Monday, October 31, 2016

Kerajaan Mataram Kuno (Medang) (732-928 M)

Kerajaan Mataram (Mataram Kuno atau disebut juga Mataram Hindu atau Medang) merupakan kelanjutan dari kerajaan Kalingga yang berasal dari Jawa Tengah dengan nama Medang yang kemudian dipindah ke Jawa Timur pada abad ke 10. Penyebutan nama Mataram Hindu, Mataram kuno atau Medang yaitu agar memudahkan pembedaan Mataram Hindu dengan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke 16. Mataram Kuno runtuh pada abad ke 11.

Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah atau yang disebut Bumi Mataram. Daerah ini berupa daerah yang dikelilingi gunung diantaranya Gunung Prau (Dieng), Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu serta pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh sungai - sungai diantarnya Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Daerah Mataram Kuno sangat subur karena dikelilingi oleh gunung dan sungai.

Kerajaan Mataram Kuno atau disebut juga Medang merupakan kerajaan dengan corak agraris. Dalam kerajaan Mataram Kuno terdapat tiga wangsa (dinasti) yang pernah bergantian menguasai Kerajaan Mataram Kuno diantaranya adalah Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra serta Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya berasal dari para pemeluk Hindu, Wangsa Syailendra berasal dari pemeluk Buddha sedangkan Wangsa Isana merupakan wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sendok.

Pendiri kerajaan Mataram Kuno adalah raja Sanjaya yang  juga merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu. Raja Sanjaya kemudian digantikan oleh Rakai Panangkaran saat Sanjaya wafat, Rakai Panangkaran berpindah agama ke agama Budha beraliran Mahayana. Rakai Panangkaran inilah yang kemudian mendirikan Wangsa Syailendra. Agama Hindu dan Buddha berjalan harmonis di kerajaan Mataram Kuno. Penganut agama Hindu berada di Jawa Tengah bagian utara sedangkan penganut agama Buddha berada di selatan Jawa Tengah.

Wangsa Sanjaya kembali memerintah sebagai raja yaitu pada pemerintahan Pramodawardhani anak dari Samaratungga yang menikah dengan Rakai Pikatan yang menganut agama Hindu. Dengan adanya pernikahan ini, Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya maju sebagai raja dan memulai kembali pemerintahan dinasti Sanjaya. Rakai Pikatan juga menyingkirkan adik dari Pramordyawardhani yaitu Balaputadewa yang kemudian mengungsi ke Sumatera dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya.

Dinasti Sanjaya berakhir pada pemerintahan Rakai Sumba Dyah Wawa. Berakhirnya pemerintahan dinasti Sanjaya dibawah Rakai Sumba Dyah Wawa masih diperdebatkan, ada teori yang menyebutkan bahwa kehancuran pusat Mataram dikarenakan adanya bencana. Raja Wawa kemudian digantikan menantunya, Mpu Sendok yang kemudian memindahkan kerajan Mataram ke Jawa Timur atau disebut awal dari kerajaan Mataram Medang. Kerajaan Mataram Kuno yang sebelumnya beribukota di sekitar Yogyakarta kemudian dipindah ke daerah Watan Mas, sekitar muara Sungai Brantas.

Alasan Mpu Sendok memindahkan kerajaan Mataram diantaranya :
  1. Mengindari letusan Gunung Merapi purba
  2. Menjauhkan dari ancaman kerajaan Sriwijaya
  3. Muara Sungai Brantas dianggap subur dan sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai tempat berdagang.
Letak Kerajan Mataram Kuno


Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno
Menurut Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 M menyebutkan bahwa raja pertama Mataram Kuno adalah Sanjaya. Raja Sanjaya sendiri membuat prasasti Canggal yang berangka tahun 732 tanpa menyebutkan secara jelas nama kerajaannya. Prasasti Canggal menyebutkan adanya kerajaan di Jawa selain kerajaan Matarm yaitu kerajaan Galuh yang memisahkan diri dari kerajaan Sunda (Akhir kerajaan Tarumanegara) dengan rajanya bernama Sanna yang kemudian dikenal dengan Bratasena.

Kekuasaan Bratasena Galuh di kerajannya digulingka oleh Purbasora, Bratasena kemudian melarikan diri ke Kerajaan Sunda untuk meminta perlindungan kepada Raja Sunda, Tarusbawa. Tarusbawa kemudian mengambil keponakan Bratasena sebagai menantu yang bernama Sanjaya (pada perkembangannya menjadi raja pertama kerajaan Mataram). Setelah Sanjaya naik tahta menggantikan Tarusbawa, Sanjaya berniat mengambil alih kembali kekuasaan Galuh. Setelah mampu menguasai kerajaan Sunda, Galuh dan Kalingga, Sanjaya kemudian membuat kerajaan baru bernama Kerajaan Mataram Kuno.

