Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area diawali pada tanggal 9 Oktober 1945 ketika pasukan Sekutu brigade - 4 dibawah pimpinan Jenderal T.E.D Kelly yang diboncengi NICA dan Divisi India ke - 26 mendarat di Sumatera Utara. Pasukan NICA telah dipersiapkan untuk mengambil alih wilayah Indonesia kembali ke tangan Belanda. Namun, pemerintah Indonesia tidak menyadarinya dan bahkan mempersilahkan Sekutu untuk menempati beberapa hotel di Medan seperti Hotel De Boer, Grand Hotel, dan Hotel Astoria untuk menghormati tugas Sekutu. Selanjutnya, sebagian dari mereka ditempatkan di Binjai dan Tanjung Morawa.

Setelah sehari mendarat di Sumatera, tim RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) mendatangi kamp - kamp tawanan yang ada di Pulau Berayan, Sacntis, Rantau Prapat, Pematang Siantar dan Brastagi untuk membebaskan para tawanan perang dan mengirim ke Medan atas persetujuan Gubernur Teuku Muhammad Hassan. Namun, para bekas tawanan perang tersebut bergabung dengan Batalion KNIL Medan. Akibat hal tersebut, para penduduk Medan tersulut emosi dan memancing berbagai insiden.

Pada 10 Oktober 1945 terbentuk TKR Sumatera Timur yang dipimpin oleh Achmad Tahir. Berikutnya, diadakan pemanggilan terhadap bekas Heiho di seluruh Sumatera Timur. Panggilan ini mendapat sambutan positif bahkan dari organisasi kepemudaan lainnya seperti Pemuda Republik Indonesia Sumatera Timur yang berikutnya berubah nama menjadi Pesindo. Insiden pertama terjadi pada tanggal 13 Oktober 1945 di Jalan Bali, Medan. Insiden ini berawal dari ulah seorang Belanda yang merampas serta menginjak - injak lencana Merah Putih milik salah satu pemuda di Medan.

Akibatnya, terjadi penyerangan dan perusakan hotel oleh para pemuda. Pada insiden tersebut, sebanyak 96 orang luka - luka sebagian besar dari pihak NICA, serta korban opsir dan 7 serdadu NICA meninggal. Insiden ini kemudian menjalar ke beberapa tempat seperti Pematang Siantar dan Brastagi. Pada tanggal 16 Oktober 1945, salah satu pemimpin Laskar Rakyat menyerang gudang persenjataan Jepang untuk memperkuat serangan para pemuda. Setelah berhasil merebut gudang senjata kemudian dilanjutkan dengan menyerang markas Belanda di Glugur Hong dan Halvetia. Penyerangan dilakukan pada malam hari dan menewaskan 5 orang tentara KNIL. Seperti yang berlaku pada daerah - daerah lain, pasukan Sekutu memulai aksinya dengan memberi ultimatum agar bangsa Indonesia menyerah dan memberikan senjata hasil rampasan kepada Sekutu. Hal ini dilakukan oleh Brigadir Ted Kelly pada tanggal 18 Oktober 1945.


Ultimatum Pihak Sekutu Kepada Pemuda Medan
Setelah keluar Maklumat Pemerintah menganai parta - partai politik pada bulan November 1945, di Sumatera Timur terbentuk laskar laskar partai. PNI memiliki laskar Nasional Pelopor Indonesia (Napindo), Masyumi memiliki Laskar Ilizbuilah, dan Parkindo memiliki laskar Pemuda Parkindo. Tepat pada tanggal 1 Desember 1945, Sekutu menuliskan Fixed Boundaries Medan Area (batas resmi wilayah Medan) pada papan - papan di pinggiran kota Medan. Sejak saat itu, pasukan Inggris dan NICA melakukan pembersihan terhadap lambang - lambang negara yang ada di Kota Medan. Para pemuda membalas aksi dari Sekutu sehingga menyebabkan keadaan Medan menjadi tidak kondusif. Setiap ada usaha pengusiran dibalas dengan pengepungan dan bahkan terjadi tembak menembak antar keduanya. Pada tanggal 10 Desember 1945, pasukan Sekutu berusaha menghancurkan pasukan TKR di Trepes dengan melakukan serangan besar - besaran. Disisi lain, pertempuran sengit terjadi di beberapa front Gedung Arca dan Gedung Komite Nasional Indonesia 16 Desember 1945 antara TKR dan pasukan Inggris. Keesokan harinya terjadi pengepungan tentara Inggris terhadap TKR di Jalan Serdang. Akibatnya, Masjid Jami' hancur, hal yang sama juga terjadi di Kantor Kerapatan Sungai Percut, asrama TKR.

RRI Sumatera di dinamit hingga hancur, sedangkan Harian Sinar Deli dilarang menerbitkan koran mulai tanggal 18 Desember 1945. Dilain pihak, TKR berhasil melakukan serangan umum pada tanggal 15 Januari 1946. Serangan tersebut dipimpin oleh Achmad Tahir, Letkol Cut Rachman dan Mayor Martinus. Kota Medan diserang dari berbagai penjuru, karena terdesak pemimpin Inggris pun mengajak mengadakan perundingan.

Pada bulan April 1946, pasukan Inggris berhasil mendesak pemerintah RI keluar dari Medan dan kemudian pemerintahan dipindah ke Pamatang Siantar. Pertempuran berlanjut hingga akhir bulan Juli 1946. Pada tanggal 3 November, Inggris mengusulkan untuk mengadakan gencatan senjata dan pada tanggal 15 November, Belanda juga mengusulkan gencatan senjata. Namun, tak butuh waktu lama, Belanda melanggar perjanjian gencatan senjata dan merampas harta - harta milik warga. Hal ini terus terjadi hingga 1 Desember 1946, Belanda terdesak dan mulai mengunakan segala taktik curang untuk melepaskan diri. Melihat hal ini dan untuk mencegah terjadi konflik lebih luas dan lebih banyak korban, Soekarno meminta penggabungan pasukan bersenjata di Medan ke dalam Tentara Nasional pada 3 Mei 1947. Walaupun belum berhasil mengusir sekutu, para pemuda dengan gigih terus berjuang dengan membentuk Laskar Rakyat Medan Area.

