Friday, September 18, 2015

Pitrim Alexandrovich Sorokin, Sosiolog dalam Sejarah



A.      Biografi Paritim A. Sorokin
Pitirim Alexandrovich Sorokin lahir pada tanggal 21 Januari 1889 dan meninggal dunia saat berusia tujuh puluh sembilan tahun pada tanggal 11 Februari 1968. Beliau adalah seorang sosiolog Rusia-Amerika. Sorokin mengawali karirnya dengan mengajar dilingkungan lembaga yang dilanjutkan dengan mengajar di lingkungan universitas. Beliau mengajar sosiologi dan hukum di University Petersburg, selain itu ia juga menempuh pendidikan di Institut Neurologis Psycho. Pada tahun 1919, Sorokin diangkat menjadi professor sosiologi di Universitas Petrograd Akademik dan aktivis politik di Rusia. Pada awalnya, karier Sorokin terganggu oleh adanya revolusi komunis pada waktu itu, sebab pitirim merupakan salah satu orang yang anti komunisme. Hal tersebutlah yang akhirnya mengakibatkan Sorokin pernah dipenjarakan tiga kali oleh rezim Tsar Rusia Kekaisaran. Selama Revolusi Rusia ia adalah anggota dari Alexander Kerensky Pemerintahan Sementara Rusia. Setelah Revolusi Oktober dia terlibat dalam kegiatan-kegiatan anti-Komunis, untuk itu ia dihukum mati oleh pemerintah Komunis menang; hukuman itu diringankan menjadi pembuangan. Sorokin pun akhirnya dibuang di cekoslowakia dan beberapa tahun kemudian mendirikan Center For Creative Altruism. Pada tahun 1923 ia beremigrasi ke Amerika Serikat dan naturalisasi pada tahun 1930.
Sorokin guru besar sosiologi di Universitas Minnesota (1924-1930) dan di Universitas Harvard (1930-1955), di mana ia mendirikan Departemen Sosiologi. Pekerjaan Tulisan-tulisannya meliputi luasnya sosiologi; teori kontroversial proses sosial dan tipologi historis budaya yang diuraikan dalam Dinamika Sosial dan Budaya (4 jilid., 1937-1941; rev dan abridged ed. 1957). dan banyak karya lainnya. Dia juga tertarik pada stratifikasi sosial, sejarah teori sosiologis, dan perilaku altruistik. Sorokin adalah penulis buku seperti Krisis usia kami dan Power dan moralitas, tapi opusnya adalah Dinamika Sosial dan Budaya (1937-1941). Teori ortodoks-Nya memberikan kontribusi kepada teori siklus sosial dan terinspirasi (atau terasing) banyak sosiolog. Di Amerika Sorokin banyak menghasilkan karya tulisnya berupa buku dan ide-ide berdasarkan pengamatan terhadap masyarakat sekitar tidak jauh berkaitan dengan ilmu sosiologi. Buku-buku yang dihasilkan antara lain :1.Daun dari Diary Rusia (1924; rev. Red) 2.Mobilitas Sosial (1927) 3. Teori Sosiologi Kontemporer (1928). 4.Prinsip-Prinsip Sosiologi Pedesaan-Perkotaan, 1929)

B.     Konstribusi Paritim A. Sorokin bagi Sejarah
           Kehidupan tidaklah bersifat statis melainkan bersifat dinamis. Oleh karena itu kehidupan akan selalu dan terus berubah, kehidupan terus berjalan seiring dengan waktu. Karena itu muncullah istilah sejarah. Cerita sejarah melukiskan segala sesuatu dengan lugas, yaitu tidak menyebut sebab-sebab yang pasti, hanya rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dengan menunjukkan keterkaitannya. Sejarah adalah sejarah manusia, peran sejarah hanya manusia saja, penulis sejarah manusia juga, peminat sejarah juga manusia, maka manusialah yang harus dipandang sebagai inti masalah tersebut. Oleh kerena itu, dapatlah dimengerti bahwa munculnya masalah itu dipandang sebagai akibat pendapat manusia tentang dirinya, yaitu:
a. manusia bebas menentukan nasibnya sendiri, yang lebih dikenal dengan sebutan otonom
b. manusia tidak bebas menentukan nasibnya, nasib manusia ditentukan kekuatan di luar kekuatan dirinya, manusia disebut heteronom.
