benda – benda cagar budaya, Museum Pleret juga memamerkan peta perkiraan lokasi Keraton Mataram Pleret, silsilah raja – raja Mataram Islam dan masa pemerintahannya serta foto – foto terkini dan sekelumit sejarah tentang situs – situs yang berada di kawasan Pleret.

Waktu Kunjungan
Senin – Kamis 08.00 – 16.00 WIB
Jumat 08.00 – 14.30 WIB
Sabtu – Minggu 08.00 – 16.00
Tiket : Gratis
Karakter Pandawa Lima

Karakter Pandawa Lima

Dalam pewayangan Jawa banyak sekali karakter yang dapat kita saksikan terutama dalam pementasan wayang kulit. Salah satu tokoh pewayangan yang paling terkenal di pewayangan adalah Pandawa Lima. Pandawa Lima merupakan tokoh sentral dalam epik Mahabarata yang memiliki sifat bersebrangan dengan Kurawa (anak dari Destrarata). Pandawa Lima merupakan sebutan dari tokoh lima bersaudara, putra Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Berikut ini adalah tokoh – tokoh dalam pewayangan Pandawa Lima.

1. Yudistira
Yudistira merupakan putra tertua dari Pandu Dewanata dan Dewi Kunti yang memiliki nama kecil Puntadewa. Yudistira merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan memerintah di Kerajaan Amarta. Yudistira memiliki julukan Dharmasuta (putra Dharma), Bharata (keturunan Mahabarata), dan Ajahasatru (yang tidak memiliki musuh). Yudistira unggul dalam ilmu kasusastraan dan ketatanegaraan. Yudistira memiliki sifat sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, hampir tidak pernah berdusta selama hidupnya. Ia memiliki moral yang sangat tinggi, suka memaafkan dan mengampuni musuh yang telah menyerah. Yudistira juga dikenal sabar, jujur, taat terhadap agama, percaya diri dan berani berspekulasi.

2. Bima
Bima merupakan anak kedua dari Pandu Dewanata dan Dewi Kunti dengan nama kecil Sena. Bima adalah penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga ia memiliki julukan Bayusutha. Selain nama Bayusutha, Bima juga dikenal dengan nama Werkudara. Kata "Bima" dalam bahasa Sansekerta memiliki arti mengerikan. Bima berbadan kekar dengan lengan yang panjang, tubuh yang tinggi dan berwajah paling sangar apabila dibandingkan dengan Pandawa Lima yang lain. Meskipun demikian ia memiliki hati yang baik. Bima bersenjatakan gada yang bernama Rujakpala. Soal adu tenaga dan keterampilan memainkan gada, Bima tidak tertandingi. Bima memiliki julukan Werkudara. Dalam pewayangan, Bima memiliki anak bernama Gatotkaca, Antareja dan Antasena.

Bima memiliki sifat yang gagah berani, teguh dengan pendiriannya, kuat, tabah, patuh dan jujur. Bima dikenal kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun demikian Bima berhati lembut dan setia. Bima tidak pernah mendua, tidak suka basa basi dan tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

3. Arjuna
Arjuna adalah putra bungsu dari Pandu dan Dewi Kunti dengan nama kecil Permadi. Arjuna merupakan penjelmaan Dewa Indra sang dewa perang. Kata "Arjuna" dalam bahasa Sansekerta berarti “yang bersinar” atau “yang bercahaya”. Arjuna memiliki banyak julukan diantaranya Kirti (yang bermahkota indah, karena sebelumnya ia pernah diberikan sebuah mahkota oleh Dewa Indra ketika berada di surga), Partha (putra Kunti, ini karena ia merupakan putra dari Kunti alias Perta), Dhananjaya (perebut kekayaan, julukan ini karena ia berhasil mengumpulkan upeti ketika upacara rajasuya yang diadakan Yudistira).

Arjuna dikenal cerdik dan gemar berkelana, bertapa dan menuntut ilmu. Arjuna sangat dikenal akan ketampanannya dan mahir dalam memanah serta dianggap sebagai seorang ksatria. Kemampuan dalam strategi perang inilah yang kemudian dijadikan tumpuan saudara – saudaranya ketika melawan bala Kurawa. Arjuna dikenal dengan nama Janaka dan memimpin Kerajaan Madukara. Ia memiliki sifat cerdik, pendiam, lemah lembut, teliti, sopan santun, berani dan suka melindungi yang lemah.

