Friday, October 14, 2016

Sejarah Kerajaan Lasem (1351-1479 M)

KONDISI GEOGRAFIS LASEM
Lasem berada di pesisir pantai utara pulau Jawa dengan suasana tropis, tanah yang subur, hutan, pegunungan serta bentang pantai yang memanjang. Di Lasem terdapat banyak teluk - teluk yang melatarbelakangi daerah Lasem berkembang menjadi daerah pelabuhan yang besar pada masanya. Hal inilah yang kemudian menjadikan kawasan laut Lasem berkembang menjadi lalu lintas perdagangan antar kerajaan pada masa lampau. Selain garis pantai yang membentang, di Lasem juga terdapat daerah dataran serta lembah yang terletak di selatan garis pantai. Sedangkan di sisi timur Lasem terdapat sebuah gunung bernama Gunung Argopuro.



KERAJAAN LASEM
Penamaan Kerajaan Lasem pertama kali disebut dalam Piagam Singosari yang berangka tahun 1273 saka atau 1351 Masehi. Kerajaan Lasem pertama kali dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Duhitendu Dewi (Indu Dewi) yang bergelar Bhre Lasem. Dewi Indu merupakan sepupu dari Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Dari piagam Singosari tersebut menyebutkan bahwa Lasem sebelum 1351 M bukanlah daerah yang penting. Dapat disimpulkan bahwa kemungkinan Lasem telah ada sebelum tahun 1351 M atau bahkan sudah ada pada zaman Kerajaan Kediri sekalipun hanya sebagai daerah setingkat pakuwu atau kadipaten.

Keberadaan Lasem sebagai kerajaan yang berdaulat diperkuat oleh Nagarakertagama yang menyebutakan ketika Arya Wiraraja ayahanda Nambi sakit keras di Lumajang, orang - orang penting Kerajaan Majapahit datang untuk menjenguknya. Salah satu dari rombongan tersebut adalah Adipati Lasem atau "Ra Lasem", seorang loyalis Raden Wijaya yang membantu dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Sayangnya Jayanegara, raja yang memimpin Majapahit pada masa itu terhasut oleh omongan Mahapati, bahwa Nambi sedang merencanakan pemberontakan untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan sedang menghimpun kekuatan di Lumajang. Jayanegara kemudian mengirim pasukan untuk menggempur Lumajang. Nambi dan pasukannya akhirnya gugur oleh serbuan pasukan Jayanegara termasuk Adipati Lasem yang ikut membela Patih Nambi.

Baca Juga : Nambi, Kisah Arya yang di Fitnah Mahapati

Dari sepenggal kisah tersebut bisa disimpulkan bahwa sebelum adanya piagam Singosari tahun 1273 saka atau 1351 Masehi, Lasem sudah ada sebagai suatu daerah berdaulat. Kitab Nagarakertagama juga menyebutkan bahwa Bhre Lasem pertama Duhitendu Dewi merupakan salah satu penguasa dari 11 kerajaan khusus di Jawa. Ia  juga menjadi salah satu dari sembilan Dewan Petimbangan Agung Kerajaan Majapahit. Dengan adanya statement ini, bisa disimpulkan bahwa Bhre Lasem mempunyai peranan istimewa di Kerajaan Majapahit. Bila kerajaan - kerajaan lain taklukan Majapahit diatur dalam undang - undang kerajaan Majapahit, berbeda dengan ke sebelas kerajaan yang dikuasakan kepada kerabat raja Majapahit. Kesebelas kerajaan ini merupakan penopang Kerajaan Majapahit baik dalam sisi sosial, ekonomi dan politik bagi keberlangsungan imperium Majapahit di Nusantara.