Faham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafat disebut indeterminism dan faham heteronom disebut determinism. Pada umumnya manusia lebih condong menerima kekuatan di luar pribadinya daripada ia percaya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh dirinya sendiri. Masalahnya berkisar pada pertanyaan, siapakah yang menentukan nasibnya? Penentu nasib manusia adalah:
a. alam sekitar beserta isinya
b. kekuatan x (tidak dikenal)
c. Tuhan
     Berkaitan dengan gerak sejarah, Paritim A. Sorokin mengemukakan sebuah teori. Ia berpendapat bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini membentuk satu-kesatuan yang unsurnya dirembesi oleh prinsip sentral yang sama dan membentuk nilai dasar yang sama, Ia menilai gerak sejarah dengan gaya, irama dan corak ragam yang kaya raya dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga menjadi teori siklus. Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah menunjukkan fluctuation of age to age, yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam. Ia menyatakan adanya cultural universal dan di dalam alam kebudayaan itu terdapat masyarakat dan aliran kebudayaan. Di alam yang luas ini terdapat tiga tipe yang tertentu,yaitu:
a.  Ideasional, yaitu kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayaan
b. Sensate atau indrawi, yaitu serba jasmaniah, mengenai keduniawian, berpusat pada panca indera
c. Perpaduan antara ideational-sensate, yaitu idealistis, yaitu suatu kompromis.
Penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga tipe tersebut adalah sebagai berikut, yang pertama ideasional. Sistem ideasional  diliputi oleh prinsip yang menyatakan Tuhan sebagai realitas tertinggi dan nilai terbesar, didasari oleh nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural). Kebudayaan Idealistis merupakan perpaduan antar unsur kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas berdasar fakta dan membentuk masyarakat ideal. Kebudayaan Ideational, mempunyai dasar pemikiran bahwa kenyataan itu bersifat nonmaterial, transenden dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Dunia dianggap sebagai suatu ilusi, sementara, dan tergantung pada dunia transenden atau sebagai aspek kenyataan yang tidak nyata , tidak sempurna, tidak lengkap. Kenyataan adalah sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan atau nirwana. Kata kunci adalah kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayaan. Sistem ini terbagi antara lain :
a.) Ideasional asketik : menunjukkan keterikatan pada tanggung jawab untuk mengurangi sebanyak mungkin kebutuhan duniawi agar mudah terserap kedalam alam transeden.
b.)    Ideasional aktif : mengurangi kebutuhan duniawi juga berupaya mengubah dunia material agar selaras dengan alam transeden
Sistem inderawi, dasar pemikirannya adalah dunia materiil yang ada disekitar kita adalah satu-satunya kenyataan yang ada. Keberadaan kenyataan yang adi inderawi atau yang trasenden disangkal. Kata kunci adalah serba jasmaniah, mengenai keduniawian, berpusat pada panca indera. Mentalitas ini dapat dibagi menjadi Prinsip berpikir bahwa dunia nyata, yang terserap pancaindra, adalah realitas dan nilai tertinggi, satu-satunya kenyataan yang ada. Mentalitas budaya ini terbagi tiga :
a.) Inderawi aktif : mendorong usaha aktif dan giat meningkatkan pemenuhan kebutuhan material dengan mengubah dunia fisik sehingga menghasilkan sumber kepuasan dan kesenangan manusia. Mentalitas ini mendasari pertumbuhan ilmu dan teknologi.
