Monday, August 22, 2016

Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu yaitu di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh berada pada ketinggian 900 mdpl. Candi ini ditemukan oleh Johnson, seorang Residen Surakarta pada masa pemerintahan Raffles pada tahun 1815. Kemudian pada 1842 candi ini diteliti oleh Van der Vlis. Hasil dari penelitian Van der Vlis yang dimasukkan di dalam buku Van der Vlis yang berjudul Prove Eener Beschrijten op Soekoh en Tjeto. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans pada 1864 sampai 1867 dan kemudian dibukukan dalam bukunya yang berjudul Hindoe Oudheiden van Java. Pada 1889, Verbeek melakukan inventarisasi Candi Sukuh, yang kemudian diteruskan dengan penelitian oleh Knebel dan WF.STutterheim pada 1910.

Candi Sukuh bercorak Hindu dan diperkirakan didirikan pada akhir abad ke-15 M. Bentuk arsitektur Candi Sukuh sangat berbeda dengan candi - candi lain, candi ini dinilai menyimpang dari ketentuan pembangunan candi bangunan suci Hindu, Wastu Widya. Menurut aturan pembuatan candi, alas dari candi harus berdenah dasar bujur sangkar dengan tempat yang dianggap paling suci berada pada tengah ataupun tubuh candi. Perbedaan yang mencolok ini dikira pengaruh dari memudarnya pengaruh Hindu di Jawa. Memudarnya ajaran agama Hindu ini kemudian dikaitkan dengan berkembangnya kembali unsur budaya setempat yaitu Megalitikum. Unsur dari zaman Megalitikum sangat terlihat sekali di bangunan Candi Sukuh yaitu adanya punden berundak yang menjadi ciri khas bangunan masa pra-Hindu. Ciri lain dari bangunan pra-Hindu adalah pada sebuah bangunan area paling suci berada pada bagian tertinggi dan paling belakang.

Menurut para ahli, keberadaan Candi Sukuh diperkirakan merupakan tempat pengruwatan yaitu melepaskan kekuatan buruk yng mempengaruhi kehidupn seseorang akibat dari ciri tertentu yang dimilikinya. Perkiraan tersebut didasarkan pada adanya relief yang menceritakan cerita pengruwatan seperti Sudamala dan Garudheya, serta adanya arca kura - kura dan garuda yang terdapat di Candi Sukuh.

Candi Sukuh memiliki luas area 5.500 m2 dengan tiga teras bersusun. Sekilas Candi Sukuh mirip dengan Candi Cetho yang juga mirip  dengan bangunan Suku Maya di Mexico. Candi ini menghadap ke Barat, berbeda dengan candi - candi pada umumnya yang menghadap ke timur atau menghdap ke terbitnya matahari. Ketiga teras dibelah oleh tangga yang menghubungkan dasar candi dengan atap candi.

Gapura pada teras pertama terdapat gapura yang dilengkapi atap atau yang disebut gapura paduraksa, pada ambang pintu gapura terdapat pahatan berupa kala berjanggut panjang. Pada dinding sayap utara candi terdapat relief yang menggambarkan seseorang yang berlari sambil menggigit ular yang sedang melingkar.Menurut K.C. Cruq, relief tersebut menunjukkan candrasengkala yang dibaca gapura buta anahut buntut artinya gapura raksasa menggigit ekor ular. Candrasengkala tersebut diartikan sebagai tahun 1359 saka atau 1437 masehi, yang dipercaya sebagai tahun terselesaikannya Candi Sukuh. Diatas sengkalan tersebut terdapat relief yang menggambarkan seekor  makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan seekor binatang melata.

Pada sayap sebelah selatan candi terdapat pahatan tokoh yang ditelan raksasa. Pahatan ini juga diangga sengkalan yang berbunyi gapuro batu mangan wong, yang berarti raksasa memakan manusia. Sengkalan tersebut diartikan 1359 saka atau 1437 masehi sama dengan sengkalan yang ada di sayap utara. Pada dinding luar luar gapura terdapat relief sepasang burung yang sedang hinggap di atas pohon, dibawahnya terdapat seekor anjing dan garuda dengan sayap terbentang yang menggenggam ular. Pada halaman depan candi, terdapat aneka bentuk sekumpulan batu yang diantaranya ada yang mirip lingga dan tempayan.

Ruang dalam gapura candi, terdapat lantai yang berpahatkan phallus dan vagina yang hampir bersentuhan satu sama lain. Relief tersebut menggambarkan lingga dan yoni yang berarti daerah tersebut subur. Kini relief tersebut diberi pagar agar tidak dilalui pengunjung. Untuk naik ke teras ertama, pengunjung harus melewati sisi gapura. Ada yang meyakini bahwa relief yang ada di lantai tersebut merupakan suwuk atau mantra obat untuk ngruwat atau menghilangkan kotoran yang ada di hati. Oleh sebab itulah relief tersebut ditempatkan di gapura pertama agar yang masuk ke candi tersebut melangkahinya, dengan begitu dianggap bersih dari kotoran di hati.

Pada ambang pintu yang menghadap ke pelataran terdapat hiasan kalamakara dalam kondisi rusak. Pad sisi sayap utara terdapat semacam arca pda posisi jongkok dan sedang memegang senjata. Pada pelataran teras pertama berukuran tidak terlalu luas yang terbelah oleh tangga yang menghubungkan ke teras kedua. Pada sebelah utara pelataran teras pertama terlihat tiga panel yang diletakkan berjajar. Panel pertama menggambarkan seorang berkuda yang diiringi oleh pasukan yang bersenjatakan tombak. Disampingnya terdapat seorang yang memayunginya. Panel kedua menggambarkan sepasang lembu dan erakhir panel ketiga memuat gambar seorang lelaku yang sedang menunggang seekor gajah. Pada sisi selatan candi terdapat sekumpulan batu dengan berbagai bentuk dan beberapa lingga.

