Saturday, September 12, 2015

Sejarah Asia Tenggara Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer


Judul buku : Sejarah Asia Tenggara Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer
Halaman    : 01-51





1
Kelompok Etnis, Struktur Sosial dan Budaya Kuno
 


Pendahuluan

            Keragaman etnis, budaya dan bahasa dia Asia Tenggara sama sekali bukan fenomena baru. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan keragaman ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Masa prasejarah susah untuk direkonstruksi. Menghubungkan jejak-jejak masyarakat yang telah lama punah dengan penduduk masa kini adalah persoalan lain. Tengkorak kepala dapat didentifikasi dari kelompok tertentu tetapi benda itu tidak bisa memberitahu kita bahasa apa yang digunakannya. Pola-pola yang sama dalam upacara pemakaman di daerah-daerah berbeda menunjukkan hubungan komunikasi dan ikatan budaya, namun kita tidak dapat memastikan apakah kelompok orang yang berbeda ini memiliki keterkaitan atau hanya sering melakukan kontak. Selain itu, teori-teori ilmiah tentang migrasi ke Asia Tenggara dan perpindahan antarpenduduk di kawasan itu telah sangat banyak berubah selama setengah abad terakhir. Semua itu membentuk ulang pemahaman kita mengenai gambaran prasejarah yang lebih luas.
Etnosejarah
            Peninjauan rumpun-rumpun bahasa primer bermanfaat untuk melakukan pendekatan terhadap mozaik etnis Asia Tenggara. Bahasa dan etnis tidak selalu tumpang tindih. Seiring berjalannya waktu, individu dan kelompok dapat mengubah bahasa serta identitas etnis.
            Semua bahasa “asli” Asia Tenggara-kecuali yang ditemukan di pulau-pulau paling timur Indonesia-dapat digolongkan ke dalam salah satu dari lima rumpun bahasa yaitu Austroasia,Austronesia,Tai,Tibet-Burma dan Hmong-Mien. Bahasa Austroasia yang sering disebut Mon-Khmer mencakup bahasa Vietnam dan Kamboja(Khmer),termasuk bahasa Mon(yang biasa digunakan di sebagian Myanmar dan Thailand)  dan bahasa-bahasa dari beberapa kelompok etnis yang tersebar di dataran tinggi Vietnam, Laos, Kamboja, dan Thailand.
            Sebaliknya, bahasa Austronesia(Melayu-Polinesia) banyak ditemukan di Asia Tenggara kepulauan-kecuali bahasa melayu yang digunakan di Thailand selatan, Semenanjung Malaysia dan Singapura, beberapa kelompok di dataran tinggi Vietnam Tengah dan Selatan serta Kamboja timurlaut. Hampir semua bahasa yang digunakan di Indonesia dan Filipina termasuk dalam kelompok ini.                        
            Rumpun bahasa Tai-kadang disebut Tai-kadai-mencakup wilayah sabuk yang membentang dari kedua sisi perbatasan Cina-Vietnam hingga Assam di India timur laut. Bahasa ini meliputi bahasa nasional Thailand, Laos(termasuk bahasa yang digunakan oleh beberapa kelompok penduduk dataran tinggi yang terdapat di negara-negara tersebut),Vietnam dan Myanmar. Rumpun bahasa Tibet-Burma,bahasa yang digunakan di dataran tinggi Asia Tenggara sebelah utara. Terakhir, rumpun bahasa Hmong-Mien(sebelumnya disebut Miao-Yao) digunakan oleh keturunan imigran Cina yang menetap di dataran tinggi Vietnam, Laos, dan Thailand selama kurang lebih satu abad terakhir.    
            Penduduk paling awal Asia Tenggara adalah kelompok pemburu dan peramu. Mereka tidak bercocok tanam melainkan hidup dengan mengandalkan hasil buruan dan hasil laut saja. Kemajuan dating bersaman dengan diperkenalkannya sistem pertanian selama abad ke-3 SM. Penting untuk ditekankan di sini bahwa “perbatasan” antara Cina dan Asia Tenggara saat itu jauh lebih ke utara daripada yang ada sekrang. Selain itu, dalam banyak hal Cina Selatan masa kini di selatan Sungai Yangzi memiliki ikatan etnis, bahasa dan budaya yang lebih dekat dengan Asia Tenggara. Persebaran sistem pertanian padi adalah proses yang panjang dan lambat, yang berlangsung selama berabad-abad. Tidak ada bukti bahwa para pemburu dan peramu segera meninggalkan kegiatan mencari makanan untuk beralih menjadi petani.