4. Nakula
Nakula merupakan salah satu dari putra kembar pasangan Dewi Madrim dan Pandu dengan nama kecil Pinten. Nakula adalah penjelmaan dari Dewa kembar bernama Aswin sang dewa pengobatan. Ketika Nakula dan Sadewa kecil, kedua orang tuanya meninggal dan kemudian diasuh oleh Dewi Kunti. Nakula memiliki keistimewaan bermain pedang yang sangat mahir. Drupadi pernah berkata bahwa Nakula adalah pria paling tampan di dunia. Nakula memiliki sifat jujur, setia, taat kepada orang tua dan tahu membalas budi serta mampu menjaga rahasia.



5. Sadewa
Sadewa merupakan salah satu dari putra kembar pasangan Dewi Madrim dan Pandu dengan nama kecil Tangsen. Sadewa juga merupakan penjelmaan dari Dewa Aswin sang dewa pengobatan sama dengan Nakula. Sadewa merupakan seorang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa sangat mahir dalam bidang astronomi. Karakter Sadewa sama dengan Nakula dengan sifat jujur, setia, taat pada orang tua dan mampu menjaga rahasia.

Demikian artikel mengenai karakter dari Pandawa Lima yang sangat terkendal dalam pewayangan khususnya di Jawa. Semoga bermanfaat. Terimakasih.
Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda merupakan museum yang menempati rumah bekas dari Sie Kong Liong yang dahulu pernah dijadikan sekolah dokter bagi pribumi bernama STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan RS (Rechtsschool). Terletak di Jl. Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, kini museum ini dikelola pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Tempat ini menjadi saksi bisu pertemuan pergerakan pemuda yang berasal dari berbagai daerah yang disebut Indonesische Clubgebouw (rumah perkumpulan Indonesia), dan menjadi tempat latihan yang dikenal dengan nama Langen Siswo. Mahasiswa yang pernah menempati tempat ini untuk belajar diantaranya adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, ferdinan Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roemali, Mohamad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan dan Katjasungkana.

Sejak tahun 1927 Gedung Keramat 106 digunakan sebagai tempat organisasi pergerakan pemuda dalam setiap kegiatannya. Bung Karno dan tokoh - tokoh Algemeene Studie Club Bandung juga sering menghadiri kegiatan di Gedung Kramat 106 ini. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres seperti Sekar Roekoen, pemuda Indonesia dan PPPI. Gedung ini menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI.

Bangunan Museum Sumpah Pemuda dahulu dikenal dengan nama Gedung Kramat Raya 106 kemudian berubah nama menjadi Gedung Sumpah Pemuda, tempat diikrarkannya Sumpah Pemuda pada bulan Oktober 1928. Gedung Museum Sumpah Pemuda seakan menjadi saksi bisu sederet perjalanan sejarah serta proses panjang pembentukan semangat juang bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada gedung ini, sendi - sendi dasar persatuan Indonesia didiskusikan dan dirumuskan untuk kemudian diikrarkan. Tidak hanya dalam hal politik, gedung ini juga menjadi tempat lahirnya karya sastra gubahan Muhammad Yamin dan Aboe Hanifah.

Setelah adanya Sumpah Pemuda, banyak penghuni gedung Indonesische Clubgebouw yang telah lulus belajar dan meninggalkan tempat ini. Pada tahun 1934, Gedung Indonesische Clubgebouw atau Gedung Kramat Raya 106 disewa oleh Pang Tjem Jam sebagai tempat tinggal hingga 1937. Selanjutnya setelah disewa Pang Tjem Jam, gedung ini kembali disewa oleh Loh Jing Tjoe sebagai toko bunga dari tahun 1937 hingga 1948. Pada periode 1948 - 1951, Gedung Kramat 106 disewa sebagai Inspektorat Bea dan Cukai menjadi perkantoran dan penampungan karyawan. Kemudian pada tanggal 3 April 1973, Gedung Kramat 106 dipugar oleh Pemda DKI Jakarta dan selesai pada tanggal 20 Mei 1973. Gedung Kramat kemudian dijadikan Museum Sumpah Pemuda dan dibuka untuk umum.

