Friday, January 22, 2016

Re-So-Pim Revolusi Sosialisme Indonesia Pimpinan Nasional

Pidato P.J.M. Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1961 Kamis Djam 8.10 Pagi di Istana Merdeka Djakarta. Pidato Presiden Republik Indonesia tanggal 17 agustus 1961 yang merayakan hari ulang tahun Proklamasi yang ke 17 juga sebagai tahun terakhir dari Triprogram kabinet kerja.lProklamasi merupakan cetusan tekad nasional dari segala kekuatan nasional secara total dan Indonesia telah bertahan sampai sekarang. Proklamasi pada hakekatnya ialah pencetusan pandangan, tujuan, falsafah Indonesia sehingga melahirkan pembukaan Undang-undang dasar 1945. Proklamasi dan Undang-Undang 1945 adalah satu dan mengikat bangsa Indonesia kepada beberapa prinsip. Jika proklamasi adalah sumber kekuatan dan tekat perjuangan maka Undang-undang dasar 1945 memberikan pedoman-pedoman untuk mengisi kemerdekaan nasional atau untuk melaksanakan kenegaraan dan untuk mengetahui tujuan dalam memajukan bangsa.

Prolamasi tanpa Undang-undang 1945 berarti kemerdekaan tidak memiliki falsafah, dasar penghidupan nasional, tidak memiliki arah dan tujuan selain mengusir kekuasaan asing dari bumi pertiwi. Sebaliknya undang-undang dasar 1945 tanpa proklamasi tidak mempunyai arti. Sebab, tanpa kemerdekaan segala falsafah, dasar dan tujuan hanya angan belaka. Proklamasi kemerdekaan tidak hanya memiliki segi negatif atau desktruktif dalam arti membinaakan segala kekuatan dan kekuasaan asing tapi proklamasi melahirkan dan menghidupkan kembali kepribadian bangsa Indonesia baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Dalam pidato ini Soekarno menyerukan semangat proklamasi 17 agustus 1945 agar semua rakyat Indonesia terutama pemimpin menyadari arti semangat dan proklamasi.karena dengan kesadaran inilah merupakan sumber utama pelaksanaan amanat penderitaan rakyat yang dapat mendeburkan sosialisme indonesia dan memunculkan manipol-Usdek. Dengan kesadaran dapat menghidari penyelewengan dan dapat memberikan sumbangan positif dakan mengembangkan konsepsi-konsepsi baru yang positif dalam kehidupan nasional. Orang yang benar-benar sadar tentang undang-undang dasar 1945 maka ia mempunyai orientasi yang tepat terhadap rakyat, dimana rakyat sebagai satu-satunya yang berdaulat dari Republik Indonesia. Ia akan selalu mendahulukan kepentingan rakyat.

Dalam pidatonya, Soekarno mengatakan bahwa Revolusi Indonesia adalah revolusi yang multicomplex. Revolusi yang bukan hanya melahirkan kembali kemerdekaan nasionalismenya tetapi juga secara serentak menghidupkan kembali kepribadian Indonesia. undang-undang 1945 bukan sekedar yuridis-teknis tapi juga sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia yang kemudian dituangkan dalam manipol-usdek atau sosialisme Indonesia. Ketika Indonesia menggunakan Undang-undang dasar sementara terjadi penyelewengan beberapa anggota konstituante. Misalnya liberalisme, egoisme partai, keserakahan perseorangan, pemberontakan PRRI-Permesta yang kemudian disokong oleh subversi asing. Dengan kembalinya Undang-undang 1945 Indonesia menemukan kembali revolusinya. Yang kemudian didukung dengan ideologi nasional yang progresif dan pimpinan nasional yang tegas untuk menuju suatu perjuangan yang besar.

