Candi Gentong

Candi Gentong

Candi Gentong merupakan satu kesatuan dengan Candi Tengah dan Candi Gedong. Karena dianggap salah satu situs penting bagi Kerajaan Majapahit, maka pemerintah melelui proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bekas Kota Kerajaan Majapahit melakukan penggalian di situs ini.

Candi Gentong berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Candi ini memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran 23,5 x 23,5 meter dan tinggi 2,45 meter dengan pintu menghadap ke barat. Saat ditemukan pertama kali candi ini berbentuk gundukan tanah, penggalian baru dilakukan pada tahun 1994 hingga 1998. Ketika penggalian dilakukan, banyak ditemukan artefak - artefak diantaranya keramik dari masa dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar, mata uang cina, emas, stupika dan arca Budha.

Candi Gentong merupakan candi beraliran Buddha. Dari analisa carbon dating yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi Bandung, diketahui bahwa candi ini dibangun pada tahun 1370 pada masa Hayam Wuruk yang dibangun untuk melakukan upacara Sraddha memperingati meninggalnya sang ibu dari Hayam Wuruk, Tribuwana Tungga Dewi. Upacara ini dimaksudkan untuk memohon kesejahteraan pemerintahan.
Candi Situs Batujaya

Candi Situs Batujaya

Candi Situs Batujaya terletak di dua wilayah desa yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Persebaran Candi Situs Batujaya diperkirakan  mencapai 5 km2. Situs - situs ini berada di tengah area pesawahan dan sebagian di area penduduk. Situs Batujaya berjarak 6 km dari patai yang ada di Karawang.

Sebagian candi di Situs Batujaya ditemukan di area pesawahan yang tertimbun "unur" atau "lemah duwur" (tanah yang menyembul ke atas di area pesawahan). Hingga pertengahan tahun 2004, penelitian dan penggalian masih dilakukan oleh Tim Peneliti Situs Batujaya dari Universitas Indonesia.

Kompleks situs Batujaya tersebar 46 titik pada area sekitar 5 km, namun bisa dimungkinkan bertambah melihat unur - unur yang ditemukan. Adapun candi yang telah dipugar dan berbentuk mendekati sempurna adalah :
  1. Candi Jiwa atau Batujaya I
  2. Candi Blandongan atau Batujaya V
  3. Candi Serut atau Batujaya VII
  4. Candi Sumur atau Batujaya VIII
Walaupun belum mendapatkan data - data terkait tentang candi di Situs Batujaya, namun para ahli percaya bahwa candi - candi di Situs Batujaya merupakan candi - candi tertua di Jawa yang dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Tarumanegara (abad ke 5 hingga abad ke 6). Hingga tahun 1997 sudah 24 situs candi di temukan di Batujaya dan 6 bangunan diantaranya sudah diteliti. Yang menarik dari candi - candi yang ditemukan adalah bangunan candi kesemuanya menghadap ke arah yang sama yaitu 50 derajat dari arah utara.

Candi - candi di Situs Batujaya pada umumnya terkubur di dalam tanah sedalam antara 1 hingga 3 meter dari permukaan sawah dan kini candi - candi ini sangat rawan tergenang air. Namun disekitar candi dibuatkan tembok penahan air dan drainase yang baik agar air tidak masuk ke area candi.

1. Candi Jiwa
Candi Jiwa pada awalnya adalah sebuah gundukan tanah layaknya bukit kecil atau yang diebut unur oleh masyarakat sekitar dengan ketinggian 2 m dari permukaan sawah dan 2 meter lagi masih terkubur di dalam permukaan sawah dengan luas kurang lebih 500 m2.

Candi ini dipugar pada tahun 1996 hingga 2001 oleh Direktorat dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Nasional melalui Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala BP3 Serang. Candi Jiwa berada pada kedalaman 2 meter dibawah permukaan sawah, bila dilihat dari bentuknya, Candi Jiwa relatif lebih sempurna daripada candi - candi di Situs Batujaya lain.

Dari penampang alas candi terdapat semacam selasar selebar 1,5 meter yang mengelilingi candi. Tidak ditemukan tangga pada Candi Jiwa karena candi ini diperuntukkan peribadatan dengan mengelilingi candi. Jalan menuju candi kini sudah dibeton hingga sampai ke Candi Jiwa.

Bagian badan candi sempurna dengan bagian atas candi yang berbentuk bunga padma atau bunga teratai. Diperkirakan bagian atas candi ini terdapat patung budha, jika dilihat dari bangunan candi berukuran 19 x 19 meter maka seharusnya patung budha memiliki tinggi lebih dari 4 meter.

2. Candi Blandongan
Candi Blandongan pada awal ditemukannya hanyalah gundukan tanah merah yang ditumbuhi pohon pisang dan perdu. Sekelilingnya adalah area sawah produktif. Candi ini disurvei pertama kali pada tahun 1984 oleh tim arkeologi FSUI kemudian pada tahun 1992 dan 2000 situs ini di ekskavasi oleh Puslit Arkenas, dan ditemukanlah reruntuhan Candi Blandongan.

