Friday, September 18, 2015

Manajemen Bimbingan dan Konseling



A.  Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling
Manajemen berasal dari bahasa Inggris, management dengan kata kerja to manage yang  artinya  mengurusi  atau  kemampuan  menjalankan  dan mengontrol. Manajemen  adalah  ilmu  dan  seni  mengatur  proses  pemanfaatan  sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi  yang  mencapai  tujuan  tertentu  (Hikmat  2011:  11).  Sedangkan  menurut Terry dalam Hikmat (2011: 12) menyatakan manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan  pengendalian  yang  dilakukan  untuk  menentukan  serta  mencapai  yang ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
Darft (2002: 8) menyatakan bahwa manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi  dengan  cara  efektif  dan  efesien  melalui  perencanaan, pengorganisasian,  kepemimpinan,  dan  pengendalian  sumber  daya  organisasi. Sedangkan Satori sebagaimana dikutip oleh Rusman (2009: 121) mengemukakan bahwa “Manajemen pendidikan merupakan keseluruhan proses kerja sama dengan memanfaatkan  semua  sumber  personel  dan  material  yang  tersedia  dan  sesuai untuk  mencapai  tujuan  pendidikan  yang  telah  ditetapkan  secara  efektif  dan efesien”.
Dari pendapat berbagai ahli diatas yang beragam dapat ditarik kesimpulan bahwa  manajemen  mempunyai  beberapa  esensi  yaitu  (1)  manajemen  sebagai suatu proses kegiatan, (2) manajemen untuk mencapai tujuan, dan (3) manajemen memanfaatkan sumber daya (manusia, lingkungan, fasilitas, sarana, prasarana, dll).
Bimbingan  dan  konseling merupakan  salah  satu  organisasi  yang  ada  di  dalam sekolah  yang  juga memerlukan adanya manajemen agar dapat mencapai tujuannya.

Sugiyo (2012:  28) menyatakan manajemen  bimbingan  dan  konseling adalah kegiatan yang diawali dari perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling, pengorganisasian  aktivitas dan semua unsur pendukung bimbingan dan konseling, menggerakkan  sumber  daya  manusia  untuk  melaksanakan  kegiatan  bimbingan dan  konseling,  memotivasi sumber  daya  manusia  agar  kegiatan  bimbingan  dan konseling mencapai tujuan serta mengevaluasi kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengetahui apakah semua  kegiatan  layanan  sudah  dilaksanakan dan mengetahui bagaimana hasilnya.
Gibson  (2011:  566) menyatakan  bahwa  manajemen  bimbingan  dan  konseling  adalah  aktivitas-aktivitas  yang  memfasilitasi  dan melengkapi  fungsi-fungsi  keseharian  staf  konseling  meliputi  aktivitas 13 administratif seperti pelaporan dan perekaman, perencanaan dan kontrol anggaran, manajemen fasilitas dan pengaturan sumber daya.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan manajemen bimbingan dan konseling  adalah  kegiatan  manajemen  yang  dilakukan  oleh  konselor  untuk memfasilitasi  fungsi  bimbingan  dan  konseling  mulai  dari  perencanaan, pengorganisasian,  pelaksanaan  dan  evaluasi  untuk  mencapai  tujuan  bimbingan dan  konseling  yang  efektif  dan  efesien  dengan  memanfaatkan  berbagai  sumber daya yang ada.

B.  Tujuan Manajemen Bimbingan dan Konseling
Sugiyo (2012: 27) menyatakan tujuan manajemen dilakukan secara  sistematis agar mencapai produktif, berkualitas, efektif  dan  efesien. Manajemen  bimbingan dan konseling bertujuan untuk mengembangkan diri konseli (peserta didik) secara efektif dan efesien. Kegiatan manajemen bimbingan dan konseling dikatakan produktif apabila dapat menghasilkan keluaran baik secara kualitas dan kuantitas. Kualitas dari layanan  bimbingan  dan konseling dilihat dari tingkat kepuasan dari konseli yang mendapatkan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan kuantitas dari layanan bimbingan  dan  konseling  dilihat  dari  jumlah  konseli  yang  mendapat  layanan bimbingan dan konseling. Efektif  berarti  kesesuaian  antara  hasil  yang  dicapai  dengan  tujuan, keefektifan dari layanan  bimbingan  dan konseling adalah melihat dari ketercapaian  layanan  bimbingan  dan konseling yaitu konseli mampu mengembangkan  dirinya  secara  optimal.  Sedangkan  efesien  apabila  kesesuaian antara sumber daya dengan keluaran atau penggunaan sumber dana yang minimal dapat  dicapai  tujuan  yang  diharapkan.  Layanan bimbingan dan konseling dapat dinyatakan efesien apabila tujuan bimbingan dan konseling yaitu pengembangan  diri  konseli  dapat  segera  dicapai  dengan penggunaan  sumber  daya  yang  sedikit. Tujuan-tujuan manajemen  bimbingan dan konseling  ini  dapat  dicapai secara dan efesien apabila memenuhi prinsip-prinsip manajemen.