MUSEUM SUMPAH PEMUDA
Lokasi
Jl. Kramat Raya No. 106 Jakarta, Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, kabupaten Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.
Luas Lahan 1040 m2
Luas Bangunan 460 m2

Jam Buka
Selasa hingga Jumat Pukul 08:00 - 15:00
Sabtu dan Minggu 08:00 - 14:00
Haris Senin dan hari besar nasional, museum ditutup untuk umum.
Sejarah Supersemar

Sejarah Supersemar

Orde Baru marupakan masa dimana tatanan pelaksanaa kehidupan di Indonesia dikembalikan kepada Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Lahirnya masa Orde Baru ditandai dengan adanya Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diberikan kepada Soeharto yang mengawali tonggak Orde Baru. Surat Perintah 11 Maret 1966 merupakan surat perintah yang ditandatangani Presiden / Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata / Mandataris MPRS / Pemimpin Besar Revolusi Soekarno pada tanggal 1966.

Isi dari Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966) adalah perintah dari Soekarno kepada Soeharto selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkobkamtib) untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu guna memulihkan stabilitas situasi keamanan yang sangat buruk pada saat itu, terutama setelah meletusnya peristiwa G30S/PKI.

Sejarah Supersemar
Hal - hal mengenai peristiwa Superemar (Surat Perintah 11 Maret) masih menjadi kontroversi. Hingga saat ini naskah asli yang menyebar di buku - buku pelajaran adalah keluaran dari Markas Besar TNI Angkatan Darat (TNI AD) yang dipublikasikan pada tahun 1966.

Menurut versi resmi yang dikeluarkan TNI AD, Supersemar dikeluarkan oleh Soekarno saat sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang kemudian dikenal dengan nama "Kabinet Seratus Menteri" karena menterinya yang berjumlah 100. Ketika sidang dimulai, Brigadir Jenderal Sabur sebagai panglima pasukan pengawal Presiden (Tjakrabirawa) melaporkan adanya "pasukan liar" atau "pasukan tidak dikenal" yang belakangan diketahui yaitu Pasukan Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) dibawah pimpinan Mayor Jenderal Kemal Idris yang bertugas menahan orang - orang yang berada di kabinet yang diduga terlibat dalam peristiwa G30S/PKI diantaranya Wakil Perdana Menteri I, Dr. Soebandrio.

Dari laporan tersebut, Presiden Soekarno bersama Wakil Perdana Menteri I, Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III, Chaerul Saleh, pergi ke Bogor dengan menggunakan helikopter yang sudah dipersiapkan. Disisi lain, sidang pelantikan Kabinet Dwikora telah ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II, Dr.J. Leimana yang selanjutnya menyusul ke Bogor. Situasi genting ini lalu dilaporkan kepada Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat yang menggantikan Letnan Jenderal Ahmad Yani yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Mayor Jendral Soeharto saat itu tidak bisa menghadiri sidang kabinet dikarenakan sakit. Sebagian kalangan merasakan kejanggalan atas ketidak hadiran Soeharto seolah telah terjadi skenario untuk "menunggu situasi".

Soeharto pada malam harinya kemudian mengutus tiga orang perwira tinggi angkatan darat untuk menghadiri sidang di Bogor guna menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor. Mereka adalah Brigadir Jenderal M. Jusuf, Brigadir Jenderal Amir Machmud, dan Brigadir Jenderal Basuki Rahmat. Setelah sampai di Istana Bogor, pada malam hari terjadi perbincangan antara 3 perwira utusan Soeharto dengan Presiden Soekarn mengenai situasi yang terjadi dan membahas tentang upaya pemulihan keamanan apabila diberikan tugas atau surat kuasa kewenangan untuk mengambil tindakan. Menurut jenderal (purn) M. Jusuf, pembicaraan tersebut berlangsung hingga pukul 20.30.

Akhirnya usulan surat perintah yang kemudian dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret disetujui oleh Presiden Soekarno. Surat Perintah Sebelas Maret tersebut ditujukan kepada Mayor Jenderal Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan guna memulihkan keamanan dan ketertiban di Indonesia. Surat Perintah Sebelas Maret tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul 01.00 yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar Angatan Darat, Brigjen Budiono H. Hal tersebut didasarkan pada penuturan dari Sudharmono yang menerima telepon dari Mayor Jenderal Sutjipto selaku ketua G-5 KOTI pada tanggal 11 Maret 1966 pada pukul 22.00. Sutjipto meminta agar dipersiapkan konsep pembubaran PKI pada malam itu juga. Permintaan ini didasarkan atas perintah Soeharto dan bahkan Sutjipto sempat berdebat dengan Meurdiono mengenai dasar hukum teks tersebut hingga Supersemar tiba.


