Konsep Perubahan dan Keberlanjutan dalam Sejarah

Konsep Perubahan dan Keberlanjutan dalam Sejarah

Dalam catatan – catatan peristiwa masa lalu manusia terdapat konsep perubahan dan keberlanjutan. Perubahan dapat dikatakan sebagai gejala yang biasa terjadi dalam setiap masyarakat manusia. Cepat atau lambat, manusia atau masyarakat akan mengalami perubahan. Perubahan dalam masyarakat akan terus berlangsung seiring dengan perjalanan waktu.

A. Perubahan dalam sejarah
Perubahan ini dapat diartikan sebagai segala aspek kehidupan yang terus bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan masyarakat dan membuat perbedaan. Perubahan dapat terjadi secara cepat maupun lambat. Sebagai contoh peristiwa pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Peristiwa tersebut berimbas pada menyerahnya Jepang kepada sekutu. Yang dimaksud konsep perubahan dalam contoh diatas adalah ketika Jepang di bom oleh Sekutu dalam waktu singkat Jepang mengaku kalah dan menyerah kepada sekutu. Perubahan tersebut tergolong singkat. Sedangkan contoh lain adalah penerapan politik etis di Hindia Belanda yang mendorong adanya kebangkitan nasional pada awal abad XX.

B. Berkelanjutan dalam sejarah
Dalam mempelajari sejarah, rangkaian peristiwa yang ada merupakan peristiwa yang berkelanjutan. Kehidupan manusia saat ini merupakan mata rantai dari kehidupan masa lampau, sekarang dan masa mendatang. Setiap peristiwa tidak berdiri sendiri dan tidak terpisahkan dari peristiwa lain.

Roeslan Abdul Gani menyatakan ilmu sejarah dapat diibaratkan sebagai penglihatan terhadap tiga dimensi, yaitu penglihatan ke masa silam, masa sekarang, dan masa depan. Hal ini sejalan dengan Arnold J. Toynbee yang mengatakan bahwa mempelajari sejarah adalah mempelajari masa lampau, untuk membangun masa depan (to study history is to study the past to build the future). Selain membahas manusia atau masyarakat, sejarah juga melihat hal lain yaitu waktu. Waktu menjadi konsep penting dalam ilmu sejarah. Sehubungan dengan konsep waktu, dalam ilmu sejarah menurut Kuntowijoyo meliputi perkembangan, keberlanjutan/kesinambungan, pengulangan dan perubahan.

Adapun konsep keberlanjutan adalah kebalikan dari konsep perubahan, yaitu suatu keadaan yang telah berlangsung lama. Contoh konsep keberlanjutan adalah Wangsa Syailendra berkuasa di Jawa selama sekitar 250 tahun. Konsep keberlanjutan digambarkan sebagai garis lurus hingga terjadi perubahan yang digambarkan dengan zig – zag.

Perubahan dan keberlanjutan dapat kita ketahui dengan membandingkan dua atau lebih peristiwa atau keadaan pada masa lampau. Selain itu, perbandingan juga dapat dilakukan antara dua atau lebih peristiwa masa lalu dan peristiwa masa kini. Contohnya, untuk mengetahui perkembangan bahasa Indonesia, kita dapat membandingkan kebijakan pemerintah kolonial Belanda dengan pemerintah pendudukan Jepang. Selain itu kita juga dapat membandingkan perkembangan bahasa Indonesia pada masa kebangkitan nasional dengan masa sekarang.

Periodisasi adalah cara untuk menandai perubahan dan keberlanjutan dalam sejarah. Periode sejarah ditentukan oleh perubahan penting. Adapaun keberlanjutan menghubungkan periode – periode dalam sejarah. Sebagai contoh, masa kerajaan Hindu Buddha hingga masa kerajaan Islam. Selama sejarah panjang masa Hindu Buddha disebut sebagai konsep keberlanjutan sedangkan ketika Islam masuk dan meruntuhkan pengaruh Hindu Buddha di Indonesia hal tersebut digambarkan sebagai konsep perubahan.
Corak Kehidupan Masyarakat Praaksara

Corak Kehidupan Masyarakat Praaksara

Masa praaksara merupakan masa dimana belum dikenalnya tulisan oleh manusia. Berdasarkan corak kehidupannya, masyarakat praaksara dibagi menjadi masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan beternak, dan masa kemahiran teknik (masa undagi). Corak kehidupan manusia berlangsung dari cara yang paling sederhana hingga pembuatan alat – alat yang berasal dari logam. Pada awalnya manusia hidup berpindah – pindah hingga pada akhirnya menetap dengan membuat rumah. Dari awalnya mendapatkan makanan dengan cara berburu hingga menghasilkan makanan sendiri.

1. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Kehidupan manusia pada masa awal sangat sederhana dan sangat tergantung pada alam. Manusia hidup dengan cara berpindah – pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan makanan (food gathering). Manusia purba pada saat itu hidup berkelompok di sekitar aliran sungai yang subur dan gua – gua karang agar terhindar dari hujan dan panas serta binatang buas. Dinding gua biasanya terdapat lukisan yang terbuat dari daun – daunan.

Alat yang digunakan pada saat berburu dan meramu adalah alat – alat berupa kapak perimbas atau kapak genggam yang terbuat dari batu yang dihaluskan dan tidak memiliki tangkai. Kapak perimbas ditemukan di sekitar Pacitan dan Ngandong oleh von Koenigswald. Selain kapak genggam juga ditemukan pula alat – alat yang terbuat dari tulang yang digunakan sebagai alat serpih, alat penusuk, alat melubangi (gurdi) dan sebagai pisau. Alat lain yang digunakan pada masa berburu dan meramu adalah Kjokkenmoddinger atau sampah dapur berupa tumpukan kulit kerang.

2. Masa Bercocok Tanam dan Beternak
Masa selanjutnya adalah masa bercocok tanam dan beternak yang telah merevolusi peradaban yaitu perubahan masa mengumpulkan makanan (food gathering) ke menghasilkan makanan sendiri (food producing), perubahan dari hidup berpindah – pindah (nomaden) ke hidup menetap (sedenter). Pada masa ini manusia sudah tidak bergantung pada alam. Mereka menghasilkan makanan sendiri dengan cara bercocok tanam dan beternak. Pada masa ini manusia sudah bisa membuat rumah serta sudah mengenal sistem barter atau tukar menukar barang.

Alat yang digunakan pada masa bercocok tanam dan beternak diantaranya kapak persegi, kapak lonjong dan mata panah. Kapak lonjong dan kapak persegi digunakan pada bidang pertanian. Kedua kapak ini sudah dibuat halus pada bagian tertentu. Kapak persegi banyak tersebar di wilayah – wilayah Indonesia bagian timur. Pada masa itu telah dikenal teknik pembuatan gerabah dan diperkirakan manusia pada saat ini sudah mengenal bahasa untuk komunikasi.

3. Masa Perundagian
Kata perundagian berasal dari kata undagi yang berarti tukang atau orang yang memiliki keterampilan dalam hal tertentu. Masing – masing orang telah memiliki keterampilan dalam masing – masing bidang sehingga memiliki spesialisasi tersendiri. Kehidupan masa purba telah teratur dan hidup secara permanen. Sistem irigasi mulai diperkenalkan pada masa ini. Peninggalan pada masa perundagian berupa alat – alat logam. Pembuatan peralatan berbahan logam tersebut menggunakan teknik a cire perdue dan bivalve. Alat – alat yang dihasilkan diantaranya nekara, moko, kapak perunggu atau kapak corong, cendrasa, mata panah dan tombak, perhiasan dan alat – alat pertanian.
Pengaruh Hindu Buddha dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Pengaruh Hindu Buddha dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Pengaruh masuknya Hindu Buddha terhadap kehidupan masyarakat Indonesia :

1. Bidang Agama
Sebelum ajaran Hindu Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat pribumi menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Namun, setelah Hindu Buddha masuk ke Indonesia, kepercayaan animisme dan dinamisme tidak sepenuhnya ditinggal melainkan bercampur (akulturasi) diantara keduanya. Hal ini dapat dilihat pada pemujaan dewa - dewa dan roh nenek moyang yang berbeda dengan yang dilakukan di negara India, negara asal Hindu Buddha.

2. Bidang Politik / Pemerintahan
Sebelum Hindu Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia menganut sistem kesukuan atau kelompok - kelompok yang dipimpin oleh kepala suku. Namun setelah Hindu Buddha masuk ke Indonesia, kepala suku diganti menjadi raja yang dianggap keturunan dewa yang memiliki kekuatan, suci dan hampa. Hal tersebut tentunya memperkuat kedudukan raja untuk memerintah wilayah kerajaan secara turun temurun.