C.  Prinsip-prinsip Manajemen Bimbingan dan Konseling
Manajemen bimbingan dan konseling  perlu memperhatikan prinsip-prinsip manajemen agar tujuan  dari  manajemen  dapat  tercapai.  Menurut  Hikmat  (2009: 41) menyatakan  ada  5  prinsip  dalam  pengelolaan  manajemen  yaitu:
1.      Prinsip efisiensi  dan  efektivitas,  dimana  fungsi  manajemen  dilakukan  dengan mempertimbangkan  sarana  prasarana,  keadaan  dan  kemampuan  organisasi  agar relevan  dengan  tujuan  yang  dicapai;
2.      Prinsip  pengelolaan,  dimana  suatu manajemen  dilakukan  secara  sistematik  dari  perencanaan,  pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan;
3.      Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, dimana seorang manajer  bertanggung  jawab  dalam  melaksanakan  kegiatan  manajemen, baik pelayanan internal maupun eksternal;
4.      Prinsip kepemimpinan yang efektif, dimana  seorang  manajer  harus  memiliki  sifat  yang  bijaksana  dalam  mengambil suatu keputusan dan mampu berhubungan baik dengan semua personel di dalam organisasi  tersebut;
5.      Prinsip  kerjasama,  kerjasama  didasarkan  pada 15 pengorganisasian  manajemen  terkait  dengan  melaksanaan  tugas  sesuai  dengan keahlian dan tugas masing-masing personil.
Sugiyo  (2011:  29)  mengemukakan  bahwa  prinsip-prinsip  manajemen meliputi: 
a.    Efesiensi  adalah  kegiatan  yang  dilakukan  dengan  modal  yang minimal  dapat  memberikan  hasil  yang  optimal; 
b.    Efektifitas  adalah  apabila terdapat  kesesuaian  antara  hasil  yang  dicapai  dengan  tujuan;
c.    Pengelolaan adalah dalam aktivitas manajemen seorang manajer harus mengelola sumber daya yang  ada  baik  sumber  daya  manusia  maupun  non  manusia; 
d.   Mengutamakan tugas  pengelolaan  artinya  seorang  manajer  harus  mengutamakan  tugas manajerialnya  dibandingkan  tugas  yang  lain;
e.    Kerjasama  adalah  seorang manajer  harus  mampu  menciptakan  suasana  kerjasama  dengan  berbagai  pihak; dan
f.     kepemimpinan yang efektif.
Dari  kedua  pendapat  di  atas  dapat  diambil  kesimpulan  bahwa  prinsip-prinsip manajemen bimbingan dan konseling yaitu :
1.      Efesien  dan  efektif,  artinya  kesesuaian  hasil  layanan  dengan  tujuan  yang ingin dicapai dari layanan bimbingan dan konseling dengan memanfaatkan fasilitas yang ada secara optimal.
2.      Kepemimpinan  yang  efektif,  artinya  kepala  sekolah  perlu  bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan dan mampu berkoordinasi dengan personel sekolah secara baik.
3.      Kerjasama, artinya adanya hubungan kerjasama yang baik antar personel sekolah.
4.      Pengelolaan manajemen, sistematika manajemen dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan evaluasi.

