Teori Kedatangan Islam di Nusantara

Teori Kedatangan Islam di Nusantara

Kedatangan Islam menjadi perdebatan diantara para ahli, kapan dan darimana Islam yang ada di Nusantara tersebar. Berikut ini akan dibahas teori - teori kedatangan Islam di Nusantara :

1. Teori Gujarat
Teori Gujarat menyebutkan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari India. Bukan dari Persia maupun Arab. Orang pertama yang mengemukakan pendapat ini adalah Pijnappel dari Universitas Leiden, Belanda. Menurutnya orang – orang Arab yang bermazhab Syafi’i bermigrasi dan menetap di India yang kemudian berlayar dan melakukan Islamisasi di Indonesia. Pendapat Pijnappel ini kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje. Ia berpendapat bahwa orang – orang Gujarat melakukan aktivitas perdagangan dengan Nusantara. Selain itu pedagang Gujarat ini menjadi perantara antara pedagang dari Timur Tengah dengan Nusantara. Mereka datang ke Nusantara dan menyebarkan Islam pertama kali. Baru kemudian disusul oleh orang – orang Arab yang melanjutkan penyebaran Islam di Nusantara.

Pandangan Snouck Hurgronje tersebut berpengaruh pada sejarawan Barat dan Indonesia. Sampai hari ini kita masih dapat menemukan buku – buku yang menyebutkan kedatangan Islam dari Gujarat. Sejalan dengan pendapat ini, Moquette seorang sarjana Belanda mendasarkan pendapatnya pada bentuk nisan di kawasan Pasai, yang bertanggal 17 Dzulhijjah 1831 H / 27 September 1428. Batu nisan tersebut mirip dengan batu nisan Maulana Malik Ibrahim (w. 1822 / 1419) di Gresik, Jawa Timur.

Dari nisan yang ditemukan, Moquette berkesimpulan bahwa batu nisan di Cambay, Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk digunakan di India tetapi juga diekspor kekawasan lain termasuk Sumatera dan Jawa. Selanjutnya dengan mengambil nisan dari Gujarat ini, Moquette mengambil kesimpulan bahwa Islam di Indonesia juga berasal dari Gujarat. Sarjana Belanda lainnya bernama W.F. Stuterheim berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 13 M yang ditandai bukti batu nisan sultan pertama Kerajaan Samudera Pasai yang bernama Malik Al-Saleh ada tahun 1297. Stuterheim memperkuat dengan pendapat bahwa relief di batu nisan Sultan Malik Al-Saleh bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan batu nisan dari Gujarat.

J.C. van Leur menyatakan pada tahun 674 M di pantai barat Sumatera telah terdapat perkampungan Islam. Dengan pertimbangan bahwa bangsa Arab telah mendirikan perkampungan di Kanton pada abad ke IV M. Perkampungan ini mulai dibicarakan lagi pada tahun 618 M dan 626 M. Pada perkembangannya, perkampungan ini ternyata mempraktekkan ajaran Islam seperti yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara.

Berdasarkan keterangan van Leur, dapat disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara tidaklah terjadi pada abad ke 13 M, melainkan pada abad ke 7 M. Sedangkan pada abad ke 13 merupakan masa perkembangan Islam. Perluasan lebih lanjut terjadi pada abad ke 16, sebagai akibat dari politik yang ada di India. Sekitar 1526 M, terjadi keruntuhan Brahmana yang digantikan kekuatan Mongol dan diikuti ole kerajaan Vijayanagar (1556). Perubahan politik inilah yang mempengaruhi tersebarnya Islam di Indonesia.

Dengan begitu dari pandangan Pijnapel, Hurgronje, Moquette, maupun Stutterheim serta van Leur dapat disimpulkan bahwa Islam masuk dan menyebar di Indonesia melalui jalur perdagangan meskipun masih menjadi perdebatan panjang pada 7 M atau 13 M.