Sebelas kerajaan dalam Piagam Singosari tahun 1351 M :
  1. Kerajaan Daha
  2. Kerajaan Wengker
  3. Kerajaan Mataun
  4. Kerajaan Lasem
  5. Kerajaan Pajang
  6. Kerajaan Paguhan
  7. Kerajaan Kahuripan
  8. Kerajaan Singasari
  9. Kerajaan Mataram
  10. Kerajaan Wirabhumi
  11. Kerajaan Pawanukan
Kedelapan Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Majapahit :
  1. Hayam Wuruk sebagai Ketua
  2. Tribuana Tunggadewi
  3. Sri Kerta Wardhana
  4. Sri Wijaya Rajasa
  5. Duhitendu Dewi
  6. Sri Rajasa Wardhana
  7. Bhre Pajang
  8. Dyah Wiyat Sri Rajadewi

Sementara itu, dalam Pararaton menyebutkan "Adapun adik perempuan Hayam Wuruk, Bhre Lasem, menikah dengan Raja Matahun Rajasawardhana; sedangkan adik termuda, Bhre Lasem menurunkan putri bernama Nagarawardhani, yang kemudian dinikahkan dengan putra Hayam Wuruk dari selir, bernama Bhre Wirabhumi. Bhre Wirabhumi nikah dengan Bhre Lasem sang Alemu (Bhre Lasem yang gemuk / Bhre Lasem III)".  Dengan begitu, Nagarawardhani dalam Nagarkertagama sama dengan Bhre Lasem jeng Alemu dalam Pararaton.

Selama 120 tahun, Lasem dipimpin oleh lima orang ratu. Pengangkatan perempuan sebagai pemimpin kerajaan senada dengan apa yang ada di Kerajaan Majapahit dengan diangkatnya Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat sebagai raja yang berkuasa di Kahuripan dan Dhaha.

a. Masa Pemerintahan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I)
Wilayah Lasem pada masa Duhitendu Dewi begitu luas. Bhre Lasem menikah dengan Bhre Matahun, dengan demikian kedua wilayah kerajaan vasal ini menyatu atas hubungan perkawinan. Selain menjabat sebagai Bhre Matahun, Rajasa Wardhana juga menjabat sebagai seorang panglima perang yang memiliki pangkalan laut di pelabuhan Lasem, tepatnya di teluk Regol (Bonang Binangun) dan Kairingan (Pantai Kiringan, Caruban, Gedong Mulyo). Salah satu dari dua pelabuhan tersebut menjadi bandar perniagaan besar dengan Rajasa Wardhana sebagai Dampoawangnya (syahbandar).

Dalam Carita Lasem diceritakan "Lasem sebagai kota raja yang nyaman, tertata dengan asri dan indah. Keratonnya terletak di bumi Kriyan menghadap ke arah laut dengan agungnya. Di dalamnya terdapat kompleks - kompleks bangunan, balai kambang yang luas, Taman Kamala Puri dan Taman Sari yang teratur dan indah. Di sepanjang jalan - jalan negeri berbagai pepohonan, mandira, sawo kecik berjajar di kiri dan kanan jalan membuat keteduhan. Di setiap perempatan jalan terdapat pohon beringin yang merindang. Pemukiman penduduk tertera dan terpola dengan bentuk joglo berbahan kayu jati yang depannya berteras, halamannya luas serta dipenuhi dengan pepohonan dan bunga - bungaan. Sementara di pedesaan keseburan tanah - tanah olahan para penduduk dengan hasil persawahan dan perkebunan yang melimpah. Dewi Indu (Duitendu Dewi) adalah seorang ratu yang sangat dicintai rakyatnya dan ia pun dijuluki sebagai titisan dari Sang Bathari. Ia memerintah Kerajaan Lasem dengan adil dan bijaksana, pengayom rakyat dengan kekuasaannya yang lurus lagi kuat".

Duhitendu Dewi sebagai Bhre Lasem menikah dengan Rajasa Wardhana sebagai Bhre Matahun. Dua pemimpin kerajaan tersebut kemudian meleburkan wilayah kekuasaannya menjadi satu. Rajasa Wardhana kemudian mengubah Lasem sebagai pangkalan laut Majapahit dengan Teluk Regol dan Kairingan sebagai pangkalan utama kapal tempur dan kapal ekspedisi Majapahit. Tak jauh dari wilayah ini juga terdapat galangan kapal untuk memproduksi kapal tempur dan kapal niaga Kerajaan Majapahit.

Lasem menjadi semakin ramai dari masa ke masa dan berkembang menjadi wilayah perdagangan antar negeri. Dari pasangan Bhre Lasem dan Bhre Matahun kemudian melahirkan Negara Wardani yang kemudian menjadi pemimpin Lasem selanjutnya (Bhre Lasem kedua) dan diperistri Bhre Wirabumi. Dalam naskah lain menyebutkan bahwa pasangan Duhitendu Dewi dan Rajasa Wardhana menurunkan pangeran Badra Wardana yang kemudian melahirkan dinasti Rajasa Wardana dan menjadi pembesar Lasem hingga abad ke 18.

