Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti merupakan peristiwa penembakan yang terjadi pada tanggal 12 Mei 1998 kepada para demonstran mahasiswa yang menuntut agar Soeharto turun dari jabatannya selaku presiden RI. Kejadian ini memakan korban jiwa yaitu empat mahasiswa Universitas Trisakti dan puluhan lainnya luka - luka. Dari pihak mahasiswa yang meninggal diantaranya Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998) dan Hendriawan Sie (1975-1998). Keempatnya meninggal karena tertembak di kampus sendiri yang tertembak di bagian tubuh vital seperti kepala, dada dan tenggorokan.

Latar belakang dan kejadian Trisakti
Pada awal periode 1998, keadaan ekonomi Indonesia mulai goyah. Hal ini diakibatkan oleh krisis finansial pada tahun 1997-1999. Pada bulan Maret 1998, MPR walaupun ditentang oleh masyarakat dan mahasiswa tetap mengangkat Soeharto sebagai presiden. Satu - satunya jalan menyuarakan suara adalah melakukan demonstrasi. Demonstrasi dilakukan sejak sebelum Sidang Umum (SU) MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang saat diselenggarakannya SU MPR 1998 demonstrasi semakin menjadi - jadi di kota - kota Indonesia termasuk di Jakarta hingga Mei 1998 (Tragedi Tri Sakti). Insiden besar pertama kali terjadi di kampus IKIP Rawamangun Jakarta karena kedatangan mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB hingga bentrokan terjadi antara mahasiswa dan aparat.

Ketika itu, demonstrasi gabungan dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi di Jakarta yang merencanakan gerakan demonstrasi serentak ke jalan di beberapa lokasi di Jabotabek. Namun hanya di Rawamangun dan di Bogor yang berhasil mencapai jalan sehingga terjadi bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit.

Setelah keadaan semakin memanas dan hampir setiap hari terjadi demonstrasi, nampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap para mahasiswa apalagi sejak mereka turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa Trisakti turun ke jalan dengan berdemo atas diangkatnya Soeharto sebagai presiden yang terpilih berulang kali sejak Orde Baru. Mereka menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak 1997. Mahasiswa bergerak dari kampus Trisakti di Grogol menuju Gedung DPR/MPR di Slipi.

Sesampainya di Gedung DPR/MPR, para mahasiswa berdemo menyuarakan apa yang mereka inginkan. Setelah melakukan negosiasi, akhirnya pada pukul 17.15 para mahasiswa memutuskan mundur. Namun, aparat keamanan malah maju bergerak dan menyerang para demonstran dengan menembakkan peluru secara membabi buta ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik, berlarian dan dilanda ketakutan. Sebagian besar mahasiswa berlindung di dalam kampus.

Melihat para mahasiswa yang ketakutan, para aparat bukannya mundur malah terus melakukan penembakan hingga akhirnya banyak korban berjatuhan dan terluka hingga ada yang meninggal dunia. Para korban tersebut dilarikan ke RS Sumber Waras. Pada pukul 20.00, dari laporan yang diterima, sebanyak empat mahasiswa meninggal dunia karena tertembak, sementara satu lainnya dalam keadaan kritis. Walaupun aparat membantah penggunaan peluru tajam, namun nyatanya, hasil otopsi menunjukkan kematian para mahasiswa dikarenakan peluru tajam.

Kronologi kejadian Tragedi Trisakti
Pukul 11.00 - 13.00 Aksi Damai ribuan mahasiswa di dalam kampus
Pukul 13.00 Mahasiswa keluar ke Jl. S Parman menuju gedung DPR/MPR
Pukul 13.15 Dicapai kesepakatan damai antara mahasiswa dan aparat yang isinya mahasiswa tidak boleh melanjutkan aksi. Berikutnya mahasiswa melanjutkan aksinya di depan bekas Kantor Wali Kota Jakbar.
Pukul 13.30 - 17.00 Aksi Damai Mahasiswa yang berlangsung di depan kantor Wali Kota Jakbar berjalan dengan tenang tanpa ketegangan
Pukul 16.30 Polisi memasang police line dengan jarak 15 meter dari mahasiswa
Pukul 17.00 Diadakan pembicaraan antara mahasiswa dengan aparat keamanan yang mengusulkan agar mahasiswa kembali ke kampus. Selanjutnya mahasiswa kembali ke kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan keamanan yang berdiri berjajar untuk mundur terlebih dahulu
Pukul 17.10 Kapolres menyatakan rasa terimakasih kepada mahasiswa karena telah menaati keputusan aparat keamanan. Selanjutnya mahasiswa kembali ke kampus dan membubarkan diri secara tertib yang bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat deras.
Pukul 17. 15  Tiba - tiba ada tembakan dari arah belakang mahasiswa. Para mahasiswa berlarian menyelamatkan diri masuk ke dalam gedung - gedung kampus. Namun aparat terus menembaki dari luar. Selain itu aparat juga melempar gas air mata ke dalam gedung kampus.
Pukul 17.15 - 23.00 Situasi kampus tegang. Para korban berjatuhan dirawat di beberapa tempat. Sebanyak enam mahasiswa dinyatakan meninggal dunia. Adapaun yang mengalami luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Akhirnya diadakan jumpa pers dilakukan oleh pimpinan universitas. Selain itu Komnas HAM juga datang ke lokasi.

Tragedi Trisakti tanggal 12 Mei 1998 menjadi pemicu kerusuhan - kerusuhan sosial yang mencapai klimaks pada 14 Mei 1998. Tragedi tersebut dipicu penggunaan senapan oleh aparat yang hingga menewaskan empat mahasiswa Trisakti. Tragedi Trisakti disusul oleh Tragedi Semanggi I pada tanggal 13 November 1998.
Sejarah Demokrasi Terpimpin

Sejarah Demokrasi Terpimpin

Pada masa Demkrasi Liberal, pemerintahan Indonesia kerap silih berganti kabinet. Program - program tidak terlaksana dengan baik, terjadi kekacauan, gerakan separatis, meningkatnya inflasi dan membuat Indonesia dalam keadaan darurat. Hal ini ditambah konstituante sebagai badan yang ditunjuk untuk membuat undang - undang baru menggantikan UUDS 1950, gagal dalam upaya pembentukan konstitusi baru sehingga Indonesia tidak memiliki pijakan yang mantap dalam bernegara.

Indonesia pada tahun 1959 - 1966 masuk pada masa Demokrasi Terpimpin yang merupakan sebuah sistem  demokrasi  dimana semua keputusan berada pada pimpinan negara yaitu Soekarno. Konsep Demokrasi Terpimpin pertama kali dicetuskan oleh Soekarno ketika sidang konstituante pada tanggal 10 November 1956.

A. Konstituante Gagal dalam Menyusun Undang - Undang Baru
Pada Pemilu 1955 didapatkan hasil empat partai terbesar yang memenangkan pemilihan konstituante dan DPR yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI. Setelah Pemilu 1955, kabinet Burhanudin Harahap selaku pemimpin kabinet yang melaksanakan program kerjanya, menyerahkan kedaulatannya kepada Soekarno untuk membuat kabinet baru. Kemudian pada tanggal 24 Maret 1966, ditunjuklah Ali Sastroamidjojo  untuk membentuk kabinet pada tanggal 24 Maret 1956 berdasarkan perimbangan partai - partai di parlemen. Kabinet ini tidak bertahan lama karena adanya oposisi dari daerah luar Jawa dengan alasan bahwa pemerintah mengabaikan pembangunan daerah di luar Jawa.

