Thursday, December 8, 2016

Kisah - Kisah Ganesha Sang Anak dari Dewa Siwa

Dewa Ganesha termasuk dalam dewa yang populer selain dewa – dewa Trimurti seperti Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pemelihara), dan Siwa (dewa pelebur atau penghancur). Telah banyak penemuan arca Ganesha di Indonesia terutama di Jawa. Diantaranya ada arca Ganesha yang berbentuk sederhana hingga arca Ganesha yang berbentuk rumit megah. Hal tersebut disesuaikan dengan tingkat keterampilan seniman dan kondisi ekonomi masyarakat pada tempat ditemukannya arca Ganesha tersebut.

Ganesha merupakan dewa berkepala gajah yang dianggap setengah dewa dan setengah manusia. Ganesha merupakan anak dari Dewa Siwa sang pelebur. Masyarakat Hindu percaya bahwa Ganesha merupakan perlambang dewa ilmu pengetahuan. Hingga saat ini, banyak candi, wihara maupun pura menempatkan arca Ganesha di dalamnya. Penempatan Ganesha tersebut bertujuan agar kelak anak – anak yang dilahirkan akan menjadi pintar dan berbakti kepada orang tuanya.
Arca Ganesha

Dewa Ganesha sangat dikagumi para pakar ikonografi karena bentuk , gaya seni, serta langgamnya yang beraneka ragam. Namun pada dasarnya, ciri utama Ganesha yaitu belalai yang sedang menghisap isi mangkuk yang ada di tangannya. Mangkuk yang ada di tangan Ganesha dipercaya merupakan cairan ilmu pengetahuan yang tak akan habis walaupun dihisap terus menerus oleh Ganesha. Hal ini dimungkinkan sebagai perlambang bahwa ilmu pengetahuan tidak akan habis apabila dipelajari secara terus menerus.

Karena kepopulerannya, ia juga dianggap sebagai penyingkir rintangan baik magis maupun fisik. Arca Ganesha biasanya ditempatkan di tempat – tempat berbahaya seperti di tebing, jurang dan lain – lain untuk menandakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang rawan bencana serta sebagai perlambang keselamatan.

Pemujaan Dewa Ganeha disebut juga Ganapatya. Ganesha memiliki nama lain yaitu Ganapati yang berarti pemimpin dari para Gana. Gana merupakan makhluk kahyangan yang bertugas mengawal Dewa Siwa. Nama lain dari Ganesha diantaranya Ekadanta (hanya memiliki satu gading), Lambodara (berperut gendut), Vighneswara (penyingkir rintangan), dan Haremba (bertangan delapan).

Kisah – Kisah Dewa Ganesha
Kelahahiran Ganesha dan Dipenggalnya Kepala Ganesha oleh Dewa Siwa
Kitab Siwa Purana menjelaskan, dahulu kala Dewi Parvati, istri dari Dewa Siwa ingin mandi. Karena ia tidak ingin ada yang mengganggu ketika ia mandi, Dewi Parvati kemudian menciptakan seorang anak yang ia namakan dengan nama Ganesha. Dewi Parvati memberi tahu kepada Ganesha agar melarang siapapun yang akan masuk ke dalam rumahnya karena Dewi Parvati sedang mandi. Ganesha hanya boleh menuruti kata – kata Dewi Parvati. Pesan tersebut kemudian dilaksanakan oleh Ganesha.

Selang beberapa waktu, Dewa Siwa pulang dan hendak memasuki rumahnya, namun ia dihadang oleh Ganesha. Dewa Siwa mengatakan bahwa ia adalah suami dari pemilik rumah yang Ganesha jaga, namun Ganesha tetap bersikukuh bahwa tidak seorangpun boleh masuk ke rumahnya.

Dewa Siwa kehilangan kesabaran dan bertarung melawan Ganesha. Pertarungan terjadi dengan sengit diantara keduanya. Sampai akhirnya Siwa menggunakan senjata Trisulanya dan memenggal kepala Ganesha. Saat Dewi Parvati selesai mandi, ia menemukan anaknya, Ganesha sudah tak bernyawa dan dalam keadaan kepala terpenggal. Mengetahui hal tersebut Dewi Parvati sangat marah dan menuntut agar Ganesha dihidupkan kembali kepada Dewa Siwa.

Dewa Siwa termenung dan menyanggupi permintaan istrinya. Dewa Siwa kemudian menemui Dewa Brahma sang pencipta, ia bercerita tentang kejadian yang telah dialaminya dan meminta kepada Dewa Brahma untuk menghidupkan kembali Ganesha. Atas saran Dewa Brahma, Dewa Siwa diutus untuk memerintah abdinya yaitu Gana untuk memenggal hewan apapaun yang ia temui pertamakali dan menghadap ke utara. Ketika sampai di dunia, hewan yang menghadap ke utara dan hewan pertama yang ditemui Gana adalah seekor gajah. Ketika akan dipenggal kepalanya, gajah tersebut memberontak hingga menyebabkan salah satu gadinganya patah. Pada akhirnya gajah tersebut dapat dikalahkan dan dipenggal oleh Gana untuk selanjutnya diserahkan kepada Dewa Siwa. Ganesha pun dihidupkan dengan wujud yang berbeda yaitu manusia berkepala gajah.

Ganesha Sang Anak yang Tampan
Dikisahkan Dewa Ganesha lahir atas inisiatif Dewa Indra dan para dewa lain, agar Siwa menciptakan seseorang untuk mengalahkan makhluk yang akan menghancurkan kahyangan. Siwa kemudian mengerahkan kekuatannya untuk menciptakan tokoh baru yaitu seorang anak yang lahir dari rahim Dewi Parvati. Anak tersebut diberi nama Vighneswara (penyingkir rintangan). Dikemudian hari ia akan diperintah untuk menghadapi para raksasa.

Dewi Parvati sangat bangga terhadap Vighneswara atas ketampanan anaknya. Dia bahkan mengundang para dewa untuk datang ke rumahnya dan menyaksikan ketampanan anaknya. Semua dewa kagum terhadap Vighneswara kecuali Sani. Sani tidak mau memandang Vighnesawara karena ia mendapat kutukan dari istrinya bahwa apa saja yang ia lihat akan berubah menjadi abu.

Dewi Parvati tetap meminta kepada Sani agar ia melihat anaknya. Akhirnya Sani menuruti apa kata Dewi Parvati dan kepala Vighneswara pun hancur menjadi abu. Dewi Parvati berduka. Untuk menghibur Dewi Parvati, Dewa Brahma menghibur Dewi Parvati dengan menghidupkan anaknya kembali melalui suatu prosesi. Brahma akan menghidupkan Vighneswara dengan mengganti kepala Vighneswara dengan hewan yang ditemui Brahma pertama kali. Ia pun turun ke dunia dan bertemu dengan gajah, maka digantinya kepala Vighneswara dengan kepala gajah.

Ganesha : Dewa Pertama yang Harus Disembah
Ganesha memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dewa lain. Semua sekte Hindu tidak terlepas dari pemujaan Dewa Ganesha. Berikut ini adalah cerita mengapa Ganesha dipuja semua sekte Hindu.

