Biografi Nelson Mandela

Biografi Nelson Mandela

Nelson Rolulahla Mandela lahir pada tanggal 18 Juli 1918 di Mvezo dan meninggal pada tanggal 5 Desember 2013. Ayahnya bernama Gadla Henry Mphakanyiswa yang merupakan seorang kepala suku setempat serta anggota dewan kerajaan. Sedangkan ibunya bernama Nosekeni Fanny.

Nelson Mandela merupakan anak terakhir dari tiga belas bersaudara dari keempat istri ayahnya. Ia terlahir dari keluarga Kerajaan Thembu dan bersuku Xhosa, salah saku suku yang berbahasa Xhosa di Afrika Selatan. Suku ini kemudian dikenal dengan suku Tambookie pada abad ke - 19.

Ketika Mandella dilahirkan di Mvezo, Transkei pada 18 Juli 1918, Mandella kemudian dipindah ke Qunu saat berumur 9 tahun. Masa kecil Nelson Mandela dihabiskan bersama dua saudarinya di Desa Qunu, Afrika Selatan dan seringkali mengembala sapi bersama teman - temannya. Ia memiliki nama kehormatan di klannya yaitu Madiba. Mandela merupakan orang pertama dalam keluarganya yang bersekolah sedangkan saudaranya kebanyakan buta huruf karena tidak bersekolah.

Sejak umur 7 tahun, Mandela bersekolah di methodis dan ia kemudian di baptis serta mendapat nama "Nelson" dari gurunya yang seorang metodis. Walaupun sudah memiliki nama baptis, Mandela lebih sering dipanggil Madiba ketika bersama kelompok sesukunya. Ketika berumur 9 tahun, ayah Mandela meninggal karena sakit yang tak diketahui. Mandela meyakini ayahnya terkena serangan paru - paru. Setelah ayahnya meninggal, Mandela merasa terabaikan. Ibunya kemudian mengirimnya ke istana "Great Place" di Mqhekezewni dan diasuh oleh kepala suku Jongintaba Dalindyebo.

Nelson Mandela menganggap bahwa ia diperlakukan layaknya anak kandung oleh Jongintaba dan istrinya Noengland. Di Mqhekezweni, Mandela belajar Bahasa Inggris, Xhosa, sejarah dan geografi. Ia mulai tertarik pada sejarah Afrika setelah mendengar cerita dari pengunjung istana tua dan mulai terpengaruh retorika anti imperialisme Kepala Suku Joyi. Namun ia masih menganggap bahwa orang Eropa sebagai penolong bukan penindas.

Ketika berumur 16 tahun, Mandela, Justice dan teman - temannya berangkat ke Tyhalarha untuk menjalani ritual sunat sebagai simbolis bahwa mereka telah dewasa kemudian setelah ritual, Mandela diberi nama "Dalibunga".

Pendidikan Nelson Mandela
Nelson Mandela masuk Clarkebury Boarding Institute dan mempelajari kebudayaan barat pada umur 16 tahun. Setelah menyelesaikan sekolahnya selama dua tahun, Mandela pada tahun 1937 pindah ke Healdtown, perguruan Methodis di Fort Beaufort yang juga dihadiri sebagian besar keluarga dari raja Thembu, termasuk Justice. Selama di Healdtown, ia lebih banyak belajar mengenai superioritas budaya dan pemerintahan Inggris. Namun Nelson Mandela justru lebih tertarik pada budaya Afrika pribumi.

Pada tahun 1934, Nelson Mandella memulai program B.A (Bachelor of Arts) di Fort Hare University dimana ia bertemu Oliver Tambo dan K.D. Matanzima yang merupakan kawan dan kolega setianya. Di sana, ia belajar mengenai Bahasa Inggris, antropologi, politik, pemerintahan pribumi dan hukum Belanda Romawi pada tahun pertama. Bahkan ia mengutarakan ingin menjadi penerjemah atau juru tulis di Departemen Urusan Pribumi.

Nelson Mandela mengambil kelas tari ballroom serta terlibat dalam pementasan Abraham Lincoln. Setelah menentang kebijakan - kebijakan universitas seperti terlibat dalam aksi boikot SRC (Students Representive Councill) terhadap kualitas makanan, ia kemudian diminta untuk keluar dan Mandela pun pindah ke Johannesburg serta melanjutkan studinya ke University of South Africa setelah mengambil studi hukum di Universitas of the Witswatersrand.

Kegiatan Politik Nelson Mandela
Pada awalnya, Nelson Mandela berfikir bahwa Britania bukanlah kolonialis Afrika Selatan. Namun setelah ia melihat bagaimana perlakuan kulit putih (read: Britania) kepada kulit hitam yang dikenal dengan gerakan apartheid, akhirnya ia tersadar dan Mandela memutuskan bergabung dalam organisasi African National Congress yang bergerak memperjuangkan kemerdekaan Afrika Selatan.

Setelah bergabung dengan ANC, Mandela semakin dipengaruhi pemikiran Sosilu dan banyak menghabiskan waktu bersama Sosilu termasuk dengan teman lamanya Oliver Tambo. Pada tahun 1943, Mandela bertemu Anton Lembede, seorang nasionalis yang menentang front ras bersatu dalam kolonialisme dan imperialisme atau aliran dengan kaum komunis.

Meski Nelson Mandela berteman dengan orang - orang kulit putih dan orang komunis, Nelson Mandela mendukung sepenuhnya pandangan Lembede, dan percaya bahwa rakyat Afrika Selatan harus bebas dari penjajahan Britania dan menentukan nasibnya sendiri.

Di rumah Sosilu, Mandela berkenalan dengan seorang wanita bernama Evelyn Mase, seorang perawat sekaligus aktivis ANC dari Engcobo, Transkei. Keduanya kemudian menikah pada tanggal 1944, dan dari Evelyn Mase mendapatkan anak pertama bernama, Madiba "Thembi" Thembekile yang lahir pada bulan Februari 1946, dan seorang putri bernama Makazie yang lahir tahun 1947 namun meninggal setelah 9 bulan kemudian akibat penyakit miningitis.

Dalam rapat umum Durban, Nelson Mandela berpidato dihadapan 10.000 orang dan berkampanye memprotes pemerintahan, karena kegiatan anti apartheidnya, Mandela kemudian ditangkap. Seiring berjalannya waktu, banyak aktivis ANC yang tertangkap. Dari anggota ANC sebanyak 20.000 berkurang menjadi 10.000. Pemerintah melakukan penangkapan masal dan mengeluarkan Undang Undang Keselamatan Umum 1953 untuk melegalkan penangkapan tersebut dengan menerapkan darurat militer.