D.  Fungsi Manajemen Bimbingan dan Konseling
Manajemen  bisa  berhasil  bila  dalam  pengelolaan  fungsi-fungsi  dari manajemen  dapat  dioperasionalisasikan  atau  dapat  dilakukan  dengan  baik  dan sistematik.  Menurut Fayol  dalam  Hikmat  (2009: 30)  fungsi  manajemen  adalah Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, dan Controlling. Allen dalam Hikmat  (2009:  30)  menyatakan  fungsi  manajemen  adalah  Leading,  Planning, Organizing,  dan  Controlling. Terry dalam Hikmat (2009: 30) mengatakan fungsi manajemen adalah Planning, Organizing, Actuating,  dan  Controlling.  Sedangkan menurut  Sugiyo  (2011:  30-35)  menyatakan  bahwa  fungsi  manajemen  adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
Fungsi  manajemen  dari  berbagai  ahli  di  atas  disimpulkan  bahwa  fungsi manajemen bimbingan  dan  konseling  terdiri  dari :
a.    Planning (Perencanaan)
Menurut Hikmat (2009: 101) menyatakan bahwa planning atau  perencanaan  pendidikan adalah “keseluruhan  proses  perkiraan  dan  penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan dalam pendidikan untuk masa  yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan.”
Santoadi  (2010:  5)  menyatakan  bahwa  perencanaan  (planning)  adalah langkah  awal  sebelum  dinamika  institusi  berjalan,  berupa  aktivitas  menggali kebutuhan  (need  assessment/  appraisal),  menetapkan  tujuan,  hingga  membuat rancangan aktivitas dalam kerangka waktu tertentu. Sedangkan Sugiyo (2011: 30) menyatakan  perencanaan  merupakan  aktivitas  atau  keputusan  apapun  yang diputuskan  dalam  suatu  dalam  suatu  organisasi  dalam  jangka  waktu  tertentu.
Dari pendapat  berbagai  ahli diatas dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah  kegiatan  konselor  dalam  menyiapkan  dan  menetapkan  sasaran,  tujuan, materi, metode, waktu, tempat dan rencana  penilaian dari kegiatan bimbingan dan konseling yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
b.   Organizing (Pengorganisasian)
Setelah perencanaan dibuat maka selanjutnya konselor melakukan organizing  atau pengorganisasian. Fungsi pengorganisasian menurut Terry (1986: 4)  mengemukakan  bahwa  “Pengorganisasian  adalah  tindakan  mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan  yang efektif  antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efesien, dan memperoleh  kepuasan  pribadi  dalam melaksanakan  tugas-tugas  tertentu,  dalam  kondisi  lingkungan  tertentu  guna mencapai  tujuan  atau  sasaran  tertentu”. Sedangkan Santoadi  (2010:  5) menyatakan pengorganisaian (organizing) atau pembidangan yaitu penentuan atau pengelompokan aktivitas lembaga (institusi/ organisasi), berdasarkan tujuan yang diciptakan.
Sugiyo (2011: 32) mengatakan pengorganisasian adalah upaya mengatur  tugas perseorangan atau kelompok dalam organisasi dan merancang bagaimana  hubungan kerja antar unit organisasi.
Dari  beberapa  pendapat  tersebut  maka  dapat  diambil  kesimpulan  bahwa pengorganisasian  adalah  upaya  mengatur  tugas  orang-orang  dalam  suatu organisasi secara tepat dan menjaga hubungan antar orang tersebut sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pengorganisasian kegiatan bimbingan dan konseling memiliki peran kunci dalam menunjang keberhasilan  pelaksanaan  program  bimbingan  dan  konseling. Hal ini  dikarenakan, dengan pengorganisasian yang tepat dapat memberikan arah dan pedoman posisi masing-masing pelaksana bimbingan dan konseling. Adanya pembagian tugas yang jelas, profesional, dan proposional membuat setiap petugas dapat  memahami  tugasnya  dan  menumbuhkan  hubungan  kerjasama  yang  baik. Selain itu, pengaturan tugas yang tepat dengan kemampuan dan karakteristiknya membuat tidak terjadi kesalahpahaman.
c.    Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan  merupakan  kegiatan  yang  paling  utama  dalam  kegiatan manajemen, pelaksanaan menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang lain dalam suatu organisasi. Artinya pelaksanaan merupakan upaya dalam mewujudkan perencanaan menjadi kenyataan dengan berbagai  pengarahan.
Menurut Siagian dalam Sugiyo (2011: 33) pergerakan sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik, dan metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dengan efektif, efesien dan ekonomis. Santoadi (2010: 18) menyatakan pengarahan adalah fase manajemen yang terdiri dari kegiatan mengkoordinasi, mengontrol, dan menstimulasi semua unsur agar  berfungsi  secara  optimal.  Sugiyo  (2011:  33)  menyatakan  pengarahan  atau penggerakan  adalah  upaya  untuk  memotivasi  para  personel  organisasi  agar berusaha mencapai tujuan dari organisasi tersebut.
Maka dapat disimpulkan pelaksanaan adalah seluruh kegiatan atau upaya dalam memotivasi konselor dalam menggunakan cara, pendekatan, teknik, metode dalam  mencapai  tujuan  bimbingan  dan  konseling  secara  efektif  dan  efesien. Pelaksanaan  bimbingan  dan  konseling  mengarah  pada  pelaksanaan  program bimbingan dan konseling yang telah direncanakan,  dalam  hal  ini  terkait  dengan layanan-layanan  bimbingan  dan  konseling  dan  kegiatan  pendukung  bimbingan dan konseling.
d.   Controlling (Evaluasi)
Pengendalian  di  dalam  manajemen  bimbingan  dan  konseling  disebut dengan evaluasi yaitu kegiatan yang dikendalikan mulai dari perencanaan,  pengorganisasian, dan pelaksanaan. Evaluasi terkait dengan  bagaimana  mengawasi kegiatan bimbingan  dan  konseling.
Sugiyo  (2011:  34)  pengendalian  adalah  kegiatan  yang  dilakukan  oleh manajer untuk mengetahui dan mengontrol pelaksanaan atau aktivitas organisasi, menentukan  keberhasilan  organisasi  dan  menganalisis  kemungkinan  hambatan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi. Sedangkan Santoadi (2010:  7) menyatakan pengendalian adalah usaha untuk menjamin agar unjuk kerja  organisasi (dan personal) yang sebenarnya sesuai dengan proses yang direncanakan.
Dari  pendapat  di  atas  maka  evaluasi  adalah  kegiatan  pemantauan, pengontrolan, penilaian, pelaporan dan penindaklanjutan setiap rencana kegiatan bimbingan  dan  konseling  terhadap  tujuan  yang  ditetapkan.  Pengendalian  atau evaluasi  program  bimbingan  dan  konseling  digunakan  untuk:  (a)  menciptakan koordinasi dan komunikasi dengan seluruh petugas bimbingan dan  konseling, (b) mendorong petugas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugasnya, dan (c) memperlancar  dan  mengefektivitaskan  pelaksanaan  program  yang  telah direncanakan.
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan dalam evaluasi meliputi pencatatan hasil kerja dan kinerja organisasi, menetapkan standar kinerja, mengukur dan menilai hasil keja dan kinerja organisasi, dan mengambil tindakan perbaikan dan pengembangan.