Alkisah dahulu Dewa Siwa pergi dari rumahnya untuk bertapa dan bermeditasi di Gunung Kailas (Gunung Himalaya). Ia meninggalkan Dewi Parvati bersama dua temannya yaitu Jaya dan Vijaya. Sepeninggal Siwa, Jaya dan Vijaya memberi saran kepada Parvati agar menciptakan seorang anak agar Dewi Parvati tidak lagi kesepian. Dewi Parvati kemudian menciptakan Vinayaka atau Ganapati yang kemudian menemani dirinya ketika ditinggalkan Siwa bertapa.

Suatu saat, Dewi Parvati menyuruh Vinayaka untuk menjaga rumah dan melarang siapa saja memasuki rumah karena ia akan mandi. Sesaat kemudian Siwa pulang kerumah dan mendapati seorang anak yang menjaga rumahnya. Karena telah mendapat mandat dari sang ibu, Vinayaka menolak Siwa yang akan memasuki rumahnya. Siwa sangat marah dan dilemparnya trisulanya hingga memotong kepala Vinayaka.

Ganesha meninggal sesaat kemudian dengan kepala yang terpenggal. Mendengar adanya pertengkaran Dewi Parvati keluar dari rumahnya dan mendapati anaknya Vinayaka meninggal dunia. Dia menangis. Dewa Siwa sadar ia telah melakukan kesalahan besar. Dewa Siwa kemudian mengirimkan prajuritnya untuk mencari pengganti kepala Vinayaka dengan hewan yang pertama kali mereka temui. Prajurit suruhan Siwa kemudian bertemu dengan seekor gajah. Dipenggallah kepala gajah tersebut dan diserahkan kepada Siwa. Degan kekuatannya, Siwa kemudian menghidupkan Vinayaka beserta kepala gajah yang menggantikan kepala Vinayaka. Vinayaka hidup kembali, para dewa memberkati anak tersebut dengan anugerah bahwa siapa saja yang menyembah Vinayaka pertama kali akan mendapat anugerah dan mereka yang tak menyembahnya akan mendapat rintangan dan tida mendapat keberhasilan.

Hal inilah yang menjadi sebab mengapa Dewa Ganesha disembah pertama kali. Ritual penyembahan Ganesha ditemui pada acara pernikahan, membuka usaha serta persembahyangan di rumah dan tempat suci.

Kisah Terpotongnya Gading Ganesha
Dahulu kala terdapat legenda yang menjelaskan patahnya gading Ganesha. Parashurama yang berniat menemui Siwa dihadang oleh Ganesha. Mereka berdua bertarung, Parashurama melempar kapak pemberian Siwa ke arah Ganesha. Mengetahui bahwa kapak tersebut adalah pemberian Siwa, ayahnya, Ganesha kemudian tidak menghindari kapak tersebut. Kapak tersebut mengenai gading dari Ganesha. Terpotonglah gading Ganesha. Mengetahui hal tersebut Parvati sontak marah dan mengutuk Parashurama. Parvati mengutuk Parashuraa tidak akan puas membunuh para ksatria dan akan selalu haus akan darah ksatria. Kemudian Siwa keluar dan menenangkan Dewi Parvati. Mengetahui hal tersebut, Parashurama meminta maaf dan memberikan kapaknya kepada Ganesha. Dari sinilah kemudian dapat kita lihat arca – arca Ganesha dengan salah satu taringnya yang terpotong serta salah satu tangannya memegang kapak.

Wednesday, December 7, 2016

Kisah Bima Melawan Sang Naga

Bima merupakan satu diantara lima pandawa yang ada di kisah epic Mahabarata. Dalam upaya mencari jati diri dan kesempurnaan, Bima harus mencari dan berjuang sendiri agar untuk mendapatkan jati diri siapa ia sebenarnya. Pertempuran pertama Bima yaitu ketika ia berhadapan dengan naga yang ada di tengah laut yang hendak memakan dirinya. Bima memenuhi perintah gurunya Rsi Durna untuk turun ke laut tanpa batas dan mengharuskannya tanpa membawa senjata apapaun yang ada hanya apa yang melekat di tubuhnya saja. Menyanggupi perintah sang guru, Bima menerjuni lautan dan beradu sakti dengan sang naga. Bima hanya menggunakan “kuku Pancanaka” untuk beradu dengan naga. Ukuran tubuh dan kesaktian tidak menjadi patokan, semangat tinggi terhadap dharmanya yang kemudian menentukan siapa yang memenangkan pertempuran ini. Bima dengan tangguh melakukan perlawanan kepada sang naga walaupun dari segi tubuh sang naga jauh lebih besar. Dengan kuku Pancanaka Bima merobek tenggorokan sang naga dan membuat lautan memerah dengan darah sang naga.

Bima berteriak keras dan mengangkat kepala sang naga yang telah ia potong dengan kuku Pncanaka menandakan bahwa ialah sang pemenang dari pertempuran melawan naga, seakan mengabarkan kemenangannya ke seantero jagad. Samudera bergelombang keras karena naga – naga lain yang berlarian menghindari kemarahan Bima. Teriakan dan sorot matanya seakan petir dan badai yang maha dahyat yang mengaduk lautan bak kolam mainan. Bima melampiaskan kemarahannya yang selama ini terbendung. Darah ksatrianya mengalir dan tak mampu terbendung lagi oleh apapun.

Kahyangan utama berdegup kencang atas keperkasaan Bima dan tak ada seorang dewa pun yang berani menenangkannya. Tergopoh – gopoh Sang Bhatara Guru, raja dari para dewa melesat ke kahyangan pingitan tertinggi guna meminta Sang Hyang Wenang untuk menenangkan Bima dari nafsu amarahnya yang mengguncang jagat raya.

Thursday, December 1, 2016

Sejarah Kerajaan Kediri (1042-1222 M)

Kerajaan Kediri atau disebut juga Kerajaan Panjalu merupakan kerajaan yang bercorak Hindu - Buddha. Kerajaan Kediri berdiri pada tahun 1042 yang sebelumnya menjadi satu dengan Kerajaan Mataram Kuno (Medang) dan memiliki pusat di tepi Sungai Brantas yang merupakan jalur perdagangan pada masa itu. Sebelumnya, Airlangga naik tahta menjadi raja dari Kerajaan Kahuripan setelah Mataram Kuno mengalami kemunduran dengan adanya serangan dari Kerajaan Wurawari. Airlangga mendirikan Kahuripan sebagai penerus dari Kerajaan Mataram Kuno. Airlangga mempunyai putri namun ia menolak ketika diserahi tanggung jawab untuk menjadi raja Kahuripan. Perebutan kekuasaan terjadi antara dua anak Airlangga dari selirnya.

