Saturday, January 23, 2016

Proses Kedatangan Bangsa - Bangsa Barat di Australia - Oceania

Pelayaran-Pelayaran bangsa Portugis dan bangsa Spanyol ke Arah Penemuan benua Australia dan Oceania
Sekalipun Benua Australia sudah ditempati oleh penduduk aslinya selama lebih dari 30.000 tahun, namun bagi orang-orang Eropa eksistensi benua itu masih dalam taraf hipotesis atau spekulasi. Sampai akhir abad ke-15 nampaknya orang-orang Eropa masih berbeda pendapat tentang bentuk bumi. Disatu pihak ada yang setuju dengan tori yang berasal dari zaman klasik yang mengatakan bahwa bumi kita berbantuk bulat dan terbagi dua secara seimbang antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Tokoh yang terkenal yang mengemukakan pendapat ini adalah Ptolemy, seorang ahli matematika dan geografi yang tinggal di Isknadariyah, salah satu pusat helenisme pada masa itu. Dalam abad ke-2 Ptolemy mengemukakan bahwa disebelah selatan khatuslistiwa ada sebuah daratan yang luas untuk mengimbangi daratan-daratan disebelah utaranya. Dimana letaknya secara persis, berapa luasnya serta bagaimana bentuknya, belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu Ptolemy menyebutnya Terra Australis Incognita yang berarti benua atau daratan selatan yang belum dikenal (Hughes,1986, hlm. 43; Scott, hlm. XXV). Mengenai dugaan tentang adanya daratan selatan itu, juga pernah dikemukakan oleh Pomponius Mela, seorang ahli geografi klasik dari abad pertama masehi. Dipihak lain ada yang menolak pendapat ini dengan menerima ajaran yang mengatakan bahwa bumi berbentuk rata seperti tikar. Pendapat mengenai bumi itu bulat banyak mendapat pertentangan terutama dari golongan agamawan.

Ada tiga tokoh agama yang dengan tegas menolak teori bumi berbentuk bulat. Ketiga tokoh itu adalah Lactantius, Santa Augustinus dari Hippo, dan Cosmas Indicopleustes.( Scott, 1966.) dengan anggapan bahwa bumi berbentuk rata, maka mereka menolak anggapan bumi berbentuk bulat. Dengan alasan tidak mungkin ada orang berjalan dengan kaki lebih tinggi dari kepalanya (terbalik) dan pepohonan tumbuhnya ke bawah. Ada juga yang menolak karena itu tidak disebutkan di kitab-kitab suci maupun dilihat dari geografi. Bisa dikatakan bahwa penadapat-pendapat ahli agama ini sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran orang kebanykan di abad pertengahan di Eropa, bahkan sampai abad ke-16.

Perbedaan pandangan tentang bumi ini dengan sendirinya mempengaruhi pendapat tentang eksistensi mengenai Benua Australia. Oleh karena itu pernah di Eropa diterbitkan peta dunia dimana daerah yang seharusnya ditempati Benua Asutralia digambarkan sebagai lautan terbuka. Dipihak lain, pada waktu yang relatif bersamaan ada peta yang menggambarkan daratan luas imaginer yang diberi nama Terra Australis Incognita. Perbedaan pendapat ini terlihat dengan jelas pada empat buah peta yang diterbitkan di Eropa dalam abad ke-16 (Periksa Scott,1943;Bereson dan Rosenblat, 1979.)

Peta-peta berikut menggambarkan dunia dengan isi yang berbeda-beda. Peta pertama adalah peta yang dimuat oleh Robert Thorne dalam tahun 1527. Dalam peta ini ada daratan-daratan yang selayaknya Afrika, Asia, Eropa, dan sebagian Amerika, akan tetapi daerah yang seharusnya menjadi kawasan Australia menjadi lautan yang kosong akan daratan. Ini dimungkinkan bahwa si pembuatnya memang belum tahu akan adanya daratan Australia. Peta kedua adalah peta yang diterbitkan di Prancis enam puluh tahun setelah peta pertama tepatnya pada tahun 1587. Peta ini lebih berkembang lagi dari peta sebelumnya karena ada sebagian Asia Timur yang digambarkan lebih jelas dari peta sebelumnya serta sebagian dari Asia Tenggara. Akan tetapi daratan Australia belum tergambarkan dan masih merupakan lautan yang luas. Peta ketiga adalah terbitan Amsterdam pada tahun 1594 yang menggambarkan Amerika, Eropa, dan Asia. Disebelah selatan daratan itu seolah-olah menghubungkan ujung selatan Afrika dan ujung selatan Amerika, dan juga digambarkan suatu daratan yang sangat luas dan diberi nama Terra Australis. Peta keempat dibuat tahun 1595 oleh Hondius. Dia adalah orang Belanda yang tinggal di London. Peta ini diterbitkan dalam rangka menggambarkan pelayaran Francis Drake mengelilingi dunia. Dalam peta ini nampak Irian sudah menjadi sebagai suatu pulau ditempat yang sebenarnya walaupun bentuknya kurang sesuai. Disebelah selatannya, dengan dipisahkan oleh sebuah selat, nampak suatu daratan luas yang disebut Terra Australis. Bentuk daratan itu tak sebagaimana bentuk Australia sebenarnya.