Selain perlawanan di Medan, di daerah sekitarnya juga terjadi beberapa perlawanan terhadap Sekutu, Jepang dan Belanda. Di Padang dan Bukittinggi pertempuran berlangsung dari bulan November 1945. Sedangkan di Aceh terjadi pertempuran melawan Jepang. Sekutu memanfaatkan Jepang untuk ikut membela Sekutu dan akhirnya pertempuran pun pecah yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Krueng Panjol Bireuen. Dalam pertempuran itu, Jepang bisa diusir dari tanah Aceh.
Pertempuran Palagan Ambarawa

Pertempuran Palagan Ambarawa

Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November 1945 dan berakhir pada tanggal 15 Desember 1945 antara pasukan TKR dan Pemuda Ambarawa melawan pasukan Inggris. Ambarawa merupakan salah satu kota kolonial dengan letak yang strategis yaitu berada di tengah - tengah pulau Jawa dan berada diantara kota - kota besar seperti Semarang, Salatiga, dan Magelang. Peristiwa pertempuran Ambarawa dilatarbelakangi oleh mendaratnya pasukan Sekutu dari Divisi India ke - 23 di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Setelah terjadi peristiwa Perang 5 Hari di Semarang melawan pasukan Jepang, pemerintah Indonesia mempersilahkan pihak Sekutu untuk mengurus tawanan perang yang ada di Ambarawa dan Magelang. Maksud kedatangan Sekutu ke Ambarawa dan Magelang adalah :
  1. Menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang
  2. Membebaskan para tawanan perang dan inteniran Sekutu
  3. Melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan
  4. Menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil

Kedatangan Sekutu ternyata diboncengi pasukan NICA. Dalam pelaksanaannya Sekutu yang diboncengi NICA menyelewengkan kewenangannya dan mengganggu kedaulatan Negara Republik Indonesia. Setibanya di Magelang mereka mempersenjatai para tawanan perang sehingga terjadi peperangan pada tanggal 26 Oktober 1945 antara TKR melawan Sekutu di Magelang. Pertempuran ini berakhir ketika Ir. Soekarno dan Brigadir Jendral Bethell datang ke Magelang pada tangal 2 November 1945 dan mengadakan perundingan. Dari perundingan ini mendapatkan kesepakatam yang dituangkan dalam 12 pasal yang berisi :
  1. Pihak Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi pasukan Sekutu yang ditawan pasukan Jepang (RAPWI / Rehabilitation of Allied Prisioners of War and Interneers) dan Palang Merah (Red Cross) yang menjadi bagian dari pasukan Inggris. Jumlah pasukan Sekutu dibatasi sesuai dengan tugasnya.
  2. Jalan raya Ambarawa dan Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia dan Sekutu
  3. Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dan badan - badan yang ada di bawahnya.
Terjadinya Peristiwa Palagan Ambarawa
Kesepakatan antara Ir. Soekarno dan Brigadir Jendral Betell diingkari oleh Sekutu. Pertempuran Ambarawa pecah pada tanggal 20 November 1945 antara TKR dibawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu. Pada tanggal 21 November, pasukan Sekutu yang berada di Magelang diboyong ke Ambarawa dengan perlindungan pesawat tempur. Pada tanggal 22 November 1945, perang berkobar di kota Ambarawa. Pasukan TKR Ambarawa beserta bantuan TKR Boyolali, Salatiga dan Kartasura bertahan di kuburan Belanda dan membentuk suatu garis pertahanan di sepanjang jalur rel kereta api yang membelah kota Ambarawa.

Di sisi lain dari arah Magelang datang pasukan TKR Divisi V / Purwokerto yang dipimpin Imam Androngi melakukan serangan fajar pada tanggal 21 November 1945. Serangan ini bertujuan agar pasukan Sekutu meninggalkan Desa Pingit yang ditempatinya. Pasukan Divisi V mampu mengusir sekutu dari Desa Pingit dan desa - desa lain yang diduduki Sekutu. Imam Androngi terus mengejar Sekutu dan diperkuat tiga batalion dari Yogyakarta yaitu Batalion 10 dibawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalion 8 dibawah pimpinan Mayor Sardjono, dan Batalion Sugeng.

Sekutu terkepung, walaupun demikian Sekutu berusaha menerobos kepungan pasukan TKR. Mereka mengancam akan menggunakan tank - tank dari arah belakang. Untuk menghindari lebih banyak korban, pasukan TKR mundur ke Bedono. Dengan dibantu Reimen II yang dipimpin M. Sarbini, Batalion Polisi Istimewa yang dipimpin oleh Onie Sastroatmojo serta Batalion dari Yogyakarta mengakibatkan Sekutu berhasil di tahan di Desa Jambu. Para komandan kemudian melakukan rapat di Desa Jambu yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.

Rapat ini menghasilkan pembentukan komando yang disebut Markas Pimpinan Pertempuran, yang bertempat di Magelang. Sejak saat itu, kota Ambarawa dibagi menjadi empat sektor yaitu sektor timur, sektor barat, sektor utara dan sektor selatan. Pasukan pertempuran disiagakan secara bergantian. Pada tanggal 26 November 1945, pimpinan pasukan dari Purwokerto, Letkol Isdiman gugur dalam peperangan dan diganti Kolonel Sudirman Panglima Divisi V di Purwokerto. Situasi pertempuran menguntungkan TKR.

Strategi Pertempuran Ambarawa Supit Urang
Musuh yang berada di Banyubiru, terusir pada tanggal 5 Desember 1945. Setelah mempelajari pertempuran Sekutu, Kolonel Soedirman mengkomando untuk mengumpulkan setiap komandan sektor. Dalam koordinasi tersebut dinyatakan bahwa Sekutu dalam kondisi tercepit dan perlu dilakukan serangan terakhir. Susunan rencana tersebut sebagai berikut :
  1. Serangan dilakukan secara serentak dan mendadak di semua lini sektor di Ambarawa
  2. Setiap komandan sektor memimpin pelaksanaan serangan
  3. Pasukan badan perjuangan (laskar) menjadi tenaga cadangan
  4. Hari serangan dilaukan pada tanggal 12 Desember 1945, pukul 04.30
Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan, pasukan TKR bergerak menuju sasaran. Serangan dikomando dari para komandan dengan serangan mendadak di semua sektor. Serngan ini dipusatkan dari arah barat selatan dari arah Magelang memaksa Sekutu lari ke timur. Sementara itu di kiri dan kanan pasukan sekutu dikepung seperti supit udang agar Sekutu digiring keluar melewati jalan Ambarawa Semarang. Pasukan TKR mengepung Sekutu dengan maju dari segala penjuru arah, menerkam musuh, menggagahi tank dan ranjau dan menembus hujan peluru Sekutu.

Dalam tempo satu setengah jam, pasukan TKR mampu mengepung Sekutu yang terjebak di dalam kota Ambarawa. Pasukan Sekutu yang terkuat berlindung di benteng Willem (benteng pendem) yang berada di tengah - tengah antara Ambarawa dan Banyubiru.

Pertempuran Ambarawa berlangsung selama empat hari empat malam (12 - 15 Desember 1945) kota Ambarawa dikepung oleh para TKR dan pemuda Ambarawa. Sekutu yang merasa kedudukannya tercepit memilih mudur dan meninggalkan Ambarawa menuju Semarang pada tanggal 15 Desember 1945. Setiap tanggal 15 Desember kemudian diperingati Hri Infanteri. Untuk mengenang peristiwa ini dibuatlah monumen Palagan Ambarawa yang dibangun di tengah Kota Ambarawa.
Pertempuran 5 Hari di Semarang

Pertempuran 5 Hari di Semarang

Pelucutan Senjata oleh para Pemuda dan BKR
Kalahnya Jepang yang ditandai dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki memaksa Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945 dan disusul proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia seharusnya secara sah merdeka dan Jepang tidak memiliki hak atas Indonesia. Mr. Wongsonegoro ditunjuk sebagai penguasa Republik Indonesia di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Semarang. Dengan adanya kemerdekaan Indonesia mewajibkan pemerintah Jawa Tengah untuk mengambil alih wilayah Jawa Tengah dari tentara Jepang termasuk dalam bidang pemerintahan, keamanan dan ketertiban. Untuk itu pemerintah Republik Indonesia membentuk Badan keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat.

