Sejarah Konferensi Asia Afrika

Sejarah Konferensi Asia Afrika

Pada awal tahun 1950 terjadi situasi genting antara blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Kedua negara tersebut banyak menyebarkan pengaruhnya terutama pada negara – negara berkembang. Pada saat itu Amerika Serikat dan Uni Soviet memasuki babak baru yaitu Perang Dingin.

Konferensi Tingkat Tinggi Asia – Afrika atau disingkat KTT Asia Afrika atau KAA adalah sebuah konferensi yang dihadiri negera – negara Asia dan Afrika yang rata – rata merupakan negara muda yang baru merdeka dari penjajahan. Secara umum KAA terselenggara dilatarbelakangi adanya suasana yang semakin meningkat antara bangsa – bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan pasca Perang Dunia II. Secara umum negara – negara Asia dan Afrika memiliki nasib yang sama yaitu dijajah oleh bangsa Barat. Kesamaan nasib inilah yang kemudian memunculkan gagasan kerjasama negara – negara Asia Afrika untuk mengatasi permasalahan yang sama diantaranya masalah ekonomi, sosial, pendidikan dan budaya.

Sebelumnya telah dilakukan pertemuan Konferensi Colombo pada tanggal 28 April 1954 oleh lima negara yaitu Pakistan, India, Burma (Myanmar), Srilanka dan Indonesia. Kemudian pertemuan kelima negara tersebut dilanjutkan di Bogor, Indonesia dan menghasilkan keputusan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Indonesia pada tahun 1955.

Pelopor KAA
  • Ali Sastroamidjojo dari Indonesia
  • Mohammad Ali Bogra dari Pakistan
  • Jawahral Nehru dari India
  • John Kotelawala dari Sri Lanka
  • U Nu dari Myanmar / Burma
KAA diadakan oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India dan Pakistan. Pertemuan ini diadakan pada tanggal 18 April sampai 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia. Pertemuan ini dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Roeslan Abdulgani. KAA bertujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet dan negara – negara kolonial lainnya.

Sebanyak 29 negara hadir dalam konferensi ini. Pertemuan ini seolah merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan – kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan – keputusan yang mempengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran terhadap ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat; keinginan negara – negara KAA dalam mendapatkan hubungan yang damai antara mereka. Cina dan pihak Barat; penentangan terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan Aljazair; serta keinginan Indonesia mempromosikan hak mereka dalam menentang Belanda dalam masalah Irian Barat.

Pada pertemuan KAA, Presiden Soekarno memberikan pidato pembukaan tentang kolonialisme belum mati. Pidato – pidato yang dilontarkan oleh pemimpin – pemimpin negara anggota KAA seolah membesarkan semangat persaudaraan diantara peserta konferensi. Pertemuan ini menghasilkan sepuluh poin yang diberikan pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Sementara pada tanggal 14 Juni 1995.

Hasil Konferensi Asia Afrika
  1. Konferensi dapat mengelakkan diri menjadi medan pertentangan Perang Dingin.
  2. Ketegangan yang timbul di beberapa bagian Benua Asia – Afrika dapat diredakan.
  3. Konferensi dapat menerima cara pendekatan tradisional bangsa Indonesia yaitu musyawarah dan mufakat.
  4. Sistem musyawarah dan mufakat ternyata dapat diterapkan pada konferensi tersebut dengan hasil yang baik.
Pada akhir pertemuan dihasilkan beberapa dokumen yang disebut Basic Paper on Racial Discrimination dan Basic Paper on Radio Activity. Keduanya dianggap sebagai bagian dari keputusan konferensi yang dikenal dengan “Dasasila Bandung”. Konferensi KAA berakhir dengan terbentuknya Gerakan Non Blok pada tahun 1961.

Adapun Dasasila Bandung adalah sebagai berikut :
  1. Menghormati hak – hak dasar manusia dan tujuan – tujuan serta asas – asas yang termuat di dalam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa besar ataupun kecil.
  4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi terhadap persoalan dalam negara lain.
  5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian ataupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  6. Tidak menggunakan peraturan – peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara – negara besar, dan tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.
  7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi, ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum, ataupun lain – lain. Cara damai menurut pilihan pihak – pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
  10. Mengetahui hukum dan kewajiban – kewajiban internasional.