2. Teori Persia
Teori kedua adalah teori Persia yang didukung oleh pendapat Hoesin Djajadiningrat. Teori ini menitik beratkan pada kesamaan budaya antara Nusantara dan Persia. Pandangan ini agak mirip dengan pandangan Morrison yang melihat persoalan masuknya Islam dipandang dari sisi kesamaan mazhab, meski berbeda asal muasalnya. Kesamaan tersebut diantaranya
  • Peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai peringatan Syi’ah terhadap syahidnya Husein. Peringatan ini ditandai dengan dibuatnya bubur syura. Di Minangkabau bulan Muharram dinamakan bulan Hasan – Husein. Di Bengkulu terdapat tradisi Tabut dengan mengarak keranda Husein untuk dilemparkan ke sungai atau perairan lainnya.
  • Kesamaan ajaran wahdatul wujud Hamzah Fansuri atau Syekh Siti Jenar dengan ajaran sufi Persia, Al-Hallaj. 
  • Penggunaan istilah Persia dalam tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Quran, seperti jabar (fathah) dan lain – lain. 
  • Nisan Malik Al-Saleh dan Maulana Malik Ibrahim yang dipesan dari Gujarat. Argumen ini sama persis dengan argument Gujarat.
  • Mayoritas umat Islam di Indonesia bermahzab Syafi’I yang sama dengan muslim di Malabar.

3. Teori Arabia
Teori ini merupakan koreksi dari teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Ahli yang mendukung teori ini diantaranya T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, Naquib Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka. Marrison mengemukakan teorinya mengenai penyebaran Islam yang bukan dari Gujarat, melainkan dari Coromandel pada abad ke 13 M. Teori yang dikemukakan Marrison mendukung teori dari Arnold yang sudah menulis teori Arab sebelum Marrison. Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke Indonesia antara lain berasal dari Coromandel dan Malabar. Pendapat ini didasarkan pada kesamaan madzhab fiqih antara kedua wilayah tersebut. Mazhab yang dianut orang – orang Nusantara adalah mazhab Syafi’i yang banyak dianut dari wilayah Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, pedagang Coromandel dan Malabar memiliki peranan penting dalam perdagangan India dan Nusantara. Sejumlah pedagang melakukan perdagangan hingga ke Nusantara dan melakukan penyebaran Islam.

Namun, Arnold juga berpendapat bahwa Malabar bukan satu – satunya tempat asal Islam melainkan Arabia. Dalam pandangannya, penyebaran agama Islam terjadi ketika Arab masih dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah atau abad ke 7 dan ke 8 Masehi. Pendapat ini juga dipertimbangkan dari sumber Cina yang menyebutkan menjelang akhir perempat abad ketiga abad ke 7, seorang pedagang arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman di pesisir pantai Sumatera. Sebagian melakukan perkawinan dengan orang – orang lokal sehingga membentuk suatu masyarakat dan komunitas muslim yang terdiri dari orang Arab dan penduduk lokal. Menurut Arnold komunitas muslim ini juga melakukan penyebaran agama Islam.

Pendapat bahwa Islam dibawa langsung oleh orang Arab diakui oleh Crawfurd, meskipun ia juga percaya bahwa penyebaran Islam di Nusantara juga berasal dari interaksi antara orang – orang India dengan masyarakat Nusantara. Pendapat yang mengatakan Islam masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah (abad ke 7 M) dan langsung dari Arab lebih kuat mengingat tujuan saudagar Arab menuju ke Cina yang singgah di Sumatera. Bahkan Rosulullah pernah mengutus Sa’aq bin Abi Waqas untuk berziarah pada kasiar Cina dan memperkenalkan Islam di negeri Cina pada abad pertama 1 Hijriyah atau 7 Masehi.
Jenis – Jenis Manusia Purba di Dunia