Pada beberapa tempat di Jawa Tengah, pelucutan senjata Jepang berlangsung tanpa kekerasan seperti di Banyumas, namun juga ada yang memerlukan pertumpahan darah seperti yang ada di Semarang. Kidobutai (pusat ketentaraan Jepang di Jatingaleh) nampaknya tidak sepenuhnya setuju dengan pelucutan senjata yang dilakukan para pribumi meskipun Gubernur Wongsinegoro telah menjamin bahwa senjata tersebut bukan untuk melawan Jepang. Permintaan dilakukan berulang kali, namun hasil yang didapatkan tidak seberapa, dan senjata yang diberikan pun merupakan senjata - senjata usang.

BKR dan Pemuda di Semarang curiga kepada Jepang yang akan melakukan perlawanan. Kecurigaan semakin bertambah setelah mendengar kabar pasukan sekutu akan mendarat di Pulau Jawa. Pihak BKR dan Pemuda Semarang khawatir senjata Jepang akan diserahkan ke Sekutu. Mereka berpendapat sebelum sekutu mendarat di pulau Jawa, mereka harus merebut senjata Jepang terlebih dahulu. Mereka sudah menduga bahwa Belanda bersama sekutu akan kembali merebut wilayah Indonesia dan menjajah Indonesia lagi. Pasukan pemuda terdiri dari beberapa kelompok yakni BKR, Polisi Istimewa, AMRI, AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dan organisasi pemuda lainnya.

Markas Jepang di Semarang mendapatkan bantuan dari pasukan Jepang yang dari Irian yang menuju Jakarta sebanyak 675 orang, karena persoalan logistik mereka kemudian singgah di Semarang. Pasukan ini merupakan pasukan khusus perang yang telah terlatih berperang di medan Irian. Keadaan saat itu kontras sekali, para pemuda yang belum memiliki pengalaman berperang dan bahkan ada yang tidak bersenjata harus melawan Jepang yang telah memiliki pegalaman berperang dan memiliki senjata lebih lengkap. Sebagian besar juga belum mendapatkan latihan berperang kecuali pasukan Polisi Istimewa, anggota BKR, dari ex-Peta dan Heiho yang mendapat pendidikan kemiliteran tetapi tanpa pengalaman bertempur.

Pertempuran 5 hari di Semarang diawali dari bentrokan 400 tentara Jepang yang bertugas membangun pabrik senjata di Cepiring, dengan jarak 30 km dari Semarang. Pertempuran ini mengawali berkobarnya perang dari Cepiring hingga Jatingaleh di bagian atas kota. Pasukan Jepang yang kalah memilih mundur ke Jatingaleh dan bergabung dengan pasukan Kidobutai di Jatingaleh.

Peracunan Sumber Air di Candi dan Terbunuhnya Dr. Kariadi
Suasana kota Semarang memanas. Ada kabar burung yang menyebutkan pasukan Kidobutai akan melakukan serangan balasan. Suasana semakin memanas ketika terdengar kabar pasokan cadangan air di Candi (Siranda) telah diracuni oleh tentara Jepang dan pelucutan 8 orang polisi Indonesia yang sedang menghindarkan peracunan air minum itu..

Dr. Kariadi selaku kepala Labratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) setelah mendengar kabar tersebut seketika bergegas menuju Candi untuk mengecek kebenarannya. Namun, beliau tidak sampai pada tempatnya dan ditemukan tewas di jalan Pandanaran karena terbunuh oleh tentara Jepang. Namanya kemudian diabadikan menjadi sebuah rumah sakit ternama di Semarang yaitu RS Karyadi. Keesokan harinya pada tanggal 15 Oktober 1945 pukul 03.00, pasukan Kidobutai melancarkan serangan ke tengah kota Semarang.

Markas BKR saat itu berada di komplek bekas sekolah MULO di Mugas. Di sinilah tentara Kidobutai menyerang di pagi buta. Mereka menyerang secara mendadak dengan dua tipe serangan yaitu tembakan tekidanto (pelempar geranat) dan senapan mesin yang gencar. Diperkirakan pada saat itu pasukan Jepang berjumlah 400 orang. Setelah memberikan perlawanan selama setengah jam, pimpinan BKR menyadari bahwa pasukan BKR tidak bisa mempertahankan maskasnya dan memilih mundur meninggalkan markas BKR.

Selanjutnya, pasukan Jepang bergerak membebaskan markas Kempetai yang telah dikepung para pemuda. Setelah mampu mematahkan serangan para pemuda, pasukan Jepang berpindah ke markas Polisi Istiewa di Kalisari dan berhasil menduduki markas tersebut. Disini terjadi pembunuhan yang sangat kejam terhadap anggota polisi yang tidak sempat melarikan diri dari pengepungan.

Di depan markas Kempetai juga terjadi pertempuran sengit antara pasukan Jepang dengan para pemuda di bekas Gedung NIS (Lawang Sewu) serta di Gubernuran (Wisma Perdamaian). Pasukan gabungan yang terdiri dari BKR, Polisi Istimewa dan AMKA melawan secara gigih hingga banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Meskipun pihak Jepang pada pertempuran pertama mampu menduduki beberapa tempat penting, namun mereka tidak bisa bertahan lama karena mereka terus mendapat serangan dari BKR dan pemuda. Mereka terpaksa pergi meninggalkan markas dan begitu terus silih berganti pendudukan di tempat - tempat strategis antara pemuda dan tentara Jepang.

Selain menangkap Wongsonegoro, Jepang juga menangkap kepala Rumah Sakit Purusara yaitu Dr. Sukaryo, Komandan Kompi BKR yang merupakan ex-Sudanco, Mirza Sidharta dan banyak pemimpin lain. Bantuan dari luar kota terus berdatangan untuk bergabung bersama pemuda.

Pasukan BKR dan pemuda dari Pati datang untuk membantu serangan kepada Jepang di tempat - tempat penting di kota Semarang. Taktik gerilya digunakan untuk menghindari perang terbuka dengan tiba - tiba menyerang dan menghilang. Sekalipun belum ada komando penyerangan, namun secara silih berganti para pemuda melancarkan serangan dadakan dan tak terduga sehingga menyulitkan Jepang.

Markas Jepang di Jatingaleh pun tidak luput dari serangan para pemuda. Gerakan Jepang terhambat karena harus melawan para pemuda di depan kantor PLN, bahkan para pemuda sempat memukul mundur pasukan Jepang. Akibat serangan yang membabi buta, petuga PMI tidak bisa bergerak leluasa dan menyebabkan banyak korban pertempuran dalam kondisi sangat menyedihkan. Mereka yang mendapat luka setelah berperang beberapa tidak mendapat perawatan yang semestinya, para korban meninggal di beberapa tempat hingga membusuk karena tidak segera di kubur.

