Friday, May 9, 2014

Asal Usul Kota Slawi

Kota Slawi, Kota yang sekarang merupakan ibukota kabupaten Tegal ini sudah berumur ratusan tahun. Dikisahkan sekitar awal tahun 1600an hiduplah tokoh yang bernama Ki Gede Sebayu yang merupakan pendiri Tetegal (Tegal).
Diceritakan bahwa salah satu putri dari  Ki Gede Sebayu yang bernama Nini Dwijayanti terkenal cerdas, cekatan, dan cantik. Kegemarannya menunggang kuda membuat banyak orang semakin kagum kepadanya. Konon jika Nini Dwijayanti turun dari kudanya kecantikannya seperti bidadari yang turun dari langit.tak heran banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya.
Banyak pemuda yang menemui Ki Gede Sebayu,untukn meminta izin mempersunting Nini Dwijayanti. Saking banyaknya pemuda yang ingin mempersunting putrinya Ki Gede Sebayu gundah, kemudian beliau berbicara kepada putrinya tentang banyaknya pemuda yang ingin mempersuntingnya. Kemudian Nini Dwijayanti memberikan saran kepada ayahandanya,lebih baik untuk menentukan jodohnya yang layak. Ki Gede Sebayu harus melaksanakan sebuah sayembara.
Karena sayembara merupakan sarana yang adil untuk setiap pemuda dan merupakan cara atau tanda pasrah akan takdir yang digariskan oleh yang Maha Kuasa. Kemudian Ki Gede Sebayu berdiskusi dengan Nini Jayanti tentang sayembara apa yang akan dilaksanakan. Mereka sepakat akan melakukan sayembara barang siapa yang dapat merobohkan atau menebang pohon Jati raksasa di gunung selatan akan dijadikan suami Nini Dwijayanti, biarpun dia jelata miskin, atau tidak berpangkat.akan tetap dilayani sepanjang hayat.
Akhirnya diputuskan sayembara itu dilaksanakan pada hari jumat kliwon setelah sembahyang jumat. Tibalah pada hari yang ditentukan. Pada waktu itu datanglah 25 perjaka dari berbagai daerah dengan sejumlah pengiringnya. Kebanyakan dari mereka membawa pethel  (kampak). Pethel adalah alat pemotong kayu yang terbuat dari bilah besi yang kokoh bentuknya pipih dan terpasang miring pada kayu atau pegangan. Pethel itu harus diayunkan keras dengan tenaga keras agar tertancapnyamendalam dengan cara itulah biasanya batang kayu yang besar dan kokoh lama-lama akan tumbang.
Untuk menghormati keberanian mereka dibuatlah perkemahan di sekitar pohon jati raksasa tersebut,tiap perjaka diberikan satu kemah sehingga ada 25 kemah di gunung selatan. Ki Gede Sebayu membuka sayembara itu dengan doa yang khusyu. Kemudian beliau berkata kepada seluruh peserta sayembara agar tampil dengan jiwa ksatria, jika gagal janganlah menyesal jika menang janganlah sombong.
Setiap peserta disediakan waktu sehari penuh untuk melaksanakan tugasnya, satu persatu dari mereka mencobanya tetapi gagal, padahal semua peserta sudah mengeluarkan kekauatan terbaiknya.Pada hari terakhir sayembara itu semakin meriah. Makin banyak orang yang penasaran hendak mengetahui siapa yang jadi pemenang. Sampai banyak penduduk yang tidak pulang ke rumahnya bahkan mengajak anak dan istrinya. Mereka bertahan disana karena makan dan minum oleh Ki Gede Sebayu. Tempatitu menjadi tempat keramaian.
Pada hari terakhir suasana semakin tegang, wajah Nini Jayanti pun memucat, matanya meredup menahan tangis.dia berpikir jangan-jangan suara itu merupakan suara tipuan dari jin, kalau tak ada yang menang bagaimana dengan nasibnya.
Menjelang sore datanglah seorang santri diringi sejumlah remaja yang santun-santun. Dia mengaku bernama Ki Jadug,danmohon ixzin mengikuti sayembara, dia terlambat karena memang baru mengetahui kabar adanya sayembara. Kemudian Ki Gede Sebayu mengizinkan pemuda itu untuk melaksanakan sayembara.
Sejenak ki Jadug berpamitan untuk berwudhu, lantas bersembahyang dua rokaat disaksikan seluruh penonton. Setelah sholat Ki Jadug langsung mengayunkan kampaknya, setalah ayunan kelima akhirnya pohon itu tumbang dan disambut sorak sorai penonton.  Kemudian KI Gede Sebayu berucap, akhirnya pemenang sayembara ini adalah Ki Jadug. Jati keramat ini adalah menjadi milik kita bersama,kelak akan menjadi tiang utama (Saka Guru) keratin di bumi Tetegal. Saksikan bumi ini menjadi makmur akan bernama candi Selawe.Sekarang bubran dan bersyukur kepada yang Maha Kuasa.

Kelak tahulah mereka bawa Ki Jadug adalah bangsawan Mataram yang bernama asli Pangeran Purbaya. Adapun Candi Selawe yang berarti rumah dua puluh lima itu lama-lama terucap Selawi (Slawi) sampai sekarang.Pada tahun 1956, kota tersebut dijadikan ibukota kabupaten Tegal.


EmoticonEmoticon