Mandela berulangkali ditahan karena melakukan aktivitas menghasut. Mandela diadili di pengadilan pada tahun 1955 hingga 1961 dan pada akhirnya ia divonis bersalah. Pada tahun 1961, Mandela dan Partai Komunis Afrika Selatan mendirikan militan Umkhonto we Sizwe.

Pada tanggal 5 Agustus 1962, Mandela dipenjarakan di Marshall Square Johannesburg Fort atas tuduhan melakukan penghasutan kepada buruh untuk melakukan mogok kerja serta keluar negeri tanpa izin. Kemudian pada tanggal 25 Oktober 1962, ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara, dan pada tanggal 12 Juni 1964, ia dijatuhi hukuman seumur hidup.

Pada bulan Februari 1985, Mandela menolak pembebasan dengan syarat menghentikan perjuangan bersenjata. Mandela dibebaskan pada 11 Februari 1990 atas perintah Presiden Willem de Klerk setelah mendapat tekanan dari seluruh dunia. Mandela dan Klerk kemudian mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 1993 dan melakukan pemilu multi ras pada tahun 1994.

Nelson Mandela terpilih sebagai presiden dan menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak Mei 1994 hingga Juni 1999. Mandela menjadi presiden kulit hitam pertama dengan Klerk sebagai Deputi presiden. Mandela juga dianggap sebagai tokoh anti diskriminasi orang kulit hitam atau apartheid. Pemerintahan Mandela berfokus pada usaha penghapusan apartheid dengan memberantas rasisme, kemiskinan dan kesenjangan serta rekonsiliasi

Permasalahan AIDS menjadi permasalahan yang paling disesalkan Mandela karena ia tidak terlalu memperhatikan masalah tersebut. Anak Mandela, Makgatho Mandela meninggal pada tangga 6 Januari 2005 setelah terserang AIDS.

Akhir Apartheid
Nelson Mandela banyak mendapat pendukung dari Zambia, Zimbabwe, Namibia, Libya, dan Aljazair. Kemudian ketika Mandela pergi ke Swedia, ia bereuni dengan Tambo lalu ketika di London, ia tampil dalam sebuah konser An International Tribute for a Free South Africa di Wembley Stadium.

Saat mendorong negara - negara lain untuk mendukung sanksi terhadap pemerintah apartheid, di Prancis Mandela disambut oleh presiden Prancis Francois Mitterrand, di Kota Vatikan ia disambut oleh Paus Yohanes Paulus, sedangkan di Inggris ia bertemu dengan Margaret Thatcher. Saat di Amerika, ia bertemu dengan presiden George H.W.Bush dan berpidato dalam Kongres, ia sangat terkenal di kalangan masyarakat Afrika - Amerika.

Saat di Kuba, Mandela bertemu dengan Fidel Castro yang telah lama ia kagumi dan keduanya kemudian bersahabat. Di Asia Mandela bertemu dengan Presiden R.Venkataraman dari India, Presiden Soeharto dari Indonesia, dan Perdana Menteri Mahathir Mohammad di Malaysia sebelum mengunjungi Australia dan Jepang. Pada bulan Mei 1990, Mandela memimpin sebuah delegasi multirasial ANC dengan 11 pria Afrikaner pemerintah. Ia membuat terkesan Afrikaner pada sejarah Afrika serta berujung adanya pencabutan Groot Schur Minute atau pemerintah mencabut keadaan darurat.

Pada konferensi nasional ANC yang dihelat pada bulan Juli 1991 di Durban, Mandela diangkat menjadi presiden ANC menggantikan Tambo yang sakit dan eksekutif nasional multigender dan multiras dipilih bersama - sama. Mandela menempati markas ANC yang saat itu dibeli di Shell House, Johannesburg.

Pada Bulan Desember 1991, bertempat di Johannesburg World Trade Center diselenggarakan CODESA (Convention for a Democratic South Africa) yang dihadiri oleh 228 delegasi dari 19 partai politik. Dari organisasi ANC sendiri dipimpin oleh Cyril Ramaphosa. Pada penutupan, De Klerk berpidato yang intinya De Klerk mengutuk kekerasan yang dilakukan ANC.

CODESA 2 diadakan pada bulan Mei 1992, De Klerk memaksa Afrika Selatan pasca apartheid harus memakai sistem federal dan meminta jaminan keselamatan kaum minoritas, Nelson Mandela menolak dan menuntut hukum sepenuhnya dikuasai oleh kaum mayoritas. Setelah terjadi peristiwa pembantaian Boipatong yang dilakukan militan Inkatha yang dibantu ANC, Mandela membatalkan negosiasi tersebut sebelum menghadiri pertemuan Organitation of African Unity di Sinegal.

Pada bulan Juli 1993, Nelson Mandela serta De Klerk mengunjungi Amerika Serikat untuk menemui Bill Clinton secara terpisah dan masing - masing mendapatkan Liberty Medal dan Hadiah Perdamaian Nobel di Norwegia.

Pemerintahan Nelson Mandela
Nelson Mandela merupakan presiden dengan kulit hitam pertama di Afrika Selatan yang menjabat selama lima tahun pada periode 1994 hingga 1999. Mandela dilantik di Pretoria pada tanggal 10 Mei 1994. Mandela bukanlah presiden yang memiliki pengalaman dalam bidang pemerintahan. Setelah menjabat sebagai presiden, Mandela memilih untuk hidup dalam keluarga yang sunyi di wilayah antara Johannesburg dan Qunu. Ia kemudian menulis otobiografi berjudul The Presidential Years namun ditinggalkan begitu saja sebelum diterbitkan.

Nelson Mandela menganggap bahwa hidup sendiri dalam sunyi lebih sulit, lalu ia beralih ke kehidupan sosial dengan menyibukkan keseharian dengan bertemu pemimpin dunia dan selebriti, serta di Johannesburg ia bekerja pada Nelson Mandela Foundation yang didirikan pada tahun 1999 yang berfokus pada pemberantasan penyakit HIV/AIDS, pembangunan desa dan pembangunan sekolah.

Pada tahun 2002, Ia meresmikan Nelson Mandela Annual Lecture serta Mandela Rhodes Foundation yang didirikan pada tahun 2003 di Rhodes House, University Oxford yang berfokus pada beasiswa pasca sarjana pada mahasiswa Afrika.