E.  Aspek-aspek dalam manajemen Bimbingan dan Konseling
1.    Perencanaan Program Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai “soko guru” yang ketiga dalam sistem pendidikan di sekolah selain pembelajaran (instruksional) dan administrasi sekolah. Sebagi sub-sistem pendidikan di sekolah, bimbingan dan konseling dalam gerak dan pelaksanaannya tidak pernah lepas dari perencanaan yang seksama dan bersistem. Hal ini bertujuan agar pencapai hasil dalam konteks kontribusinya bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah dapat terlihat.
Untuk tercapainya program perencanaan BK yang efektif dan efisien, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu: analisis kebutuhan siswa, penentuan tujuan BK, analisis situasi sekolah, penentuan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, penetapan metode pelaksanaan kegiatan, penetapan personel kegiatan, persiapan fasilitas dan biaya kegiatan, dan perkiraan tentang hambatan kegiatan dan antisipasinya.
Pengertian program menurut T. Raka Joni (1981): “program adalah seperangkat kegiatan yang dirancang dan dilakukan secara kait mengkait untuk mencapai tujuan tertentu”. Dari definisi tersebutdapat diuraikan bahwa suatu program mengandung unsur-unsur:
a.    Adanya seperangkat kegiatan, artinya kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan merupakan suatu kegiatan yang utuh.
b.    Dirancang, artinya hal-hal yang akan dilakukan dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi pelapisan atau akumulasi kegiatan, apalagi berbagai benturan akibat kegiatan yang dilakukan berulang-ulang yang pada gilirannya berdampak pada penurunan efektivitas dan efesiansi.
c.    Dilakukan secara kait-mengkait, yaitu bahwa dalam melakukan kegiatan yang sudah dirancang kegiatan itu tidak berdiri sendirimelinkan ada keterkaitan antar satu dengan yang lain. Kegiatan itu tidak hanya terjadi antar kegiatan saja tetapi juga pada tahap kesinambungan kegiatan satu dengan tahap kegiatan selanjutnya.
d.   Adanya tujuan tertentu, yaitu sebagai arah dan kendali agar semua aktivitas yang terangkum dalamprogram selalu terfokus pada satu titik tujuan.
Dalam pelaksanaannya, pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan seluruh personil sekolah, maka dari itu diperlukan program yang sistematis agar pelaksanaannya tidak tumpang tindih dan benturan dengan kegiatan pada bidang-bidang lain. Adapun program yang yang sistematis selalu mengacu pada prinsip-prinsip sebagi berikut :
1.    Program bimbingan dan konseling dirancang untuk melayani kebutuhan siswa.
2.    Program bimbingan dan konseling merupakan bagian terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah.
3.    Tujuan program harus dirumuskan secara jelas dan eksplisit (operasional) dan menunanng pencapaian keseluruhan tujuan program bimbingan dan konseling.
4.    Pelaksanaan program perlu melibatkan seluruh staf sekolah.
5.    Personil bimbingan dan konseling perlu dididentifikasi dan tugas-tugas serta tanggung jawabnya harus dirumuskan.
6.    Segala sumber daya perlu ditemukan untuk mencapai tujuan program.
7.    Dua hal yang esensial dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling adalah data pribadi siswa untuk pemahaman diri dan bahan informasi untuk perencanaan pendidikan dan pengambilan keputusan.
8.    Perlu penerapan rancangan sistem dalam pengembangan program dan pemecahan masalah pengelolaan.
9.    Dukungan dan pelibatan masyarakat sekitar harus diusahakan sejauh mungkin demi kelancaran penyelenggaraan program dan tercapainya tujuan.