Petugas lain yang memiliki jasa besar dalam perang 5 hari di Semarang adalah dapur umum yang bermarkas di Hotel du Pavillion (Dibya Putri) dimana para pemuda menggantungkan makanan disini setelah selesai berperang walaupun mereka sendiri juga kekurangan makanan.

Pertempuran di Tugu Muda
Diperkirakan sebanyak 2.000 pasukan Jepang ikut terlibat dalam perang ini. Senjata lengkap pasukan Jepang melawan semangat juang pemuda Semarang yang tak kenal lelah dan silih berganti melakukan serangan ke pihak Jepang. Pertempuran paling sengit terjadi di Tugu Muda. Puluhan pemuda terkepung disana dan dibantai oleh Kidobutai. Para pemuda yang berasal dari daerah sekitar menunjukkan kesetia - kawanan mereka. Silih berganti para pemuda melakukan serangan balasan. Mereka yang baru datang dari luar seketika langsung turun ke medan pertempuran.

Setelah BKR berhasil melakukan konsolidasi dan mendapat bantuan dari wilayah lain, kondisi berbalik. Jepang terkepung dan dalam keadaan kritis. Serangan pemuda makin gencar dan diperhebat. Banyaknya korban dari para pemuda menyulut amarah mereka untuk menuntut balas atas kematian teman seperjuangan mereka. Diperkirakan sebanyak 2000 orang dari para pemuda gugur dan 500 orang dari Jepang tewas dalam pertempuran ini. Pahlawan - pahlwan ini kemudian dikebumikan di Makam Pahlawan, Semarang.
Makam Pahlawan Semarang

Berikutnya diadakan perundingan antara pihak Jepang dan pemuda. Jepang menghendaki agar senjata - senjata yang telah dirampas dikembalikan lagi ke pihak Jepang. Wongsonegoro menolak dengan alasan tidak ada jaminan atas penyerahan senjata serta tidak diketahui siapa - siapa yang memegang senjata tersebut. Akhirnya Jepang menerima pernyataan Wongsonegoro dan pihak Jepang menyerah serta melakukan gencatan senjata.

Sebenarnya para pemuda tidak setuju dan kecewa dengan gencatan tersebut, mereka kecewa atas banyaknya kawan - kawan seperjuangan yang telah gugur dan hendak menuntut balas atas kematiannya. Setibanya sekutu di Semarang, maka berakhirlah pertempuran dengan Jepang selama lima hari tepat pada tanggal 19 Oktober 1945.
Bersatunya Dhaha dan Tumapel Kerajaan Singasari

Bersatunya Dhaha dan Tumapel Kerajaan Singasari

Mengenang leluhur Kerajaan Majapahit yaitu Kerajaan Singasari. Kerajaan ini meskipun hanya berdiri selama 70 tahun (1222 - 1292), namun memiliki 5 pemimpin yang mampu mengguncangkan Nusantara. Penguasa tersebut diceritakan di kitab Pararaton diantaranya :
  1. Rajasa Sang Amarwabhumi (1222 - 1247)
  2. Bhatara Anusapati (1247 - 1249)
  3. Panji Tohjaya (1249 - 1250)
  4. Wisnuwardhana (1250 - 1272)
  5. Kertanegara (1272 - 1292)
Terdapat semacam perjanjian tidak tertulis yang hanya bisa diamati ketika menelisik artefak peninggalan yang ada.  Bila kita mengambil ibukota Kerajan Tumapel / Singasari atau Kota Singosari modern saat ini :

Anak dari Tunggul Ametung - Ken Dedes berkuasa atas istana Tumapel dan wilayah timur serta utara. Sedangkan anak dari Ken Umang - Ken Arok - Ken Dedes berkuasa di Dhaha dan wilayah barat dan selatan. Kedua kubu saling berpengaruh dan mendapat legitimasi sebagai penguasa utama. Hingga masa pemerintahan Winuwardhana (Tumapel) dan Mahesa Campaka (Dhaha) kemudian sepakat untuk melebur dan berkolaborasi antar kedua keluarga yang terpecah akibat pertikaian masa lalu.

Istana Tumapel dibawah pemerintahan Wisnuwhardhana mengambil gelar untuk bangsawannya yaitu Mahasinghanada, sedangkan istana Dhaha dibawah pemerintahan Mahesa Campaka mengambil gelar Mahanarasinghamurti untuk bangsawannya. Keduanya saling mengaku bahwa mereka merupakan berasal dari rahim sang singha, Ken Dedes. Sejak saat itu tidak ada lagi perebutan kekuasaan dan nama kerajaan berubah menjadi Singhasari.

Istana Tumapel memiliki tugas sebagai diplomasi luar negeri serta perdagangan, sedangkan Dhaha memiliki tugas melakukan diplomasi dalam negeri dan mengatur kekuatan militer. Putra mahkota istana Tumapel diangkat menjadi Yuwaraja (raja muda) di Dhaha dan sebaliknya Putera mahkota Dhaha diangkat menjadi Yuwaraja di Tumapel.

Raja Tumapel bergelar Murdharaja atau penjaga kemakmuran sedangkan raja Dhaha bergelar Anggabhaya atau penjaga keselamatan dari bahaya. Dua matahari kembar inilah yang kemudian menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara dan mengukuhkan sebagai "Naga Laut Selatan" (armada laut yang disegani dan menguasai laut bagian selatan yangmeliputi Nusantara), meneruskan kebesaran Dhaha Panjalu dan Kahuripan.
Biografi Cheng Ho

Biografi Cheng Ho

Cheng Ho merupakan seorang kasim muslim kepercayaan Yongie dari Tiongkok dan menjadi kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Cheng Ho memiliki nama asli Ma He atau dikenal dengan nama lain Ma Sanbao yang berasal dari Yunnan. Ketika pasukan dinasti Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap kemudian dijadikan orang kasim. Cheng Ho merupakan seorang yang bersuku Hui, suku yang memiliki ciri fisik mirip dengan suku Han namun dengan agama yang berbeda yaitu Islam.

Dalam Ming Shi (sejarah Dinasti Ming) tidak banyak menyebutkan sejarah Cheng Ho. Yang disebutkan hanya Cheng Ho berasal dari Yunnan, dikenal dengan kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian bisa diucapkan San Po, Sam Poo atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke - 4 (1371 M) merupakan anak ke - 2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.

Ketika Ma He berumur 12 tahun, provinsi Yunnan yang dikuasai dinasti Yuan direbut oleh dinasti Ming. Para pemuda di Yunnan dikebiri dan dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Cheng Ho juga diikutkan sebagai tawanan dan djadikan abdi Raja Zhu Di istana Beiping (sekarang Beijing).

Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil memukau dengan memperlihatkan kehebatan dan keberaniannya seperti memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berwajah lebar dan tinggi besar nampak gagah melibas lawan - lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.

Ketika kaisar Zhu Di menginginkan merebut kembali kejayaan Tiongkok yang jatuh akibat Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah (perjalanan) ke penjuru negeri. Kaisar sempat kaget mendengar penawaran yang tergolong nekad tersebut namun mengiyakan.


