Sunday, July 26, 2015

Budi Utomo Sebagai Pelopor Kebangkitan Nasional Indonesia



A.    Berdirinya Budi Utomo
Situasi sosial ekonomi di Jawa pada abad XIX semakin memburuk setelah berganti-ganti dilaksanakan eksploitasi colonial tradisional, liberal dan etis. Semakin derasnya westernisasi yang dilakukan oleh pemerintah colonial maka perubahan sosila masyarakat tidak dapat dibendung lagi. Disatu pihak batig saldo yang diperoleh pemerintah dialirkan oleh Belanda dan di pihak lain kemelaratan dan kesengsaraan makin dalam melekat di hati masyarakat Indonesia. (Suhartono, 2001: 29-30)
Sebagai akibat dari politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran maka pada dekade pertama abad XX bagi anak-anak Indonesia masih mengalami hambatan kekurangan dana belajar. Keadaan yang demikian ini menimbulkan keprihatinan dr. Wahidin Sudirohusodo untuk dapat menghimpun dana itu maka pada tahun 1906-1907 melakukan propaganda berkeliling Jawa. Rupanya ide yang bai dari dr. Wahidin itu diterima dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswa School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten (STOVIA) dan disinilah awal perkembangannya menuju keharmonisan bagi tanah dan orang Jawa dan Madura.[1]
Sutomo dan rekan-rekannya (Goenawan, Dr.Cipto Mangoenkeosoemo dan Soeraji serta R.T Ario Tirtokusumo) mendirikan BU di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908. Perkumpulan ini didirikan oleh pelajar STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten) dibawah pimpinan R. Sutomo. Sebelumnya juga diadakan pertemuan antara dr. Wahidin Sudirohusodo dengan R. Sutomo dan M. Soeradji pada akhir tahun 1907, di dalam gedung STOVIA. Mereka mengemukakan tentang ide-ide untuk mencerdaskan bangsa melalui Studiefonds (dana pendidikan). Sedangkan dipihak R.Soetomo dan para pelajar STOVIA telah tertanan rasa nasionalisme, untuk berbangsa dan bernegara. Hal ini karena para pelajar STOVIA telah banyak mengetahui perjuangan dinegara-negara lain, dengan banyak membaca berbagai buku bacaan yang diperolehnya.
Untuk merealisasikannya diperlukan pengajaran bagi orang Jawa agar mendapatkan kemajuan dan tidak dilupakan usaha membangkitkan kembali kultur Jawa. Jadi antara tradisi, kultur dan edukasi Barat dikombinasikan.
Corak baru yang diperkenalkan oleh  BU adalah kesadaran lokal yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organisasi itu mempunyai pimpinan, ideology yang jelas, dan anggota. Yang sangat menarik pada BU karena organisasi ini diikuti oleh organisasi lainnya dan disinilah terjadinya perubahan sosial politik. Reaksi yang kurang enak datang dari orang Belanda yang tidak sennag akan kelahiran “si Molek” dan mengatakan bahwa orang Jawa makin banyak “cincong”. Tetai ada juga pendapat kelompok etisi yang mengatakan bahwa BU lahir wajar dan itu merupakan renaissance atau kebangkitan di Timur (oostersche renaissance) dalam arti luas kebnagkitan budaya Timur. Dikalangan priyayi gedhe yang sudah mapan tidak senang terhadap lahirnya BU sehingga para Bupati membentuk perkumpulan Regenten Bond Setia Mulia pada tahun 1908 di Semarang untuk mencegah cita-cita BU yang dianggap menggangu stabilitas sosial mereka. Sebaliknya di kalangan bupati progresif seperti Tirtokusumo dari Karanganyar sangat mendukung BU. 
Budi utomo sebagai organisasi pelajar yang baru muncul ini, secara samar-samar merumuskan tujuannya untuk kemajuan Hindia, dimana yang jangkauan gerak semulanya hanya terbatas pada Pulau Jawa dan Madura yang kemudian diperluas untuk penduduk Hindia seluruhnya dengan tidak memperhatikan perbedaan keturunan, jenis kelamin dan agama. Namun dalam perkembangannya terdapat perdebatan mengenai tujuan Budi Utomo, dimana Dr.Cipto Mangunkusumo yang bercorak politik dan radikal, Dr.Radjiman Wedyodiningrat yang cenderung kurang memperhatikan keduniawian serta Tirtokusumo (Bupati Karanganyar) yang lebih banyak memperhatikan reaksi dari pemerintah kolonial dari pada memperhatikan reaksi dari penduduk pribumi.
Setelah perdebatan yang panjang, maka diputuskan bahwa jangkauan gerak Budi Utomo hanya terbatas pada penduduk Jawa dan Madura dan tidak akan melibatkan diri dalam kegiatan politik. Bidang kegiatan yang dipilihnya pendidikan dan budaya. Pengetahuan bahasa Belanda mendapat prioritas utama, karena tanpa bahasa itu seseorang tidak dapat mengharapakan kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian kolonial. Dengan demikian Budi Utomo cenderung untuk memejukan pendidikan bagi golongan priyayi dari pada bagi penduduk pribumi pada umumnya. Slogan Budi Utomo berubah dari perjuangan untuk mempertahnkan penghidupan menjadi kemajuan secara serasi. Hal ini menunjukkan pengaruh golongan tua yang moderat dan golongan priyayi yang lebih mengutamakan jabatannya. (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto : 1984 : 178)