Ya, kita tidak menjiplak Proklamasi Kemerdekaan kita dan Undang-Undang Dasar kita membawa kebijaksanaan Indonesia tersendiri, membawa konsep hati nurani Indonesia tersendiri! Saya katakan tadi, Proklamasi Kemerdekaan kita dan Undang-Undang kita menjalankan Falsafah Hidup Bangsa Indonesia, satu falsafah mengenai hubungan warga negara indonesia dengan kata hatinya dan Tuhannya, hubungan antara warga dengan warga, hubungan antara warga dengan kepemilikan materil yang sekarang kita tuangkan dalam satu konsepsi lebar yang bernama Manipol/USDEK atau sosialisme Imdonesia, hubungan antara warga negara Indonesia dengan seluruh umat manusia yang kita simpulkan sebagai perikemanusiaan, perdamaian, persahabatan antar bangsa, bebas dari penghisapan dan penindasan, bebas dari exploitation de I’homme dan dari exploitation de nation. Inilah refleksi mutlak dari daripada kepribadian Indonesia yang hidup kembali sejak Proklamasi 17 agustus 1945. Sekarang saudara-saudara mengerti mengapa kita nyeleweng sejak kita meninggalkan Undang-Undang Dasar 45 dan memakai “Undang-Undang Dasar Sementara”. Seakarang saudara-saudara mengerti dan dapat menilai penyelewengan dari daripada beberapa anggota konstituante dahulu, yang ingin merubah lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Ingin merubah dasar-dasar negara.

Ya benar, ada kalanya warisan-warisan pemikiran dan warisan-warisan sosial dari nenek moyang kita itu tidak sesuai lagi dengan tuntutn zaman. Tetapi tidak mengapa! Apa yang harus kita kesampingkan, kesampingkanlah dan apa yang dapat kita perbaiki rubahlah menurut menurut syarat-syarat zaman. Tetapi apa yang berbahaya ialah anggapan bahwa segala apa yang asli Indoesia itu sudah lapuk dan tidak lagi baik. Sikap ini yang berbahaya, oleh karena ia menyebabkan hidup diatas kekosongan. Hidup tanpa landasan nasional, hidup ontworteld tanpa akar, hidup “kleyang-kleyang gumantung tanpa cantelan”. Bangsa yang demikian itu tidak hanya kehilangan dasar negara akan tetapi akan lebih daripada itu. Besok pagi atau lusa niscaya akan menjadi permainan dan ajang-ajang kekuatan-kekuatan asing baik di lapangan politis maupun di lapangan ekonomis. Di lapangan sosial maupun di lapangan kebudayaaan. Bangasa yang demikian tidaklah punya roman muka sendiri. Roman mukanya bukan cerminan dari isipada isi sendiri tetapi satu peringisan daripada asing.

Serentak rakyat Indonesia dengan kembalinya kita kepada Undang-Undang Dasar ’45 itu lantas laksana mendapat “Wahyu Cakraningrat” kembali, serentak jiwa revolusi yang kembali.! Maka pada tanggal 17 agustus 1959 saya mengungkapkan suatu pidato yang berhubungan dengan kembalinya jiwa revolusi itu, saya namakan “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Pidato 17agustus 1959 inilah oleh rakyat dinamakan “Manifesto Politik (Manipol)” yang inti sarinya oleh rakyat pula dinamakan “Usdek” dan “Manipol” inilah yang oleh MPRS kemudian disahkan menjadi garis-garis besar haluan negara. Janganlah puas jika mencapai sesuatu kemenagan! Tiap kemenangan dalam satu tingkat perjuangan hanyalah merupakan satu tambahan modal, satu tambahan alat bagi perjuangan dalam tingkat yang kemudian! Tetapi bagaimanapun juga bolehlah kita bergembira dengan situasi revolusi kita sekarang ini. Rayakanlah 17 agustus sekaang ini dengan meriah dan gembira, sebab situasi Revolusi sekarang memberi Harapan bagi masa yang akan datang. Jika kemeriahan tadi tak dapat secara lahir, namun kita karena harapan yang baik bisa merasa meriah secara batin. Dan kemeriahan batin memberi kesegaran kepada semangat dan tekat untuk melanjutkan perjalanan mendaki gunung.

Perjuangan Nasional merupakan satu kelangsungan (satu continuitetit), sebagaimana juga Sejarah Nasioanl merupakan satu kelangsungan (satu continuiteit). Karena itu maka saya selalu mengajak menoleh kebelakang, menilai keadaan sekarang, mengarahkan mata kehari depan.

Saudara saudara
Pemerintah dalam rapat pleno D.P.R.G.R tangal 5 juli yang lalu telah memberikan keterangan mengenai situasi negara pada dewasa ini. Khusus dalam hal keuangan, keterangan itu agak bernada mineur. tapi janganlah heran! Sebab dimasa lalu, kegaiatan nasional kiata terpaksa terbagi-bagi.