Sebagian badan Candi Blandongan menjorok ke dalam tanah atau permukaan alas candi berada di kedalaman antara 2-3 meter lebih rendah dari permukaan sawah di sekitarnya. Guna keperluan penampakan candi secara keseluruhan, candi ini dibuatkan pelataran pada sekeliling candi yang menjorok ke dalam tanah sekitar 2 meter dari penampang sawah yang ada di sekelilingnya. Dengan demikian candi ini berada di bawah permukaan sawah yaitu 1 - 3 meter sehingga rawan tergenang. Beruntung, candi ini dilengkapi dengan pompa yang digunakan sebagai alat penghisap untuk menjaga candi ini tetap kering. Apabila candi ini berukuran antara 25 x 25 meter, maka pelataran dibuat lebih besar yakni sekitar 45 x 45 meter.

Candi Blandongan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 25 x 25 m. Pada bagian atas kaki di keempat sisi candi terdapat tangga masuk dan pagar langkan. Candi ini seolah bertingkat karena pada bagian atas candi terdapat bangunan dengan ukuran 10 x 10m. Antara badan candi dengan pagar langkan terdapat lantai bata yang dilapisi stuko dengan tebal sekitar 15 cm, bagian atas atau atap candi diduga berupa stupa yang berukuran besar berupa susunan bata yang dilapisi stuko. Dugaan tersebut didapatkan dari adanya pecahan stuko yang melengkung dengan tebal sekitar 20 cm yang ditemukan tersebar pada lantai selasar dan sudut utara dinding langkan. Pada pecahan genta stupa tersebut memiliki tekstur halus dengan bagian dalam memperlihatkan bata yang menempel dengan ukuran 6 m dan tinggi yang tidak diketahui.

3. Candi Serut
Candi Serut berada di kampung Gunteng. Candi ini ditemukan pada tahun 1989 oleh Fakultas Geografi UGM dan Ditlinbinjarah yang mengadakan penjajagan geo-listrik (geoelectri prospecting). Melalui tiga kali ekskavasi candi ini mampu dibangun dengan ukuran 13,65 x 10,70 m, dan dengan tinggi yang tersisa pada dinding bangunan sekitar 1,80 cm. Tinggi keseluruhan banguan adalah 2,30 m.

Kini candi ini berada pada posisi yang miring dan dari kemiringan banyak yang menduga bahwa candi ini roboh, bukti robohnya candi ini yaitu adanya tumpukan batu bata yang ada di sebelahnya. Pada dinding candi terdapat lubang yang diperkirakan sebagai pilar untuk alas candi. Di dalam candi juga terdapat lubang segi empat dengan ukuran 1 x 1 meter dengan kedalaman yang belum diketahui, lubang ini diperkirakan sebagai sumur pada saat berdirinya Candi Serut.

Penggalian candi baru sebatas di pinggiran dinding candi. Karena posisi yang miring penggalian candi dihentikan sementara karena adanya kekhawatiran candi akan semakin rusak karena posisinya yang miring akibat beban candi.  Dilihat dari penampang luar, candi ini memiliki kemiripan dengan rumah biasa yang terdapat kamar lengkap dengan sumur dan lantai papan.

4. Candi Sumur
Candi Sumur terletak ditengah sawah yang bersebelahan dengan dengan Kampung Sumur. Pada tahun 1992, situs ini pertama kali diekskavasi oleh Puslit Arkenas yang menemukan adanya bangunan bata persegi empat panjang berukuran 7,35 x 10,55 m, pada sisi barat daya dengan ketebalan dinding mencapai 1,70 m, sedangkan pada timur laut ketebalan dinding mencapai lebih dari 4 m. Situs ini dibuatkan atap dengan pagar yang mengelilingi situs agar pengunjung nyaman karena posisi situs ini berada di tengah sawah yang lebih rendah daripada permukaan sawah.

Candi Cibuaya

Candi Cibuaya

Candi Cibuaya terletak di Dusun Pajaten, Desa Cibuaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang. Candi ini berada di area persawahan dengan ketinggian antara dua hingga tiga meter diatas permukaan laut dan hanya berjarak sekitar 6 km dari pantai.

Pada awal ditemukannya, reruntuhan candi diperkirakan adalah sebuah benteng Belanda, namun setelah ditemukannya arca Wisnu asumsi ini pun berubah. Lima tahun kemudian pada tahun 1957 ditemukan arca kedua arca dewa Wisnu. Arca - arca tersebut kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta dengan sebutan Arca Wisnu I dan Arca Wisnu II.