Kedua peta pertama sekiranya dapat dianggap sebagai pandangan yang mewakili pandangan orang Eropa yang tidak setuju dengan pendapat Antipodes, sedangkan dua yang terakhir nampaknya mewakili pihak yang setuju. Hal lain yang dapat disimpulkan mengenai apa yang digambarkan oleh beberapa peta-peta tersebut adalah sampai akhir abad ke-16 orang Eropa belum mengetahui sedikitpun tentang Benua Australia, baik yang menerima Antipodes maupun yang menolak, mereka sama-sama tidak mengethaui Australia yang sebenarnya.

Untuk memahami bagaimana pertentangan kedua spekulasi atau hipotesis tentang daratan selatan itu, serta bagaimana akhirnya Benua Australia ditemukan oleh orang-orang Eropa, perlu diikuti sepintas fakta-fakta sejarah yang berkaitan dengan perluasan kegiatan maritim, perdagangan, dan kolonisasi yang dilakukan oleh orang-orang Eropa setelah berakhirnya zaman pertengahan. Para pelaut Eropa mencoba melakukan penjelajahan samudra untuk menemukan dunia timur sebagai tempat gospel, gold, dan glory. Keinginan dan usaha para pelaut itu mendapat dukungan dari para pemimpinya. Pelaut-pelaut dari Spanyol mendapat dukungan dari rajanya, Ratu Isabela. Sementara para pelaut Portugal termotivasi oleh seorang keluarga kerajaan yang merupakan tokoh pelaut yakni Pangeran Henry, yang mempunyai julukan Henry Pelaut (Henry Nairkator). Hal itulah yang menyebabkan pelaut dari Spanyol dan Portugal tampil sebagai pelopor dalam upaya mencari dunia timur. Baru kemudian disusul oleh pelaut-pelaut Eropa yang lain. Selama abad ke-15 dan ke-16 terjadi sutau rangkaian peristiwa penting tentang pembukaan jalan laut baru dari Eropa ke “dunia timur’ dan ke “daerah-daerah baru”. Pedagang-pedagang Eropa bersaing secara tajam untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan barang-barang seperti sutera, rempah-rempah, emas, permata dan gula serta barang-barang lain yang dihasilkan oleh dunia timur dan diperlukan oleh orang-orang Eropa. Pada mulanya pedagang-pedagang Venesia dan Genoa serta pedagang-pedagang Italia lainnya menjadi distributor utama brang-barang itu kepasar-pasar Eropa, akan tetapi perubahan yang terjadi di pantai timur laut tengah sesudah tahun 1453, mendorong terjadinya perubahan baru. Pelaut-pelaut Portugis berupaya mencari dan menemukan jalan ke sumber barang-barang dagangan tersebut, yaitu India, Indonesia dan Cina. Keberhasilan Bartolomeus Diaz mencapai Tanjung Harapan, kemudian disusul bahkan dilewati secara sukses oleh Vasco de Gamma yang mencapai India pada tahun 1498. Semua hal tersebut ini memberikan kesempatan bagi Portugis untuk memperoleh kedudukan di India, malaka, dan Maluku (Indonesia). Sejak saat itu, garis pelayaran Eropa-Tanjung Pengharapan Baik-Pantai Timur Afrika sampai ke Ormuz-India-Malaka-Maluku, merupakan garis pelayaran yang rutin bagi pelaut-pelaut Portugis. Kalau diperhatikan posisi Australia terhadap garis pelayaran Portugis ini, maka sesungguhnya bagi orang-orang Eropa penemuan jalan laut baru ke timur oleh pelaut-pelaut Portugis ini merupakan langkah penting ke arah penemuan Benua Australia.

Dengan tujuan mendapatkan jalan yang lebih pendek ke dunia timur, Christoper Columbus, seorang Genoa Italia yang bekerja pada dinas Spanyol, mengusulkan untuk berlayar terus kearah barat. Dia mengemukakan argumentasi bahwa jika memang benar dunia bulat, maka sebuah kapal yang berlayar terus ke barat dari Eropa akan sampai ke pantai Asia Timur. Argumentasi Columbus ini benar, tetapi satu hal yang dia tidak tahu adalah bahwa dengan berlayar ke arah barat memotong lautan Atlantik, maka Benua Amerika akan menjadi penghalang untuk sampai ke Asia. Itulah sebabnya ketika tiga buah kapal beserta anak buahnya diberikan kepadanya, dia melakukan pelayaran seperti yang diargumentasikannya itu. Ketika dia sampai di Amerika Tengah, dia mengira bahwa dia sudah sampai di Cina yang dalam hal ini merupakan bagian dari Asia. Sampai akhir hayatnya Columbus tidak pernah menyadari bahwa dia tidak sampai ke Cina dan juga tidak menyadari bahwa dia sudah menemukan Benua Amerika.