Bhre Lasem Duhitendu Dewi meninggal pada tahun 1382 M sedangkan Rajasa Wardhana meninggal pada tahun 1383 M. Sebelum Duhitendu Dewi meninggal, jabatan Bhre Lasem sudah diserah terimakan pada Kusuma Wardhani, putri Hayam Wuruk yang sebelumnya telah menikah dengan Wikrama Wardhana. Pada saat itu, Duitendu Dewi dipindahkan menjadi Bhre Daha / Kediri menggantikan ibunya Dyah Wiyat Raja Dewi yang wafat. Namun, baik dari Nagarakertagama, Pararaton maupun Carita Lasem tidak menyebutkan secara pasti tahun pergeseran jabatan Duhitendu Dewi menjadi Bhre Daha tersebut.

b. Masa Bhre Lasem Setelah Duhitendu Dewi
  • Bhre Lasem II
Bhre Lasem setelah Duhitendu Dewi adalah Kusuma Wardhani dengan gelar Bhre Lasem Jeng Ahayu yang berarti Bhre Lasem yang cantik yang disebutkan di Pararaton. Kusuma Wardhani merupakan putri dari Hayam Wuruk dari permaisuri Paduka Sori. Kusuma Wardhani kemudian menikah dengan putra Duhitendu Dewi bernama Wikrama Wardhana dan kemudian diangkat sebagai Bhre Lasem. Pengangkatan Kusuma Wardhani menjadi Bhre Lasem II tidak disebutkan di dalam Negarakertagama, diperkirakan pengangkatan Kusuma Wardhani terjadi setelah tahun 1365 M. Data yang diperoleh pada masa pemerintahan Bhre Lasem II hanya sedikit didapatkan. Pararaton sebagai sumber informasi sangat minim memberikan informasi, begitu juga dengan Bhre Lasem selanjutnya.

Pemerintahan Kusuma Wardhani diperkirakan berlangsung sebentar karena pada saat Kusuma Wardhani menjabat sebagai Bhre Lasem, Majapahit mengalami perpecahan pasca meninggalnya Hayam Wuruk. Perebutan kekuasaan muncul oleh para keturunan Hayam Wuruk. Wikrama Wardhana sebagai menantu serta keponakan Hayam Wuruk naik tahta menggantikan Hayam Wuruk. Bhre Wirabhumi yang merupakan putra Hayam Wuruk dari selir yang juga merupakan putra angkat sekaligus cucu menantu dari Bhre Daha Dyah Wiyat Rajadewi dan Wijaya Rajasa merasa ialah yang berhak menggantikan takhta Majapahit.

Pada saat itu, Majapahit layaknya mempunyai raja kembar yang sama - sama berkuasa. Di istana bagian barat (Trowulan) Wikrama Wardhana naik tahta, sedangkan di istana timur (Daha) Bhre Wirabhumi bertahta, keduanya sama - sama merasa paling sah menjabat sebagai raja Majapahit. Dalam pararaton disebutkan bahwa pada 1298 Saka atau 1376 Masehi (pada akhir pemerintahan Hayam Wuruk) muncullah gunung baru di sebelah timur, yang digambarkan dengan munculnya kerajaan Majapahit baru. Sedangkan kronik Cina pada masa Dinasti Ming pada tahun 1377 M menyebutkan pengiriman dua duta ke Cina untuk mendapatkan pengakuan politik kepada Cina. Kerajaan barat dipimpin oleh Wu-lau-po-wu sedangkan kerajaan timur dipimpin Wu-lau-wang-chieh. Maksud dari Wu-lau-po-wu adalah Bhra Prabu yang merupakan nama lain dari Hayam Wuruk di Majapahit. Sedangkan Wu-lau-wang-chieh adalah Bhre Wengker atau Wijaya Rajasa, suami dari Dyah Wiyat Rajadewi.