Pada bulan Februari 1957, Soekarno memanggil pejabat sipil, militer dan pejabat partai ke Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, Soekarno mengajukan konsepsi yang berisi :
  • Pembentukan Kabinet Gotong Royong yang terdiri atas wakil - wakil dari semua partai ditambah dengan golongan fungsional
  • Pembentukan Dewan Nasional (pada perkembangannya berubah nama menjadi Dewan Pertimbangan Agung) yang beranggotakan wakil - wakil partai dan golongan fungsional dalam masyarakat. Fungsi dewan ini yaitu memberi nasehat kepada kabinet baik diminta maupun tidak.
 Konsep ini kemudian ditolak oleh beberapa partai diantaranya Masyumi, NU, PSII, Partai Katholik dan PRI. Mereka berpendapat bahwa perubahan susunan ketatanegaraan secara radikal harus diserahkan kepada konstituante. Suhu politik kemudian memanas antara yang pro dan kontra atas usulan Soekarno tersebut. Pada peringatan Sumpah Pemuda tahun 1957, Soekarno menyatakan kesulitan negara dikarenakan banyaknya partai yang berdiri yang menyebabkan rusaknya persatuan dan kesatuan negara. Sehingga sebaiknya partai - partai politik dibubarkan.

Selanjutnya, dengan alasan menyelamatkan negara, Soekarno mengajukan konsepsi Demokrasi Terpimpin. Untuk sementara usulan ini terabaikan karena adanya hal yang lebih penting yaitu pemberontakan PRRI-Permesta. Setelah pemberontakan dapat diredam, masalah politik muncul kembali. Masalah semakin serius ketika konstituante gagal membuat dan menetapkan konstitusi baru. Kegagalan tersebut dikarenakan partai - partai yang menjadi wakil dalam lembaga konstituante lebih mementingkan kepentingan partainya sendiri - sendiri dalam penyusunan aturan yang diajukan.

Permasalahan utama konstituante adalah tentang penetapan dasar negara. Sebagian kelompok menghendaki Pancasila sebagai dasar negara sedangkan kelompok lain menghendaki Islam sebagai dasar negara. Dalam mengatasi kemacetan ini, kemudian muncul gagasan untuk kembali ke UUD 1945 dari kalangan ABRI. Dengan dikembalikannya ke UUD 1945, maka kekacauan atas pijakan negara dapat terselesaikan. Berbagai partai politik setuju dengan hal ini. Kemudian pada 19 Februari 1959, Kabinet menerima gagasan kembali ke UUD 1945.

Pada tanggal 22 April 1959, Soekarno menyampaikan anjuran pemerintah supaya konstituante menetapkan UUD 1945 menjadi konstitusi Republik Indonesia. Atas hal tersebut, konstituante kemudian membuat sebuah pemungutan suara yang dilakukan selama tiga kali dengan hasil suara yang setuju lebih banyak daripada yang menolak kembali ke UUD 1945, namun yang hadir kurang dari dua pertiga yang berarti tidak mencapai quorum (batas minimal pemungutan suara).

Dengan kegagalan pembuatan konstitusi baru oleh konstituante, maka sebagian anggota memutuskan tidak menghadiri sidang konstituante lagi. Disisi lain sejak tanggal 3 Juni 1959, Demokrasi Terpimpin diawali dengan dicetuskannya anjuran dari Soekarno untuk kembali ke UUD 1945 menggantikan UUDS yang dianggap tidak cocok untuk Indonesia. Namun usulan tersebut banyak menuai pro dan kontra dikalangan konstituante selaku lembaga yang membuat undang - undang.

 Sebagai reaksi dari usulan Soekarno, maka konstituante membentuk suatu pemungutan suara dadakan yang diikuti seluruh anggota konstituante. Pemungutan suara terebut dilakukan untuk meredam konflik antara pro dan kontra atas usulan Soekarno. Kegagalan konstituante dalam menentukan sikap menunjukkan bahwa partai yang ikut dalam konstituante masih mengabdi pada partainya bukan pada negara. Hal tersebutlah yang membuktikan ketidakmampuan konstituante dalam membuat konstitusi baru menggantikan UUDS 1950.

Sementara itu sejak 3 Juni 1959, konstituante memasuki masa reses dan ternyata termasuk dalam masa reses terakhir. Pada saat itu pula Penguasa Perang Pusat mengeluarkan peraturan Nomor : PRT/PERPU/040/1959 yang melarang adanya kegiatan politik. Berbagai partai dan ABRI mendukung usul untuk kembali ke UUD 1945.

B. Diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Hingga tahun 1959, konstituante tidak pernah menghasilkan undang - undang baru sebagai ganti dari UUDS 1950. Bahkan partai - partai yang menjadi bagian dari konstituante selalu menghalalkan segala cara agar tujuan partainya tercapai melalui kebijakan pembuatan undang - undang. Oleh sebab itulah kondisi politik sejak 1956 semakin kacau dan memburuk.

Keadaan ini semakin bertambah kacau dan mengancam keutuhan bangsa dan negara. Rakyat bereaksi dari kondisi ini dengan memaksa pemerintah mengambil tindakan tegas untuk mengatasi kemacetan sidang Konstituante yang tidak bisa diharapkan lagi. Untuk mengatasi situasi yang tidak menentu, pada bulan Februari 1957, Soekarno mengajukan gagasan "Konsepsi Presiden". Dalam situasi dan kondisi seperti itu, beberapa tokoh partai politik mengajukan kepada Soekarno untuk mendekritkan berlakunya kembali UUD 1945 yang merupakan langkah mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional. Oleh karena itu, pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi :
  • Pembubaran konstituante
  • Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya kembali UUDS 1950
  • Pembentukan MPRS dan DPAS
Dekrit ini mendapat dukungan dari masyarakat dan KSAD. Mahkamah Agung juga membenarkan keberadaan Dekrit ini. DPR hasil pemilu 1955 juga menyatakan kesediannya untuk terus bekerja sesuai UUD 1945.

C. Pengaruh Dekrit Presiden
Setelah berlakunya UUD 1945 sebagai dasar dari Demokrasi terpimpin. Ternyata harapan ini akhirnya hilang karena UUD 1945 tidak dilaksanakan secara konsekuen. UUD 1945 yang dianggap sebagai dasar dari hukum konstitusional hanyalah slogan - slogan kosong belaka. Hal ini terlihat jelas dari penyelewengan - penyelewengan yang dilakukan presiden. Diantaranya :
  • Prosedur pembentukan DPRGR dan MPRS
  • Anggota MPRS ditunjuk dan diangkat oleh Presiden
  • Membubarkan DPR hasil Pemilu 1955
  • Menjadikan kedudukan pemimpin lembaga tertinggi dan lembaga Negara sebagai menteri yang berarti sebagai pembantu Presiden GBHN yang bersumber dari pidato tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul “penemuan kembali revolusi kita” dijadikan GBHN ditetapkan oleh DPA bukan MPRS
  • Pengangkatan Presiden seumur hidup
  • Pemberlakuan NASAKOM

Ciri Demokrasi Terpimpin
  • Kebebasan partai dibatasi
  • Presiden bertugas sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan
  • Kembali kepada UUD 1945 dan menonaktifkan UUDS 1950
  • Pembentukan MPRS, DPAS, DPRGR dan Front Nasional
D. Keadaan Politik di Masa Demokrasi Terpimpin
Selain dibentuk Kabinet Kerja, pada demokrasi terpimpin dibentuk juga lembaga negara seperti DPRGR, MPRS, DPAS dan Front Gotong Royong sebagai perwujudan dari Demokrasi Terpimpin. TNI dan ABRI disatukan dalam bentuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang terdiri dari empat angkatan yaitu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara dan Angkatan Kepolisian. Masing - masing dipimpin angkatan yang dipimpin oleh Menteri Panglima Angkatan yang kedudukannya dibawah Presiden atau Panglima Tertinggi ABRI. Golongan ABRI dianggap sebagai golongan fungsional dan memiliki kekuatan politik. Dengan demikian, ABRI memainkan kekuatannya dalam dunia perpolitikan.

Berdasarkan Perpres No. 7 Tahun 1959 tanggal 31 Desember 1959 yang menetapkan syarat yang dipenuhi sebuah partai. Partai politik diharuskan memenuhi syarat seperti jumlah anggota. Hasilnya, hanya beberapa partai yang masih dapat bertahan diantaranya PNI, Masyumi, NU, PKI, Partai Katholik, Parkindo, PSI, Partai Murba, Partai IPKI, PSII, dan Partai Perti. Tindakan ini lebih dikenal dengan nama penyederhanaan partai. Disisi lain, partai Masyumi dan PSI terlibat dalam pemberontakan PRRI-Permesta sehingga kedua partai tersebut dibubarkan oleh pemerintah.

