Monday, November 30, 2015

Gajah Mada dan Sejarahnya

Dalam sejarah Indonesia tidak bisa terlepas dari satu tokoh besar bernama Gajah Mada. Gajah Mada menjadi ikon kebesaran kerajaan yang mampu menyatukan nusantara yaitu Majapahit. Gajah Mada berjuang dari bawah yang semula orang biasa berjuang hingga akhirnya berada pada tempat yang bernama Patih.

Sebelum menginjak lebih jauh mengenai profil Gajah Mada ada baiknya kita membahas apa itu Patih. Patih dalam keadaan sekarang mirip dengan Perdana Mentri pada masa kerajaan - kerajaan kuno Indonesia. Selain penamaan patih di Jawa di berbagai daerah juga berkembang istilah yang hampir menyerupai nama patih yaitu Pateeh (Brunai) dan Patti (Maluku).



Patih adalah sebutan jabatan bagi seorang prajurit kepercayaan raja/pengawal pribadi raja/prajurit berilmu sakti/kepala/komandan/pimpinan dari prajurit keraton atau kerajaan. Patih menurut sejarah jawa adalah seseorang yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi,pintar,halus budi tutur kata,bisa sebagai wakil utusan seorang raja. (https://id.wikipedia.org/wiki/Patih )
Kembali ke pembahasan Gajah Mada. Lontar Babad Gajah Mada menyebutkan bahwa orang tua Gajah Mada berasal dari Majalangu. Gajah Mada dilahirkan pada 1221 saka (1299 M) sesuai kalimat yang berbunyi On Cri Caka Warsa Jiwa Mrita Yogi Swaha. Ayah Gajah Mada bernama Curadharmawyasa sedangkan ibunya yaitu Nariratih. Setelah mereka disucikan oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat, nama mereka berganti menjadi Curadharmayogi dan Patni Nariratih dan kemudian keduanya menjadi seorang Brahmana.

Karena Malu kepada gurunya, Mpu Ragarunting dan juga banyak orang atas kandungan Patni Nariratih yang membesar, kemudian suaminya Curadharmayogi mengajaknya mengembara ke hutan yang sunyi dan juga pegunungan. Akhirnya pada suatu malam, kandungan Patni Nariratih semakin membesar dan akan melahirkan. Curadharmayogi kemudian membawanya ke Desa Maddha di kaki Gunung Semeru. Ia kemudian membawa istrinya ke sebuah Bale Agung yang ada di pura atau candi tempat tersebut. Bayi tersebut kemudian dipungut oleh seorang patih dan dibawa ke Majapahit. Anak tersebut kemudian diberi nama Gajah Mada.

Menurut “Lontar Babad Gajah Mada” nama Gajah Mada berasal dari gelar abhiseka yaitu berupa Gajah yang menggambarkan seseorang yang kuat. Sedangkan Mada konon berasal dari kata Maddha yaitu tempat dimana Gajah Mada dilahirkan tepatnya di Desa Maddha, di kaki Gunung Semeru. Ketika Gajah Mada dilahirkan, ia dibawa ke Majapahit oleh seorang patih dan diberi nama sesuai dengan desanya yaitu Maddha. Nama Gajah kemungkinan merupakan julukan atau jabatan (abhiseka) yang menggambarkan karakteristik orang tersebut seperti Kebo Anabrang, Hayam Wuruk, Lembu Tal, Kebo Iwa dan lain – lain. Nama Gajah Mada dapat diartikan sebagai orang kuat yang berasal dari daerah Maddha. Diperkirakan Desa Maddha adalah Tamanstriyan, Wirotaman dan Kepatihan.

Awal karir dari Gajah Mada diawali sebagai bekel atas jasanya menangani pemberontakan Ra Kuti dan menyelamatkan prabu Jayanagara (1309-1328 M) Gajah Mada diangkat menjadi Patih Kahuripan pada 1319 M dan dua tahun kemudian Gajah Mada diangkat menjadi Patih Kediri.

Pada sekitar tahun 1329 M, Patih kerajaan Majapahit sendiri yang bernama Aryo Tadah atau disebut Mpu Krewes mengundurkan dan selanjutnya ditunjuklah Gajah Mada sebagai ganti dari Mpu Krewes. Saat ditunjuk menjadi Patih, Gajah Mada tidak serta merta menyetujui atas pengangkatannya, melainkan ingin memberi suatu jasa terlebih dahulu sebelum diangkat yaitu dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang pada saat itu berada dalam kondisi pemberontakan. Selanjutnya Gajah Mada diangkat menjadi Patih oleh Ratu Tribuwanatunggadewi sebagai patih dari kerajaan Majapahit pada tahun 1334 M.

Pada saat pengangkatan menjadi Patih, Gajah Mada memberikan sumpah yang bernama Sumpah Palapa yakni dengan isi ia baru akan menikmati palapa (rempah - rempah atau kenikmatan duniawi) jika sudah berhasil menaklukkan Nusantara. Sumpah palapa ini tertuang dalam kitab Pararaton berikut :


Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa


Yang artinya (Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.)

Dari sumpah inilah sebagai pelecut semangat kerajaan Majapahit dalam menaklukkan kerajaan - kerajaan di nusantara seperti Bedahulu (Bali), Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan kerajaan - kerajaan lain di pulau sumatra. Lalu Bintan, Tumasik (Singapura, Semenanjung Malaya dan beberapa kerajaan di kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga, Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei dan Malano.

