Tuesday, June 21, 2016

Klenteng - Klenteng yang ada di Lasem

Lasem merupakan kota kecil yang syarat akan sejarah. Namun, sejarah Lasem yang terkenal akan keharmonisan budaya Tionghoa dan pribumi seolah tidak terdengar di luar Lasem. Kota ini merekam sejarah Perang Kuning dimana Tionghoa dan pribumi yang bekerjasama dalam menyerang Belanda. Selain meninggalkan kisah sejarah kota ini juga meninggalkan bangunan - bangunan yang sampai sekarang masih eksis. Diantara bangunan bangunan sejarah tersebut adalah klenteng. Berikut ini adalah klenteng - klentang yang ada di Lasem :
  1. Klenteng Chu An Kiong
    Terdapat tiga klenteng di Lasem. Klenteng yang paling tua terdapat di Jalan Dasun yang didirikan untuk memuja Thian Siang Sing Bo (artinya ibu suci dari surga) atau biasa disebut Ma Co yang tak lain adalah dewi pelayar dan nelayan di Fukien. Klenteng ini lebih dikenal dengan nama Klenteng Chu An Kiong. Bangunan klenteng ini berdekatan dengan Lawang Ombo menghadap ke Barat dekat dengan sungai. Sejarah pembangunannya Klenteng Chu An Kiong dibangun oleh orang Fukien dari Cina menuju Jawa tepatnya merapat ke Lasem. Tidak jelas diketahui kapan klenteng ini didirikan, di dalam klenteng hanya terdapat informasi yang terdapat pada prasasti yang menjelaskan bahwa pada 1838 dilakukan perbaikan atas prakarsa Kapitan Lin Changling. Banyak orang tua setempat yang menyebut bahwa klenteng ini sudah ada sejak abad ke 15, namun hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis yang menyatakan kapan dibangunnya klenteng ini. Bagi orang - orang Tionghoa yang mendarat di Lasem, Thian SIang Sing Bo memiliki dua makna, pertama dia seorng penguasa lautan dan pelindung para nelayan dari badai, kedua dia memberikan stabilitas sosial bagi kehidupan di Lasem.
  2. Klenteng Poo An Bio
    Klenteng kedua adalah Poo An Bio dibangun di selatan Lasem pada akhir abad ke-19 untuk memuja Kwee Sing Ong yang merupakan Dewa keluarga Kwee, Dewa pengaman dari bencana alam. Klenteng ini dibangun di ujung selatan kota dan menghadap ke Selatan. Di depannya adalah perkampungan pribumi.
  3. Klenteng Gie Yong Bio
    Klenteng ke tiga adalah Klenteng Gie Yong Bio yang dibangun untuk memuja pahlawan dalam perang kuning Tan Kie Wie dan Oei Ing Kiat, dua pahlawan yang gugur dalam perang kuning melawan Belanda 1750. Klenteng Gie Yong Bio terkadang juga disebut Yiyong Gong Niao atau Temple of the Valiant Men. Awalnya klenteng ini adalah klenteng kecil kemudian pada 1915 diperluas menjadi klenteng yang difungsikan untuk menjaga kota dari kerusuhan anti Tionghoa yang sudah terjadi di Kudus.
Sumber : Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota


EmoticonEmoticon