Jenis – Jenis Manusia Purba di Dunia

Fosil manusia purba ditemukan di berbagai penjuru dunia diantaranya Cina, Afrika, Eropa dan Amerika. Berikut ini adalah penjelasan mengenai fosil – fosil yang ditemukan di luar kepulauan Indonesia :

a. Manusia Purba dari Daratan Cina
Manusia purba yang ditemukan di Cina disebut Homo Pekinensis yang berarti manusia purba dari Peking. Homo Pekinensis ditemukan di Gua Choukoutien yang terletak 40 km dari Peking. Fosil ini ditemukan oleh dua orang arkeolog yang berasal dari Kanada yang bernama Devidson Black dan Franz Weidenreich. Dari penyelidikan ini, rangka manusia purba Homo Pekinensis mirip dengan Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di Indonesia. Oleh karena itu, para ahli kemudian menyebutnya sebagai Pithecanthropus Pekinensis yang berarti manusia kera dari Peking. Sinanthropus Pekinensis dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kelompok Pithecanthopus Pekinensis karena memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip dengan Pithecanthopus Erectus. Sinanthopus Pekinensis memiliki kapasitas otak yang sama dengan Pithecanthopus Erectus yaitu kurang lebih 900 – 1200 cc.

b. Manusia Purba di Benua Afrika
Manusia purba yang ditemukan di Afrika disebut Homo Africanus yang berarti manusia purba dari Afrika. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Raymond Dart, di pertambangan Taung Bostwana, pada tahun 1924. Fosil yang ditemukan merupakan kerangka manusia yang diperkirakan berusia 5 – 6 tahun. Fosil ini kemudian dinamakan Australopithecus Africanus, karena jenis manusia purbanya mirip dengan penduduk asli benua Australia. Robert Broom juga berhasil menemukan fosil serupa dengan tengkorak biasa di tempat yang sama.

c. Manusia Purba di Eropa
Manusia purba yang ditemukan di Eropa dinamakan Homo Neanderthalensis yang berarti manusia Neanderthal. Manusia purba jenis ini ditemukan oleh Rudolf Virchow di lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat pada tahun 1856. Selain di Jerman Barat, juga ditemukan fosil manusia purba di Gua Spy, Belgia. Di Prancis ditemukan jenis manusia purba yang dinamakan Pithecanthopus Robustus dan Pithecanthopus Transvaalensis.

d. Manusia Purba di Benua Amerika
Manusia purba yang ditemukan di Amerika Selatan bernama Australopithecus dan Homo Cro Magnon. Manusia purba ini memiliki ciri kapasitas otak sebesar 600cc dan hidup ditempat terbuka dengan tinggi badan sekitar 1,5 meter.
Homo Floresiensis, Ciri - Ciri dan Sejarahnya

Homo Floresiensis, Ciri - Ciri dan Sejarahnya

Homo Floresiensis
Homo Floresiensis merupakan manusia purba yang ditemukan peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh R.P. Soedjono dan peneliti Australia Mike Morwood di Flores. Dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 2003 berhasil menemukan fosil kerangka manusia kecil jenis hobit yang diperkirakan berusia 18.000 tahun. Fosil ini ditemukan di Liang Bua, sebuah gua kapur yang ada di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Fosil manusia purba yang ditemukan berjenis kelamin wanita dengan ukuran yang jauh lebih kecil daripada manusia normal. Selain fosil manusia, juga ditemukan fosil tikus seukuran kucing, gajah kerdil yang dinamakan stegodon, fosil komodo dan peralatan dari batu yang digunakan Homo Erectus, namun berukuran jauh lebih kecil. Selanjutnya, temuan ini kemudian dinamakan Homo Floresiensis atau manusia purba dari Flores. Homo Floresiensis memiliki ciri :
  • Tinggi badan 100 cm dengan berat badan 30 kg 
  • Sudah berjalan tegak
  • Tidak memiliki dagu 
  • Diperkirakan hidup sekira 18.000 tahun yang lalu di Kepulauan Flores

Penyebutan Homo Floresiensis sebagai manusia baru menuai kontroversi. Menurut Sydney Morning Herald yang terbit 19 November 2009, menurut para ahli, hobit yang ditemukan merupakan spesies yang belum diketahui. Adapun menurut Jacob, seorang ahli paleoanthropology dari Universitas Gadjah Mada, Homo Floresiensis bukan spesies baru, melainkan nenek moyang orang – orang katai Flores yang menderita microchepalia (bertengkorak kecil dan berotak kecil). Penyakit tersebut hingga kini masih dapat ditemukan pada penduduk di sekitar Gua Liang Bua.
Bukti – Bukti masuknya Islam di Indonesia