Ekspedisi Pelayaran Cheng Ho
Armada Tiongkok berangkat dibawah komando Cheng Ho pada tahun 1405 M. Sebelum berangkat, pasukan Cheng Ho sholat terlebih dahulu di masjid tua di kota Quanzhou (provinsi Fujian). Pada pelayaran pertama, pasukan Cheng Ho mampu berlayar sampai ke Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera dan Jawa). Pada tahun 1407 - 1409 berangkatlah ekspedisi ke dua. Pada tahun 1409 - 1411 kembali melaksanakan ekspedisi ke tiga hingga mencapai India dan Srilanka. Pada ekspedisi ke empat pada tahun 1413 - 1415 ekspedisi Cheng Ho mencapai Aden, Teluk Persia dan Mogadishu (Afrika Utara). Jalur ini kembali di ulang pada ekspedisi ke lima (1417 - 1519) dan ke enam (1421 - 1422). Sedangkan pada ekspedisi terakhir berhasil mencapapi Laut Merah pada tahun 1431 - 1433.

Cheng Ho berlayar hingga ke Malaka pada abad ke - 15. Pada saat itu, seorang putri Tiongkok bernama Hang Li Po (Hang Liu) dikirim untuk menikahi raja Malaka, Sultan Mansur Shah. Pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat dan digantikan oleh Kaisar Hongxi yang berkuasa dari 1424 - 1425. Ia memutuskan untuk mengurangi kaum kasim di lingkungan kerajaan. Berikutnya, Cheng Ho melakukan ekspedisi lagi pada masa pemerintahan Kaisar Xuande (1426 - 1435).

Kapal yang digunakan Cheng Ho bernama "kapal pusaka" yang merupakan kapal terbesar pada abad ke - 15. Dengan panjang 44,4 zhang atau 138 meter dan lebar 18 zhang atau 56 meter, kapal ini berukuran lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut seorang sejarawan bernama JV Mills, kapal yang digunakan Cheng Ho mampu menampung berat hingga 2500 ton.
Komparasi kapal Cheng Ho dan kapal Columbus
Model kapal Cheng Ho kemudian menginspirasi petualang kapal Spanyol dan Portugis hingga pelayaran modern masa kini. Desain kapal Cheng Ho sangat kokoh, tahan badai dan dilengkapi teknologi penunjang seperti kompas magnetik. Rute pelayaran Cheng Ho yaitu di Asia dan Afrika meliputi :
  • Vietnam
  • Taiwan
  • Malaka
  • Sumatera
  • Jawa
  • Srilangka
  • India bagian Selatan
  • Persia
  • Teluk Persia
  • Arab
  • Laut Merah ke utara hingga Mesir
  • Afrika ke selatan hingga Selat Mozambik
Peta Pelayaran Cheng Ho

Karena Cheng Ho beragama Islam, para awak kapal mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin berhaji ke Mekkah seperti yang dilakukan kakek dan ayahnya, namun para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Armada kapal Cheng Ho berjumlah 27.000 anak buah kapal dan 307 armada kapal laut. Kapal - kapal tersebut berukuran besar dan kecil, dari kapal bertiang tiga meter hingga bertiang sembilan buah. Kapal yang terbesar berukuran panjang 120 meter dan lebar 50 meter. Rangka kapal terbuat dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beraneka raga seperti sapi, ayam dan kambing untuk disembelih. Selain itu mereka juga membawa banyak bambu Tiongkok sebagai cadangan dan juga sutera untuk dijual.

Pada saat ekspedisi, Cheng Ho membawa kembali ke Tiongkok berupa penghargaan dan utusan dari 30 kerajaan termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka yang datang ke Tiongkok untuk meminta maaf kepada kaisar Tiongkok. Selama ekspedisi, Cheng Ho membawa banyak barang berharga seperti kulit dan getah pohon kemenyan, batu permata (ruby, emerald dan lain - lain), bahkan orang Afrika, India dan orang arab sebagai bukti perjalanan. Selain itu Cheng Ho juga membawa binatang seperti jerapah sebagai hadiah dari raja Afrika, namun sayang jerapah tersebut mati ketika dalam perjalanan.

Majalah life menempatkan Cheng Ho sebagai orang nomer 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho menghasilkan peta navigasi yang mampu megubah peta navigasi dunia sebelum abad ke 15.

Cheng Ho merupakan penjelajah ulung dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia dan juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa. Cheng Ho dikenal dengan sifatnya yang arif dan bijaksana. Ia mampu memimpin ribuan anak kapal dan membendung hasrat menjajah ke negara - negara yang pernah ia lewati.

Saat di India, anak buah Cheng Ho membawa seni beladiri lokal benama Kallary Payatt yang kemudian dikembangkan di Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu. Sebagai seorang Hui (etnis Cina yang identik dengan Muslim), Cheng Ho memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya dan ayahnya seorang haji. Pada bulan ramadhan tepatnya 7 Desember 1411, Cheng Ho menyempatkan diri untuk kembali ke kampung halamannya di Kunyang untuk berziarah ke makam ayahnya. Ketika sampai di kampung halamannya pada bulan ramadhan, Cheng Ho berpuasa di kampungnya yang senantiasa semarak. Ia tenggelam dalam kegiatan keagamaan hingga Idul Fitri tiba.

Setiap kali Cheng Ho berlayar, banyak awak kapalnya yang beragama Islam yang ikut serta dalam pelayaran. Sebelum berlayar, Cheng Ho selalu menyempatkan untuk sholat berjamaah terlebih dahulu. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut dalam pelayaran Cheng Ho diantaranya Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha'ban dan Pu Heri. Beberapa sejarawan meyakini bahwa petualangan sejati Cheng Ho sudah menunaikan ibadah haji. Memang belum ada catatan atau bukti akan hal tersebut, tapi diyakini ia melakukannya pada ekspedisi terakhir yaitu pada tahun 1431 - 1433 ketika rombongannya singgah di Jeddah.

Selama hidupnya Cheng Ho memang sering mengutarakan bahwa ia menginginkan untuk pergi haji seperti apa yang dilakukan kakek dan ayahnya. Obesesi ini bahkan terbawa hingga akhir ajalnya. Hingga ia mengutus Ma Huan untuk pergi ke Mekah dan melukiskan Ka'bah untuknya. Cheng Ho meninggal di Calicut, India pada tahun 1433 dalam perjalanan terakhirnya.