Terdapat dua bangunan yang dinamakan Lemah Duhur Lanang dan Lemah Duhur Wadon. Karena keduanya berada di area pesawahan, maka keduanya menggunakan batu bata sebagai bahan bangunannya. Candi Lemah Duhur Lanang merupakan bangunan dengan kaki candi yang berbentuk persegi empat dengan ukuran 9x9,6 m serta anak tangga yang berada di sisi sebelah barat laut dengan kondisi tangga yang rusak.

Pada puncak Candi Lemah Duhur Lanang terdapat sebuah lingga dengan tinggi 1,11 m dan berdiameter 40 cm yang tertancap pada tanah. Lingga ini dulu ditemukan di reruntuhan kaki bangunan. Bentuk lingga yang ada di Candi Lemah Duhur Lanang berbentuk semu dengan hanya menampakkan bentuk bujur sangkar pada bagian bawah dan bulat pada bagian atas. Bentuk lingga yang seharusnya adalah bujur sangkar pada bagian bawah, segi delapan pada bagian tengah dan bulat pada bagian atas. Dengan ditemukannya  lingga di Candi Lemah Duhur Lanang maka dapat dipastikan candi ini bercorak Hindu.

Candi Lemah Duhur Wadon berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 3,5 x 3,5 m. Bangunan ini berbahan bata. Saat ditemukan pertama kali, candi ini dalam kondisi runtuh dengan menyisaan bagian kaki candi. Terdapat indikasi bahwa candi ini menghadap ke arah timur.

Candi Bojongmenje

Candi Bojongmenje

Situs Bojongmenje terletak di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Candi ini masih dalam tahap penelitian dan pemugaran, sehinggam belum ada gambaran mengenai bentuk serta fungsi candi.

Candi Bojongmenje dibangun dengan bahan batu andesit, diperkirakan sisi dasar candi berukuran panjang 6 meter. Dari reruntuhan candi dapat diketahui bahwa banguna candi sangat sederhana dengan dinding yang hanya terdiri dari satu lapis tanpa adanya hiasan. Kesederhanaan ini menunjukkan bahwa pembuatan Candi Bojongmenje lebih tua daripada Candi Prambanan maupun Candi Borobudur.

Hingga saat ini belum ditemukan sumber tertulis yang menyebutkan adanya Candi Bojongmenje. Diperkirakan, Candi Bojongmenje dibangun pada abad ke - 7 dan ke - 8. Situs Bojongmenje ditemukan pada tanggal 18 Agustus 2002 dari usaha warga untuk mencari tanah penguruk gang di dekat lokasi candi. Pada lahan milik Anen, warga melihat kerumunan semut yang kemudian digali sampai kedalaman setengah meter hingga menemui tanah berongga yang sekililingnya tertata rapi. Dilakukan penggalian batu hingga mencapai kedalaman 80 cm, dan penggalian pun dihentikan dan dilaporkan kepada pihak berwajib.

Hingga akhir tahun 2005, proses penggalian belum selesai. Tempat penggalian candi terletak di perkampungan penduduk dan tempat berdirinya candi nampak menyerupai kolam. Untuk mencegah perusakan oleh tangan tak bertanggung jawab dilakukan pemagaran pada candi. Pada area penggalian candi didirikan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pencatatan, penelitian dan penyimpanan sementara benda - benda temuan di situs tersbut.



Peta Candi Bojongmenje

Candi Cangkuang

Candi Cangkuang

Candi Cangkuang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung diantaranya Gunung Keledong, Gunung Mandalawangi, Gunung Haruman, dan Gunung Guntur. Nama "Cangkuang" pada Candi Cangkuang diambil dari nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus) yang banyak ditemukan di sekitar makam Embah Dalem Arief Muhammad, seorang leluhur dari Kampung Pulo.

Cagar budaya Cangkuang berada di sebuah daratan di tengah danau kecil (situ) sehingga untuk ke tempat tersebut pengunjung harus menggunakan rakit. Selain Candi Cangkuang, di wilayah Cagar budaya Cangkuang juga terdapat pemukiman warga yang menjadi bagian dari kawasan cagar budaya.

Candi Cangkuang ditemukan kembali pada tanggal 9 Desember 1966 oleh Tim Sejarah Leles yang disponsori oleh Bapak Idji Hatadji (CV. Haruman) diketuai oleh Prof. Harsoyo, Uka Tjandrasasmita (ketua penelitian sejarah Islam dan lembaga kepurbakalaan), serta mahasiswa dari IKIP Bandung. Penelitian didasarkan pada tulisan Vorderman pada buku berjudul Notulen Bataviaasch Genotschap yang terbit pada tanggal 1893 yang menulis tentang adanya makam kuno serta sebuah arca yang rusak di Desa Cangkuang.

Makam dan arca Syiwa yang dimaksud memang ditemukan. Pada awal penelitian memang terlihat adanya bongkahan reruntuhan yang merupakan bagian dari candi, sedangkan makam kuno yang dimaksud adalah makam dari Arief Muhammad yang dianggap sebagai leluhur mereka. Ditemukannya balok - balok batu berbahan andesit diyakini Tjandrasasmita adalah bagian dari sebuah candi. Penduduk sering kali menggunakan bongkahan batu candi tersebut untuk batu nisan.


