Pengertian Nekara

Pengertian Nekara

Nekara merupakan benda atau alat peninggalan zaman sejarah purbakala yang digunakan dalam kegiatan upacara. Fungsi nekara diantaranya :
  1. Fungsi Keagamaan, difungsikan sebagai alat komunikasi, upacara dan simbol. 
  2. Fungsi Sosial Budaya, difungsikan sebagai simbol status sosial, perangkat upacara dan karya seni yang memiliki daya magis religius. 
  3. Fungsi Politik, difungsikan sebagai tanda bahaya atau isyarat perang.

Nekara

Nekara perunggu banyak ditemukan di Indonesia. Di pulau Bima dan Sumbawa, nekara perunggu memakai pola hiasan berupa orang – orang yang sedang menari dengan memakai hiasan bulu burung dan terdapat hiasan perahu. Hiasan perahu pada nekara tersebut diduga merupakan perahu jenazah yang berisi mayat. Nekara di Pulu Alor dinamakan moko. Menurut penelitian dikatakan bahwa moko dibuat di Gresik dan dibawa orang – oarang Bugis ke daerahnya dan dibawa ke Nusa Tenggara sebagai barang dagangan.

Di daerah Manggarai (Flores), moko disebut “gendang gelang” atau “tambur”. Biasanya Moko dimiliki oleh kepala suku yang kemudian diturunkan kepada anak laki – lakinya. Di daerah Jawa, moko disebut “tamra” atau “tambra”. Di Pulau Roti, moko disebut “moko malai” yang berarti pulau besar dari malai (Malaya), dan di Maluku, moko disebut “tifa guntur”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persebaran moko meliputi Pulau Alor, Jawa, Nusa Tenggara, Pulau Roti, Maluku dan Flores.

Nekara terbesar ditemukan di Bali tepatnya di dekat Manuaba, daerah Pejeng (Bali). Nekara tersebut dinamakan Nekara Pejeng atau Bulan Pejeng. Nekara di Pejeng tersebut memiliki tinggi 1,98 meter dengan bidang pukul 1,60 meter. Kini nekara tersebut disimpan di puara penataran Sasih dan masih dianggap sebagai benda keramat oleh penduduk setempat.

Pada tahun 1704, G.E. Rumpuis melaporkan hasil penelitiannya tentang Bulan Pejeng. Kemudian pada tahun 1930, E.C. Barehewitz mengeluarkan hasil penelitian nekara dari Nusa Tenggara Timur. Sebelum itu A.B. Meyer telah menemukan beberapa nekara dari Jawa, Salayar, Luang, Roti dan Leti. A.B. Meyer bersama dengan W.Fox membandingkan temuan nekara di Asia Tenggara dan mendapatkan kesimpulan bahwa nekara – nekara peringgu pada dasarnya berpusat di Khemer dan menyebar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dari hasil penelitian yang dilakukan R.P. Soejono menghasilkan benda – benda perunggu di Gilimanuk Bali dan Leuwi Liang di Bogor. Di tempat lain juga ditemukan benda – benda yang berasal dari perunggu seperti hasil penelitian di Prajekan antara Bondowoso dan Situbondo. Selanjutnya daerah antara Tangerang hingga Karawang dan aliran Sungai Cisadane, Bekasi, Citarum, Ciparage dan Cikarang.
Pengertian, Sumber dan Ruang Lingkup Sejarah

Pengertian, Sumber dan Ruang Lingkup Sejarah

PENGERTIAN SEJARAH
Sejarah secara etimologis berasal dari bahasa arab yang disebut syajaratun yang berarti pohon. Artinya jika kita membaca sebuah silsilah, kita akan melihat percabangan – percabangan keturunan layaknya sebuah pohon sederhana. Pada bahasa Inggris, sejarah disebut history yang artinya masa lampau. Dalam bahasa Yunani, sejarah disebut juga istoria yang artinya belajar. Sehingga sejarah diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari banyak peristiwa, kejadian masa lampau kehidupan manusia. Sedangkan dalam bahasa Jerman, sejarah disebut genschichte yang berarti segala sesuatu yang terjadi pada masa lampau umat manusia. Banyak dari para ahli mendefinisikan sejarah, diantaranya :
  • R. Mohammad AliMenurut R. Mohammad Ali, sejarah adalah keseluruhan perubahan dan kejadian – kejadian yang benar – benar telah terjadi atau ilmu yang menyelidiki perubahan – perubahan yang benar – benar terjadi pada masa lampau.
  • Ibnu KhaldunMenurut Ibnu Khaldun, sejarah adalah catatan tentang manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan – perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu.
  • Moh. Yamin, SHMenurut Moh. Yamin, sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
  • Kuntowijoyo
    Menurut Kuntowijoyo, pengertian sejarah ada dua yaitu pengertian sejarah positif dan pengertian sejarah negatif. Pengertian sejarah secara positif yaitu ilmu tentang manusia, tentang waktu, tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial dan ilmu tentang sesuatu yang terinci dan tertentu. Sedangkan pengertian sejarah secara negatif yaitu bukan mitos, filsafat, bukan ilmu alam dan bukan sastra.
Sejarah secara umum dapat diartikan cabang ilmu yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupan yang terjadi pada masa lampau.

SUMBER SEJARAH
Sumber sejarah adalah semua yang menjadi pokok sejarah. Moh. Ali berpendapat bahwa sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud bagi penelitian sejarah sejak zaman purba sampai dengan sekarang. Sedangkan Moh. Yamin berpendapat bahwa sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

Jenis – Jenis Sumber Sejarah
Sumber sejarah terbagi menjadi beberapa macam, diantaranya
  • Sumber Lisan
    Sumber lisan adalah sumber sejarah yang didapatkan dari tutur kata pelaku sejarah atau saksi mata suatu kejadian di masa lampau. Sebagai contoh sumber sejarah lisan pada masa G30SPKI, sumber lisannya adalah mereka yang pada saat kejadian G30SPKI menjadi saksi peristiwa tersebut.
  • Sumber Tertulis
    Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang berbentuk tulisan seperti naskah, kitab, prasasti, dokumen, lontar dan lain – lain.
  • Sumber Benda (artefak)
    Sumber benda adalah sumber sejarah yang didapatkan dari benda – benda hasil kebudayaan masa lampau seperti kapak, perhiasan, candi, gerabah, manik – manik dan lain – lain.
Sumber – sumber sejarah belum secara pasti menggambarkan kejadian masa lampau. Oleh karena itu diperlukan penelitian, pengkajian, analisis serta penafsiran mendalam oleh para ahli.