            Cendekiawan sepakat bahwa hampir semua bahasa yang saat ini digunakan di Asia Tenggara dapat dilacak mundur ke akar-akarnya yang jauh di suatu tempat di Cina Selatan. Mungkin saja pengetahuan dan praktik pertanian menyebar dari kawasan Sungai Yangzi bersama para leluhur bahasa-bahasa Asia Tenggara ketika penuturnya bergerak ke selatan.
            Keberadaan dua rumpun bahasa, Austronesia dan Austroasia,dapat dihubungkan dengan migrasi. Bangsa penutur Austronesia diyakini berasal dari pesisir tenggara Cina yang kemudian bergerak ke Taiwan. Kemungkinan, sekitar 4000-5000 tahun yang lalu orang Austronesia mulai melaut, melakukan salah satu migrasi terbesar dalam sejarah. Banyak dari penduduk yang sudah ada di pulau-pulau itu terasimilasi, baik secara budaya maupun bahasa, ke dalam populasi migran meski di beberapa tempat dan terutama di Pulau Papua-mereka tetap terpisah. Di wilayah Asia Tenggara daratan, penutur Austroasia tampil menjadi kelompok dominan, mengadopsi sepenuhnya budaya dan bahasa penduduk setempat. Kronologi migrasi orang Austroasia ke Asia Tenggara masih belum jelas. Pada akhir periode prasejarah, mayoritas penduduk Asia Tenggara telah menggunakan salah satu dari dua rumpun bahasa ini. Pada awal masehi di Asia Tenggara juga terdapat penutur bahasa Tibet-Burma yang terkonsentrasi di wilayah yang sekarang menjadi Myanmar. Pada abad ke-13 pola distribusi kelompok etnis dan rumpun bahasa di seluruh Asia Tenggara kurang lebih telah seperti sekarang ini dengan beberapa pengceualian penting. Pertama, etnis Vietnam yang peradabannya bermula di wilayah delta Sungai Merah secara bertahap menyebar ke selatan melalui migrasi. Kedua, selama beberapa abad terakhir mayoritas pendatang baru ini adalah etnis Hmong atau Yao. Ketiga, kedatangan pemerintahan colonial membawa migrasi etnis India dan Cina dalam skala besar ke berbagai tempat di wilayah Asia Tenggara. Sampai saat ini, mereka tetep tergolong minoritas.

Kebudayaan
            Kebudayaan dataran rendah Asia Tenggara mendapat pengaruh sangat kuat dari luar kawasan Asia Tenggara. Pada dasarnya, Asia Tenggara masa lalu adalah dunia lelembut(makhluk halus). Pada suatu masa,kepercayaan terhadap roh-dikenal sebagai animism-ada di semua masyarakat dalam sejarah. Meskipun demikian, animisme tetap menjadi kekuatan yang dominan di tempat lain. Makhluk halus dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis. Pertama, “penunggu” yang merupakan jenis paling umum. “Penunggu” dipercaya menetap di lokasi tertentu seperti gunung,gua,sungai,pohon atau batu. Kedua, arwah leluhur. Penghormatan terhadap sesepuh(masih hidup) dan leluhur(sudah meninggal) umum ditemukan dalam kebudayaan Asia Tenggara. Tingkat keterlibatan leluhur dalam kehidupan sehari-hari keturunan mereka bervariasi sesuai kebudayaannya masing-masing. Ketiga, “dewa pelindung” yaitu makhluk halus yang bertanggung jawab melindungi unit social tertentu seperti keluarga,desa,kota kecil,kota besar atau bahkan seluruh negara. Secara umum, monoteisme baru dating ke Asia Tenggara bersama persebaran agama islam dan Kristen. Dua perhatian terpenting kebudayaan primordial Asia Tenggara adalah kesuburan-baik pertanian maupun manusia-dan perlindungan dari bahaya. Setiap kebudayaan mengenal berbagai roh jahat yang menggangu kehidupan manusia. Sistem kepercayaan animism ini dirangkai dalam dua unsur utama:tabu dan sesaji. Tabu adalah langkah beserta cara-cara yang ditempuh agar tidak menyinggung perasaan makhluk halus tertentu. Desa biasanya memiliki seorang atau beberapa orang “spesialis” untuk melakukan