Pengertian Kronologis (Diakronis), Sinkronik, Ruang dan Waktu

Pengertian Kronologis (Diakronis), Sinkronik, Ruang dan Waktu

A. Konsep Kronologis (Diakronis)
Kronologi diambil dari bahasa Yunani yaitu kronos / chronos yang berarti waktu dan logos yang berarti ilmu. Maka kronologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari waktu atau sebuah kejadian pada waktu tertentu. Kronologi adalah catatan kejadian - kejadian yang diurutkan sesuai dengan waktu terjadinya.

Sejarah mengajarkan kepada kita untuk berfikir kronologis (diakronis) yaitu berfikir secara runtut, teratur dan berkesinambungan. Konsep kronologis dalam sejarah akan memberikan gambaran secara utuh tentang suatu peristiwa bersejarah dari tinjauan aspek tertentu sehingga kita dapat dengan mudah memahami, menarik manfaat dan makna dari suatu peristiwa. Adapun dalam keseharian, berfikir diakronis atau berfikir secara kronologis sangat diperlukan jika kita ingin memecahkan suatu masalah. Tanpa berfikir secara runtut dan berkesinambungan dalam mengidentifikasi suatu permasalahan, kita akan kesulitan memecahkan suatu masalah atau bahkan mendapatkan solusi yang tidak tepat.

Galtung mengemukakan, diakronis berasal dari bahasa Yunani. kata "dia" berarti melintasi atau melewati dan "kronos" berarti perjalanan waktu. Dengan demikian diakronis dapat diartikan sebagai suatu peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa - peristiwa sebelumnya dan tidak berdiri sendiri atau timbul secara tiba - tiba. Sebab dalam sejarah, selain meneliti gejala - gejala yang memanjangkan waktu, tetapi juga ruang yang terbatas.

Konsep diakronis melihat bahwa peristiwa dalam sejarah mengalami perkembangan dan bergerak sepanjang masa. Dari proses inilah manusia dapat membandingkan dan melihat perkembangan kehidupan manusia dari zaman ke zaman.

Contoh berpikir kronologis diakronis :
Peristiwa proklamasi kemerdekaan RI dilatarbelakangi oleh menyerahnya Jepang kepada sekutu, kemudian para pemuda bereaksi atas menyerahnya Jepang, terjadilah peristiwa Rengasdengklok yaitu penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, dan pada akhirnya diputuskan untuk penyusunan teks proklamasi serta melakukan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Adapun ciri - ciri diakronis diantaranya :
  • Mengkaji dengan berlalunya masa
  • Menitikberatkan pada pengkajian peristiwa sejarahnya
  • Bersifat historis atau komparatif
  • Bersifat vertikal
  • Terdapat konsep perbandingan
  • Cakupan kajian lebih luas
Cara Berfikir Diakronis / Kronologis
  • Mempelajari kehidupan sosial secara memanjang dan berdimensi waktu
  • Memandang masyarakat sebagai sesuatu yang terus bergerak dan memiliki hubungan kausalitas atau sebab akibat
  • Menguraikan proses transformasi yang terus berlangsung dari waktu ke waktu kehidupan
  • Menguraikan kehidupan masyarakat secara dinamis
  • Digunakan dalam ilmu sejarah
B. Konsep Sinkronik
Konsep berfikir sinkronik artinya mempelajari peristiwa sejarah pada kurun waktu tertentu saja dan khas ilmu sosial. Cara berfikir ilmu - ilmu sosial sinkronik melebar dalam ruang, serta mementingkan struktur dalam satu peristiwa.

Berbeda dengan peristiwa diakronik dimana satu peristiwa memiliki hubungan dengan peristiwa lain, pada konsep sinkronik tidaklah demikian. Dalam konsep berfikir sinkronik yang akan dipelajari dalam kurun waktunya saja secara mendetail tanpa perlu membandingkan dengan peristiwa sejarah lain.

Contoh :
Ketika kita mengkaji mengenai peristiwa G30SPKI, maka konsep sinkronik akan mempelajari peristiwa tersebut secara mendetail dengan menggunakan konsep 5 W + 1 H.