Berdasarkan urutannya, sumber sejarah terbagi menjadi tiga yaitu :
  • Sumber Primer, adalah peninggalan sejarah pada masa suatu peristiwa. Contoh kitab Negarakertagama, relief candi, prasasti, dokumen dan lain – lain.
  • Sumber Sekunder, adalah benda – benda tiruan dari benda aslinya atau sumber pustaka hasil penelitian dari para ahli. Contoh laporan penelitian dan kitab – kitab terjemahan.
  • Sumber Tersier, adalah buku – buku sejarah yang disusun atas laporan – laporan penelitian ahli tanpa melakukan penelitian langsung.

RUANG LINGKUP SEJARAH
Ruang lingkup sejarah merupakan hal – hal yang akan dipelajari serta batasan – batasannya dalam mempelajari sejarah. Ruang lingkup sejarah meliputi konsep sejarah, unsur sejarah, dan hubungan sejarah dengan ilmu lain. Berikut ini adalah penjelasannya :
  • Konsep Sejarah
    Konsep dalam kajian sejarah meliputi :
    1. Sejarah sebagai suatu peristiwa (History as event) adalah kejadian yang benar – benar terjadi pada masa lampau yang bersifat penting dan berpengaruh pada peristiwa – peristiwa yang akan datang dan berkaitan dengan kehidupan manusia.
    2. Sejarah sebagai kisah (History as Narrative) adalah rangkaian narasi – narasi atau tafsiran baik lisan maupun tulisan yang membentuk suatu keutuhan kisah.
    3. Sejarah sebagai ilmu (History as Science) adalah pengetahuan masa lampau (objek) yang disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah, menggunakan pemikiran rasional serta bersifat objektif untuk mendapatkan suatu kebenaran dan fakta mengenai peristiwa masa lampau. Metode penelitian yang digunakan dalam sejarah diantaranya penentuan tema, heuristik (pencarian dan pengumpulan data), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penafsiran sumber), dan histriografi (penulisan sejarah).
    4. Sejarah sebagai seni (History as Arts) adalah dalam menyajikan suatu kisah sejarah diperlukan keindahan bahasa dan seni dalam merangkai dan menyimpulkannya. Namun sejarah tidak benar – benar seni secara mutlak sebab proses penelitian tetap dilakukan secara ilmiah sesuai metodologi yang berlaku dalam sebuah penelitian.
  • Unsur Sejarah
    Terdapat tiga unsur sejarah antara lain :
    1. Ruang, adalah tempat terjadinya suatu peristiwa 
    2. Waktu, adalah unsur sejarah yang memegang sifat kronologis 
    3. Manusia, adalah objek utama dalam sejarah atau pemegang peran dalam sejarah
  • Hubungan Sejarah dengan Ilmu
    1. Persamaan Sejarah dengan Ilmu
      Persamaan sejarah dengan ilmu pengetahuan adalah berdasarkan dari pengalaman, pengamatan, dan penyerapan. Sama – sama memiliki teori dan metode.
    2. Perbedaan Sejarah dengan Ilmu
      Sejarah memiliki ciri tersendiri bila dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lain, yaitu :
      • Sejarah terikat oleh waktu, artinya waktu memiliki peranan penting dalam ilmu sejarah, sedangkan ilmu pengetahuan lain tidak terikat dengan waktu.
      • Sejarah terikat dengan tempat, artinya karena memiliki sifat unik dan einmalig atau terjadinya hanya sekali. Sifat unik terikat oleh tempat atau spasial.
      • Sejarah terikat oleh kekhususan artinya keterikatan waktu dan tempat membuat kajian sejarah menjadi unik. Dalam sejarah apabila bercerita tentang perlawanan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah, dalam pengisahannya dikhususkan tentang perlawanan tersebut dan alasan – alasannya.
Sejarah Partai Komunis Indonesia

Sejarah Partai Komunis Indonesia

Partai Komunis Indonesia didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda bernama Henk Sneevliet pada tahun 1914. Saat pertama kali didirikan PKI bernama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda. Pada awal dibentuknya ISDV, organisasi ini terdiri dari 85 anggota yang berasal dari dua partai sosialis Belanda yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis) yang aktif di Hindia Belanda.

Pada bulan Oktober 1914, ISDV mulai aktif dalam penerbitan dalam bahasa Belanda, “Het Vrije Woord” (Kata yang Merdeka) dengan editor Adolf Baars. Pada tahun 1917, ISDV mengeluarkan penerbitan dalam bahasa Melayu, “Soeara Merdeka”. Pada awal pembentukan ISDV, organisasi ini tidak menuntut kemerdekaan.

Pada saat itu keanggotaan ISDV mencapai 100 orang anggota dengan diantaranya tiga orang pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini kemudian berkembang dengan pesat menjadi partai radikal dan anti kapitalis. Dibawah kepemimpinan Sneevliet, partai ini merasa tidak puas atas kepemimpinan SDAP di Belanda dan mulai menjauhkan diri dari ISDV. Pada tahun 1917, kelompok reformis dari ISDV memutuskan memisahkan diri dari ISDV dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia.

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ia yakin bahwa Revolusi Oktober yang terjadi di Rusia harus diikuti di Indonesia. ISDV kemudian mendapat pengikut dari tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Selanjutnya dibentuklah “Pengawal Merah” dan dalam jangka waktu tiga bulan mereka berkembang dengan jumlah mencapai 3.000 orang.

Pada akhir tahun 1917, para tentara dan pelaut Hindia Belanda melakukan pemberontakan di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia dan membentuk sebuah dewan Soviet. Para penguasa Hindia Belanda menindas dewan – dewan Soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV kemudian dipulangkan ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di jatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun.

ISDV terus melakukan pergerakan walaupun dibawah tanah. Organisasi ini selanjutnya mengeluarkan terbitan, Soeara Ra’jat. Seteah sejumlah kader dari Belanda dikeluarkan dari tubuh ISDV secara paksa, ditambah dengan keanggotaan ganda partai Sarekat Islam yang mendapuk dengan ISDV, organisasi pun mulai berubah dari mayoritas orang Belanda menjadi mayoritas pribumi Indonesia.