Banyak hal yang kontroversial mengenai peristiwa Supersemar 1966. Surat Perintah Sebelas Maret yang kini tersebar di buku - buku sejarah di pelajaran sekolah merupakan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat (AD). Sebagian kalangan sejarawan menganggap bahwa terdapat beberapa versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah Supersemar yang dikeluarkan oleh Soekarno di Istana Bogor.

Berbagai upaya dilakukan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia demi mengupayakan kejelasan surat ini. ANRI bahkan berkali - kali meminta Jendral (purn) M. Jusuf yang menjadi saksi terakhir yang meninggal pada 8 September 2004 untuk bersedia memberikan kejelasan mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan kepada Muladi selaku Mensesneg, Jusuf Kalla dan M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Saksi kunci lainnya adalah mantan Presiden Soeharto yang wafat pada tanggal 27 Januari 2008 yang membuat Supersemar semakin sulit untuk diungkap.

Dengan kesimpangsiuran mengenai kejadian sebenarnya dalam peristiwa Supersemar, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan peristiwa G30S/PKI dan Supersemar sebagai salah satu dari sejarah negara Indonesia yang masih gelap.



Sumber :
http://indrasr.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-singkat-dan-kontroversi-supersemar-surat-perintah-11-maret-1966.html
Museum Bali

Museum Bali

Sejarah Museum Bali
Museum Bali didirikan atas prakarsa dari W.F.J Kroon pada tahun 1910 yang berdiri diatas tanah seluas 2.600 m2 yang meliputi halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah) dan halaman dalam (jeroan) dan masing - masing dibatasi oleh tembok. Pada halaman dalam terdapat tiga buah gedung yaitu Gedung Tabanan, Gedung Karangasem dan Gedung Buleleng yang digunakan untuk menyimpan koleksi benda - benda bersejarah. Bangunan Museum Bali merupakan perpaduan antara arsitektur pura dan puri. Museum Bali resmi dibuka pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum yang dikelola oleh Yayasan Bali Museum.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Museum Bali diambil alih oleh Pemerintah Daerah Provinsi Bali, selanjutnya pada tanggal 5 Januari 1965 diserahkan ke pemerintah pusat dibawah Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan nama Museum Negeri Provinsi Bali.

Pada tahun 1969 pada masa pemerintahan Soeharto, Museum Bali mendapat bantuan proyek Pelita berupa perluasan area menjadi 6.000 m2 dan menambah gedung pameran yang kemudian disebut Gedung Timur. Sejak otonomi daerah tahun 2000, Museum Bali kemudian diserahkan kembali ke pemerintah Bali dengan nama UPTD. Museum Bali. Dan sejak tahun 2008 UPTD. Museum Bali beralih nama menjadi UPT. Museum Bali.

Tata Pameran Koleksi
Koleksi benda - benda di Museum Bali sebagian besar terdiri dari benda ethnografi berupa perlengkapan agama, tari wali, bangunan suci yang masih memiliki kesamaan fungsi dengan apa yang digunakan masyarakat Bali saat ini. Koleksi ini ditata menurut konsep Trimandala (Utama Mandala, Mandya Mandala, Nistya Mandala). Dalam penataan Trimandala tersebut, penataan benda - benda sakral ditempatkan di Gedung Tabanan dan Gedung Karangasem. Kain - kain tradisional Bali diletakkan di Gedung Buleleng yang berada di bagian tengah Museum Bali. Benda - benda yang tidak kalah sakral seperti koleksi senirupa berupa lukisan, patung dan kerajajinan. Koleksi yang berhubungan dengan masa prasejarah seperti sarkofagus atau peti mayat yang terbuat dari batu dan bekal kubur ditempatkan di Gedung Timur.

Sejarah Pembangunan
Pendirian Museum Bali dicetuskan oleh W.F.J Kroon (1909-1913) seorang Asisten Residen Bali Selatan di Denpasar yang menjabat pada masa penjajahan Belanda. Gagasan ini kemudian diwujudkan dengan didirikannya sebuah gedung bernama Gedung Arca pada tahun 1910. Para arsitek pada masa awal dibangunnya Museum Bali diantaranya I Gusti Gede Ketut Kandel dari Banjar Abasan dan I Gusti Ketut Rai dari Banjar Belong bersama seorang arsitek dari jerman bernama Vurt Grundler.