ritual atau berkomunikasi dengan makhluk halus ketika diperlukan. Salah satu ciri khas kebudayaan Asia Tenggara,walaupun tidak hanya ada di sana, adalah pentingnya perempuan “spesialis” dan paranormal. Perempuan sepertinya sudah sangat lama menikmati hubungan erat dengan dunia lelembut. Pada banyak kasus,makhluk halus itu sendiri adalah perempuan dewi-dewi padi yang disebutkan sebelumnya atau Ibu-Ibu suci(thanh mau) etnis Vietnam dan dewi terpenting etnis Cham,Po Nagar. Kekerabatan dan keluarga besar adalah hal penting bagi seluruh masyarakat Asia Tenggara. Orang Barat yang biasanya hanya menyebut “saudara laki-laki”, “saudara perempuan”, “paman”, “bibi” dan semacamnya akan terkejut melihat banyaknya istilah Asia Tenggara yang digunakan untuk menyebut anggota keluarga. Penggunaan istilah yang berbeda untuk menunjuk pembicara dan pendengar mencerminkan kesadaran akan adanya perbedaan tingkat yang halus mengenai usia dan status yang ditemukan dalam banyak kebudayaan di Asia Tenggara. Patrilineal adalah sistem kekerabatan pada garis keturunan ayah di Asia Tenggara. Sedangkan matrilineal adalah sistem kekerabatan pada garis keturunan ibu di Asia Tenggara. Bilaterial adalah garis keturunan ayah dan ibu sama pentingnya.
Struktur Sosial dan Politik
            Dalam berbagai kelompok masyarakat, keluarga diorganisasi menjadi klan atau garis keturunan di masyarakat Asia Tenggara. Perlu dicatat bahwa dalam banyak kebudayaan di Asia Tenggara, nama keluarga merupakan penemuan yang relative baru, kecuali di kalangan etnis Vietnam dan etnis Kristen Filipina sejak abad ke-16. Klan dan garis keturunan seringkali merupakan bentuk utama organisasi social di bawah tingkat desa. Tidak semua orang Asia Tenggara mempunyai riwayat tinggal di desa, tetapi desa merupakan unit social-politik paling umum. Sifat, struktur dan luas desa-desa di Asia Tenggara sangat bervariasi. Mereka bisa jadi memiliki satu kepala desa yang biasanya berasal dari keluarga atau klan terkuat dalam komunitas tesebut. Selama periode pramodern,sejumlah etnis di Asia Tenggara tidak memiliki struktur di atas tingkat desa. Desa bersifat otonom dan tidak tunduk pada kekuasaan seorang penguasa luar. Konteks Asia Tenggara, umumnya berbicara tentang raja dan kerajaan ketika membahas etnis-etnis yang sudah terkena pengaruh budaya dari luar Asia Tenggara. Para cendekiawan biasanya menyebut masyarakat yang dipimpin oleh kepala suku sebagai “pesukuan”(chiefdom).  Oleh karena itu, kepemimpinan dan kekuasaan dalam kelompok masyarakat Asia Tenggara selalu bersifat personal. Kerajaan-kerajaan kuno Asia Tenggara menunjukkan banyak kelemahan dan permasalahan yang sama dengan pendahulunya.
Dataran Tinggi dan Dataran Rendah, Hutan dan Padang Rumput, Daratan dan Lautan
Setiap negara di Asia Tenggara, kecuali singapura yang urban,dicirikan oleh minimal satu dari tiga perbedaan pokok demografi. Pertama, antara penduduk dataran rendah dengan penduduk yang tinggal di bukit biasanya disebut “orang gunung”. Kedua, antara penduduk yang tinggal di permukiman tetap biasanya tinggal di hutan dan bertahan hidup dari hasil buruan. Ketiga, antara populasi kecil di beberapa negara terkosentrasi dan bergantung pada laut untuk mencari nafkah namun tetap tinggal di daratan. Tetapi juga ada etnis. Etnis-etnis yang tinggal di dataran tinggi,hutan atau di atas kapal di sepanjang pesisir tergolong kaum minoritas dan kemudian disebut “penduduk pribumi”. Di sebagian besar wilayah daratan Asia Tenggara,para penutur Austroasia(mon-khmer) merupakan “penghuni tertua”. Periode pra-Austroasia adalah zaman batu.