C. Konsep Ruang
Konsep ruang meliputi aspek lingkungan, lokasi, dan tempat terjadinya suatu peristiwa sejarah. Kajian yang diambil pada konsep ruang lebih dititik beratkan pada aspek tempat terjadinya suatu peristiwa sejarah. Konsep ruang dalam sejarah akan membantu dalam membandingkan antara peristiwa yang terjadi di satu lokasi dengan peristiwa sejarah di lokasi lainnya serta mengetahui apakah ada hubungan antara peristiwa di lokasi satu dengan yang lain. Sejarah lokal dapat diangkat menjadi sejarah nasional karena pengaruhnya pada wilayah lain, begitu juga sejarah nasional dapat dijadikan sejarah internasional karena mempengaruhi daerah lain yang berpengaruh sangat besar.

Contoh:
Peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya merupakan sejarah lokal yang diangkan menjadi sejarah nasional karena pengaruhnya yang sangat besar terhadap daerah lain dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI pada saat itu.

Perang Dunia I dan II merupakan sejarah negara bagi negara - negara yang berkonflik. Namun Perang Dunia I dan II dijadikan sebagai sejarah internasional karena mempengaruhi negara - negara lain di dunia.

D. Konsep Waktu
Konsep waktu dalam sejarah sangat diperlukan sebagai pengelompokan - pengelompokan berdasarkan waktu (pembabakan / periodisasi) suatu peristiwa sejarah dan urutan waktu terjadinya peristiwa sejarah (kronologis / diakronis). Konsep waktu sangat penting untuk menghindari terjadinya tumpang tindih peristiwa sejarah (anakronis).

Contoh
Periodisasi masa pra aksara :
  1. Zaman batu tua (Paleolitikum)
    Masa dimana peralatan manusia masih menggunakan peralatan dari batu yang belum dihaluskan.
  2. Zaman batu menengah (Mesolitikum)
    Pada zaman ini batu sebagai alat yang digunakan pada kegiatan sehari - hari sudah dihaluskan pada salah satu sisinya.
  3. Zaman batu muda (Neolitikum)
    Pada zaman ini peralatan manusia sudah dihaluskan kedua sisinya.
  4. Zaman batu besar Megalitikum)
    Zaman batu besar yaitu penggunaan batu - batu berukuran besar yang difungsikan sebagai upacara kepercayaan.
Dari periodisasi tersebut dapat dilihat bahwa ada perkembangan kemampuan manusia bertahap dari waktu ke waktu. Pembabagan tersebut didasarkan pada rentang waktu peristiwa sejarah.

E. Konsep Perubahan dalam Sejarah
Perubahan dalam sejarah dapat diartikan sebagai aspek kehidupan yang bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan manusia. Seorang filsuf bernama Heraclitus mengatakan "Panta rei", artinya tidak ada yang tidak berubah, semua mengalir, masyarakat sewaktu - waktu bergerak dan berubah. Wertheim juga menuliskan, History is continuity and change yang berarti sejarah adalah peristiwa yang berkesinambungan dan perubahan.

Perkembangan dalam kehidupan ada yang berjalan lambat dan ada yang berjalan cepat. Arah perubahan dibedakan menjadi dua yaitu yang lebih baik (progres) dan yang lebih buruk (regres).

F. Konsep Keberlanjutan dalam Sejarah
Dalam peristiwa sejarah, satu peristiwa sejarah akan berlanjut pada peristiwa sejarah yang lain. Peristiwa sejarah akan berdiri sendiri namun tidak terpisah dari peristiwa sejarah lain. 
Perubahan Kur-13 Sejarah SMK menjadi Kurikulum 13 SMK Sejarah Indonesia (Perbaikan 2017)

Perubahan Kur-13 Sejarah SMK menjadi Kurikulum 13 SMK Sejarah Indonesia (Perbaikan 2017)

Berikut ini adalah perubahan kurikulum pada Kurikulum 2013 mata pelajaran Sejarah Indonesia yang mengalami revisi atau perbaikan. Silahkan di simak :


















Dari perubahan kurikulum diatas dapat disimpulkan bahwa pelajaran Sejarah Indonesia hanya ada di kelas X untuk kurikulum 2013. Pembelajaran sejarah yang seharusnya dilakukan selama 6 semester diperingkas menjadi 2 semester tepatnya pada kelas X saja. 


