Wednesday, January 29, 2014

Keadaan Jepang Sesudah Perang Dunia


Sesudah perang tepatnya abad ke-20 sesudah perang, seolah – olah pengalaman – pengalaman kediktatoran militer, perang, kekalahan, dan pendudukan tidak pernah terjadi. Tak ada bidang yang lebih jelas menampakkan ini ketimbang bidang politik. Semua partai yang lama cepat-cepat disusun kembali dalam musim gugur tahun 1945 dan kecenderungan – kecenderungan pemberian suara tahun 1920-an dan 1930-an muncul hampir – hampir pada peranan yang seharusnya seandainya tidak terjadi perubahan arah sejarah. Kedua partai tradisional sebelum perang dihidupkan kembali, dalam menghadapi suara kiri yang naik, melebur dalam tahun 1955 membentuk Partai Demokrat Liberal, nama yang mengungkapkan dwiasalnya. Tahun – tahun awal sesudah perang merupakan masa ketidakpastian dan kekacauan politis yang besar maupun social dan ekonomis. Retorika politik cenderung untuk menganjurkan konfrontasi habis – habisan, bukan debat berdasarkan pikiran, dan semangat konfrontasi ini tidak terbatas pada pemilihan – pemilihan dan politik Diet, tetapi turun sampai ke jalan-jalan. Demo sesudah perang yang paling banyak banyak terdapat dimana – mana, menjadi  kependekan bukan dari demokrasi tetapi dari demontrasi.
Bulan madu awal antara pendudukan dengan rakyat Jepang berangsur – angsur menjadi masam. Kaum konservatif makin lama makin jengkel dengan campur tangan Amerika, yang dalam soal kecil – kecil sering tidak mengetahui dan secara tidak perlu merusak ekonomi, sedangkan kaum kiri menjadi sungguh – sungguh kecewa ketika tekanan dalam kebijakan pendudukan beralih antara tahun 1947 dan 1949 dari pembaruan selanjutnya menjadi pemulihan ekonomi. Suatu pergeseran dalam persepsi – persepsi  Amerika mengenai dunia di luar Jepang juga diperlukan. Perang dingin terjadi, Cina “hilang” ke komunisme, dan Jepang tampaknya tidak lagi merupakan ancaman yang khusus bagi perdamaian di Asia Timur, tetapi lebih merupakan pangkalan harapan bagi demokrasi dan kekuatan militer Amerika di bagian dunia itu.
Ada beberapa titik balik dalam sikap kaum kiri terhadap pendudukan. Salah satu adalah ketika serikat – serikat buruh, dalam usahanya untuk mencapai kekuasaan politik, merencanakan pemogokan umum di seluruh negri pada tanggal 1 februari 1947, dan MacArthur, takut akan bencana yang diakibatkannya bagi ekonomi dan program pembaruannya sendiri, melarang pemogokan tersebut. Pada 25 Juni 1950 terjadi penyerbuan Korea Selatan oleh Korea Utara Komunis, serta reaksi militer Amerika dari pangkalan – pangkalannya di Jepang.
Sejak itu pertarungan politik antara kiri dan kanan di Jepang secara luas memfokuskan hubungan – hubungan dengan Amerika Serikat. Peranan Amerika Serikat yang utama dalam hubungan – hubungan ini banyak diperbesar di mata orang Jepang oleh seluruh pengalaman penduduk maupun oleh ketergantungan yang berlanjut pada Amerika Serikat atas keamanan militer Jepang dan kira – kira 30 persen dari perdagangan luar negrinya. Kaum kiri mengemukakan bahwa ketergantungan yang berat pada Amerika Serikat mengikat Jepang pada kapitalisme dan karena itu menghalangi tercapainya sosialisme. Kehadiran pangkalan – pangkalan dan pasukan Amerika juga menimbulkan perselisihan yang tiada akhirnya yang dapat digunakan oleh partai – partai oposisi guna keuntungan politiknya.
Berakhirnya pendudukan melalui suatu perjanjian perdamaian diundurkan lebih lama dari pada yang direncanakan oleh Amerika Serikat, karena keengganan Uni Soviet yang terang – terangan untuk menerima jenis perdamaian yang dianggap perlu oleh orang Amerika. Tetapi, akhirnya Amerika Serikat jalan terus dengan suatu “perjanjian perdamaian terpisah”, tanpa persetujuan Soviet atau ikut sertanya Cina, dan pada waktu yang sama mengadakan perjanjian  keamanan liberal, yang memberikan kepada Amerika pangkalan – pangkalan di Jepang dan suatu keterikatan pangkalan – pangkalan di Jepang  dan suatu keterikatan untuk mempertahankan kepulauan itu.  Pada 1954 dibentuk suatu badan militer yang sederhana diberi nama Angkatan  Bela Diri. Juga diadakan beberapa perubahan dalam pembaruan – pembaruan pendudukan selama tahun – tahun pertama sesudah pendudukan diakhiri. Dan sistem kepolisian serta pendidikan dikonsolidasi kembali di bawah pimpinan pemerintah pusat.
Selama tahun – tahun  ini pemerintah Jepang juga kembali mengadakan hubungan dengan dunia luar dan berhasil mendapatkan tempat bagi dirinya kembali dalam massyarakat bangsa – bangsa. Sejak tahun 1954 mulai dilakukan perundingan perundinagn perbaikan ddengan sebagian besar Negara yang telah diserbunya dahulu. Pada tahun 1956 suatu penghentian permusuhan, walaupun bukan  suatu perjanjian perdamaian yang sepenuhnya, dirundingkan dengan Uni Soviet yang lalu membatalkan vetonya terhadap Jepang dalam Perserikatan Bangsa – Bangsa, sehingga memungkinkan Jepang memperoleh keanggotaan. Kontak dengan tetangga tetangga jepang yang terdeka, Korea dan Cina, tetap kurang memuaskan. Barulah pada tahun 1956 hubungan – hubungan dengan korea selatan dinormalisasikan atas dasar pembayaran -  pembayaran keuangan yang besar oleh Jepang, dan baru dalam tahun 1972, menyusul pendekatan Cina-Amerika, Jepang mengadakan hubungan diplomatic yang penuh dengan Beijing.