Cheng Ho dan Indonesia
Cheng Ho singgah di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ia mengunjungi Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa bernama "Cakra Donya" kepada sultan Aceh yang kini disimpan di museum Banda Aceh. Pada tahun 1415, armada Cheng Ho singgah di Muara Jati (Cirebon) dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya yaitu sebuah piring yang bertuliskan ayat kursi yang masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Saat ia melalui Laut Jawa, pernah seorang dari armada yang sangat berpengaruh di ekspedisinya bernama Wang Jinghong sakit keras. Wang akhirnya diturunkan di pantai Simongan, Semarang dan kemudian menetap disana. Salah satu buktinya yaitu adanya Klenteng Sam Poo Kong yang berdiri serta patung yang disebut - sebut bernama Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Poo Kong. Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Majapahit pada masa pemerintahan Wikramawardhana.
Baca Juga : Klenteng Sam Poo Kong
Romusha Pada Masa Penjajahan Jepang

Romusha Pada Masa Penjajahan Jepang

Latar Belakang Adanya Romusha
Romusha merupakan panggilan bagi orang - orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 hingga tahun 1945. Kata romusha berasal dari bahasa Jepang yang berarti serdadu kerja. Secara harfiah romusha dapat diartikan sebagai orang - orang yang bekerja pada pekerjaan kasar (buruh). Romusha hampir sama dengan sistem kerja paksa atau tanam paksa pada masa penjajahan Belanda. Para romusha dipekerjakan sebagai petani, penambang, tenaga pembangunan dan pekerjaan pekerjaan kasar lain.

Jepang memberlakukan sistem romusha dengan tujuan sebagai persiapan perang dengan segala kebutuhan perang Jepang dalam upaya memenangkan Perang Pasifik atau perang Asia Timur Raya. Pada awalnya, penduduk pribumi bekerja secara sukarela kepada Jepang, para romusha terpengaruh propaganda "untuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya".

Luasnya jajahan Jepang di Indonesia, membuat Jepang membutuhkan banyak tenaga untuk secepatnya membangun sarana pertahanan seperti kubu - kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gedung bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Sebagian besar romusha adalah para petani. Sistem romusha diberlakukan pertama kali sejak bulan Oktober 1943. Para romusha dipekerjakan bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga di Birma, Muangthai, Vietnam, Malaysia serta Serawak.

Ketenaga Kerjaan Romusha
Dalam sidang pertama Chuo Sangi in membahas mengenai pembentukan badan - badan yang bertujuan untuk memotivasi rakyat menjadi tenaga sukarela melalui kerja sama bupati, wedana, camat dan kepala desa untuk pengerahan tenaga kerja (buruh / romusha) secara sukarela di pemerintahan Jepang. Dalam pelaksanaannya, syarat - syarat sukarela tersebut diabaikan. Banyak diantara keluarga yang secara terang - terangan menolak untuk masuk dalam pekerja paksa romusha. Mereka yang menolak akan dipaksa, ditakut - takuti dan dikucilkan. Jika anak yang mereka minta melarikan diri dan bersembunyi ke sawah maupun hutan, pihak Jepang akan dicari dan apabila ketemu akan dipaksa untuk masuk sebagai romusha.

Selama dipekerjakan sebagai romusha hingga selesai, ternyata mereka hanya mendapat fasilitas sangat minim dan tidak diberi upah. Mereka tidak dapat menuntut karena tidak adanya perjanjian kerja tertulis. Para romusha dipekerjakan sebagai tenaga kerja paksa dan buruh yang dibayar upah selayaknya.

Sebelum mendapatkan wilayah jajahan Indonesia dari tangan Belanda, Jepang telah memperhitungkan tanah Jawa akan bisa memberikan tenaga kerja yang memadai untuk memenangkan Perang Pasifik. Perhitungan ini didasarkan para jumlah penduduk Jawa dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tergolong pesat. Hal ini sangat menguntungkan Jepang apalagi tenaga yang diambil dari Jawa didapatkan tanpa upah dan tanpa pengeluaran biaya untuk makan maupun pengobatan. Pola pikir inilah yang kemudian membuat para romusha banyak yang mati kelaparan maupun terserang wabah penyakit.

Jumlah romusha yang dipekerjakan Jepang diperkirakan mencapai 4 hingga 10 juta orang. Tenaga romusha yang didapatkan dari orang - orang Jawa melalui program Kinrohosi (kerja bakti). Pada awalnya para romusha secara sukarela memabntu pemerintah Jepang, namun akibat desakan Perang Pasifik, pemerintah Jepang memaksa melakukan pengerahan tenaga yang diserahkan kepada panitia pengerahan (Romukyokai) yang ada di setiap desa. Peraturan yang diberikan Jepang yaitu setiap keluarga petani diwajibkan menyerahkan satu orang laki - laki untuk berangkat menjadi romusha. Sedangkan untuk golongan masyarakat seperti pedagang, pejabat, dan orang - orang Cina dapat menyogok para pejabat pelaksana pengerahan tenaga atau membayar teman sekampung yang miskin agar menggantikannya sehingga terhidar dari kerja wajib romusha.

Pemerintah Jepang mempropagandakan "prajurit ekonomi" atau "pahlawan kerja" bagi para romusha. Mereka menggambarkan para romusha merupakan orang - orang yang sedang menjalani tugas suci guna memenangkan perang Asia Timur Raya. Pada waktu itu, sebanyak 300.000 orang Jawa dapat dijadikan sebagai romusha dan 70.000 orang berada dalam keadaan yang menyedihkan.

Kekejaman Romusha
Pada pertengahan tahun 1943, para romusha semakin tereksploitasi oleh pemerintah Jepang. Akibat kekalahan Jepang di Perang Pasifik membuat Jepang terpaksa mengearahkan para romusha untuk dipergunakan sebegai tenaga swasembada pendukung perang secara langsung. Para romusha dialih fungsikan menjadi pasukan - pasukan Jepang. Pada saat itu permintaan akan romusha semakin tak terkendali. Barulah pada tahun 1945, ketika Hindia Belanda memerdekakan diri dan berubah nama menjadi Indonesia menandakan berakhirnya proyek dan impian kolonisasi Jepang begitu juga dengan sistem kerja romusha.

Hanya pada awal pendudukan Jepang berlaku baik, setelahnya mereka sangat kejam dengan meghilangkan makanan, pakaian, barang dan obat - obatan di pasaran. Sulitnya mendapatkan pakaian pada masa tersebut membuat para pribumi menggunakan karung goni sebagai celana bagi para pria. Sedangkan para wanita menggunakan kain dari karet yang panas apabila menempel di tubuh. Obat - obatan juga sangat langka di pasaran. Banyak diantara para pribumi terkena penyakit koreng dalam jumlah yang banyak sekali. Mereka sangat kesulitan mendapatkan salep. Mereka terpaksa membuat obat - obatan sendiri untuk mengobati koreng tersebut.

Sepeda kala itu menggunakan ban karet mati atau ban mati. Buku - buku di sekolah - sekolah terbuat dari kertas merang. Pencil atau potlot dari arang hingga menyulitkan untuk menulis. Pada masa itu, banyak dari para pribumi memungut makanan di bak - bak sampah. Bila menemukan mayat di jalan mereka tidak terlalu kaget. Jepang bahkan mengajari para pribumi untuk makan bekicot yang pada masyarakat Betawi disebut keong racun. Akses radio dipersulit dan radio beberapa orang disegel. Mereka hanya boleh mendengarkan berita dari Dai Nippon. Apabila ketahuan mendengarkan saluran dari luar negeri maka akan dihukum berat. Orang - orang sangat takut dengan para polisi militer Jepang yang memiliki julkan Kempetai.