Apa itu Prasasti?

Apa itu Prasasti?

Pengertian Prasasti
Kata “prasasti” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “pujian”, namun pada perkembangannya prasasti kemudian dianggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang – undang, dan tulisan”. Ada beberapa istilah serupa dalam bahasa asing seperti bahasa Latin prasasti disebut inskripsi, Malaysia menyamakan prasasti dengan batu bersurat atau batu bertulis.

Prasasti merupakan piagam atau dokumen tertulis yang biasanya berupa batu ataupun logam. Prasasti biasanya dikeluarkan oleh seorang raja didaerah kekuasaannya sebagai simbol pengaruh politik di wilayah tersebut. Prasasti yang dikeluarkan oleh raja biasanya memberikan informasi tentang kegiatan kerajaan, silsilah atau ketatanegaraan, sosial masyarakat dan keagamaan suatu kerajaan.

Sebagian prasasti yang telah terbaca juga memuat tentang keputusan suatu wilayah menjadi daerah perdikan atau daerah sima yang terbebas dari pajak kerajaan yang diberikan kepada masyarakat yang berjasa. Kerena itu daerah perdikan dilindungi oleh kerajaan. Epigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang prasasti.

Fungsi Prasasti
  • Menggambarkan peristiwa penting pada masa lampau. 
  • Mengungkap sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan serta mengandung unsur penanggalan.
  • Sumber primer sejarah.
Bahan Pembuat Prasasti
Prasasti pada umumnya berasal dari batu dan logam, selain itu ada juga yang terbuat dari kertas, daun dan lontar. Prasasti batu selain berjenis batu andesit juga terdapat jenis lain seperti batu kapur, batu pualam dan batu basalt. Prasasti berbahan batu disebut upala prasati, prasati berbahan logam baik itu tembaga, perak, emas ataupun perunggu disebut tamra prasasti, sedangkan yang ditulis di daun tal atau lontar disebut ripta prasasti.

Bahasa dan Aksara Prasasti
Bahasa sangat berperan dalam menyampaikan isi dari suatu prasasti. Prasasti yang ditemukan pada periode awal umumnya menggunakan bahasa Sansekerta, bukan bahasa lokal suatu daerah. Bahasa Sansekerta (ada juga yang menyebut sanskrit) merupakan bahasa penghubung dan bahasa global pada masa lampau yang digunakan oleh para ahli agama dan terpelajar. Mungkin posisi bahasa Sansekerta pada masa lampau dapat disamakan dengan bahasa Latin pada masa kedepannya dan bahasa Inggris pada masa sekarang.

Hal ini seakan memberikan kesan bahwa terdapat pembedaan antara rakyat jelata dan penguasa. Periode yang dianggap paling aktif dan produktif mengeluarkan prasasti adalah periode ke 8 hingga ke 14 Masehi. Aksara yang paling banyak digunakan pada prasasti adalah Sansekerta, Pallawa, Pranagari, Melayu Kuno, Jawa Kuno (Kawi), Sunda Kuno dan Bali Kuno. Bahasa yang digunakan juga beragam seperti bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, Sunda Kuno dan Bali Kuno.

Berikut ini klasifikasi prasasti berdasarkan bahasa yang digunakan :
  • Sansekerta diantaranya Prasasti Mulawarman (Kutai), Prasasti Kebon Kopi, Tugu, Cidanghiyang, Ciaruteun, Cianten, Jampu, dan Pasir Awi (Tarumanegara) dan lain – lain.
  • Melayu Kuno diantaranya Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur, Karang Brahi dan Telaga Batu (Sriwijaya) dan lain – lain. 
  • Jawa Kuno diantaranya Prasasti Sukabumi, Kanyumwunga, Siwargha, Mantyasih, Rukam dan lain – lain. 
  • Sunda Kuno diantaranya Prasasti Astana Gede, Batutulis, Prasasti Cikajang, Blanjong dan lain – lain.
Memasuki masa Islam, penulisan prasasti berganti menggunakan aksara dan bahasa arab atau aksara arab berbahasa Melayu (Pegon). Prasati tersbut biasanya ditulis di lempengan – lempengan tembaga, nisan, hiasan dinding masjid, cap kerajaan, mata uang, senjata meriam dan lain – lain.