Berdasarkan keyakinan tersebut, peneliti melakukan penggalian di sekitar makam. Hasilnya, ditemukan bongkahan - bongkahan fondasi candi yang berukuran 4,5 x 4,5 meter serta batu candi lain yang berserakan. Dengan penemuan tersebut penelitian kemudian dilanjutkan hingga 1968. Pemugaran Candi Cangkuang dilakukan pada tahun 1974-1975 sedangkan rekonstruksi dilakukan pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap dan arca Syiwa serta dibuatkan joglo yang berfungsi menyimpan benda - benda temuan bersejarah di  seluruh Kabupaten Garut. Kegiatan pemugaran pada tahun 1974 telah menemukan bagian kaki candi. Kendala dalam rekonstruksi candi adalah hanya ditemukan 40% bagian candi aslinya, sehingga dibutuhkan batuan pengganti untuk merekonstruksi candi.

Diduga Candi Cangkuang dibangun pada abad ke - 8 yang didasarkan pada tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuk (tidak adanya relief). Setelah dipugar, Candi Cangkuang memiliki tinggi 8,5 meter dengan kaki candi berukuran 4,5 x 4,5 meter. Atap candi berbentuk piramid. Sepanjang tepian atap candi terdapat semacam mahkota kecil yang memiliki kemiripan dengan atap candi yang ada di Candi Gedong Songo.

Arca Syiwa
Pintu masuk candi berada disebelah timur dengan lebar 75 cm dan tinggi sekitar 1 meter. Tidak terdapat hiasan pahatan pada bingkai pintu. Sekarang pada ambang pintu sudah dipasangi pintu berterali besi yang dikunci. Ukuran ruangan dalam candi berukuran  seluas 2,2 m2 dengan tinggi 3,38 meter. Di tengah ruangan terdapat arca Syiwa dengan tinggi 62 cm.

Peta Candi Cangkuang
 
Situs Liyangan, Temanggung

Situs Liyangan, Temanggung

Situs Liyangan adalah sebuah situs berupa candi - candi kecil yang berada di area penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah berjarak 20 Km dari Kota Temanggung dan berada pada ketinggian 1200 mdpl. Candi ini ditemukan pada tahun 2008 dengan talud, yoni, arca dan batu candi yang ditemukan pertama kali. Sayangnya arca - arca yang ditemukan tidak bisa kita lihat secara langsung di Situs Liyangan karena sudah diamankan kepala dusun setempat untuk menghindari adanya tangan - tangan jahil.

Diduga kawasan Situs Liyangan dahulu adalah sebuah pemukiman pada masa Mataram Kuno. Dugaan ini didasarkan pada penemuan sisa - sisa bangunan berbahan kayu dan bambu. Ditemukan juga sebuah candi dengan yoni diatasnya. Yoni ini memiliki keunikan karena memiliki tiga lubang dengan bentuk yang sederhana, sedangkan candi yang ditemukan hanya tersisa bagian terbawah dan diperkirakan berasal dari abad 9 Masehi.

Situs Liyangan terdiri dari tiga bagian yaitu area hunian, peribadatan dan kawasan pertanian. Ditemukan jalan batu yang diduga sebagai penghubung antara pemukiman dan wilayah pertanian. Benda - benda seperti pipisan dan gandik yang merupakan alat penggerus obat - obatan masa lampau. Benda seperti guci, mangkok dan barang berbahan keramik dari Cina serta keris dan mata tombak juga ditemukan di Situs Liyangan ini.

Benda atau bangunan yang ditemukan dalam keadaan rusak diperkirakan karena adanya terjangan letusan dari Gunung Sindoro beberapa kali pada masa lalu. Hal ini memperkuat asumsi adanya perpindahan Mataram Kuno yang semula berada di Jawa Tengah berpindah ke Jawa Timur setelah adanya letusan gunung - gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing dan Dieng.

Bammelen, seorang peneliti dari Belanda pernah mengatakan bahwa Gunung Sindoro pernah meletus pada tahun 1600-1607 dan meluluh lantahkan wilayah pemukiman di sekitar Gunung Sindoro. Diperkirakan Situs Liyangan juga terkubur pada saat itu.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pihak Balai Arkeologi Yogyakarta, diperkirakan luas kawasan Situs Liyangan berukuran 2 hektar mengingat banyak peninggalan yang masih terkubur. Situs Liyangan masih sangat dimungkinkan lebih luas lagi dari hasil surver.