Pada sisi timur ataupun bagian belakang pelataran ters kedua terdapat gerbang berupa bentar yang mengapit tangga menuju ke pelatarn teras kedua. Disini tidak terdapat relief ataupun hiasan di dinding gapura.

Pada sisi belakang pelataran teras kedua terdapat gapura bentar dan tangga yang menghubungkan ke teras ke tiga. Gapura tersebut dalam keadaan rusak. Bagian depan gapura terdapat sepasang arca dwarapala yang dalam keadaan aus. Pahatan kedua arca tersebut bersifat kasar dan kaku bahkan terkesan lucu. Pada teras ke tiga atau yang tertinggi adalah tempat paling suci di Candi Sukuh. Terdapat dua pelataran yaitu di selatan dan utara yang dibelah oleh jalan menuju ke bagian paling belakang candi. Di pelataran teras ke tiga ini terdapat banyak sekali arca - arca. Pada bagian depan sisi utara terdapat 3 arca manusia bersayap dengan kepala garuda yang berdiri dengan membentangkan sayap. Hanya ada satu yang utuh dan dua lainnya tanpa kepala. Pada salah satu arca terdapat prasasti yang berangka tahun 1363 saka atau 1441 M dan 1364 saka atau 1442. Pada sisi utara terdapat panel berjajar, masing - masing memiliki relief gajah dan sapi.

Tepat di depan bangunan agak ke selatan terdapat tiang batu berpahatkan cuplikan kisah Garudheya. Pada sudut kiri atas terdapat prasasti sengkala dengan huruf dan bahasa kawi yang memiliki bunyi Padamel rikang buku tirta sunya yang berarti 1361 saka. Garudheya merupakan nama dari seekor gruda, putra angkat dari Dewi Winata. Sang Dewi tersebut memiliki saudara yang menjadi madunya yaitu Dewi Kadru. Dewi Kadru mempunyai anak yang memiliki wujud ular. Dalam sebuah pertaruhan antara Dewi Winata dan Dewi Kadru, Dewi winata kalah dan harus menjadi budak Dewi Kadru bersama anak - anaknya. Garudheya mendapatkan Tirta Amerta yang menjadi syarat pembebasan ibunya dari perbudakan Dewi Kadru beserta anak - anaknya. Relief ini juga terdapat di Candi Kidal di Jawa Timur yang dibangun oleh Anusapati untuk ibunya Ken Dedes.

Pada bagian selatan pelataran teras tingkat ke tiga terdapat panel batu yang ditata secara berjajar. Panel tersebut memuat pahatan cerita yang diambil dari Kidung Sudamala. Kidung Sudamala menceritakan tentang Sadhewa, yang merupakan salah satu tokoh kembar di ksatria Pandawa, yang berhasil meruwat di dalam diri Dewi Uma, istri dari Bathara Guru. Dewi Uma dikutuk oleh Bathara Guru karena tidak bisa menahan amarahnya ketika suaminya meminta dilayani pada waktu yang menurutnya kurang tepat. Karena kemarahannya, Dewi Uma kemudian di kutuk menjadi raksasa bernama Bathari Durga. Kemudian Bathari Durga menyamar menjadi Dewi Kunthi, ibu dari Pandawa. Kemudian meminta Sadewa untuk meruwat dirinya. Cerita ini tertuang dalam kelima panel relief di Candi Sukuh

Pada relief pertama menceritakan Bathari Durga yang menyamar menjadi Dewi Kunti mendatangi Sadewa dan meminta untuk dirinya di ruwat. Relief kedua menceritakan saat Bima kakak dari Sadewa berperang melawan raksasa. Tangan sebelah kanan mengangkat raksasa dan sebelah kiri menancapkan kuku Pancak (senjata Bima) ke perut raksasa tersebut.

Pada relief ketiga menceritakan tentang Sadewa yang menolak permintaan Bathari Durga untuk meruwatnya dan diikatkan Sadewa ke sebuah pohon. Bathari Durga mengancam menggunakan sebilah pedang. Pada relief ke empat menceritakan tentang pernikahan Sadewa dengan Dewi Pradhapa yang kemudian dianugerahkan kepadanya setelah berhasil meruwat Bathari Durga. Relief kelima atau yang terakhir menceritakan tentang Sadewa dan pengiringnya menghadap ke Dewi Uma yang telah di ruwat.

Pada pelataran selatan terdapat candi kecil dan didalamnya terdapat sebuah arca. Menurut cerita masyarakat sekitar, candi tersebut merupakan kediaman dari Kyai Sukuh penguasa kompleks Candi Sukuh. Tepat didepan candi terdapat arca kura - kura yang berjumlah tiga dan berukuran besar. Kura  - kura menggambarkan dunia bawah, yaitu dasar Gunung Mahameru.

Bangunan utama candi ini berbentuk trapesium yang berdenah 15 m2 serta dengan tinggi mencapai 6 m. Pada sisi barat terdapat tangga sempit dan curam untuk menuju ke atap. Diduga bangunan yang ada diatas ini merupakan batur atau kaki candi dan candinya sendiri diperkirakan terbuat dari kayu. Perkiraan tersebut didasarkan pada adanya beberapa umpak di pelataran atap. Di tengah atap terdapat arca lingga. Konon yoni (pasangan dari lingga) di bagin atap candi ini disimpan di Museum Nasional.

Upaya pelestarian candi ini telah dilakukan sejak jamn penjajahan Belanda. Pemugaran pertama kali dilakukan Dinas Purbakala pada 1917.  Selanjutnya pada akhir 1970-an dilakukan lagi pemugaran oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


EmoticonEmoticon