b.) Inderawi pasif : menikmati kesenangan duniawi setinggi- tingginya. Sorokin menggambarkannya sebagai suatu “eksploitasi parasit“, dengan motto : “makan,minum, dan kawinlah sepuasnya karena besok kita akan mati“. Mengejar kesenangan hidup tidak dipengaruhi oleh suatu tujuan jangka panjang apapun.
c.) Inderawi sinis : pengejaran tujuan duniawi dibenarkan oleh rasionalisasi ideasionalisasi. Dengan kata lain menunjukkan usaha yang bersifat munafik yang membenarkan pencapaian tujuan material dengan menunjukkan sistem nilai transeden yang pada dasarnya ditolaknya

Sistem campuran (idealistis) Realitas dan nilai, sebagian dapat diserap indra dan sebagiannya lagi dipandang bersifat transeden, tak terserap oleh alat inderawi. Dasar pemikirannya adalah perpaduan antara kedua hal diatas (Ideational dan Sensate). Kata kunci adalah suatu kompromis. Terbagi menjadi :
a.) Mentalitas idealistis : pengertian mengenai aspek tertentu dari realitas tertinggi.
b.) Mentalitas ideasional tiruan : didominasi oleh pendekatan inderawi, tetapi unsur ideasional hidup berdampingan dengan unsur inderawi, selaku dua prinsip berlawanan jadi, keduanya tidak terintegrasi secara sistematis kecuali sekedar berdampingan saja.
 Sebab perubahan sosial menurut Sorokin terdapat aspek kualitatif dan aspek kuantitatif dari pertumbuhan dan kemunduran sistem sosiokultural. Untuk memahaminya diperlukan pemahaman tiga komponen sistem sosiokultural empiris, yakni sistem makna, mesin dan agen kemanusiaannya. Sorokin berpendapat bahwa pertumbuhan kuantitatif terutama mengacu kepada peningkatan kuantitatif wahana atau agen atau keduanya. Pertumbuhan kualitatif, mencakup berbagai peningkatan / perbaikan sistem makna, wahana dan agennya / ketiganya. Pertumbuhan kualitatif ini disebut disebut sorokin sebagai tingkat perkembangan masyarakat yang terwujud dengan sendirinya pada tingkat individual.
Akibat Perubahan sosial menurut Sorokin ada tiga kemungkinan penjelasan mengenai perubahan sosiokultural. Pertama, perubahan mungkin diakibatkan faktor eksternal terhadap sistem sosiokultural. Contohnya, jika kita mencari penjelasan mengenai perubahan dalam keluarga, kita mencari faktor ekonomi (industrialisasi) atau perubahan demografi, atau bahkan faktor biologis sebagai mekanisme penyebab. Ini berdasarkan asumsi bahwa keluarga kurang lebih adalah kelompok pasif yang akan tetap seperti itu kecuali diganggu oleh kekuatan dari luar. Kedua, teori keabdian. Perubahan terjadi karena faktor internal yang ada didalam sistem itu sendiri. Sistem itu sendirilah yang bersifat berubah: “sistem tak dapat membantu perubahan, meskipun semua kondisi eksternal tetap”. Ketiga, mencari penyebab perubahan baik pada faktor internal maupun eksternal.
Konsep perubahan sosial Sorokin berpendapat, bahwa pertama didalam sistem yang terintegrasi dengan erat, perubahan akan terjadi secara keseluruhan, seluruh bagian akan berubah bersama. Kedua, terjadi di beberapa bagian tertentu tanpa terjadi dibagian lain. Ketiga, jika suatu kultur hanya merupakan pengelompokan semata maka setiap bagian mungkin berubah tanpa mempengaruhi bagian lainnya. Keempat, jika kultur itu tersusun dari sejumlah sistem dan kumpulan yang hidup berdampingan secara damai, maka kultur itu akan berubah secara berbeda disetiap bagian yang berbeda. Berbagai unsur akan berubah, baik serentak / terpisah, tergantung pada tingkat integrasi
         Kebudayaan sensasi menjadi tolak ukur dan kenyataan dan tujuan hidup. Dalam social and Cultural Dynamics. Sorokin menilai peradaban modern adalah peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya menjadi kebudayaan Ideasional yang baru. Dalam suatu perubahan yang terpenting adalah tentang proses sosial yang saling berkaitan. Sorokin juga memberikan pengertian tentang proses sosial yaitu sebuah perubahan subyek tertentu dalam perjalanan waktu, entah itu perubahan tempatnya dalam ruang atau modifikasi aspek kuantitatif atau kualitatifnya.