Tujuan KAA
Tujuan utama KAA adalah menciptakan perdamaian dan ketentraman hidup bangsa – bangsa yang ada di kawasan Asia Afrika. Tujuan lainnya diantaranya :
  • Memajukan kerjasama antar bangsa Asia – Afrika guna kepentingan bersama, persahabatan, dan hubungan bertetangga yang baik.
  • Mempertimbangkan masalah – masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan negara – negara anggota KAA.
  • Mempertimbangkan masalah – masalah khusus bangsa – bangsa Asia Afrika seperti kedaulatan nasional, rasisme dan kolonialisme.
  • Meninjau kedudukan Asia Afrika serta rakyatnya di dunia, serta sumbangan bagi perdamaian dan kerjasama di dunia.

Pokok Pembicaraan KAA
Berikut ini adala pokok pembicaraan dalam Konferensi Asia Afrika :
  • Meningkatkan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan HAM.
  • Hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
  • Permasalahan rasisme
  • Kerjasama internasional antar anggota KAA
  • Pelucutan senjata
  • Masalah negara – negara KAA yang masih terjajah seperti di Afrika Utara.
  • Permasalahan Irian Barat.

Manfaat Konferensi Asia Afrika
Pada awalnya pertemuan Asia Afrika ditujukan untuk membangun kekuatan penyeimbang dari negara – negara berkembang ditengah dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Anggota KAA tidak ingin masuk dalam konflik kedua negara tersebut. Disisi lain, negara – negara anggota KAA memiliki keinginan untuk berdaulat, berkembang, maju dan dapat menciptakan kesejahteraan rakyatnya.

Asia Afrika mampu menciptakan hubungan damai dan kerjasama yang baik terutama antar anggota Asia Afrika. Berakhirnya Perang Dingin membuat peran Asia Afrika menjadi berkurang. Namun hubungan antar negara – negara Asia Afrika telah terbentuk. Hal ini dibuktikan pada diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT).

Keberadaan Asia Afrika menumbuhkan hubungan yang semakin erat antar bangsa di wilayah Asia Afrika. Bagi Indonesia, keikutsertaannya dalam pertemuan KAA merupakan wujud nyata dalam pelaksanaan tujuan nasional yaitu ikut serta menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan berkeadilan sosial.

Negara – Negara yang Hadir dalam Pertemuan KAA
Afganistan, Cina, Ethiopia, Filipina, India, Indonesia, Irak, Iran, Jepang, Kamboja, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Mesir, Myanmar, Nepal, Pakistan, Ghana, Saudi Arabia, Srilanka, Sudan, Syria, Thailand,  Turki, Vietnam Selatan, Vietnam Utara, Yaman, Yordania.
Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular terletak di Jl. Raya Buduran, Kec. Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Museum Mpu Tantular didirikan oleh seorang warga Surabaya berkebangsaan Jerman bernama Godfried Hariowald von Faber pada tahun 1933 dan diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937. Museum Mpu Tantular merupakan kelanjutan dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya yang berdiri pada tahun 1933 oleh von Faber.

Lokasi Museum Mpu Tantular memang sering berpindah – pindah karena koleksi museum yang semakin banyak dan membutuhkan tempat yang lebih luas. Museum Mpu Tantular awalnya terletak di Jl. Pemuda 3 Surabaya, kemudian pada pertengahan taun 1975 berpindah ke Jl. Mayangkara No. 6, selanjutnya pada tanggal 14 Mei 2004 dipindah ke lokasi sekarang yaitu Jl. Raya Buduran dan diresmikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, Msi.

Sepeninggal von Faber, Museum Mpu Tantular dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum yang didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Mpu Tantular mulai dibuka untuk umum mulai tanggal 23 Mei 1972 dengan nama Museum Jawa Timur. pada tanggal 13 Februuari 1974, nama Museum Jawa Timur diubah menjadi Museum Negeri dan diresmikan pada tanggal 1 November 1974 dengan nama Negeri “Mpu Tantular” Provinsi Jawa Timur.