Pelaut yang bekerja untuk Bangsa Spanyol adalah Magellan. Dialah orang Eropa yang pertama yang melewati ujung selatan Benua Amerika lalu memasuki Samudra Pasifik, dan dia pulalah yang memberi nama samudra itu dengan nama el marine el marno pasifico (hughes, 1986). Rombongan Magellan ini berhasil sampai ke Filipina dimana kemudian Magellan meninggal. Dibawah kepemimpinan Del Cano, sisa rombongan Magellan meninggalkan Filipina dan berlayar ke selatan menuju ke Kepulauan Maluku. Mereka berhasil menemukan asal rempah-rempah yang mereka dambakan itu, namun segera meninggalkannya untuk menghindari bangsa Portugis. Akhirnya dengan sebuah kapal yang bernama Victoria, Del Cano bersama anak buahnya yang tinggal sedikit berhasil memotong Samudera Hindia, selanjutnya melewati Afrika Selatan kembali ke Spanyol (1522). Rombongan inilah yang pertama kali berhasil membuktikan bahwa dunia berbentuk bulat, sehingga seharusnya sesudah itu tidak ada lagi kesangsian tentang itu. Dengan demikian, penemuan jalan laut dari Eropa ke dunia timur sebagaimana dibuka oleh pelaut-pelaut Spanyol ini merupakan peristiwa penting kedua ke arah penemuan Benua Australia dan mereka juga tidak sadar telah menemukan Oceania oleh orang-orang Eropa.

Sejauh yang dapat diketahui, pelaut-pelaut Portugis tidak memperlihatkan tanda-tanda atau mengkhailm bahwa mereka menemukan Australia. Di wilayah yang relatif dekat dengan Austrlia kegiatan bangsa Potugis terpusat di Maluku saja. Rupanya mereka sudah merasa cukup puas dengan segala hasil yang telah mereka capai pada waktu itu, atau mungkin juga mereka tidak mau melanggar perjanjian Saragosa yang memperbaiki perjanjian Tordesilas, sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa mereka menemukan daerah yang baru lebih jauh lagi dari Maluku. Dalam kaitan ini bangsa Spanyol melangkah lebih jauh.

Setelah mempunyai kedudukan di Amerika, raja muda Spanyol, yaitu orang yang memegang kekuasaan di wilayah kekuasaan Spanyol di Amerika, biasa memberangkatkan ekspedisi untuk menemukan daerah-daerah baru. Dalam tahun 1567 satu ekspedisi yang dipimpin oleh Alvaro de Mendala diberangkatkan dari Peru. Ekspedisi ini berhasil menemukan kepulauan Solomon. Pulau terbesar dari kelompok kepulauan yang ditemukannya itu diberi nama Guadalkanal, walaupun mereka tidak mengetahui pada waktu itu apakah Guadalkanal merupakan sebuah pulau atau bagian dari suatu bagian daratan luas. Di pulau ini mereka melihat emas, namun mereka tidak mengetahui apakah emas itu asli dari pulau itu atau dibawa orang dari luar. Secara sengaja Alvaro de Mendana menyebut gugusan pulau itu Kepulauan Solomon (Oceania) sebagai suatu cara untuk mengatakan bahwa dari sanalah Raja Sulaiman (Solomon) mengambil emas yang digunakan menghiasi altar bait Alloh di Yerusalem. Dengan demikian, dia berharap agar bangsa Spanyol makin bergairah mendudukinya, karena dia berpendapat bahwa menduduki kepulauan Solomon akan mendatangkan keuntungan bagi bangsa Spanyol. Rupanya Pemerintah Spanyol terpengaruh juga dengan pendapat Mendana itu. Pada tahun 1595 dia ditugaskan lagi memimpin ekspedisi kedua yang bertujuan menegakkan kekuasaan Spanyol di Kepulauan Solomon. Dalam ekspedisi kedua ini, dia berhasil menemukan lagi Kepulauan Marquesas, namun dalam usahanya memnemukan kembali kepulauan Solomon dia meninggal di Santa Cruz, suatu kelompok kecil pulau-pulau yang terletak di sebelah tenggara Kepulauan Solomon.