Pada tahun 1041, Airlangga membagi dua wilayah Kahuripan dengan bantuan Mpu Bharada, seorang Brahmana yang dikenal memiliki kesaktian. Wilayah Kahuripan kemudian terbagi menjadi dua yaitu Jenggala dan Panjalu dengan pemisah Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Pembelahan Kerajaan Kahuripan ini kemudian diceritakan dalam Prasasti Mahasukbya, serat Calon Arang serta kitab Negarakertagama. Kerajaan Panjalu kemudian bertransformasi menjadi Kerajaan Kediri, sedangkan Kerajaan Jenggala tidak diketahui perkembangannya.
Wilayah Jenggala dan Panjalu

Sumber yang menyebutkan adanya Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala disebutkan dalam bentuk prasasti serta karya sastra. Sumber prasasti yang menyebutkan kedua kerajaan tersebut diantaranya Prasasti Tulungagung dan Prasasti Kertasasna. Sedangkan untuk karya sastra pada zaman Jayabaya diantaranya Kitab Bharatayuda (Empu Sedah dan Panuluh), Kitab Gatotkacasraya (Empu Panuluh). Untuk karya sastra pada masa pemerintahan Kameswara diantaranya Kitab Smaradahana (Empu Darmaja), Kitab Ludbaka (Empu Tan Akung) Kitab Westansancaya (Empu Tan Akung). Sumber dari luar negeri diantaranya Kitab Ling Waitaita (1178) Karya Cuk Ik Pei serta Kronik Chu Fan Chi (1220) oleh Chu Ju Kun.

Sumber Sejarah Kerajaan Kediri
1. Sumber Prasasti
  • Prasasti Sirah Keting (1104) menceritakan pemberian tanah oleh Raja Jayawarsa kepada rakyatnya.
  • Prasasti Ngantang (1135) menceritakan tentang Raja Jayabaya yang memberikan tanah perdikan kepada rakyat Desa Ngantang yang bebas dari pajak.
  • Prasasti Jaring (1181) menceritakan nama - nama hewan seperti Kebo Waruga dan Tikus Finada dalam strata pemerintahan.
  • Prasasti Kemulan (1194) menceritakan tentang masa pemerintahan Kertajaya yang berhasil mengalahkan musuh yang telah lama memusuhi Kediri di Katang - Katang.
2. Berita Asing
Sebagian berita asing yang memuat tentang Kerajaan Kediri berasal dari Cina. Pada umumnya, berita dari Cina ini merupakan cerita dari para pedagang yang pernah singgah dan berdagang di Kediri. Berita asing tersebut diantaranya Kronik Cina bernama Chu Fan Chi yang dikarang oleh Chu Ju Kua (1220). Buku ini merujuk pada cerita dari buku Ling Wai Tai Ta (1178) yang dikarang oleh Chuik Fei yang lebih dulu melakukan pelayaran hingga ke Kediri. Kedua buku tersebut menceritakan tentang keadaan Kediri pada abad ke 12 dan ke 13 M.

Silsilah Raja - Raja Kerajaan Kediri
Terdapat 8 raja yang memerintah Kediri, diantaranya :

1. Sri Jayawarsa
Sejarah pemerintahan Jayawasa diketahui dari Prasasti Sirah Keting (1104). Ketika memerintah, Jayawarsa memberikan penghargaan kepada rakyatnya yang telah berjasa kepada raja. Dari Prasasti Sirah Keting dapat diketahui bahwa Jayawarsa ingin meningkatkan kesejahteraan rakyatnya serta memberikan perhatian lebih kepada masyarakatnya.

2. Sri Bameswara
Raja Bameswara meninggalkan beberapa prasasti seperti yang ditemukan di Tulungangung dan Kertosono. Prasasti - prasasti tersebut lebih banyak membahas tentang masalah - masalah keagamaan yang ada di Kediri.

3. Prabu Jayabaya
Pemerintahan Jayabaya berlangsung dari tahun 1130 hingga 1157 M. Prabu Jayabaya membawa Kediri ke puncak masa keemasan, hal ini ditandai dengan berjalannya roda pemerintahan dan ekonomi secara penuh di Kerajaan Kediri. Kerajaan Kediri beribukota di Dahono Puro di kaki Gunung Kelud yang dikenal dengan tanahnya yang subur sehingga mampu menumbuhkan berbagai tanaman. Dari hasil pertanian serta perkebunan ini kemudian diperjual belikan di sepanjang aliran Sungai Brantas. Airnya yang jernih dimanfaatkan rakyat kediri sebagai tempat perikanan. Hasil bumi dari Kediri diangkut ke kota Jenggala, dekat Surabaya.

4. Sri  Sarwaswera
Pemerintahan raja Sri Sarwaswera didapatkan dari Padelegan II (1159) dan Kahyunan (1161). Raja Sri Sarwaswera dikenal taat beragama dan berbudaya serta  memegang teguh prinsip tat wam asi yang memiliki arti dikaulah itu, dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau.

5. Sri Aryeswara
Prasasti Angin (1171) menyebutkan bahwa Sri Aryeswara yang merupakan raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1171 M. Sri Aryeswara memiliki gelar abhisekanya yaitu Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Pemerintahan Sri Aryeswara tidak diketahui kapan naik tahta dan masa pemerintahannya berakhir. Peninggalan masa pemerintahan Sri Aryeswara yaitu berupa Prasasti Angin (1171).

6. Sri Gandra
Pemerintahan Raja Sri Gandra dapat diketahui dari Prasasti Jaring (1181) yang menceritakan tentang nama hewan dalam kepangkatan diantaranya seperti gajah, kebo serta tikus. Nama - nama tersebut menunjukkan seberapa tinggi posisinya di istana.

7. Sri Kameswara
Masa peerintahan Sri Kameswara disebutkan pada prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradhana. Masa pemerintahannya yaitu dari tahun 1182 hingga 1185 M. Seni sastra pada masa pemerintahan Sri Kameswara mengalami perkembangan yang sangat pesat salah satunya adanya Kitab Smaradhana yang dikarang oleh Empu Dharmaja. Pemerintahan Sri Kameswara juga dikenal dengan adanya cerita - cerita panji seperti Cerita Panji Semirang.

8. Sri Kertajaya
Pemerintahan Sri Kertajaya berlangsung dari tahun 1190 hingga 1222 M, hal ini didasarkan oleh Prasasti Gulunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), Prasasti Palah (1197), Prassti Wates Kulon (1205), Negarakertagama dan Pararaton. Raja Kertajaya dikenal juga sebagai Dandang Gendis. Pada masa pemerintahan Kertajaya, kestabilan kerajaan Kediri mengalami penurunan karena adanya pengurangan hak - hak kaum Brahmana. Hal ini membuat kaum Brahmana tidak aman. Pada saat tersebut muncullah tokoh Ken Arok yang mengambil hati para Brahmana. Ken Arok dengan wilayah Tumapel kemudian menyerang Kerajaan Kediri. Pada akhirnya Kediri harus menyerah pada Tumapel kemudian lahirlah Kerajaan Singasari dibawah raja Ken Arok.

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Kediri

Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya Kerajaan Kediri

A. Kehidupan Politik
Kadaan politik Kerajaan Kediri dapat diketahui dari berita - berita Cina dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang ditulis oleh Chou K'u-Fei pada tahun 1178 M serta kitab Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chaujukua pada tahun 1225 M. Kedua sumber dari Cina ini memberitahukan keadaan masyarakat dan pemerintahan di Kerajaan Kediri. Kitab tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Kediri termasuk stabil dan tidak pernah terjadi konflik saudara dalam pergantian tahta.