B.     Struktur Organisasi Budi Utomo
Organisasi ini merupakan organisasi modern, karena memiliki susunan pengurus lengkap dan tujuan organisasi jelas yang dituangkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Budi Utomo. adapun kepengurusan Budi Utomo saat berdirinya adalah sebagai berikut.

Ketua             : R. Soetomo
Wakil Ketua   : M. Soelaiman
Sekretaris I     : Soewarno I (Gondo Soewarno)
Sekeretaris II  : M. Goenawan
Bendahara      : R. Angka
Komisaris       : m. Soeradji, M. Moh. Saleh, Soewarno II (M. Suwarno) dan   RM. Goembrek

Pancaran etnonasionalisme makin membesar dan hal ini dibuktikan dalam Kongres I yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam Kongres tersebut BU menghasilkan susunan Pengurus Besar Budi Utomo, AD/ART Budi Utomo dan menentukan Kantor Pusat Budi Utomo.  Selanjutnya para pendiri BU yang terdiri dari para pelajar STOVIA tersebut diatas, merupakan pengurus BU cabang Betawi. Sedangkan Kantor Pengurus Besar Budi Utomo berada di Yogyakarta, dengan dipimpin (Ketua) oleh RAT. Tirto Kusumo dan dr. Wahidin Sudirohusodo sebagai wakil ketua.[2]
Hasil Kongres I yaitu:
1.   Tidak mengadakan kegiatan politik
2.      Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan
3.      Terbatas wilayah Jawa dan Madura
4.     Mengangkat Raden Adipati Tirtokusumo (Bupati Karanganyar) sebagai  ketua Budi Utomo

Jelas bahwa para pelajar STOVIA hanya sebagai pendiri saja, karena untuk kepengurusan BU dijabat oleh orang-orang yang lebih tua, yaitu para Bupati maupun pejabat yang lain. Suatu jiwa besar dari pada pelajar STOVIA yang merasa masih muda dan sibuk dengan sekolahnya. Melihat hasil-hasil Kongres yang dinilainya positif itu, tidak lama kemudian di daerah-daerah, baik di Jawa maupun Luar Jawa banyak cabang-cabang BU yang didirikan.
Dalam waktu singkat BU terjadi perubahan orientasi. Kalau semua orientasinya terbatas pada kalangan Priyayi maka menurut edaran yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, BU cabang Jakarta mulai menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Dalam Kongres tanggal 3-5 Oktober 1908 terdapat dua prinsip perjuangan, yang pertama diwakili golongan muda cenderung menempuh jalan perjuangan politik dalam menghadapi pemerinatah colonial, sedangkan yang kedua, diwakili oleh golongan tua yang ingin tetap pada cara lama yaitu perjuangan sosio-kultural. Bagi golongan muda perjuangannya itu sangat tepat guna memberikan imbangan politik pemerintah. Orientasi politik semakin menonjol dan kalangan muda mencari organisasi yang sesuai dengan mendirikan Sarekat Islam (SI) dan Indische Partij (IP) sebagai wadahnya. (Abdurracman Surjomihardjo, 1979: 37-54 dalam Suhartono, 2001: 30-31)