Pada masa kolonialisme, aksara latin telah menggantikan aksara – aksara sebelumnya dan bahasanya pun menggunakan bahasa negara – negara kolonialis seperti bahasa Inggris, Belanda, Portugis yang kemudian membaur bersama bahasa lokal dan menghasilkan bahasa – bahasa Nusantara.
Pengertian dan Fungsi Yupa

Pengertian dan Fungsi Yupa

Pengertian dan Fungsi Yupa
Yupa adalah tugu batu yang digunakan sebagai peringatan yang dibuat oleh para pendeta Brahmana di Kerajaan Kutai. Yupa sama dengan tugu monumen batu. Yupa di Kerajaan Kutai dibuat oleh para Brahmana guna memperingati kedermawanan raja Mulawarman. Yupa berupa tiang batu yang berfungsi sebagai tempat mengikat hewan kurban yang dipersembahkan kepada para dewa. Yupa merupakan salah satu bentuk kebudayaan megalithikum di Indonesia yang berakulturasi dengan agama Hindu.

Yupa di Kerajaan Kutai menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta yang menginformasikan kejadian pada zaman dahulu. Di Kerajaan Kutai, pada masa pemerintahan Mulawarman, beliau menyedekahkan sebanyak 20 ribu ekor sapi kepada para Brahmana. Peristiwa tersebut diabadikan didalam yupa. Tulisan pada yupa menggunakan huruf kuno Pallawa yang saat ini sudah banyak diterjemahkan oleh para paleontologis sehingga generasi saat ini dapat mengetahui kisah para raja yang merujuk pada yupa di Kerajaan Kutai, di daerah Kalimantan Timur tepatnya di pedalaman sungai Mahakam.

Yupa dan Prasasti
Banyak yang menganggap bahwa yupa dan prasasti adalah sama, sebenarnya keduanya memiliki perbedaan. Dari segi fisik, yupa merupakan salah satu peninggalan kerajaan Hindu berupa monumen batu yang dikhususkan pada Kerajaan Kutai yang mengisahkan mengenai kondisi Kerajaan Kutai pada masa lampau. Sedangkan prasasti merupakan peninggalan kerajaan Hindu lainnya. Oleh karena itu jangan menyamakan keduanya karena dari bentuk fisiknya pun sudah berbeda.

Yupa Kerajaan Kutai
Keberadaan Kerajaan Kutai mulai terkuak setelah didapatkannya informasi dari yupa di Kalimantan Timur. Namun, yupa tersebut tidak menginformasikan mengenai kapan dinasti Kutai berdiri. Yupa hanya menyebutkan Kudungga sebagai pendiri Kerajaan Kutai. Sebanyak tujuh yupa ditemukan di Indonesia. Ketujuh yupa tersebut menjadi sumber sejarah Kerajaan Kutai yang dianggap sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Namun kondisi yupa yang ditemukan sebagian telah rusak oleh faktor usia yang telah lama terkubur di dalam tanah. Yupa banyak bercerita mengenai raja Mulawarman dan Aswawarman atas keluhuran budinya. Aswawarman merupakan anak Kudungga, pendiri Kerajaan Kutai dan memiliki julukan Wangsakerta yang berarti "pembentuk keluarga". Namun diperkirakan Kudungga saat itu belum menganut ajaran agama Hindu. Aswawarman memiliki tiga putera dan dari ketiga anaknya yang paling terkenal adalah Mulawarman yang dikenal sebagai sosok raja yang murah hati.
Sejarah Konferensi Asia Afrika

Sejarah Konferensi Asia Afrika

Pada awal tahun 1950 terjadi situasi genting antara blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Kedua negara tersebut banyak menyebarkan pengaruhnya terutama pada negara – negara berkembang. Pada saat itu Amerika Serikat dan Uni Soviet memasuki babak baru yaitu Perang Dingin.