Raja dibantu oleh empat pejabat kerajaan yang disebut rakryan, 300 pejabat sipil untuk mengurusi administrasi serta 1.000 pegawai rendahan. Raja Kediri digambarkan berpakaian sutera, menggunakan sepatu kulit, perhiasan emas, dengan rambut yang disanggul keatas. Raja menggunakan gajah untuk bepergian atau kereta yang dikawal 500 hingga 700 prajurit. Pemerintahan Kediri sangat memperhatikan sektor pertanian, peternakan serta perdagangan. Kriminalisme juga sering terjadi, berupa pencurian dan perampokan dan apabila tertangkap akan dihukum mati.

Selama 58 tahun di awal berdirinya Kerajaan Panjalu, pada tahun 1116 M Kerajaan Panjalu (Kediri) bangkit dengan raja - raja diantaranya sebagai sebagai berikut :

1. Rakai Sirikan Sri Bameswara
Raja Sri Bameswara dengan gelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Sarwwaniwaryya Wiryya Parakrama Digjayattunggadewa yang disebutkan pada prasasti Pandlegan I (1116). Prasasti lain yang dikeluarkan raja Sri Bameswara adalah :
  • Prasasasti Panumbangan yang berangka tahun 1042 Saka (1120 M)
  • Prasasti Geneng yang berangka tahun 1050 Saka (1128 M)
  • Prasasti Candi Tuban berangka tahun 1052 Saka (1130 M)
  • Prasasti Tangkilan yang berangka tahun 1052 Saka (1130 M)
2. Raja Jayabaya
Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayotunggadewanama Jayabhayalancana memerintah pada tahun 1057 Saka atau 1135 M. Salah satu prasasti pada masa pemerintahan Jayabaya yaitu Prasasti Talan (1136) yang menyebutkan adanya pemindahan Prasasti Ripta menjadi Prasasti Dinggopala oleh Raja Jayabaya. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Jayabaya adalah penjelmaan dari Dewa Wisnu. Lencana yang digunakan oleh Jayabaya adalah Narasingha. Namun disisi lain, Prasasti Talan menyebutkan bahwa lencana yang dipakai Jayabaya adalah lencana Garuda Mukha. Prasasti Hantang (1135 M) menyebutkan bahwa Panjalu menang atas Jenggala sehingga praktis Kediri di bawah raja Jayabaya lah yang kemudian menjadi pewaris tahta dari Kerajaan Kahuripan.

3. Raja Sarweswara
Raja Sarweswara bergelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardhanawatara Wijayagrajasama Singhadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayatunggadewanama. Pemerintahan Sarweswara berlangsung dari tahun 1159 hingga 1169 M. Lencana yang digunakan Raja Sarweswara adalah Ganesha.

4. Sri Aryyeswara
Sri Aryyeswara dengan gelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatararijamukha menggantikan raja Sarweswara yang menjabat hingga tahun 1181 M.

5. Sri Gandra
Sri Gandra yang bergelar Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayatunggadewanama Sri Gandra dikenal dengan jabatan sarwajala atau laksamana laut. Dari jabatan tersebut diperkirakan bahwa dahulu Kediri memiliki armada laut yang kuat. Selain itu, pada masa pemerintahan Sri Gandra dikenal adanya strata pejabat yang menggunakan nama binatang dantaranya, Kebo Salawah, Lembu Agra, Gajah Kuning serta Macan Putih.

6. Kameswara
Kameswara yang bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Tri Wikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayatunggadewanama memerintah Kediri pada tahun 1182 hingga 1185 M. Pada masa Sri Gandra inilah seni sastra berkembang pesat.

7. Kertajaya
Kertajaya yang bergelar Sri Maharaja Sarweswara Triwikramataranindita Srenggalancana Digjayatunggadewanama memerintah pada tahun 1185 - 1222 M dan sekaligus menjadi raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Pada masa pemerintahan Kertajaya banyak konflik yang terjadi antara pihak pemerintahan dengan para Brahmana. Para Brahmana kemudian meminta perlindungan Ken Arok. Kesempatan emas ini digunakan Ken Arok untuk melakukan pemberontakan dan melakukan penggulingan kekuasaan. Kediri kalah dan berakhirlah masa Dinasti Isana yang didirikan Empu Sindok.

B. Kehidupan Ekonomi
Kediri adalah kerajaan bercorak agraris dan maritim. Mata pencaharian dari rakyat Kediri adalah sebagai petani hal ini didukung oleh tanahnya yang subur. Hasil pertanian inilah yang kemudian mengantarkan Kediri kepada masa kemakmuran. Sedangkan yang berada di daerah pesisir bermata pencaharian sebagai pedagang dan pelayaran. Diketahui bahwa Kediri pernah melakukan perdagangan dengan Maluku dan Sriwijaya. Mata uang yang digunakan pada waktu itu adalah logam yang terbuat dari emas serta campuran antara perak, timah, dan tembaga. Sungai Brantas menjadi salah satu titik nadi perdagangan yang menghubungkan antara pesisir dan pedalaman dalam rangka kegiatan perekonomian.

C. Kehidupan Sosial Budaya
Pada zaman pemerintahan Jayabaya perkembangan karya sastra berkembang dengan pesatnya. Jayabaya pernah memerintahkan kepada Empu Sedah untuk mengubah kitab Bharatayuda ke dalam bahasa Jawa. Pekerjaan tersebut ternyata tidak selesai, kemudian dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Dalam kitab tersebut, Jayabaya mendapat banyak sanjungan. Kitab itu berangka candra sengkala Sangakuda Suddha Candrama (1079 Saka atau 1157 M). Selain itu Empu Panuluh juga menulis kitab Gatutkacasraya dan Hariwangsa.

Pada masa pemerintahan raja Kameswara juga menghasilkan beberapa karya sastra diantaranya :
  1. Kitab Wertasancaya yang berisi tentang petunjuk cara membuat syair yang baik oleh Empu Tan Akung.
  2. Kitab Smaradhahana berupa kakawin yang kemudian digubah oleh Empu Dharmaja yang berisi pujian  kepada raja yang dianggap titisan dari Dewa Kama. Kitab ini juga menyebutkan bahwa ibu kota kerajaannya berada di Dahana.
  3. Kitab Lubdaka yang ditulis Empu Tan Akung. Kitab ini berisi pemburu yang mestinya masuk neraka. Karena pemujaannya yang istimewa, ia kemudian ditolong dewa dan rohnya diangkat ke surga.
 Selain karya sastra tersebut, masih ada karya sastra lain diantaranya :
  1. Kitab Kresnayana yang ditulis oleh Empu Triguana yang erisi riwayat Kresna sebagai anak nakal, namun dikasihi banyak orang karena suka menolong dan juga sakti. Krena akhirnya menikah dengan Dewi Rukmini.
  2. Kitab Samanasantaka yang ditulis oleh Empu Managuna yang mengisahkan tentang Bidadari Harini yang mendapat kutukan dari Begawan Trenawindu.

Wednesday, November 30, 2016

Sejarah Perang Paregreg (1404-1406)

Majapahit dianggap sebagai pemersatu Nusantara yang memiliki kekuasaan setara Republik Indonesia pada saat ini, bahkan pengaruhnya juga sampai di luar Indonesia. Kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Singasari yang berdiri tidak lebih dari satu abad. Abad 16 Majapahit sudah runtuh dan lenyap samasekali yang ditandai dengan sengkalan Sirno Ilang Kertaning Bumi.