Nama Mpu Tantular diambil dari nama seorang pujangga terkenal pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Karya Mpu Tantular yang paling terkenal adalah Kakawin Arjunawiwaha dan Kakawin Sutasoma. Museum Mpu Tantular memiliki koleksi berjumlah 14956 buah. Koleksi yang dikategorikan sebagai  koleksi unggulan atau masterpiece diantaranya :
  • Hiasan Garudeya
  • Arca Durga Mahesasuramardhini
  • Surya Stambha
  • Sepeda Tinggi
  • Sepeda Motor Uap
  • Simphonion
  • Thuk – Thuk
  • Hiasan Haluan Perahu
  • Patung Gajah Perunggu
  • Kerapan Sapi
  • Sepeda Kayu
Koleksi Museum Mpu Tantular

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45 terletak di Jl. Menteng Raya No. 31, RT 1/RW 10, Kb. Sirih, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Pada masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai hotel yang bernama Hotel Schomper. Saat Belanda menyerah kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, gedung ini diambil alih oleh Jepang dan diserahkan kepada Jawatan Propaganda Jepang (Sendenbu). Sejak bulan Juli 1942, Sendenbu menyerahkan gedung ini kepada pemuda untuk dipergunakan sebagai tempat pendidikan politik para pemuda dalam rangka menyongsong kemerdekaan. Dibalik niat baik Jepang ternyata Jepang memanfaatkan para pemuda guna kepentingan perang Asia Timur Raya.

Maksud Jepang tersebut mampu dibelokkan oleh para pemimpin Indonesia yang ditugaskan sebagai pengajar dengan menanamkan cita – cita kemerdekaan yang murni. Para pemimpin yang pernah menjadi pengajar disini diantaranya Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo dan Achmad Subarjo. Pusat pendidikan ini kemudian dikenal dengan nama Asrama Menteng 31 dan pemudanya disebut “Pemuda Menteng 31”. Pada tahun 1974 gedung ini dialih fungsikan sebagai museum yang bernama Museum Joang 45 dan gedungnya dinamakan Gedung Joang 45.

Asrama Menteng 31 merupakan tempat perjuangan pemuda termasuk salah satunya rencana penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini dimanfaatkan berbagai aksi melalui Comite van Actie diantaranya mendesak pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pembentukan Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan memprakarsai peristiwa Rapat Raksasa Ikada. Para tokoh pemuda yang menonjol dari Asrama Menteng 31 diantaranya Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh dan A.M. Hanafi.

Dapat dibilang hanya pada ruang pendahuluan yang memuat informasi berkaitan dengan Gedung Joang 45. Ruang – ruang berikutnya lebih banyak memaparkan mengenai kisah – kisah perjuangan Indonesia dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan yang sebagian ditampilkan dalam bentuk foto – foto bersejarah. Meskipun demikian, ada juga dokumentasi dalam bentuk lain seperti lukisan, benda bersejarah, peta berbentuk maket dan diorama. Ada pula pojok multimedia yang menampilkan film dokumenter dan rekaman – rekaman perjuangan melawan penjajahan.

Dibagian museum terdapat dua mobil kepresidenan yang antik. Mobil pertama bermerk Buick  buatan General Motors dengan nomor polisi REP-1 yang pernah digunakan sebagai mobil dinas Presiden Soekarno. Mobil kedua adalah mobil berwarna putih gading yang merupakan mobil dinas Mohammad Hatta. Mobil ini bermerk Desoto yang berplat polisi REP-2. Satu mobil lagi yaitu mobil yang pernah digunakan Soekarno saat terjadi usaha pembunuhan yang dikenal dengan peristiwa Peristiwa Cikini.

Jam Buka
Selasa – Minggu pukul 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional Tutup

Tiket Masuk
Dewasa 5.000
Mahasiswa 3.000
Pelajar 2.000
Candi Gambar Wetan

Candi Gambar Wetan

Candi Gambar Wetan terletak lereng Gunung Kelud tepatnya di Perkebunan Gambar, Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi Gambar Wetan dalam keadaan tidak utuh. Yang tersisa hanyalah batur candi dengan relief yang masih tersisa. Bagian lain dari komponen areal ini adalah dwarapala yang berjumlah dua buah yang menjaga tangga masuk menuju candi.