  • Bhre Lasem III
Ketika Gajah Mada meninggal, terjadi persaingan antara Hayam Wuruk dan Wijaya Rajasa. Persaingan yang terjadi hanya sebatas perang dingin dan tidak sampai pada kontak fisik. Keduanya saling segan karena adanya ikatan menantu. Namun perseturuan berlanjut ketika Hayam Wuruk mangkat pada tahun 1389 M yang digantikan menantunya Wikrama Wardhana di istana barat (Trowulan). Sedangkan Bhre Wirabhumi menggantikan ayahnya Wijaya Rajasa sebagai raja Majapahit istana timur (Daha).

Perseturuan keduanya semakin meruncing ketika Wikrama Wardhana mengangkat istrinya Kusuma Wardhani menjadi Bhre Lasem II menggantikan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I). Padahal menurut Bhre WIrabhumi, yang seharusnya manjadi Bhre Lasem adalah istrinya Nagara Wardhani yang marupakan anak dari Duhitendu Dewi. Kemungkinan inilah yang dimaksud didalam pararaton adanya Bhre Lasem Jeng Ahayu (Kusuma Wardhani) dan Bhre Lasem Jeng Alemu (Nagara Wardhani).

Dengan adanya kejadian ini diperkirakan pemerintahan Bhre Lasem II Kusuma Wardhani berlangsung sebentar dan digantikan oleh Nagara Wardhani menjadi Bhre Lasem III sebagai imbas dari adanya persaingan di tubuh Majapahit. Pergantian kekuasaan keduanya diperkirakan tidak sampai berlangsung pertempuran. Masa periode pemerintahan keduanya diperkirakan antara tahun 1390 hingga 1400 karena dikabarkan keduanya sama - sama wafat ditahun tersebut.

  • Bhre Lasem IV
Ketika Nagara Wardhani meninggal, Wikrama Wardhana cepet - cepat mengangkat menantunya yaitu istri dari Bhre Tumapel (Kertawijaya) untuk menduduki posisi Bhre Lasem. Hal inilah yang memicu adanya konflik istana barat dan timur. Hingga akhirnya pada 1404 terjadi Perang Paregreg yang berlangsung hingga tahun 1406. Pasukan Bhre Tumapel, putra dari Wikrama Wardhana menyerang istana timur. Bhre Wirabhumi sebagai raja dari istana timur mengalami kekalahan dan melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari. Ia dikejar dan dibunuh oleh Raden Gajah atau Bhra Narapati Ratu Angabhaya utusan dari Bhre Tumapel. Raden Gajah kemudian membawa kepala Bhre Wirabhumi ke istana barat dihadapan Wikrama Wardhana. Bhre Wirabhumi dicandikan di Lung bernama Girisa Pura.

Setelah perang paregreg berakhir, kedua istana berhasil di satukan oleh Wikrama Wardhana. Dampak dari perang ini selain nyawa dan materi, kekuasaan Majapahit juga semakin meredup di Nusantara. Terhitung kerajaan seperti Melayu, Malaka serta Palembang mulai berani memerdekakan diri dari kekuasaan Majapahit. Selain itu, Wikrama Wardhana juga harus menetralkan keadaan di istana timur. Salah satu usahanya yaitu dengan memboyong putri Bhre Wirabhumi dan Nagara Wardhani sebagai selir. Dari perkawinan ini, lahirlah Suhita yang kemudian menggantikan Wikrama Wardhana sebagai raja Majapahit pada tahun 1429.

Di sisi lain, Wikrama Wardhana harus memberikan ganti rugi kepada Dinasti Ming, penguasa Tiongkok. Ketika Dinasti Ming mengetahui adanya dua kubu yang saling berseturu di Majapahit, Dinasti Ming mengirimkan Cheng Ho untuk menjadi duta perdamaian. Laksamana Cheng Ho saat terjadi perang paregreg berada di istana timur, sehingga ketika terjadi penyerangan, pasukan Cheng Ho juga ada yang terbunuh. Sebanyak 170 orang awak dari Cheng Ho menjadi korban dari serangan Wikrama Wardhana. Wikrama Wardhana kemudian diharuskan untuk membayar 60.000 tahil kepada Dinasti Ming. Namun pada akhirnya Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut. Peristiwa ini dicatat oleh Ma Huan (sekertaris Cheng Ho) dalam buku Ying-ya-sheng-lan.