Pada saat itu, kekuatan terpusat pada Soekarno, ABRI dan partai - partai terutama PKI. Soekarno berusaha menciptakan keseimbangan (balance of power) antara ABRI sebagai lembaga keamanan dan ABRI dengan partai politik. Untuk menciptakan keseimbangan tersebut, Soekarno memerlukan dukungan yaitu dari PKI. Keadaan ini sangat menguntungkan PKI yang memiliki kepentingan. PKI memainkan peranannya sebagai pendukung Soekarno dalam bidang politik hingga dikeluarkannya konsep Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM) oleh Soekarno.

Disisi lain, PKI yang memiliki cap bersifat internasional (kurang nasional) dan anti agama dijawab bahwa PKI menerima Manipol (Manifesto Politik) yang didalamnya mencakup Pancasila. Ajakan Soekarno supaya jangan komunistophobia (rasa takut terhadap komunis) sangat menguntungkan PKI dan menjadikan PKI aman. Saat itu keduanya saling melengkapi antara Soekarno dan PKI.

Dalam rangka mewujudkan sosialisme (yang kelak menjadi komunisme) di Indonesia, PKI menempuh beberapa tindakan diantaranya :
  1. Dalam Negeri; menyusup ke berbagai partai politik atau organisasi massa yang melawannya kemudian memecah belah. Pada bidang pendidikan mengusahakan Marxisme-Leninisme sebagai mata pelajaran wajib. Pada bidang militer yaitu mendoktrinasi ajaran komunis kepada para perwira dan membangun sel - sel komunis diantara ABRI.
  2. Luar Negeri; berusaha mengarahkan Indonesia dari politik bebas aktif yang mendekati negara - negara komunis terutama Uni Soviet dan Cina.
PKI dicurigai ingin merebut kekuasaan Indonesia atas dasar pengalaman pemberontakan PKI Madiun 1948. Pada tahun 1964, ditemukan dokumen yang memuat rencana perebutan kekuasaan oleh PKI. PKI menyatakan dokumen itu palsu. Berkat perlindungan presiden, tuduhan itu tidak berlaku. Aidit selaku ketua PKI dihadapan peserta kursus Kader Revolusi secara terang - terangan menyatakan bahwa "Pancasila hanya merupakan alat pemersatu dan kalau sudah bersatu, Pancasila tidak diperlukan lagi". Pernyataan ini tidak mendapat tindakan dari presiden hingga PKI melakukan intimidasi di segala bidang pada ranah politik.

Pada bidang kebudayaan dan pers, PKI mempengaruhi Soekarno untuk melarang Manifesto Kebudayaan (Manikebu) dan Barisan Pendukung Soekarno (BPS). Alasannya adalah keduanya didukung oleh intelijen Amerika Serikat, CIA. Sebenarnya, yang ditentang PKI bukan Manikebu, melainkan terselenggaranya Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI) yang berhasil membentuk organisasi pengarang dengan nama Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI). Selain itu PKI juga berhasil mempengaruhi Antara (Kantor berita) dan RRI.

Pada bidang kepartaian, PKI melakukan fitnah kepada partai Murba sehingga partai Murba dibubarkan oleh Soekarno. PKI juga menyusup ke partai lain seperti partai PNI pimpinan Ali Sastroamidjojo sebagai ketua dan Jendera Surachman sebagai sekertaris yang jenderalnya disusupi PKI. Besarnya kekuatan PKI di tubuh PNI (Ali - Surachman) menyebabkan marhaenisme diberi arti marxisme yang diterapkan di Indonesia. Tokoh - tokoh marhaenisme PNI seperti Osa Maliki dipecat dari kepengurusan yang kemudian membuat partai tandingan yaitu PNI Osa Usep (Ketuanya Osa Maliki dan sekertaris Usep Ranuwijaya). Dengan demikian PNI pecah menjadi dua.

Pada bidang agraria, PKI melalui ormasnya, Barisan Tani Indonesia (BTI) berhasil melakukan landreform di beberapa wilayah dan melakukan aksi penyerobotan tanah sepihak seperti di Boyolali, Kediri, Klaten dan Sumatera Utara. Aksi sepihak ini bertujuan mengacaukan keadaan dan juga sebagai alat ukur untuk mengetahui reaksi dari ABRI.

Dalam usaha mempengaruhi ABRI, PKI mempergunakan jalur resmi. Jalur resmi adalah Komisari Politik Nasakom yang mendampingi Panglima atau Komandan Kesatuan. Sedangkan jalur tidak resmi adalah melalui Biro Khusus yang diketuai Kamaruzaman (Syam). Rupanya melalui penempatan Komisaris Politik Nasakom yang terdiri dari PNI dan NU, PKI kurang berhasil karena ketangguhan sikap pimpinan ABRI. ABRI mampu menanggulangi pengaruh komunis bahkan menjadi penghalang bagi PKI untuk mendirikan negara komunis. Oleh sebab itu, peristiwa G30SPKI dijadikan sarana bagi ABRI terutama TNI AD untuk memberantas komunis.

E. Berakhirnya Demokrasi Terpimpin
 Berakhirnya Demokrasi terpimpin tidak terlepas dari permasalahan peristiwa kudeta G30SPKI. Peristiwa tersebut dianggap sebagai percobaan kudeta para gologan kontra revolusioner yang menamakan dirinya Gerakan 30 September. Tindakan yang diambil Soekarno pada tanggal 30 September 1965 hingga 1967 dianggap sebagai kudeta merangkak (creeping coup). Proses kudeta tidak berlangsung menghantam, melainkan secara perlahan. Bahkan selama kekuasaannya beralih, Soekarno masih berstatus sebagai presiden. Terjadilah dualisme kepemimpinan dalam waktu peralian presiden Soekarno ke Soeharto.

Peristiwa G30SPKI menjadi titik awal keruntuhan Soekarno. Peristiwa ini masih menjadi misteri yang harus dipertanggungjawabkan, namun titik awal inilah yang kemudian menjadi latar belakang jatuhnya pamor Soekarno sejak 1965 - 1967. Turunnya Soekarno kemudian melahirkan suatu pemerintahan yang memiliki semangat menegakkan Pancasila dan melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Tekad inilah yang kemudian disebut masa Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto. 

Peralihan kekuasaan terlihat jelas pada penyerahan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar/SP 11 Maret) 1966 yang benar - benar dimanfaatkan Soeharto sebagai pengemban surat sakti dengan mengambil alih kebijakan dan keputusan politik seperti pembubaran PKI dan ormas - ormasnya. Padahal pada dictum supersemar sendiri lebih menekankan pada penyerahan kekuasaan militer (dalam artian pengamanan jalannya pemerintahan) dan bukan penyerahan kekuasaan politik. Supersemar bukanlah transfer of authority (pengalihan kekuasaan). Hal ini yang kemudian mengindikasikan adanya kudeta dari Soeharto.

Klimaks ini berujung pada sidang Istimewa MPRS pada tanggal 23 Februari 1967 yang secara resmi dilakukan penyerahan pemerintahan kepada pengemban Supersemar. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada tanggal 7-12 Maret 1967, dilakukan sidang MPRS yang memutuskan :
  1. Pidato Nawaksara beserta pelengkapnya tidak memenui harapan rakyat dikarenakan tidak secara jelas mengenai pembentukan Gerakan 30 September.
  2. Presiden telah menyerahkan kekuasaan kepada pengemban Supersemar.
  3. Presiden telah melakukan kebijakan secara tidak langsung menguntungkan bagi Gerakan 30 September
 Kemudian, pada 12 Maret 1967, Soeharto akhirnya diambil sumpah dan dilantik sebagai presiden Republik Indonesia yang kedua berdasarkan ketetapan MPR No. XXXIII/MPRS/1967.
Kudeta 17 Oktober 1952 : Awal Konspirasi Militer dan Terpecahnya Pertahanan Negara

Kudeta 17 Oktober 1952 : Awal Konspirasi Militer dan Terpecahnya Pertahanan Negara

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah suatu Konspirasi yang hingga saat ini belum jelas kejadiaannya dan menarik untuk dikaji. Peristiwa 17 Oktober 1952 merupakan sebuah kudeta salah satu anggota perwira yang mengacungkan moncong meriam ke arah Istana  dengan dalih  melindungi Presiden dari demonstrasi mahasiswa.

