Monday, February 1, 2016

Hubungan Internasional ( Hubungan dengan Luar Negeri) antara kerajaan Sumatera dengan Luar negeri

Sumatra merupakan Pulau besar di Indonesia bagian barat yang terdekat letaknya dengan daratan Asia Tenggara. Di antara Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu, suatu Jazirah yang merupakan bagian dari daratan Asia Tenggara, hanya terdapat sebuah selat yang tidak begitu lebar, yaitu selat Malaka. Kedudukan geografis ini merupakan suatu faktor yang besar pengaruhnya pada sejarah yang dialami oleh pulau ini.

Dar berita dari cina abad V dapat diketahui adanya sebuah negara yang disebut Kan-to’-li. Letaknya di sebuah pulau di laut selatan. Menurut para peneliti, Kan-to’-li adalah sebuah negeri di Sumatra. Kan-to’-li mengirimkan utusan ke negeri Cina sejak abad V hingga lebih kurang pertengahan abad VI. Setelah itu namanya tidak disebut-sebut laagi dalam berita-berita dari Cina. Nama ini baru muncul kembali pda abad XIV dalam berita Cina yang menjelaskan bahwa Sriwijaya pada waktu dahulu disebut Kan-to’-li Berita terakhir sebelum berita abad XIV mengenai Kan-to’-li ialah mengenai kedatangan utusan dari negeri ini di Cina pada tahun 563. Berita Cina yang menyebutkan kedatangan utusan dari Sumatra yang berikutnya berasal dari tahun 644 atau awal 645 M. negeri yang mengirim utusan tadi disebut Mo-lo-yeu. Dalam berita-berita Cina selanjutnya tidak ada sebutan tentang sebuah negeri di Sumatra yang mengirimkan utusan ke negeri Cina kecuali Sriwijaya. Hubungan yang erat antara Sriwijaya dengan istana kaisar cina merupakan salah satu ciri dari sejarahnya.

Hubungan antara Sriwijaya dengan negeri diluar Indonesia bukan hanya dengan Cina. Sebuah prasasti raja Dewapaladewa dari Benggala, yang dibuat pada akhir abad IX menyebutkan sebuah biara yang dibuat atas perintah Balaputradewa, maharaja dan Suwarnadwipa. Prasasti ini dikenal dengan sebutan Prasasti Nalanda

Sebuah prasasti raja Cola lainnya, yaitu prasasti dari Rajaraja I, di India Selatan menyebut Marawijayottunggawarman raja dari Katha an Sriwisaya telah memberikan hadiah sebuah desa untuk diabadikan kepada sang Budhha yang dihormati di dalam Culamaniwarmawihara, yang telah didirikan oleh ayahnya dikota Nagipattana (Negapatam sekarang) Prasast ini terdiri dari duan bagian, yaitu bagian yang berbahasa Sansekerta, yang dibuat pada tahun 1046.

Selain hubungan baik dengan kerajaan Cola tadi, ada pula perang antara kedua keajaan ini, yaitu pada masa pemerintahan raja pengganti Rajaraja I, yang bernama Rajedracoladewa I.

Berbeda dengan hubungan luar negeri kerajaan-kerajaan lain di Indonesia, jelas sekali bahwa hubungan luar negeri Sriwijaya lebih aktif sifatnya. Bukan hanya di India Sriwijaya menaruh minat pada bangunan agama, melainkan juga dinegeri Cina. Pada awal abad XI, maharaja Sriwijaya memperbaiki ebuah kuil Taost di Kanton. Karya-karya I-tsing yang ditulisnya di Sumatra pada tahun 689 dan 692 menunjukkan betapa mashyurnya Sriwijaya sebagai pusat agama Buddha. Pertumbuhan pusat itu hanya mungkin jika negeri itu terbuka untuk hubungan dengan luar negeri. Hubungan luar negeri yang demikian aktif dari Sriwijaya tentu bukan suatu hal yang tidak bermakna. Hal ini tidak akan terjadi jika tidak disebabkan oleh suatu kepentingan tertentu.

I-tsing mengatakan, bahwa dinegeri Fo-shih yang dikelilingi oleh benteng, ada lebih dari seribu orang pendeta Buddha yang belajar agama Buddha seperti halnya yang diajarkan di India (Madhyadesa). Jika seorang pendeta Cina ingin belajar ke India, untuk mengerti dan membaca kitab Buddha yang asli disana, ia sebaiknya belajar dahulu setahun dua tahun di Fo-shih, baru setelah ia pergi ke India. Pada waktu kembali dari belajar di Universitas Nalanda (India), I-tsing tinggal di Foshih selama empat tahun, yaitu antara 685 dan 689, untuk menerjemahkan kitab Buddha dari bahasa Sansekerta kedalam bahasa Cina. Rupanya pekerjaan ini terlalu berat untuknya, karena itu ia pulang ke Kanton pada tahun 689 dan kembali lagi ke Sriwijaya bersama dengan empat orang pembantunya. Di Sriwijaya menulis bukunya (2 buah). Tahun 692 ia mengirimkan kedua bukunya e Cina, sedangkan ia sendiri baru kembali ke negeriya pada tahun 695.


EmoticonEmoticon