Konferensi Tingkat Tinggi Asia – Afrika atau disingkat KTT Asia Afrika atau KAA adalah sebuah konferensi yang dihadiri negera – negara Asia dan Afrika yang rata – rata merupakan negara muda yang baru merdeka dari penjajahan. Secara umum KAA terselenggara dilatarbelakangi adanya suasana yang semakin meningkat antara bangsa – bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan pasca Perang Dunia II. Secara umum negara – negara Asia dan Afrika memiliki nasib yang sama yaitu dijajah oleh bangsa Barat. Kesamaan nasib inilah yang kemudian memunculkan gagasan kerjasama negara – negara Asia Afrika untuk mengatasi permasalahan yang sama diantaranya masalah ekonomi, sosial, pendidikan dan budaya.

Sebelumnya telah dilakukan pertemuan Konferensi Colombo pada tanggal 28 April 1954 oleh lima negara yaitu Pakistan, India, Burma (Myanmar), Srilanka dan Indonesia. Kemudian pertemuan kelima negara tersebut dilanjutkan di Bogor, Indonesia dan menghasilkan keputusan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Indonesia pada tahun 1955.

Pelopor KAA
  • Ali Sastroamidjojo dari Indonesia
  • Mohammad Ali Bogra dari Pakistan
  • Jawahral Nehru dari India
  • John Kotelawala dari Sri Lanka
  • U Nu dari Myanmar / Burma
KAA diadakan oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India dan Pakistan. Pertemuan ini diadakan pada tanggal 18 April sampai 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia. Pertemuan ini dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Roeslan Abdulgani. KAA bertujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet dan negara – negara kolonial lainnya.

Sebanyak 29 negara hadir dalam konferensi ini. Pertemuan ini seolah merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan – kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan – keputusan yang mempengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran terhadap ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat; keinginan negara – negara KAA dalam mendapatkan hubungan yang damai antara mereka. Cina dan pihak Barat; penentangan terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan Aljazair; serta keinginan Indonesia mempromosikan hak mereka dalam menentang Belanda dalam masalah Irian Barat.

Pada pertemuan KAA, Presiden Soekarno memberikan pidato pembukaan tentang kolonialisme belum mati. Pidato – pidato yang dilontarkan oleh pemimpin – pemimpin negara anggota KAA seolah membesarkan semangat persaudaraan diantara peserta konferensi. Pertemuan ini menghasilkan sepuluh poin yang diberikan pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Sementara pada tanggal 14 Juni 1995.

Hasil Konferensi Asia Afrika
  1. Konferensi dapat mengelakkan diri menjadi medan pertentangan Perang Dingin.
  2. Ketegangan yang timbul di beberapa bagian Benua Asia – Afrika dapat diredakan.
  3. Konferensi dapat menerima cara pendekatan tradisional bangsa Indonesia yaitu musyawarah dan mufakat.
  4. Sistem musyawarah dan mufakat ternyata dapat diterapkan pada konferensi tersebut dengan hasil yang baik.
Pada akhir pertemuan dihasilkan beberapa dokumen yang disebut Basic Paper on Racial Discrimination dan Basic Paper on Radio Activity. Keduanya dianggap sebagai bagian dari keputusan konferensi yang dikenal dengan “Dasasila Bandung”. Konferensi KAA berakhir dengan terbentuknya Gerakan Non Blok pada tahun 1961.

Adapun Dasasila Bandung adalah sebagai berikut :
  1. Menghormati hak – hak dasar manusia dan tujuan – tujuan serta asas – asas yang termuat di dalam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa besar ataupun kecil.
  4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi terhadap persoalan dalam negara lain.
  5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian ataupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  6. Tidak menggunakan peraturan – peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara – negara besar, dan tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.
  7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi, ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum, ataupun lain – lain. Cara damai menurut pilihan pihak – pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
  10. Mengetahui hukum dan kewajiban – kewajiban internasional.