3. Bidang Sosial
Setelah Hindu Buddha masuk ke Indonesia, tata kehidupan masyarakat Indonesia pun berubah. Pada masyarakat pribumi saat Hindu masuk pribumi diperkenalkan sistem kasta dan dalam masyarakat Buddha diperkenalkan golongan biksu dan biksuni.

4. Bidang Arsitektur
Pengaruh Hindu Buddha terlihat pada arsitektur bangunan candi. Dapat dilihat pada unsur punden berundak pada Candi Borobudur yang merupakan pengaruh dari kebudayaan Indonesia.

5. Bidang Seni Rupa / Lukis
Pengaruh Hindu Buddha terlihat pada seni arsitektur relief Borobudur, dimana penggambaran relief cerita Sang Buddha Gautama pada relief Borobur lebih menggambarkan alam Indonesia dari pada India.

6. Bidang Bahasa
Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia meninggalkan prasasti - prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Bahasa Sansekerta tersebut kemudian berkembang dan berakulturasi dengan bahasa lokal seperti bahasa Melayu, bahasa Jawa kuno, dan bahasa - bahasa lain di Indonesia. Kalimat - kalimat serapan dari bahasa Sansekerta diantaranya Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dsb.

7. Bidang Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar pada bidang sastra. Kisah - kisah terkenal seperti Kitab Ramayana dan Mahabarata mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak masuknya Hindu dan Buddha. Kemunculan kitab - kitab tersebut memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya - karya pujangga Indonesia diantaranya :
  • Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa
  • Sotasoma, karya Mpu Tantular
  • Negarakertagama, karya Mpu Prapanca
8. Bidang Astronomi
Pengaruh astronomi pada agama Hindu Buddha yang masuk ke Indonesia terlihat pada sistem kalender. Indonesia mengadopsi sistem Saka yang digunakan di India. Disamping itu ada pula sistem Candra Sengkala pada bangunan peninggalan Hindu Buddha.
Pengertian Kronologis (Diakronis), Sinkronik, Ruang dan Waktu

Pengertian Kronologis (Diakronis), Sinkronik, Ruang dan Waktu

A. Konsep Kronologis (Diakronis)
Kronologi diambil dari bahasa Yunani yaitu kronos / chronos yang berarti waktu dan logos yang berarti ilmu. Maka kronologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari waktu atau sebuah kejadian pada waktu tertentu. Kronologi adalah catatan kejadian - kejadian yang diurutkan sesuai dengan waktu terjadinya.

Sejarah mengajarkan kepada kita untuk berfikir kronologis (diakronis) yaitu berfikir secara runtut, teratur dan berkesinambungan. Konsep kronologis dalam sejarah akan memberikan gambaran secara utuh tentang suatu peristiwa bersejarah dari tinjauan aspek tertentu sehingga kita dapat dengan mudah memahami, menarik manfaat dan makna dari suatu peristiwa. Adapun dalam keseharian, berfikir diakronis atau berfikir secara kronologis sangat diperlukan jika kita ingin memecahkan suatu masalah. Tanpa berfikir secara runtut dan berkesinambungan dalam mengidentifikasi suatu permasalahan, kita akan kesulitan memecahkan suatu masalah atau bahkan mendapatkan solusi yang tidak tepat.

Galtung mengemukakan, diakronis berasal dari bahasa Yunani. kata "dia" berarti melintasi atau melewati dan "kronos" berarti perjalanan waktu. Dengan demikian diakronis dapat diartikan sebagai suatu peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa - peristiwa sebelumnya dan tidak berdiri sendiri atau timbul secara tiba - tiba. Sebab dalam sejarah, selain meneliti gejala - gejala yang memanjangkan waktu, tetapi juga ruang yang terbatas.

Konsep diakronis melihat bahwa peristiwa dalam sejarah mengalami perkembangan dan bergerak sepanjang masa. Dari proses inilah manusia dapat membandingkan dan melihat perkembangan kehidupan manusia dari zaman ke zaman.