Pada saat itu, peranan militer sangat dominan daripada sipil dan tidak adanya perimbangan antara sipil dan militer, diwaktu bersamaan situasi Orde Lama pada saat itu sangat kacau, korupsi meluas, konflik antara militer dan partai menajam, dan keamanan memburuk ditambah adanya Perang Dingin dalam menentukan ideologi negara khususnya Indonesia.

Peristiwa 17 Oktober 1952 dilatarbelakangi oleh pemilu yang tidak segera dilaksaakan dan tertunda - tertunda yang dianggap sebagai taktik dari DPRS untuk mempertahankan posisinya. Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) yang didukung Presiden Soekarno mempertahankan keadaan ini, disisi lain konflik intern semakin meruncing antara militer dan partai. Kolonel Bambang Supeno selaku orang yang dekat dengan Soekarno sering masuk dan keluar istana menyerahkan surat dari Perdana Menteri Wilopo, Presiden dan DPRS menyatakan tidak mempercayai lagi Angkatan Perang, khususnya Angkatan Perang Darat (pimpinan Nasution). Bambang Supeno lah yang kemudian melobi kepada Presiden Soekarno hingga Bambang Sugeng kemudian diangkat menggantikan Nasution sebagai KSAD (Kepala Staf TNI Angkatan Darat). Nasution diberhentikan, tujuh perwira daerah ada yang ditahan dan digeser kedudukannya.

Akibat pertentangan di tubuh Angkatan Darat, Nasution selaku pipinan yang didepak menggalang kekuatan dan melawan pemerintahan yang kemudian dikenal dengan Peristiwa 17 Oktober 1952.  Akibatnya, Presiden Soekarno mencopot Nasution selaku KSAD dan mengganti dengan Bambang Sugeng. Sosoknya yang diterima semua pihak menjadikan Bambang Sugeng menjadi satu - satunya alternatif ketika A.H. Nasution diberhentikan dari jabatannya yang dianggap mendalangi Peristiwa 17 Oktober 1952.

Bambang kemudian menyatukan para perwira TNI dengan cara musyawarah karena sebelumnya TNI telah terpecah akibat peristiwa 17 Oktober 1952 dan menghasilkan Piagam Djogja 1955. Piagam yang meredam friksi didalam militer yang selanjutnya diputuskan diangkatnya kembali AH Nasution sebagai KSAD. Setelah islah, akhirnya pada bulan November 1955, Nasution diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia.

Kronologi Peristiwa
Kejadian Peristiwa 17 Oktober 1952 terjadi karena adanya domonstrasi yang semula massa mendatangi gedung parlemen dan selanjutnya bergeser ke Istana Merdeka untuk mengajukan tuntutan diantaranya pembubaran parlemen serta tuntutan diadakannya pemilihan umum. Penyebab utama peristiwa ini adalah terlalu jauhnya campur tangan politisi terhadap intern Angkatan Perang Republik Indonesia.

Demonstrasi ini direncanakan oleh Angkatan Darat atas inisiatif Letkol Kolonel Sutoko dan Letnan Kolonel S. Parman. Pelaksanaan demonstrasi diorganisasikan Kolonel dr Mustopo dan Kolonel Kemal Idris. Pada waktu bersamaan, di Lapangan Merdeka muncul pasukan Tank dan beberapa pucuk meriam yang diarahkan ke Istana Presiden. Presiden kemudian meninggalkan istana menggunakan helicopter. Perginya presiden kemudian meresahkan parlemen pada sore harinya. Tentara memutuskan jaringan telepon seluruh Indonesia dan melarang beredarnya surat kabar, bahkan tokoh - tokoh politik ditangkap diantaranya seperti M. Yamin dan Kasman Singodimejo .

Peristiwa 17 Oktober 1952 dapat diselesaikan melalui pertemuan yang mengasilkan disetujuinya pemilu namun Soekarno menolak membubarkan parlemen, tuntutan ini tidak dimuat di surat kabar namun bocor ke ke media massa Merdeka pada tanggal 24 Oktober 1952. Pasca kejadian yang belum jelas antara kudeta atau tidak, Kolonel Soetoko membantah bahwa peristiwa tersebut merupakan kudeta dan mengatakan "seperti anak - anak menemui bapak mereka" tidak ada kata "kami menuntut" atau "jika tidak, maka ......." mereka (demonstran) datang ke Istana untuk menyampaikan permohonan dan bukan intimidasi terhadap presiden. Kejadian 17 Oktober 1952 diupayakan diselesaikan melalui pertemuan Rapat Collegial (Raco).

Rapat Collegial (Raco) pada tanggal 25 Februari 1955 melahirkan kesepakatan Piagam Keutuhan Angkatan Darat yang ditandatangani oleh 29 perwira senior Angkatan Darat. Peristiwa ini menjadi sumber kericuhan yang terjadi di dalam Angkatan Darat. Kolonel Bambang Supeno tidak menyetujui kebijakan A.H. Nasution selaku KSAD. Bambang Supeno mengajukan surat kepada Menteri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada Parlemen yang berisi permintaan penghentian A.H. Nasution. Kemudian diputuskan Nasution diberhentikan. Manai Sophian selaku anggota Parlemen mengajukan mosi agar pemerintah membentuk panitia khusus untuk mempelajari masalah tersebut dan mengajukan usul jalan keluarnya. Hal tersebut dianggap para pemimpin Angkatan Darat sebagai usaha campur tangan Parlemen dalam lingkungan Angkatan Darat.

Dapat dimaklumi pada masa tersebut, sistem administrasi ketentaraan belum rapi bahkan hingga sekarang. Tingkatan - tingkatan diantara pemimpin militer juga belum jelas kebanyakan elite tentara memiliki pangkat yang sama. Ada juga perbedaan antara tentara KNIL dan eks PETA yang tidak sepadan, adanya kombinasi - kombinasi mobilisasi massa untuk kepentingan politik serta ancaman verbal dan tekanan senjata sehingga terlihat tindakan sipil (civil action) untuk menggulingkan kekuasaan yang pada saat itu berdiri walau hanya di kulit. Tujuannya adalah melakukan kudeta merangkak disamping adanya perbedaan pada organisasi kemiliteran tersebut.

Tentara yang lemah akan merepotkan negara dan Tentara yang terlalu kuat akan menyusahkan masyarakat, dimana tujuan negara adalah menghindari terjadinya perpecahan, walaupun tidak menginginkan seperti pada masa Orde Baru dimana Tentara mengerjakan tugas diluar tugas pokoknya sehingga terkesan masyarakat seolah tercekam. Hal ini kemudian menjadikan perbedaan pandangan tentara Eks PETA dan KNIL pada saat itu. Dibalik semua itu ada hal yang aneh, siapa dalang semua ini antara pihak asing-sipil-militer, namun adanya mutasi menyebabkan para pemimpin merasa asing dengan daerah lain dan merasa tidak cocok walaupun peluru atau bom tidak memakan korban namun pergolakan di daerah - daerah barulah memakan korban pada masa berikutnya.

Lantas, siapa dalang dibalik peristiwa 17 Oktober 1952. Dalam buku Seabad Kontroversi menyebutkan A.H. Nasution, T.B. Simatupang, Soetoko, S. Parman, dan Moestopo yang menurut penulis buku tersebut merujuk pada salah satu pihak asing yang menunggangi situasi politik sehingga menimbulkan crash (tubrukan) dalam sistem pemerintahan ditambah peranan sipil yang pada saat itu tidak terlalu kuat ditambah revolusi yang naik.