Salah seorang perwira yang ikut dalam ekspedisi Mendanai yang kedua itu adalah Pedro Fernandes Dequiros. Dia sebenarnya adalah orang Portugis yang mengabdi kepada Bangsa dan Pemerintah Spanyol (Hughes, 1986, halaman 145). Dia percaya akan adanya daratan selatan yang menurutnya membentang sekitar kepulauan Solomon ke Selat Magellan. Selanjutnya ia berpendapat bahwa menemukan daratan selatan itu akan mendatangkan keuntungan bagi Spanyol. Terpengaruh oleh pendapatnya itu, raja Spanyol, Philip III menunjuk dia memimpin suatu ekspedisi yang terdiri dari tiga buah kapal untuk melakukan kolonisasi di Santa Cruz serta mencari daratan selatan atau Terra Australis itu.

Pada tanggal 21 Desember 1605, ekspedisi Dequiros diberangkatkan dari Peru. Perwira yang menjadi wakil pemimpin ekspedisi ini adalah Luis de Torres. Tanpa sebab-sebab yang dapat diketahui secara jelas, rupanya anak buah Dequiros melakukan pemberontakan dan memaksa kapal yang ditumpanginya kembali. Dengan mengambil pimpinan dari Dequiros, Torres memutuskan untuk tidak kembali sebelum melakukan sejumlah eksplorasi. Dia menyadari bahwa keputusannya ini bertentangan dengan sebagian besar anggotanya. Namun kepercayaan kepada diri sendiri dan rasa kemampuan untuk memimpin yang dimillikinya dia tidak melakuakan seperti apa yang dilakuakn Oleh Dequiros (Scott, 1943).

Sesuai dengan tekadnya itu, setelah mengetahui bahwa tempat dia berada itu adalah sebuah pulau , bukan bagian dari suatu daratan yang luas, Torres berlayar terus dan memasuki peraiaran di sebelah selatan Irian. Selama dua bulan dia berlayar melewati karang-karang dan pulau-pulau yang berbelok-belok dan berbahaya di selat itu. Tidak ada bukti bahwa Torres melihat daratan Australia dalam pelayarannya itu. Pada garis pelayarannya itu, Torres hanya mungkin dapat melihat daratan Australia apabila dia naik tiang atau gunung setinggi 750 kaki. Torres tidak melihat apalagi menemukan Australia, namun namanya diabadikan pada selat yang memisahkan Austrlia dan Irian yaitu Selat Torres. Meskipun demikian, pelayaran-pelayaran Bangsa Spanyol selama abad ke 16 telah meletakkan atau membuka jalan bagi penemuan Australia di kemudian hari.

Pelayaran-pelayan dan penemuan-penemuan yang dilakukan oleh orang-orang Belanda
Pada saat Belanda perang melawan Spanyol yang dinamakan Perang 80 tahun atau Perang Kemerdekaan Belanda (1568 sampai 1648). Posisi Belanda didalam perekonomian Eropa sangat berpengaruh, karena Belanda adalah distributor saat pelaut-pelaut Spanyol mendatangkan rempah rempah dari timur yang mana Belanda mengauasai pelabuhan Lisabon. Pada saat itu Raja Spanyol menutup pelabuhan itu agar perdagangan Belanda kacau balau dan tidak akan mampu lagi membiayai perang. Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya. Penutupan lisabon bagi kapal-kapal Belanda justru mmendorong Belanda untuk mencari sendiri jalan ke timur atau Indonesia. Orang-orang Belanda yang pernah bekerja pada kapal-kapal Portugis membantu usaha Belanda menemukan jalan ke Indonesia. Conelius de Houtman dan John Linschoten termasuk diantara orang-orang Belanda yang pernah bekerja untuk bangsa Portugis di Asia. Cornelius de Houtman pernah menjadi mualim kapal Portugis sedangkan Jan van Linschoten pernah menjadi pekerja untuk bangsa Portugis di Asia selama 14 tahun. Cornelius de Houtman adalah pimpinan pelayaran Belanda yang pertama kali sampai di Indonesia pada tahun 1596. Garis pelayaran yang diikuti Houtman ke Indonesia dengan melewati Selat Sunda adalah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Van Linschoten dalam bukunya yang berjudul Itinerario.

Keberhasilan pelaut-pelaut Belanda ke Indonesia juga merupakan langkah penting ke arah Australia. Setelah mereka mempunyai kedudukan di Pulau Jawa dan Maluku, mereka mulai melakukan usaha- usaha eksplorasi untuk mendapatkan kemungkinan memperoleh keuntungam yang lebih besar lagi. Dalam pada itu, bukan musrahil mereka juga berusaha mencari daerah selatan yang misterius itu tentu dengan harapan akan memperoleh keuntungan materil yang lebih banyak lagi.