Contoh berpikir kronologis diakronis :
Peristiwa proklamasi kemerdekaan RI dilatarbelakangi oleh menyerahnya Jepang kepada sekutu, kemudian para pemuda bereaksi atas menyerahnya Jepang, terjadilah peristiwa Rengasdengklok yaitu penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, dan pada akhirnya diputuskan untuk penyusunan teks proklamasi serta melakukan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Adapun ciri - ciri diakronis diantaranya :
  • Mengkaji dengan berlalunya masa
  • Menitikberatkan pada pengkajian peristiwa sejarahnya
  • Bersifat historis atau komparatif
  • Bersifat vertikal
  • Terdapat konsep perbandingan
  • Cakupan kajian lebih luas
Cara Berfikir Diakronis / Kronologis
  • Mempelajari kehidupan sosial secara memanjang dan berdimensi waktu
  • Memandang masyarakat sebagai sesuatu yang terus bergerak dan memiliki hubungan kausalitas atau sebab akibat
  • Menguraikan proses transformasi yang terus berlangsung dari waktu ke waktu kehidupan
  • Menguraikan kehidupan masyarakat secara dinamis
  • Digunakan dalam ilmu sejarah
B. Konsep Sinkronik
Konsep berfikir sinkronik artinya mempelajari peristiwa sejarah pada kurun waktu tertentu saja dan khas ilmu sosial. Cara berfikir ilmu - ilmu sosial sinkronik melebar dalam ruang, serta mementingkan struktur dalam satu peristiwa.

Berbeda dengan peristiwa diakronik dimana satu peristiwa memiliki hubungan dengan peristiwa lain, pada konsep sinkronik tidaklah demikian. Dalam konsep berfikir sinkronik yang akan dipelajari dalam kurun waktunya saja secara mendetail tanpa perlu membandingkan dengan peristiwa sejarah lain.

Contoh :
Ketika kita mengkaji mengenai peristiwa G30SPKI, maka konsep sinkronik akan mempelajari peristiwa tersebut secara mendetail dengan menggunakan konsep 5 W + 1 H.

C. Konsep Ruang
Konsep ruang meliputi aspek lingkungan, lokasi, dan tempat terjadinya suatu peristiwa sejarah. Kajian yang diambil pada konsep ruang lebih dititik beratkan pada aspek tempat terjadinya suatu peristiwa sejarah. Konsep ruang dalam sejarah akan membantu dalam membandingkan antara peristiwa yang terjadi di satu lokasi dengan peristiwa sejarah di lokasi lainnya serta mengetahui apakah ada hubungan antara peristiwa di lokasi satu dengan yang lain. Sejarah lokal dapat diangkat menjadi sejarah nasional karena pengaruhnya pada wilayah lain, begitu juga sejarah nasional dapat dijadikan sejarah internasional karena mempengaruhi daerah lain yang berpengaruh sangat besar.

Contoh:
Peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya merupakan sejarah lokal yang diangkan menjadi sejarah nasional karena pengaruhnya yang sangat besar terhadap daerah lain dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI pada saat itu.

Perang Dunia I dan II merupakan sejarah negara bagi negara - negara yang berkonflik. Namun Perang Dunia I dan II dijadikan sebagai sejarah internasional karena mempengaruhi negara - negara lain di dunia.

D. Konsep Waktu
Konsep waktu dalam sejarah sangat diperlukan sebagai pengelompokan - pengelompokan berdasarkan waktu (pembabakan / periodisasi) suatu peristiwa sejarah dan urutan waktu terjadinya peristiwa sejarah (kronologis / diakronis). Konsep waktu sangat penting untuk menghindari terjadinya tumpang tindih peristiwa sejarah (anakronis).

Contoh
Periodisasi masa pra aksara :
  1. Zaman batu tua (Paleolitikum)
    Masa dimana peralatan manusia masih menggunakan peralatan dari batu yang belum dihaluskan.
  2. Zaman batu menengah (Mesolitikum)
    Pada zaman ini batu sebagai alat yang digunakan pada kegiatan sehari - hari sudah dihaluskan pada salah satu sisinya.
  3. Zaman batu muda (Neolitikum)
    Pada zaman ini peralatan manusia sudah dihaluskan kedua sisinya.
  4. Zaman batu besar Megalitikum)
    Zaman batu besar yaitu penggunaan batu - batu berukuran besar yang difungsikan sebagai upacara kepercayaan.
Dari periodisasi tersebut dapat dilihat bahwa ada perkembangan kemampuan manusia bertahap dari waktu ke waktu. Pembabagan tersebut didasarkan pada rentang waktu peristiwa sejarah.

E. Konsep Perubahan dalam Sejarah
Perubahan dalam sejarah dapat diartikan sebagai aspek kehidupan yang bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan manusia. Seorang filsuf bernama Heraclitus mengatakan "Panta rei", artinya tidak ada yang tidak berubah, semua mengalir, masyarakat sewaktu - waktu bergerak dan berubah. Wertheim juga menuliskan, History is continuity and change yang berarti sejarah adalah peristiwa yang berkesinambungan dan perubahan.