Tujuan KAA
Tujuan utama KAA adalah menciptakan perdamaian dan ketentraman hidup bangsa – bangsa yang ada di kawasan Asia Afrika. Tujuan lainnya diantaranya :
  • Memajukan kerjasama antar bangsa Asia – Afrika guna kepentingan bersama, persahabatan, dan hubungan bertetangga yang baik.
  • Mempertimbangkan masalah – masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan negara – negara anggota KAA.
  • Mempertimbangkan masalah – masalah khusus bangsa – bangsa Asia Afrika seperti kedaulatan nasional, rasisme dan kolonialisme.
  • Meninjau kedudukan Asia Afrika serta rakyatnya di dunia, serta sumbangan bagi perdamaian dan kerjasama di dunia.

Pokok Pembicaraan KAA
Berikut ini adala pokok pembicaraan dalam Konferensi Asia Afrika :
  • Meningkatkan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan HAM.
  • Hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
  • Permasalahan rasisme
  • Kerjasama internasional antar anggota KAA
  • Pelucutan senjata
  • Masalah negara – negara KAA yang masih terjajah seperti di Afrika Utara.
  • Permasalahan Irian Barat.

Manfaat Konferensi Asia Afrika
Pada awalnya pertemuan Asia Afrika ditujukan untuk membangun kekuatan penyeimbang dari negara – negara berkembang ditengah dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Anggota KAA tidak ingin masuk dalam konflik kedua negara tersebut. Disisi lain, negara – negara anggota KAA memiliki keinginan untuk berdaulat, berkembang, maju dan dapat menciptakan kesejahteraan rakyatnya.

Asia Afrika mampu menciptakan hubungan damai dan kerjasama yang baik terutama antar anggota Asia Afrika. Berakhirnya Perang Dingin membuat peran Asia Afrika menjadi berkurang. Namun hubungan antar negara – negara Asia Afrika telah terbentuk. Hal ini dibuktikan pada diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT).

Keberadaan Asia Afrika menumbuhkan hubungan yang semakin erat antar bangsa di wilayah Asia Afrika. Bagi Indonesia, keikutsertaannya dalam pertemuan KAA merupakan wujud nyata dalam pelaksanaan tujuan nasional yaitu ikut serta menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan berkeadilan sosial.

Negara – Negara yang Hadir dalam Pertemuan KAA
Afganistan, Cina, Ethiopia, Filipina, India, Indonesia, Irak, Iran, Jepang, Kamboja, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Mesir, Myanmar, Nepal, Pakistan, Ghana, Saudi Arabia, Srilanka, Sudan, Syria, Thailand,  Turki, Vietnam Selatan, Vietnam Utara, Yaman, Yordania.
Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular terletak di Jl. Raya Buduran, Kec. Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Museum Mpu Tantular didirikan oleh seorang warga Surabaya berkebangsaan Jerman bernama Godfried Hariowald von Faber pada tahun 1933 dan diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937. Museum Mpu Tantular merupakan kelanjutan dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya yang berdiri pada tahun 1933 oleh von Faber.

Lokasi Museum Mpu Tantular memang sering berpindah – pindah karena koleksi museum yang semakin banyak dan membutuhkan tempat yang lebih luas. Museum Mpu Tantular awalnya terletak di Jl. Pemuda 3 Surabaya, kemudian pada pertengahan taun 1975 berpindah ke Jl. Mayangkara No. 6, selanjutnya pada tanggal 14 Mei 2004 dipindah ke lokasi sekarang yaitu Jl. Raya Buduran dan diresmikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, Msi.

Sepeninggal von Faber, Museum Mpu Tantular dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum yang didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Mpu Tantular mulai dibuka untuk umum mulai tanggal 23 Mei 1972 dengan nama Museum Jawa Timur. pada tanggal 13 Februuari 1974, nama Museum Jawa Timur diubah menjadi Museum Negeri dan diresmikan pada tanggal 1 November 1974 dengan nama Negeri “Mpu Tantular” Provinsi Jawa Timur.

