Thursday, February 11, 2016

Hubungan Antara Penguasa dan yang Dikuasai (Hubungan Kawula gusti)

Pergeseran nilai yang perlu dicatat dalam masa tanam paksa ialah nilai menyangkut konsep hubungan antara penguasa dan yang dikuasai (hubungan kawula gusti). Kawula alit antara rakyat dengan rajanya menjadi luntur dan digantikan oleh hubungan baru, yakni penduduk pribumi menganggap penguasa kolonial sebagai gustinya. Penggunaan raja atau bupati – bupati jawa didalam melaksanakan eksploitasi pada zaman VOC dapat dikatakan sebagai kolonisasi atau eksploitasi oleh penguasa intern. Ini tidak jauh berbeda dengan penguasa Tokugawa di dalam mengeksploitasi rakyat jepang pada masa Edo Bakufu. Yang berbeda adalah yang berkuasa pada zaman Bakufu Edo adalah kelas militer (bushi) yang telah terbentuk secara ketat pada permulaan Zaman Edo, sedangkan di Jawa yang berkuasa pada zaman VOC adalah golongan bangsawan sipil. Kenapa Tokugawa mampu menutup negerinya dari penguasa asing? Jepang yang berada di bawah pemerintahan kelas militer sangat “sensitif” terhadap ancaman luar, sebagai akibat dukungan semangat nasionalisme tradisional yang tinggi.

Nilai yang berpusat pada hubungan kawula gusti menciptakan hubungan perekonomian “self sufficient”, telah berubah menjadi hubungan ekonomi komersial atau ekonomi uang yang dimulai pada zaman tanam paksa dan mencapai puncaknya pada zaman liberal (1870-1900). Perubahan ekonomi berpengaruh besar terhadap etoss kerja, sebab penanaman modal komersial khususnya pada sector pertanian, dimiliki oleh pemilik modal swasta orang – orang belanda atau orang eropa lainnya dan juga orang – orang cina. Konsep efisiensi dalam industrialisasi dirasakan sebagai konsep penindasan. Maka dari itu, nilai kerja berdasarkan hubungan kawula gusti yang dinilai tinggi yakni sebagai pengabdian dan balas budi terhadap kebijaksanaan raja berubah menjadi nilai yang sangat rendah dikalangan penduduk pribumi. Di zaman Edo Bakufu, dimana etika kerja yang bersumber pada ajaran konfusianisme mempunyai nilai yang sangat tinggi. Hal ini dapat dijumpai pada masa jayanya kerajaan kerajaan hindhu atau kerajaan kerajaan ilam jawa yang tradisi hindhunya masih sangat kuat.

Industrialisasi yang berpusat pada tanam paksa diintrodusir oleh penguasa luar (belanda), dan terbukti bahwa industrialisasi tidak menciptakan perubahan struktur masyarakat secara keseluruhan, karena memang penguasa colonial menghendakinya demikian. Dengan demikian, bagi penduduk pribumi industrialisasi tidak lain dari pada eksploitai yang mendatangkan kesengsaraan.

Baru pertengahan abad 20 elit pribumi mulai muncul seiring dengan pergerakan nasionalisme. Tetapi, otomatis perjuangan mereka berkisar pada perjuangan politik dan sangat terbatas pada bidang ekonomi, seperti dipelopori oleh Serikat Dagang Islam. Elite yang terbentuk pada konteks ini kelak setelah Indonesia merdeka memegang peranan penting dan merupakan pelopor dalam bidang industrialisasi.

Setelah Indonesia merdeka elit politik yang terjun dalam gerakan kemerdekaan akhirnya memegang kekuasaan pemerintahan dan birokrasi, termasuk sebagian kecil berperan dalam bidang ekonomi. Pergerakan kemerdekaan dan revolusi tampaknya telah menciptakan elite – elite baru yang berasal dari rakyat kebanyakan. Kenji Tsuchiya mengatakan bahwa Gerakan Taman Siswa pada tahun 1930 misalnya berhasil menciptakan elite – elite yang merupakan pewaris kaum intelegensia Jawa Tradisional. Elite baru ini semasa paca revolusi tidak cukup waktu merencanakan pembangunan – pembangunan industry dan ekonomi, ini disebabkan karena masalah – masalah politik belum sepenuhnya dapat dipecahkan. Serangan – serangan belanda yang ingin menduduki kembali Indonesia, demikian pula gerakan – gerakan separatis dan keagamaan di daerah – daerah menguras habis energi pemerintah pusat. Tindakan – tindakan ekonomi yang mereka lakukan adalah nasionalisasi perusahaan Belanda, tetapi mereka kurang memiliki keahlian dan pengalaman dalam mengelola perusahaan – perusahaan ini.

Satu hal lagi yang perlu dicatat ialah ketika ekonomi komersial mencapai puncaknya pada akhir tahun 1900an, dan pada saat mana pemerintah colonial menjalankan peraturan kewarganegaraan, secara otomatis bidang – bidang industry dan ekonomi jatuh ke tangan warga Negara Timur Asing (Cina, Jepang, India, Arab). Keadaan ini berlangsung sampai zaman revolusi bahkan sisa – sisanya sampai dewasa ini, walaupun lahir pula elite – elite baru dalam bidang ekonomi yang terdiri dari bangsa Indonesia yang ikut dalam perjuangan kemerdekaan.


EmoticonEmoticon