Pada awalnya PKI merupakan gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Selanjutnya internal partai Sarekat Islam mulai terjadi perselisihan antar anggotanya terutama Sarekat Islam Semarang dan Yogyakarta yang melaksanakan disiplin partai yakni adanya larangan keanggotaan ganda di kancah perjuangan pergerakan Indonesia. Artinya anggota Sarekat Islam dipaksa untuk memilih salah satu keanggotaan Sarekat Islam atau partai lain. Hal tersebut tentunya membuat anggota partai Sarekat Islam yang beraliran komunis kesal sehingga memutuskan untuk keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV.

Pada Kongres ISDV yang diadakan di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ISDV diganti menjadi Peserikatan Komunis di Hindia (PKH). Semaoen diangkat menjadi ketua partai. PKH merupakan partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional (Komintern). Pada kongres kedua Komunis Internasional pada tahun 1920, Sneevliet mewakili partai ini. Selanjutnya pada tahun 1924 nama partai berubah lagi dengan nama Partai Komunis Indonesia (PKI).

PERJALANAN PKI DARI AWAL SAMPAI AKHIR
A. Pemberontakan 1926
Pada bulan November 1926, PKI memimpin perlawanan pemberontakan pemerintahan Belanda di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan akan membuat sebuah republik di wilayah Indonesia. Pemberontakan ini mampu ditumpas dengan brutal oleh penguasa kolonial Belanda.

Ribuan orang dibunuh dan sebanyak 13.000 orang ditahan. Sejumlah 1.308 orang yang umumnya berasal dari kader – kader partai diasingkan ke Boven Digul, Papua. Beberapa orang meninggal di dalam tahanan dan banyak aktivis politik non komunis juga ikut terseret ke dalam tahanan.

Pada tahun 1927, PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintahan Belanda. Oleh karena hal tersebut, PKI mulai melakukan pergerakan bawah tanah. Rencana pemberontakan telah dirancang sejak lama yakni pada perundingan aktivis PKI di Prambanan. Rencana pemberontakan mendapat pro dan kontra oleh anggotanya salah satunya adalah penolakan dari Tan Malaka, salah satu tokoh PKI yang memiliki banyak massa terutama di Sumatera.

Penolakan yang dilakukan Tan Malaka berimbas pada dicapnya Tan Malaka sebagai pengikut Leon Trotsky sebagai tokoh sentral perjuangan di Rusia. Walau begitu, beberapa pemberontakan PKI justru terjadi di Sumatera setelah pemberontakan di wilayah Jawa seperti di Silungkang di Sumatera.

Pada awal pelarangan oleh pemerintah Belanda, PKI berusaha menonjolkan diri terutama karena banyaknya pemimpinnya yang dipenjara. Pada tahun 1935, Muso, pemimpin PKI kembali dari pembuangan di Moskow, Uni Soviet untuk menata kembali PKI dalam gerakan bawah tanah. Namun Muso hanya tinggal sebentar di Indonesia dan kembali lagi ke Uni Soviet.

Kini PKI bergerak dalam berbagai front seperti Gerindo dan serikat – serikat buruh. Di Belanda, PKI mulai bergerak diantara mahasiswa – mahasiswa di kalangan nasionalis Perhimpoenan Indonesia yang kemudian berada dalam kontrol PKI.

B. Peristiwa Madiun 1948
Pada tanggal 8 Desember 1947 hingga 17 Januari 1948 pihak Republik Indonesia dan Belanda melakukan Perundingan Renville. Hasil dari perundingan tersebut dianggap lebih menguntungkan posisi Belanda. Sebaliknya, Indonesia menjadi pihak yang dirugikan dengan semakin sempitnya wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, Kabinet Amir Syarifuddin dianggap merugikan dan kemudian kabinet tersebut dijatuhkan pada tanggal 23 Januari 1948. Ia terpaksa menyerahkan mandatnya kepada presiden dan digantikan Kabinet Hatta. Berikutnya, Amir Syarifuddin membentuk organisasi Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada tanggal 28 Juni 1948. Kelompok ini berusaha menempatkan diri dibawah kabinet Hatta. FDR tergabung dalam organisasi PKI yang merencanakan sebuah perebutan kekuasaan.

Beberapa aksi dilakukan kelompok ini diantaranya melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi – demonstrasi, pemogokan, menculik dan membunuh lawan politik, serta menggerakkan kerusuhan di beberapa tempat. Sejalan dengan peristiwa tersebut, muncullah kembali Muso, tokoh komunis yang sejak lama berada di Moskow, Uni Soviet. Ia bergabung dengan Amir Syarifudin menentang pemerintahan, bahkan berhasil mengambil pucuk pimpinan PKI. Selanjutnya, ia dan kawan – kawannya meningkatkan aksi teror dengan mengadu domba TNI serta menjelek – jelekkan kepemimpinan Soekarno – Hatta.

Puncaknya ketika terjadi pemberontakan Madiun pada tanggal 18 Desember 1948. Tujuan dari pemberontakan ini adalah meruntuhkan negara RI dan mengganti dasar negara dengan asas komunis. Dalam aksi tersebut, beberapa pejabat, perwira, TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat yang tak sealiran dengan PKI dibunuh dengan kejam.

Tindakan ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh - tokoh perjuangan dan pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI.

Pada tanggal 30 September 1948, pemberontakan di Madiun dapat diredam oleh TNI dan Polisi. Dalam operasi tersebut, Muso berhasil ditembak mati, sedangkan Amir Syarifudin dan tokoh – tokoh lain ditangkap hidup – hidup dan dijatuhi hukuman mati.

C. Bangkitnya PKI
Setelah aksi pemberontakan PKI di Madiun, organisasi politik ini seakan menghilang. Namun pada tahun 1950, PKI mulai bangkit pada kegiatan penerbitan dengan organ – organ utamanya yaitu Harian Ra’jat dan Bintang Merah. Pada taun 1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis dibawah pimpinan D.N. Aidit dan mendukung kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno.

Aidit dan anggota PKI lainnya seperti Sudisman, Lukman, Njoto, dan Sakirman menguasai pimpinan partai pada tahun 1951. Pada saat itu, tak ada satupun yang berusia lebih dari 30 tahun. Dibawah kepemimpinan Aidit, PKI berkembang dengan pesat dari anggota sekitar 3.000 – 5.000 anggota pada tahun 1950, kemudian menjadi 165.000 pada tahun 1954, dan bahkan mencapai 1,5 juta pada tahun 1959.