Kecuali membangun, kita harus menyelamatkan negara dari pemberontakan dan subversi asing, kecuali membangun kiata harus mengamankan daerah-daerah dari gerombolan- gerombolan yang mengarong dan menganas. Kita harus menjebol sisa-sisa lama dari alam kolonial, yang membikin golongan-golongan bersikap reformistis, konservatif, liberal, kadang-kadang kontrarevolusioner. Pendek kata dalam masa yang lampau, perhatian dan kegiatan kita terpaksalah terbagi antara apa yang tempo hari saja namakan destruksi dan kontruksi. Maka jika saja dilihat dari anggaran belanja perusahaan, saja kita lebih dari 50% dari kegiatan nasional kita masih harus tunjukan kepada penghancur itu. Artinya: lebih dari 50% kegiatan nasional masih perlu diperuntukan perjuangan destruksi, yang memang perlu. Tetapi kita di indonesia? Kita diindonesia terpaksa harus mensekaliguskan destruksi dan kontruksi, mensekaliguskan pembangunan dan penghancuran. Tetapi itupun suatu keharusan, keharusan revolusi. Sebab revolusi adalah sebagai yang pernah saya katakan, justru kelana bersamanya destruksi dan kontruksi di dalam satu kiprah yang simultan. Diluar negeri saja mendapat pengalaman lain! saudara- saudara mengetahu, bahwa beberapa bulan yang lalu saya mengadakan perjalan keluar negeri dua setengah bulan lamannya. Tiap tiap kali sebagai presiden mengadakan perjalanan keluar negeri makasaya membawa bekal, membawa sangu yang berupa modal nasional.

Saudara saudara mengerti :makin berhasil perjuangan kita didalam negeri, makin besar modal nasional yang bisa saja dibawa keluar negeri. Sebagai tadi saya katakan: untuk diperlihatkan, untuk diperdagangakan, untuk diperjuangakan, untuk di test. Dahulu, modal apa yang saya bawa keluar negeri? Dulu saya membawa: keindahan alam indonesia, kekayaan alam indonesia, aspirasi dan tekad daripada perjuangan indonesia. Tetapi kali ini saya juga sudah dapat membawa hasil- hasil pertama daripada perjuangan bangsa indonesia, yaitu tercapainya dasar dasar konsepsi buat revolusi kita, kenegaraan kita, dan kebangsaan kita. Konsepsi ini, dan pelaksanaannya, sja test kebenarannya ketika saya berada di luar negeri, melalui macam- macam jalan. Ada jalan dengan observasi, ada jalan dengan sekedar mengoceh seperti dalang wayang kulit, dan meliaha reaksi- reaksi pendalang itu. Banyak sekali pemimpin pemimpin diluar negeri, pemimpin perjuangan rakyat, dan bukan orang –orang setengah konyol yang sudah mbelenger cekokan ilmu ketatanegaraan borjuis dan liberal mencucapkan terima kasih atas pengertian pengertian baru yang kita kemukakan, yang mereka anggap sebagai kekayaan kekayaan baru.

Dan saudara lihat dari jauh, bahwa ada negara- negara yang kini sedang mencari ideologi nasionalnnya yang progresif berdasarkan kepribadian nasional, seperti misalnnya republik persatuan arab, yang kini menyusun ia punya konsepsi sosial isme al arab. Saya mengemukakakn hal hal tersebut samasekali bukan untuk membual atau menyombongkan. Jauh daripada itu! Saya hanyalah berbicara kepada rakyat sendiri, menunjukkan kepanjukkan kepada rakyat sendiri bahwa jalan jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar, satu satunya jalan yang benar untuk mencapai negara indonesia yang kuat sentosa, berisikan satu masyarakat yang adil makmur tempat kebahagian bagi seluruh warga. Saudara saudara , atas dasar benarnnya jalan yang kita tempuh itu, maka kita boleh mengharap bahwa dalam tahun yang di muka ini, kita insya allah akan melihat kemajuan kemajuan yang lebih nampak lagi. Maka saya ulangi lagi selesaikan segala persoalan atas dasar konsep sosial ke arah sosialisme, konsep sosial yang menuju kepada masyarakat yang sosialisme. Pertama ikut sertakan seluruh pekerja dalam memikul tanggung jawab dalam produksi dan alat produksi. Kedua adakanlah terus menerus frappez, frappez tujurs retoling mental retooling organisasi, sesuai dengan manipol/USDEK. Ketiga resapkan dasar R.I.L atau resapi sampai ke plosok plosok, samapi kedesa- desa, sampai ke gunung gunung. Sosialisme harus mendarah daging seluruh rakyat indonesia.