C.    Perkembangan Budi Utomo
Walaupun BU memiliki cabang-cabang cukup banyak, belum ada perubahan langkah perjuangannya, yaitu tetap menempuh perjuangan melalui bidang sosial budaya. Hubungan dengan pemerintah cukup dekat, mengingat para pengurusnya sebagian besar terdiri dari para pegawai pemerintah. Oleh karena itu, gerakan BU terkesan lamban dan sangat hati-hati. Bagi anggota BU yang tidak sabar, terpaksa keluar dari keanggotaan BU antara lain dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Mereka menginginkan gerakan yang militant dan langsung bergerak dalam bidang politik. Tetapi tidak boleh terlalu cepat, sebab sejak awal tujuan BU pada prinsipnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Masih banyak segala sesuatu yang diperlukan dan harus tetap bekerja sama dengan pihak pemerintah.
Pada tahun 1912 terjadi pergantian pemimpin dari Tirtokusumo ke tangan Pangeran Noto Dirodjo yang berusaha dengan sepenuh tenaga mengejar ketinggalan. Dengan ketua yang baru itu,perkembangan Budi Utomo tidak begitu pesat lagi. Hasil-hasil yang pertama di capainya yaitu perbaikan pengajaran di daerah kesultanan dan kasunanan. Budi utomo mendirikan organisasi darmoworo. Tetapi hasilnya tidak begitu pesat. Dalam masa kepemimpinannya terdapat dua organisasi nasional lainnya yaitu syarekat Islam dan Indische Partij. Kedua partai tersebut merupakan unsur-unsur yang tidak puas terhadap Budi Utomo.
Namun dalam perkembangannya, meskipun ada kelompok muda yang radikal, tetapi kelompok tua masih meneruskan cita-cita BU yang mulai disesuaikan dengan perkembangan politik. Pada tahun 1914 ketika pecah PD I BU turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan luar dengan mengadakan milisi yang diberi wadah dalam Komite Pertahanan Hindia (Comite Indiё Weebaar) untuk pertahanan India 1916-1917 yang merupakan pertanda masa yang amat berhasil bagi BU. Pada waktu dibentuk Dewan Rakyat (Volksraad) pada tahun 1918 wakil-wakil BU duduk di dalamnya yang jumlahnya cukup banyak dan dalam hal ini karena pemerintah tidak menaruh kecurigaan pada BU dan juga karena sifatnya sangat moderat.[3] Volksraad (Dewan Rakyat) yang waktu itu dibicarakan didalam dewan perwakilan rakyat Belanda, dimana ia menekankan badan itu akan dijadikan Dewan Perwakilan Rakyat yang nantinya akan menggembirakan anggota misi Budi Utomo. Undang-undang wajib militer gagal sebaliknya undang-undang pembentukan Volksraad disahkan pada bulan November 1914 .


