Friday, March 25, 2016

EKONOMI DAN PENGEMBANGAN WILAYAH : Latar Belakang Pembangunan Jalan Kereta Api pada Jalur Banjar-Kalipucang-Parigi (1911-1921)

1. Pengantar
Pembangunan jalan kereta api lajur Banjar-Kalipucang-Parigi merupakan bagian dari eksploitasi kolonial di wilayah Priangan. Terdapat dua kepentingan dalam pembangunan jalur ini. pertama dari pihak swasta yang merupakan para pengusaha perkebunan yang telah membuka lahan perkebunannya di daerah Priangan selatan. Berikut ini adalah kepentingan ekonomi dan pengembangan wilayah dalam pembangunan jalan kereta api pada lajur Banjar-Kalipucang-Parigi, proses pembangunan dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pembangunan jalan kereta pada lajur ini.

2. Usulan Pihak Swasta
Sebelum pembangunan lajur Banjar-Kalipucang-Parigi dilaksanakan oleh pemerintah, terdapat beberapa ususlan dari pihak swasta untuk membangun lajur kereta api di sekitar daerah tersebut. Usulan yang disampaikan oleh pihak swasta, pada umumnya memiliki tujuan untuk pengembangan wilayah selatan Priangan. Usulan dari beberapa pihak swasta mengenai pembangunan lajur trem awalnya di tolak oleh pemerintah Belanda, alasannya karena daerah tersebut merupakan daerah militer yang seharusnya dikelola oleh pemerintah bukan swasta. Akhirnya pemerintah menerima usulan dari isnpektur perkebunan Lawick van Pabst. Dia mengajukan konsesi pembangunan jalan tram dari Banjar melalui Kalipucang dan Parigi. Menurut Pabst daerah tersebut merupakan daerah terisolir yang subur dan penduduknya hidup sejahtera, tetapi di daerah tersebut belum ada jalan transportasi yang nantinya akan sangat membantu dalam peningkatan produksi pertanian dan mendorong terjadinya migrasi di daerah tersebut. Pemerintah Belanda menyetujui usulan tersebut, dan diperkuat oleh Direktur BOW melalui suratnya tanggal 15 September 1906, tetapi pembangunan jalur tram tersebut tidak dilaksanakan oleh pihak swasta.

3. Usulan Pembangunan dari Residen Priangan
Usulan pembangunan jalur kereta api tidak hanya datang dari pihak swasta, tetapi juga datang dari residen Priangan, hal ini diketahui dari surat yang dikirimkan oleh Residen Priangan kepada pemerintah pusat. Usulan tersebut dengan pertimbangan perlunya pengangkutan yang lebih mudah dan murah bagi hasil-hasil pertanian dari lembah Priangan Timur atau Parigi ke pelabuhan Cilacap. Pengangkutan yang dulunya dilakukan menggunakan kapal dirasakan menghadapi resiko yang cukup besar. Surat usulan dari Residen Priangan kemudian dijadikan bahan pertimbangan oleh Inspektur Kepala Dinas Kereta Api Negara di Jawa untuk membangun lajur tersebut dan agar tidak diserahkan kepada pihak swasta. Pemerintah akhirnya memutuskan membangun lajur kereta api dari banjar ke Parigi melalui Kalipucang.

4. Usulan Lajur Memotong Banjar-Cilacap
Walaupun pembangunan jalan kereta api Banjar-Kalipucang-Parigi sudah mendapatkan pengesahan pemerintah melalui UU tanggal 18 Juli 1911, tetapi tidak segera dilaksanakan. Penundaan itu terjadi karena adanya kritik dari anggota parlemen, khususnya dari Majelis Rendah Parelemen yaitu Lambert de Ram. Dia mengkritik pembangunan jalur tersebut terlalu panjang (82.5 km) dan membutuhkan biaya yang sangat mahal.

De Ram mengusulkan pembangunan jalan kereta api dari Banjar langsung ke pelabuhan Cilacap melalui daerah Dayeuh Luhur. Pembangunan langsung dari Banjar ke Cilacap lebih pendek jaraknya. Berdasarkan analisa de Ram, tujuan pembangunan jalan kereta api Banjar-Cilacap bertujuan yaitu pertama mendorong perkembangan ekonomi daerah Priangan Tenggara dan sebagian residenan Banyumas, kedua membuka peluang untuk menanami suatu daerah luas yang terbengkalai, ketiga pembukaan daerah Dayeuh Luhur akan membebaskan Cilacap dari wabah penyakit malaria, karena penyakit ini menghambat kemajuan pelabuhan Cilacap, dan keempat menekan biaya pembangunan jalan kereta api Banjar-Parigi dan kelebihan dananya dapat digunakan untuk mengembangkan daerah Dayeuh Luhur.