Saya ulangi lagi resapkan sosialisme indonesia sampai kemana- mana!camkanlah bahwa tulang punggung, darah daging sosialisme di indonesia ialah pelaksanaan di daerah. Jika tidak, maka skita hanya belum kita sadar kita hanya akan mengganti majikan majikan belanda atau majikan majikan asing yang lain, dengan ndoro- ndoro majikan indonesia.

Aduh, saudara saudara saya tahu dan saudara saudara pun tahu, bahwa segala pertumbuhan kearah perbaikan selalu melalui kesulitan- kesulitan. Saya tahu sana sini harga barang- barang kebutuhan nhidup naqik agak tinggi. Apakah kita, pemimpin pemimpin sampai lebur kiamat harus terus saja minta kesabaran daripada rakyat, kesabaran dan sekali lahi kesabaran daripada rakyat kesbaran dan sekalilagi kesabaran. Maka dari itu pentinglah bahwa kita selalu mendasarkan segala kegiatan kita atas konsep manipol/ USDEK atau konsep sosialisme dalam pertumbuhannya, oleh karena konsep itu adalah konsep rakyat untuk kebahagian rakyat. Dengan merasapnya konsepsi kita di semua kalangan, maka kesulitan- kesulitan di lapangan pelaksanaan program sandang pangan dapat dimengerti oleh rakyat dan dapat diatasi, dan program itu bisa berjalan lebih lancar.

Itu saja yang sya katakan dalam manipol. Kecuali itu dalam pidato saya pada tanggal 17 agustus tahun yang lalu, yaitu pidato “djarek” syas katakan bawa dalam suksenya pelaksanaan manifesto politik di segala bidang,terletak pula sukses pemulihan keamanan. Dengan garis kebijakan di bidang keamanan, sebagai yang diamantakan dalam manifesto politik yang telah menjadi garis besar haluan negara itulah, maka pada waktu itu kita menghadapi suatu kenyataan, bahwa telah beribu-ribu pemberontakan menyerah tabnpa syarat.

Saudara saudara! Keamanan fisik yang telah kiata capai ini, memang mengembirakan. Beratus ratus petunjuk mortir berat, beratus- ratus bazooka dan recoilles gun, beribu ribu mortir ringan, senapan dan senapan mesin, berton ton peluru, mesiu dan alat alat peledak dari segala macam ukuran dan bentuk, telah jatuh ditangan kita dalam pertempuran pertempuran dan melalui penyerahan penyerahan. Insya allah kita dapat mencapai keamanan fisik yang lebih luas lagi, sehingga pemerintah dan bangsa indonesia dapat memusatkan fikiran dan tenagannya pada bidang lain, khusus memusatkan fikiran dan tenaga kepada tujuan jangka pendek daripada revolusi, yaitu memenuhi sandang pangan rakyat serta pengembalian irian barat kekuasaan republik.

Tetapi jangan dilupakan bahwa dalam kegembiraan mengenai hjasil hasil dalam bidang keamanan fisik, kita harus tetap waspada, harus tetap tak boleh lengah. Sebab pada waktu pemberontakan pemberontakan itu melakukan pemberontakannya mereka mempunyai dasar fikiran yang berlainan sekali dengan dasar fikiran kiata, berlainan dengan tujuan asli dan upaya revolusi. Kita sedang berupaya keras untuk agar supaya segala kegiatan daripada seluruh rakyat dipusatkan, ditunjukkan, dikonvergirkan kepada pelaksana. Keamanan politik ini harus kiata jaa dengan waspada sekali, jangan sampai ia diganggu dan diguncangkan oleh orang orang yang tadinnya tak setuju bahkan menentang dengan kekerasan kepada ordening baru itu.

Kini pemerintah dan bangsa indonesia sudah menunjukkan kebesaran jiawa, sudah menunjukkan kemurahan hati dan pengayomannya kepada mereka yang tadinnya memberontak. Kini kita mengharap dan supaya meraka iklas menyambut uluaran tangan kita ini dan supaya mereka pun dengan iklas bersedia memahami terlebih dahulu tujuan asli dan upaya revolusi.