Penyelesaian
Dengan digantinya pimpinan Angkatan Darat dan juga dibantu kabinet baru -koalisi Masyumi dan beberapa partai dengan PNI sebagai oposisi-  yang dipimpin oleh Burhanudin Harahap. Hanya  38 hari setelah diangkat dilakukanlah Pemilu 1955 untuk DPR. Penyelesaian akir yaitu Angkatan Darat berdasarkan musyawarah para senior dan pimpinan mengajukan enam calon KSAD, salah satunya adala A.H. Nasution. Kabinet memilih Nasution. Soekarno sebagai tokoh yang bersebrangan dengan Nasution secara terpaksa mengangkat kembali Nasution sebagai KSAD dan melantiknya pada 7 November 1955 dengan kenaikan pangkat dua tingkat menjadi Jenderal Mayor.
Biografi Mao Tse Tung

Biografi Mao Tse Tung

Mao Tse Tung atau Mao Zedong 毛澤東 dilahirkan di Shaoshan, Hunan, tanggal 26 Desember 1893. Lahir dalam keluarga petani yang miskin, Mao sejak kecil hidup prihatin dan bekerja keras. Walaupun keadaan ekonomi keluarganya semakin meningkat, namun kesengsaraan saat masa kecil itu sangat mempengaruhi kehidupannya nanti.

Pada waktu kecil, Mao dikirim ke sekolah dasar untuk belajar. Pendidikannya ketika kecil meliputi ajaran ajaran klasik Konfuseisme. Pada umur 13 tahun, ayah Mao mengajak Mao agar berhenti sekolah dan menyuruhnya untuk bekerja di ladang. Mao tidak mau dan bertekad ingin meneruskan sekolahnya. Dia nekat lari dari rumah dan meneruskan pendidikannya di tempat yang lain. Tahun 1905, dia ikut ujian negara yang ketika itu, dimulai penghapusan paham paham konfuseisme lama, dan diganti dengan pendidikan bergaya Barat. Peristiwa ini menjadi tanda dimulainya ketidakpastian intelektual di Cina.

Tahun 1911, Mao ikut terlibat dalam Revolusi Xinhai. Revolusi Xinhai adalah revolusi untuk melawan Dinasti Qing yang menyebabkan runtuhnya kekaisaran Cina yang telah berkuasa sangat lama yaitu lebih dari 2000 tahun. Tahun 1912, Sun Yat Sen memproklamasikan Republik Cina dan Cina dengan resmi memasuki zaman republik. Mao kemudian melanjutkan pendidikannya dan mempelajari beberapa hal di antaranya budaya Barat. Tahun 1918 dia lulus kemudian kuliah di Universitas Beijing. Di kampus itu dia bertemu dengan para pendiri PKT yang berpaham Marxis.

Mao Tse Tung dan Partainya
Tahun 1921 Partai Mao didirikan dan Mao Tse Tung semakin hari semakin vokal. Tahun 1934 sampai 1935 Mao berperan utama dan memimpin Pasukan Merah Tiongkok melakukan “Long March”. Kemudian sejak tahun 1937 dia ikut membantu melawan Tentara Dai Nippon yang menguasai banyak wilayah Cina.

Akhirnya Perang Dunia ke-2 telah berakhir dan perang saudara pun berkobar kembali. Ketika perang melawan kaum nasionalis ini, Mao Tse Tung menjadi pemimpin kelompok Merah dan akhirnya dia memenangkan perang tahun 1949. Pada tanggal 1 Oktober 1949, Mao Tse Tung memproklamasikan Republik Rakyat Cina, sedangkan Chiang Kai Shek pemimpin Tiongkok nasionalis melarikan diri ke Taiwan.

Mao Tse Tung dan Kebijakan Politiknya
Mao membagi konflik menjadi 2 jenis, yaitu konflik antagonis dan non antagonis. Konflik antagonis hanya dapat diatasi dengan cara peperangan saja sedangkan konflik non antagonis dapat diselesaikan dengan cara diskusi. Menurut Mao Tse Tung, konflik antara para pekerja dan buruh dengan kaum kapitalis termasuk konflik antagonis, sedangkan konflik antara Partai dengan rakyat Cina adalah konflik non antagonis.

Tahun 1956 Mao memperkenalkan kebijakan politik baru. Dalam kebijakan ini kaum intelektual boleh menyampaikan pendapat mereka untuk kompromis pada Partai yang menekannya sebab ingin menghindar dari penindasan yang kejam. Namun ironisnya kebijakan ini gagal. Sebab kaum intelektual tidak puas dan banyak yang mengkritiknya. Mao berpendapat bahwa dia sudah dikhianati oleh mereka dan kemudian dia melakukan balas dendam. Ada 700.000 kaum intelektual ditangkapI dan disuruh mengikuti kerja paksa di wilayah pedesaan.

Kegagalan Mao
Tahun 1958 Mao mengeluarkan “Lompatan Jauh ke Depan” di mana wilayah pedesaan direorganisasi total. Di mana mana Mao mendirikan komune (perkumpulan perkumpulan desa). Ternyata secara ekonomis semuanya gagal. Komune komune menjadi satuan satuan yang sangat besar dan tidak dapat diurusi. Hampir 20 juta penduduk Cina mati dengan sia sia.

Mao percaya tentang revolusi yang bersifat kekal. Dia juga mempercayai bahwa setiap revolusi dapat menyebabkan kaum kontra revolusioner. Oleh sebab itu secara teratur Mao memberantas dan menangkapi lawan lawan politiknya serta kaum kontra revolusioner atau para pengkhianat. Kejadian yang sangat dramatis dan mengesankan hati adalah ketika Revolusi Kebudayaan tahun 1966. Masa itu adalah masa banyaknya mahasiswa di seluruh dunia yang ingin memberontak kepada The Establishment atau kelompok yang memerintah.

Para dosen dan mahasiswa mendirikan unit paramiliter yang disebut Garda Merah. Dengan bekal Buku Merah Mao, Garda Merah menyerang kaum kapitalisme dan pengaruh pengaruh Barat serta kaum kontra revolusioner. Tahun 1966 Garda Merah sangat membabi buta saat memberantas kaum kontra revolusioner sehingga menyebabkan negara Cina dalam keadaan gawat dan hampir hancur, perekonomian pun tidak jalan. Akhirnya Mao Tse Tung terpaksa menurunkan Pasukan Pembebasan Rakyat guna mengatasi mereka dan menanggulangi fanatisme mereka. Akibatnya yaitu perang saudara yang berakhir tahun 1968.

Warisan Mao Tse Tung dan Republik Rakyat Cina saat ini
Tahun 1976 Mao Tse Tung meninggal dunia. Sesudah kematiannya, Republik Rakyat Cina menjadi lebih terbuka. Sehingga tahun 1992 terjadi normalisasi hubungan diplomatik bersama Indonesia. Pada masa sekarang Cina tampil menjadi raksasa yang seperti baru terbangun dari tidurnya. Pertumbuhan ekonominya sangat cepat. Bahkan Cina mampu mengalahkan Rusia dalam hal perkembangan ekonominya.
Biografi Napoleon Bonaparte

Biografi Napoleon Bonaparte

Napoleon Bonaparte lahir tahun 1769 di Ajaccio, Corsica, Perancis. Tahun 1785 setelah tamat dari akademi militer di Perancis, pada usia muda 15 tahun, Napoleon menjadi tentara Perancis dengan pangkat letnan.

Pada tahun 1793 Napoleon memperlihatkan kebolehannya, dalam peperangan di Toulon . Pada waktu itu Perancis berhasil merebut kembali kota Toulon dari tangan Inggris. Keberhasilan yang didapatnya di Toulon menyebabkan dirinya diangkat menjadi Brigjen. Pada tahun 1796 Napoleon diberi beban berupa tanggung jawab menjadi Komando tentara Perancis di negeri Italia. Di Italia itu, tahun 1796 sampai 1797, Napoleon berhasil menghasilkan beberapa kemenangan yang membuatnya menjadi seorang pahlawan saat kembali ke Perancis.