Pendanaan pembangunan Museum Bali berasal dari raja - raja Buleleng, Tabanan, Badung dan Karangasem. Gagasan W.F. Sttuterhim seorang kepala dinas purbakala yang melakukan usaha melengkapi museum dengan koleksi etnografi pada tahun 1930. Demi memperlancar pengelolaan museum, maka dibentuk sebuah yayasan yang diketuai oleh H.R. Ha'ak, penulis G.J. Grader, bendahara G.M. Hendrikss, dan anggotanya diantaranya R. Goris, I Gusti Ngurah Alit raja Badung, I Gusti Bagus Negara dan W. Spies. Keanggotaan yayasan ini disahkan pada tanggal 8 Desember 1932 dan sekaligus tanggal dimana Museum Bali dibuka untuk umum.

Bangunan
Arsitektur Museum Bali dari dinding, halaman, dan gerbang dirancang layaknya puri atau kerajaan di Denpasar. Terdapat empat paviliun di kompleks Museum Bali. Paviliun ini mewakili berbagai kabupaten di Bali. Pada bagian utara terdapat paviliun Tabanan. Koleksi yang ditampilkan diantaranya peralatan tari seperti kostum, topeng, wayang kulit, keris dan beberapa patung kuno. Pada bagian tengah terdapat paviliun Buleleng. Bangunan ini memiliki kemiripan dengan pura. Bangunan ini mengoleksi pakaian Bali termasuk kipas tradisional.

Paviliun terakhir yang terletak di pintu masuk utama kamu akan melihat kulkul yang tinggi menjulang (peralatan tradisional untuk mengumpulkan penduduk), serta koleksi - koleksi prasejarah. Kamu akan melihat peralatan yang digunakan oleh manusia selama masa berburu dan bercocok tanam, periode budidiaya dan periode metalik. Pada lantai atas paviliun terdapat koleksi seni rupa Bali.

Peta Museum Bali
Sumpah Palapa Gajah Mada, Pemersatu Nusantara

Sumpah Palapa Gajah Mada, Pemersatu Nusantara

Terdapat beberapa kerajaan besar yang tercatat pernah berdiri dan menyatukan Nusantara dalam satu pemerintahan diantaranya Medang, Sriwijaya, Singasari dan Majapahit. Tidak bisa dipungkiri pulau Jawa adalah salah satu pulau di Nusantara yang melahirkan kerajaan - kerajaan besar di Nusantara. Salah satu kerajaan terbesar di Nusantara adalah Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Tengah.

Adalah Gajah Mada, seorang patih yang mampu menyatukan Nusantara dibawah panji Majapahit melalui sumpahnya yang bernama Sumpah Palapa. Ketika raja Jayanegara wafat pada tahun 1328 ditunjuklah Tribuwanatunggadewi yang merupakan anak Gayatri, istri muda Raden Wijaya yang sebelumnya memegang jabatan sebagai Bhre Kahuripan.

Gajah Mada menunjukkan loyalitas tinggi terhadap ratu Tribuwanatunggadewi dengan menumpas pemberontakan Sedeng. Setelah mampu meredam pemberontakan Sedeng, Gajah Mada dilantik menjadi Amangkubumi pada tahun 1336 M. Pada upacara pelantikannya, ia mengucapkan sumpah yang kemudian dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Berikut ini adalah teks Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada yang tertulis di kitab Pararaton:
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samasana isun amukti palapa".
Artinya :
Dia Gajah Mada Patih AMangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada: "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Dari Sumpah Palapa tersebut, Gajah Mada berjanji tidak akan berhenti puasa sebelum merasakan palapa (semacam garam atau rempah - rempah atau bisa juga diibaratkan dengan kenikmatan) sebelum Nusantara tunduk dibawah Majapahit. Daerah yang dikuasai atau disebut Hasta Mandala diantaranya Jawa, Andalas, Kalimantan, Malaka, sebelah timur Jawa, Bali, Nusan Tenggara, Maluku, dan Irian Barat.

Pada tahun 1350 Tribuwanatunggadewi turun tahta karena ibunya, Gayatri, wafat. Tribuwanatunggadewi kemudian digantikan putranya bernama Hayam Wuruk. Hayam Wuruk memerintah Majapahit pada periode 1350 - 1389 dengan gelar Rajasanagara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada lah Majapahit berhasil mencapai masa kejayaan dengan menaklukkan Nusantara. Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada berhasil diwujudkan.