Pernikahan Nelson Mandela
Mandela menikah pertama kali dengan Evelyn Ntoko Mase dan bercerai pada tahun 1957 setelah menjalani pernikahan selama 13 tahun. Pernikahan kedua yaitu dengan Winnie Madikizela dan bercerai pada tahun 1996 terhitung pernikahannya berjalan selama 38 tahun. Pada ulang tahunnya ke 80, Mandela menikah dengan Graca Machel, seorang janda dari mantan Presiden Mozambik Samora Machel yang juga seorang kawan ANC.

Kematian Nelson Mandela
Nelson Mandela memutuskan untuk pensiun dari dunia sosial pada bulan Juli 2004 karena kesehatannya yang semakin memburuk. Pada tanggal 5 Desember 2013, Mandela diberitakan meninggal pada usia 85 tahun. Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma memberitakan secara resmi kematian mantan presiden tersebut.
Biografi Alfonso de Albuquerque

Biografi Alfonso de Albuquerque

Alfonso de Albuquerque lahir pada tahun 1453 di Alhandra, dekat Lisbon, Portugal. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Goncalo de Albuquerque dan Dona Leonor de Menezes. Ayahnya merupakan orang penting di Kerajaan Portugis dan memiliki darah Kerajaan Portugis. Alfonso belajar matematika dan latin klasik pada masa kekuasaan Afonso V dari Portugal.  Ketika Afonso V meninggal, ia kemudian bekerja di Arzila, Marok hingga beberapa saat dan kembali lagi ke Portugal serta diangkat menjadi kepala penasihat untuk raja Joao II dari Portugal.

Ekspedisi Alfonso de Albuquerque
Pada tahun 1503, Alfonso de Albuquerque berangkat pada ekspedisi pertamanya ke Timur yang nantinya akan membuat namanya terkenal dan mengalami kejayaan bagi Portugis. Alfonso berlayar hingga sampai ke Tanjung Harapan dan India. Tujuan ekspedisi Alfonso adalah melakukan perang dengan Zamorin di Calicut, India.

Pada akhirnya, pasukan Alfonso mampu mengalahkan Zamorin dan mengangkat Raja Kochi naik tahta. Sebagai imbalan atas bantuan yang diberikan, Alfonso diijinkan untuk membangun benteng pertahanan di Cochin dan melakukan perdagangan.

Pada tanggal 4 November 1509, Alfonso de Albuquerque diangkat sebagai Gubernur Portugis di India atas jasanya menaklukkan daerah perdagangan pantai timur Afrika serta pulau Ormuz di Teluk Persia. Pada Januari 1510, Alfonso ditugaskan kembali menaklukkan Calicut yang telah dikuasai kembali Zamorin.

Untuk pertama kalinya, usaha Alfonso gagal dan ia mengalami luka yang cukup parah. Alfonso kembali menyusun kekuatan dengan mengandalkan prajurit sebanyak 1200 dan kapal sebanyak 30. Alfonso memilih menyerang Goa namun serangannya tak berhasil. Pada tanggal 25 November, tiga bulan setelah kekalahan Alfonso, datang bantuan kapal dari Kerajaan Portugis yang lebih modern. Alfonso kembali melakukan perang dengan Goa dan kurang dari sehari, Goa mampu dikalahkan.

Pada bulan Februari 1511, Alfonso mendapat kabar adanya penangkapan seorang Portugis di Malaka. Alfonso ditugasi untuk melepaskan tawanan tersebut. Pada bulan April 1511, setelah memperkuat kedudukan di Goa, Alfonso membuat pasukan perang untuk menyerang Malaka. Pasukan ini terdiri dari 900 tentara Portugis dan 200 tentara bayaran dari India. Pada bulan yang sama berangkatlah Alfonso dan pasukannya ke Malaka.

Sesampainya di Malaka, Alfonso memberi komando untuk mendekat ke kota pelabuhan Malaka. Pasukan Affonso menembaki pelabuhan dengan meriam dan meminta agar tawanan Portugis di bebaskan. Pada akhirnya, pasukan Sultan Mahmud Shah membebaskan tawanan dan melarikan diri.
Peta Perjalanan Alfonso de Albuquerque

Setelah peristiwa tersebut, Alfonso memerintahkan pasukannya untuk melakukan ekspedisi ke Maluku guna mencari sumber rempah - rempah. Ia mengirim dua kapalnya ke Maluku dan berhasil dengan kapal yang terisi penuh oleh rempah - rempah. Alfonso juga mendirikan benteng di Malaka dan sekitarnya, ia kembali ke Goa dan melakukan penaklukan lagi termasuk penakluan terhadap daerah Ormuz.

Akhir Petualangan Alfonso
Alfonso de Albuquerque ternyata memiliki banyak musuh di Portugal tak terkecuali bagian pengadilan pemerintah Portugal. Di Portugal, Alfonso diberitakan pernah melakukan serangan ke pengadilan pemerintahan Portugis di India. Raja Manuel I kemudian menyatakan Alfonso de Albuquerque digantikan oleh musuhnya Lopo Soares de Albergaria.

Mendengar hal tersebut seakan mendapat pukulan berat, Alfonso yang sakit kemudian semakin parah hingga meninggal di laut pada tanggal 16 Desember 1515. Dalam perkembangannya Raja Manual I sadar akan kesalahpahaman tersebut dan kemudian memberi banyak pujian kepada Alfonso yaitu Bras de Albuquerque. Ia menyebut Alfonso itu dengan Afonso karena terkenang ayahnya.
Museum Sangiran

Museum Sangiran

Museum Sangiran berlokasi di Sragen, Jawa Tengah. Museum Sangiran merupakan museum purbakala dengan koleksi fosil manusia purba yang lengkap baik di lingkup Asia maupun di dunia. Museum dengan moto The Homeland of Java Man ini memberikan data lengkap mengenai kehidupan manusia purba, dari tempat tinggal, pola kehidupan pada masa berburu dan meramu. Museum Sangiran akan memberikan informasi mengenai bentang alam dari masa pliosen akhir hingga masa pleistosen akhir atau sekitar 2 juta tahun yang lalu.

Museum Manusia Purba Sangiran berdiri pada kawasan Kubah Sangiran. Kawasan Kubah Sangiran terletak pada Depresi Solo dengan luas sekitar 56 km2 di Gunung Lawu pada sekitar lembah Sungai Bengawan Solo. Secara administratif, letak museum ini berada di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Koleksi Museum Sangiran yaitu dengan fosil lebih dari 13.809 fosil dimana sekitar 2.934 diantaranya dipamerkan di ruang pameran museum, dan sisanya masih disimpan untuk diteliti.