Burma
            Etnosejarah berbagai kelompok di Burma penuh dengan spekulasi. Leluhur etnis mayoritas Burma berasal dari Tibet. Persis seperti pendahulu mereka yaitu etnis Pyu. Baik etnis Pyu maupun Burma adalah penduduk dataran rendah. Mereka menguasai kota dan kerajaan yang mendominasi catatan sejarah Burma. Dataran tinggi Burma dihuni berbagai kelompok etnis penutur bahasa Tibet- Burma atau Mon-Khmer dan etnis Shan yang merupakan penutur Tai sekaligus penganut Buddha Theravada. Penduduk tertua wilayah Burma modern adalah etnis Wad an Palaung. Beberapa minoritas Burma terpenting lainnya adalah penutur Tibet- Burma. Kelompok mayoritas di dataran tinggi adalah etnis Shan. Etnis Shan memiliki struktur social-politik paling berkembang di antara etnis-etnis dataran tinggi Burma. Kelompok penting lainnya yang ditemukan di dataran tinggi Burma adalah Karen.
Kamboja
Kasus di kamboja sangat ertolak belakang karena penduduk dataran rendah dan dataran tingginya berasal dari etnis Mon-Khmer yang sama. Di kamboja,minoritas dataran tinggi ini terkosentrasi di daerah timur laut. Salah satu minoritas terbesar,etnis Kuy yang menetap di perbatasan Thai. Dataran tinggi di wilayah timur laut adalah rumah bagi populasi kecil etnis Jarai dan Rhade. Di daerah-daerah dataran rendah Kamboja terdapat pula kantong-kantong etnis muslim Cham,juga etnis Lao di sepanjang perbatasan utara.
Negeri Thai
            Para penutur Tai muncul, mendominasi daerah-daerah dataran rendah Thailand dan Laos, mempengaruhi sistem politik dan budaya di kedua wilayah itu. Dua area di wilayah daratan Asia Tenggara menjadi lokasi pergeseran penduduk yang paling signifikan. Keduanya adalah Laos dan Thailand Utara modern. Wilayah Thailand ini diyakini pernah dihuni etnis Mon dan Lawa-etnis Lawa juga termasuk kelompok penutur Mon-Khmer. Laos memiliki populasi penutur Mon-Khmer yang beragam. Kelompok-kelompok penutur Mon-Khmer ini adalah keturunan penduduk asli Laos modern.
Vietnam
            Daerah-daerah dataran tinggi di Vietnam timur laut pada dasarnya adalah bagian dari negeri Tai dengan dua kelompok utamanya, Thai Hitam dan Putih. Walaupun rakyat Vietnam menggunakan bahasa Mon-Khmer, umumnya diyakini bahwa akar budaya pra-Cinanisasi mereka sama dengan etnis Tay dan Nung. Kelompok etnis paling terkenal adalah E-de(Rhade) dan Gia-rai(Jarai).
Orang Gunung “Terbaru”
            Pola permukiman yang disebutkan di atas sudah ada selama kurang lebih 1.000 tahun terakhir. Jauh lebih tua dibandingkan hampir semua kelompok masyarakat selain etnis Tai. Lima kelompok utama adalah Hmong, Yao(Mien), Lahu, Lisu dan Akha. Sebagai pendatang terbaru, mereka terpaksa menetap di daratan tertinggi yang bisa dihuni yaitu dia atas daerah yang dihuni para penutur Mon-Khmer atau Tai dataran tinggi. Komunitas Kristen dapat ditemukan dalam kelima kelompok ini, terutama etnis Hmong.
Negeri Kepulauan
            Bahasa Melayu beserta hampir semua bahasa asli Indonesia dan Filipina termasuk keluarga Austroasia. Keragaman etnis di negeri kepulauan ini sangat besar, termasuk perbedaan tegas antara berbagai kelompok yang ada dalam konteks kebudayaan dan ceruk ekologinya. Istilah “Melayu” sendiri sangat cair dan telah digunakan pada waktu berbeda untuk menyebutkan kelompok-kelompok berbeda yang menjadi penutur bahasanya masing-masing. Kelompok penutur Austroasia lainnya biasa disebut “senoi”. Sejarah Asia Tenggara tidak bisa diceritakan dengan sekadar mengulas seputar masyarakat dataran rendah yang tinggal di kota besar, kota keil dan pedesaan. Sebagian besar kelompok yang tinggal di luar daerah dataran rendah berinteraksi dan menjalin kontak dagang dengan penduduk dataran rendah. Upaya untuk merekonstruksi sejarah multietnis yang harus mempertimbangkan peran dan signifikan kelompok-kelompok yang menghuni ceruk-ceruk ekologi berbeda adalah tugas paling menantang yang dihadapi para sejarawa Asia Tenggara masa kini.