Pada tahun 1951, PKI memimpin gerakan – gerakan pemogokan militan yang diikuti oleh tindakan – tindakan tegas terhadap PKI di Medan dan Jakarta. Akibatnya, para pemimpin PKI kembali melakukan gerakan bawah tanah untuk sementara waktu. Pada Pemilu 1955, PKI menduduki peringkat keempat dengan total suara 16% dari keseluruhan suara. Hal ini menjadikan PKI mendapat kursi sebanyak 39 kursi (dari total 257 kursi yang diperebutkan) dan 8 dari 514 kursi di Konstituante.

Pada tanggal 3 Desember 1957, serikat – serikat buruh yang berada pada pengaruh PKI mulai menguasai perusahaan – perusahaan milik Belanda. Penguasaan ini merintis nasionalisasi perusahaan – perusahaan yang dimiliki asing. Perjuangan melawan kapitalis asing membuat PKI mendapatkan kesempatan untuk menampilkan diri sebagai partai nasional.

Pada bulan Februari 1958 terjadi sebuah upaya koreksi terhadap kebijakan Soekarno yang mulai condong ke timur di kalangan militer dan politik sayap kanan. Mereka menuntut pemerintah melaksanakan UUDS 1950, selain itu pembagian hasil bumi yang tidak merata antara pusat dan daerah juga menjadi pemicu.

Gerakan yang berbasis di Sumatera dan Sulawesi mengumumkan pembentukan Pemerintah Revolusioner Repubik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958. Pemerintahan tersebut segera merekrut ribuan kader PKI dibeberapa wilayah yang menjadi kontrol mereka. PKI mendukung upaya Soekarno dalam memadamkan gerakan tersebut, termasuk memberlakukan Undang – Undang Darurat. Gerakan ini pada akhirnya mampu dipadamkan.

Pada tahun 1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun, kongres ini tetap berjalan sesuai jadwal dan Presiden Soekarno memberikan angin kepada komunis dalam sambutannya. Pada tahun 1960, Soekarno mengeluarkan slogan NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) yang merupakan pertanda bahwa PKI menjadi mitra politik Soekarno. PKI membalasnya dengan menanggapi secara positif konsep NASAKOM dan melihatnya sebagai sebuah front yang multi-kelas.

Dengan adanya dukungan dari pemerintah, anggota PKI pun bertambah hingga mencapai 3 juta orang pada tahun 1965. PKI menjadi partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. Partai ini pun membawahi organisasi – organisasi lain diantaranya SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra), dan Himpunan Sardjana Indonesia (HSI). Diperkirakan seluruh anggota partai PKI termasuk organisasi yang berada di bawah payung PKI mencapai seperlima dari seluruh rakyat Indonesia.

Pada bulan Maret 1962, PKI bergabung dengan pemerintah Indonesia. Pemimpin PKI seperti D.N. Aidit dan Njoto diangkat sebagai menteri penasihat. Pada bulan April 1962, PKI mengadakan kongres partai. Pada tahun 1963, pemerintah Malaysia, Indonesia dan Filipina terlibat dalam pembahasan mengenai pertikaian wilayah dan kemungkinan tentang pembentukan sebuah Konfederasi Maphilindo (Malaysia, Philipina dan Indonesia), sebuah gagasan yang dikemukakan oleh presiden Filipina, Diosdado Macapagal.

PKI menolak pembentukan Maphilindo dan federasi Malaysia. Para anggota PKI yang militan melakukan penyusupan ke Malaysia guna melakukan perlawanan – perlawanan dengan pasukan Inggris dan Australia. Sebagian mampu bergabung dan berjuang, namun sebagian lagi tertangkap.

Keanehan dari PKI adalah diusulkannya angkatan ke – 5 yang terdiri dari buruh dan petani oleh PKI seperti militer partai layaknya Partai Komunis Cina dan Nazi dengan SS nya. Hal inilah yang kemudian membuat TNI AD khawatir dan takut akan terjadi penyelewengan senjata yang dilakukan PKI dengan “tentaranya”.

D. GESTAPU atau G30S/PKI
Peristiwa G30S/PKI atau juga dikenal dengan Gerakan 30 September atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah peristiwa pemberontakan PKI yang terjadi pada tanggal 30 September 1965. Kejadian ini terjadi malam hari pada tanggal 30 September 1965 hingga esok dimana tujuh perwira tinggi militer dibunuh dalam sebuah kudeta. Usaha ini akhirnya digagalkan oleh TNI AD. Benar tidaknya komunis yang melakukan pembunuhan tujuh perwira tinggi militer ini masih menjadi perdebatan diantara kalangan sejarawan.

Pada tahun 1965, PKI tercatat memiliki jumlah anggota lebih dar 3,5 juta jiwa dan belum termasuk anggota pergerakan pemuda, pergerakan buruh, serta organisasi – organisasi yang dipayungi PKI seperti Lekra, Gerwani, dan lain – lain hingga mencapai total anggota sebanyak 20 juta anggota pendukung. Yang membuat masyarakat curiga adalah adanya pembubaran parlemen pada bulan Juli 1959 dan Soekarno menetapkan bahwa konstitusi ada dibawah dekrit presiden, dengan PKI berdiri di belakang memberikan dukungan penuh. PKI menyambut gembira Demokrasi Terpimpin yang diperkenalkan Soerkarno dengan menciptakan konsepsi NASAKOM. PKI seolah mendapat angin segar berkat adanya konsepsi ini.

Peristiwa G30S/PKI baru dimulai pada tanggal 1 Oktober pagi, dimana kelompok pasukan bergerak dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma menuju Jakarta untuk melakukan penculikan terhadap 7 jendral. Tiga diantara ketujuh jendral tersebut dibunuh dirumah mereka yaitu Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan. Tiga target lain, Soeprapto, S. Parman, dan Sutoyo ditangkap hidup – hidup dan target utama Jendral Abdul Harris Nasution berhasil kabur ddengan melompati dinding taman di kedaulatan besar Iraq. Meski begitu, Pierre Tendean selaku ajudan pribadinya dan anak gadisnya yang berusia lima tahun bernama Ade Irma Suryani terbunuh oleh regu tembak sergap dan tewas pada tanggal 6 Oktober. Korban tewas bertambah setelah regu penculik menembak dan membunuh seorang polisi yang menjadi penjaga rumah tetangga Nasution, Karel Satsuit Tubun. Korban tewas terakhir adalah Albert Naiborhu, keponakan dari Pandjaitan yang tewas ketika menyerang rumah jenderal tersebut. Ketujuh jendral baik yang sudah meninggal maupun masih hidup dibawa ke Lubang Buaya dan semua dibunuh serta dimasukkan ke dalam sumur dekat markas tersebut.