Penekanan Sorokin pada berulangnya tema-tema dasar dimaksudkan untuk menolak gagasan bahwa perubahan sejarah dapat dilihat sebagai suatu proses linear yang meliputi gerak dalam satu arah saja dalam hal ini Sorokin berbeda dari Comte yang percaya akan kemajuan yang mantap dalam perkembangan intelektual manusia. Pendekatan Sorokin yang bersifat “integralis” itu memungkinkan dia untuk mengkritik dengan keras gagasan bahwa semua pengetahuan kita akhirnya berasal dari data empiris. Sebaliknya dia mengemukakan bahwa data empiris hanya memperlihatkan satu tipe kebenaran. Yakni kebenaran indrawi. Juga ada kebenaran akal budi dan yang ketiga adalah kebenaran kepercayaan atau intuisi,yang melampaui data indrawi dan rasionalitas. Patitim A. Sorokin menilai gerak sejarah dengan gaya, irama dan corak ragam yang kaya raya dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga menjadi teori siklus. Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah menunjukkan fluctuation of age to age, yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam. Sorokin dalam menafsirkan gerak sejarah tidak mencari pangkal gerak sejarah atau muara gerak sejarah, ia hanya melukiskan prosesnya atau jalannya gerak sejarah.
Sejarah sosiokultural merupakan lingkaran yang bervariasi antara ketiga supersistem yang mencerminkan kultur yang agak homogen. Tiga jenis kebudayaan adalah suatu cara untuk menghargai atau menentukan nilai suatu kebudayaan. Menurut Sorokin tidak terdapat hari akhir ataupun kehancuran, ia hanya melukiskan perubahan-perubahan dalam tubuh kebudayaan yang menentukan sifatnya untuk sementara waktu. Apabila sifat ideational dipandang lebih tinggi dari sensate dan sifat idealistic ditempatkan diantaranya, maka terdapat gambaran naik-turun, timbul-tenggelam dan pasang-surut dalam gerak sejarah tidak menunjukkan irama dan gaya yang tetap dan tertentu. Sorokin dalam menafsirkan gerak sejarah tidak mencari pangkal gerak sejarah atau muara gerak sejarah, ia hanya melukiskan prosesnya atau jalannya gerak sejarah.
Sorokin berpendapat bahwa ketiga tipe mentalitas budaya yang asasi itu dapat berulang dalam satu bentuk siklus. Dengan kata lain, periode ideasional dikuti oleh suatu bentuk campuran (biasanya tidak idealistis) yang diikuti oleh satu periode ideasional baru dan seterusnya. Sorokin secara profetis meramalkan suatu akhir dari periode inderawi yang pada akhirnya merupakan kelahiran kembali suatu tahap baru mentalitas ideasional.
Sehingga bukan pada positivistik yang mendasarkan pada data empiris (kebudayaan inderawi) tetapi pada integralistik budaya yang mendasarkan diri pada pandangan dunia (world view) terhadap keseluruhan yang saling melengkapi antara kebudayaan inderawi (materiil) dan ideasional (non materiil, transenden tidak dapat ditangkap oleh inderawi).