Pada tahun 1343 Bali mampu dikuasai kemudian dilanjutkan Pagaruyung (Minangkabau) dan daerah lainnya. Nusantara untuk kedua kalinya disatukan setelah sebelumnya disatukan oleh Sriwijaya. Keberhasilan Majapahit menyatukan Nusantara karena adanya kekuatan dan ketangguhan armada lautnya. Majapahit sering dianggap sebagai kerajaan maritim meskipun letak pusat kerajaan ada di pedalaman. Rakyat Majapahit hidup sejahtera dengan hasil laut, perdagangan dan bercocok tanam.

Gajah Mada yang dikenal sebagai negarawan juga dikenal sebagai ahli hukum. Ia berhasil menyusun kitab hukum Kutaranawa yang merupakan kitab berdasarkan Kutarasastra dan kitab hukum Hindu Manwasastra. Kejayaan Majapahit ditunjang dengan kemajuan di bidang sastra. Pada tahun 1365, Mpu Prapanca berhasil menyusun kitab Negarakertagama yang berisi sejarah Kerajaan Singasari dan Majapahit. Selanjutnya Mpu Tantular yang berhasil menyusun Kitab Sutasoma dan Arjunawiwaha.

Pada tahun 1364 Gajah Mada wafat sedangkan Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 dan mampu mempertahankan kejayaannya. Majapahit mengalami masa kemunduran ketika diperintah pengganti Hayam Wuruk yaitu Wikramawardhana. Pada masa pemerintahan Wikramawardhana inilah Majapahit mengalami perang saudara sehingga menyebabkan wilayah - wilayah Majapahit satu persatu memisahkan diri. Gajah Mada tidak mempunyai kader penerus dan hal inilah yang kemudian menjadi salah satu batu sandungan perkembangan kerajaan Majapahit.
Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Pola persebaran Islam hampir sama dengan pola persebaran agama Hindu Buddha yaitu lewat perdagangan. Letak Indonesia sebagai penghubung urat nadi perdagangan kuno di dunia menjadikan Indonesia sebagai tempat yang banyak menerima berbagai budaya dari negara - negara yang memiliki andil dalam perdagangan kuno didunia. Tercatat India, negara - negara arab, Cina dan negara - negara Eropa menjadi negara - negara yang menghidupkan perdagangan pada masa kuno. Dengan adanya perdagangan ini, berbagai aspek sangat mempengaruhi perkembangan di Indonesia. Salah satu pengaruhnya adalah perkembangan kerajaan. Masa awal terbentuknya kerajaan - kerajaan di Indonesia adalah pengaruh dari agama yang dibawa dari India yaitu agama Hindu dan Buddha. Selanjutnya pengaruh Islam dari arab masuk dan mulai terbentuk pula kerajaan - kerajaan bercorak Islam salah satunya adalah Kerajaan Samudera Pasai.
  •  Letak Samudera Pasai
Peta Samudera Pasai
Kerajaan Islam pertama yang berdiri di Indonesia adalah Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan Samudra Pasai terletak di pantai timur sebelah utara Pulau Sumatera yaitu disekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Letaknya yang strategis yaitu berada di selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional menjadikan Karajaan Samudera Pasai menjadi salah satu kerajaan yang cepat perkembangannya. Samudera Pasai pada waktu itu menjadi tempat transit serta pasar rempah rempah di kawasan Asia Tenggara. Dengan letaknya yang strategis itulah Samudera Pasai mengalami perkembangan yang pesat.
  • Perkembangan Kerajaan Samudra Pasai
Samudera Pasai diperkirakan berdiri pada tahun 1267 Masehi. Hal ini diperkuat dengan bukti adanya batu nisan dari raja pertama Samudera Pasai yaitu Sultan Malik Al Saleh yang bertanda tahun 1297 Masehi sebagai tahun wafatnya Sultan Malik Al Saleh. Sumber lain yang menjelaskan adanya kerajaan adalah sebagai berikut :
  1. Berita dari seorang penjelajah dari Italia yang bernama Marcopolo yang pernah singgah di daerah Samudera Pasai pada 1292
  2. Berita dari Ibnu Batutah (1304-1368) yang mengaku pernah singgah di Samudera Pasai
  3. Hikayat dari raja - raja Pasai karangan Hamzah Fansuri pada abad ke 15 M
  4. Batu nisan Nahrasiya yang memiliki anggka tahun 1428
Raja pertama dari Samudera Pasai adalah Malik Al Saleh hal ini dibuktikan dari hikayat Melayu serta pendapat dari ahli - ahli sejarah seperti Snouck Hurgronye, J.L. Moens, H.K.J. Cowan dan lain - lain. Berdirinya kerajaan Samudera Pasai bertepatan dengan kemunduran Kerajaan Sriwijaya. Sebelum terbentuknya kerajaan Samudera Pasai, Malik Al Saleh memiliki gelar yaitu Meurah Sile atau Meurah Selu. Merah pada gelar Malik Al Saleh bermakna bahwa dia adalah anggota bangsawan, sedangkan selu diperkirakan berasal dari kata sungkala yang aslinya berasal dari Sanskrit Chula.

