Monday, January 18, 2016

Historiografi Masa Kolonial


Sumber yang digunakan dalam Historiografi Kolonial
Historiografi kolonial merupakan penulisan sejarah yang membahas masalah penjajahan atas Indonesia oleh Belanda.Penulisan tersebut dilakukan oleh orang Belanda.Bahkan banyak diantara mereka yang tidak pernah berkunjung di Indonesia.Sumber-sumber yang digunakan adalah arsip-arsip di Negara Belanda dan di Jakarta (Batavia).Pada umumnya tidak menggunakan atau mengabaikan sumber-sumber dari Indonesia.Sesuai dengan namanya, yaitu historiografi kolonial, maka sebenarnya kuranglah tepat jika disebut penulisan Indonesia, dan lebih tepat apabila disebut sejarah bangsa Belanda di Hindia-Belanda.

Sumber-sumber historiografi kolonial berasal dari dokumen-dokumen VOC, Geewoon Archief dan Gehem Achief, Wilde Vaart; catatan pelayaran orang orang belanda di perairan, Koloniale Verslagen laporan tahunan pemerintah belanda. Seperti contohya: Orang Belanda menyebut ”pemberontakan” bagi setiap perlawanan yang dilakukan oleh daerah untuk melawan kekuasaan Belanda/ kekuasaan asing yang menduduki tanah airnya. Oleh Belanda itu dianggap sebagai ”perlawanan terhadap kekuasaannya yang sah sebagai pemilik Indonesia”. Seperti Perlawanan yang dilakukan oleh Diponegoro, Belanda menganggap itu sebagai ”Pemberontakan Diponegoro”.

Itulah sebabnya sifat pokok dari historiografi kolonial adalah Eropa sentris atau Belanda sentris.Dalam tulisan yang diuraikan secara panjang lebar adalah aktivitas bangsa Belanda, pemerintahan kolonial, aktivitas para pegawai kompeni (orang-orang kulit putih), dan seluk beluk kegiatan para Gubernur Jenderal dalam menjalankan tugasnya di tanah jajahannya yaitu di Indonesia. Adapun uraian tentang aktivitas rakyat jajahan diabaikan sama sekali.

Karakteristik historiografi masa colonial.
Historiografi kolonial memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan historiografi pada periode yang lainnya.Historiografi kolonial ditulis oleh sejarawan atau orang-orang pemerintah kolonial yang intinya bahwa yang membuat adalah orang barat.Pembuatan historiografi ini dimaksudkan untuk dijadikan sebagai bahan laporan pada pemerintah kerajaan Belanda, sebagai bahan evaluasi menentukan kebijakan pada daerah kolonial.Oleh karena itu motivasinya adalah sebagai bahan laporan maka yang ditulisnya adalah sejarah dan perkembangan orang-orang asing di daerah kolonial khususnya Indonesia. Sangat sedikit hasil historiografi kolonial yang menceritakan tentang kondisi rakyat jajahan, atau bahkan mungkin tidak ada., kalau pun tercatat, orang pribumi itu sangat dekat hubungannya dengan orang asing dan yang telah berjasa pada pemerintah kolonial. Historiografi kolonial dengan sendirinya menonjolkan peranan bangsa Belanda dan memberi tekanan pada aspek politis, ekonomis dan institusional.Hal ini merupakan perkembangan secara logis dari situasi kolonial dimana penulisan sejarah terutama mewujudkan sejarah dari golongan yang dominan beserta lembaga-lembaganya.Interpretasi dari jaman kolonial cenderung untuk membuat mitologisasi dari dominasi itu, dengan menyebut perang-perang kolonial sebagai usaha pasifikasi daerah-daerah, yang sesungguhnya mengadakan perlawanan untuk survival masyarakat serta kebudayaannya.

Ciri dari historiografi kolonial masa Hindia Belanda adalah memiliki sifat Eropa Sentris atau yang lebih fokusnya adalah Belanda Sentris. Boleh dikatakan bahwa sifat ini memusatkan perhatiannya kepada sejarah bangsa Belanda dalam perantauannya, baik dalam pelayarannya maupun permukimannya di benua lain. Jadi yang primer ialah riwayat perantauan atau kolonisasi bangsa Belanda, sedangkan peristiwa-peristiwa sekitar bangsa Indonesia sendiri menjadi sekunder.Sumber-sumber yang dipergunakan ialah dari arsip negara di negeri Belanda dan di Jakarta (Batavia).Pada umumnya tidak menggunakan atau mengabaikan sumber-sumber Indonesia.Fokus pembicaraannya adalah bangsa Belanda, bukanlah kehidupan rakyat atau kiprah bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda. Itulah sebabnya sifat pokok dari historiografi kolonial ialah Eropa sentries atau Belanda sentris. Uraian utama yang dibentangkan secara panjang lebar adalah aktivitas bangsa Belanda, pemerintahan kolonial, aktivitas para pegawai kompeni (orang-orang kulit putih), seluk beluk kegiatan para gubernur jenderal dalam menjalankan tugasnya di tanah jajahan, yakni Indonesia. Aktivitas rakyat tanah jajahan (rakyat Indonesia) diabaikan sama sekali. Contoh historigrafi kolonial, antara lain sebagai berikut:

Contoh karya Historiografi Kolonial
Dari beberapa contoh karya tentang Historiografi Kolonial karya Valentjin (1666-1727) merupakan suatu ikhtisar yang besar mengenai segala sesuatu yang dikenal tentang Compagnie dan kepulauan ini pada permulaan abad ke 18 adalah “Oud en Nieuw Oost Indien” karangan de F. Valentjin Ensiklopedia Hindia Belanda dari masa sebenarnya karya itu merupakan suatu kompilasi yang mengagumkan dari pengumuman, dokumen-dokumen pribadi dan fragmen-fragmen yang dicuri dari karya orang lain yang dikumpulkan oleh sesorang yang mengenal Hindia-Belanda dengan baik.

Valentijn kiranya sangat senang dengan suasana Hindia, dia sendiri juga tidak lepas dari kesalahan. Dia menaruh hati pada kebesaran Campagnie dan pertumbuhan gereja Hindia akan tetapi ia juga mengkritik sejarah Hindia tentang orang-orang tertentu. Dalam karyanya tentang sejarah Maluku ia berdiam bertahun-tahun untuk menulis karya tersebut. Dari banyak peninggalan Jawa kuno yang tercatat dalam babad, interpretasi pertama dan tertua adalah miliki Valentijn. Dari sumber lain yang kami dapatkan dari sebuah buku yang berjudul “Pembantaian Massal 1740” Karya Prof H.M Hembing Wijayakusuma disitu juga menjelaskan tentang Invasi Kompeni VOC yang mencerikatakan tentang awal dibentuknya VOC untuk menghilangkan persaingan internal, dan agar dapat mengeruk keuntungan besar melalui sistem perdagangan monopoli. VOC sendiri merupakan perusahaan raksasa yang merupakan gabungan dari beberapa perusahaan perniagaan jarak jauh yang telah ada sebelumnya.VOC terdiri dari enam bagian wilayah yaiu Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, Rotterdam, Delft, dan Middelburg.Terbentuknya VOC menjadikan praktek monopoli kian meluas. Karena dalam hal ini Belanda mempunyai kekuasaan penuh untuk melakukan apa saja seperti halnya mencetak uang, merekrut pasukan perang, bahkan menimbulkan perang sekalipun. J.P Coen merupakan gubernur jendral VOC yang dianggap paling berjasa selama VOC itu berdiri, karena dia mampu merebut Yogyakarta dari tangan Kesultanan Banten pada saat itu dan dia juga kemudian mendirikan Batavia sebagai pusat perdagangannya. Batavia lambat laun menjadi kota ramai yang terus berkembang. Luasnya kekuasaan VOC membuat tanah yang ada di Batavia saat itu seakan menjadi milik mereka.Dapat dilihat dari betapa pentingnya Batavia bagi Belanda, karena scara langsung atau tidak langsung Batavia merupakan sumber modal bagi Belanda. Warga etnis Tionghoa di Batavia memegang peranan penting dalam perkembangan kota Batavia di bawah sistem ekonomi VOC, baik perdagangan internal maupun eksternal. Namun sejak akhir tahun tiga puluhan abad ke-18, VOC mulai mengalami kemunduran.Keuangan VOC mengalami deficit secara terus-menerus, beban keuangan untuk menyelenggarakan pemerintahan di Batavia jauh melampaui penerimaan.

Akar dari permasalahan ekonomi VOC yang sebenarnya pada saat itu karena adanya usaha tandingan dari pihak Inggris dalam monopoli perdagangan di Eropa.Tandingan dari pihak Inggris bernama EIC (East Indian Compagnie). Selain itu, VOC yang sebelumnya telah memonopoli perdagangan rempah-rempah, sempat berada dalam posisi goyah, karena adanya adanya perbedaan pendapat dikalangan Heren 17 mengenai penetapan harga rempah-rempah agar tetap menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Kesalahan yang terus-menerus dibuat VOC tentunya mengakumulasikan kerugian yang kian membesar di negeri Belanda. Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budi Daya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur JenderalJohannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.

Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda.Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak.Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.

Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda.Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah.Petani yang pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah.Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.

Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember1839.Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya UU Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi dalam sejarah penjajahan Indonesia. Contoh karya yang dihasilkan pada masa historiografi colonial adalah :
Indonesian Trade and Society karangan Y.C. Van Leur.
Indonesian Sociological Studies karangan Schrieke.
Indonesian Society in Transition karangan Wertheim.


EmoticonEmoticon