2.    Pelaksanaan dan Pengarahan Program Bimbingan dan Konseling
Setiap sekolah sebagai satuan pendidikan perlu merancang program bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. Program inilah yang akan dijadikan acuan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Terdapat dua jenis program yang perlu dirancang dan diprogramkan, yakni:
1)   Program tahunan sebagai program sekolah
Program tahunan ini dijabarkan menurut alokasi waktu pada setiap semester, program bulanan, bahkan program mingguan. Oleh karena itu, perlu dibuat dalam satu matriks atau schedule. Dalam program itu dicantumkan substansi kegiatan, jenis layanan menurut alokasi waktu. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling sebagai program sekolah, antara lain:
a)    Pemberian layanan informasi melalui ceramah yang mengundang nara sumber dari luar sekolah.
b)   Program pemberian layanan orientasi bagi siswa baru pada awal tahun.
c)    Mengadakan tes bakat dan minat untuk bahan pertimbangan penjurusan.
d)   Mengadakan kunjungan ketempat industri yang bermanfat bagi bimbingan karir.
e)    Membentuk kelompok-kelompok group counseling.
f)    Memberikan pelatihan keterampilan belajar akademik
2)   Program kegiatan layanan bagi setiap Guru Pembimbing sesuai dengan pembagian tugas layanan di sekolah.
Setiap guru pembimbing perlu membuat program berupa satuan layanan (satlan) badan satuan kegiatan pendukung (satkung) setiap kali akan melakukan pelayanan kepada siswa berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Penyusunan program pada masing-masing bidang pelayanan bimbingan dan konseling hendaknya disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan atau jenis dan jenjang sekolah.
Agar pelaksanaan program kegiatan layanan bimbingan dan konseling sesuia dengan tujuan yang ingin dicapai maka diperlukan pengarahan agar terjadi suatu tata kerja yang diwarnai oleh koordinasi dan komonikasi yang efektif diantara staf bimbingan dan konseling. Pengarahan ini juga dilakukan untuk memotivasi staf dalam melakukan tugas-tugasnya sehingga memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan.