Kerajaan Samudera Pasai berada pada dua kota yaitu Samudera (agak jauh dari laut) dan Pasai (kota pesisir). Keduanya sudah masuk dalam agama Islam yang kemudian diastukan oleh Meurah Selu yang masuk islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang yang diutus Syarif Mekkah. Merah Selu kemudian dinobatkan menjadi raja (sultan) dengan gelar Sultan Malik Al Saleh.
  • Kehidupan Politik
Setelah resmi menjadi Kerajaan Islam, Samudera Pasai berkembang pesat dalam bidang perdagangan dan pusat studi Islam. Pedagang dari negara - negara bercorak Islam seperti India, Benggala, Gujarat, Arab dan Cina mulai berdatangan di Kerajaan Samudera Pasai. Setelah pertahanan Kerajaan Samudera kuat, Samudera Pasai mulai memperluas wilayah kekuasaan ke daerah pedalaman seperti Tamiang, Balek Bimba, Samerlangga, Beruana, Simpag, Buloh Telang, Benua, Samudera, Perlak, Hambu Aer, Rama Candhi, Tukas, Pekan, dan Pasai.

Sultan Malik Al Saleh meninggal pada tahun 1297 dan dimakamkan di Kampung Samudera Mukim Blang Me. Jabatan sultan di Samudera Pasai kemudian dilanjutkan oleh puteranya yaitu Sultan Malik As Zahir dari hasil perkawinannya dengan puteri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Malik As Zahir koin emas dijadikan sebagai alat pertukaran. Sultan Muhammad Malik As Zahir meninggal pada tahun 1326 dan digantikan Sultan Mahmud Malik As Zahir yang memerintah hingga 1345.

Pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai pernah dikunjungi Ibnu Batutah, seorang yang berasal dari Maroko dan merupakan utusan dari Delhi yang melakukan perjalanan ke Cina dan singgah di Samudera Pasai pada tahun 1345. Ibnu Batutah menyebut Samudera Pasai dengan Sumutrah untuk sebutan Samudera dan kemudaian berkembang menjadi nama pulau Sumatera.

Ibnu Batutah berpendapat, Samudera Pasai memiliki armada dagang yang kuat. Sultan Samudera Pasai yang bermazhab Syafi'i dan ingin membuat Samudera Pasai sebagai pusat agama Islam yang bermazhab Syafi'i.

Selanjutnya pemerintahan dilanjutkan oleh Sultan Ahmad Malik As Zahir putra Mahmud Malik As Zahir. Pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai pernah diserang Majapahit pada tahun 1345 dan 1350 dan menyebabkan Sultan Pasai harus melarikan diri dari ibukota kerajaan. Samudera Pasai baru bangkit kembali dibawah pemerintahan Sultan Zain Al Abidin Malik As Zahir tahun 1383 yang memerintah hingga tahun 1405.

Armada Ceng Ho juga sempat singgah di Samudera Pasai dengan 208 kapalnya yang mengunjungi Samudera Pasai berturut - turut pada tahun 1405, 1408 dan 1412. Dari laporan Cheng Ho yang dicatat pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Zin, Samudera Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur dengan bagian timur berbatasan langsung dengan Kerajaan Aru, sebelah utara berbatasan dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan yaitu Nakur dan Lide. Sedangkan sisi barat berbatasan dengan Kerajaan Lambri (Lamuri) yang disebutkan berjarak 3 hari 3 malam dari Samudera Pasai.

Dalam kunjungannya ke Samudera Pasai, Cheng Ho menyerahkan Lonceng Cakra Donya. Pada tahun 1434, Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming kemudian mengutus Wan Jinhong untuk memberitakan kematian tersebut ke Samudera Pasai.

Bangsa Portugis memasuki area Samuder Pasai pada abad ke 16 dan mampu menguasai Samudera pasai pada tahun 1521 hingga 1541. Selanjutnya wilayah Samuder Pasai menjadi kekuasaan Kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Saat itu yang memerintah Aceh adalah Sultan Ali Mughayat.