Krisis politik terbesar dalam periode sesudah perang terjadi dalam tahun 1960 mengenai perubahan perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat, yang diperlukan guna kepercayaan diri jepang yang sedang berkembang dan statusnya di dunia. Ini mengakibatkan letusan politik yang hebat, dan demonstrasi bear – besaran di jalan, tetapi begitu perubahan itu telah disahkan, kehebohanpun berkurang, dan beberapa tahun berikutnya ternyata merupakan tahun – tahun  yang secara politis paling tenang dalam seluruh masa sesudah perang.  Sesudah tahun 1965 kebanyakan orang jepang menentang posisi Amerika di Vietnam dan menganggapnya sebagai ancaman untuk melibatkan Jepang dalam petualangan – petualangan militer Amerika. Krisis politik luar negri, yang terus meningkat seperti dalam tahun 1960, sekali lagi teratasi, dan Jepang melanjutkan langkahnya yang sungguh mantap.
Dalam tahun – tahun pertama sesudah pendudukan berakhir, terdapat apa yang disebut “keajaiban ekonomi” yang telah menjadikan Jepang pada akhir tahun 1960-an unit ekonomi terbesar yang ketiga didunia dan memberikan kepada rakyat Jepang kemakmuran perorangan yang bahkan tidak pernah mereka impikan sebelumnya.  Pada 1950-an ekonomi Jepang maju berpacu dan lebih dari sepuluh tahun sesudah itu rata – rata tingkat pertumbuhan setahun kira – kira 10 persen dalam arti sesungguhnya.  Bangsa jepang sendiri pada 1930-an menghadapi krisis kependudukan kini tidak menghadapi masalah itu sama sekali, karena tambahan penduduk yang kecil bilangannya tiap tahun hanyalah merupakan jumlah yang tidak berarti dari pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih cepat.
Pada akhir 1960-an Jepang telah menjadi partner perdagangan yang pertama atau paling tidak yang kedua terbesar dari hampir setiap Negara komunis atau kapitalis, di Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik Barat. Tanpa kemajuan ekonomi yang gemilang ini, jepang sesudah perang secara politis barangkali tidak akan terbukti begitus stabil maupun lembaga – lembaga demokratisnya begitu berhasil.  Kekuatan ekonomis berkembang sejajar dengan prestasi – prestasi, yang bisa dibandingkan tetapi kurang dapat diukur, dalam bidang social dan kebudayaan.  Secara budaya jepang juga dalam kondisi ledakan. Bergairah menyala – nyala. Ada kreativitas yang tinggi dan vitalitas yang luar biasa dalam sastra, seni, dan music.
Lingkungan internasional yang dihadapi Jepang juga mulai melembut suasananya, dengan hilangnya perang dingin secara berangsur – angsur dan tumbuhnya semangat détente dalam awal tahun 1970-an antara Amerika Serikat dan Negara – Negara komunis. Namun sukses jepang sesungguhnya menyebabkan timbulnya seperangkat soal yang seluruhnya baru.  Sejak  menjadi superpower industry, Jepang juga mengetahui behwa Negara – Negara lain mengharapkan yang lebih banyak lagi. Negara – Negara yang sedang berkembang, terutama Negara – Negara di Asia Timur dan Tenggara meminta perlakuan yang lebih ramah dalam perdagangan dan bantuan ketimbang yang telah diberikan oleh Jepang yang dimakudkan guna pertumbuhan ekonominya sendiri di masa lalu kepada mereka.
Seluruh hubungan dengan Amerika Serikat tampaknya sedang berubah. Amerika Serikat tampaknya sedang berubah. Amerika Serikat yang kuat dan yakin pada diri sendiri di masa lampau telah menganggap pasti Jepang yang lemah  dan tergantung sebagai sekutu yang aman walaupun agak enggan, dan sebaliknya Jepang dengan sendirinya pula merasa pantas mendapat perlindungan dan sokongan yang berguna dari Amerika Serikat, tetapi kini sejauh mana Amerika Serikat dapat dipercaya sebagai rekanan bagi jepang mulai dipertanyakan.
Keseimbangan politik Jepang yang lama juga nampaknya berada pada titik nyaris lenyap. Suara Demokrat Liberal telah susut secara perlahan – lahan, tetapi tetap tahun demi tahun , dan ada tanda – tanda bahwa dalam waktu singkat tak akan ada lagi suatu partaipun yang mempunyai mayoritas parlementer. Inilah kondisi yang tidak pernah dihadapi Jepang sejak kemerdekaannya sesudah perang, dan tak ada seorangpun yang tau pasti, ada yang menjadi akibatnya. Tetapi pada tahap ini dalam catatan sejarah Amerika telah sampai pada saat adanya tuntutan akan perspektif yang jelas. Telah tiba waktunya untuk beralih ke peninjauan yang lebih luas, pertimbangan yang analitis, seperti apakah manusia Jepang dewasa ini dank e mana arah yang mereka tuju, dengan membiarkan dahulu tinjauan yang lebih terperinci tentang masalah – masalah yang telah disinggung disini sampai ditetapkan dasar yang lebih luas.


EmoticonEmoticon