Teori kedua yang diungkapkan oleh Sorokin yaitu mengenai Intergrasi sosial dan budaya. Satu alaasan yang memungkinkan martindale melihat Sorokin sebagai seorang organisis, dapat dilihat pada tekanan Sorokin pada pemahaman system sosio-budaya secara keseluruhan. Prespektif organis menekannkan kenyataan masyarakat yang independen dan tradisi-tradisi budayanya sebagai suatu system yang intregritas. Analisa Sorokin mengenai dinamika system-sistem sosio budaya yang terintregitas secara luas dalam empat karangan utamanya, Social and Culture Dynamic, sejalan dengan pendekatan ini. Alasan penting lainnya untuk melihat Sorokin sebagai seorang ahli teori organis tanpa asumsi-asumsi positivis adalah penolakan Sorokin untuk membatasi konsepnya mengenai kebenaran pada data empiris, sebaliknya dia menunjukkan suatu kerelaan untuk menerima suatu konsep mengenai kebenaran dan pengetahuan yang bersifat multidimensi, dengan data empiris memberikan sebagian pengetahuan. Sejalan dengan penekanan Sorokin pada arti-arti subyektif, hal itu memisahkan dia dari kelompok-kelompok positivis yang menekankan pada empiris sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang sah.
Sorokin sendiri menilai tidak tepat klasifikasi Martindale yang memasukkan pendekatannya kedalam suatu prespektif organis. Bukan mengasumsikan integrasi menyeluruh yang ditekankan Sorokin. Dia menekankan pentingnya mengetahui tingkat integrasi yang berbeda, dan mengkhususkan tingkat dimana aspek-aspek yang berbeda dalam kenyataan sosio-budaya itu dapat dikatakan terintegrasikan. Juga berbeda sekali dengan penekanan kelompok organis pada pola-pola pertumbuhan dan kemunduran yang tidak berubah yang dilalui system-sistem budaya. Sorokin menekankan tingkat variabilitas yang tinggi yang diperlihatkannya. Tema-tema budaya dasar mungkin terulang, tetapi  pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah. Setiap tahap sejarah masyarakat memperlihatkan beberapa unsur yang kembali berulang (artinya, pengulangan tahap yang terdahulu) dan ada beberapa daripadanya yang unik. Sorokin mengacu pada pola-pola perubahan budaya jangka panjang yang bersifat “berulang-berubah” (Varyingly Recurrent).
Tentunya jika kita menganalisis, terdapat persamaan antara teori mentalitas budaya Sorokin dengan teori jenjang tiga tahap milik auguste Comte. Pada dasarnya kedua terori ini memiliki gagasan dasar yang terkandung dalam pandangan dunia yang dominan atau gaya berpikir sebagai acuan untuk memahami kenyataaan sosial budaya di sekeliling kita, sedangkan perbedaannya, teori Comte tidak bersifat linier atau siklus. Teori Comte mengemukakan bahwa sejarah manusia menunjukkan kemajuan unlinier, yang didasarkan pada perkembangan ilmu, yang akan bergerak maju terus menerus ke masa depan. Dalam arti, bahwa salah satu fase dari tiga tahap tersebut tidak akan terulang kembali oleh manusia. Sedangkan pada pendapat sosrokin, ia menjelaskan bahwa pada dasarnya jenjang tiga tahap yang dikemukakan oleh Comte merupakan siklus yang akan berulang ulang dan akan dialami terus oleh manusia.
C.    Relevansi Teori Paritim A. Sorokin dalam Peristiwa Sejarah
1.      Sunan Gresik dalam Dakwahnya
Walisongo mempunyai peranan yang sangat besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Bahkan mereka adalah perintis utama dalam bidang dakwah Islam di Indonesia, sekaligus pelopor penyiaran Islam di nusantara. Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Salah satunya anggota walisongo yaitu  Sultan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Inilah Relevansi Teori Gerak sejarah menurut Paritim A. Sorokin dlam peristiwa sejarah terkait tipe yang pertama yaitu Ideasional.