3.    Evaluasi pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling
Evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling merupakan upaya menilai efisiensi dan efektivitas pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah pada khususnya dan program bimbingan dan konseling yang dikelola oleh staf bimbingan dan konseling pada umunya. Dengan demikian evaluasi bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen sistem bimbingan dan konseling yang sangat penting karena mengacu pada hasil evaluasi itulah dapat diambil simpulan apakah kegiatan yang telah direncanakan telah dapat mencapai sasaran yang diharapkan secara efektif dan efisien atau tidak, kegiatan itu dilanjutkan atau sebaliknya direvisi dan sebagainya.
a.    Tujuan evaluasi pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling
Tujuan bimbingan dan konseling secara umum, yaitu :
a)    Mengetahui kemajuan program bimbingan dan konseling atau subyek yang telah memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling.
b)   Mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas strategi pelaksanaan program dalam kurun waktu tertentu.
Tujuan bimbingan dan konseling secara khusus, antara lain :
a)    Meneliti secara berkala hasil pelaksanaan program yang telah dicapai.
b)   Memperoleh informasi tentang tingkat efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling yang ada.
c)    Mengetahui jenis layanan yang sudah ataupun belum dilaksanakaan dan jenis layanan yang memerlukan perbaikan atau pengembangan.
d)   Mengetahui tingkat partisipasi staf atau personil sekolah dalam menunjang keberhasilan pelakanaan program.
e)    Mengetahui seberapa besar kontribusi program bimbingan dan konseling terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran di sekolah.
f)     Memperoleh informasi yang cermat dan memadai untuk kepentingan perencanaan langkah-langkah pengembangan program.
g)   Membantu mengembangkan kurikulum sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
b.   Prinsip-prinsip evaluasi pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling
Agar diperoleh hasil evaluasi pelaksanaan program yang diharapkan, disamping menuntut pengelolaan yang baik, juga harus mengacu kepada prinsip-prinsip evaluasi program. Prinsip-prinsip tersebut, antara lain:
a)    Evaluasi program yang efektif menuntut pengenalan yang cermat terhadap tujuan yang akan dicapai
b)   Evaluai program yang efektif membutuhkan kriteria pengukuran yang jelas
c)    Evaluasi program membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak yang memiliki kompetensi professional
d)   Evaluasi program menuntut umpan balik dan tindak lanjut sehingga hasilnya dapat dicapai untuk dasar pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan
e)    Evaluasi program hendaknya terencana dan berkesinambuangan


c.    Pendekatan dan metode evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling
Shetzer dab Stone (1983) membagi pendekatan evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling ke dalam tiga pendekatan pokok, yaitu:
1)   Pendekatan dan Metode Survei
Prosedur yag dipakai dalam pendekatan dan metode survei biasanya dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang masukan (siswa), proses, dan hasil yang merupakan keluaran program. Temuan yang diperoleh dirumuskan dalam profil yang bersifat deskriptif kuantitatif maupun kualitatif.
2)   Pendekatan dan Metode Eksperimen
Pendekatan ini merupakan perpaduan antara riset dan evaluasi. Artinya kegiatannya melakukan evaluasi tetapi prosedurnya memakai model riset eksperimental. Lazimya dipakai untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan dan konseling terhadap perilaku siswa. Kebutuhan pendekatan dan metode ini muncul ketika layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan untuk terjadinya perubahan perilaku.
3)   Studi Kasus
Studi kasus digunakan untuk mengumpulkan data mengenai keadaan seorang siswa yang dijadikan sebagai onyek telaah kasus. Salah satu alasan pemakaian pendekatan ini adalah dalam layanan konseling diperlukan telaah cermat atas proses dan hasil perubahan akibat perlakuan (treatment) terhadap diri siswa yang bermasalah (klien).
Metode ini membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak karena bersifat longitudinal. Metode ini bermanfaat untuk mengetahui perkembangan kepribadian klien sejak dari awal ketika ia bermasalah, selama dibantu sampai akhirnya setelah dibantu dengan layanan konseling.
4.    Supervisi Kegiatan Bimbingan dan Konseling
Manfaat pokok dari supervisi ini adlah untuk mengendalikan personil pelaksana bimbingan dan konseling, memantau kemungkinan-kemungkinan kendala yang muncul dan dihadapi personil dalam pelaksanaan tugasnya, mencari jalan keluar terhadap hambatan dan permasalahan dalam pelaksanaan program agar tercapainya pelaksanaan yang lancar kearah pencapaian tujuan bimbingan dan konseling di sekolah.

Sumber


Gibson,  Robert  L  dan  Marianne  H.  Mitchell.  2011.  Bimbingan  dan  Konseling.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hikmat. 2011. Manajemen Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia
Mugiarso,  Heru  dkk.  2010.  Bimbingan  dan  Konseling.  Semarang:  Universitas
Negeri Semarang Press
Santoadi,  Fajar.  2010.  Manajemen  Bimbingan  dan  Konseling  Komprehensif.
Yogyakarta: USD
Sugiyo,  2011.  Manajemen  Bimbingan  dan  Konseling  di  Sekolah.  Semarang:
Widya Karya
http://amiee43.blogspot.com/2013/05/manajemen-bk.html diunduh tanggal 30 November 2014


EmoticonEmoticon