Sebagian fosil manusia purba Sangiran disimpan di Museum Geologi Bandung dan Museum Palaenthropologi Yogyakarta. Tak heran, banyaknya fosil di Sangiran menjadikan Museum Sangiran ini menjadi museum paling lengkap di dunia. UNESCO bahkan memberikan status World Heritage List pada putusan nomor 593, dokumen WHC-96/Conf.201/21 pada tahun 1996.

Kawasan Sangiran memiliki suatu keistimewaan dimana dahulu wilayah ini merupakan kawasan laut yang cukup luas.  Namun, adanya proses geologi dan letusan gunung api seperti Gunung Lawu, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menyebabkan kawasan Sangiran berubah menjadi daratan. Hal ini berakibat wilayah Sangiran memiliki lapisan tanah yang berbeda dengan kawasan - kawasan lain.

Dengan ditemukannya fosil - fosil binatang laut pada lapisan paling bawah mengindikasikan bahwa wilayah Sangiran dulu adalah wilayah laut yang terangkat. Penemuan fosil - fosil manusia purba di Sangiran tidak bisa lepas dari seorang ahli paeoantropologi bernama Gustav Heinrich von Koeningswald yang melakukan penelitian pada tahun 1934. Ia merupakan penemu pertama fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus.

Dengan bangunan yang cukup modern dan dengan fasilitas seperti ruang pameran, ruang laboratorium, ruang pertemuan, ruang display bawah tanah, ruang audio visual serta ruang penyimpanan seakan mengundang para pecinta sejarah untuk melihat koleksi - koleksi fosil Museum Sangiran.

Fosil Kepala Manusa Purba di Museum Sangiran
Secara umum, Museum Sangiran memiliki koleksi fosil manusia purba diantaranya
  • Australopithecus Africanus
  • Pithecanthropus Mojokertensis
  • Meganthropus Palaeojavanicus
  • Pithecanthropus Erectus
  • Homo Soloensis
  • Homo Neanderthal Eropa
  • Homo Neanderthal Asia
  • Homo Sapiens
Yang menarik dari manusia purba Homo Erectus adalah ditemukan sejumlah 100 individu di Sangiran yang mewakili 65% fosil Homo Erectus di Indonesia, serta 50 % fosil Homo Erectus di dunia. Tak heran, situs Sangiran menjadi situs yang penting baik bagi Indonesia maupun dunia. Selain menyimpan fosil manusia purba, Museum Sangiran juga menyimpan beberapa fosil vertebrata diantaranya gajah purba, harimau, babi, badak, sapi, banteng, rusa dan domba. Ada juga fosil binatang air seperti buaya, ikan, kepiting, gigi ikan hiu, kuda nil dan kura - kura serta hewan - hewan molusca. Selain itu juga ditemukan jenis - jenis batuan diantaranya batu meteorit / taktit, kalesdon, diatome, agate dan ametis. Museum Sangiran memberikan informasi mengenai masa berburu dan meramu. Terdapat koleksi alat - alat seperti serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas penetak.
Fosil Hewan - Hewan di Museum Sangiran

Di museum ini juga memiliki ruang pemutaran video yaitu yang mengisahkan tentang terbentuknya daratan Sangiran serta proses pencarian fosil manusia purba. Museum yang memiliki kesan membosankan seakan hilang dengan adanya sentuhan teknologi pada Museum Sangiran ini.

Sumber artikel : http://andikaawan.blogspot.co.id/2013/01/museum-manusia-purba-sangiran-situs.html
Biografi R.A. Kartini

Biografi R.A. Kartini

R.A. Kartini atau Raden Ajeng Kartini merupakan pahlawan nasional yang dikenal dengan gerakan emansipasi wanita. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara. Untuk menghormati jasa - jasanya, pada tanggal kelahiran R.A. Kartini kemudian diperingati sebagai "Hari Kartini". Kartini lahir di tengah - tengah keluarga bangsawan, oleh sebab itu ia memiliki gelar Raden Ajeng pada nama depannya yang ia gunakan sebelum menikah, setelah menikah gelarpun berubah menjadi Raden Ayu menurut tradisi yang ada di Jawa pada saat itu.

Ayah Kartini bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bupati Jepara dan merupakan kakek dari R.A. Kartini. R.M. Sosroningrat merupakan orang terpandang ketika Kartini dilahirkan. Ibu Kartini bernama M.A. Ngasirah yang merupakan anak dari seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Jepara. Menurut sejarah, Kartini masih berkerabat dengan Sultan Hamengkubuwono IV dan bahkan memiliki garis keturunan Majapahit.

Ibu Kartini, M.A. Ngasirah bukan dari golongan bangsawan dan hanya rakyat biasa. Setelah penikahan R.M Sosroningrat dan M.A. Ngasirah berjalan beberapa tahun, Belanda kemudian mengeluarkan aturan bahwa orang - orang dari golongan bangsawan diharuskan menikah dengan sesama bangsawan. Kemudian ayah Kartini menikah dengan seorang wanita bernama R.A. Woerjan yang merupakan keturunan dari Madura.

R.A Kartini memiliki 11 orang saudara kandung dan saudara tiri. R.A. Kartini sendiri merupakan anak kelima, namun ia juga merupakan anak tertua dari 11 saudara. Karena memiliki keturunan bangsawan, R.A. Kartini memiliki hak memperoleh pendidikan. Ayahnya menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah inilah, Kartini belajar Bahasa Belanda hingga ia berumur 12 tahun dan kemudian "dipingit".
Keluarga R.A Kartini
Emansipasi Wanita oleh R.A. Kartini
R.A. Kartini secara aktif melakukan kegiatan surat menyurat dengan temannya yang ada di Belanda. Dari kegiatan inilah, Kartini mulai tertarik dengan para wanita Eropa yang ia baca baik dari surat menyurat, surat kabar, majalah dan buku - buku yang ia baca. Hingga pada akhirnya, Kartini mulai sadar akan nasib pribumi yang kedudukannya tertinggal jauh dan dengan status sosial yang rendah kala itu bila dibandingkan dengan wanita Eropa.