Relevansi yang kedua dalam peristiwa ini terkait teori Sorokin  dalam tipe kedua yakni Sensate atau Indrawi adalah fakta bahwa selain berdakwah  Sultan Gresik juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
            Sumbangannya dalam bidang ekonomi dapat dibuktikan melalui tindakan Maulana Malik Ibrahim menyempurnakan kehidupan di Leran dengan memelihara sawah dan kebun secara cermat dan baik. Di s amping meningkat taraf ekonomi penduduk, beliau menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan seperti galakan memberi sadakah kepada fakir miskin. Maulana Malik Ibrahim memperkenalkan sistem pengairan untuk pertanian bagi memajukankota Gresik (Hasanu Simon, 2004: 167). Hasilnya kawasan pertanian berjaya dimajuka. Jadi  Maulana Malik Ibrahim Selain menyebarkan islam di daerah gresik, tapi beliau juga memperkenalkan system perairan untuk pertanian digresik.
2.              Perang Salib
Sejumlah ekspedisi militer yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap.kekuatan muslim dalam periode 1096 – 2073 M. dikenal sebagai perang salib. Hal ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa pihak Kristen dalam melancarkan serangan tersebut didorong oleh motivasi keagamaan, selain itu mereka menggunakan simbol salib. Namun jika dicermati lebih mendalam akan terlihat adanya beberapa kepentingan individu yang turut mewarnai perang salib ini. Berikut ini adalah beberapa penyebab yang turut melatarbelakangi terjadinya perang salib.
Pertama, bahwa perang salib merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan ummat muslim yang sangat pesat, pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan tokoh-tokoh barat Kristen. Terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim.
Kedua, munculnya kekuatan Bani Saljuk yang berhasil merebut Asia Kecil setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Manzikart tahun 1071, dan selanjutnya Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis. padahal yang terjadi adalah bahwa pihak Kristen bebas saja melaksanakan haji secara berbondong-bondong. pihak Kristen menyebarkan desas-desus perlakuan kejam Turki Saljuk terhadap jemaah haji Kristen. Desas-desus ini membakar amarah umat Kristen-Eropa.
Ketiga, bahwa semenjak abad ke sepuluh pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini”
Keernpat, propaganda Alexius Comnenus kepada )aus Urbanus ll. Untuk membalas kekalahannya dalam peperangan melawan pasukan Saljuk. Bahwa paus merupakan sumber otoritas tertinggi di barat yang didengar dan ditaati propagandanya. Paus Urbanus II segera rnengumpulkan tokoh-tokoh Kristen pada 26 November 1095 di Clermont, sebelah tenggara Perancis. Dalam pidatonya di Clermont sang Paus memerintahkan kepada pengikut kristen agar mengangkat senjata melawan pasukan musim.
Tujuan utama Paus saat itu adalah memperluas pengaruhnya sehingga gereja-gereja Romawi akan bernaung di bawah otoritasnya. Dalam propagandanya, sang Paus Urbanus ll menjanjikan ampunan atas segala dosa bagi mereka yang bersedia bergabung dalam peperangan ini. Maka isu persatuan umat Kristen segera bergema menyatukan negeri-negeri Kristen memenuhi seruan sang Paus ini. Dalam waktu yang singkat sekitar 150.000 pasukan Kristen berbondong-bondong memenuhi seruangsang Paus, mereka berkumpul di Konstantinopel. Sebagian besar pasukan ini adalah bangsa Perancis dan bangsa Normandia. Relevansi Teori Paritim A. Sorokin terlihat jelas pada peristiwa ini mulai dari Ideasional, Sensate dan perpaduan dari keduanya.
3.      Kedatangan Portugis di Indonesia
Peristiwa ini memiliki Relevansi yang besar dengan teori yang dikemukakan oleh Paritim A. Sorokin. Paritim A. Sorokin melihat gerak sejarah dari tiga tipe yang pertama adalah ideasional atau ketuhanan, peristiwa Kedatangan Portugis ke Indonesia dipicu oleh tipe yang pertama yakni Gospel atau penyebaran agama yang ingin di lakukan oleh Portugis atau yang lebih dikenala dengan sebutan “misi suci”. Jadi kedatangan Portugis ke Indonesia termasuk kedalam Ideasional karena memilki tujuan ketuhan atau mengurangi kebutuhan duniawi agar dapat mempermudah dalam penyerapan menuju alam transeden.