Candi Gambar Wetan terletak di puncak bukit dengan dwarapala yang menjaga pada tangganya. Candi ini diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Candi Gambar Wetan dipercaya merupakan tempat peristirahatan Hayam Wuruk dan raja Majapahit lain dalam perjalanannya menuju Gunung Kelud ataupun Candi Penataran.

Ketika ditemukan pertama kali oleh petugas perkebunan, cangkul petugas perkebunan mengenai sisi candi dan ditemukan arca. Selanjutnya dilakukan penggalian pada tahun 1992. Kata petugas, di candi ini pernah ditemukan relief Werkudara di Dam Sangiran. Namun sebelum candi ini diresmikan oleh pemerintah, banyak terjadi penjarahan oleh warga yang mengambil relief dari Candi Gambar Wetan. Pada zaman penjajahan Belanda, relief candi banyak diambil guna dijadikan pajangan di rumah Direksi Kebesaran. Namun kini patung relief telah diambil alih pemerintah serta diamankan ke museum dan dimasukkan ke Trowulan.

Tangga menuju Candi Gambar Wetan

Candi Gambar Wetan

Candi Mleri

Candi Mleri

Candi Mleri terletak di Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupeten Blitar, Jawa Timur. Kata “Mleri” sendiri memiliki arti tempat peristirahatan. Candi ini juga disebut Kekunaan Mleri karena dianggap kondisinya yang terkesan kuno. Candi Mleri banyak dikunjungi para peziarah maupun para pelajar dengan berbagai kepentingan.

Candi Mleri dipercaya merupakan candi tertua di Blitar. Candi ini juga dipercaya merupakan makam raja Singasari III, Ranggawuni yang bergelar Sri Wisnu Wardhana. dan diperkirakan sudah ada sejak 1222 M yang didasarkan pada sebuah prasasti berhuruf Pallawa yang terdapat di kompleks tersebut. Menurut kitab Negarakertagama, Wishnuwardhana didharmakan dengan wujud arca Siwa di Waleri (Mleri) dalam bentuk arca Sugata (Buda) di Jajaghu (Candi Jago).
Sejarah Republik Indonesia Serikat (1949-1950)

Sejarah Republik Indonesia Serikat (1949-1950)

Sejarah Republik Indonesia Serikat (RIS)
Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar antara Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan dari PBB. RIS dikepalai oleh Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta.

Sejarah RIS diawali adanya Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada tanggal 19 Desmber 1948.  Kejadian tersebut bermula dengan diserangnya Yogyakarta selaku ibu kota Indonesia oleh Belanda, serta adanya penangkapan terhadap Soekarno, Moh. Hatta, Sjahrir dan tokoh – tokoh lain. Jatunya ibu kota Indonesia ke tangan Belanda mengharuskan Indonesia membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Akibat adanya Agresi Militer Belanda II, dunia internasional mengecam tindakan Belanda terutama pihak Amerika Serikat yang mengancam menghentikan bantuan kepada Belanda. Akhirnya Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Pada tanggal 7 Mei 1949 diselenggarakan pertemuan antara Republik Indonesia dan Belanda yang menyepakati Perjanjian Roem Royen.

Konferensi Meja Bundar dan Terbentuknya RIS
Pada tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949 diadakanlah Konferensi Meja Bundar yaitu sebuah pertemuan antara Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda yang diprakarsai oleh UNCI. Konferensi Meja Bundar dihadiri oleh delegasi dari RI, BFO dan Belanda.

Pada tanggal 4 Agustus 1949, pemerintah Indonesia membentuk delegasi untuk mengikuti Konferensi Meja Bundari yang terdiri dari Drs. Moh. Hatta (Ketua), dan anggota diantaranya Mr. Moh. Roem, Prof. Dr. Supomo, dr. J. Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Ir. Djuanda, dr. Sukiman, Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, Kolonel TB Simatupang dan Mr. Muwardi.

Delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak sedangkan dari Belanda dipimpin J.H. van Maarseveen. Yang menjadi penengah dalam Konferensi Meja Bundar adalah wakil dari UNCI yang terdiri dari Critley, R. Heremas, dan Merle Conhran.

Pertemuan Konferensi Meja Bundar menghasilkan :
  1. Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia tanpa syarat dan tidak dapat ditarik kembali;
  2. Indonesia akan membentuk negara serikat (RIS) dan merupakan uni dengan Belanda;
  3. RIS akan mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan konsesi atau jaminan dan izin baru bagi perusahaan – perusahaan Belanda;
  4. RIS harus menanggung semua hutang Belanda yang dibuat sejak tahun 1942;
  5. Status Karesidenan Irian Barat akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
Belanda mengakui Indonesa sejak tahun 27 Desember 1949. Pengakuan tersebut dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) yang ditanda tangani di Istana Dam, Amsterdam, Belanda. Pihak Belanda berdalih khawatir bahwa mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 sama dengan mengakui tindakan politionele acties (aksi polisionil) pada tahun 1945-1949 dan menganggap tindakan tersebut adalah tindakan ilegal.

Sebagian pihak kecewa atas hasil KMB yang dianggap menyimpang dari gerakan semangat proklamasi kemerdekaan Indonesia yang menginginkan Indonesia merdeka bukan sebagai hadiah. Hal ini diperparah dengan kewajiban Indonesia yang harus membayar hutang Hindia Belanda sebesar 6,5 milyar gulden sebelum akhirnya disepakati sebesar 4,5 milyar gulden.

Republik Indonesia Serikat terbagi menjadi 7 negara bagian dan 9 daerah otonom. Negara bagian RIS, diantaranya :
  1. Negara Republik Indonesia (RIS)
  2. Negara Indonesia Timur
  3. Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta
  4. Negara Jawa Timur
  5. Negara Madura
  6. Negara Sumatera Timur
  7. Negara Sumatera Selatan.
Sedangankan wilayah yang berdiri sendiri (otonom) dan tak tergabung dalam federasi, diantaranya :
  1. Jawa Tengah
  2. Kalimantan Barat (Daerah Istimewa)
  3. Dayak Besar
  4. Daerah Banjar
  5. Kalimantan Tenggara
  6. Kalimantan Timur (tidak termasuk bekas wilayah Kesultanan Pasir)
  7. Bangka
  8. Belitung
  9. Riau
Konstitusi RIS
Sementara KMB sedang berlangsung RI dan BFO menandatangani perjanjian tentang Konstitusi RIS yang disetujui pada tanggal 29 Oktober 1949. Piagam Konstitusi RIS ditandatangani oleh para Pemimpin Negara atau Daerah dari 16 Negara atau Daerah Bagian RIS , yaitu :
  1. Susanto Tirtoprodjo dari Negara Republik Indonesia menurut Perjanjian Renville
  2. Sultan Hamid II dari Daerah Istimewa Kalimantan Barat
  3. Ide Anak Agoeng Gde Agoeng dari Negara Indonesia Timur
  4. A.A Tjakraningrat dari Negara Madura
  5. Mohammad Hanafiah dari Daerah Banjar
  6. Mohammad Jusuf Rasidi dari Bangka
  7. A. Mohammad Jusuf dari Belitung
  8. Muhran bin Haji Ali dari Dayak Besar
  9. R.V. Sudjito dari Jawa Tengah
  10. Raden Soedarmo dari Negara Jawa Timur
  11. Jamani dari Kalimantan Tenggara
  12. P. Sosronegoro dari Kalimantan Timur
  13. Djumhana Wiratmadja dari Negara Pasundan
  14. Radja Mohammad dari Riau
  15. Abdul Malik dari Negara Sumatera Selatan
  16. Radja Kaliamsyah Sinaga dari Negara Sumatera Timur
Berdasarkan Konstitusi RIS, negara berbentuk federasi yang terdiri dari :
  • Negara RI yang meliputi wilayah menurut Perjanjian Renville;
  • Negara bentukan Belanda berdasarkan Konferensi Malino, diantaranya :
    1. Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Presiden Cokorde Gde Sukowati dan Perdana Menteri Najamudin Daeng Maewa.
    2. Negara Sumatera Timur dengan Dr. Mansyur sebagai wakilnya.
    3. Negara Sumatera Selatan dengan Abdul Malik sebagai wakilnya.
    4. Negara Madura dengan Cokroningrat sebagai walinya.
    5. Negara Jawa Timur dengan Wiranata Kusumah sebagai walinya.
  • Satu – satuan negara yang tegak sendiri.
  • Daerah – daerah selebihnya bukan daerah bagian.
Konstitusi RIS merupakan kesepakatan antara RI dan BFO. Disisi lain, KNIP sedang melakukan sidang yang membahas mengenai hasil Konferensi Meja Bundar pada tanggal 6-14 Desember 1949. Ketika sidang pleno berlangsung banyak yang sadar pembentukan RIS sebenaranya adalah sebuah penyelewengan terbesar proklamasi kemerdekaan. Meskipun demikian, KNIP menganggap tidak ada jalan lain selain menerima hasil dari KMB ditambah naskah konstitusi RIS yang tidak dapat dirubah sedikitpun. KNIP juga melakukan pemilihan seorang wakil dari setiap 12 anggota KNIP untuk duduk dalam dewan perwakilan RIS.