Pada usia 20 tahun, Kartini bahkan sudah banyak membaca buku - buku seperti karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Augusta de Witt serta roman - roman beraliran feminis. Selain itu ia juga sempat membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar. Dari kebiasaan membaca inilah kemudian menumbuhkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan R.A. Kartini. Ia kemudian membandingkan nasib wanita pribumi dan Eropa kala itu.

Kartini menaruh perhatian pada permasalaha sosial yang terjadi pada saat itu, menurutnya wanita pribumi perlu mendapatkan persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum. Surat - surat yang ia tulis lebih banyak bercerita mengenai keluhan - keluhannya dalam melihat kondisi wanita pribumi. Ia berpandangan bahwa kebudayaan Jawa menghambat perkembangan para wanita pribumi kala itu.

Kartini menuliskan bahwa ia dipingit, dibatasi dalam hal ilmu dan belajar, serta adat yang mengekang pergerakan para perempuan. R.A. Kartini memiliki cita - cita akan adanya kesetaraan gender dan perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar layaknya laki - laki. Gagasan mengenai emansipasi wanita oleh Kartini tergolong sebagai hal baru pada saat itu dan merubah pandangan masyarakat. Selain berisi tentang keluhan - keluhannya, tulisan Kartini juga berisi ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan, peri kemanusiaan serta nasionalisme.

Kartini menyinggung soal agama seperti adanya pertanyaan mengenai perilaku poligami dari laki - laki dan mengapa kitab suci harus dibaca dan dihafalkan tanpa berkewajiban untuk memahaminya. Teman Belanda Kartini bernama Rosa Abendon dan Estelle "Stella" Zeehandelaar juga mendukung pemikiran Kartini. Sejarah menyebutkan bahwa orang tuanya mengizinkan Kartini untuk menjadi guru sesuai apa yang ia cita - citakan, dengan syarat tidak untuk melanjutkan studi ke Batavia atau negara Belanda.

Hingga pada akhirnya, Kartini tidak dapat melanjutkan cita - citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau di Belanda meskipun pada saat itu ia mendapat beasiswa untuk belajar disana. Pada tahun 1903, ketika R.A. Kartini berusia 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat yang merupakan bupati Rembang yang telah memiliki tiga istri. Meskipun sudah menjadi seorang istri, suami Kartini memahami keinginan Kartini dan memberi kebebasan untuk mendirikan sekolah pertama di kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Pernikahan R.A. Kartini dan Wafatnya
Atas pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Kartini melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Namun, hanya berselang 4 hari setelah kelahiran anak pertama, R.A. Kartini wafat tepatnya pada tanggal 17 Desember 1904. Kartini wafat pada usia yang terbilang muda yaitu 24 tahun. R.A. Kartini kemudian dikebumikan di Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Berkat perjuangannya, pada tahun 1912 berdirilah Sekolah Wanita yang digagas oleh yayasan Kartini di Semarang yang kemudian meluas hingga ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah - daerah lain. Sekolah ini kemudian dinamakan "Sekolah Kartini" untuk menghormati jasa - jasanya.

Buku "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Sepeninggal R.A. Kartini, seorang pria Belanda bernama J.H. Abendanon, seorang yang menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda mulai mengumpulkan surat - surat yang ditulis R.A. Kartini ketika aktif melakukan kegiatan surat menyurat dengan temannya yang ada di Eropa. Dari sini kemudian disusun buku yang berjudul "Door Duisternis tot Licht" yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia yaitu "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" yang terbit pada tahun 1911. Buku ini dicetak selama lima kali dan pada cetakan kelima terdapat surat - surat yang ditulis oleh Kartini.

Pemikiran Kartini pada saat itu mendapat banyak perhatian orang - orang Belanda. Pemikiran Kartini banyak mengubah persepsi wanita pribumi saat itu. Tulisan R.A. Kartini bahkan menjadi inspirasi tokoh - tokoh Indonesia seperti W.R. Sopratman yang berjudul "Ibu Kita Kartini". Pada tanggal 2 Mei 1964, Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Soekarno juga menetapkan tanggal 21 April sebagai hari peringatan kelahiran R.A. Kartini.


Buku - Buku yang Membahas R.A. Kartini
  • Habis Gelap Terbitlah Terang
  • Surat - surat Kartini, renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
  • Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900 - 1904
  • Panggil Aku Kartini Saja (Karya Pramoedya Ananta Toer)
  • Kartini Surat - Surat kepada Ny. R.M Abendanon - Mandri dan suaminya
  • Aku Mau .... Feminisme dan Nasionalisme. Surat - surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899 - 1903
Perdebatan mengenai surat - surat yang ditulis oleh R.A. Kartini
Banyak perdebatan mengenai surat - surat Kartini yang kemudian dibukukan, sebab hingga saat ini naskah surat - surat Kartini tidak diketahui keberadaannya. Jejak keturunan J.H. Abendanon pun sulit untuk dilacak oleh pemerintah Belanda. Banyak orang yang meragukan akan keberadaan surat - surat Kartini.

Ada juga yang menduga bahwa J.H. Abendanon melakukan rekayasa surat - surat Kartini. Kecurigaan ini didasarkan pada buku yang diterbitkan yang bertepatan dengan adanya politik etis (politik balas budi) pemerintahan Hindia Belanda dimana J.H. Abendanon dianggap memiliki kepentingan dan mendukung politik etis yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran R.A Kartini juga tak lepas dari perdebatan. Ada pihak yang tidak setuju mengenai perayaan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April. Mereka Beralasan bahwa masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat dan berjasa kepada bangsa seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu dan lain - lain. Wilayah perjuangan R.A. Kartini pun hanya terbatas di Jepara dan Rembang saja. Selain itu R.A. Kartini juga dianggap tidak pernah melawan Belanda.