Pada pemerintahan selanjutnya yaitu pemerintahan Hayam Wuruk, Patih Gajah Mada masih meneruskan penaklukan - penaklukan kerajaan di nusantara. Kerajaan - Kerajaan yang ditaklukkan di wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar,  Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Slayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, Dompo.

Patung Gajah Mada di Madakaripura
Selanjutnya dalam Perang Bubat (1357) Prabu Hayam Wuruk akan menikahi Dyah Pitaloka putri Kerajaan Sunda sebagai permaisuri. Rombongan dari Kerajaan Sunda datang ke Majapahit dan menerima lamaran dari Hayam Wuruk untuk melaksanakan pernikahan. Gajah Mada menginginkan agar kerajaan Sunda takluk dan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai persembahan. Namun Kerajaan Sunda tidak menyetujui dan melakukan penolakan hingga berakhir pada pertumpahan darah. Pertempuran yang tidak seimbang menjadikan kekelahan pada pihak kerajaan Sunda dan mengakibatkan Dyah Pitaloka bunuh diri. Oleh sebab ini Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya sebagai patih dari Majapahit.
Gajah Mada meninggal pada 1286 Saka (1364 M). Hal ini didasarkan pada kakawin Negarakertagama pupuh LXXI/1. Dalam kitab Negarakertagama selesai upacara keagamaan Hayam Wuruk di Simping, Hayam Wuruk bertemu Gajah Mada dalam keadaan sakit. Apabila lontar Gajah Mada tersebut benar adanya, maka diperkirakan Gajah Mada meninggal pada usia yang ke 65 tahun.

Wajah Asli Gajah Mada
Tahukah anda bahwa wajah Gajah Mada yang sering kita lihat baik di buku - buku maupun yang lain, itu merupakan gambar ilustrasi dan bukanlah wajah asli Gajah Mada. Ilustrasi wajah Gajah Mada tersebut diperkenalkan oleh tokoh M. Yamin. Lalu bagaimana wajah asli Gajah Mada? Hingga saat ini belum ada yang mengetahui bagaimana wajah asli dari Gajah Mada dan sosok yang ada saat ini yang kita kenal hanya hasil rekaan semata.

Dalam buku Gajah Mada: Biografi Politik karya Agus Aris Munandar di halaman 117 menyebutkan bahwa Gajah Mada berbadan seperti Bima dalam pewayangan. Berbadan tegap, kumis melintang, dan rambut ikal berombak. Agus mengutip dari temuan arca di Trenggalek yang bertanggal 1357 M. Arca tersebut sekarang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

"Di bagian kepala ada ikatan rambut dengan membentuk seperti topi. Menggunakan busana perhiasan gelang dan kelat lengan. Bagian atas berupa ular". Dalam buku tersebut. Menurut Ali Akbar, seorang arkeolog dari Universitas Indonesia, sampai saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bagaimana wajah asili Gajah Mada. "Wajah yang sekarang dijadikan wajah Gajah Mada dan dikenal luas itu berasal dari pecahan terakota (tembikar) atau tanah liat bakar yang ditemukan di Trowulan", kata Ali. Menurutnya di Trowulan banyak ditemukan pecahan terakota yang diantaranya wajah perempuan, laki - laki, binatang dan lain - lain.

Pendapat Yamin kemudian diperkuat oleh Maclaine Pont yang berpendapat bahwa terakota yang ditemukan di dekat Candi Wringin Lawang tersebut dipercaya merupakan tempat rumah dari Gajah Mada. Sah - sah saja Yamin menganggap bahwa terakota tersebut adalah wajah dari Gajah Mada karena orang - orang tidak ada yang tau wajah asli Gajah Mada dan sejarah merupakan interpretasi. Yang menjadi masalah adalah apakah interpetasi tersebut dilakukan dengan metode yang jelas dengan dilengkapi data atau tidak.

Terakota yang ditemukan tidak hanya satu saja, beberapa ditemukan di sekitar situs Trowulan. Terakota tersebut memiliki kemiripan pada wajah – wajahnya. Ditemukannya banyak terakota yang berwajah sama bisa diindikasikan bahwa terakota tersebut merupakan penggambaran dari seseorang yang populer di masa lampau. Sedangkan terakota tanpa mahkota menggambarkan seseorang tersebut bukanlah raja dan diperkirakan adalah Gajah Mada melihat jasa – jasanya yang begitu besar ketika zaman kejayaan Majapahit.
Terakota Gajah Mada

Penggambaran tubuh Gajah Mada yang terkesan gemuk menggambarkan bahwa Gajah Mada pada saat sejahtera dan makmur. Ada yang berpendapat juga bahwa Gajah Mada memiliki tubuh gempal bukan gemuk dan tidak sedikit juga yang menilai bahwa Gajah Mada adalah orang yang kurus, mereka menganggap bahwa Gajah Mada sering melakukan meditasi, topobroto ataupun tirakat dan rata – rata orang yang tirakat memiliki tubuh yang kurus.

Kemungkinan mengapa Yamin mengilustrasikan Gajah Mada merupakan satu langkah untuk mengilustrasikan wajah Gajah Mada untuk digunakan penggambaran figur pemersatu perjuangan Majapahit agar dapat memunculkan semangat kebangsaan terutama pada orang - orang Indonesia. Patung yang menggambarkan Gajah Mada bisa kita lihat di Madakaripura.


EmoticonEmoticon