Selanjutnya kapal Belanda yang pertama kali mengunjungi pantai Australia adalah Duyfken. Dibawah pimpinban William Jansz, kapal ini berngakat dari salah satu pos Belanda di Indonesia untuk menyelidiki pantai Selatan Irian. William Jansz dan anak buahnya inilah Orang Eropa yang pertama sekali atau menemukan benua Australia pada saat iru, anak buah Jansz saat mendarat di Australia mati terbunuh oleh orang-orang asli, maka dapat disimpulkan bahwa penduduk asli negeri itu buas, kasar, orang hitam yang bengis dan biadab.

Di tahun 1611, Hendrik brouwer ( kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC), secara kebetulan menemukan jalan laut baru untuk mencapai Laut Jawa. Gambarannya setelah melewati Tanjung Harapan kapal terus berlayar ke arah timur sejauh kira-kira 3000 mil baru kemudian memutar haluan ke arah utara untuk mencapai Pulau Jawa. Ternyata dengan pelayaran ini bangsa-bangsa Belanda sering melihat atau bahkan mungkin tidak sengaja akan mendarat di pantai barat Australia sebelum mencapai Jawa. Ada salah satu pelayaran yang dipimpin oleh kapten Dirk Hartog yang mendarat di pulau-pulau yang kemudian dinamakan Hartog Island. Kemudian Hartog menancapkan sebuah tiang dan tiang itu ditempelkan sebuah piring yang bertuliskan tanggal 25 Oktober 1616. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa catatan tersebut adalah catatan tertua di Austrlia oleh bangsa Eropa. Setelah itu banyak sekali pelayaran- pelayaran yang dilakukan oleh orang Belanda guna mencari daerah yang misterius itu untuk dieksplorasinya. Suatu ketika untuk keperluan eksplorasi itu, gubernur jendral VOC memilih seorang pelaut yang bernama Abel Tasman.

Abel Tasman berangkat dari Batavia pada tanggal 14 bulan 8 tahun 1642. Dengan memootong Samudra Hindia, Tasman mula-mula menuju Maurithius dan kemudian di sana membelokkan pelayarannya ke arah Australia. Pada tanggal 21 November 1642, Tasman menemukan daratan yang sekarang kita kenal dengan nama Pulau Tasmania. setelah menyusuri separuh dari pulau itu, pada tanggal 4 Desember Tasman meninggalkannya dan meneruskan ke arah timur. Sembilan hari kemudian, mereka sampai di Pantai South Island (New Zealand). Setelah itu, bisa dikatakan bahwa Abel Tasman seorang penemu Pulau Tasmania dan new Zealand. Kemudian rombongan kapal meninggalkan pulau itu dan meneruskan pelayarannya menuju Pasifik. Setelah singgah di Friendly Island dia kembali ke Batavia dengan menyusuri pantai utara Irian dan tiba di Batavia tanggal 15 juni 1643.

Setelah pelayaran-pelayaran Abel Tasman itu, bangsa Belanda mulai menggunakan istilah New Holland untuk menyebut daratan Australia. Kesan mereka terhadap New Holland adalah daratan gersang, sehinngag orang-orang Belanda tidak terangsang untuk menduduki Austrlia. Dalam kaitan ini, perlu diingat bahwa tujuan utama Belanda datang ke dunia timur adalah untuk memperoleh keuntungan maetriil sebanyak-banyaknya. Maka segal bentuk pelayaran orang-orang Belanda ditiadakan karena akan menghambur-hamburkan uang.

Bisa dikatakan bahwa orang-orang belanda seperti Abel Tasman dan lain-lain adalah orang-orang yang berhasil membukakan pintu bagi pelaut-pelaut selanjutnya dalam memanfaatkan benua Australia untuk penghidupan dikemudian harinya.

Pelayaran-pelayaran dan Penemuan Orang-Orang Inggris
Setelah ekspedisi Tasman, untuk beberapa saat lamanya cerita tentang penemuan benua Australia dapat diibaratkan dengan malam gelap tak berbintang, namun kurang dari setengah abad kemudian kesepian itu dipecahkan oleh secercah sinar redup yang berasal dari seorang bajak laut berkebangsaan Inggris bernama Wiliam Dampiere. Setelah itu Dampier kembali ke Inggris dengan menerbitkan suatu tulisan tentang pelayarannya itu. Tulisannya itu tepat sekali waktunya, karena rupanya pada saat itu pemerintah Inggris sudah mulai memikirkan untuk mendapatkan daerah didekat Indonesia untuk tidak membiarkan seluruh keuntungan perdagangan diwilayah ini dikuasai oleh Belanda. Oleh karena itu pemerintah Inggris terdorong untuk menyelidiki New Holland. Dalam tahun 1699 Pemerintah Inggris, dalam hal ini angkatan laut Inggris mempercayakan kapal (Roebuck) di bawah komando Dampier untuk menyelidiki New Holland. Tanggal 6 agustus 1699 Dampier berhasil mendarat disuatu tempat yang kemudian dia sebut sebagai Shark’s Bay, karena ditempat ini mereka menangkap dan memakan ikan hiu. Selama kurang lebih empat bulan, Dampier menyusuri Bantai Barat dan Pantai Utara New Holland. Dalam tulisannya setelah ia kembali lagi ke Inggris tidak ada terbaca hal-hal yang mendorong untuk melakukan kolonisasi disana. Setelah pelayaran dampier kedua ini, Australia kembali menjadi sepi selama kurang lebih 70 tahun, sampai suatu saat muncul pelaut yang namanya tak dapat dipisahkan dari sejarah penemuan benua Australia.