Pada malam hari seringkali terdengar sirine Kuso Keho yang merupakan penanda adanya serangan udara dari sekutu. Para orang - orang pribumi bergegas memadamkan api penerangan dan kemudian berlari ke tempat perlindungan. Pada halaman - halaman rumah seringkali terdapat galian lubang dengan kapasitas empat hingga lima orang untuk berlindung ketika sirine bahaya berbunyi.

Kekejaman Jepang pernah difilmkan dalam sebuah film berjudul Romusha. Film ini diproduksi pada tahun 1972 dan telah lulus sensor namun ditahan oleh Deppen. Alasannya yaitu mengganggu hubungan Indonesia dan Jepang. Pada masa Orde Baru, kebijakan pemerintah sangat sulit di lawan. Meskipun ada sedikit protes dari pihak dunia perfilman, namun pihak Deppen diperintahkan "atasan" untuk tidak meladeninya. Menurut produser Julies Rofi'ie, ia mendapat tekanan dari pemerintah Jepang untuk tidak menyiarkan film Romusha.

Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizami meminta maaf atas kekejaman bala tentaranya ketika Perang Dunia II yang menyebabkan berbagai penderitaan di kawasan Asia. Permintaan ini disampaikan pada pertemuan Presiden RRC Hu Jintau di sela - sela KTT Asean pada tahun 2005 di Jakarta. Permintaan ini ternyata tidak hanya ditujukan kepada Cina dan Korea saja, melainkan negara - negara di Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia. Sampai saat ini korban eks romusha pada PD II mengajukan klaim kepada Jepang atas kompensasi gaji mereka yang tidak dibayar selama menjadi romusha.

Dampak Romusha
A. Bidang Ekonomi
Keadaan Indonesia mengalami kemerosotan akibat adanya romusha. Berikut ini adalah penyebabnya :
  • Penyuluh pertanian bukan dari tenaga ahli pertanian
  • Banyak hewan - hewan yang sangat berguna dalam proses pertanian direbut pihak Jepang
  • Kurangnya tenaga kerja petani karena sebagian besar petani dilarikan menjadi tenaga kerja romusha
  • Banyaknya penebangan hutan liar
  • Kewajiban menyerahkan hasil bumi
B. Bidang Sosial Budaya
Kepala desa dan camat menjadi orang yang bertanggung jawab atas pemilihan romusha pada masyarakat mereka. Para romusha dipilih dari orang - orang yang mereka tidak sukai. Berjuta - juta rakyat mengalami kelaparan dan dalam kondisi serba kekurangan. Program romusha seakan menambah hancur ketentraman masyarakat Jawa.
Peristiwa Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki

Peristiwa Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki

Peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki merupakan peristiwa kelam bagi sejarah Jepang. Serangan ini menyebabkan kota Hiroshima dan Nagasaki hancur serta merenggut banyak korban jiwa. Efek yang ditimbulkan bukan hanya kematian tetapi juga cacat seumur hidup yang disebabkan radiasi kimia dari bom atom. Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat ke Jepang merupakan balasan dari penyerangan Pearl Harbour yang terjadi pada tanggal 7 Desember 1941. Amerika membungkam angkatan perang Jepang yang dianggap heroik, pantang menyerah dan loyal kepada kaisar Jepang. Sebanyak 140.000 orang meninggal di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 80.000 di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.  Pengeboman dua kota ini dilaksanakan atas perintah presiden AS bernama Harry S. Truman.

Enam hari setelah bom Nagasaki, Jepang mengumumkan menyerah kepada sekutu tanpa syarat dan menandatangani instrumen menyerah pada tanggal 2 September 1945. Hal ini menandakan bahwa Jepang secara resmi mengakhiri Perang Pasifik dan Perang Dunia II. Sebelumnya Jerman juga sudah menandatangani bahwa Jerman menyerah kepada sekutu pada tanggal 7 Mei 1945, mengakhiri teather Eropa. Beberapa tahun Setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mengeluarkan kebijakan Three Non-Nuclear Principles yaitu kebijakan yang melarang Jepang memiliki atau mengembangkan senjata nuklir.

Hiroshima merupakan tempat yang jarang sekali terjadi pengeboman. Hiroshima merupakan markas militer Jepang. Hiroshima juga dikenal sebagai kota pelabuhan besar. Hal - hal inilah yang menjadi pertimbangan Amerika Serikat dalam memilih Hiroshima sebagai target pertama pengeboman. Hiroshima dijatuhi bom nuklir "Little Boy" pada tanggal 6 Agustus 1945. Sebanyak 140.000 orang terbunuh dalam tragedi ini.
Bom "Little Boy" di Hiroshima
Tiga hari setelah pengeboman di Hiroshima, Nagasaki menjadi objek selanjutnya. Bom nuklir "Fat Man" dijatuhkan pada tanggal 9 Agustus 1945 yang merenggut 80.000 jiwa. Nagasaki merupakan kota potensial selain Kokura, Kyoto dan Niigita. Terget awal pengeboman pada gelombang dua sebenarnya adalah Kokura, Kyoto dan Niigita. Nagasaki kemudian dipilih menggantikan Kyoto. Kyoto merupakan kota religi yang mendukung pola militer Jepang.  Sedangkan Niigita dicoret dari target pengeboman karena letaknya yang terlalu jauh dari Pangkalan Militer Filipina, tempat lepas landas pesawat - pesawat perang Amerika Serikat sebelum terbang landas ke Jepang. Namun pada akhirnya, hanya Nagasaki yang menjadi target utama pengeboman.
Bom atom berbentuk jamur "Fat Man" di Nagasaki

Nagasaki merupakan kota industri yang dikenal dengan perkapalan yang maju. Sebelum bom atom dijatuhkan, Nagasaki sudah pernah dibom selama lima kali dalam 12 bulan terakhir. Alhasil kedua kota Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur oleh bom atom Amerika Serikat. Bom - bom atom dijatuhkan dari pesawat B-29 Flying Superfortress bernama Enola Gay yang dipiloti Paul W. Tibbets. Bom atom dijatuhkan dari ketinggian 9.450 m dan meledak pukul 08.15 pagi (waktu Jepang) dengan ledakan mencapai ketinggian 550 meter. Untuk menjatuhkan bom atom, pesawat memang terbang cukup tinggi dengan menggunakan pelindung mata khusus anti radiasi. Bom atom meledak dahsyat seperti berbentuk jamur yang dijatuhkan di tengah pemukiman penduduk.  Hingga kini, pengeboman Hiroshima dan Nagasaki masih menjadi trauma mendalam bagi Jepang dan seluruh dunia.