Peristiwa ini juga termasuk dalam tipe Sansate atau Indrawi. Dimana pemenuhan kebutuhan duniawi merupakan relativitas tertinggi. Ditilik dari tipe kedua kedatangan Portugis ke Indonesia juga dilatar belakangi oleh Gold dan Glory atau pencarian kekayaan dan perluasan pengaruh atau wilayah ke Indonesia. Jadi jelas bahwa peristiwa ini masuk kedalam tipe kedua, karena dia memandang bahwa kebutuhan dunia mutlak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dari negaranya yakni mendapatkan rempah-rempah dan mendapatkan pengakuan kekuasan di Indonesia.
Kemudian tipe yang ketiga adalah perpaduan dari Ideasional dan Indrawi. Ini terpampang jelas dari peristiwa tersebut bahwa Potugis datang ke Indonesia membawa tiga misi yakni 3G : Glory, Gold dan Gospel.
4.      Kejayaan Majapahit

Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (pertirtan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan survei ini kebanyakan bersifat agama siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha.
Berdasarkan status bangunan suci, kita dapat kelompokkan menjadi dua, yaitu bangunan yang dikelola oleh pemerintah pusat dan yang berada di luar kekuasaan pemerintah pusat.
Bangunan suci yang dikelola pemerintah pusat ada dua macam, yaitu:
1. Dharma-Dalm, disebut pula Dharma-Haji yaitu bangunan suci yang diperuntukkan bagi raja beserta keluarganya. Jumlah dharma-haji ada 27 buah, di antaranya Kegenengan, Kidal, Jajaghu, Pikatan, Waleri, Sukalila, dan Kumitir.
2. Dharma-Lpas, yaitu bangunan suci yang dibangun di atas tanah wakaf (bhudana) pemberian raja untuk para rsi-saiwa-sogata, untuk memuja dewa-dewa dan untuk mata pencarian mereka.
Raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dari aliran Siwasiddhanta kecuali Tribuwanattungadewi (ibunda Hayam Wuruk) yang beragama Buddha Mahayana. Walau begitu agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama resmi kerajaan hingga akhir tahun 1447. Inilah sebuah Relevansi Teori Gerak sejarah menurut Paritim A. Sorokin dlam peristiwa sejarah terkait tipe yang pertama yaitu Ideasional. Yang mengemukakan tentang kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayaan.
Relevansi yang kedua dalam peristiwa ini terkait teori Sorokin  dalam tipe kedua yakni Sensate atau Indrawi adalah fakta bahwa selain majapahit memiliki aliran kepercayaan yang suci beliau juga membangun tempat peribadatan menggunakan bangunan-bangunan yang mengerucu serta terdapat sebuah relif dan ukiran mengenai kehidupan pada masa itu.
Relevensi yang ketiga tentang teori gerak sejarah yaitu mengenai gabungan antara kepercayaan ideasional dan indrawi yaitu majapahit bukanhanya sebagai tempat keagamaan saja tapi ada nilai budaya dan seni yang terkandung mengenai struktur dan keunikan bangunanan peribadahan dan terdapat pula skema kehidupan msyarakat majapahit pada relif-relif yang ada.
5.      Peristiwa PKI
Didalam siklus sorokin terdapat tiga pokok pikiran dalam menilai gerak sejarah, diantaranya : pandangan menurut ketuhanan, keyataan atau indrawi, dan perpaduan antara keduanya. Diantara berbagai peristiwa, diantaranya terdapat peristiwa PKI yang gerak sejarahnya sama atau selaras dengan siklus sorokin.