Bukti – Bukti masuknya Islam di Indonesia

Sejarah mencatat kepulauan Nusantara menjadi daerah penghasil rempah – rempah terkenal di dunia. Hal tersebut menjadikan bangsa asing tertarik untuk datang dan membeli rempah – rempah di Indonesia untuk selanjutnya dijual kembali di tempat mereka. Termasuk diantaranya pedagang Persia, Gujarat, dan Arab. Selain berdagang mereka juga menyebarkan agama Islam. Berikut ini adalah bukti – bukti masuknya Islam di Indonesia :

a. Surat Raja Sriwijaya
Salah satu bukti baru tentang masuknya Islam di Indonesia dikemukakan oleh Prof. Dr. Azyumardi Asra dalam bukunya yang berjudul “Jaringan Islam Nusantara”. Dalam buku tersebut Azyumardi berpendapat bahwa Islam telah masuk di Indonesia pada masa kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut dibuktikan dengan surat yang dikirim oleh Raja Sriwijaya kepada Umar bin Khattab yang berisi ucapan selamat kepada Umar bin Khatab atas terpilihnya ia sebagai pemimpin Islam menggantikan Abu Bakar.

Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (890-940) dalam karyanya Al-Iqdul Farid. Potongan surat tersebut berbunyi : Dari Rajadiraja …..; yang adalah keturunan seribu raja…. Kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan – tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan dan saya ingin anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum – hukumnya.

b. Makam Fatimah binti Maimun
Ditemukan sebuah makam Islam di Leran, Gresik. Pada batu nisan di makam tersebut tertulis nama seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun dengan angka tahun 1082. Dari penemuan tersebut sangat dimungkinkan bahwa Islam masuk di Indonesia sebelum 1082.
Makam Fatimah binti Maimun

c. Makam Sultan Malik Al-Saleh
Makam Sultan Malik Al-Saleh berangka tahun 1297 yang merupakan bukti bahwa Islam menyebar di Aceh pada abad XIII. Mengingat Malik Al-Saleh merupakan seorang Sultan, maka sangat dimungkinkan bahwa Islam masuk di Aceh jauh sebelum berdirinya Kesultanan Samudera Pasai.
Makam Sultan Malik Al-Saleh

d. Cerita Marcopolo
Pada tahun 1092, seorang musafir yang berasal dari Venesia, Italia yang bernama Marco Polo sempat singgah di Perlak dan beberapa tempat di Aceh Utara. Marcopolo singgah dari perjalanannya menuju ke Cina. Ia menceritakan bahwa Islam telah masuk dan berkembang di Sumatera pada abad ke XI. Bahkan Islam berkembang sangat pesat di Jawa.

e. Cerita Ibnu Battuta
Pada tahun 1345, Ibnu Battuta singgah di Samudera Pasai. Ia menceritakan bahwa Sultan Samudera Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya. Selain itu ia juga menceritakan bahwa Samudera Pasai merupakan kesultanan dagang yang sangat maju. Disana Ibnu Battuta bertemu dengan pedagang lain dari India, Cina dan para pedagang dari Jawa.

Menurut beberapa sejarawan, Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke 13 M yang dibawa oleh para pedagang muslim. Meskipun demikian, pendapat ini masih diperdebatkan. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan proses masuknya Islam ke Indonesia yaitu teori Mekkah, Gujarat dan Persia.
Bandar - Bandar yang ada di Nusantara

Bandar - Bandar yang ada di Nusantara

Istilah bandar pada sejarah merujuk pada kota pelabuhan suatu kerajaan. Pada masa lampau kota - kota yang hidup dari sektor ekonomi maritim di Indonesia disebut bandar. Kota - kota ini menggantungkan letaknya yang strategis sebagai pelabuhan transit maupun pasar bagi pedagang asing. Berikut ini adalah bandar - bandar yang ada di Nusantara pada masa perkembangan kerajaan Islam.

1. Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai menjadi salah satu pusat perdagangan pada masa kejayaannya. Bandarnya begitu ramai hingga disinggahi pedagang – pedagang asing dari berbagai benua seperti benua Afrika, Asia dan Eropa. Pada saat itu juga banyak pedagang dan saudagar muslim yang datang dari Persia dan India yang berdagang di Nusantara.

Dalam catatan Ibnu Battuta yang berjudul “Tuhfat al Nazha”, ia menggambarkan keindahan Bandar Samudera Pasai sebagai “sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah”. Ibnu Batuta datang pada masa pemerintahan Sultan Malik Al-Zahir (1297-1326) yang mencatat kemajuan ekonomi Samudera Pasai. Dalam catatannya, ia terdampar di Samudera Pasai selama 15 hari. Setelah dari Samudera Pasai ia melanjutkan pengembaraannya menuju Cina. Catatan Ibnu Battuta menggambarkan perkembangan perdagangan Nusantara pada masa abad pertengahan. Battuta tak bias menutupi rasa kagumnya begitu berkeliling di kota ini. Ia takjub melihat kota yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.

Daerah Aceh selama abad 13 hingga awal abad 16 merupakan wilayah penghasil rempah – rempah yang terkenal di dunia. Komoditas andalan Aceh pada masa itu adalah lada yang mampu mengekspor sebanyak 8.000 hingga 10.000 bahara. Tak cuma lada, Samudera Pasai pun tercatat juga sebagai produsen sutra, kapur barus serta emas. Ibnu Batuta menuliskan hubungan baik terjalin antara pedagang Samudera Pasai dan para pedagang luar tak kecuali pedagang Jawa. Bahkan pedagang Jawa dilayani dengan istimewa dengan tidak menarik pajak. Biasanya pedagang Jawa menukar beras dengan lada dengan system barter.

2. Bandar Malaka
Posisinya yang strategis membuat Malaka menjadi pusat perdagangan rempah – rempah didunia. Sebelum abad ke 15 Malaka sudah terkenal sebagai kawasan penting penghubung Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Timur Tengah. Selama beradab – abad Malaka menjadi wilayah yang ramai dikunjungi armada asing seperti dari Arab, India, Persia dan Tiongkok. Perdagangan di Malaka meningkat seiring adanya aktivitas ekonomi Bani Umayyah yang mencari sumber – sumber perekonomian di Cina. Kesultanan Malaka berkembang pesat menjadi bandar persinggahan dan pelabuhan terbesar di Nusantara pada abad ke 16. Diceritakan bahwa Malaka mampu menampung sekitar dua ribu kapal berbagai ukuran pada satu musim. Para pedagang dari berbagai penjuru menggunakan Malaka sebagai jalur penghubung ke Barat mulai dari India, Persia, Arabia, Syam, Arika Timur, dan Laut Tengah. Ketika masa imperialisme bangsa Barat, Malaka sempat dikuasai oleh Portugis (1511). Pada saat itu sebenaranya Malaka sudah menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam. Setelah Malaka dikuasai oleh Portugis, maka para pedagang Islam yang tidak suka akan monopoli perdagangan Portugis, berpindah dan membangun bandar – bandar baru di penjuru Nusantara seperti Aceh, Demak, Palembang dan Makassar.

3. Bandar Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah (1500 – 1518) yang merupakan putra raja Majapahit. Pada masa pemerintahannya, Demak berkembang pesat yang menguasai wilayah Semarang, Tegal, Jepara dan sekitarnya serta memiliki pengaruh di Palembang, Jambi dan beberapa wilayah di Kalimantan. Karena memiliki bandar – bandar besar seperti Jepara, Tuban, Sedayu dan Gresik mengharuskan Demak memiliki armada laut. Dengan kekuatan armada lautnya, Demak pernah menyerang Portugis yang menduduki wilayah Malaka.