Video Situs Liyangan


Foto Situs Liyangan




Museum Mandala Bhakti Semarang

Museum Mandala Bhakti Semarang

Museum Mandala Bhakti Semarang terletak di Jl. Soegijapranata No. 1, Kota Semarang yang berada tepat di bundaran Kota Semarang. Museum Mandala Bhakti bersebelahan dengan bangunan bersejarah Lawang Sewu yang dulu merupakan perusahaan kereta api, terlihat juga Gedung Pandanaran, dan Tugu Muda. Museum ini menyimpan bukti perjuangan TNI bersama para pemuda Semarang dalam merebut kemerdekaan dari tagan penjajah serta peran TNI dalam perdamaian dunia. Museum Mandala Bhakti memiliki koleksi berupa data, dokumentasi, benda sejarah, yang ditempatkan dalam ruangan - ruangan.

Ruangan - Ruangan di Museum Mandala Bhakti 
  • Ruang Jatmu (senjata dan amunisi) tersimpan berbagai senjata TNI seperti bambu runcing, keris, rencong, tombak, busur serta senjata modern seperti pistol, senapan, mesin berat dan senjata pelontar. 
  • Ruang Gamad (seragam angkatan darat) terdapat seragam yang digunakan TNI yang telah mengalami pengawetan dari seragam berbahan dari goni, seragam PETA, Heiho, BKR, TKR, TNI, seragam tentara asing, pakaian dinas Polisi militer hingga Kowad.
  • Ruang Peristiwa, terdapat catatan sejarah berbagai peristiwa perjuangan di Indonesia. Diantaranya, Pertempuran Lima Hari di Semarang, Serangan Umum Surakarta, Pertempuran di Magelang dan pertempuran di kota - kota lain. 
  • Ruang Pelestarian Ruang Kerja Pangdam. Ruangan ini digunakan sebagai ruang Panglima Kodam (Pangdam) dari waktu ke waktu. 
  • Ruang Satsikmil (satuan musik militer) yang berisi alat - alat musik yang digunakan oleh para tentara. 
  • Ruangan Laswi atau Laskar Wanita Indonesia yang menggambarkan perjuangan para wanita dalam perjuangan merebut kemerdekaan. 
  • Ruang Unit Dapur Umum yang  menggambarkan dapur umum pada masa penjajahan.
  • Ruang Cacat Veteran yang menyimpan alat - alat kesehatan yang pernah digunakan veteran yang mengalami cacat akibat membela negara. 

Museum Mandala terdiri dari dua lantai menghadap utara dan dibangun dengan rancangan arsitek handal dari Belanda bernama I. Kuhr E pada tahun 1930. Awalnya, gedung ini dibangun sebagai Pengadilan Tinggi Belanda (Raad van Justitie) bagi rakyat Eropa di Semarang, namun pasca kemerdekaan RI, pada tahun 1950-an gedung ini digunakan sebagai Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II Kodam IV / Diponegoro. Pada tahun 1985 secara resmi gedung ini dialih fungsikan menjadi museum.

Museum Mandala Bhakti dibuka untuk umum dari hari Selasa hingga Kamis pukul 08.00 - 18.00, hari Jumat pukul 08.00 - 10.30, hari Minggu 08.00 - 12.00, sedangkan hari Senin dan Sabtu tutup.

Koleki Museum Mandala Bhakti




Peradaban Mesir Kuno

Peradaban Mesir Kuno

Mesir merupakan pusat peradaban tertua di benua Afrika yang berdiri sejak 4000 SM. Hal ini diketahui dari penemuan sebuah batu tulis yang ditemukan di daerah Rosetta oleh pasukan Napoleon Bonaparte. Batu tulis tersebut kemudian dibaca oleh seorang berkebangsaan Prancis bernama Jean Francois Champollion (1800). Sejak tahun itu terbukalah sedikit demi sedikit misteri sejarah Mesir Kuno. Lembah Sungai Nil berperan sangat vital dalam perkembangan kebudayaan Mesir Kuno. Sungai terpanjang di dunia ini bukan hanya sebagai penopang pertanian Mesir namun juga merangsang adanya peradaban baru di sepanjang lembah Sungai Nil.

Mesir Hulu dan Mesir Hilir
Setiap pertengahan Juli hingga November, peningkatan curah hujan dan salju yang terjadi di dataran tinggi Ethiopia mengakibatkan debit air di Sungai Nil meningkat dan mengakibatkan banjir. Ketika banjir telah surut, Sungai Nil meninggalkan endapan lumpur yang subur yang kemudian dimanfaatkan untuk pertanian orang - orang Mesir.

Sekitar 5000 SM, muncul desa - desa pertanian di sepanjang lembah Sungai Nil. Dalam perkembangannya, desa - desa ini berubah menjadi sebuah kerajaan. Sekitar tahun 3300 SM terdapat dua kerajaan besar bernama Mesir Hulu (Upper Egypt) dan Mesir Hilir (Lower Egypt). Mesir Hulu terletak di selatan delta Sungai Nil, sedangkan Mesir Hilir berada di dekat delta Sungai Nil. Sekitar 3100 SM, Firaun Menes mempersatukan kedua kerajaan ini. Penyatuan kedua kerajaan inilah yang kemudian menghasilkan peradaban Mesir dengan sejumlah peninggalan menakjubkan yang masih bisa kita lihat hingga sekarang.