Keruntuhan Majapahit dikarenakan adanya konflik internal Majapahit yang saling memperebutkan kekuasaan atas hasrat individual yaitu memperebutkan tahta raja Majapahit. Puncaknya ialah ketika terjadi perang saudara antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Kerajaan - kerajaan Nusantara yang dahulu ditundukkan oleh para pembesar Majapahit seperti Tribuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk dan Gajah Mada akhirnya satu persatu melepaskan diri.

Sepeninggal Hayam Wuruk, di Kerajaan Majapahit terjadi perebutan kekuasaan oleh internal kerajaan. Hingga akhirnya pada tahun 1404 sampai 1406 muncul pemberontakan yang dilakukan oleh Bhre Wirabhumi atau Urubima, Adipati Blambangan yang juga merupakan keturunan Hayam Wuruk dari selirnya dan menjadi anak angkat Bhre Daha istri Wijayarajasa yang bernama Rajadewi. Bhre Wirabumi kemudian menikahi Nagarawardhani yang bergelar Bhre Lasem sang Alemu, putri Bhre Lasem (Duhitendu Dewi) atau adik dari Hayam Wuruk.

Penyebab Terjadinya Perang Paregreg
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit memiliki 2 istana yaitu istana barat di Trowulan sebagai pusat pemerintahan dan istana timur di Daha sebagai pusat kemiliteran. Kedua istana ini saling bersinergi satu sama lain. Istana barat diduduki Hayam Wuruk sebagai pemegang pemerintahan Kerajaan Majapahit dan di istana timur ada Wijayarajasa yang tak lain adalah mertua Hayam Wuruk. Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 yang kemudian digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yang bernama Wikramawardhana. Sedangkan pada tahun 1398 Wijayarajasa meninggal yang kemudian digantikan oleh anak angkat sekaligus cucunya yang bernama Bhre Wirabhumi yang juga anak dari selir Hayam Wuruk sebagai raja di istana timur Majapahit.

Ketika Bhre Lasem Duhitendu Dewi sebagai penguasa Kerajaan Lasem sekaligus adik dari Hayam Wuruk meninggal,  jabatan Bhre Lasem diserahkan kepada Nagarawardhani istri dari Bhre Wirabhumi. Namun disisi lain Wikramawardhana juga mengangkat Kusumawardhani istrinya sendiri. Wikramawardhan seolah menyulut api kepada pihak Bhre Wirabhumi. Sengketa jabatan Bhre Lasem kemudian menjadi perang dingin antara Istana Barat dan Timur hingga akhirnya Nagawardhani dan Kusumawardhani meninggal pada tahun yang sama yaitu pada tahun 1400. Wikramawardhana kemudian mengangkat menantunya sebagai Bhre Lasem yaitu istri dari Bhre Tumapel.

Terjadinya Perang Paregreg
Pengangkatan Bhre Lasem oleh Wikramawardhana menjadi penyulut perang dingin antara istana barat dan istana timur. Menurut Pararton, Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana pernah bertengkar pada tahun 1401 dan hingga akhirnya keduanya tidak bertegur sapa. Pada 1404 terjadi perang Paregreg yang berarti perang setahap demi setahap dalam tempo lambat. Pertempuran dimenangkan bergantian terkadang yang menang pihak istana timur terkadang pihak istana barat.

Hingga akhirnya pada 1406, pihak istana barat menyerang istana timur yang dipimpin oleh Bhre Tumapel putra dari Wikramawardhana. Pada saat itu ada utusan dari Cina yang berada di istana timur. Pihak istana timur mengalami kekalahan dan 170 utusan Cina menjadi korban atas perang saudara ini. Bhre Wirabhumi melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari dan berhasil dikejar oleh Raden Gajah atau dikenal juga dengan nama Bhra Narapati yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya di istana barat. Kepala Bhre Wirabhumi dipenggal oleh Raden Gajah dan kepalanya diberikan kepada Wikramawardhana. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung bernama Girisa Pura.

Perang Paregreg ini kemudian diwayangkan dengan judul legenda Damarwulan. Ketika terjadi perang Paregreg keuangan Majapahit tersedot banyak hingga pada akhirnya daerah tundukan Majapahit dengan mudah melepaskan diri.

Bersamaan dengan mulai merosotnya pamor Kerajaan Majapahit, disisi lain ulama - ulama agama Islam dari Champa mulai giat menyebarkan paham agama Islam di Jawa. Para ulama tersebut kemudian dikenal dengan nama Wali Songo yang dipimpin oleh Sunan Giri. Hingga pada akhirnya Demak Bintoro melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Munculnya Kesultanan Demak ini kemudian seolah melepaskan rakyat dari perang dan perebutan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang menyengsarakan rakyat Majapahit selama berpuluh - puluh tahun.

Akibat Perang Paregreg
Setelah pihak istana timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi mengalami kekalahan, kerajaan timur dan barat bersatu. Imbas dari perang saudara ini adalah lepasnya kerajaan kerajaan Majapahit, pada tahun 1405 tercatat daerah Kalimantan Barat dikuasai kerajaan Cina, Palembang, Melayu dan Malaka melepaskan diri dan memilih berdiri sendiri dan mengembangkan bandar - bandar perdagangan, kemudian dilanjutkan lepasnya Kerajaan Brunei.

Selain itu pihak Wikramawardhana harus membayar ganti rugi atas meninggalnya 170 orang Cina yang diutus oleh Dinasti Ming untuk mengunjungi dua istana majapahit di Jawa. Cina telah mendengar adanya perpecahan dan konflik internal di kerajaan Jawa. Laksamana Cheng Ho adalah utusan duta besar dari Cina untuk mengunjungi kedua istana ini. Atas kematian kecelakaan orang Cina yang ada di istana timur tersebut, pihak istana barat kemudian dikenakan denda sebesar 60 tahil kepada Cina. Sampai tahun 1408, Majapahit hanya bisa membayar denda sebesar 10.000 tahil dan pada akhirnya Kaisar Yung Lo membebaskan denda dengan alasan kasihan. Peristiwa ini kemudian dicatat oleh Ma Huan sekrataris Cheng Ho dalam bukunya yang berjudul Ying-Ya-Sheng-Lan.

Setelah berakhirnya perang Paregreg, Wikramawardhana menikahi putri Bhre Wirabumi untuk dijadikan selir. Dari perkawinan ini kemudian lahir Suhita yang kemudian naik tahta pada 1427 sebagai pengganti Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita inilah, pembalasan dendam kematian kakeknya Bhre Wirabhumi dilakukan dengan menghukum mati Raden Gajah pada tahun 1433.