SUMBER:
http://www.gurusejarah.com/2015/07/peristiwa-pengeboman-hiroshima-dan.html

LAMPIRAN FOTO
Kota Hiroshima setelah di bom nuklir

Nagasaki setelah di bom atom

Sejarah Jugun Ianfu, Sistem Pelacuran Pada Masa Pendudukan Jepang

Sejarah Jugun Ianfu, Sistem Pelacuran Pada Masa Pendudukan Jepang

Sejarah pelacuran di Indonesia
Pelacuran merupakan kegiatan menjual diri kepada para lelaki. Pada masa sekarang, praktek pelacuran sudah sering kita dengar. Di Surabaya, terkenal dengan Gang Dolly, Yogyakarta ada Pasar Kembang, dan di Semarang ada Sunan Kuning. Praktek prostitusi umumnya bermotif ekonomi. Banyak dari para wanita yang rela menjajakan tubuhnya demi bertahan hidup.

Praktek prostitusi sebenarnya sudah berkembang sejak lama. Di Indonesia sendiri praktek prostitusi sudah ada sejak zaman kerajaan, masa penjajahan Belanda dan yang paling terkenal ada masa penajajahan Jepang yang dikenal dengan Jugun Ianfu.

Sistem Pelacuran Pada Masa Pemerintahan Belanda
Sistem pelacuran pada masa pemerintahan Belanda memiliki sistem yang terorganisir dan berkembang pesat. Hal ini didasarkan pada kebutuhan seks para orang - orang Belanda yang meninggalkan istrinya jauh di Eropa, di negeri Belanda. Buku "Nyai dan Pergundikan" karangan Reggie Bay menyebutkan pada masa VOC di Hindia Belanda sekitar tahun 1650 sampai 1653, Gubernur Carel Reynierz mendukung kuat dengan adanya perkawinan antara pegawai VOC dengan perempuan Asia atau Eurasia (Baay, 2010:4). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Belanda seakan melegalkan adanya praktek prostitusi diantara para pegawai VOC dengan para pribumi.

Keputusan yang dikeluarkan Reggie Bay membuat para orang - orang Belanda seakan terpaksa melakukan perkawinan  dengan para wanita pribumi. Dalam hal ekonomi pihak laki - laki Belanda lebih diuntungkan. Dalam perkembangannya, muncul yang dinamakan gundik yang merupakan para nyai (wanita) yang dianggap kawin dengan lelaki Belanda dan selanjutnya melahirkan keturunan Indo - Belanda yang semakin memperkuat posisi Belanda ketika berada di Indonesia.


Sistem Pelacuran Pada Masa Pemerintahan Jepang
Pada masa pemerintahan Jepang, para wanita penghibur atau disebut Jugun Ianfu, para wanita dikumpulkan dalam satu rumah bordir untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang. Umumnya, mereka tertipu atau dijebak dan dijadikan wanita penghibur untuk para tentara Jepang. Mereka seolah menjadi korban atas kebijakan Jepang. Mereka semata - mata hanya dijadikan budak seks bagi para tentara Jepang yang haus akan kebutuhan seks di tengah berkobarnya perang Asia Timur Raya atau peeang Asia Pasifik.

Praktek pelacuran Jugun Ianfu ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara - negara jajahan Jepang yang lain. Menurt riset dari Dr. Hirofumi Hayashi seorang profesor dari Universitas Kanto Gaukin ketika melihat fenomena Jugun Ianfu di Indonesia ini, ia mengatakan bahwa Jugun Ianfu pada saat itu terdiri dari wanita - wanita Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya, Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India dan Indo Belanda. Pada saat itu diperkirakan sebanyak 20.000 hingga 30.000 wanita dijadikan Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang.

Keberadaan Jugun Ianfu tidak terlepas dari keberadaan para tentara Jepang yang jenuh ketika berperang. Mereka membutuhkan hiburan berupa berkencan ataupun meniduri para Jugun Ianfu di kamar - kamar bordir yang telah disediakan oleh pemerintah Jepang. Hal ini sangat ironis mengingat para wanita pribumi yang dijadikan Jugun Ianfu adalah para wanita yang dipaksa dan diiming - imingi akan kehidupan yang enak dan pendidikan terjamin. Namun pada kenyataannya, para tentara Jepang tidak segan - segan menculik ataupun memperkosa para wanita didepan keluarganya didepan keluarganya sendiri apabila mereka menolak.

Praktek pergundikan pada masa Jepang benar - benar dilegalkan dimana kepuasan seks para tentara Jepang sangat mempengaruhi kinerja para tentara. Perekrutan Jugun Ianfu juga terkesan tertutup di bawah tanah dengan kepala pejabat seperti lurah, camat dan kepala desa sebagai orang yang merekrut.

Perang Dunia II menjadi faktor utama adanya praktek Jugun Ianfu. Peperangan yang terjadi antara tahun 1943 - 1945 membuat para tentara Jepang membutuhkan wanita untuk melepaskan kerinduan akan seks kepada pasangan - pasangan mereka di Jepang. Wanita - wanita pribumi kemudian dijadikan penggantinya. Hal inilah yang menjadi masa kelam para wanita Indonesia pada masa itu. Para wanita pribumi ditakuti dengan ancaman akan diasingkan, dibuang dan bahkan dibunuh.

Tak sampai disitu, pada tahap pemeriksaan kesehatan, para wanita ini sangat direndahkan dengan digerayangi hingga mereka telanjang bulat oleh petugas medis. Satu persatu vagina mereka di periksa dengan menggunakan alat yang terbuat dari besi panjang. Apabila benda tersebut ditekan, maka ujung alat ini akan membesar dan membuka vagina para Jugun Ianfu menjadi lebih lebar.  Alat ini berfungsi untuk mendeteksi adanya penyakit di tubuh para Jugun Ianfu. Betapa mirisnya melihat para wanita pada saat itu. Dan ketika para Jugun Ianfu tidak bisa memuaskan para tentara Jepang, mereka akan diperlakukan tidak manusiawi.

Mardiyem, seorang Jugun Ianfu mengakui perlakuan tersebut. Pada umur 13 tahun ia sudah dijadikan Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang. Pertama kali yang ia layani adalah pria Jepang yang berambut brewok. Siksaan seperti tamparan, pukulan dan tendangan sering ia rasakan dengan umur yang terbilang belia.

Jugun Ianfu, Korban Kebijakan Politik Jepang
Keberadaan Jugun Ianfu juga tidak terlepas dari kebijakan politik Jepang di negara - negara koloni. Ada asumsi yang memperkuat kebijakan Jepang dalam mengeluarkan kebijakan Jugun Ianfu. Pertama, dengan menyediakan budak seks, moral dan keefektifan serta kinerja tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan membuat rumah bordir sebagai tempat Jugun Ianfu, pemerintah Jepang akan dengan mudah mengontrol dan mengawasi penyakit kelamin. Ketiga, keberadaan rumah bordir di garis depan dapat memberikan tempat beristirahat bagi para tentara. Asumsi - asumsi tersebut yang kemudian seolah melegalkan Jepang dalam mengeluarkan kebijakan Jugun Ianfu. Setelah penjajahan Jepang selesai, stigma negatif masyarakat terhadap para wanita ini masih melekat. Namun seiring perjalanan waktu, stigma tersebut mulai memudar. Pemerintah Jepang adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejahatan ini.

Sumber
Baay, Reggie.2010."Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda". Jakarta: Komunitas Bambu