5. Penolakan terhadap Usulan Lajur Banjar-Cilacap
Rencana pembangunan kereta api Banjar-Cilacap yang diusulkan oleh Lambert de Ram ditolak oleh Insinyur Kepala Dinas SS di Jawa. Menurutnya de Ram tidak pernah datang ke Jawa, sehingga tidak mengetahui kondisi Jawa yang sebenarnya. Hubungan langsung Banjar-Cilacap sangat sulit untuk dilaksanakan dan kalau dilaksanakan akan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Daerah Banjar-Kalipucang-Parigi merupakan daerah pegunungan. Pada daerah yang sulit, pembayaran upah tenaga kerja menjadi lebih besar dibandingkan daerah yang datar. Upah yang tinggi dan pembangunan jembatan dan terowongan merupakan penyebab anggaran pembangunan Banjar-Kalipucang-Parigi menjadi lebih besar dibandingkan pembangunan di Jawa Timur dan Cirebon-Semarang. Atas dasar penilaian dari Insinyur SS di Jawa. Maka usulan Lambert de Ram mengenai pembangunan kereta api dari Banjar langsung ke Cilacap tidak dapat dilaksanakan.

6. Usulan Lajur Kalipucang-Kawunganten
Pembangunan jalur keret api Banjar-Kalipucang-Parigi yang telah berjalan satu tahun, mendadak dihentikan. Hal ini disebabkan keinginan membangun lajur yang lebih pendek dari Kalipucang ke Cilacap. Ketika dilakukan pengukuran ulang, terjadi ketidak cocokan yaitu rel yang baru berukuran lebih kecil. Hal ini tentunya akan memakan biaya yang lebih besar. Wouters mengusulkan kepada pemerintah untk membangun lajur Kawunganten-Kalipucang-Parigi. Pada jalur ini digunakan jalur yang normal selain itu juga pembangunan rel yang normal pada jalur Banjar.

7. Krtik Terhadap Usulan Lajur Kalipucang-Kawunganten
Rencana pembanguna jalan kereta api Kalipucang-Kawunganten mendapat kritika dari Asisten Residen Sukapura dan Insinyur Kepala Proyek Pembukaan Jalur di Sumatera Selatan. Menurut Asisten Residen Sukapura, rencana pembangunan jalur Kalipucang-Kawunganten telah mengakibatkan diberhentikannya pembangunan jalur kereta api Banjar-Kalipucang yang mengakibatkan beban bagi masyarakat. Sedangkan menurut Insinyur Kepala Proyek pembangunan Kalipucang-Kawunganten membutuhkan biaya yang sangat mahal karena lahnya yang beair, rawa, dan tidak sehat sehingga sulit untuk mencari tenaga kerja.

8. Protes Para Pengusaha Perkebunan Atas Penundaan Pembangunan
Penundaan pembangunan lajur Banjar-Kalipucang-Parigi, ternyata menimbukan kekecewaan dikalangan pengusaha perkebunan. Akibat dari penundaan ini para pengusaha merasa dirugikan sebab ketika pengusaha mendengar adanya pembangunan jalur kereta merka muli untuk memperluas lahan perkebunan. Perluasan perkebunan ini telah menimbulkan kerugian akibat ditundanya pembangunan jalur kereta.

Selain itu, Dr. Stool seorang pengusaha perkebunan karet merasa dirugikan akibat penundaan pembangunan jalur kereta, karena hasil penen kopinya sulit untuk diangkut kepasaran, selain itu banyak pohon karet milikinya yang ditebang karena dilewati jalur kereta.

9. Pembangunan Kembali Hingga Penyelesaian
Pemerintah memiliki kepentingan ekonomi dalam pembangunan kereta api Banjar-Kalipucang-Parigi. Pembangunan tersebut bertujuan untuk membuka keterisolasian daerah Priangan dengan mempermudah pengangkutan hasil-hasul pertanian yang terdapat di Priangan tenggara dan lembah Parigi.

Penundaan pembangunan jalur ini mengakibatkan terjadinya pembekakan biaya, yang disebabkan oleh:
a) Penghitungan anggaran yang terlalu rendah dengan tidak memperhatikan kondisi lapangan.
b) Daerah yang dulunya telah digali, mengalami pendakalan sehingga perlu digali lagi.
c) Medan yang dilalui sebagai jalur kereta sangat berat, misalnya didaerah pegunungan harus membangun jembatan dan terowongan.


EmoticonEmoticon