Keturunan R.A Kartini Saat Ini
Seperti yang kita ketahui, Kartini memiliki anak bernama R.M. Soesalit Djojoadiningrat. Soesalit Djojoadiningrat sempat menjadi Mayor Jendral pada saat pendudukan Jepang. Ia memiliki anak bernama Boedi Setiyo Soesalit (cucu R.A. Kartini) yang kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Ray. Sri Biatini Boedi Setio Soesalit. Dari pernikahan tersebut, keduanya memiliki lima anak yang masing - masing bernama R.A. Kartini Setiawati Soesalit, R.M. Kartono Boediman Soesalit, R.A. Roekmini Soesalit, R.M. Samingoen Bawadiman Soesalit dan R.M. Rahmat Harjanto Soesalit.
Sinopsis Film Battle of Surabaya

Sinopsis Film Battle of Surabaya

Film Battle of Surabaya
Sutradara : Aryanto Yuniawan
Produser : Heri Soelistio
Penulis Naskah : M. Suyanto, Aryanto Yuniawan
Pengisi Suara : Alejandro Esteban, Artha Tria, Jason Williams, Sujiwo, Suyik, Maudy Ayunda, Reza Rahadian
Genre : Animasi
Tanggal Rilis : 20 Agustus 2015
Studio : MSV Pictures

Memang sedikit peristiwa sejarah yang di filmkan di Indonesia. MSV Pictures dibawah naungan STIMIK AMIKOM Yogyakarta melihat peluang ini dan memproduksi film yang berjudul Battle of Surabaya yang mengambil alur cerita dari peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Film ini dikemas dalam bentuk animasi yang menawan dan syarat akan nilai - nilai patriotismae dan nasionalisme.

Film Battle of Surabaya menitikberatkan pada aksi heroik seorang penyemir sepatu yang bertugas sebagai kurir pengangkut surat - surat rahasia bernama Musa. Selama masa penjajahan Jepang, Musa hidup dalam tekanan. Musa merupakan tokoh utama yang memiliki jiwa patriotik dengan berdasarkan nilai - nilai ilahi.

Film ini dirilis pada tanggal 20 Agustus 2015. Film bergenre anime ini diisi oleh bintang papan atas seperti Maudy Ayunda dan Reza Rahadian. Sedangkan penulis skenario adalah M. Suyanto dan Aryanto Yuniawan.

Sinopsis Film Battle of Surabaya
Setelah Sekutu mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menyatakan menyerah tanpa tanpa syarat kepada Sekutu. Penyerahan Jepang ditandatangani diatas Kapal USS Missouri. Terjadi kekosongan dan jeda kekuasaan pada saat itu. Indonesia memanfaatkan dengan memerdekakan diri. Indonesia merdeka dan melepaskan diri dari penjajahan Jepang. Tak lama setelah memproklamasikan diri, langit Surabaya kembali memerah oleh Sekutu. Terjadi peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato dan kedatangan Sekutu ditunggangi oleh NICA yang menuntut hak atas Hindia Belanda.

Disisi lain, terjadi gangguan oleh sekelompok pemuda Kapas Hitam, sebuah organisasi para militer Jepang. Arek Suroboyo dibawah komando Panglima Soedirman, Gubernur Suryo, Moestopo, Bung Tomo dan tokoh lain memilih mengobarkan perang terhadap Sekutu dari pada menyera dan menyerahkan senjata mereka kepada Sekutu.

Musa, seorang penyemir sepatu diberi mandat untuk mengantar surat - surat rahasia kepada para tentara dan pejuang Indonesia. Selain itu, musa juga memiliki tugas untuk menyampaikan surat pribadi para pejuang kepada keluarganya. Musa bersama Yumna dan Danu mengalami petualangan hebat dan banyak kehilangan orang - orang yang dicintainya. Penasaran dengan film ini? Silahkan menyaksikan di bioskop - bioskop terdekat.

Trailer Film Battle of Surabaya
3 Kelenteng di Lasem

3 Kelenteng di Lasem

Lasem merupakan sebuah kota kecil yang berada dekat dengan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota ini memiliki sejarah panjang di berbagai zaman. Dikenal sebagai sebuah kerajaan vasal Majapahit pada masa lampau, Kerajaan Lasem berkembang menjadi armada laut yang kuat di Pantai Kairingan dan Teluk Regol. Di akhir kejayaan Majapahit, Lasem bertransformasi menjadi sebuah kadipaten, daerah ini kemudian menjadi pusat persebaran Islam yang tak kalah dengan Demak, Tuban maupun Surabaya. Sejarah Lasem semakin lengkap dengan adanya migrasi orang – orang Tionghoa yang kemudian melebur dan membumi bersama pribumi Jawa dan kaum santri. Kedatangan orang - orang Tionghoa seolah menambah khasanah sejarah Lasem. Banyak peninggalan orang – orang Tionghoa pada masa lampau yang masih bisa kita rasakan saat ini. Salah satu peninggalan tersebut adalah 3 bangunan kelenteng yang tersebar di Lasem. Kelenteng – kelenteng tersebut diantaranya Cu An Kiong, Poo An Bio dan Gie Yong Bio. Berikut ini adalah ulasan singkat mengenai kelenteng – kelenteng di Lasem :

Kelenteng Gie Yong Bio
Kelenteng Gie Yong Bio terletak tepat di pintu masuk Desa Bagan, berada dekat dengan jalur Pantura dan menghadap ke timur. Kelenteng Gie Yong Bio juga disebut Yijong Gong Niao dan Temple of Vallant Men. Kelenteng Gie Yong Byo dibangun pada tahun 1780 untuk mengenang jasa Raden Panji Margono, seorang pribumi jawa yang memperjuangkan tanah Lasem dalam Perang Kuning bersama orang pribumi dan Tionghoa.


Pada saat itu, Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat (Adipati Tumenggung Widyaningrat), dan Tan Kie Wei bahu membahu melawan VOC. Ketiganya kalah dalam Perang Kuning. Untuk mengenang jasanya, orang – orang Tionghoa Lasem kemudian membuatkan sebuah klenteng untuk menyembah Raden Panji Margono yang sangat berjasa, baik ketika menyelamatkan orang – orang Tionghoa dari pembantaian VOC di Batavia maupun ketika Perang Kuning.

Raden Panji Margono dibuatkan sebuah altar tersendiri dalam sebuah ruangan layaknya dewa yang disembah. Dibangunnya Klenteng Gie Yong Byo menandakan adanya keharmonisan dan sinergi antara pribumi dan Tionghoa di Lasem pada masa lampau. Penduduk Tionghoa menyembah Raden Panji Margono dengan alasan bahwa Raden Panji Margono telah mempertahankan nasib orang – orang Tionghoa semasa hidup.