Keesokan harinya, sebanyak 2.000 pasukan diturunkan untuk menguasai Lapangan Merdeka. Meski begitu mereka tidak dapat menguasai bagian timur area ini karena pada saat itu area tersebut merupakan markas KOSTRAD yang dipimpin Soeharto. Pada pukul 7 pagi, RRI memberitakan pesan dari Syamsuri, Komandan Cakrabirawa, regimen penjaga Presiden, bahwa Gerakan 30 September telah mengambil alih beberapa lokasi strategis di Jakarta dengan bantuan anggota militer. Mereka mengumumkan bahwa gerakan tersebut mendapat dukungan dari Central Inteligence of America (CIA) yang bertujuan menurunkan presiden Soekarno.

Kegagalan sebenarnya dalam kasus G30S/PKI adalah karena PKI melewatkan Soeharto, sosok yang mereka kira diam dan bukan tokoh politik pada masa itu. Soeharto mendapatkan kabar hilangnya para jendral dari tetangganya pada pukul 5:30. Ia kemudian bergegas ke markas KOSTRAD serta menghubungi angkatan laut dan polisi, namun ia tidak berhasil menghubungi anggota angkatan udara. Soeharto kemudian mengambil alih angkatan darat.

Kudeta PKI berhasil digagalkan karena PKI tidak memiliki rencana yang matang dan menyebabkan tentara yang ada di Lapangan Merdeka kehausan dibawah impresi bahwa mereka melindungi presiden di Istana. Soeharto juga berhasil membujuk kedua batalion pasukan kudeta untuk menyerah dimulai dari pasukan Brawijaya yang masuk ke area markas KOSTRAD dan selanjutnya pasukan Diponegoro yang kabur kembali ke Halim.

G30S/PKI baru berakhir pada pukul 7 malam dimana pasukan yang dipimpin oleh Soeharto berhasil merebut kontrol atas wilayah – wilayah yang dikuasai PKI. Saat berkumpul dengan Nasution, pada pukul 9 malam Soeharto mengumumkan bahwa ia telah mengambil alih tentara dan bahkan menghancurkan pasukan kontra-revolusioner serta menyelamatkan presiden Soekarno.

Soekarno bahkan melayangkan ultimatum kepada pasukan yang ada di Halim. Tidak berselang lama, Soekarno meninggalkan Halim dan tiba di istana. Jasad ke tujuh jendral yang terbunuh dibuang ke Lubang Buaya dan baru ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 dan dikuburkan pada tanggal 5 Oktober 1965.
Bagaimana Menentukan Usia Benda Bersejarah

Bagaimana Menentukan Usia Benda Bersejarah

Penentuan umur suatu benda peninggalan bersejarah memiliki metodologi tersendiri dan dilakukan oleh orang – orang yang ahli di bidangnya. Sejarawan perlu menggali banyak sumber untuk mendapatkan informasi yang valid mengenai umur suatu benda bersejarah sebelum mempublikasikannya.

Sejarah suatu masyarakat dan bangsa yang terjadi pada masa lampau dapat diketahui dari penemuan bukti atau fakta. Fakta berasal dari bahasa Latin, factus atau facerel yang berarti selesai atau mengerjakan.

Dari fakta inilah, sejarawan kemudian menemukan petunjuk mengenai terjadinya peristiwa di masa lampau. Fakta sejarah dapat berupa benda kongkret seperti benda – benda peninggalan layaknya candi, patung, bangunan dan lain – lain. Benda kongkret inilah yang kemudian disebut artefak.

Artefak merupakan semua benda yang dihasilkan dari kreatifitas manusia di masa lampau seperti candi, patung, perkakas dan bangunan bersejarah. Benda – benda yang dibuat pada orang – orang di masa lampau ini yang kemudian dapat menggambarkan suasana alam, pikiran, status sosial dan kepercayaan dari suatu masyarakat. Penentuan usia suatu benda peninggalan dapat dilakukan melalui tiga cara yakni tipologi, stratigrafi dan kimiawi. Berikut ini penjelasannya :

1. Metode Tipologi
Metode tipologi yaitu suatu cara penentuan usia suatu peninggalan dengan didasarkan pada bentuk dari suatu benda peninggalan. Semakin sederhana suatu benda maka semakin tua usia dari benda tersebut. Namun cara ini seringkali menimbulkan masalah sebab benda yang sederhana belum tentu berasal lebih dulu dari benda yang halus dan sempurna buatannya. Contoh, benda dari tanah liat pada saat ini masih dipakai bersamaan dengan benda dari logam dan plastik.

2. Metode Stratigrafi
Metode stratigrafi adalah metode penentuan umur suatu benda berdasarkan lapisan tanah dimana benda tersebut berasal. Semakin bawah benda tersebut berada di dalam tanah, maka semakin tua usianya. Sebaliknya, semakin atas benda tersebut ditemukan maka usianya semakin muda.

3. Metode Kimiawi
Metode Kimiawi merupakan metode penentuan umur suatu benda berdasarkan pada unsur kimiawi yang terdapat dalam suatu benda. Dalam penentuan ini biasanya menggunakan unsur C-14 (Carbon 14) atau unsur Argon.

Sumber benda bersejarah merupakan sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda - benda kebudayaan, seperti alat – alat atau benda budaya, seperti kapak, kitab, perhiasan, candi dan lain – lain. Namun, sumber – sumber sejarah tersebut tidak semuanya memberikan gambaran atau informasi mengenai kebenaran suatu peristiwa di masa lampau secara lengkap.

Karena penentuan umur suatu benda peninggalan cukup rumit, maka sumber sejarah tersebut perlu diteliti, dikaji, dianalisis dan ditafsir dengan cermat oleh para ahli terkait. Maka untuk mengungkap sumber – sumber sejarah diperlukan ilmu – ilmu bantu seperti epigrafi, arkeologi, ikonografi, numismatik, ceramologi, geologi, antropologi, palaeontologi, palaeontropologi, sosiologi dan fisiologi.
Biografi Sunan Ngudung

Biografi Sunan Ngudung

Ada banyak hal yang simpang siur mengenai keberadaan Sunan Ngudung. Beliau dipercaya sebagai ayah dari Sunan Kudus. Dalam beberapa cerita bahkan menyebutkan bahwa beliau merupakan Senopati di Kerajaan Demak sekaligus imam besar Masjid Demak (1521-1524) yang gugur ketika melawan Kerajaan Majapahit. Beliau memiliki julukan Penghulu Rahamatullah di Undung atau Ngudung sehingga orang – orang menyebutnya sebagai Sunan Ngudung.