Wikrama Wardhana memerintah hingga tahun 1429 dan kemudian digantikan oleh Suhita. Pada periode pemerintahan Suhita di Majapahit tidak ada catatan yang jelas yang membahas tentang Bhre Lasem IV (Nagara Wardhani) istri Bhre Tumapel Kertawijaya. Suhita kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang bergelar Bhra Wijaya I  pada 1447 hingga 1451. Selama pemerintahan Suhita dan Kertawijaya, pemerintahan Majapahit selama 20 tahun terhitung relatif stabil meskipun ada sedikit konflik namun masih dapat diatasi. Disisi lain banak kerajaan - kerajaan bahawan yang melepaskan diri dari Majapahit seperti Melayu, Malaka, Palembang, Kalimantan Barat, dan Brunei.

  • Bhre Lasem V
Kertawijaya kemudian digantikan oleh Rajasawardhana Bhre Keling atau Kahuripan. Banyak sejarwan yang mengemukakan bahwa Rajasawardhana telah membunuh Kertawijaya. Pada masa ini, di kitab pararaton tidak dijelaskan siapa yang berkuasa di Lasem. Baru ketika pemerintahan Suprabhawa atau Bhre Pandan Salas memerintah Majapahit tahun 1466 - 1468 menempatkan putri Bhre Panadan Salas yang diperistri Bhre Tumapel yang menjabat Bhre Lasem V.

Keterangan tentang putri Bhre Pandan Salas sebagai Bhre Lasem tidak terdapat banyak data. Namun menurut sejarawan  hasan Djafar, putri Bhre Pandan Salas merupakan raja terakhir di Kerajaan Lasem. Setelah itu tidak terdengar lagi berita tentang Kerajaan Lasem seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Masa Keruntuhan Kerajaan Lasem
Keruntuhan Kerajaan Lasem tidak bisa lepas dari meredupnya kerajaan induk Majapahit. Krisis internal perebutan kekuasaan terjadi pasca sepeninggal generasi emas pembesar kerajaan Majapahit diantaranya Gajah Mada, Tribuana Tungga Dewi, dan Hayam Wuruk. Pasca wafatnya Hayam Wuruk, mulai terjadi perpecahan internal di tubuh Majapahit. Perselisihan terjadi antara Wikrama Wardhana dan Bhre Wirabhumi yang berujung pada terjadinya Perang Paregreg (1405-1406). Perselisihan tidak hanya terjadi disini saja, selanjutnya terjadi silih berganti perselisihan - perselisihan hingga Majapahit runtuh. Bahkan perebutan takhta Majapahit seringkali juga diwarnai pertumpahan darah.

Akibat dari konflik internal Majapahit ini, banyak kerajaan - kerajaan jajahan di Nusantara yang melepaskan diri. Raja Majapahit terakhir yaitu Girindra Wardhana Parbu Nata sendiri hanya menjabat sebagai  raja Majapahit selama 5 tahun dan kemudian mengundurkan diri dan memilih menjadi raja Blambangan.

Kerajaan Lasem sebagai Kerajaan Vasal Majapahit juga terkena imbas konflik internal Majapahit. Lasem yang sebelumnya tercatat sebagai wilayah bagian Kerajaan Majapahit pada Piagam SIngosari (1351) kemudian tidak tercantum lagi pada Prasasti Wringin Pitu (1464). Barulah ketika Bhre Pandan Salas naik tahta, Lasem kembali tercatat sebagai Kerajaan Vasal Majapahit. Dengan adanya penghapusan dan penambahan kembali Kerajaan Lasem sebagai kerajaan vassal Majapahit mengindikasikan adanya ketidakstabilan politik yang terjadi di internal Kerajaan Majapahit.

Setelah berakhirnya kekuasaan Bhre Pandan Salas atas Kerajaan Majapahit yang tak lebih menjabat hanya selama dua tahun (1466-1468) selesai pula kekuasaan Bhre Lasem, putri Bhre Pandan Salas atas Kerajaan Lasem. Bhre Lasem terakhir menghapus Kerajaan Lasem dan inilah masa akhir Lasem sebagai kerajaan vasal Majapahit.

