Situs Patiayam


Situs Patiayam merupakan salah satu situs purbakala yang terletak di perbatasan Pati - Kudus. Sebagian besar yang ada disini adalah fosil - fosil hewan zaman purba diantaranya banteng, antelop jawa, kerbau, gajah, hingga kerang - kerang laut.

Nama patiayam sendiri diambil dari nama perbukitan dimana fosil - fosil ini ditemukan. Kerangka tulang - tulang purba cukup lengkap dikarenakan pada tempat ditemukannya fosil tidak ada sungai yang mengakibatkan berpencarnya fosil - fosil tersebut. Fosil - fosil yang ada di museum Patiayam ditemukan pada permukaan tanah pleistosen dan diperkirakan 600.000 tahun yang lalu. Manusia purba yang ditemukan di Patiayam adalah homo erectus dimana manusia ini hidup pada masa 1,89 juta tahun hingga 143.000 tahun yang lalu.

Hewan - hewan lain seperti jasad renik hingga fosil hewan laut dan trumbu karang juga ditemukan. Hal ini memperkuat bahwa daerah perbatasan Pati dan Kudus dahulu merupakan sebuah laut atau lebih tepatnya selat yang memisahkan pulau jawa dan pulau muria.



Fosil hewan purba yang ditemukan diantaranya Bovidae (banteng, kerbau), Corvidae (rusa, kijang), Chelonidae (kura - kura), Crocodilis (buaya), Elephantidae (gajah), Fidae (macan, harimau), Rhinocerotidae (badak), Stegodon (gajah purba), Suidae (babi), dan Hipopotamidae (kuda nil).

Gajah Purba Situs Pati Ayam
Stegodon trigonochepalus merupakan salah satu spesies gajah yang hidup sekitar 700.000 hingga 1 juta tahun yang lalu. Temuan fosil gading stegodon di situs Patiayam sendiri mencapai panjang 3,5 m. Hal ini menunjukkan betapa besarnya gajah purba pada masa itu.

Berdasarkan temuan komparatif dari Balai arkeologi Yogyakarta, fosil yang utuh dikarenakan tertimbun abu vulkanik halus sehingga pembentukan fosil berlangsung baik. Hal tersebut terjadi ketika Gunung Muria dan Pulau Jawa masih terpisah. Beberap ahli menyebutkan bahwa kegiatan vulkanisme di kompleks Bukit Patiayam terjadi pada 2 - 0,5 juta tahun yang lalu bersamaan dengan kegiatan vulkanisme Gunung Muria. Adapun lingkungan yang dihuni oleh stegodon dan hewan lainnya pada saat itu, tim peneliti menyimpulkan Nukit Patiayam semula merupakan sebuah sungai dengan lebar 50 meter hingga 200 meter, sedikit rawa dan padang rumput.

Gunung Muria dan Jawa
Situs Patiayam selain menemukan fosil hewan seperti gajah, rusa, banteng, kijang dan lain - lain, tetapi juga menemukan fosil hewan - hewan laut seperti kerang, moluska, penyu dan buaya. Hal ini menunjukkn bahwa dahulu Patiayam berada terpisah dengan Pulau Jawa. Fosil - fosil hewan tersebut berusia diatas 800.000 tahun.

Pada masa glasial, Gunung Muria beserta pegunungan kecil di sekitarnyadulu bergabung dengan daratan utama Pulau Jawa.Namun, pembekuan es di kutub menyebabkan air di laut surut hingga mencapai 120 meter dari kondisi saat itu.

Selanjutnya pada masa interglasial, keadaan terbalik. Kutub mengalami pencairan karena disebabkan suhu bumi menghangat dan volume airpun meningkat. Gunung Muria yang sebelumnya menyatu dengan Pulau Jawa kemudian terisolir dipisahkan selat atau laut dangkal yang tak terlalu lebar.

Pada masa Kerajaan Demak, pusat Kerajaan Demak yaitu Demak Bintoro berada di tepi Selat Muria, Kapal dapat melewati Selat Muria yang cukup lebar. Maka dari itu Kerajaan Demak dikenal sebagai kerajaan maritim. Demak bergabung secara permanen pada abad ke - 17 M akibat adanya pendangkalan dan perkembangan daratan alluvial di sepanjang pantai utara Jawa.
Fosil Stegodon trigonochepalus di Patiayam
Gading Stegodon
Gambar fosil yang ada di Museum Patiayam

Blogger
Disqus

No comments