Saturday, March 26, 2016

Proses Agama Hindu dan Buddha

Pada dasarnya yang dimaksud dengan Hinduisme adalah seluruh pandangan hidup, adat-istiadat, maupun keyakinan yang dianut oleh bangsa yang tinggal di anak benua India, atau tepatnya di kawasan India sekarang, yang tidak memeluk agama-agama yang datang dari luar, seperti Nasrani maupun Islam. Namun secara tepat sebenarnya yang dimaksud dengan Hinduisme ialah bentuk keyakinan hidup yang bermula dari ajaran Veda, yang karena perkembangan sejarah pemeluknya telah mengalami perubahan sebagai perpaduan antara Brahmanisme yang berdasarkan Veda dengan Budisme maupun Jainisme. Bahkan para ahli beranggapan pula bahwa perubahan itu karena memperoleh pengaruh dari agama-agama bangsa Yunani maupun Persia (Abu Su’ud, 2006: 57-58).

Dalam Hinduisme diajarakan bahwa hidup di dunia ini merupakan kesengsaraan atau samsara akibat dari perbuatan yang kurang baik dari masa sebelumnya. Manusia akan dilahirkan kembali atau reinkarnasi dan memperoleh kedudukan atau kasta, namun semua itu tergantung kepada bagaimana mereka menjalani kehidupan di dunia. kitab suci agama Hindu adalah Veda.

Weda adalah nama untuk kitab-kitab suci, yang memuat Wedaran-wedaran Tertinggi (wid = tahu; weda = pengetahuan, khusus Pengetahuan Tertinggi), dan dapat dipakai dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit Weda itu terdiri atas 4 himpunan (samhitā), ialah:
  • Rigweda (Samhitā), berisi 1028 sūkta atau sya’ir-sya’ir pujian terhadap dewa-dewa; 
  • Sāmāweda (Samhitā), sebagian besar berisi sya’ir-sya’ir dari Rigweda tetapi seluruhnya diberi tanda-tanda nada untuk dapat dilagukan (dinyanyikan); 
  • Yajurweda (Samhitā), berisi doa-doa untuk pengantar saji-saji yang disampaikan kepada dewa dengan diiringi pengajian Rigweda dan nyanyian Sāmāweda; 
  • Atharwaweda (Samhitā), berisi mantra-mantra dan jampi-jampi untuk sihir dan ilmu gaib: mengusir penyakit, menghancurkan musuh, mengikat cinta, memperoleh kedudukan serta kekuasaan, dan sebagainya.
Berhubungan denga sifatnya ini yang sangat berbeda dan dianggap lebih rendah dari ketiga weda lainnya, maka mula-mula Atharwaweda tidak diakui sebagai weda oleh segolongan para pendeta. Itulah sebabnya maka ada istilah «trayi-widyā» (3 weda = Rig, Sāma dan Yajurweda) dan «catur weda» atau 4 weda (yang tiga dan Atharwa juga).

Dalam arti luas, termasuk Weda pula adalah kitab-kitab Brāhmana yang berisi uraian-uraian seta keterangan-keterangan mengenai saji dan upacaranya, dan kitab-kitab Upanisad yang berisi kupasan-kupasan tentang ketuhanan dan makna hidup. Untuk setiap Wedasamhitā ada Brāhmananya dan Upanisadnya sendiri-sendiri (R. Soekmono, 2009:8).

Sedangkan Buddha sendiri dipercaya oleh para ahli sejarah sebagai bukan sebagai bentuk protes dari ajaran Hindu akan ketuhanannya, tetapi lebih merupakan protes terhadap sistem kasta yang diterapkan dalam Hindu dan juga dalam cara pelepasan dari samsara. Menurut Soekmono (2009:17) pada mulanya agama Buddha itu sebenarnya bukan agama, dalam arti adanya Tuhan atau Dewa yang dipuja, melainkan suatu ajaran yang bertujuan membebaskan manusia dari lingkaran samsāra (moksa). Dalam hal ini agama Buddha tiada bedanya dengan ajaran-ajaran lainnya yang sudah kita kenal, seperti Wedānta dan Yoga. Memang agama Buddha berpangkal kepada kupasan-kupasan Upanisad pula, hanyalah jalan yang ditempuh olehnya sebagai hasil pencariannya berlawanan degnan jalan Wedānanta dan lebih dekat kepada Sāmkhya dan Yoga.

Dalam usaha mendapatkan jalan menuju moksa itu lihat ada dua aliran yang sangat berbeda, kalau tidak dapat dikatakan berlawanan. Aliran pertama ialah yang berpendirian, bahwa dasar untuk menempuh jalan moksa itu adalah ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab Weda. Alian kedua sebaliknya tidak mengakui sama sekali kitab-kitab weda itu. Hukum karma dan mematahkannya lepas sama sekali dari segala pengetahuan dari Weda.