Versi lain menyebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah putra dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim. Dengan kata lain, beliau masih memiliki hubungan darah dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sunan Ngudung menikah dengan Nyi Ageng Maloka putri dari Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahirlah Raden Amir Haji dengan nama lain Jakfar Shadiq atau Sunan Kudus.

Riwayat menyebutkan, setelah Sunan Ampel meninggal, para santrinya memutuskan untuk menyerang Majapahit. Hal ini disebabkan pada saat itu Brawijaya V selaku raja Majapahit diserang oleh Girindrawardhana, anak dari Wikramawardhana yang meminta haknya atas takhta Majapahit. Brawijaya V akhirnya kalah dan posisi raja Majapahit dipegang oleh Girindrawardhana yang berpusat di Daha Kediri.

Menurut Raden Mas Sahid (nama kecil Sunan Kalijaga), keberadaan raja Majapahit toh tidak menghalangi dakwah Islam. Adipati Demak Bintara, Raden Patah bahkan masih menyerahkan upeti kepada raja Majapahit. Raden Patah yang melihat kekalahan ayahnya Brawijaya V kemudian membalaskan dendam dengan menyerang Majapahit.

Berbondong – bondong santri Sunan Ngudung dan pemimpin agama lainnya untuk menyerang Majapahit. Adik Raden Patah, Adipati Terung, Raden Kusen, menghindar dari tugas Majapahit untuk meredam pemberontak tersbut. Dalam penyerangan kedua, penyerangan hanya dipimpin oleh Sunan Ngudung bersama anaknya Sunan Kudus sesuai dengan keputusan para ulama hingga akhirnya dapat merebut kota Majapahit. Perpindahan kekuasaanpun terjadi dari Majapahit ke Demak.

Kematian Sunan Ngudung
Naskah Babad Demak atau Babad Majapahit lan Para Wali menyebutkan bahwa Sunan Ngudung tewas ketika melakukan penyerangan kepada Kerajaan Majapahit. Perang ini terjadi pada tahun 1478 yang ditujukan untuk menegakkan keadilan karena pada saat itu Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi diserang Girindrawardhana yang ditandai dengan candrasengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi atau 1440 Saka / 1478 M. Ketika diserang, Brawijaya V melarikan ke Gunung Lawu dan dikabarkan moksa di tempat tersebut bersama pengikutnya. Sunan Ngudung diangkat sebagai Senopati atau panglima perang menghadapi Raden Kusen, anak tiri dari Raden Patah yang menjabat sebagai adipati Terung (daerah dekat Krian, Sidoarjo). Raden Kusen merupakan seorang muslim namun tetap membela Majapahit karena ketaatannya. Dalam pertempuran tersebut Sunan Ngudung wafat dan jabatan senopati kemudian dijatuhkan kepada Sunan Kudus. Dibawah kepemimpinannya, Sunan Kudus mampu mengalahkan Majapahit.

Tahun Kematian Sunan Ngudung
Menurut prasasti Trailokyapuri, diketahui bahwa Majapahit runtuh bukan karena diserang Kerajaan Demak, melainkan perang saudara antara Bhre Kertabhumi dan Girindrawardhana. Namun, siapa raja Majapahit pada saat itu tidak disebutkan dengan jelas. Pararaton menyebutkan bahwa raja terakir Majapahit adalah Girindrawardhana yang telah mengalahkan raja sebelumnya yaitu Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V yang menyelamatkan diri ke Gunung Lawu.

Setelah penyerangan Girindrawardhana inilah, Raden Patah mengumpulkan bala tentara untuk mengalahkan Girindrawardhan yang telah mengalahkan ayahnya, Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V. Namun pada serangan pertama tersebut Demak mengalami kekalahan. Para wali kemudian menyarankan agar Raden Patah menyelesaikan pembangunan Masjid Demak terlebih dahulu.

Pada tahun 1418 Demak menyerang Majapahit lagi. Pada penyerangan kali ini pasukan Demak menang dan Majapahit takluk dibawah Kerajaan Demak. Pada tahun 1478 Raden Fatah dilantik menjadi Sultan Demak.

Disisi lain, naskah hikayat Hasanuddin menyebutkan bahwa pada tahun 1524 imam Masjid Demak bernama Rahmatullah tewas ketika memimpin penyerangan ke Majapahit. Tokoh ini kemungkinan besar adalah Sunan Ngudung, sehingga dapat disimpulkan bahwa Sunan Ngudung wafat pada tahun 1524 dan bukan 1478 apabila merujuk naskah babad tersebut.
Pertempuran 10 November, Surabaya

Pertempuran 10 November, Surabaya


Pertempuran 10 November merupakan persitiwa sejarah yang terjadi di Surabaya ketika terjadi perang antara tentara Indonesia melawan Belanda dan Inggris. Peristiwa ini dianggap sebagai pertempuran terbesar dan terberat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, terjadi pertempuran – pertempuran dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 15 September 1945 tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mendarat di Jakarta, kemudian di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Kedatangan AFNEI merupakan utusan dari blok Sekutu untuk melakukan pelucutan senjata tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negaranya. Namun tujuan tersebut ternyata dimanfaatkan oleh Belanda untuk merebut kembali wilayah Indonesia dengan menyusupkan pasukan administrasi pemerintahan Belanda atau disebut NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang ikut membonceng AFNEI. Hal inilah yang kemudian memicu gejolak rakyat Indonesia di berbagai wilayah.

Insiden di Hotel Yamato
Setelah muncul maklumat dari pemerintahan Indonesia pada tanggal 31 Agustus 1945 yang berisi bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan secara terus menerus di wilayah Indonesia. Klimaksnya terjadi ketika insiden perobekan bendera di Hotel Yamato.

Sekelompok orang Belanda dibawah pimpinan MR. W.V.CH Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pada pukul 21.00 mengibarkan bendera Belanda di atas Hotel Yamato tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya. Keesokan harinya, para pemuda Surabaya yang menganggap pengibaran bendera Belanda adalah sebuah penghinaan dan menganggap Belanda akan mengembalikan kekuasaannya kembali di Indonesia mulai berkumpul di sekitar Hotel Yamato.