2
Pembentukan Negara Kuno
Pendahuluan: Pendekatan terhadap Sejarah Kuno Asia Tenggara
            Protosejarah menunjukkan periode ketika sebuah kawasan tertentu belum menghasilkan catatan tertulisnya sendiri tetapi minimal sudah muncul dalam sumber-sumber asing. Informasi cukup terperinci tentang kawasan ini dapat ditemukan dalam sumber-sumber Cina sejak abad ke-3 dan ke-4. Prasasti dalam bahasa sansekerta dan bahasa-bahasa setempat muncul tidak lama kemudian. Kedua bahan ini menjadi sumber utama pengkajian sejarah kuno Asia Tenggara meski masing-masing memiliki masalah tersendiri. Tulisan para sejarawan Barat selama paruh pertama abad ke-20 untuk merekonstruksi narasi masa lalu Asia Tenggara sangat bergantung pada naskah-naskah Cina. Para cendekiawan umumnya menerima pandangan Cina bahwa kawasan ini dipenuhi “kerajaan” dan “imperium” dengan berbagai ukuran, diperintah “dinasti” dan “birokrasi” turun-temurun serta kemungkinan memiliki pola yang sama dengan Kerajaan Pertengahan. Telah lama disadari bahwa sejarah kuno Asia Tenggara sangat dipengaruhi kebudayaan Cina(di Vietnam) dan India(di hampir semua tempat lainnya dikawasan ini). Bagi Coedes, narasi sejarah Asia Tenggara dimulai sejak kedatangan kebudayaan India. Setidaknya, terdapat dua konsekuensi penting dari perubahan ini. Pertama, para sejarawan sekarang menekankan pada proses perubahan budaya secara bertahap yang bergerak dari masa prasejarah ke protosejarah. Kedua, aktivitas ekonomi yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara dengan Samudera Hindia dan tempat lain selama beberapa abad sebelum dimulainya Indinisasi budaya semakin banyak diperhatikan. Diyakini bersama bahwa Asia Tenggara pada periode protosejarah identik dengan kesukuan.
Indianisasi
            Pengaruh kebudayaan India tersebar luas di kawasan Asia Tenggara. Sebagian sejarawan lebih menyukai istilah “Sansekertanisasi” karena bukti kongkret paling awal adalah munculnya prasasti dalam bahasa Sansekerta di berbagai tempat di Asia Tenggara. Sebagian lainnya lebih menyukai istilah “Hindunisasi” karena fenomena ini juga ditandai dengan masuknya konsep dewa-dewa Hindu seperti Siwa, Wisnu, dan Brahma. Jadi, “Indianisasi” di India adalah proses interaksi sekaligus sinkretisme antara kepercayaan dan konsep local dengan kepercayaan dan konsep yang datang dari luar kawasan tertentu. Ini terbuti dengan beragamnya pengaruh seni dan bahasa yang ditemukan dalam artefak-artefak kuno kawasan ini. Upaya untuk menentukan titik akhir Indianisasi bahkan lebih sulit lagi, tetapi dapat diperkirakan bahwa pada akhir milennium pertama pengaruh Hindu dn Buddha secara langsung dari India sudah sangat berkurang. Indianisasi di Asia Tenggara maritime jauh lebih selektif. Jawa dan Bali adalah tempat yang paling terpapar kebudayaan India. Inti Indianisasi adalah penerimaan praktik-praktik agama India, baik berupa pemujaan dewa-dewa Hindu ataupun Buddha. Persebaran agama-agama India disertai banyak unsur budaya lainnya.