Perkembangan dalam kehidupan ada yang berjalan lambat dan ada yang berjalan cepat. Arah perubahan dibedakan menjadi dua yaitu yang lebih baik (progres) dan yang lebih buruk (regres).

F. Konsep Keberlanjutan dalam Sejarah
Dalam peristiwa sejarah, satu peristiwa sejarah akan berlanjut pada peristiwa sejarah yang lain. Peristiwa sejarah akan berdiri sendiri namun tidak terpisah dari peristiwa sejarah lain. 
Perubahan Kur-13 Sejarah SMK menjadi Kurikulum 13 SMK Sejarah Indonesia (Perbaikan 2017)

Perubahan Kur-13 Sejarah SMK menjadi Kurikulum 13 SMK Sejarah Indonesia (Perbaikan 2017)

Berikut ini adalah perubahan kurikulum pada Kurikulum 2013 mata pelajaran Sejarah Indonesia yang mengalami revisi atau perbaikan. Silahkan di simak :


















Dari perubahan kurikulum diatas dapat disimpulkan bahwa pelajaran Sejarah Indonesia hanya ada di kelas X untuk kurikulum 2013. Pembelajaran sejarah yang seharusnya dilakukan selama 6 semester diperingkas menjadi 2 semester tepatnya pada kelas X saja. 


Apa itu Prasasti?

Apa itu Prasasti?

Pengertian Prasasti
Kata “prasasti” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “pujian”, namun pada perkembangannya prasasti kemudian dianggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang – undang, dan tulisan”. Ada beberapa istilah serupa dalam bahasa asing seperti bahasa Latin prasasti disebut inskripsi, Malaysia menyamakan prasasti dengan batu bersurat atau batu bertulis.

Prasasti merupakan piagam atau dokumen tertulis yang biasanya berupa batu ataupun logam. Prasasti biasanya dikeluarkan oleh seorang raja didaerah kekuasaannya sebagai simbol pengaruh politik di wilayah tersebut. Prasasti yang dikeluarkan oleh raja biasanya memberikan informasi tentang kegiatan kerajaan, silsilah atau ketatanegaraan, sosial masyarakat dan keagamaan suatu kerajaan.

Sebagian prasasti yang telah terbaca juga memuat tentang keputusan suatu wilayah menjadi daerah perdikan atau daerah sima yang terbebas dari pajak kerajaan yang diberikan kepada masyarakat yang berjasa. Kerena itu daerah perdikan dilindungi oleh kerajaan. Epigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang prasasti.

Fungsi Prasasti
  • Menggambarkan peristiwa penting pada masa lampau. 
  • Mengungkap sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan serta mengandung unsur penanggalan.
  • Sumber primer sejarah.
Bahan Pembuat Prasasti
Prasasti pada umumnya berasal dari batu dan logam, selain itu ada juga yang terbuat dari kertas, daun dan lontar. Prasasti batu selain berjenis batu andesit juga terdapat jenis lain seperti batu kapur, batu pualam dan batu basalt. Prasasti berbahan batu disebut upala prasati, prasati berbahan logam baik itu tembaga, perak, emas ataupun perunggu disebut tamra prasasti, sedangkan yang ditulis di daun tal atau lontar disebut ripta prasasti.

Bahasa dan Aksara Prasasti
Bahasa sangat berperan dalam menyampaikan isi dari suatu prasasti. Prasasti yang ditemukan pada periode awal umumnya menggunakan bahasa Sansekerta, bukan bahasa lokal suatu daerah. Bahasa Sansekerta (ada juga yang menyebut sanskrit) merupakan bahasa penghubung dan bahasa global pada masa lampau yang digunakan oleh para ahli agama dan terpelajar. Mungkin posisi bahasa Sansekerta pada masa lampau dapat disamakan dengan bahasa Latin pada masa kedepannya dan bahasa Inggris pada masa sekarang.

Hal ini seakan memberikan kesan bahwa terdapat pembedaan antara rakyat jelata dan penguasa. Periode yang dianggap paling aktif dan produktif mengeluarkan prasasti adalah periode ke 8 hingga ke 14 Masehi. Aksara yang paling banyak digunakan pada prasasti adalah Sansekerta, Pallawa, Pranagari, Melayu Kuno, Jawa Kuno (Kawi), Sunda Kuno dan Bali Kuno. Bahasa yang digunakan juga beragam seperti bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, Sunda Kuno dan Bali Kuno.