Tak berselang lama setelah berkumpulnya massa di sekitar Hotel Yamato, Residen Sudriman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa dan masuk ke Hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI, ia melakukan perundingan dengan Mr. Ploegman dan kawan – kawannya meminta agar bendera Belanda diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Ploegman menolak permintaan tersebut sekaligus sebagai bukti bahwa Belanda tidak mengakui kedaulatan RI. Perundingan semakin memanas hingga Ploegman mengeluarkan pistol dan terjadilah perkelahian didalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik Sidik yang juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga – jaga dan mendengar suara letusan pistol Ploegman. Sementara itu, Sudirman dan Hariyono melarikan diri keluar Hotel Yamato.

Sebagian pemuda berebut naik ke atas Hotel Yamato untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono dan Sudirman yang semula keluar hotel akhirnya kembali masuk dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera bersama Kusno Wibowo yang berhasil merobek warna biru pada bendera Belanda menjadi Merah Putih dan kembali mengereknya ke tiang bendera.

Insiden ini terjadi pada tanggal 27 Oktober 1945 yang membuat pertempuran demi pertempuran meletus di Surabaya. Serangan kecil tersebut kemudian menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa baik pihak Inggris maupun Indonesia sebelum Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Setelah diadakan gencatan senjata antara Inggris dan Indonesia yang ditandatangai pada tanggal 29 Oktober 1945, gejolak di Surabaya berangsur – angsur mereda. Walaupun begitu, di beberapa daerah di Surabaya masih saja terjadi bentrokan – bentrokan yang puncaknya saat terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby (pemimpin tentara Inggris untuk wilayah Jawa Timur) pada tanggal 30 Oktober 1945 pukul 20.30.

Mobil Buick yang ditumpangi Mallaby berpapasan dengan kelompok milisi Indonesia yang akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadi aksi tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh salah seorang pemuda Indonesia yang hingga kini tidak diketahui identitasnya dan bahkan mobil dari Mallaby meledak hingga jenazah Mallaby sulit dikenali.

Kematian Mallaby membuat pihak Inggris marah dan berkhir pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal E.C. Mansergh yang mengeluarkan ultimatum meminta pihak Indonesia untuk menyerahkan senjata kepada tentara AFNEI dan NICA.

Peredebatan tentang Pihak Penyebab Baku Tembak
Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (House of Commons) meragukan bahwa aksi penembakan diawali oleh pihak Indonesia. Ia mensinyalir bahwa peristiwa baku tembak tersebut timbul akibat adanya kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak akibat tidak mengetahui bahwa telah terjadi gencatan senjata yang sedang berlaku karena mereka memutus kontak dan telekomunikasi.

Berikut ini kutipan dari Tom Driberg :
“.... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris) di sebuah bangunan di sisi lain alun – alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun – alun menjadi bergejolak lagi. Brigadir Mallaby pada titik tertentu dalam diskusi, memerintah serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung, kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya meskipun (kita) tidak benar – benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya, yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik, karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar – benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat sejujurnya saya tak punya alasan untuk mempertanyakan.”

Ultimatum 10 November 1945
Setelah Brigadi Jenderal Mallaby terbunuh dan digantikan Mayor Jenderal Mansergh, pihak Inggris memberikan ultimatum kepada orang – orang Surabaya untuk melaporkan dan menyerahkan senjatanya. Batas ultimatum adalah jam 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945.

Bagi arek Suroboyo, ultimatum tersebut dianggap sebuah penghinaan. Ultimatum terebut ditolak dengan alasan Republik Indonesia sudah berdiri dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah membentuk pasukan negara. Selain itu juga telah terbentuk organisasi kepemudaan, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintah Belanda yang memboncengi kehadiran Inggris di Indonesia.

Pada tanggal 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar yang diawali dengan bom udara ke gedung – gedung pemerintahan Surabaya dan mengerahkan 30.000 infanteri, sejumlah tank, pesawat terbang, dan kapal perang. Kota Surabaya dibombardir dari segala penjuru. Perang berkobar antara arek Surabaya dan tentara Inggris.

Terlibatnya masyarakat sipil membuat banyak korban jiwa jatuh baik meninggal maupun terluka. Diluar dugaan, pasukan Inggris yang mengira Surabaya akan jatuh pada hari ke tiga, ternyata lebih dari itu. Tokoh – tokoh masyarakat seperti Bung Tomo sangat berpengaruh dalam mendorong berkobarnya perang ini.

Tokoh – tokoh agama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai pesantren lain juga mengerahkan santri – santrinya untuk ikut berperang (saat itu pemerintah sangat patuh dan taat kepada kyai) sehingga perlawanan dari pihak Indonesia berlangsung lama hingga lebih dari seminggu. Perlawanan rakyat Surabaya awalanya berlangsung spontan dan tidak terorganisir, namun semakin hari semakin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu tiga minggu sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya sebanyak 6.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sedangkan korban dari pasukan Inggris sejumlah 600. Perlawanan di Surabaya ini telah menggerakkan perlawanan – perlawanan lain di wilayah Indonesia. 10 November kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia.
Biografi Sunan Gresik

Biografi Sunan Gresik

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim lahir pada tahun 1419 M atau 882 H. Tidak terdapat bukti yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim meskipun telah disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Magribi kepada dirinya kemungkinan diberikan karena dia keturunan Maghrib atau Maroko di Afrika Utara. Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutkan Makhdum Ibrahim as-Samarqandy yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Beliau diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh abad ke 14.

Dalam buku History of Java menyebutkan bahwa menurut penuturan lokal, “Maulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal dari Arabia, keturunan dari Jaenal Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans artinya di Desa Leran Jeng’gala”. Namun terdapat pendapat lain yaitu dari J.P. Moquett didasarkan pada prasasti makam di Desa Gapura Wetan, Gresik yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.

Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Pada umumnya, ia dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Husan bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats – Tsani, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik.

Penyebaran Agama
Maulana Malik Ibrahim dianggap orang pertama yang melakukan penyebaran agama di tanah Jawa, dan merupakan wali senior diantara Walisongo. Kedatangannya ke pulau Jawa ditujukan ke Desa Sembalo, sekarang bernama Leran, Kecamatan Manyar, berada 9 kilometer ke utara Kota Gresik. Ia kemudian menyebarkan agama Islam ke Jawa bagian timur dengan mendirikan masjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.

Yang beliau lakukan pertama kali adalah mendekatkan diri kepada masyarakat setempat. Perilakunya yang ramah serta berbudi bahas yang santun membuat penduduk asli tertarik masuk Islam dan mengenalnya.