Tahun 1798 Napoleon memimpin penyerangan Perancis ke Mesir. Ternyata langkah ini menjadi malapetaka. Di darat, pasukan Napoleon berhasil, tapi di laut, Angkatan Laut Inggris pimpinan Lord Nelson mengobrak abrik armada Perancis. Tahun 1799 Napoleon pulang ke Perancis meninggalkan pasukannya di Mesir.

Ketika tiba di Perancis, Napoleon berkesimpulan bahwa rakyat Perancis lebih teringat kemenangan kemenangannya di Italia daripada kegagalannya di Mesir. Berdasar pada fakta ini, sebulan setelah dia sampai di Perancis, Napoleon ikut ambil bagian dalam merebut kekuasaan pemerintahan bersama Albe Sieyes dan lainnya. Perebutan kekuasaan ini melahirkan pemerintahan baru yang disebut “Consulate” sedangkan Napoleon Bonaparte menjadi Konsul pertama. Meskipun konstitusi telah disusun dan diterima melalui persetujuan suara rakyat, ini hanyalah topeng untuk menutup - nutupi aksi kediktatoran Napoleon yang dengan cepat melumpuhkan lawan lawannya.

Naiknya Napoleon menjadi Kaisar Perancis benar benar menakjubkan. Pada bulan Agustus 1793, sebelum perang di Toulon, Napoleon tidak dikenal orang. Dia hanyalah seorang perwira rendah berusia 24 tahun dan bukan sepenuhnya warga Perancis. Namun, kurang dari 6 tahun kemudian dalam usia 30 tahun telah berubah nasib menjadi penguasa Perancis.

Pada masa kekuasaannya, Napoleon Bonaparte melakukan perombakan secara besar besaran terhadap sistem administrasi pemerintahan dan hukum Perancis. Misalnya, merombak struktur kehakiman dan keuangan, mendirikan Bank Perancis, membangun Universitas Perancis, dan melakukan sentralisasi administrasi. Walaupun setiap perubahan ini bermakna sangat penting dan dalam beberapa hal mempunyai pengaruh jangka panjang untuk Perancis, tapi perubahan tersebut tidak mempunyai pengaruh yang berarti bagi negara lain.

Tapi ada salah satu perombakan Napoleon yang mempunyai daya pengaruh ke negara lain, yaitu penyusunan Code Napoleon. Dalam banyak hal, code Napoleon ini mencerminkan ide ide Revolusi Perancis. Contohnya, berdasarkan code ini, tidak ada yang namanya hak hak istimewa berdasarkan asal usul dan kelahiran, semua orang sama derajatnya di mata hukum. Di samping itu code Napoleon mempunyai kemiripan dengan hukum hukum lama dan adat adat kebiasaan warga Perancis. Oleh karena itu code Napoleon diterima rakyat Perancis dan diterima sistem pengadilannya. Code Napoleon itu terorganisir rapi, moderat, ditulis dengan jelas, ringkas, mudah dipahami, dan bisa diterima. Akibatnya, code ini tidak hanya berlaku di Perancis, tapi juga diterima di negara negara lain.

Politik Napoleon selalu meyakinkan bahwa dialah yang membela Revolusi Perancis. Tapi, pada tahun 1804 dia sendiri juga yang mendeklarasikan diri sebagai Kaisar Perancis. Napoleon juga mengangkat 3 saudaranya ke tahta kerajaan di beberapa negara negara Eropa. Langkah ini menumbuhkan rasa tidak senang terhadap sebagian orang orang dari Republik Perancis yang menganggap itu sepenuhnya adalah pengkhianatan ide ide dan tujuan dari Revolusi Perancis. Namun, kesulitan yang dihadapi Napoleon adalah pertempuran dengan negara negara asing.

Tahun 1802, Napoleon menandatangani persetujuan damai dengan Inggris di Amiens. Tapi, di tahun selanjutnya perjanjian damai terputus dan pertempuran pun terjadi lagi. Meskipun tentara Napoleon berulang kali memenangi pertempuran di darat, Perancis tidak bisa mengalahkan Inggris ketika perang di laut. Bahkan pada peperangan yang sulit di Trafalgar tahun 1805, tentara laut Inggris meraih kemenangan besar atas Perancis.

Enam minggu kemudian, Napoleon berhasil mendapat kemenangan besar di Austerlitz melawan Rusia dan Austria. Meski begitu Napoleon tidak bisa menghapus kekalahannya pada waktu melawan Inggris di sektor armada laut. Tahun 1808 Napoleon melibatkan Perancis ke dalam pertempuran panjang dan tidak menentu di Semenanjung Iberia. Di tempat tersebut, tentara Perancis tidak bisa bergerak selama bertahun tahun.

Namun, kesalahan terbesar Napoleon adalah serbuannya ke Rusia. Pada tahun 1807 Napoleon bertemu dengan Czar, dan melakukan perjanjian Tilsit. Mereka bersepakat menjalin persahabatan abadi. Namun, tahun 1812 perjanjian itu rusak, Napoleon memimpin pasukan besar menyerang Rusia. Tentara Rusia menghindari pertempuran langsung dengan tentara Napoleon, oleh karena itu Napoleon bisa maju dengan cepat dan berhasil menduduki Kota Moskow. Namun, orang Rusia sudah meratakan kota itu dengan tanah.

Setelah 5 minggu di Moskow, Napoleon akhirnya mundur, tapi terlambat. Gabungan antara gempuran tentara Rusia dan udara dingin yang kejam, dan tidak adanya suplai makanan di Moskow menyebabkan tentara Perancis mundur morat marit. Akhirnya hanya kurang dari 10% saja tentara Perancis yang bisa keluar dari Rusia dalam keadaan hidup.

Sadar ada kesempatan, Austria dan Prusia menggabungkan kekuatan melawan Napoleon. Dan Napoleon kalah saat perang di Leipzig pada bulan Oktober 1813. Tahun selanjutnya dia berhenti lalu dibuang di Pulau Elba, Italia. Tahun 1815 dia melarikan diri dari Pulau Elba dan kembali ke Perancis. Di Waterloo, Napoleon mendapat kekalahan yang mematikan. Napoleon kemudian dipenjara oleh Inggris di Saint Helena, pulau kecil di sebelah selatan Samudera Atlantik. Di St Helena dia meninggal tahun 1821 karena penyakit kanker.
Biografi Adolf Hitler

Biografi Adolf Hitler

Adolf Hitler, ada banyak kontroversi dan masih misterius berkaitan dengan tokoh ini. Adolf Hitler lahir tahun 1889 di Braunau, Austria. Pada masa remajanya, ia adalah seorang seniman yang gagal dan pada usianya yang masih muda dia adalah seorang nasionalis Jerman yang sangat fanatik.

Pada masa Perang Dunia pertama, Hitler masuk Angkatan Bersenjata Jerman, sempat terluka dan mendapat 2 medali karena keberaniannya dalam berperang. Kekalahan Jerman membuat dirinya terpukul dan geram. Pada tahun 1919 ketika usianya 30 tahun, Hitler bergabung dengan sebuah partai kecil yang berhaluan kanan di kota Munich. Partai ini lalu berubah nama menjadi Partai Buruh Nasionalis Jerman (NAZI). Dalam waktu 2 tahun dia langsung menanjak menjadi pemimpin tanpa saingan atau disebut juga “Fuehrer”.

Partai NAZI dalam kepemimpinan Hitler, mampu secara cepat menjadi sebuah kekuatan dan bahkan pada bulan Nopember 1923 melakukan percobaan kudeta, tapi percobaan penggulingan pemerintahan gagal. Kudeta itu dikenal dengan nama “The Munich Beer Hall Putsch”. Karena gagal, Hitler ditangkap, dianggap pengkhianat, dan terbukti bersalah. Namun, sesudah kurang dari 1 tahun, ia dikeluarkan dari penjara.

Pada tahun 1928 terjadi depresi besar besaran yang membuat rakyat sangat tidak puas dengan kinerja partai partai politik yang besar dan mapan. Dalam situasi seperti itu partai NAZI semakin bertambah kuat. Pada bulan Januari 1933, dalam usia 40 tahun Hitler menjadi Kanselir Jerman.