Hubungan perdagangan yang sudah berlangsung lama dengan kerajaan dan pedagang muslim menyebabkan daerah – daerah pesisir tumbuh menjadi pusat perdagangan. Pada tahap pertama kerajaan Majapahit menjalin hubungan baik dengan para saudagar Islam yang berjualan di pesisir. Pada perkembangannya, saudagar Islam ini menyebarkan ajaran agama Islam dan berhasil mengislamkan adipati – adipati pesisir Jawa. Para adipati ini kemudian memperkuat posisinya dan berusaha melepaskan pengaruh Majapahit. Satu persatu kadipaten lepas dari Majapahit. Keadaan ini menjadi ancaman bagi Majapahit. Masyarakat pesisir lebih memilih Demak sebagai kerajaan induk karena memberi rasa damai dan pengayoman dari kepemimpinan Raden Patah. Kerajaan Demak seolah menjadi puncak pengislaman di tubuh Majapahit yang rapuh.

4. Bandar Gowa Tallo
Kerajaan Gowa Tallo menngadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan Sultan Baabullah yang telah memeluk Islam terlebih dahulu. Bandar Gowa Tallo menjadi bandar yang sangat ramai disinggahi pedagang dari mancanegara. Hal ini mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi Gowa Tallo. Kerajaan Gowa Tallo mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Menurut catatan Christian Pelras (seorang ilmuwan dari Prancis) yang menulis bukunya sekitar abad 17 M menyebutkan orang Bugis (pedagang dari Wajo Makassar) telah menyusun undang – undang Maritim. Peraturan ini disusun oleh Amanna Gappa sebagai kepala komunitas Wajo di Makassar. Ia menjabat sebagai kepala Wajo pada tahun 1697 hingga 1723.

5. Bandar Banjar
Kesultanan Banjarmasin merupakan salah satu kerajaan Islam yang maju di wilayah Kalimantan. Kerajaan ini berdiri di sekitar sungai Barito yang menjadi tempat persinggahan para pedagang. Muara sungai Barito didiami oleh sekelompok suku Melayu yang oleh suku Dayak Ngaju disebut Oloh Masih. Pada abad ke 14 dan 15 di daerah Banjar berdiri kerajaan Hindu, Negara Dipa dan Negara Daha. Berdasarkan Hikayat Lambung Mangkurat pelabuhan Negara Dipa di Muara Bahan sangat ramai oleh pedagang asing. Menteri perdagangan Negara Dipa Wiramartas dikenal memiliki keahlian berbagai Bahasa seperti Bahasa Cina, Melayu, Arab, sehingga mempermudah adanya hubungan perdagangan.

Perdagangan Banjar mengalami kemajuan pada masa Sultan Mustain Billah yang ditandai dengan kemegahan istana serta perangkat – perangkatnya. Dan pada pertengahan abad ke 17 terjadi perpecahan pada ibu kota Banjar yaitu Banjarmasin dibawah Sultan Agung (Amirullah Bagus Kesuma) dan Martapura dibawah Panembahan Ratu. Pada abad ke 17 kerajaan Banjar dikenal merupakan penghasil lada. Pada sekitar tahun 1959 para pedagang Banjar melakukan aktivitas perdagangannya dengan Banten pada waktu itu menggunakan dua buah jukung (kapal) banjar dirampok oleh kompeni. Disisi lain pada tahun 1607, Belanda ingin menjalin hubungan baik dengan Banjar dengan mengirimkan utusan namun tidak mendapat sambutan dengan baik. Terjadi perlawanan dari Belanda hingga menyebabkan pecahnya pertempuran yang mengakibatkan terbunuhnya seluruh utusan Belanda. Pada tahun 1612 Belanda mengadakan pembalasan dengan menyerbu, menembak dan membakar Keraton Banjar di Kuin Banjarmasin.