A. SISTEM KEKUASAAN RAJA
Pemerintahan Mesir berbentuk kerajaan dengan kekuasaan tertinggi dipegang oleh raja. Kekuasaan raja bersifat mutlak (absolut) sesuai kehendak para dewa. Mereka percaya bahwa raja merupakan keturunan dewa matahari bernama "Re". Dewa Re dianggap sebagai dewa pertama di Mesir.
Dewa Re

Raja dianggap orang yang paling suci dan rakyat tidak diperbolehkan berhadapan bertatap muka langsung dengan raja atau bahkan menyebut nama raja. Bila menyebut nama raja, rakyat Mesir Kuno biasanya menyebut dengan istilah "Per-O" yang artinya Istana Agung sebagai ganti nama raja. Dari istilah ini kemudian berkembang menjadi Pharao atau Firaun untuk menyebut raja Mesir Kuno.

Tugas raja Mesir
  • Memerintah dengan adil
  • Memeilihara keseimbangan alam semesta
  • Mengatur kelancaran sistem panen dan irigasi
  • Mengatur pemerintahan, hukum dan kebijakan luar negeri
  • Memimpin angkatan perang
  • Memimpin upacara keagamaan
1. Organisasi Pemerintahan Mesir
Mesir Kuno didukung oleh pemerintahan yang sangat maju dengan raja serta sejumlah pegawai dan pejabat yang menjalankan pemerintahan. Masing - masing memiliki tugas dan kedudukan yang jelas. Pejabat tertinggi dibawah raja adalah raja vasal (raja wilayah bagian) yaitu di kerajaan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Vassal Mesir Hulu bertempat di Mempis, sedangkan vasaal Mesir Hilir berada di Thebe. Tugas utama vassal adalah melakukan pemantauan pelaksanaan kebijakan pusat dan pengumpulan pajak di masaing - masing wilayah.

Kerajaan vassal membawahi sejumlah pegawai, juru tulis, dan duta. Tugas pegawai adalah memanangani urusan keuangan, bangunan kerajaan, lumbung dan peternakan. Juru tulis bertugas sebagai pencatat kegiatan pemerintah untuk mengetahui sejauh mana kebijakan atau aturan dijalankan. Sedangkan duta bertugas menangani hubungan luar negeri.

2. Sejarah Pemerintahan Mesir Kuno
  • Kerajaan Mesir Tua (3100 - 2134 SM)
    Kerajaan Mesir Tua berlangsung sejak masa pemerintahan Firaun Menes hingga Firaun Pepi II. Dua kerajaan yang ada di tanah Mesir disatukan dalam pemerintahan pusat yang kuat. Sebagai raja Mesir pertama, Firaun Menes memiliki gelar Nesut-biti yang berarti raja bermahkota kembar. Mahkota Kembar adalah perlambang keberhasilan mempersatukan dua kerajaan yang ada di Mesir yaitu Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Masa Kerajaan Mesir Tua dikenal sebagai Abad Piramida. Pada masa ini banyak dibangun bangunan besar seperti Piramida. Firaun terkenal selain Firaun Menes pada masa Mesir Tua antara lain Zoser, Cheops, Chefren dan Mekaure.

    Ibu kota Mesir Tua ada di Memphis. Mesir Tua terdiri atas 42 distrik administratif bernama nomes. Masing - masing nomes dipimpin oleh seorang pejabat. Pada awalnya, masing - masing pejabat yang menempati nomes hanya berlangsung singkat. Setelah menjabat di nomes mereka kembali ke Memphis, namun pada perkembangannya para pejabat tersebut menetap secara permanen dan kemudian dikenal dengan nomarch. Para nomarch berkuasa di nomes masing - masing. Bahkan pada perkembangannya, jabatan nomarch menjadi jabatan seumur hidup dan turun temurun.

    Pada masa pemerintahan Firaun Pepi II, pemerintahan pusat mulai melemah karena adanya persaingan dengan nomarch. Masing - masing nomarch memiliki kepentingan ekonomi dan politik. Persengketaan yang berlarut - larut akhirnya tak terbendung dan membuat Mesir terpecah. Setelah Firaun Pepi II meninggal, Mesir terpecah belah dan keadaan inilah yang kemudian menjadi akhir dari masa Kerajaan Mesir Tua.
  • Kerjaan Mesir Pertengahan (2040 - 1640 SM)
    Pemerintahan Kerajaan Mesir Pertengahan diawali dari keberhasilan Firaun Mentuhotep II dari Thebe yang menaklukkan Herakleopolis. Mesir kembali dipersatukan dibawah pemerintahan Firaun Mentuhotep dan Kerajaan Mesir beribukota di Thebe. Untuk memperkuat pemerintahannya, Firaun Mentuhotep II melakukan pembersihan terhadap siapa saja yang melawann kebijakannya. Ia juga mengangkat sejumlah tokoh yang loyal terhadap pemerintah untuk menjabat di posisi - posisi penting.

