Wednesday, September 9, 2015

Resensi Buku Kota Gresik 1896 – 1916 : Sejarah Sosial Budaya & Ekonomi



Judul                   : Kota Gresik  1896 – 1916 : Sejarah Sosial Budaya & Ekonomi
Pengarang           : Oemar Zainuddin
Penerbit               : Komunitas Bambu
Jumlah Halaman : 168 Halaman

Buku ini berisi tentang sejarah kota Gresik yang merupakan kota perdagangan dan internasional. Selain itu buku ini juga mengungkapkan bagaimana ppara pribumi mengembangkan usaha mereka pada masa kolonial Belanda. Sesuai  judulnya buku ini juga memaparkan bagaimana budaya di Kota gresik pada abad peralihan yaitu dari abad ke-19M menuju abad ke-20M,seperti pakaian .
Peranan Kota Gresik sebagai kota perdagangan mulai berkembang pada abad ke-14M ,seiring dengan perkembangan kota di Indonesia yang juga terkait dalam perdagangan dunia. Hal ini terjadi karena Indonesia merupakan kawasan paling timur yg menjadi titik perdagangan internasional. Jalur perdagangan tersebut di mulai dari Maluku,kemudian melintasi Laut Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk Benggala, pantai Coromandel dan Malabar di India,Gujarat,Persia, kemudian diteruskan  di Eropa dan seterusnya. Juga di dukung letak Geografis Kota Gresik yang diapit 2 muara sungai besar yaitu Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Kedua sungai tersebut merupakan jalur Transportasi barang maupun manusia.
Sebelum populernya aksara latin di Gresik sudah ada aksara yang populer yang dinamakan “Aksara Pegon”. Aksara Pegon adalah aksara yang berbentuk huruf arab gundul. Aksara ini diperkenalkan di pesantren – pesantren yang ada di Gresik. Aksara ini digunakan untuk menulis dalam bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Penduduk kota Gresik baru menggunakan aksara latin setelah mereka berhubungan dengan mitra bisnis atau perdagangan mereka. Untuk bahasa mereka menggunakan bahasa Jawa dalam berinteraksi dengan masyarakat Jawa lain. Tetapi khusus untuk wilayah Kota Gresik dan sekitarnya mereka menggunakan bahasa yang dinamakan bahasa Gresikan yang merupakan bahasa khas daerah Gresik.
            Dalam aspek busana kaum laki – laki di Gresik memakai baju dari kaij putih tanpa kerah,bawahan sarung, tutp kepala berupa kopiah atau peci,dan sebagai alas kaki mereka menggunakan terumpah Gresikan yang merupakan alas kaki khas Gresik. Hal inilah yang membuat masyaraka Gresik terkenal dengan istiliah “kaum sarungan”. Untuk busana perempuan sendiri itu terdiri dari 3 unsur, yaitu Kain(sewek atau kain batik), kebaya ,dan kerudung dari paris yang distrimin. Gresik mempunyai acra yang dinamakan Sinoman yang merupakan acara kumpulan. Tujuan dari acara ini adalah mengurud kematian dan pernikhan anggota keluaraga. Dan masih banyak lagi yang diungkapkan buku ini.
           


Kelebihan Buku    :
Buku ini menurut saya bisa dibilanhg menarik dan cukup lengkap karena buku ini mempunyai banyak data yang terdiri dari foto,surat,iklan,nota dagang,dan lain – lain. Selain itu,buku ini juga menarik karena buku ini membahas sejarah kota yang dulunya merupakan pusat perdagangan regional dan internasional.
Kekurangan Buku :
Tetapi setiap ada kelebihan pasti ada kekurangan. Kekurangan buku ini menurut saya adalah buku ini terlalu mengekspos keluarga tokoh H.Oemar yang merupakan perintis usaha penyamakan kulit.Sehingga menurut saya buku ini bisa menjadi buku yang hanya H.Oemar sebagai perintis usaha penyamakan kulit. Setelah saya telusuri lebih lanjut ternyata sang penulis masih mempunyai hubungan darah dengan tokoh H. Oemar.
Kesimpulan          :
Saya menyimpulkan bahwa buku ini bagus walau masih ada kekurangan. Saya tidak tahu apakah buku ini memang dibuat untuk mengembalikan eksistensi H.Oemar dan keturunanya sebagai perintis usaha penyamakan kulit di Gresik. Tetapi buku ini sudah membantu masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Gresik dalam mempelajari Sejarah daerah mereka sendiri.


EmoticonEmoticon