Berikut ini klasifikasi prasasti berdasarkan bahasa yang digunakan :
  • Sansekerta diantaranya Prasasti Mulawarman (Kutai), Prasasti Kebon Kopi, Tugu, Cidanghiyang, Ciaruteun, Cianten, Jampu, dan Pasir Awi (Tarumanegara) dan lain – lain.
  • Melayu Kuno diantaranya Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur, Karang Brahi dan Telaga Batu (Sriwijaya) dan lain – lain. 
  • Jawa Kuno diantaranya Prasasti Sukabumi, Kanyumwunga, Siwargha, Mantyasih, Rukam dan lain – lain. 
  • Sunda Kuno diantaranya Prasasti Astana Gede, Batutulis, Prasasti Cikajang, Blanjong dan lain – lain.
Memasuki masa Islam, penulisan prasasti berganti menggunakan aksara dan bahasa arab atau aksara arab berbahasa Melayu (Pegon). Prasati tersbut biasanya ditulis di lempengan – lempengan tembaga, nisan, hiasan dinding masjid, cap kerajaan, mata uang, senjata meriam dan lain – lain.

Pada masa kolonialisme, aksara latin telah menggantikan aksara – aksara sebelumnya dan bahasanya pun menggunakan bahasa negara – negara kolonialis seperti bahasa Inggris, Belanda, Portugis yang kemudian membaur bersama bahasa lokal dan menghasilkan bahasa – bahasa Nusantara.
Pengertian dan Fungsi Yupa

Pengertian dan Fungsi Yupa

Pengertian dan Fungsi Yupa
Yupa adalah tugu batu yang digunakan sebagai peringatan yang dibuat oleh para pendeta Brahmana di Kerajaan Kutai. Yupa sama dengan tugu monumen batu. Yupa di Kerajaan Kutai dibuat oleh para Brahmana guna memperingati kedermawanan raja Mulawarman. Yupa berupa tiang batu yang berfungsi sebagai tempat mengikat hewan kurban yang dipersembahkan kepada para dewa. Yupa merupakan salah satu bentuk kebudayaan megalithikum di Indonesia yang berakulturasi dengan agama Hindu.

Yupa di Kerajaan Kutai menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta yang menginformasikan kejadian pada zaman dahulu. Di Kerajaan Kutai, pada masa pemerintahan Mulawarman, beliau menyedekahkan sebanyak 20 ribu ekor sapi kepada para Brahmana. Peristiwa tersebut diabadikan didalam yupa. Tulisan pada yupa menggunakan huruf kuno Pallawa yang saat ini sudah banyak diterjemahkan oleh para paleontologis sehingga generasi saat ini dapat mengetahui kisah para raja yang merujuk pada yupa di Kerajaan Kutai, di daerah Kalimantan Timur tepatnya di pedalaman sungai Mahakam.

Yupa dan Prasasti
Banyak yang menganggap bahwa yupa dan prasasti adalah sama, sebenarnya keduanya memiliki perbedaan. Dari segi fisik, yupa merupakan salah satu peninggalan kerajaan Hindu berupa monumen batu yang dikhususkan pada Kerajaan Kutai yang mengisahkan mengenai kondisi Kerajaan Kutai pada masa lampau. Sedangkan prasasti merupakan peninggalan kerajaan Hindu lainnya. Oleh karena itu jangan menyamakan keduanya karena dari bentuk fisiknya pun sudah berbeda.

Yupa Kerajaan Kutai
Keberadaan Kerajaan Kutai mulai terkuak setelah didapatkannya informasi dari yupa di Kalimantan Timur. Namun, yupa tersebut tidak menginformasikan mengenai kapan dinasti Kutai berdiri. Yupa hanya menyebutkan Kudungga sebagai pendiri Kerajaan Kutai. Sebanyak tujuh yupa ditemukan di Indonesia. Ketujuh yupa tersebut menjadi sumber sejarah Kerajaan Kutai yang dianggap sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Namun kondisi yupa yang ditemukan sebagian telah rusak oleh faktor usia yang telah lama terkubur di dalam tanah. Yupa banyak bercerita mengenai raja Mulawarman dan Aswawarman atas keluhuran budinya. Aswawarman merupakan anak Kudungga, pendiri Kerajaan Kutai dan memiliki julukan Wangsakerta yang berarti "pembentuk keluarga". Namun diperkirakan Kudungga saat itu belum menganut ajaran agama Hindu. Aswawarman memiliki tiga putera dan dari ketiga anaknya yang paling terkenal adalah Mulawarman yang dikenal sebagai sosok raja yang murah hati.