Melalui jabatan Kanselir itu, Hitler dengan cekatan dan cepat membentuk kediktatoran memanfaatkan aparat pemerintah untuk melabrak semua oposisi. Proses ini dilakukan seringkali dengan mengabaikan prosedur pengajuan pengadilan, mengabaikan hak - hak mempertahankan diri dari tuduhan kriminal, dan mengabaikan kebebasan sipil. Banyak lawan - lawan politiknya dipukul dan dibunuh langsung di tempat. Meskipun begitu, sebelum terjadi Perang Dunia ke-2, Hitler mendapat dukungan sebagian besar penduduk Jerman sebab berhasil menekan pengangguran dan telah melakukan perbaikan perbaikan bidang ekonomi.

Hitler lalu merancang cara menaklukkan wilayah Eropa yang akhirnya berakibat pada terjadinya Perang Dunia ke-2. Negara pertama yang dia rebut tanpa lewat pertempuran sama sekali. Inggris dan Perancis telah terkepung oleh kesulitan ekonomi. Karena Inggris dan Perancis menginginkan perdamaian, maka mereka tidak mau ambil pusing ketika Hitler mengkhianati Perjanjian Versailles dengan jalan membangun tentara Jerman. Begitu juga mereka tidak peduli ketika Hitler menduduki dan memperkuat benteng Rhineland tahun 1936, mencaplok Austria pada Maret 1938, mencaplok Sudetenland, benteng perbatasan Cekoslowakia.

Perjanjian internasional “Pakta Munich” yang oleh Perancis dan Inggris diharapkan mampu menghasilkan “Perdamaian sepanjang masa” ternyata dibiarkan terinjak injak. Beberapa bulan kemudian Hitler merampas sebagian Cekoslowakia. Perancis dan Inggris berusaha mempertahankan target Hitler selanjutnya, yaitu Polandia. Tetapi berkat taktiknya, Hitler bersama Stalin dari Uni Soviet berhasil menaklukkan Polandia tahun 1939. Puncak kehebatan Hitler terjadi di tahun 1940, angkatan bersenjatanya berhasil menyerang Norwegia, Denmark, Belgia, Belanda, Luxemburg, dan bahkan Perancis.

Inggris juga menjadi sasaran Hitler melalui operasi militer Operation Seelowe (Operasi militer Singa Laut). Tapi Inggris melakukan pertahanan secara mati - matian dari serangan pasukan Jerman melalui pertempuran “Battle of Britain”, yaitu pertempuran udara paling hebat sepanjang sejarah. Adu kekuatan antarap pasukan Angkatan Udara Inggris (RAF) melawan pasukan Angkatan Udara Jerman skuadron Luftwaffe yang populer. Meski sebagian wilayah Inggris rata dibom Jerman, tapi Hitler tidak berhasil menaklukkan Inggris.

Pada bulan April 1941 Pasukan Jerman berhasil menaklukkan Yunani dan Yugoslavia. Dua bulan berikutnya, Hitler melanggar “Perjanjian tidak saling menyerang” dengan negara Uni Soviet, dan menyerbu Uni Soviet. Pasukan Jerman bisa menduduki sebagian luas wilayah Uni Soviet namun tidak sanggup melumpuhkannya sebelum musim dingin.

Pada bulan Desember 1941, meski sedang bertempur melawan Inggris dan Rusia, Hitler menyatakan perang dengan Amerika Serikat. Beberapa hari berikutnya Jepang menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat, di Pearl Harbor.

Tahun 1942, Jerman telah menguasai sebagian besar Eropa yang tidak pernah dilakukan dalam sejarah. Dia juga menguasai Afrika Utara. Titik balik pertempuran terjadi di paruh kedua tahun 1942 ketika Jerman kalah dalam pertempuran di Al-Alamin Mesir dan Stalingrad Rusia. Meskipun kekalahan Jerman sudah tak bisa dihindari lagi, Hitler menolak untuk menyerah. Hitler meneruskan menggasak selama 2 tahun sesudah Stalingrad. Pada tanggal 30 April 1945 Hitler melakukan bunuh diri bersama isterinya, Eva Braun di Berlin. Tujuh hari setelah Hitler mati, Jerman akhirnya menyerah kalah. Selama masa kekuasaannya, Hitler terlibat dalam pembunuhan massal yang tidak ada tandingannya di dunia. Dia terlalu rasialis dan fanatik. Kemampuannya sebagai orator sangat luar biasa. Tapi cara kotor yang dilakukannya dalam mendapatkan kekuasaan, dan mempertahankannya menjadikan dirinya sebagai lambang pemimpin diktator yang kejam.
Biografi Lenin

Biografi Lenin

Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin lahir di Simbirsk, Rusia, adalah seorang pemimpin politik di Rusia yang hidup pada tahun 1870 sampai tahun 1924. Dia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas munculnya Komunisme di Rusia. Lenin termasuk penganut Karl Marx yang setia dan gigih, dia meletakkan dasar dasar politik yang hanya dapat dibayangkan oleh Karl Marx saja. Lenin menyebarkan Komunisme dengan cepat ke seluruh dunia. Lenin memang orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia, bahkan jasadnya diawetkan dan dipamerkan di Rusia.

Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri yang taat tapi kakaknya, Alexander seorang radikal yang dikenai hukuman mati sebab ikut ambil bagian dalam pembunuhan terhadap Tsar. Ketika berusia 23 tahun Lenin sudah menjadi pengikut Marxis yang berkobar - kobar. Pada bulan Desember 1895, ia ditangkap pemerintah Tsar karena kegiatannya yang revolusioner dan dipenjara selama 14 bulan. Setelah itu Lenin dibuang ke Siberia.

Selama dibuang 3 tahun di Siberia, Lenin mengawini wanita yang juga memiliki paham revolusioner dan menulis buku berjudul Pertumbuhan Kapitalisme di Rusia. Setelah masa pembuangannya berakhir tahun 1900, beberapa bulan berikutnya, Lenin berkelana melakukan perjalanan ke wilayah Eropa Barat. Selama 17 tahun berkelana, Lenin menjadi mahaguru revolusioner. Pada waktu Partai Buruh Sosial Demokrat di Rusia pecah menjadi 2 bagian, Lenin yang merupakan anggota partai tersebut, menjadi pemimpin dari bagian pecahan Partai yang lebih besar, yaitu Bolsheviks.

Terjadinya Perang Dunia I membuat peluang besar menjadi lebih terbuka untuk Lenin. Perang ini merupakan malapetaka baik di bidang militer maupun ekonomi bagi Rusia, dan menyebabkan rasa ketidakpuasan rakyat terhadap sistem pemerintahan Tsar. Akhirnya pada bulan Maret 1917 Pemerintahan Tsar digulingkan dan untuk sementara, tampaknya Rusia dipimpin oleh pemerintah demokratis. Mendengar jatuhnya pemerintahan Tsar, Lenin dengan cepat pulang ke Rusia. Ketika sampai di Rusia, dia dengan cepat menyimpulkan bahwa partai - partai demokratis meski telah mendirikan pemerintahan sementara, tetapi partai - partai demokratis tidak memiliki daya kekuatan yang cukup. Situasi ini sangat bagus bagi partai Komunis yang mempunyai pegangan disiplin yang kuat untuk menguasai keadaan meski anggotanya masih sedikit. Oleh karena itu, Lenin mendorong kelompok Bolshevik agar maju menggulingkan pemerintahan sementara lalu menggantinya dengan pemerintahan yang Komunis.

Pada bulan Juli 1917 Lenin melakukan percobaan pemberontakan namun tidak berhasil dan terpaksa menyembunyikan diri. Percobaan ke-2 pada bulan Nopember 1917 Lenin berhasil dan menjadi kepala negara yang baru. Sebagai Kepala Pemerintahan, Lenin sangat keras namun di sisi lain dia sangat pragmatis. Awalnya ia mengajukan tekanan yang tidak kenal kompromi tentang adanya masa transisi singkat untuk menuju masyarakat yang perekonomiannya sepenuhnya berdasar pada sosialisme. Ketika perekonomian sosialis tidak jalan, Lenin dengan luwes mengambil jalan sistem perekonomian campuran kapitalis sosialis. Sistem ini berjalan di Rusia selama beberapa tahun.