Termasuk aliran kedua ini ialah agama Buddha. Agama ini telah menempuh jalan sendiri, dan nantinya bahkan dapat mengembangkan sayapnya jauh melampaui batas-batas agama-agama lainnya yang seasal. Kitab sucinya tersendiri pula, dan bahasanya yang dipakai bukanlah bahasa Sansekerta melainkan baahasa Pāli, yang mula-mula adalah bahasa rakyat daerah Magadha tetapi kemudian menjadi bahasa suci agama Buddha. Kitab itu disebut Tripittaka yang sebenarnya berarti “Tiga Keranjang”. Dinamakan demikian oleh karena terdiri atas 3 himpunan, yang masing-masing berisi pokok ajaran agama Buddha itu. Ketiga pittaka itu ialah:
  • Winayapittaka, berisi segala macam peraturan dan hukum menentukan cara hidup para pemeluknya; 
  • Sûtrānapittaka, berisi wejangan-wejangan Sang Buddha; 
  • Abhidarmapittaka, berisi penjelasan-penjelasan dan kupasan mengenai soal-soal keagamaan.
Para pemeluk agama Buddha mempunyai ikrar, yang disebut Triçarana (tiga tempat berlindung) dan berbunyi:
  • Saya berlindung kepada Buddha, 
  • Saya berlindung kepada Dharma, 
  • Saya berlindung kepada Sanggha
Mengenai Triçarana, Soekmono (2009: 22-23) menjelaskan Buddha sebenarnya bukan nama orang, melaikan sebutan untuk menamakan orang yang telah mencapai “Bodhi”, yaitu orang yang telah mendapatkan wahyu dan karena itu sadar akan makna hidupnya dan terbukti nyata jalannya utnuk melepaskan diri dari kekangan karma. Adapun Buddha yang kita kenal dari sejarah sebagai orang yang mendirikan agama Buddha mula-mula ia adalah seorang anak raja, bernama Sidhartaha.

Perkataan dharma sudah terdapat dan memegang peranan penting dalam jaman Brahmana. Arti sebenarnya adalah apa yang menjadi dukungan atau beban manusia sebagai anggota masyarakat, anggota isi alam. Maka dari itu dipakai dalam arti hukum, peraturan, ketertiban, jumlah kewajiban, yang mengikat manusia, baik lahir maupun batin.

Dalam agama Buddha, dharma dipakai dalam arti ajaran-ajaran Buddha, bahkan agama Buddha itulah yang disebut Dharma. Adapun ajaran-ajaran itu, atau isi agama Buddha, berpokok kepada Aryasatyani dan Patityasamatpada, dua hal yang diperoleh Buddha waktu mendapat bodhi dan yang menjadi keyakinan sebagai pembuka jalan ke Nirwana.

Aryasatyani artinya kebenaran-kebenaran utama, dan jumlahnya ada 4, yaitu:
  • Hidup adalah menderita; 
  • Menderita disebabkan karena trsna atau haus, yaitu haus (hasrat) akan hidup; 
  • Penderitaan dapat dihentikan, yaitu dengan menindas trsna; 
  • Trsna dapat ditindas, yaitu dengan melalui jalan delapan:
    1. Pemandangan (ajaran) yagn benar 
    2. Niat atau sikap yang benar20 
    3. Perkataan yang benar 
    4. Tingkah laku yang benar 
    5. Penghidupan (mata pencaharian) yang benar 
    6. Usaha yang benar 
    7. Perhatian yang benar 
    8. Samadi yang benar
Patityasamatpada adalah rantai sebab akibat, terdiri atas 12 hal yang berangkai dan yang masing-masing merupakan sebab dari hal yang berikutnya, atau menjadi akibat dari hal yang terdahulu. Kalau hal-hal itu kita beri nomor 1 sampai 12, maka no 12 adalah akibat no 11, no 11 akibat dari no 10... dan begitu seterusnya. Dapat pula dikatakan: no 1 menyebabkan terjadinya no 2, no 2 menyebabkan no 3... dan begitu selanjutnya.

Pemeluk agama Buddha ada dua macam: mereka yang terus meninggalkan masyarakat ramai dan hidup dalam biara, dan mereka yang tetap tinggal sebagai anggota masyatakat biasa. Mereka dari golongan pertama disebut bhiksu, kalau laki-laki, dan bhiksuni kalau perempuan. Mereka yang tetap dalam masyarakat disebut upasaka (laki-laki) dan upasika (perempuan). Yang disebut sanggha adalah masyarakat bhiksu itu, pun juga para bhiksuni. Merek meninggalkan segala keduniawian, dan harus hidup dalam wihara dengan pertama-tama mengindahkan dacacila, yang terdiri atas:

  1. Tidak boleh menyakiti/mengganggu sesama makhluk (ahimsa), 
  2. Tidak boleh mengambil apa yang tidak telah diberikan, 
  3. Tidak boleh berzina, 
  4. Tidak boleh berkata tidak benar, 
  5. Tidak boleh minum apa yang memabukkan, 
  6. Tidak boleh makan tidak pada waktunya, 
  7. Tidak boleh menghadiri (menonton) kesenangan duniawi, 
  8. Tidak boleh bersolek, 
  9. Tidak boleh tidur di tempar yang enak, 
  10. Tidak boleh menerima hadiah uang.
No 1 – 5 berlaku pula untuk upasaka/upasika. Mengenai no 3, yaitu tidak boleh berzina, bagi para bhiksu/bhiksuni berarti kewajiban wadat.
Di dalam menjalankan dharma, para pemeluk agama Buddha sangat memuja-muja sang Buddha. Tidak hanya Buddha gautama yang dipuja-puja, tetapi semua Buddha yang telah ada dan yang akan datang. Pun juga semua apa yang berasal dari Buddha gautama atau benda miliknya, seperti: potongan kukunya, potongan rambutnya, bekas giginyam bekas bakaiannya, bekas mangkoknya untuk meminta-minta, dsb. Lebih-lebih dipuja lagi adalah bekas tulang-tulangnya serta abunya setalah jenazah Buddha itu dibakar. Benda-benda yang dipuka itu disimpan dalam stupa.

Sumber :
Su’ud, Abu. 2006. Asia Selatan. Semarang: UNNES Press.
Soekmono, R. 2009. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.


EmoticonEmoticon