    Pengaruh nomarch pada masa awal pemerintahan Kerajaan Mesir Pertengahan masih sangat kuat. Maka dari itu, untuk mengatasinya Senusret III melakukan kebijakan penghapusan nomes dan sebagai gantinya Mesir dibagi menjadi tiga wilayah administratif bernama waret. Sejak masa pemerintahan Ratu Sobek-Neferu pemerintahan pusat semakin lemah, sedangkan disisi lain mulai muncul persaingan diantara pejabat pemerintahan.

    Mesir kembali pecah dan kondisi ini mengundang pihak luar untuk menginvasi Mesir. Akhir Kerajaan Mesir Pertengahan ditandai oleh serangan bangsa Hyksos dan Timur Tengah. Selanjutnya, wilayah Mesir dipimpin oleh bangsa dan rumpun Semit. Ibukota Mesir berpindah ke Awaris.
  • Kerajaan Mesir Baru (1552 - 1069 SM)
    Kerajaan Mesir Baru diawali oleh adanya keberhasilan Mesir dibawah pimpinan Ahmosis yang mengusir bangsa Hyksos dari Mesir. Pada masa ini, Mesir mengalami kegemilangan bila dibandingkan masa - masa sebelumnya. Mesir mempunyai armada yang kuat dan dengan wilayah kekuasaan hingga ke Asia Barat. Dengan kekuatan militernya, Mesir disegani di wilayah sekitar Laut tengah.

    Raja - raja pada masa Kerajaan Mesir Baru diantaranya :
    - Ahmosis
    - Tutmosis III
    - Amenhotep IV
    - Tutankhamun
    - Ramses II
    - Ramses II

    Pada masa Kerajaan Mesir Baru juga ditandai munculnya para ratu. mereka memiliki pengaruh dalam bidang politik. Bahkan, Hatshepsut (permaisuri Tutmosis II) pernah berkuasa di Mesir sebelum putranya Tuthmosis III naik tahta. Kerajaan Mesir Baru mulai runtuh setelah Ramses III meninggal. Adanya persaingan antara kalangan pejabat tinggi dan pemimpin agama, serta korupsi yang merajalela membuat Mesir kembali mengalami masa kemunduran. Sejumlah wilayah taklukan mulai memisahkan diri dan bahkan melakukan perlawanan kepada pemerintah Mesir, seperti yang dilakukan Libya dan Nubia. Mulai tahun 1069 SM, Mesir berada di bawah kendali kerajaan - kerajaan lain seperti Nubia, Assyria, Persia, Macedonia dan Romawi.
Kekuasaan Mesir

B. SISTEM KEPERCAYAA
Mesir menyembah banyak dewa (polytheisme). Sebanyak 2000 dewa disembah baik dewa yang bersifat nasional maupun lokal. Dewa yang bersifat nasional adalah dewa yang disembah seluruh rakyat Mesir. Sedangkan dewa yang bersifat lokal adalah dewa yang disembah rakyat Mesir dalam kalangan tertentu atau di wilayah tertentu saja.

Antara satu wilayah dengan wilayah lain, cara penyembahannya pun berbeda. Pada masa Kerajaan Mesir Tua, pemujaan utama adalah pada Dewa Re, dewa matahari dengan membangun sebuah kuil di Heliopolis. Pada masa Kerajaan Mesir Pertengahan pemujaan diarahkan ke Dewa Osiris, dewa hakim di alam baka. Sedangkan pada masa Kerajaan Mesir Baru, pemujaan diarahkan kepada Dewa Amun, raja para dewa.

Dewa Amun yang paling sering disembah bersama Dewa Re, dewa matahari sehingga digabung menjadi Dewa  Amun-Re. Pada masa Amenhotep IV terjadi pembaharuan keagamaan saat Kerajaan Mesir Baru. Kepercayaan yang sebelumnya berupa polytheisme diubah menjadi monotheisme meskipun ditentang pada kalangan pendeta Amun-Re. Amenhotep IV menciptakan ibadah kepada Dewa Aten yang dilambangkan dengan cakram matahari. Dewa dan dewi lain dianggap tidak ada. Setelah Amenhotep IV meninggal, peribadatan ke para dewa kembali ke pemujaan Amun-Re dan dewa dan dewi lain.

Dewa - Dewi Mesir
  • Amun : raja para dewa 
  • Re : dewa matahari
  • Shu : dewa udara
  • Set : dewa gurun, badai dan bencana
  • Osiris : dewa hakim di alam baka
  • Min : dewa kesuburan
  • Khonsu : dewa bulan
  • Anubis : dewa kematian
  • Ma'at : dewi keadilan dan kebenaran
Kerajaan Mesir Kuno tidak bisa dilepaskan dari pengawetan jenazah yang disebut teknik mummi. Dalam tradisi ini, mereka menganggap bahwa orang yang telah mati akan kekal abadi apabila raganya tetap utuh.