Berikut adalah sultan yang pernah menjabat di Samudera Pasai :
  1. Sultan Malik As Saleh (Malikul Saleh / Meurah Silu)
  2. Sultan Malikul Zahir I
  3. Sultan Muhammad
  4. Sultan Ahmad Maikul Zahir
  5. Sultan Zainal Abidin
  6. Sultanah Bahiah (puteri Zainal Abidin)
  • Kehidupan Ekonomi
Perekonomian Kerajaan Samudera Pasai ditopang oleh perdagangan dan pelayaran. Dalam catatan Ma Huan, disebutkan sebanyak 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Alat pembayaran di Samudera Pasai adalah koin emas dengan mata uang bernama Deureuham (dirham) yang terbuat dari 70% emas murni seberat 0,60 gram, berdiameter 10 mm, dengan mutu 17 karat.

Letak strategis kerajaan yang berada pada jalur perdagangan dunia sangat menguntungkan Kerajaan Samudera Pasai. Samudera Pasai memanfaatkan jalur pelayaran Cina - India - Arab sebagai tempat perdagangan. Samudera Pasai seringkali digunakan sebagai tempat singgah para pelayar untuk mengisi perbekalan yang digunakan untuk melanjutkan pelayaran.

Sementara itu, penduduk Pasai umumnya menanam padi di ladang yang bisa memanen hingga 2 kali serta memiliki sapi perah yang menghasilkan keju. Rumah Penduduk setinggi kira - kira 2,5 meter yang terdiri dari beberapa bilik dengan lantai terbuat dari kayu kelapa atau pinang yang disusun dengan rotan, sedangkan diatasnya dihamparkan tikar terbuat dari rotan atau pandan.
  • Kehidupan Sosial Budaya
Para pedagang yang menempati sementara menetap di sekitar Selat Malaka dan Samudera Pasai seringkali bergaul dengan masyarakat sekitar sehingga banyak pengaruh baik kepercayaan maupun kebudayaan yang kemudian menyebar di Samudera Pasai, seperti contoh agama Islam dari Gujarat, Persia dan Arab yang menyebar ketika perdagangan berlangsung. Kerajaan Samudera Pasai sangat dipengaruhi oleh agama Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Dari aliran syiah menjadi aliran syafi'i di Samudera Pasai ternyata mengikuti perubahan di Mesir. Adat istiadat Islam pun bercampur dengan adat istiadat setempat.
  • Penjelasan Ibnu Batutah Mengenai Samudera Pasai
Menurut Ibnu Batutah, Samudera Pasai memiliki benteng pertahanan dari batu dan memagari kotanya dengan kayu yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhan. Terdapat masjid di pusat kerajaan, pasar dan juga dilewati sungai air tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan,walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yang dapat bermaksud teluk yang airnya berputar - putar kemungkinan berkaitan dengan ini.
  • Struktur Pemerintahan Samudera Pasai
Struktur pemerintahan Samudera Pasai terdapat menteri, syahbandar dan kadi. Anak raja bernama sultan baik laki - laki maupun perempuan mendapat gelar Tun begitu juga perjabat tinggi kerajaan. Dalam kerajaan Samudera Pasai terdapat beberapa kerajaan bawahan atau kerajaan vassal dengan penguasa bergelar sultan.
  • Agama Kerajaan Samudera Pasai
Agama mayoritas di Samudera Pasai adalah agama Islam. Selain itu masih berkembang pula ajaran Hindu dan Buddha yang mewarnai masyarakat kala itu walaupun jumlahnya sedikit. Dari catatan Ma Huan dan Tome Pires menyebutkan bahwa masyarakat Pasai mirip dengan Malaka seperti dalam hal bahasa, tradisi, perkawinan dan kematian. Kesamaan inilah yang kemungkinan memudahkan berkembangnya Islam dan diperkuat oleh pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka seperti yang diceritakan dalam Sulalatus Salatin.
  • Kemunduran Samudera Pasai
Masa kemunduran Samudera Pasai adalah ketika terjadi pertikaian di Pasai yang menyebabkan perang saudara. Dalam Sulalatus Salatin menyebutkan Sultan Paai meminta bantuan Sultan Malaka untuk meredam kekacauan di kerajaan. Pada akhirnya Kesultanan Samudera Pasai runtuh oleh Portugis pada tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukkan Malaka pada tahun 1524 dan kemudian pada tahun 1524 Pasai masuk dalam Kesultanan Aceh.