Dan demokrasi kita yang begini ini salah satu unsur utama daripada Ordering baru! Demokrasi kita bukan Mayorelit mwwlawan Minorelit. Bukan Oposisi melawan yang berkuasa, bukan juga sebaliknya. Bukan majikan melawan buruh, bukan juga majikan melawan tani. Bukan golongan politisi melawan golongan karya. Bukan golongan angkatan bersenjata melawan Rakyat. Demokrasi kita tidak lain dan tidak bukan ialah mencari sintese, mencari akumulasi fikiran dan tenaga untuk melaksanakan Amanat penderitaan Rakyat. Kegiatan politik dan keamanan politik di Indonesia ialah : secara aktif simultan, artinya aktif bersama-sama melaksanakan Amanat penderitaan Rakyat atas dasar-dasar Ordering Baru! Maka jikalau demikian kegiatan politik dan keamanan politik, jikalau demikian Demokrasi Terpimpin, maka Demokrasi Terpimpin kita itu tegas dan nyata mempunyai dua unsur : unsur ‘Demokrasi’ dan unsur ‘Terpimpin’. Demokrasi tok bisa nyeleweng ke liberalism, terpimpin tok bisa menyeleweng ke diktakur fasis.

Atas dasar Kegiatan Politik dalam arti aktif simultan melaksanakan bersama-sama Amanat penderitaan Rakyat atas dasar-dasar Ordering Baru itulah, maka kita memasukkan angkatan bersenjata kedalam penghidupan politik. Atas dasar itulah kita melepaskan Trias Politica.

Mereka adalah alat Revolusi, mereka adalah angkatan bersenjata Revolusi. Mereka harus setia kepada sumbernya yaitu Revolusi, yaitu Rakyat. Mereka harus mengabdi kepada Rakyat, mendahulukan kepentingan Rakyat dari pada kepentingan lain-lain. Mereka tidak boleh meluka perasaan dan hati rakyat, mereka harus menjadi angkatan bersenjata yang disukai dan dicintai Rakyat. Dalam revolusi kita sekarang ini, tidak boleh ada antagonism atau kontradiksi antara angkatan bersenjata dan rakyat.

Ingat sekali lagi, kita dipimpin oleh Manipol, kita semua harus menuju pada sosialisme! Tentang pengertian sosialisme dan pelaksanaan sosialisme inipun tak boleh ada antagonize dan kontradiksi di kalangan-kalangan pemimpin kita, baik pemimpin preman maupun pemimpin militer.

Mengertilah, bahwa
Nasionalisasi belum merupakan sosialisme!
Indonesianisasi belum merupakan sosialisme!
Nasionalisasi dan Indonesianisasi itu hanya sekedar batu loncatan saja kea rah sosialisme!

Juga di beberapa kalangan ada yang salah pengertian mengenai Nsakom. Dikatakan oleh mereka itu, bahwa Nasakom berarti diberikannya tempat mutlak dalam hal kegiatan politik hanya kepada tiga partai saja.

Kata mereka :

Nas……. Nasionalis…… P.N.I.!
A……….. Agama………… Nahdlatul Ulama!
Kom….. Komunis……… P.K.I.!
Nasakom hanya

Berarti PNI, Nu, dan PKI saja! Itu salah!

Di dalam Revolusi kita ini, kita jangan main Monopoli-monopolian. Revolusi kita ini revolusi seluruh rakyat, yang tua dan yang muda, yang laki-laki dan yang perempuan, yang pusat dan yang daerah, yang militer dan yang reman. Yang nasionalis jangan monopoli-monopolian, yang masuk partai agama jangan monopoli-monopolian, yang masuk komunis juga jangan main monopoli-monopolian termasuk juga yang militer. Semua golongan rakyat harus mendukung Revolusi kita ini bersama.

Janganlah kita masuk terjerumus kedalam perang dingin. Janganlah kita ikut dalam perang dingin itu! Hal ini sudah saya peringatkan dalam salah satu pidato 17 agustus yang terdahulu. Kenapa masih saja ada golongan Rakyat Indonesia yang sadar atau tidak sadar masuk terjerumus kedalam hal itu.


EmoticonEmoticon