Sumber : Wikipedia

Tuesday, November 29, 2016

Proses Rekonstruksi Candi


Ada beberapa hal yang menyebabkan candi rusak dan dalam kondisi terpendam. Berikut adalah hal - hal yang menyebabkan rusaknya candi baik disebabkan oleh alam maupun dari manusia.
  • Ditinggalkan Penganutnya
    Candi rusak karena ditinggalkan oleh penganut dari ajaran candi yang bersangkutan. Ketika penganut dari ajaran yang bersangkutan sebagai perawat dari bangunan candi meninggalkan candi tersebut, maka candi berangsur - angsur akan mulai rusak tanpa penanganan serta perawatan yang baik. 
  • Panas dan Hujan
    Panas dan hujan kemudian menjadikan batu candi menjadi keropos dan mengurangi kepadatan batu. 
  • Angin
    Angin membawa komponen debu, pasir dan terkadang benih tumbuhan yang akan merusak candi. Benih tumbuhan yang hidup di candi terutama bagian akarnya akan merusak batu candi serta menyusupi celah - celah batu dan terakhir membuat candi menjadi semakin tertutupi rerimbunan pohon. 
  • Bencana
    Alam Gempa bumi akan membuat bangunan candi roboh dan membuat batu - batu candi tercerai berai satu sama lain. 
  • Pencurian
    Batu dari reruntuhan candi dicuri dan kemudian dimanfaatkan untuk bahan bangunan yang sangat diminati penduduk sekitar.

Selama berabad - abad bangunan reruntuhan candi hilang sampai adanya ilmu arkeologi yang kemudian melakukan rekonstruksi bangunan candi. Candi tersebut kemudian di temukan dalam keadaan runtuh dan terkadang hanya tersisa puing - puing tumpukan batu. Candi - candi yang berdiri sekarang ini merupakan hasil restorasi dari pemerintah. Tujuan restorasi tersebut adalah untuk menjaga keutuhan bentuk candi walaupun disisi lain banyak bangunan candi yang sudah diganti dengan unsur baru untuk mendukung bentuk asli dari candi tersebut dan menjaga agar tidak terjadi kerusakan lebih parah pada bangunan candi.

Restorasi berarti memperbaik, perbaikan candi tergantung pada ketersediaan bahan asli candi yaitu berupa sisa - sisa batu candi. Restorasi akan dilakukan apabila batu - batu candi dapat dikumpulkan kembali dan disatukan dalam satu tempat, kemudian batuan - batuan tersebut direstorasi dengan direkonstruksi diatas kertas sebelum dilakukan pembangunan ulang candi yang telah runtuh. Apabila batu - batu reruntuhan candi tidak memenuhi syarat untuk dilakukan rekonstruksi, maka bebatuan tersebut dibarkan begitu saja tanpa adanya penanganan dan hanya dikumpulkan di satu tempat.

Candi yang telah ditemukan seringkali telah hilang bagian atapnya, pada bagian tubuh candi juga terkadang hilang sebagian terutama bagian luar tubuh candi, yang seringkali utuh hanya bagian dasar candi. Reruntuhan candi yang tertimbun tanah akan membentuk bukit kecil yang ditutupi tanah dan tumbuhan. Selain itu, batuan dari tubuh maupun atap candi biasanya dicuri untuk dijadikan bahan bangunan. Hal inilah yang kemudian menyulitkan arkeolog untuk menganalisa bentuk asli dari bangunan candi.

Tiga fase dalam restorasi candi
  1. Fase pertama yaitu pengumpulan puing - puing candi dan menyeleksi batu sesuai tipe, bentuk, lokasi ditemukan serta ukuran. 
  2. Fase kedua yaitu mencocokkan antar bagian dari reruntuhan candi. Pencocokan dimulai dari dua bagian candi kemudian apabila terjadi kecocokan maka langkah selanjutnya dikembangkan lagi susunannya ke atas dan ke bawah serta kekanan dan kekiri. Ketika terdapat kecocokan kemudian dilakukan sketsa bentuk prototype candi dalam sebuah gambar diatas kertas. 
  3. Dari skesta satu bagian yang telah dibuat kemudian dicocokkan lagi dengan sketsa yang lain yang telah selesai dicocokkan. Dari kegiatan ini bagian perbagian akan memperlihatkan bentuk asli dari bangunan tersebut. Karena candi memiliki 4 sisi, maka rekonstruksi candi akan melibatkan 4 sisi bangunan pula. Rekonstruksi paling sulit yaitu pada bagian dalam candi. Bagian dalam candi berbahan batu polos tanpa ukiran yang sulit untuk dicocokkan satu dengan yang lainnya.
Setelah dilakukan tahapan restorasi, batu yang telah diseleksi tersebut kemudian dikelompokkan lagi kedalam sub bagian didalam struktur candi. Ketika semua sudah siap, candi kemudian dibangun kembali bagian perbagian. Candi baru akan dibangun kembali ketika analisa dari bentuk candi telah didapatkan. Pengalaman membuktikan bahwa bagian - bagian candi tidak pernah 100% ditemukan dalam bentuk utuh. Batu - batu yang hilang tersebut kemudian diganti dengan batu baru dengan bentuk polos. Rekonstruksi menggunakan bahan asli dari puing bangunan lama disebut anatylosis. Rekonstruksi jenis ini hanya akan dilakukakn apabila puing - puing bangunan ditemukan secara utuh. Namun hal ini terkendala bahan dari candi yang sebagian hancur dan hilang. Bagian yang paling sering hilang adalah keystone atau batu kunci. Keystone adalah batu yang digunakan untuk mengunci dan menyambung batu satu sama lain dalam penyusunan batu candi pada sistem interlock. Pembangunan ulang candi tidak dapat dilakukan apabila batu kunci tersebut tidak ditemukan.

Keputusan untuk membangun kembali bangunan candi sepenuhnya diserahkan kepada bidang arkeologi. Spekulasi dan juga keinginan melihat bangunan yang telah runtuh sangat dihindari dalam ilmu arkeologi apabila data - data pendukung belum sepenuhnya terpenuhi. Bahkan ketika bagian candi telah ditemukan 90 % dan sketsa perbagian telah dirancang namun ada 2 bagian candi baik secara vertikal maupun horizontal belum tersambung maka candi tersebut tidak boleh dibangun.
Pemugaran Candi Sojiwan
Penggunaan batu baru harus diminimalkan oleh para arkeologi dan bisa diganti apabila benar - benar dibutuhkan untuk menjaga integritas bangunan candi tersebut. Oleh karena inilah, banyak lubang - lubang dicandi yang dibiarkan. Batu - batu pengganti harus berbentuk polos dan tidak boleh memiliki ukiran walaupun tujuannya sebagai penyelaras dengan bagian lain. Selain itu, batu - batu pengganti pada candi harus ditandai dengan metal atau logam penanda atau bisa juga bahan kimia yang menandakan bahwa batu tersebut adalah batu pengganti. Penandaan batu pengganti ini sangat penting mengingat adanya peraturan bahwa batu berukir yang telah rusak tidak boleh digantikan dengan batu baru berpola sejenis. Apabila tidak dapat diganti dengan batu baru maka bagian candi tersebut dibiarkan kosong tanpa batu pengganti. Sebagai contoh pada sebuah arca yang kehilangan kepala maupun tangan, bagian arca tersebut tidak bisa diperbaiki ulang dan dibiarkan tidak lengkap.