Kelenteng Cu An Kiong
Kelenteng Cu An Kiong terletak di sebelah timur Sungai Babagan, Desa Soditan bersebelahan dengan banguna bersejarah Lawang Ombo. Kelenteng Cu An Kiong didirikan pada tahun 1477 bersumber dari arsip yang tersimpan di Museum Den Haag. Tercatat pada tahun 1838, dilakukan renovasi Kelenteng Cu An Kiong karena sering dilanda banjir. Museum ini diperkirakan didirikan ketika terjadi migrasi kedua orang – orang Cina. Kelenteng Cu An Kiong memiliki bentuk yang unik dengan bangunan bergaya Tiongkok disertai ornamen interior dan eksterior khas, ukiran, lukisan keramik serta kaligrafi yang kental akan budaya Cina. Kelenteng Cu An Kiong dibangun untuk menyembah Dewi Laut, Thian Siang Seng Bo. Perayakan Thiang Siang Seng Bo dilakukan setiap tanggal 23 bulan 3 penanggalan Cina di Kelenteng Cu An Kiong dengan mengadakan sejumlah acara seperti wayang kulit, klonengan dan gamelan.
Sumber : kesengsemlasem.com

Kelenteng Poo An Bio
Kelenteng Poo An Bio terletak di Jalan Karangturi VII No. 13 – 15, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem. Kelenteng ini bersebelahan dengan Vihara Maha Karuna atau Gedung Perdamaian. Kelenteng Poo An Bio diperkirakan didirikan pada tahun 1740 yang ditujukan untuk menyembah Kwee Sing Ong yang merupakan dewa keluarga Kwee, dewa pengaman dari bencana alam.

Biografi Jenghis Khan

Biografi Jenghis Khan

Jenghis Khan merupakan seorang raja dan sekaligus penguasa terbesar daratan Mongol sepanjang sejarah. Jenghis Khan dilahirkan pada tahun 1162. Ia merupakan anak dari seorang kepala suku kecil yang kemudian memberikan nama Temujin kepadanya, setelah ayahnya mengalahkan kepala suku lain. Ketika Temujin berumur 9 tahun, Ayahnya terbunuh oleh suku lain dan keluarga serta saudara – saudaranya mengalami ketakutan dan keterasingan cengkeraman suku lain. Ini merupakan cobaan yang berat bagi Temujin sebelum ia melakukan perubahan yang lebih baik. Ketika ia remaja, ia tertawan oleh pasukan lain ketika berperang.

Untuk mencegah Temujin lolos, digantungkan sebuah gelang ke batang lehernya. Disisi lain, dalam tahanan yang tak tampak jalan meloloskan diri, ia melihat ada sekelompok buta huruf dari negeri kering kerontang yang kemudian ia jadikan pasukan terkuat di dunia.

Kebangkitan Temujin bermula ketika ia dapat meloloskan diri dari tahanan lawan. Kemudian ia bergabung dengan Toghril, teman akrab ayahnya seorang kepala suku yang juga memiliki hubungan daerah dengannya. Pada tahun – tahun berikutnya, Temujin seringkali berperang, berjuang keras selangkah demi selangkah untuk menuju puncak kekuasaan.

Suku Mongol lama, terkenal dengan para penunggang – penunggang kuda yang mahir serta pendekar yang memiliki jiwa kerja keras yang tak kenal ampun. Sepanjang sejarah, mereka tak henti – hentinya menggempur daratan utara Cina. Sebelum munculnya Temujin, mereka seringkali bertempur satu sama lain, menghabiskan waktu dalam pertempuran tiada henti, hingga suatu saat muncul sosok Temujin yang menyatukan pasukan berkuda ini. Dengan kemampuan berdiplomasi, keberanian, dan kesanggupannya untuk mengorganisir pasukan penunggang kuda, pada tahun 1206 terbentuklah permusyawaratan antar suku Mongol, dan kemudian memberi julukan “Jenghis Khan” atau berarti “Kaisar semesta” kepada Temujin. Kekuatan Jenghis Khan yang menakutkan mengarahkan invasinya ke negara – negara tetangga diawali Hsi Hsia di timur laut Cina dan kekaisaran Chin di utara Cina.
Pasukan Mongol

Pada tahun 1219 terjadi pertempuran antara pasukan Jenghis Khan dan salah satu kerajaan besar di Persia dan Asia Tengah, terjadi perdebatan antara Jenghis Khan dan Khwarezm Shah Muhammad raja dari Persia dan Asia Tengah. Jenghis Khan melabrak Khwarezm Shah Muhammad, kekuasaan Khwarezm Shah Muhammad akhirnya kalah dalam pertempuran tersebut. Bersamaan dengan itu, sebagian pasukan Mongol juga menyerang Rusia, sedangkan Jenghis Khan melanjutkan menyerbu daerah Afganistan dan India Utara. Jenghis Khan kembali ke Mongol pada tahun 1225 dan wafat pada tahun 1227.

Sebelum Jenghis Khan meninggal, ia meminta anak ketiganya, Ogadai menjadi penggantinya. Keputusan ini cukup brilian mengingat Ogadai pada periode selanjutnya bertransformasi menjadi jendral brilian atas usahanya sendiri. Dibawah kepemimpinan Ogadai, Mongol dapat melanjutkan penyerbuan atas daratan Cina dan Rusia bahkan menuju Eropa. Pada tahun 1241, gabungan pasukan Polandia, Jerman, Hongaria maju pesat hingga sampai di Budapest. Pada tahun tersebut, Ogadai meninggal dunia, pasukan Mongol kemudian mundur dari Eropa dan tak pernah kembali lagi.

Ada masa kekosongan yang sangat terlihat ketika Ogadai meninggal. Para kepala suku saling beradu alasan mengenai pengganti Ogadai. Sementara itu, kedua Khan (Mangu Khan dan Kubilai Khan, keduanya cucu Jenghis Khan) terus mendesak wilayah – wilayah Asia untuk tunduk dibawah Mongol. Pada tahun 1279, orang – orang Mongol sudah menguasai imperium terluas selama sejarah. Kekuasaan Mongol meliputi Cina, Rusia, Asian Tengah serta Persia dan Asia Tenggara. Tentara – tentara Mongol melakukan berbagai pertempuran untuk menambah wilayah kekuasaan dari Polandia membentang hingga ke belahan utara India. Kekuasaan Kubilai Khan diakhiri di Korea dan beberapa bagian di Asia Tenggara.

Kekuasaan yang sangat luas tidak diimbangi dengan transportasi yang mumpuni. Moda transportasi Mongol masih primitif menyebabkan beberapa wilayah tidak terawasi, akhirnya imperium ini mulai terpecah. Namun kekuasaan Mongol masih bertahan selama bertahun – tahun. Bahkan kekuasaan mereka atas Rusia bertahan lebih lama dari daerah – daerah lain.