Setelah itu muncullah seorang pelaut ulung asal Inggris bernama James Cook yang dipercaya oleh Pemerintah Inggris untuk melakukan pelayaran ke benua misterius itu. Kapal disiapkan berbobot 370 ton. James Cook diperintahkan berlayar menuju Tahiti untuk mengamati “Transit of Venus” yang merupakan tugas pertamanya. Tugas kedua adalah berusaha melakukan penemuan di Pasifik Selatan dengan berlayar terus sampai ke garis lintang selatan 40°. Dengan perkataan lain, ia ditugaskan mencari “Terra Australis Incognita”, daratan luas yang diyakini membentang di dekat kutub selatan. Apabila ia tidak menemukan daratan, barulah ia melakukan tugas selanjutnya, yaitu menyelidiki new Zealand yang sudah ditemukan oleh Abel Tasman. Sesudah itu ia bolah pulang. Jadi menyelidiki New Holland tidak termasuk tugas James Cook.

James Cook Berangkat dari Inggris pada tanggal 26 agustus 1768. Tujuan pertama pelayarannya ialah Tahiti dimana ia akan melakukan tugas pertamanya yaitu mengamati “Transit of Venus”. Rombongan Cook sampai di Tahiti bulan April 1769 dan menyaksikan terjadinya “Transit of Venus” pada permulaan Juni tahun itu juga. Setelah tugas ini selesai James Cook mulai bergerak mencari “daratan selatan”. Untuk itu ia berlayar ke arah selatan sampai garis yang telah ditentukan tetapi dia tidak menemukannya. Udara sangat dingin serta cuaca tidak mendukung menyebabkan ia tidak melanjutkan pelayarannya dan memutuskan menyelidiki new Zealand yang sudah ditemukan Tasman.

Pada bulan Oktober 1769 Cook berhasil mencapai New Zealand dan mendarat di pantai timur Nort Island (Pulau Utara). Dari sana ia melanjutkan pelayarannya kearah utara dan berhenti sejenak disebuah teluk, di sini ia menyaksikan lagi peristiwa astronomis lain yaitu Transit of Mercury. Ia mengelilingi Nort island dan South Island selama enam bulan dan dengan demikian ia berhasil meyakinkan dirinya bahwa New Zealand bukanlah bagian dari daratan luas sebagimana diduga sebelumnya dari sana ia meneruskan pelayaran untuk menyelidiki Van Diemen’s lands pada hari pertama April 1770. Oleh karena ombak di Laut Selatan yang besar, ia gagal mencapai Van Diemen’s Lands. Namun ia sampai ke pantai timur Australia, pantai yang belum pernah didatangi oleh orang Eropa. Ia mendarat di suatu tempat, kira-kira di perbatasan New South Wales dengan Victoria sekarang. Mereka mendarat di Teluk Stingray Harbour yang kemudian diganti nama dengan Botany Bay. Dinamakan Botany Bay karena banyaknya tumbuh-tumbuhan yang dikumpulkan Joseph Banks bersama Solander dari sekitar teluk itu. Dari Botany Bay, Cook menuju ke arah utara dengan menyusuri pantai timur Australia. Setelah melewati ujung Semenanjung York pada sebuah pulau yang diberi nama Possession Island, Cook menancapkan bendera Inggris sambil mengklaim seluruh daerah itu menjadi milik inggris. Cook memberi nama daerah itu New South Wales dan peristiwa ini terjadi tanggal 23 agustus 1770. Dari sana Cook menuju Batavia. Setelah beberapa hari di Batavia, Cook kembali ke Inggris melalui Tanjung harapan dan tiba di Inggris tanggal 13 juli 1771.

Penemuan Cook ini sangat berarti. Laporan-laporan mereka tentang daerah New South Wales menimbulkan kesan yang sangat berbeda dengan kesan pemimpin VOC setelah menerima laporan ekspedisi Tasman. Laporan Cook beserta anggota rombongannya inilah yang mendorong Pemerintah Inggris melakukan kolonisasi disana.