Setelah satu minggu bersidang, dilakukan pemungutan suara untuk meminta pendapat mengenai hasil dari KMB. Pemungutan suara tersebut dihadiri oleh 325 anggota KNIP yang berhasil menerima hasil KMB, dimana dari 325 suara, 62 orang menolak, 226 suara menyetujui dan 31 suara meninggalkan sidang. Pada tanggal 15 Desember 1949, KNIP meratifikasi hasil – hasil KMB.

Sebagai tindak lanjut dari disetujuinya hasil KMB, maka terjadi beberapa peristiwa penting diantaranya :
  1. Pada tanggal 15 Desember 1949 diadakan pemilihan Presiden RIS dengan calon tunggal yaitu Ir. Soekarno;
  2. Pada tanggal 16 Desember 1949 Ir. Soekarno dipilih sebagai Presiden RIS;
  3. Pada tanggal 17 Desember 1949 diadakan pelantikan Ir. Soekarno selaku Presiden RIS;
  4. Pada tanggal 20 Desember 1949 diadakan pelantikan Kabinet RIS oleh Presiden Soekarno dengan Drs. Moh. Hatta sebagai Perdana Mentri.
KNIP juga mengangkat Mr. Assaat Datuk Mudo, ketua KNIP, sebagai pemangku jabatan Presiden Indonesia. Sehingga Assaat secara de facto menjadi presiden Indonesia kedua setelah Soekarno hingga RIS dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950.

Kabinet yang terbentuk pada tanggal 20 Desember 1949 merupakan Zaken Kabinet (mengutamakan keahlian dari anggota – anggotanya), bukan kabinet yang berkoalisi dengan kekuatan partai politik. Pada tanggal 23 Desember 1949 delegasi RIS yang dipimpin oleh  Drs. Moh. Hatta datang ke Belanda untuk menandatangani naskah pengakuan kedaulatan dari Belanda. Upacara pengakuan kedaulatan dilakukan baik di Indonesia maupun di Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Permasalahan dalam Pemerintahan RIS
Selama masa pemerintahan RIS berdiri, Kabinet Hatta banyak mendapat permasalahan – permasalahan layaknya negara muda berdiri. Sebagai imbasnya banyak terjadi kerusuhan, keadaan ekonomi yang memburuk, dan kerusakan mental masyarakat.

Pada sektor ekonomi terjadi inflasi dan defisit anggaran belanja. Dalam rangka mengatasinya pemerintah mengeluarkan kebijakan keuangan dengan mengeluarkan pemotongan uang pada tanggal 19 Maret 1950 yang dikenal dengan kebijakan gunting Syafruddin.