Seperti yang dilakukan para wali lain, Maulana Ibrahim juga melakukan aktivitas perdagangan. Belia melakukan perdagangan di tempat pelabuhan terbuka yang sekarang dikenal dengan nama Desa Roomo, Manyar. Dengan berdagang, ia berinteraksi dengan masyarakat luas, selain itu para bangsawan juga dapat berdagang dengan memperjualbelikan kapal atau menjadi pemodal. Setelah dianggap cukup mapan di masyarakat, beliau kemudian pergi ke Trowulan, Majapahit. Raja menerimanya dengan baik walaupun saat itu raja Majapahit tidak masuk Islam, bahkan Raja Majapahit waktu itu memberikan sebidang tanah di daerah Gresik kepadanya yang kini dikenal dengan nama Desa Gapura. Selanjutnya Maulana Malik Ibrahim membuat pesantren – pesantren guna mempersiapkan kader – kader perjuangan dakwah Islam di pulau Jawa.

Maulana Malik Ibrahi dimakamkan di Desa Gapura, Kota Gresik, Jawa Timur. Hingga saat ini makamnya banyak diziarahi orang – orang. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Haul Sunan Gresik diadakan setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yang merupakan hari wafatnya Sunan Gresik sesuai prasasti yang ada di makamnya. Pada acara tersebut diadakan khataman Al-Quran, Mauludan, dan menghidangkan makanan khas bubur harisah.

Legenda Rakyat
Legenda rakyat mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia. Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq dianggap sebagai anak dari Maulana Jumadil Kubro atau Syekh Jumadil Kubro. Maulana Ishaq dianggap sebagai ulama terkenal di Samudera Pasai dan sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadi Kubro datang ke tanah Jawa bersama dua anaknya. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Kubro tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, sedangkan adiknya mengislamkan di Samudera Pasai.

Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa selama tiga belas tahun. Beliau menikah dengan putri raja dan memiliki dua keturunan yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup dengan misinya di Champa, beliau kemudian pergi ke Jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah kedua anaknya dewasa, mereka mengikuti jejak ayahnya ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam legenda rakyat, Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara – cara bercocok tanam. Ia mudah bergaul dengan masyarakat bawah dan berhasil mendapatkan hati mereka meskipun saat itu sedang dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selain itu, belia juga dikenal sebagai tabib yang sering mengobati tanpa memungut biaya. Beliau pernah diundang untuk mengobati istri raja Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Setelah selesai membangun dan menata pondok tempat belajar agama di Leran, pada tahun 1419 Maulana Malik Ibrahim wafat di Desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Saat ini jalan menuju makam diberi nama Jalan Malik Ibrahim.
Biografi Syekh Jumadil Kubro

Biografi Syekh Jumadil Kubro

Syekh Jumadil Kubro bernama lengkap Syekh Jamaluddin Al – Husain Al – Akbar merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa yang hidup sebelum zaman Wali Songo. Ia mampu menembus kebesaran dinding Kerajaan Majapahit. Beliau juga merupakan cucu ke – 18 Nabi Muhammad SAW dari garis Sayyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syekh Jalal yang terkenal atas akhlaknya yang mampu meredam pertikaian Raja Champa dengan rakyatnya. Berkat jasanya, Syekh Jalal diangkat menjadi raja dan penguasa dari Champa.

Menurut cerita, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan darah atau berasal dari keturunan Syekh Maulanan Akbar. Tiga puteranya disebutkan meneruskan dakhwah di Asia Tenggara, diantaranya;
  • Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik 
  • Ali Nuralam Akbar datuk Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai 
  • Zainal Alam Barakat

Syekh Jamaluddin besar dibawah asuhan ayahnya sendiri. Ketika beliau dewasa, beliau mengembara ke negeri datuknya yaitu ke Hadramaut. Di tempat tersebut beliau belajar dan mendalami berbagai ilmu dari beberapa ulama yang terkenal pada zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf di samping ilmu – ilmu lain.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu dan beribadah hingga ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami berbagai ilmu, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama, beliau kemudian pergi ke Gujarat guna berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui perdagangan inilah beliau bisa mengenal ulama lain ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Beliau berdakwah bersama para ulama beserta putera – puterinya dan santrinya ke tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut sekaligus yang terbagi menjadi tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin oleh Syekh Jumadil Kubro yang memasuki pulau Jawa melalui Semarang dan singgah sesaat di Demak. Selanjutnya rombongan Syekh Jumadil Kubro melanjutkan ke Majapahit dan menetap dan membangun padepokan serta mengajarkan berbagai ilmu yang hendak mendalami ilmu keislaman.

Kelompok kedua terdapat cucu dari Syeikh Jumadil Kubro yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin yang dibantu saudaranya yang bernama Malik Ibrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok terakhir adalah jamaah yang dipimpin putranya bernama al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju tuban. Namanya kemudian termasyur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu atau ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Syekh Jumadil Kubro wafat pada tahun 1376 M tepatnya pada tanggal 15 Muharram 797 H di Trowulan yang diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi dan Hayam Wuruk. Bermula dari usul Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk melakukan dakwah Islamiyah di Kerajaan Majapahit. Ketika itu Kerajaan Majapahit sangatlah kuat dibawah mahapatih Gajah Mada dan keyakinan masyarakat atas arwah leluhur serta agama Hindu Buddha pun masih kuat. Keberadaannya di Kerajaan Majapahit memperlihatkan perjuangan Syeikh Jumadil Kubro sangat besar dalam menegakkan agama Islam di Majapahit. Karena pengaruhnya dalam memberikan pencerahan berkehidupan yang berperadaban, maka Syekh Jumadil Kubro dekat dan disegani para pejabat Kerajaan Majapahit. Tak heran makam dari Syeikh Jumadil Kubro berada diantara makam pejabat kerajaan seperti Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunan Ngudung (ayah dari Sunan Kudus) dan beberapa patih serta senopati.

Makam Syeikh Jumadil Kubro berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Makam Syeikh Jumadil Kubro sering diadakan acara manaqib pada malam Jum’at Pahing jam 19.00 dan pada acara Maulud Nabi Muhammad, sedangkan setiap Jum’at Legi diadakan acara Mujahadah Kubro dan pengajian. Khol Akbar diadakan setahun sekali pada bulan Dulkaidah Jumat tekahir. Makam Syeikh Jumadil Kubro dibuka untuk umum setiap hari dan setiap saat.