Dari Protosejarah ke Sejarah Kuno
            Ketika masyarakat-masyarakat berpemerintahan muncul untuk pertama kalinya pada abad-abad pertama Masehi, masyarakat tersebut pada dasarnya adalah versi lebih kecil dari kerajaan dan kekaisaran yang mendominasi kawasan pada millennium kedua. Sebagian besar informasi mengenai masyarakat berpemerintahan berasal dari catatan-catatan Cina dan prasasti-prasasti lokal. Fokus utamanya adalah apa yang sering disebut “raja dan pertempuran” dengan asumsi bahwa inilah aspek-aspek terpenting yang menjadi tulang punggung bagi narasi-narasi ini. Dinasti bangkit dan jatuh,monarki memerintah hingga wafat atau takhtanya digulingkn,perbatasan kerajaan dan imperium ini meluas atau menyempit melalui operasi militer, anekasi dan kehilangan wilayah. Bukannya tersebar dengan batasan pasti dan relative konsisten selama pergantian pemerintahan, kewenangan dan kendali pusat malah menguat dan melemah tergantung pada kekuataan dan karisma seorang penguasa. Itu sebabnya, bentuk dan struktur masyarakat berpemerintahan kuno di Asia Tenggara ini dapat dianalogikan dengan “akordeon”. Oleh karena itu, pemetaan Asia Tenggara kuno dalam konteks entitas-entitas besar dengan perbatasan tetap lebih sulit dari yang dibayangkan.
Pyu
            Etnis yang dikenal sebagai Pyu adalah sebagian dari penduduk tertua yang diketahui mendiami wilayah yang sekarang menjadi Burma dan Myanmar. Kebudayaan Pyu telah mendahului paparan pertama kebudayaan India dan berkembang hingga awal masa Kerajaan Pagan yang muncul di kemudian hari. Bukti-bukti kuat merujuk bahwa fondasi kebudayaan Pagan pada dasarnya adalah Pyu. Bukti-bukti menunjukkan bahwa Pyu adalah salah satu etnis Asia Tenggara paling awal yang mengadopsi unsur-unsur kebudayaan India. Nama “Beikthano” sendiri berarti “kota wisnu” sementara patung dewa-dewa Hindu dan juga Buddha telah digali di berbagai situs Pyu.
Dwarawati
            Nama sansekerta Dwarawati diasosiasikan dengan sekelompok situs yag tersebar di Thailand tengah(dalam bentuk setengah lingkaran besar mengelilingi Bangkok) dan sebagian Thailand timur laut. Dwarawati telah lama dikenal melalui naskah-naskah tua Cina, tetapi pada 1960-an ditemukan koin-koin yang memuat nama Dwarawati dalam bahasa sansekerta. Dwarawati lebih tepat  dipandang sebagai wilayah budaya daripada kerajaan. Dwarawati diasosiasikan dengan etnis Mon yang merupakan penduduk asli sebagian besar wilayah Thailand modern sebelum migrasi berbagai kelompok penutur Tai. Peninggalan terpenting adalah Dharmachakra(“Roda Dharma” yang mengacu pada ajaran agama Buddha), simbolisasi ikrar(bersifat nazar)pengabdian kepada Buddha dan batu sema(di timur laut) yang menandai batas ruang suci dalam kuil-kuil.
Cham
            Cham pernah menjadi tetangga selatan Vietnam modern. Keberadaan mereka di wilayah daratan telah tercatat sejak sebelum Masehi. Pada awal abad ke-3 M sumber-sumber Cina mencatat keberadaan kerajaan yang mereka kenal sebagai Linyi. Kerajaan ini sepertinya terletak di daerah pesisir tengah, di selatan wilayah Vietnam yang saat itu berada di bawah kekuasaan Cina. Linyi secara umum diakui sebagai Kerajaan Cham Kuni walaupun luas wilayah dan eksitensinya sebagai sebuah entitas terpisah tidak diketahui. Meskipun demikian, sekarang yang lebih umum diterima adalah pandangan bahwa terdapat sejumlah kerajaan Cham yang hidup secara bersamaan di hampir sepanjang sejarah mereka.
Khmer
            Narasi sejarah Kamboja sebelum pendirian Kerajaan Angkor pada awal abad ke-9 telah lama didominasi nama-nama Funan dan Chenla(zhenla). Angkor Borei dan Oc Eo mungkin merupakan bagian dari Kerajaan Khmer kuno, tetapi gambaran abad ke-7 dan ke-8 membuat kisah tentang satu atau bahkan dua “Chenla” menjadi semakin diragukan. Pendirian Angkor pada 802 M adalah titik puncak proses konsolidasi Kerajaan Chenla yang telah terpecah belah, bukan reunifikasi. Bahasa sansekerta banyak digunakan dalam prasasti, baik berdiri sendiri maupun berdampingan dengan Khmer.