Potensi emas di Banjar membuat rakyat Banjar berlomba lomba menambang emas dengan cara tradisional di hulu sungai. Emas ini kemudian diperdagangkan kepada sultan dan pedagang Hindu dan Cina. Menurut tradisi, Dayak sendiri tidak menggunakan emas namun emas mempengaruhi kebudayaan pulau ini. Emas telah diekspor dari Borneo bagian barat kira – kira sejak abad ke 13 dan menjelang abad ke 17 kepada pedagang – pedagang Cina yang mengumpulkan muatan – muatan emas di Sambas.

Selama beradab – abad para penambang Dayak mencari emas dengan mendulang debu emas di sungai – sungai. Cara mendulang emas yaitu dengan menggunakan alat sejenis baki yang dangkal yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk mendulang emas, yang selanjutnya dijual di pasar – pasar setempat di Martapura. Selain terkenal dengan emasnya, Martapura juga terkenal dengan intan. Intan yang didapat akan dijadikan berlian dan diperjualbelikan di pasaran internasional.

6. Bandar Pontianak
Dengan letaknya yang strategis Bandar Pontianak menjadi tempat yang sangat potensial untuk disinggahi para pedagang asing untuk melakukan transaksi maupun singgah. Berbagai komoditi yang dijual pedagang lokal diantaranya permata, emas, lilin, rotan, tengkawang, karet, tepung sagu, pinang, sarang burung wallet, kopra, lada, kelapa dan lain – lain. Secara ekonomi, kedudukan Pontianak tergolong sebagai salah satu pelabuhan penting bagi perdagangan internasional. Dengan letaknya yang strategis dan kedudukannya yang terdiri dari perairan Laut Jawa, Selat Karimata, dan Laut Natuna. Ketiga perairan tersebut menghubungkan Batavia, Demak, kesultanan di Jawa lain, Banjarmasin, Kutai dan Paser, Palembang, Riau, dan Deli, Malaka dan Johor. Selain letaknya yang strategis untuk perdagangan, letak yang strategis juga dimanfaatkan untuk pemungutan pajak dan pengawasan.
Kegunaan Sejarah

Kegunaan Sejarah

Selain menjadikan seseorang menjadi lebih bijaksana, dengan belajar sejarah kita akan mendapat beberapa kegunaan diantaranya :
  1. Guna edukatif yaitu memberikan pelajaran dan mendidik seseorang, masyarakat, atau suatu bangsa sehingga dapat bercermin dari peristiwa lampau sebagai suatu keberhasilan atau kegagalan. Dengan belajar sejarah kita dapat meneruskan apa yang menjadi nilai positif peristiwa pada masa lampau dan menghindari nilai - nilai negatif yang terjadi pada masa lampau.
  2. Guna instruktif yaitu memberikan suatu pengetahuan atau keterampilan tertentu seeprti dengan belajar sejarah kita akan tahu tentang navigasi yang digunakan pelaut pada masa lampau.
  3. Guna inspiratif yaitu memberikan ilham dan semangat, serta menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme. Dengan membaca biografi tokoh besar maka kita dapat terinspirasi akan kehidupannya. Dari sinilah kita akan mendapat sisi positif yang akan kita terapkan pada kehidupan kita.
  4. Guna rekreatif yaitu memberikan kesenangan (hiburan) estetika karena bentuk, susunan, kronologi, alur kisah serta bahasanya yang indah. Dengan mempelajari sejarah kita akan dapat berselancar dalam suatu kejadian masa lampau. Mampu membayangkan bagaimana kejadian pada masa lampau dan seolah ikut serta dalam peristiwa tersebut.
Karakteristik Sejarah