C. SISTEM TULISAN
Sejak 3300 SM, Mesir sudah mengenal tulisan berupa gambar (pictogram). Bangsa Mesir kuno menamainya dengan "sabda para dewa". Bangsa Yunani menyebut tulisan bangsa Mesir Kuno adalah hieroglyph yang artinya tulisan suci. Tulisan hieroglyph bisa ditemui di dinding Piramida dan Obelisk. Selain itu bangsa Mesir juga menulis menggunakan kuas atau pena dan tinta pada lembaran papyrus. Lembaran ini terbuat dari dedaunan yang banyak tumbuh di Timur Tengah. Dari kata papyrus inilah kemudian berkembang menjadi paper yang kita kenal sekarang.

Tidak semua orang Mesir mampu menulis hieroglyph. Penulisan hieroglyph membutuhkan keahlian khusus. Seorang yang mampu menulis huruf hieroglph akan diistimewakan di Mesir. Mereka dipekerjakan di kuil - kuil dan pemerintahan. Pada perkembangannya, tulisan hieroglyph dipergunakan untuk keperluan keagamaan (dalam kitab suci) dan pemerintahan (hukum, laporan pajak, dan urusan pemerintahan lain). Sedangkan untuk penulisan lain menggunakan cara penulisan yang berbeda yaitu hieratis dan demofis. Tulisan hieratis, digunakan semasa Kerajaan Mesir Tua sedangkan tulisan demotis digunakan sekitar 700-an SM.

D. SISTEM PENANGGALAN
Mesir sebagai sebuah peradaban tinggi sudah mengenal ilmu astronomi (ilmu perbintangan). Ilmu astronomi dimanfaatkan Mesir sebagai sistem penanggalan. Penanggalan ini didasarkan pada peredaran bintang - bintang. Tokoh yang berjasa dalam pembuatan sistem penanggalan adalah Imhotep, seorang imam agung, arsitek dan dokter semasa pemerintahan Firaun Sozer. Penanggalan ini dalam satu tahun terdiri dari 365 hari. Ketika Romawi ditangan Julius Caesar menguasai Mesir, ia terkagum - kagum atas sistem penanggalan Mesir. Kemudian, Julius Caesar membuat sistem penanggalan Romawi atas dasar sistem penanggalan Mesir.

E. BANGUNAN PENINGGALAN
Mesir Kuno meninggalkan bangunan - bangunan menakjubkan. Bangunan - bangunan tersebut  sangat megah dan mempunyai ciri khas tersendiri dari segi arsitektur. Sebelum membangun bangunan - bangunan, arsitek Mesir Kuno melakukan sketsa model bangunan yang akan dibuat kemudian diajukan ke raja dan mulai dipekerjakan oleh para budak. Bangunan - bangunan tersebut diantaranya :
Piramida Giza, Sphinx, Obelisk dan salah satu kuil di Mesir
  • Piramida
    Piramida merupakan bangunan makam raja yang berbentuk sangat megah. Piramida pertama dibangun oleh Imhotep untuk makam Firaun Sozer. Piramid ini terletak di Sakkara. Piramida lain yang termasyur diantaranya Piramida Giza untuk Firaun Cheops (Khufu), Chefren dan Mekaure.

    Pembangunan Piramida merupakan bentuk penghargaan rakyat kepada raja Mesir. Sebagai keturunan dewa, jenazah raja - raja Mesir diawetkan dan dimakamkan dalam sebuah piramida yang akan dikenang sepanjang masa. Untuk membangun piramida dibutuhkan tenaga yang sangat banyak serta waktu yang panjang.
  • Sphinx
    Spinx merupakan raksasa singa dengan kepala manusia berwajah raja Mesir. Sphinx dianggap perwujudan Dewa Re. Biasanya Sphinx dibangun di depan piramida yang seolah menjaga piramida. Sphinx terbesar terdapat di Giza.
  • Obelisk
    Obelisk merupakan bangunan batu berupa tugu. Pembangunan Obelisk dimaksudkan untuk memuja Dewa Re. Bangunan berfungsi sebagai pencatat kejadian penting ketika masa Mesir Kuno. Inilah sebabnya, pada dinding obelisk banyak terdapat hyroglyph.
  • Kuil
    Banyaknya kuil di Mesir didasarkan pada adanya kepercayaan polytheisme. Kuil - kuil tersebut dipergunakan untuk menyembah dewa tertentu diantaranya :
    - Kuil Dewa Re di Heliopolis
    - Kuil Hatshepsut di Deir - el Bahari
    - Kuil Aten di Tel el Amarna
    - Kuil Dewa Amun di Karnak
    - Kuil di Medinet Habu