Pertama kali masuknya komunis ke Indonesia adalah dengan cara mengatur atau mempengaruhi penduduk Indonesia akan kepercayaan yang mereka anut. Melalui hal pengindraan atau pembodohan, misalnya saja disini anak SD yang sejatinya belum bisa menyakini secara penuh apa yang di yakininya karena mereka hanya ikut menyakini apa yang kedua orang tuanya anut. Hal ini masuk dalam pandangan ketuhanan, karena awal PKI masuk ke Indonesia dengan tujuan mengajarkan dan memperluas agama atau kepercayaan  yang dianutnya.
Tetapi ketika itu mereka disuruh mempraktekan bagaimana membuktikan bahwa apa benar tuhan itu ada dan bagaimana wujudnya. Saat itu Mereka di perintahkan untuk memejamkan mata dan berdoa kepada tuhannya dan hal yang sama juga mereka disuruh untuk memejamkan mata untuk PKI. Setelah mereka membuka mata ternyata doa kepada PKI lah yang di kabulkan. Dengan melalui kepercayaan agama ini para komunis masuk kedalam kehidupan penduduk Indonesia, yang kemudian menjadikan mereka partai komunis terbesar di Indonesia. Melalui kekuasaan tersebut PKI meluaskan pemerintahan dan kedudukannya. Bagian peristiwa ini masuk kedalam pandangan yang kedua, sebab mereka menilai adanya tuhan ataupun kekuasaan dengan indrawi. Apa yang mereka lihat itulah kenyataan yang benar.
PKI membunuh para penguasa yang dianggapnya sebagai penghalang. Akibat dari peristiwa tersebut para tokoh anti PKI hadir, adanya orang-orang yang anti PKI berpendapat bahwa hidup itu diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan memang nyata apa adanya dapat dilihat dengan indra. Hal ini masuk dalam pandangan yang ketiga, yaitu pandangan perpaduan antara ketuhanan dan indrawi. Dimana tokoh para anti komunis tidak mempercayai bahwa semua doa dapat dikabulkan oleh PKI, namun mereka tidak memungkiri bahwa kenyataanya PKI lah yang berpengaruh dalam kehidupan pada masanya.
6.      Perang Yarmuk
Berkaitan dengan gerak sejarah Paritim A. Sorokin sebuah teori yang dipengaruhi oleh 3 tipe sistem yaitu sistem ideasional, sistem indarai, dan pergabungan dari keduanya yaitu sistem idealistis. Sistem ideasional menyatakan Tuhan sebagai realitas tertinggi dan nilai tertinggi. Dalam perang Yarmuk, pasukan Romawi memiliki tentara yang banyak, pengalaman perang yang mumpuni, peralatan perang yang lengkap, logistik lebih dari cukup, dapat dikalahkan oleh pasukan kaum muslimin, dengan izin Allah. Ini adalah bukti yang nyata bahwa sesungguhnya kemenangan itu bersumber dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sistem indrawi dasar pemikirannya adalah dunia materiil yang ada disekitar kita adalah satu-satunya kenyataan yang ada. Dalam perang yarmuk, umat islam yang dipimpin Umar bin khattab memenangkan peperangan untuk perluasan wilayah pemerintahan. Sehingga daerah dibawah pimpinanya semakin luas dan kuat.
Sistem pergabungan dari keduanya yang menggabungan antara ideasional dan indrawi. Perang yarmuk disamping untuk kepentingan keagamaan(menyebarkan agama islam) perang ini juga bertujuan untuk memperluas daerah pemerintahan. Jadi keduanya tergabung dalam perang yarmuk.

Sumber :


Ali, Muhamad, Pengantar Ilmu Sejarah,Pelangi Aksara, 2005.
Burke, Peter, Sejarah dan Teori Sosial, a.b. Mestika Zad dan Zulfani, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Rosmaya, Magenta. Piritim Sorokin,2012. http://magentarosmaya.blog.fisip.uns.ac.id/. Diakses pada tanggal 07 November
Tamburak, E., Rustam, Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan Iptek.  Rineka Cipta, Jakarta, 1999.
 


EmoticonEmoticon