Masalah lain terjadi pada bidang kepegawaian, baik sipil maupun militer. Setelah perang selesai, jumlah pasukan dikurangi mengingat keuangan negara yang tidak mendukung untuk membayar gaji kepegawaian. Mereka yang dikeluarkan harus mendapat penampungan dari pemerintah. Maka dari itu pemerintah memberi mereka kesempatan untuk menempuh karier sipil profesional. Selain itu dilakukan pula transmigrasi ke beberapa daerah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Meskipun demikian masalah kepegawaian belum dapat diselesaikan pemrintah RIS.

Pembentukan tentara militer RIS yang disebut Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) mengambil TNI sebagai anggotanya, sedangkan sebagian lainnya dari kalangan bekas KNIL. Personil KNIL dilebur ke dalam APRIS meliputi 33.000 orang dengan 30 perwira.

Pembentukan APRIS menimbulkan kegoncangan psikologis bagi TNI karena keduanya (TNI dan KNIL) merupakan rival selama ini. Pihak TNI keberatan bekerjasama dengan KNIL. Sedangkan dari pihak KNIL menuntut ditetapkannya sebagai aparat negara bagian dan menolak masuknya TNI di negara tersebut.

Gejala tersebut berkembang menjadi konflik baru seperti yang terjadi di Bandung berupa pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang mengultimatum pemerintah RIS dan Negara Pasundan menuntut untuk diakui sebagai tentara Pasundan dan menolak dibubarkannya negara tersebut.

Disisi lain, Sultan Hamid II menolak masuknya TNI dan menolak mengakui mentri pertahanan RIS dan menyatakan bahwa ia yang berkuasa di tempat tersebut. Di daerah Makassar muncul gerakan Andi Aziz di Ambon yang dikenal dengan Republik Maluku Merdeka (RMS).

Keadaan tersebut sengaja dibentuk oleh kekuatan reaksioner untuk mempertahankan kepentingan Belanda serta membuat RIS kacau. Jika keadaan ini berlarut – larut maka dunia internasional akan menganggap RIS belum mampu mengurus keamanan dan ketertiban wilayahnya. Pemerintah Indonesia sengaja dibuat kacau oleh internal negara ditambah beberapa pemberontakan seperti pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo.

Indonesia Kembali ke Bentuk Negara Kesatuan
Wacana pembentukan negara kesatuan mengemuka setelah keinginan tersebut dikemukakan oleh Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST) yang menyatakan keinginannya untuk kembali bergabung ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal 8 April 1950 diadakan konferensi segitiga antara RIS-NIT-NST. Pada akhirnya kedua negara tersebut menyerahkan mandatnya kepada Mohammad Hatta selaku Perdana Menteri RIS untuk melakukan pembicaraan mengenai pembentukan negara kesatuan dengan pemerintah RI.

Disisi lain daerah – daerah lain juga meminta untuk dikembalikan kebentuk NKRI. Di Jawa Barat pada tanggal 8 Maret 1950 rakyat Jawa Barat berbondong – bondong menuju Bandung melakukan demonstrasi menuntut pembubaran Negara Pasundan dan menuntut seluruh wilayahnya dikembalikan ke Republik Indonesia.

Kesepakatan RIS (selaku negara federal) dan RI (sebagai negara bagian) akhirnya tercapai pada tanggal 19 Mei 1950. Setelah dua bulan bekerja, Panitia Gabungan RIS dan RI akhirnya menyelesaikan UUD Negara Kesatuan pada tanggal 19 Mei 1950. Berikutnya diadakan pembahasan mengenai UUD negara kesatuan dimasing – masing DPR, dan itupun diterima baik oleh Senat, Parlemen RIS dan KNIP. Pada tanggal 17 Agustus 1950 bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI, Presiden Soekarno menandatangani rancangan UUD Sementara 1950 (UUDS 1950).

UUDS sendiri mengandung unsur – unsur dari UUD 1945 dan konstitusi RIS. Menurut UUDS 1950 kekuasaan legislatif dipegang oleh presiden, kabinet dan DPR. Pemerintah berhak mengeluarkan undang – undang darurat walaupun pada perkembangannya harus melalui pengesahan DPR. Selain itu kabinet secara keseluruhan atau perseorangan masih bertanggung jawab kepada DPR, yang memiliki hak menjatuhkan kabinet  atau memberhentikan mentri.