Karakteristik Sejarah

A. Sejarah sebagai Ilmu
Sebagai sebuah ilmu, sejarah memiliki karakteristik :
  1. Bersifat empiris (berdasarkan pengalaman)
  2. Mempunyai generalisasi (simpulan)
  3. Memiliki obyek yaitu aktivitas manusia pada masa lampau
  4. Memiliki teori (skema pemikiran) yang digunakan untuk penyusunan dalam penelitian sejarah
  5. Mempunyai metode diantaranya : 
    • Heuristik : proses pengumpulan data
    • Verifikasi (kritik) : penyeleksian sumber sejarah yang telah ditemukan. Kritik sumber terdiri menjadi dua yaitu kritik intern dan ekstern. Kritik intern ditekankan pada aspek isi yaitu dari sumber, apakah bisa dipercaya atau tidak. Sedangkan kritik ekstern ditekankan dari sisi luarnya yaitu apakah sumber sejarah itu asli atau tidak berdasarkan ciri fisik atau luarnya. 
    • Interpretasi : proses tafsiran atau perangkaian terhadap berbagai bukti sejarah yang lolos dikritik
    •  Historiografi : kegiatan penulisan peristiwa sejarah yang telah mengalami proses heuristik, kritik dan intepretasi.
B. Sejarah sebagai Peristiwa
Sebagai peristiwa, sejarah memiliki karakteristik :
  1. Abadi, karena peristiwa yang terjadi pada masa lampau tidak berubah dan selalu dikenang
  2. Unik, karena peristiwa tersebut hanya terjadi sekali
  3. Penting, karena peristiwa tersebut mempunyai arti atau menentukan bagi orang banyak
C. Sejarah sebagai Kisah
Sejarah sebagai kisah berarti suatu peristiwa sejarah direkonstruksi dan dituliskan menjadi sebuah cerita oleh seseorang. Sejarah sebagai kisah dapat berupa narasi yang disusun berdasarkan memori, kesan, atau tafsiran manusia terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau.

D. Sejarah sebagai Seni
Sebagai seni, sejarah memiliki karakteristik :
  • Intuisi, daya kemampuan memahami suasana ketika peristiwa sejarah berlangsung
  • Imajinasi, meskipun imajinasi bersifat subjektif, namun imajinasi diperlukan guna merangkai fakta - fakta hingga menjadi bagian yang utuh
  • Emosi,  diperlukan guna membuat pembaca merasakan seolah - olah hadir dan menyaksian peristiwa yang teradi pada masa lampau
  • Menggunakan bahasa yang lugas, menarik, tidak berbelit belit dan sistematis.
Pengertian Sejarah

Pengertian Sejarah

Asal Mula Kata Sejarah
Menurut William H. Freederick, secara etimologi kata sejarah berasal dari bahasa Arab sajaratun yang berarti pohon. Istilah tersebut digunakan karena pohon mirip dengan silsilah keluarga yang berbentuk pohon terbalik. Kata tersebut pertama kali diserap dalam bahasa Melayu pada abad ke 13. Meskipun demikian, dalam bahasa arab ilmu yang mempelajari peristiwa pada masa lampau disebut tarikh.


Sejarah dalam Berbagai Bahasa
Sejarah merupakan kejadian penting manusia pada masa lalu yang disusun berdasarkan peninggalan - peninggalan berbagai peristiwa. Peninggalan - peninggalan tersebut dinamakan sumber sejarah. Dalam bahasa Inggris, sejarah disebut history yang berarti masa lampau; masa lampau umat manusia. Dalam bahasa Arab, sejarah dianggap berasal dari kata syajarotun (syajaroh) yang berarti pohon atau keturunan. Dalam bahasa Yunani, sejarah disebut istoria yang berarti belajar. Sejarah dianggap sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai peristiwa, kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia. Dalam bahasa Jerman, kata sejarah diebut geschichte yang berarti sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia.

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli
  • Ibnu Khaldun
    Menurut Ibnu Khaldun, sejarah merupakan catatan tentang umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan - perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu.
  • R. Mohammad Ali
    Menurut R. Mohammad Ali, sejarah merupakan keseluruhan perubahan dan kejadian - kejadian yang benar - benar telah terjadi atau ilmu yang menyelidiki perubahan - perubahan yang benar - benar terjadi di masa lampau
  • Moh. Yamin
    Menurut Moh. Tamin sejarah merupaan suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
  • Roeslan Abdulgani
    Menurut Roeslan Abdulgani, sejarah merupakan ilmu yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian - kejadiaannya; dengan maksud untuk menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya, untuk dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penelitian dan penentuan keadaan masa sekarang serta arah progres di masa depan.