Peranan Kerajaan Lasem Dalam Imperium Majapahit
  • Kerajaan Lasem merupakan salah satu dari sebelas kerajaan vasal yang dikuasai oleh kerabat Kerajaan Majapahit.
  • Kerajaan Lasem menjadi angkatan laut Majapahit dari masa Duhitendu Dewi hingga putri Bhre Pandan Salas
  • Teluk Regol menjadi kawasan perdagangan yang ramai oleh para pedagang baik dari nusantara maupun mancanegara.
PENINGGALAN SEJARAH PADA MASA KERAJAAN LASEM
Kerajaan Lasem sebagai kerajaan besar pada masanya meninggalkan peninggalan yang tidak sedikit. Peninggalan tersebut masih bisa kita rasakan sekarang. Peninggalan tersebut diantaranya :

Peninggalan berupa benda dapat bergerak
  1. Lingga Yoni dapat kita temukan di daerag situs Gunung Bata di Desa Sendangcoyo, Kec. Lasem; situs Candi Gebang di Desa Waru Gunung, Kec Pancur; situs lingga Kajar di Desa Kajar, Kec. Lasem; dan situs Tambak Jongan di Caruban, Desa Gedongmulyo, Kec Lasem.
  2. Arca Nandi
    Arca Nandi ditemukan ditemukan di situs Gebang, Desa Warugunung, Kec. Pancur.
  3. Arca Ganesa
    Arca Ganesha ditemukan di Sawah Candi, Sulo, Desa Sriombo, Kec. Lasem dan di Desa Bonang, Kec. Lasem.
  4. Arca Anjing
    Arca Anjing ditemukan di Sawah Kepatihan, Desa Ngemplak, Kec. Lasem.
  5. Perhiasan abad 14-15
    Perhiasan berupa emas dan bingal ditemukan di situs hutan Sangkrah, Sesa Ngiri, Kec. Bulu.
  6. Barang - Barang Rumah Tangga
    Barang - barang rumah tangga yang ditemukan berupa keramik Cina abad 14, ditemukan di Ngangkatan, Kec. Pancur. Pernah juga keramik Cina, gerabah, dan barang pecah belah abad 14 ditemukan di Caruban, Gedongmulyo dan Sriombo. Mata uang kepeng abad 14 ditemukan di Desa Bonang, Kec. Lasem; di Desa Sukorejo, Kec. Sumber; dan Desa Tegaldowo, Kec. Gunem.
  7. Jangkar Kapal
    Jangkar kapal tua yang diperkirakan peninggalan kapal Tiongkok dan kapal - kapal Majapahit banyak ditemukan di garis pantai Lasem, Rembang. Di antaranya yang sekarang berada di kompleks Taman Kartini Rembang, di Museum Kartini / Pendopo Rembang, di Rumah Candu Lawang Ombo, Soditan - Lasem, dan terakhir tahun 2012 ditemukan oleh nelayan di pantai Rembang dengan ukuran kurang lebih panjang 4 m dan lebar 3 m.
Temuan - temuan tersebut sebagian berada dalam penguasaan desa setempat. Sedangkan, sebagian lagi oleh pemerintah kabupaten, para kolektor, dan Badan Kepurbakalaan Nasional. Namun, banyak juga yang terjarah dan hilang oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab. Salah satunya seperti pada penemuan arca Ganesha yang terbuat dari bahan emas di Desa Bonang tahun 2006 yang keberadaannya hingga sekarang masih misterius.