D.    Penyebab berakhirnya Organisasi Budi Utomo di Indonesia
Dekade ketiga abad XX kondisi-kondisi sosio-politik makin matang dan BU mulai mencari orientasi politik yang mantap dan mencari masaa yang lebih luas. Kebijaksanaan politik yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial, khususnya tekanan terhadap pergerakan nasional maka BU mulai kehilangan wibawa, terjadilah perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam BU. Pengaruh BU makin berkurang pada tahun 1935 dan resmi dibubarkan pada tahun 1935. (M.C.Ricklefs : 1998 : 251)
Kemudian organisasi itu bergabung dengan organisasi lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak saat itu BU terus mundur dari arena politik dan kembali ke keadaan sebelumnya. Walaupun ketua partai itu dr. Sutomo, salah seorang yang menerima ilham dari dr. Wahidin Sudirohusodo, orang sudah tidak banyak mengharapkan lebih banyak kegiatan dan pemimpinnya. Namun demikian, dengan segala kekurangannya , BU telah mewakili aspirasi pertama rakyat Jawa ke arah kebangkitan dan juga aspirasi rakyat Indonesia. Hampir semua pimpinan terkemuka dari gerakan-gerakan nasionalis Indonesia pada permulaan abad XX paling kurang telah mempunyai kontak dengan organisasi ini (Nagazumi, 1986: 19 dalam Suhartono, 2001: 31)
BU tidak langsung terjun ke lapangan politik karena BU menempuh cara dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada waktu itu sehingga wajar jika BU berorientasi kultural. Tindakan yang tepat berarti BU tanggap terhadap politik Kolonial yang sedang berlaku. Dalam perjalannya, BU dengan fleksibilitasnya mulai menggeser orientasinya dari kultur ke politik. Edukasi barat dianggap penting dan dipakai sebagai jalan untuk menempuh jenjang sosial yang lebih tinggi. Golongan priyayi cilik mendapat kesempatan untuk ikut serta membilisasikan diri melalui kesempatan gerakan yang lebih merakyat. Usaha ini bersamaan dengan munculnya golongan menengah Indonesia dalam rangka memperoleh perbaikan sosial ekonomi maka tindakannya harus disesuaikan dengan jalur politik. Meskipun demikian BU juga cepat-cepat mengubah ke haluan politik semata dan ini memang dikuatkan oleh Dwijosewoyo bahwa “tenang dan lunak adalah sifat BU”.
BU bukan saja dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi yang terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. BU bertahan dari tahun 1908-1926. BU masih bertahan dan bergerak dalam bidnag sosial budaya dan belum berubah ke bidang politik. Setelah dr. Sutomo kembali dari negeri Belanda dan mendirikan organisasi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), yang bergerak dalam bidang politik, makan BU mulai  mengubah langkah perjuangannya  ke politik. Hal seperti ini terjadi karena kedua organisasi ini mulanya didirikan oleh dr. Sutomo. Setelah dr.Sutomo mendapatkan pengalaman perjuangan dalam memimpin Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, dimana organisasi mahasiswa itu bayak bergerak dalam bidang politik, maka tidak sulit untuk mengubah BU dari pergerakan sosial budaya ke dalam politik. Apalagi setelah adanya musyawarah antara partai-partai besar tentang menjaga keutuhan perjuangan yang bergerak melalui kooperasi, maka dalam Kongres BU tanggal 24-26 Desember 1935 di Solo terjadilah fusi (penggabungan) antara PBI dengan BU menjadi satu dengan nama Partai Indonesia Raya (Parindra). Yang perlu dicatat dalam perjuangan BU adalah suatu cara pergerakan yang pandai membaca situasi, sehingga mampu menjadi penggerak awal dan tercatat sebagai organisasi penggerak nasional pertama di Indonesia dan selanjutnya mampu bertahan cukup lama, akhirnya pada saat yang tepat berhasil mengubah langkah perjuangannya ke dalam perjuangan di bidang politik secara aktif. Sampai pada jatuhnya pemerintahan Hindia Belanda, gerak langkah BU itu masih sangat terasa yang disalurkan melalui organisasi gabungan, yaitu Parindra.
Walaupun jika dihitung jumlah anggotanya hanya 10 ribu disbanding dengan SI yang mencapai 360 ribu, nmau BU lah penyebab berlangsungnya perubahan-perubahan politik hingga terjadinya integrasi nasional. Maka wajar jika pada kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia. Fase ini menunjuk pada etno nasionalisme dan proses penyadaran diri terhadap identitas bangsa Jawa (Indonesia).[4]
Tujuan organisasi Budi Utomo tidak maksimal karena banyak hal, yaitu :
1.      Adanya kesulitan finansial.
2.    Adanya sikap Raden Adipati Tirtokusumo yang lebih memperhatikan
     kepentingan pemerintah kolonial dari pada rakyat.
3.      Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
4.      Keluarnya anggota dari gologan mahasiswa.
5.     Bahasa Belanda lebih menjadi prioritas utama dibandingkan dengan  
      Bahasa Indonesia.
6.      Priyayi yang lebih mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan jiwa
      nasionalisnya.


[1] Suhartono. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. (Yogyakarta : 2001), Hlm. 30
[2] Sudiyo. Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan.(Jakarta : 2004), Hlm. 22
[3] Suhartono. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. (Yogyakarta : 2001), Hlm. 31
[4] Suhartono. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. (Yogyakarta : 2001), Hlm. 32


EmoticonEmoticon