Pada bulan Mei tahun 1922 Lenin sakit keras selama 2 tahun sehingga antara tahun 1922 hingga meninggalnya tahun 1924, Lenin tidak bisa melakukan apa - apa. Ketika meninggal, jasadnya dibalsem dan dipelihara, kemudian dibaringkan di musoleum Lapangan Merah sampai sekarang. Ciri penting dari tokoh Lenin adalah dia orang yang bertindak cepat, dialah orang yang membentuk pemerintahan Komunis di Rusia. Lenin menganut ajaran Karl Marx lalu menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata politik praktis. Sejak Nopember 1917 terjadi ekspansi kekuatan Komunis ke berbagai negara. Kini, sepertiga penduduk dunia berpaham Komunis.

Ide Lenin perihal kediktatoran sebenarnya lebih penting daripada politik ekonominya. Ciri pokok pemerintahan Rusia tidak terletak di bidang politik ekonominya tapi ciri pokoknya lebih pada teknik mempertahankan kekuasaan politiknya dalam waktu yang tak terbatas. Terhitung sejak Lenin hidup, tidak ada satu pun pemerintahan Komunis di mana pun di dunia ini, yang apabila sudah berdiri dengan kokohnya dapat digulingkan. Melalui pengawasan yang cermat kepada semua lembaga kekuasaan di dalam negeri seperti media massa, gereja, bank, serikat buruh dan sebagainya, pemerintah Komunis sepertinya telah mengikis kemungkinan - kemungkinan penggulingan pemerintahan. Meskipun ada titik titik lemah pada kekuatannya, namun tidak seorang pun yang mampu menemukannya.

Selama hidupnya Lenin adalah seorang yang tekun dan pekerja keras. Dia telah menulis buku sebanyak 55 jilid. Dia mengabdikan semua hidupnya demi tujuan tujuan revolusi, meski dia mencintai keluarganya, Lenin tidak ingin pekerjaannya terganggu.
Biografi Abdul Haris Nasution

Biografi Abdul Haris Nasution


Jendral Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 1918. Nasution merupakan jendral idealis yang taat beribadah. Ia tak pernah tergiur terjun pada dunia bisnis untuk memperkaya dirinya. Pernah di rumah Pak Nasution ada tangan jahil yang memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nasution pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari - hari, Nasution membuat sumur dibelakang rumah. Sumur tersebut masih ada hingga sekarang.

Tragis memang keadaan Pak Nasution. Ia dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal, ia sendirilah yang menjadi pelopor Orba. Ia sendiri hampir menjadi korban pasukan pemberontak yang di pimpin Kolonel Latif. Ia pula yang memimpin MPRS yang memberhentikan Soekarno dari jabatannya sebagai presiden tahun 1967.

Nasution, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, saat melepas tujuh jenderal pada saat peristiwa G30SPKI, dan yang kedua saat kedatangan pengurus pimpinan KNPI di rumahnya mengenai penulisan buku Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan yang ia tulis.

Lalu, apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Nasution merasa bersalah, karena konsepnya yang memberikan peran ganda pada pihak militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran Tentara menyimpang dari konsep dasar yang lebih membela penguasa daripada rakyat.

Nasution memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomer wahid Orba. Akan tetapi, Soeharto memberikan kepada dirinya gelar Jenderal Besar kepada Nasution menjelang akhir hayatnya. Meskipun dibenci oleh pemerintahan Orba, Nasution menyangkal peran Soeharto memimpin pasukan Wehrkreise yang melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.

Jenderal A.H Nasution sebagai Peletak Dasar Perang Gerilya pada Kolonialisme Belanda
Nasution dalam bukunya berjudul Strategy of Guerilla Warfare menjelaskan bagaimana gagasan dan konsep perang gerilya. Buku ini menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi milier dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Ia juga tak mengelak bahwa ialah konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk pada masa reformasi dengan alasan penyimpangan terhadap konsep dasar ABRI.

Pada tahun 1948, Nasution pernah memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Pada September 1965, ia masuk pada daftar nama - nama Jenderal yang dibunuh PKI. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma saat peristiwa G30SPKI yang meletus pada tahun 1965.

Setelah selesai memimpin MPRS pada tahun 1972, Nasution yang pernah duduk sebagai pemimpin TNI selama 13 tahun ini tersisih dari panggung kekuasaannya. Ia kemudian menyibukkan diri menulis memoar. Hingga pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangannya telah beredar. Kelima memoar tersebut merupakan kenangannya Masa Muda, Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orba. Dua yang lain, Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan masih dalam pengerjaan. Ada beberapa buku yang terbit sebelumnya seperti Pokok - Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Profil Jenderal Nasution
Nasution berasal dari keluarga yang taat beribadah. Ayahnya merupakan anggota dari pergerakan Sarekat Islam di kampung halamannya di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Ia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Nasution senang membaca sejarah. Ia melahap buku - buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW hingga perang kemerdekaan Belanda dan Perancis.

Setelah AMS-B (SMA Paspal) pada tahun 1938, Nasution menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Namun, ia kemudian tertarik masuk dalam Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, pada tahun 1942. Sebagai seorang taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kalahnya Belanda yang memalukan dari Jepang bahwa tantara yang tidak mendapat dukungan dari rakyat pasti kalah.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948) , saat ia memimpin Divisi Siliwangi, Nasution menarik pelajaran keuda. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasan melakukan perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Metode perang ini kemudian dikembangkan lebih luas ketika ia menjadi Panglima Komando Jawa pada masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949).

Nasution muda, cinta dengan Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Nasution gemar bermain tenis. Pasangan ini mulai berkenalan dan jatuh cinta setelah pertemuan di lapangan tenis (Bandung) sebelum menikah. Pasangan ini dikaruniai dua anak yang salah satunya menjadi korban G30SPKI.

Menjadi pengagum Soekarno semasa muda, Nasution setalah masuk ke jajaran TNI seringkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama tersebut. Nasution menganggap Soekarno terlalu ikut campur dalam hal internal Angkatan Darat yang ia pimpin pada tahun 1952. Soekarno berada dibalik "Peristiwa 17 Oktober" yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Soekarno kemudian memberhentikannya dari KSAD.

Bung Karno akur lagi dengan Nasution, ia lantas mengangkat Nasution kembali pada posisinya, KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Nasution dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya kembali tidak akur usai pembebasan Irian Barat lantaran Nasution menganggap Bung Karno memberikan angin kepada PKI, musuh dari Angkatan Darat.

Namun, pada situasi tersebut, Nasution tetap berusaha jujur pada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakui sebagai pemimpin besar. Suatu hari pada tahun 1960, Nasution menjawab pertanyaan wartawan Amerika, "Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan".

Nasution meninggal pada tanggal 6 September 2000. Ia tak mewariskan materi kepada keluarganya melainkan perjuangan dan idealisme. Rumahnya yang beralamat di Jalan Teuku Umar, Jakarta tetap dibiarkan kusam, tak direnovasi.

Biodata Jenderal Abdul Haris Nasution
Nama : Abdul Haris Nasution
Tempat, Tanggal Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal : Jakarta, 6 September 2000
Pangkat : Jenderal Bintang Lima
Istri : Ny Johanna Sunarti

Pendidikan
  • HIS, Yogyakarta (1932)
  • HIK, Yogyakarta (1935)
  • AMS Bagian B, Jakarta (1938)
  • Akademi Militer, Bandung (1942)
  • Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
  • Universitas Padjajaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
  • Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
  • Universitas Mindano, Filipina (1971)
 Karir :
  • Guru di Bengkulu (1938) 
  • Guru di Palembang (1939-1940)
  • Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
  • Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
  • Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
  • Wakil Panglima Besar / Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyaarta (1948)
  • Panglima Komando Jawa (1948-1949)
  • KSAD (1949-1952)
  • KSAD (1955-1962)
  • Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
  • Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
  • Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi  (1962-1963)
  • Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
  • Ketua MPRS (1966-1972)