Benda yang tidak bergerak
  1. Goa Pertapaan
    Berada di perbukitan Desa Kajar, Kec. Lasem. Goa tersebut terdiri dari dua bagian, satu diantaranya adalah goa buatan. Di dalamnya terdapat ruangan untuk pemujaan dan pernah ditemukan tablet arca Shiwa berbahan tanah liat yang dibakar. 
  2. Batu Tapak
    Berada di Desa Kajar, Kec. Lasem. Batu Tapak ini berupa tanda kaki sebelah kanan menghadap ke timur yang diabadikan / dipahatkan diatas batu hitam. Menurut para sejarawan, tanda ini merupakan semacam prasasti yang menunjukkan pengabdian sebuah kekuasaan tertentu pada masa itu yang dituangkan dalam cap tapak kaki. Dan tanda - tanda semacam ini sering ditemukan di daerah - daerah koloni Majapahit Nusantara. 
  3. Bahan Pembuatan Prasasti
    Terletak di Sambikalung, Kec. Pamotan, yaitu bongkahan - bongkahan batu besar / batuan hitam yang diperkirakan bahan pembuatan prasasti. Hingga sekarang batuan tersebut belum bisa diangkat karena terlalu banyak dan besar yang terlilit akar dan belukar di bawah pohon - pohon besar.
  4. Sumur - Sumur Tua
    Sumur tua yang ditemukan berdinding batu bata merah dengan ukuran 20 cm - 40 cm. Model sumur ini merupakan teknik pembuatan sumur abad 14 - 15. Sumur - sumur ini banyak ditemukan di daerah Caruban-Gedongmulyo, Sumbergirang, Dorokandang, dan Bonang.
  5. Pondasi Bangunan
    Pondasi - pondasi ini juga terbuat dari batu bata merah yang berukuran 20 - 40 cm. Pondasiini ditemukan di Narukan, Desa Dorokandang, Bonang, Kajar, Caruban-Gedongmulyo, Sendangcoyo, Sriombo, Warugunung dan Sumbergirang. Sebagian besar sisa - sisa pondasi tersebut adalah bekas candi, kecuali di sekitar Sumbergirang yang merupakan sisa - sisa kompleks istana / kraton termasuk pula tamansari Kamalapuri di daerah Makam Kutho, Sumbergirang.
Dari Penelitian Badan Arkeologi Nasional
  1. Penelitian bekas pelabuhan di daerah Caruban, Gedongmulyo.
  2. Penelitian fragmen keramik asing Dinasti Ming abad 14; Vietnam, dan Thailand abad 15; Sukotar abad 14; dan Jawangka Log abad 15.
  3. Penelitian bekas sumur - sumur tua sebagai indikasi keberadaan pemukiman lama.
Peninggalan berupa pengistilahan nama - nama tempat yang menggnakan nama jabatan Panca Wilwatikta :
  1. Kampung Demungan di Desa Jolotundo, Kec. Lasem; berasal dari kata demung yang dulunya merupakan kediaman atau kompleks kademungan.
  2. Kampung Karanggan di Sumbergirang, Kec. Lasem; berasal dari kata rangga yang dulunya merupakan tempat kediaman seorang rangga kerajaan.
  3. Kampung Kepatihan di Jl. Sunan Bonang, Ngemplak, Kec. Lasem; berasal dari kata Patih yang merupakan kompleks kepatihan masa itu.
  4. Tegal Tumenggungan ; berada di sebelah barat Sungai Kiringan, Punjulharjo, Kec. Rembang, berasal dari kata tumenggung yang dahulu merupakan komplek Tumenggungan.
  5. Dukuh Narukan di Dorokandang, Kec. Lasem; berasal dari kata Kanaruhan-Kanarukan-Narukan, dahulunya merupakan kompleks Kanaruahan.
Peninggalan seni dan budaya
  1. Seni musik: Gending karawitan Pathet Lasem dan Sampak Lasem yang masih saat ini, yaitu musik gamelan kombinasi antara gamelan Jawa dan musik dari Campa di akhir abad 15.
  2. Seni rupa: berupa relief - relief dan arca yang pernah ditemukan di reruntuhan bekas candi. Ornamen - ornamen interior bangunan yang terbuat dari keramik Cina. Adapun seni grafis yang amsih biisa kita rasakan hingga saat ini adalah motif batik klasik Laseman dengan pola batik esok sore, tiga negri, godong pring, dan sebagainya.
  3. Sastra: bidang sastra ini hampir - hampir tidak ditemukan naskah kuno yang ditulis masa itu. Dalam beberapa naskah yang lebih muda diceritakan banyak pujangga dan kaum istana Lasem yang pandai dalam bidang sastra, namun kenyataannya, sampai saat ini tak pernah ditemukan. Barangkali, yang bisa dikatakan satu - satunya peninggalan tersisa masa itu adalah naskah Sabda Badrasanti yang sudah mengalami beberapa penggubahan dari beberapa generasi pula. 
  4. Seni beladiri: beladiri pathol atau gulat pathol, olahraga ini masih populer dan dilestarikan oleh masyarakat Sarang dan Kragan. Dulu, olahraga ini merupaka olah ketangkasan bagi prajurit laut di masa Kerajaan Lasem.
Video Animasi Kerajaan Lasem


Sumber : Unjiya, M. Akrom. 2014. Lasem Negeri Dampo Awang. Sleman: Salma Idea.


EmoticonEmoticon