Rekonstruksi candi selalu dimulai dari bagian dasar candi. Bagian dasar candi merupakan komponen penting karena bagian ini adalah penopang candi. Penelitian pada bagian dasar candi akan dilakukan mendalam sebelum melanjutkan ke bagian tubuh candi.
Rekonstruksi Candi Gunung Sari

Restorasi candi berbahan dasar batu andesit dan batu bata memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Pada batu bata akan ditemui bentuk dan ukuran sama yang akan menyulitkan para arkeolog untuk merekonstruksi kembali candi barbahan batu bata. Restorasi bangunan candi berbahan batu bata tidak akan dilanjutkan apabila bentuk dari candi tidak diketahui secara pasti. Restorasi hanya akan akan dilakukan dalam hal penguatan komponen - komponen batu bata candi yang telah rusak. Pemugaran akan dilakukan pada candi berbahan batu bata apabila sangat diperlukan dan merasa yakin untuk dibongkar. Pembangunan kembali batu bata tersebut akan dilakukan dengan persyaratan ketat dari metode anastylosi.

Sumber : Wacana.co

Ilmu Beladiri Khas Majapahit


Kali Majapahit merupakan seni beladiri khas Majapahit atau disebut juga Sundang Majapahit. Sundang Majapahit mengadopsi ilmu - ilmu alam diantaranya
  • Sundang Gunung (aspek pertahanan) 
  • Sundang Kali / Sungai (aspek penggempuran) 
  • Sundang Laut (aspek penaklukan) 
  • Sundang Angin (aspek penyusupan) 
  • Sundang Matahari (aspek perlindungan terhadap raja dan kerabatnya)

Seni beladiri Sundang Majapahit bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Sundang Majapahit diperkenalkan oleh Mahesa Anabrang (Sri Bhatara Adwayabrahma) salah satu dari 9 arya Singasari yang kemudian menjadi petinggi di Majapahit. Ia memperkenalkan Sundang Majapahit yang merupakan perkawinan ilmu pencak silat dengan teknik telikungan / patahan yang dikombinasikan dengan senjata.

Ilmu beladiri ini pada awalnya adalah milik dari kerajaan Singasari dan Darmasraya (Kerajaan Melayu Jambi) yang kemudian diturunkan kepada Kerajaan Majapahit. Ilmu ini memadukan pedang (Sundang) yang berada di tangan kiri dan keris (Taji) yang ada di tangan kanan. Sundang Majapahit tidak memilih untuk bertahan melainkan maju menggempur dan menyusup ke titik terlemah musuh.

Dalam sejarah Majapahit, ilmu ini dianggap paling ampuh dan dianggap paling kejam dalam sejarah perang Majapahit. Seorang Ronggolawe yang juga salah satu 9 arya Singasari pun tewas ketika melawan pasukan Mahesa Anabrang. Ilmu ini digambarkan dengan "Tidak bisa dihentikan ditengah jalan, dia akan mengalir bak air bah yang tak terbendung".
Baca : Tewasnya Ronggolawe oleh Sundang Majapahit Mahesa Anabrang
Sebelum meninggal, Mahisa Anabrang mewariskan ilmunya ini ke putranya yaitu Dyah Bagus Mantlorot atau Mahesa Taruna atau disebut juga Adityawarman. Dengan Sundang Majapahit yang diwariskan ayahnya ini, ia mampu menduduki posisi tertinggi Wredhamenteri (orang kedua setelah raja) yang dianggap jauh dari posisi Gajah Mada. Ilmu Sundang Majapahit kemudian di turunkan ke 3 kerajaan mandala diantaranya Dharmasraya, Bugis Gowa dan Sulu.

Ketiga kerajaan tersebut memiliki kesamaan dalam ilmu beladiri yaitu menggunakan tali pengikat pada pergelangan yang diikatkan ke keris dan pedang atau disebut dengan Sundang. Kerajaan Dharmasraya menitik beratkan pada gerakan patahan, Bugis menitik beratkan pada kuncian dan tikaman (pencak sarung), sedangkan Sulu menitik beratkan pada reaksi (kali). Di Nusantara, ilmu ini mulai memudar seiring berjalannya waktu, hanya Sulu (wilayah selatan Filipina) yang masih melestarikan ilmu Sundang Majapahit dan masih menggunkan nama Kali Majapahit. Ilmu ini kemudian di klaim berasal dari Filipina dan mendunia hingga membuka cabang di Indonesia.

Video Demo Kali Majapahit

Thursday, November 24, 2016

Penemuan Manusia Purba di Indonesia


Penelitian mengenai manusia purba baru dimulai pada abad ke 19. Penelitian paleoantropologi terbagi dalam tiga tahap yaitu 1889 - 1909; 1931 - 1941; dan 1952 hingga sekarang. Penelitian paleoantropologi baru dimulai oleh Eugine Dubois tepatnya pada tahun 1889. Ia menemukan adanya tengkorak manusia di Wajak, Tulungagung, Kediri dan diakhiri dengan penemuan manusia purba di Kedungbrubus dan Trinil. Temuan pertama Dubois yaitu berupa fosil atap tengkorak Pithecantropus Erectus dari Trinil pada tahun 1891. Temuan ini dianggap sangat penting dalam sejarah palaeoantropologi. Kemudian dilakukan lagi penggalian beregu yang dipimpin oleh Selenka di Trinil pada tahun 1907 sampai 1908 namun hanya menemukan fosil hewan saja.

Penemuan fosil manusia purba ditemukan oleh ter Haar, Oppenoorth serta von Koeningswald antara tahun 1931 hingga 1933 dengan hasil ditemukannya tengkorak serta tulang kering Pithecanthropus Soloensis di daerah Ngandong, Blora. Penemuan ini dianggap penting karena menghasilkan satu seri tengkorak dengan jumlah besar di satu tempat yang tidak luas.

Pada tahun 1926, Tjokrohandoyo dibawah pimpinan Duyfjes menemukan fosil anak - anak di Perning, utara Mojokerto. Penemuan ini juga dianggap penting karena pada penemuan inilah ditemukan fosil tengkorak anak - anak yang berada pada lapisan pleistosen bawah.

Pada tahun 1936 hingga 1941, von Koeningswald menemukan in-situ fosil rahang, gigi serta tengkorak manusia, disamping banyak fosil hewan di daerah Sangiran, Surakarta. Pentingnya temuan ini adalah bahwa penemuan fosil manusia purba ini ditemukan di lapisan pleistosen tengah maupun pleistosen bawah di satu tempat, serta memperlihatkan variasi morfologis yang menurut banyak ahli berbeda tingkat rasial, spesies ataupun genus, varian - varian itu berasal dari suatu masa. Fragmen rahang serta gigi manusia purba ini ditemukan dengan ukuran besar. von Koeningswald kemudian menggolongkan temuan manusia purba ini ke dalam Meganthropus palaeojavanicus.

Semua penelitian tahap pertama tersimpan di Leiden dan sebagian temuan dari tahapan kedua tersimpan di Frankfurt, Jerman Barat. Tahapan ketiga bersamaan dengan perang dunia yang mengendurkan penelitian paleoantropologi. Pada penelitian tahap ketiga dilakukan ketika Indonesia merdeka, sehingga temuan - temuan fosil tetap tersimpan di Indonesia.