Jenghis Khan dan para keturunannya adalah para pendekar yang memiliki kemampuan mengorganisir pasukan dan wilayah – wilayah taklukan begitu cermat dan rapi. Orang – orang Mongol mewarisi wilayah bawahan selama berabad – abad setelah Jenghis Khan meninggal. Keberhasilan atas penaklukan wilayah yang sangat besar sangat berpengaruh pada kemajuan wilayah Mongol terutama di Cina. Terhentinya perang antar suku di Cina menjadikan perekonomian Cina merangkak berkembang dan mendorong adanya proses perdagangan antara Cina dan Eropa. Pedagang Eropa seperti Marco Polo pun mengisahkan mengenai kemakmuran Cina. Jenghis Khan memang sosok besar yang mampu membuat perubahan hebat di daratan Asia. Suku – suku Mongol yang terpecah mampu disatukan dalam satu pemimpin dibawah kepemimpinan Jenghis Khan dan berkembang menjadi imerium terbesar sepanjang sejarah.
Biografi Sunan Bonang

Biografi Sunan Bonang

Sunan Bonang
Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim merupakan anak dari Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati atau dengan nama lain Nyi Ageng Manila. Sunan Bonang juga merupakan cucu dari Maulana Malik Ibrahim dan adipati Tuban bernama Arya Teja serta keturunan ke 23 dari Nabi Muhammad. Beliau lahir pada tahun 1465 M. Sunan Bonang belajar agama dari Sunan Ampel di Ampel Denta, Surabaya. Setelah selesai belajar di Ampel, Sunan Bonang melanjutkan belajar ke Samudra Pasai. Disana, Sunan Bonang berguru kepada Syeh Maulana Ishak (Paman Sunan Ampel) beserta ulama besar ahli tasawuf dari Baghdad dan Iran. Sekembalinya dari Samudra Pasai, Sunan Bonang berdakwah keliling ke berbagai daerah diantaranya Lasem, Tuban, Madura dan Pulau Bawean.

Di Kediri, ia melakukan dakwah dimana mayoritas penduduknya beragama Hindu dan mendirikan sebuah masjid bernama Masjid Sangkal Daha. Sunan Bonang menetap di suatu desa kecil di Lasem bernama Desa Bonang. Di desa ini, Sunan Bonang membangun pasujudan dan sekaligus sebagai tempat pesantren. Sunan Bonang juga dikenal sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi Kerajaan Demak. Meskipun demikian, ia masih sempat berkelanan kemana – mana untuk menyebarkan dakwahnya.

Berbeda dengan Sunan Giri yang sangat lugas dalam ilmu fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Sunan Bonang menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat mengenal Sunan Bonang sebagai orang yang ahli dalam mencari sumber air di tempat – tempat yang gersang.

Ajaran yang dibawa Sunan Bonang lebih mirip dengan ajaran Islam yang disebarkan Jalalludin Rumi yang berintikan filsafat cinta (isyq). Sunan Bonang menggunakan metode dakwah dengan cara akulturasi budaya berupa kesenian. Dalam hal ini, Sunan Bonang bekerjasama dengan muridnya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak menciptakan seni sastra seperti suluk atau tembang tamsil. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Suluk wijil yang dipengaruhi Kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Sunan Bonang menggunakan media gamelan untuk berdakwah yang biasanya digunakan oleh umat Hindu dikolaborasikan dengan bonang. Dengan cara ini Sunan Bonang menyisipkan amalan serta dzikir ajaran Islam untuk mendorong masyarakat lebih mengenal ajaran agama Islam. Salah satu karya Sunan Bonang yang masih bisa kita dengar adalah tembang Tombo Ati. Selain itu dalam pewayangan, Sunan Bonang juga menyisipkan beberapa peran lakon khas Islam seperti pada perseturuan Pandawa dan Kurawa.

Tempat – tempat yang pernah disinggahi Sunan Bonang diantaranya Pati, Lasem, Tuban, Madura dan Pulau Bawean. Pada akhirnya Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean pada tahun 1525 M. Terdapat empat versi makam Sunan Bonang diantaranya di Lasem, Madura, Pulau Bawean dan Tuban.

Makam Sunan Bonang
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ketika Sunan Bonang meninggal ada salah satu murid Sunan Bonang dari Madura yang ingin membawa jenazahnya ke Madura. Namun, ia hanya bisa membawa kain kafannya saja. Jenazah Sunan Bonang diperebutkan santri – santrinya baik dari Lasem, Tuban dan Pulau Bawean. Santri Sunan Bonang dari Tuban meminta Sunan Bonang untuk dimakamkan di Tuban, namun santri Sunan Bonang dari Pulau Bawean menolaknya. Pada saat malam hari, jenazah Sunan Bonang di bawa ke Tuban oleh santri – santrinya. Namun anehnya jenazah Sunan Bonang masih ada di Pulau Bawean dengan keadaan kain kafan yang hanya tinggal satu.

Dengan demikian ada dua tempat makam Sunan Bonang yaitu di Pulau Bawean tepatnya di kampung Tegal Gubuk, Barat Tambak Bawean dan di barat Masjid Sunan Bonang di Tuban. Masing – masing tempat mengklaim bahwa Sunan Bonang dimakamkan di tempat tersebut dan hingga dijadikan sebagai tempat yang diziarahi dan menjadi wisata religi. Di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang juga terdapat tempat ziarah dan memiliki hari – hari penting untuk memperingati wafatnya Sunan Bonang atau dinamakan “Khol Sunan Bonang”. Peninggalan di Desa Bonang diantaranya Pasujudan, Omah Gede yang kini digunakan sebagai masjid karena sering digunakan untuk shalat, bende becak atau disebut juga bende Bonang yang digunakan Sunan Bonang untuk media dakwah yang masih terjaga kelestariannya.

Pasujudan Sunan Bonang yang terletak di seberang pantura konon digunakan Sunan Bonang untuk bermunajat. Desa Bonang sering disinggahi para peziarah untuk bertafakur di petilasan Sunan Bonang yang ada dekat dengan pasujudan Sunan Bonang. Para peziarah umumnya berdzikir, membaca Al-Quran, dan shalat tahajud disini. Selain itu banyak diantara mereka membersihkan area makam Sunan Bonang dalam beberapa hari entah untuk mencari berkah ataupun tujuan yang lain. Di sebidang tanah yang ditumbuhi bunga melati dianggap sebagai makam Sunan Bonang terlepas misteri tarik ulur makam Sunan Bonang.