Dengan disahkannya rancangan UUDS 1950, maka pada tanggal 17 Agustus 1950 secara resmi RIS dibubarkan dan Republik Indonesia kembali kepada bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Candi Pamotan 1 dan 2

Candi Pamotan 1 dan 2

Candi Pamotan terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Menurut warga sekitar Candi Pamotan difungsikan sebagai tempat untuk memuat padi sebelum dikirim ke Kerajaan Majapahit. Wilayah Candi Pamotan memang merupakan area yang menghasilkan hasil bumi dengan tanah yang subur dan terkenal dengan padinya. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang terlihat dari bentuk bangunannya. Kini Candi Pamotan masuk dalam cagar budaya oleh pemerintah Sidoarjo.

Candi Pamotan 1 dikelilingi oleh kolam yang diberi ikan mas oleh penduduk sekitar. Candi Pamotan 1 berukuran panjang 4,8 m, lebar 4,8 m, dan tinggi 2,5 m. Bagian atas candi runtuh total dan hanya tersisa bagian dasar candi. Yang nampak hanya tumpukan batu bata merah yang dikelilingi lubang persegi panjang yang tergenang jika terjadi hujan.
Candi Pamotan 1

Candi Pamotan 2 atau masyarakat mengenal dengan nama Candi Keramat terletak tak jauh dari Candi Pamotan 1 yaitu berjarak 50 meter dimana terdaat arca tanpa kepala. Kondisi Candi Pamotan 2 tak terawat, banyak lumut dan bahkan sering terkena banjir. Candi ini berada di bawah pohon bambu yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Kedua candi ini dalam keadaan tidak terurus sehingga situs ini belum ramai dikunjungi oleh masyarakat.
Candi Pamotan 2
Candi Ngetos

Candi Ngetos

Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Candi ini dikenal sebagai candi perabuan dari Prabu Hayam Wuruk. Pada papan keterangan menyebutkan Candi Ngetos dibangun pada abad ke 15. Secara fisik Candi Negtos dalam keadaan rusak pada beberapa bagian bahkan pada beberapa bagian telah hilang sehingga sulit memperkirakan bentuk aslinya.

Di Candi Ngetos pernah ditemukan arca Siwa dan Wisnu. Hl ini kemudian menimbulkan asumsi bahwa candi ini beraliran Siwa Wisnu. Asumsi tersebut diperkuat dengan aliran agama Siwa yang dianut oleh Hayam Wuruk. N.J. Krom memperkirakan bahwa Candi Ngetos semula dikelilingi tembok yang berbentuk cincin. Bangunan utama candi terbuat dari batu bata merah dan atapnya diperkirakan terbuat dari kayu (kini sudah tidak ada bekasnya). Candi Ngetos berukuran panjang 9,1 m, tinggi badan 5,43 m, dan tinggi keseluruhan 10 m.

Terdapat empat buah relief di Candi Ngetos, namun karena faktor usia relief tersebut hanya terisa satu dan tiga lainnya telah ancur. Tidak hanya relief yang hilang melainkan pigura – pigura pada alasnya yang juga telah tidak ada lagi. Pada bagian atas dan bawah pigura, dibatasi oleh loteng – loteng yang terbagi dalam cendela – cendela kecil berhiaskan ketupat yang tepinya tidak rata atau menyerupai bentuk banji. Hal tersebut berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedangkan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah dan ornamen daun.

Sumber : swetadwipa.blogspot.com
Pada sisi kiri dan kanan candi terdapat dua relung kecil. Diatasnya terdapat ornamen yang mirip dengan belalai makara. Namun jika diperhatikan ternyata belalai tersebut adalah bentuk spiral yang diperindah. Dinding candi ini kosong dan hanya terdapat motif daun yang melengkung ke bawah dan horizontal melingkari tubuh candi bagian atas. Ada hal menarik dari kala yang terlihat sangat besar dengan ukuran tinggi 2 m dan lebar 1,8 m. Kala tersebut masih utuh dengan wajah menakutkan.