Nama Mpu Tantular diambil dari nama seorang pujangga terkenal pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Karya Mpu Tantular yang paling terkenal adalah Kakawin Arjunawiwaha dan Kakawin Sutasoma. Museum Mpu Tantular memiliki koleksi berjumlah 14956 buah. Koleksi yang dikategorikan sebagai  koleksi unggulan atau masterpiece diantaranya :
  • Hiasan Garudeya
  • Arca Durga Mahesasuramardhini
  • Surya Stambha
  • Sepeda Tinggi
  • Sepeda Motor Uap
  • Simphonion
  • Thuk – Thuk
  • Hiasan Haluan Perahu
  • Patung Gajah Perunggu
  • Kerapan Sapi
  • Sepeda Kayu
Koleksi Museum Mpu Tantular

Museum Joang 45

Museum Joang 45

Museum Joang 45 terletak di Jl. Menteng Raya No. 31, RT 1/RW 10, Kb. Sirih, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Pada masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai hotel yang bernama Hotel Schomper. Saat Belanda menyerah kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, gedung ini diambil alih oleh Jepang dan diserahkan kepada Jawatan Propaganda Jepang (Sendenbu). Sejak bulan Juli 1942, Sendenbu menyerahkan gedung ini kepada pemuda untuk dipergunakan sebagai tempat pendidikan politik para pemuda dalam rangka menyongsong kemerdekaan. Dibalik niat baik Jepang ternyata Jepang memanfaatkan para pemuda guna kepentingan perang Asia Timur Raya.

Maksud Jepang tersebut mampu dibelokkan oleh para pemimpin Indonesia yang ditugaskan sebagai pengajar dengan menanamkan cita – cita kemerdekaan yang murni. Para pemimpin yang pernah menjadi pengajar disini diantaranya Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo dan Achmad Subarjo. Pusat pendidikan ini kemudian dikenal dengan nama Asrama Menteng 31 dan pemudanya disebut “Pemuda Menteng 31”. Pada tahun 1974 gedung ini dialih fungsikan sebagai museum yang bernama Museum Joang 45 dan gedungnya dinamakan Gedung Joang 45.

Asrama Menteng 31 merupakan tempat perjuangan pemuda termasuk salah satunya rencana penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini dimanfaatkan berbagai aksi melalui Comite van Actie diantaranya mendesak pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pembentukan Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan memprakarsai peristiwa Rapat Raksasa Ikada. Para tokoh pemuda yang menonjol dari Asrama Menteng 31 diantaranya Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh dan A.M. Hanafi.

Dapat dibilang hanya pada ruang pendahuluan yang memuat informasi berkaitan dengan Gedung Joang 45. Ruang – ruang berikutnya lebih banyak memaparkan mengenai kisah – kisah perjuangan Indonesia dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan yang sebagian ditampilkan dalam bentuk foto – foto bersejarah. Meskipun demikian, ada juga dokumentasi dalam bentuk lain seperti lukisan, benda bersejarah, peta berbentuk maket dan diorama. Ada pula pojok multimedia yang menampilkan film dokumenter dan rekaman – rekaman perjuangan melawan penjajahan.

Dibagian museum terdapat dua mobil kepresidenan yang antik. Mobil pertama bermerk Buick  buatan General Motors dengan nomor polisi REP-1 yang pernah digunakan sebagai mobil dinas Presiden Soekarno. Mobil kedua adalah mobil berwarna putih gading yang merupakan mobil dinas Mohammad Hatta. Mobil ini bermerk Desoto yang berplat polisi REP-2. Satu mobil lagi yaitu mobil yang pernah digunakan Soekarno saat terjadi usaha pembunuhan yang dikenal dengan peristiwa Peristiwa Cikini.

Jam Buka
Selasa – Minggu pukul 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional Tutup

Tiket Masuk
Dewasa 5.000
Mahasiswa 3.000
Pelajar 2.000