Penemuan tahap akhir sebagian besar ditemukan di Sangiran. Penemuan ini dianggap penting karena fosil yang ditemukan adalah bagian tubuh Pithecanthropus yang tidak ditemukan sebelumnya, seperti tulang muka, dasar tengkorak, serta pinggul. Pada tahap akhir juga ditemukan fosil tengkorak di tempat baru yaitu Sambungmacan, Sragen. Pada tahap ini terdapat kemajuan di bidang paleoantropologi berupa penanggalan radiometrik. Penelitian pada tahap akhir dilakukan dengan pendekatan interdisipliner atau dengan berbagai pendekatan sehingga dapat menyingkap hal - hal baru walaupun memerlukan waktu panjang. Untuk pertama kali tenaga - tenaga dari Indonesia dipekerjakan dalam penelitian.

Sumber : Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 

Saturday, November 5, 2016

Sumber Sejarah

Pengertian Sumber Sejarah
Dalam merekonstruksi suatu peristiwa masa lampau, sangat perlu adanya data pendukung berupa sumber sejarah, bukti dan fakta - fakta sejarah. Dari sumber sejarah dapat diketahui informasi yang menjelaskan tentang kejadian di masa lampau mengenai peristiwa tertentu. Sumber sejarah menjadi salah satu poin penting dalam rekonstruksi sejarah. Dari sumber sejarah ini dapat diketahui bagaimana peristiwa di masa lampau terjadi, siapa pelakunya, dimana peristiwa tersebut terjadi dan kapan peristiwa itu terjadi. Dari keterangan - keterangan inilah yang kemudian dijadikan data pendukung sebuah karya sejarah.

Sumber Sejarah Menurut Para Ahli
  • Moh. Ali menuturkan bahwa sumber sejarah merupakan segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna bagi penelitian dari zaman purba hingga sekarang. 
  • Muh. Yamin menyebutkan bahwa sumber sejarah merupakan kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah. 
  • Zidi Gazalba menyebutkan sumber sejarah adalah warisan yang berbentuk lisan, tulisan dan visual
Sumber Sejarah Berdasarkan Bentuk dan Wujud
Menurut bentuk dan wujudnya, sumber sejarah dibagi menjadi tiga yaitu sumber tertulis, sumber lisan dan sumber benda

1. Sumber Tertulis
Sumber tertulis merupakan keterangan yang menyebutkan peristiwa masa lampau yang disampaikan dalam bentuk tulisan, biasanya menggunakan media batu maupun kertas. Sumber tertulis yang menggunakan batu disebut prasasti. Penggunaan sumber tertulis berupa batu biasanya digunakan pada kerajaan - kerajaan di masa lampau. Contoh sumber tertulis dalam bentuk batu yaitu prasasti Yupa. Yupa digunakan para sejarawan untuk diambil informasi mengenai keadaan kerajaan Kutai pada masa lampau. Sedangkan sumber tertulis dari kertas biasanya berupa arsip - arsip ataupun kitab. Penggunaan arsip yaitu pada masa penjajahan Belanda sedangkan kitab - kitab biasanya dipakai pada masa kerajaan hindu buddha seperti kitab pararaton, negarakertagama, darmogandul dan lain - lain.

2. Sumber Lisan
Tidak semua data sejarah terekam dalam bentuk tulisan. Informasi sejarah selain menggunakan data tertulis dapat diperoleh dengan cara wawancara kepada pelaku sejarah. Cara ini disebut dengan sumber lisan. Contoh sumber lisan bisa dijumpai ketika sejarawan menggali data - data sejarah saat kejadian peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan sebagainya. Saksi sejarah inilah yang akan memberikan data - data sejarah mengenai peristiwa yang ia ketahui. Kelemahan sejarah lisan terletak pada obyektifitas orang yang diwawancarai. Sebagai contoh ketika kita mewawancarai pelaku peristiwa Gerakan 30 September 1965, kepada siapa kita akan mewawancarai? apabila kita mewawancarai kepada pihak PKI maka orang tersebut akan lebih condong membela PKI dalam kegiatan wawancara yang dilakukan. Sedangkan apabila kita mewawancarai pihak bersebrangan (Masyumi maupun militer) maka mereka akan memberikan data berbeda sesuai yang mereka bela.

3. Sumber Benda
Sumber benda atau disebut juga artefak merupakan sumber sejarah yang berbentuk benda - benda peninggalan sejarah. Benda - benda ini diantaranya manik - manik, gerabah, peralatan perang, perhiasan, candi, benteng pertahanan, gedung dan lain - lain. Untuk mengetahui usia suatu benda dapat menggunakan tiga cara, yaitu dengan metode tipologi, stratigrafi serta kimiawi. Penggunaan metode tipologi yaitu dengan menentukan usia benda berdasarkan bentuk ataupun tipenya. Metode stratigrafi merupakan penentuan usia benda berdasarkan usia lapisan tanah dimana benda itu ditemukan (semakin tua benda tersebut, posisi benda berada semakin dalam). Metode ketiga disebut kimiawi yaitu penentuan usia benda berdasarkan unsur kimiawi yang terkandung di dalam benda tersebut.

Sumber Sejarah Berdasarkan Sifatnya
Menurut sifatnya sumber sejarah dibagi menjadi tiga yaitu sumber sejarah primer, sekunder dan tersier :

1. Sumber Primer
Sumber primer disebut juga sumber sejaman, sumber asli atau sumber utama. Sumber primer merupakan informasi yang didapatkan secara langsung dari pelaku atau saksi peristiwa bersejarah. Sumber primer dapat berupa lisan maupun tulisan. Sumber primer berupa sumber lisan berarti orang atau pelaku tersebut mengetahui secara langsung dan sezaman. Sedangkan sumber primer berupa tulisan adalah karya - karya tertulis baik itu arsip maupun kitab yang ditulis pada saat peristiwa sejarah tersebut terjadi. Contoh sumber sejarah lisan yang dianggap sumber primer adalah hasil wawancara dari seseorang yang mengalami peristiwa - peristiwa sejarah secara langsung seperti orang - orang yang hidup pada saat masa kemerdekaan ataupun peristiwa sejarah lain. Sedangkan sumber primer berupa sumber tulisan diantaranya seperti Negarakertagama, Darmogandul dan lain - lain.

2. Sumber Sekunder
Sumber Sekunder merupakan informasi sejarah yang didapatkan melalui perantara tetapi tidak memiliki hubungan secara langsung terhadap terjadinya peristiwa sejarah (tidak sezaman). Contoh sumber sekunder diantaranya adalah buku - buku sejarah yang beredar seperti sejarah nasional Indonesia dan buku - buku lain. Kitab pararaton juga merupakan sumber sekunder apabila dilihat dari penulisannya. Kitab Pararaton menuliskan kisah - kisah mengenai kerajaan Singasari dan Majapahit yaitu pada abad ke 12 hingga 15 sedangkan penulisan kitab Pararaton ditulis pada abad ke 16. Karya sejarah dapat dijadikan pedoman apabila karya tersebut apabila disilangkan datanya dengan sumber primer terdapat kecocokan.

3. Sumber Tersier
Sumber tersier adalah informasi yang didapatkan lisan oleh pihak ketiga atau lebih. Pihak ketiga diartikan sebagai saksi ahli, seperti ahli sejarah, ahli antropologi dan lain - lain. Sumber sejarah