Pada hakikatnya, Cook tidak menemukan Australia. Namun yang lebih pantas diberikan predikat sebagai bangsa yang menemukan Benua Australia adalah Bangsa Belanda. Akan tetapi penemuan Cooklah yang membuka jalan untuk menyelesaikan teka-teki yang dibuka oleh Belanda. Dengan menemukan pantai timur Australia, Cook juga meletakkan dasar bagi negeri ini untuk berkembang seperti saat ini. Dari berbagai uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sekalipun Benua Australia sudah ditempati oleh penduduk aslinya selama lebih dari 30.000 tahun, namun bagi orang-orang Eropa eksistensi benua itu masih dalam taraf hipotesis atau spekulasi. Disatu pihak ada pendapat bumi kita berbantuk bulat dan ada pendapat bahwa bumi berbentuk rata seperti tikar.

Perbedaan pandangan tentang bumi ini menimbulkan terbitnya peta dunia di Eropa yang menjelaskan dimana daerah yang seharusnya ditempati Benua Asutralia digambarkan sebagai lautan terbuka. Dipihak lain ada peta yang menggambarkan daratan luas imaginer yang diberi nama Terra Australis Incognita. Perbedaan pendapat ini terlihat dengan jelas pada empat buah peta yang diterbitkan di Eropa dalam abad ke-16 (Periksa Scott,1943;Bereson dan Rosenblat, 1979.)

Selama abad ke-15 dan ke-16 terjadi sutau rangkaian peristiwa penting tentang pembukaan jalan laut baru dari Eropa ke “dunia timur’ dan ke “daerah-daerah baru”. Perubahan yang terjadi di pantai timur laut tengah sesudah tahun 1453, mendorong pelaut-pelaut Portugis berupaya mencari dan menemukan jalan ke sumber barang-barang dagangan. Keberhasilan Bartolomeus Diaz mencapai Tanjung Harapan, kemudian disusul Vasco de Gamma yang mencapai India pada tahun 1498.

Magellan adalah orang Eropa yang pertama yang melewati ujung selatan Benua Amerika yang telah ditemukan oleh Columbus lalu memasuki Samudra Pasifik, dan memberi nama samudra itu dengan nama el marine el marno pasifico (hughes, 1986). Rombongan Magellan ini berhasil sampai ke Filipina dan dia meninggal di tempat tersebut. Pelayaran kemudian dilanjutkan oleh Del Cano menuju Maluku dan kembali ke Spanyol. Tahun 1567 satu ekspedisi yang dipimpin oleh Alvaro de Mendala diberangkatkan dari Peru oleh Raja Muda Spanyol. Ekspedisi ini berhasil menemukan kepulauan Solomon. Dalam ekspedisi yang kedua, dia Kepulauan Marquesas. Pada tanggal 21 Desember 1605, ekspedisi Dequiros diberangkatkan dari Peru. Perwira yang menjadi wakil pemimpin ekspedisi ini adalah Luis de Torres. Anak buah Dequiros melakukan pemberontakan. Torres mengambil pimpinan dan berlayar terus memasuki peraiaran di sebelah selatan Irian. Setelah dua bulan dia berlayar melewati Torres tidak melihat apalagi menemukan Australia, namun namanya diabadikan pada selat yang memisahkan Austrlia dan Irian yaitu Selat Torres. Meskipun demikian, pelayaran-pelayaran Bangsa Spanyol selama abad ke 16 telah meletakkan atau membuka jalan bagi penemuan Australia di kemudian hari. Penutupan lisabon bagi kapal-kapal Belanda justru mmendorong Belanda untuk mencari sendiri jalan ke timur atau Indonesia. Cornelius de Houtman adalah pimpinan pelayaran Belanda yang pertama kali sampai di Indonesia pada tahun 1596. Setelah mereka mempunyai kedudukan di Pulau Jawa dan Maluku, mereka berusaha mencari daerah selatan. Kapal Belanda yang pertama kali mengunjungi pantai Australia adalah Duyfken dibawah pimpinan William Jansz, dia dan anak buahnya adalah Orang Eropa yang pertama sekali atau menemukan benua Australia. Dia menyimpulkan bahwa penduduk asli negeri itu buas, kasar, orang hitam yang bengis dan biadab.

Di tahun 1611, Hendrik brouwer secara kebetulan menemukan jalan laut baru untuk mencapai Laut Jawa. Gambarannya setelah melewati Tanjung Harapan kapal terus berlayar ke arah timur sejauh kira-kira 3000 mil baru kemudian memutar haluan ke arah utara untuk mencapai Pulau Jawa. Ternyata dengan pelayaran ini bangsa-bangsa Belanda sering melihat atau bahkan mungkin tidak sengaja akan mendarat di pantai barat Australia sebelum mencapai Jawa. Ada salah satu pelayaran yang dipimpin oleh kapten Dirk Hartog yang mendarat di pulau-pulau yang kemudian dinamakan Hartog Island. Kemudian Hartog menancapkan sebuah tiang dan tiang itu ditempelkan sebuah piring yang bertuliskan tanggal 25 Oktober 1616.