Sriwijya
            Semenanjung Malaya(sekarang Thailand Selatan dan Malaysia semenanjung) dan Pulau Sumatera adalah bagian dari jaringan perdagangan subregional yang berkembang pesat, mendahului kedatangan kebudayaan India selama beberapa abad. Negara-negara kota ini diyakini berperan penting dalam merangsang perdagangan dan kemakmuran serta menyebarkan kebudayaan dari luar daerah. Dari geliat ekonomi dan budaya ini lahirlah Kerajaan Sriwijaya yang muncul dalam catatan sejarah pada akhir abad ke-7. Perkembangan Sriwijaya sepertinya terkait langsung dengan perubahan pola perdagangan yang lebih menguntungkan daerah Selat Malaka dan merugikan pesisir delta Mekong, tempat berkembangnya “Funan” di masa sebelumnya. Berbagai sumber membenarkan bahwa Sriwijaya pada dasarnya memang merupakan sebuah kerajaan dagang. Sriwijaya sangat dipengaruhi agama Buddha.
Jawa
            Pada pertengahan abad ke-5 seorang penguasa bernama Purnawarman yang memerintah Kerajaan Tarumanegara meninggalkan serangkaian prasasti berbahasa Sansekerta di berbagai lokasi di Jawa Barat. Periode 700M-900M menjadi saksi pembangunan sejumlah candi penting yang tetap berdiri kukuh di Jawa Tengah selama lebih dari satu millennium selanjutnya. Candi paling terkenal adalah Borobudur dan Prambanan. Situs lain di wilayah tengah Pulau Jwa, Dataran Tinggi Dieng. Pembangunan candi-candi Hindu dan Buddha yang begitu besar dan megah dalam periode yang sama dan di tempat yang tidak terlalu berjauhan menjadi contoh terbaik tentang agama berbeda yang hidup berdampingan di Asia Tenggara kuno.
Cinanisasi Vietnam di Bawah Kekuasaan Cina
            Cinanisasi yang terjadi di daerah yang sekarang menjadi Vietnam Utara dimulai pada awal abad ke-2 SM. Ketika itu, daerah ini terintegrasi ke dalam kerajaan yang dikenal sebagai Nanyue(“Nam Viet” dalam bahasa Vietnam”. Kerajaan ini diperintah seorang kaisar yang menobatkan dirinya sendiri usai jatuhnya Dinasti Qin-dinasti besar dengan masa kekuasaan yang singkat di Cina. Para penguasa baru Han mengkonsolidasikan kekuasaannya di kedua sisi perbatasan Cina-Vietnam modern. Bukti paling nyata berasal dari artefak kebudayaan Dong Son yang tercecer di mana-mana. Bagaimanapun, adalah peristiwa-peristiwa pada abad ke-2 SM yang membawa leluhur orang Vietnam tunduk pada kekuasaan Cina selama hampir 2.000 tahun. Kekuasaan Cina berlangsung hingga awal abad ke-10, ketika jatuhnya Dinasti Tang memberi Vietnam peluang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Aspek Cinanisasi terpenting bagi orang Vietnam adalah apa yang disebut sebagai “sudutpandang” mereka-sistem nilai dan kepercayaan. Inti kebudayaan Cina dibentuk tiga rangkaian nilai yang dikenal sebagai “Tiga Ajaran”(sanjiao): konfusianisme,buddhisme dan taoisme. Sebagian besar unsur sistem kepercayaan ini diteruskan ke dalam kebudayaan Vietnam selama millennium kekuasaan Cina. Jejak kebudayaan Cina di Vietnam sangat beragam. Hampir semua nama keluarga dan nama orang di Vietnam diturunkan dari bahasa Cina. Ironisnya, proses Cinanisasi di Vietnam jauh melampui periode kekuasaan Cina sebenarnya. Bangsa Vietnam muncul dari periode Bac Thouc dengan kemerdekaan politik tetapi dijejali mentalitas yang masih berakar pada dunia Cina, setidaknya pada tingkatan elite.


EmoticonEmoticon