Suatu ketika untuk keperluan eksplorasi, gubernur jendral VOC memilih seorang pelaut yang bernama Abel Tasman untuk berangkat ke sana dan berangkat dari Batavia pada tanggal 14 bulan 8 tahun 1642. Tasman mula-mula menuju Maurithius. Pada tanggal 21 November 1642, Tasman menemukan Pulau Tasmania. Tanggal 4 Desember Tasman sampai di Pantai South Island (New Zealand). Kemudian rombongan menuju Pasifik. Setelah singgah di Friendly Island dia kembali ke Batavia dengan menyusuri pantai utara Irian dan tiba di Batavia tanggal 15 juni 1643.

Setelah pelayaran-pelayaran Abel Tasman itu, bangsa Belanda mulai menggunakan istilah New Holland untuk menyebut daratan Australia. Kesan mereka terhadap New Holland adalah daratan gersang, sehinngag orang-orang Belanda tidak terangsang untuk menduduki Austrlia. Bisa dikatakan bahwa orang-orang belanda seperti Abel Tasman dan lain-lain adalah orang-orang yang berhasil membukakan pintu bagi pelaut-pelaut selanjutnya dalam memanfaatkan benua Australia untuk penghidupan dikemudian harinya.

Pelayaran selanjutnya dilakukan oleh seorang bajak laut berkebangsaan Inggris bernama Wiliam Dampiere. Setelah itu Dampier kembali ke Inggris dengan menerbitkan suatu tulisan tentang pelayarannya itu.. Oleh karena itu pemerintah Inggris terdorong untuk menyelidiki New Holland. Tahun 1699 angkatan laut Inggris mempercayakan kapal (Roebuck) di bawah komando Dampier untuk menyelidiki New Holland. Tanggal 6 agustus 1699 Dampier berhasil mendarat disuatu tempat yang kemudian dia sebut sebagai Shark’s Bay.

Australia kembali menjadi sepi selama kurang lebih 70 tahun, setelah itu muncullah seorang pelaut ulung asal Inggris bernama James Cook yang dipercaya oleh Pemerintah Inggris untuk melakukan pelayaran ke benua misterius itu. Kapal disiapkan berbobot 370 ton. James Cook diperintahkan berlayar menuju Tahiti untuk mengamati “Transit of Venus” yang merupakan tugas pertamanya. Tugas kedua adalah berusaha melakukan penemuan di Pasifik Selatan dengan berlayar terus sampai ke garis lintang selatan 40°. James Cook Berangkat dari Inggris pada tanggal 26 agustus 1768. Tujuan pertama pelayarannya ialah Tahiti dimana ia akan melakukan tugas pertamanya yaitu mengamati “Transit of Venus”. Rombongan Cook sampai di Tahiti bulan April 1769 dan menyaksikan terjadinya “Transit of Venus” pada permulaan Juni tahun itu juga. Setelah tugas ini selesai James Cook mulai bergerak mencari “daratan selatan”. Untuk itu ia berlayar ke arah selatan sampai garis yang telah ditentukan tetapi dia tidak menemukannya dan memutuskan menyelidiki new Zealand yang sudah ditemukan Tasman.

Pada bulan Oktober 1769 Cook berhasil mencapai New Zealand dan mendarat di pantai timur Nort Island (Pulau Utara). Dari sana ia melanjutkan pelayarannya kearah utara dan berhenti sejenak disebuah teluk. Ia mengelilingi Nort island dan South Island selama enam bulan. Dari sana ia meneruskan pelayaran untuk menyelidiki Van Diemen’s lands pada hari pertama April 1770, tetapi ia gagal mencapai Van Diemen’s Lands. Namun ia sampai ke pantai timur Australia. Mereka mendarat di Botany Bay. Kemudian Cook menuju ke arah utara dengan menyusuri pantai timur Australia. Setelah melewati ujung Semenanjung York pada sebuah pulau yang diberi nama Possession Island, Cook menancapkan bendera Inggris sambil mengklaim seluruh daerah itu menjadi milik inggris. Cook memberi nama daerah itu New South Wales dan peristiwa ini terjadi tanggal 23 agustus 1770. Dari sana Cook menuju Batavia. Setelah beberapa hari di Batavia, Cook kembali ke Inggris melalui Tanjung harapan dan tiba di Inggris tanggal 13 juli 1771.


EmoticonEmoticon