Dari Prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya bisa dipastikan bahwa Mataram Kuno sudah berdiri sejak abad ke 7 M dengan pendirinya yaitu Sanjaya dengan gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Masa Keruntuhan Mataram Kuno
Keruntuhan Mataram Kuno disebabkan adanya permusuhan antara Jawa dan Sumatera yang diawali oleh pengusiran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang melarikan diri ke Sumatera kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa ternyata masih menyimpan dendam kepada Rakai Pikatan atas pengusirannya. Dendam ini ternyata turun temurun ke generasi selanjutnya. Selain itu terjadi perebutan kekuasaan perdagangan di jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Permusuhan tersebut berlangsung hingga Wangsa Isana di bawah pemerintahan Mpu Sendok. Sriwijaya pernah menyerang Mataram Kuno yang terjadi di daerah Nganjuk, Jawa Timur dan dimenangkan oleh pihak Mataram Kuno. Keruntuhan Mataram terjadi ketika masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh atau cicit dari Mpu Sendok. Pada masa pemerintahan Dharmawangsa terjadi lagi penyerangan Sriwijaya ke Mataram namun masih dimenangkan Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah menyerang Sriwijaya yaitu pada 1006 Dharmawangsa lengah saat mengadakan pernikahan putrinya. Istana Medang yang berada di Wiwitan diserang oleh Aji Wuwari dari Lwaram yang telah bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya. Pada penyerangan tersebut Dharmawangsa tewas dan berakhirlah kekuasaan Mataram Kuno atau Medang di Jawa.

Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno
Sumber utama keberadaan Kerajaan Mataram Kuno diantaranya dari Prasasti serta Candi. Adapun prasasti - prasasti tersebut diantaranya :
  1. Prasasti Canggal, ditemukan di halaman Candi Guning Wukir yaitu di desa Canggal yang berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal berbahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa. Prasasti Canggal menceritakan pendirian Lingga di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Selain itu, Prasasti Canggal juga menceritakan sebelum Sanjaya menjadi raja, ada raja sebelumnya yang bernama Sanna (Bratasena) yang digantikan oleh Sanjaya yang merupakan anak dari Sannaha (saudara perempuan Sanna) yang kemudian mendirikan Mataram.
  2. Prasasti Kalasan, ditemukan di daerah desa Kalasan Yogyakarta yang berangka tahun 778 M. Prasasti Kalasan ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan menggunakan bahasa Sansekerta. Isi dari prasasti ini yaitu menceritakan pendirian bangunan suci yang diperuntukkan kepada Dewi Tara serta biara untuk pendeta oleh Rakai Panangkaran atas permintaan keluarga wangsa Syailendra. Selain itu Rakai Panangkaran juga menghadiahi desa Kalasan untuk para Sanggha (umat Budha). 
  3. Prasasti Mantyasih, ditemukan di desa Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah, yang berangka tahun 907 M. Prasasti Mantyasih menggunakan bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini menceritakan tentang silsilah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi serta Rakai Watuhumalang.
  4. Prasasti Klurak, ditemukan di desa Prambanan yng berangka tahun 782 M ditulis dengan aksara Pranagari dan menggunakan bahasa sansekerta. Isi dari prasasti ini yaitu menceritakan tentang pembuatan Arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.
Selain prasasati - prasasti yang telah disebutkan diatas, Kerajaan Mataram juga meninggalkan bangunan - bangunan berupa candi. Candi tersebut diantaranya Candi Borobudur, Candi Sojiwan, Candi Barong, Candi Ijo, Candi Marongan, Candi Kedulan, Candi Sari, Candi Sambisari, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Sewu, Candi Prambnan, Candi Plaosan, dan terakhir Candi Kalasan.

Raja Mataram Yang Pernah Memerintah
  • Sanjaya, pendiri Mataram Kuno (Pendiri Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Panangkaran (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Panunggalan alias Dharanindra (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Warak alias Samaragrawira (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Garung alias Samaratungga (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Pikatan suami Pramodawardhani (Awal kebangkitan Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala (Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Watuhumalang (wangsa Sanjaya)
  • Rakai Watukura Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya)
  • Mpu Daksa (Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Layang Dyah Tulodong (Wangsa Sanjaya)
  • Mpu Sendok (Awal Wangsa Isana serta awal periode kerajaan Medang di Jawa Timur)
  • Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya (Wangsa Isana)
  • Makuthawangsawardhana (Wangsa Isana)
  • Dharmawangsa Teguh, (Wangsa Isana dan berakhirnya Mataram Kuno)
Kondisi Sosial Ekonomi Kerajaan Mataram Kuno / Medang
Keadaan geografis Mataram Kuno ketika masih di Jawa Tengah sangat menguntungkan pertanian di kerajaan Mataram Kuno. Masyarakat Mataram beraktivitas sebagai petani memanfaatkan tanah yang subur karena berada di antara pegunungan serta sungai yang merupakan tempat yang subur. Ketika berpindah ke Jawa Timur tepatnya di daerah sungai Brantas, Mataram masih mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian Mataram. Sungai Brantas dimanfaatkan sebagai jalur perdagangan kerajaan Mataram Kuno yang berpindah di Jawa Timur.

Aspek Kehidupan Kebudayaan Mataram Kuno
Mataram Kuno terbagi menjadi dua dinasti yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Kedua dinasti ini memiliki peninggalan masing - masing berupa candi. Dinasti Sanjaya yang berada di utara Jawa Tengah dan memeluk agama Hindu meninggalkan hasil budaya berupa Candi Gedong Songo dan Candi Dieng. Sedangkan Wangsa Syailendra yang mayoritas berada di selatan Jawa Tengah meninggalkan candi - candi beraliran Buddha seperti Candi Borobudur, Mendut serta Pawon.

Kedua dinasti ini sebelumnya sering mengalami pertikaian, namun ketika terjadi pernikahan antar wangsa yaitu ketika pernikahan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya) yang beragama Hindu dan Pramodhawardhani (Wangsa Syailendra) yang beragama Buddha, kedua wangsa ini hidup secara damai dan berdampingan.

Aspek Kehidupan Sosial
Meskipun kerajaan Mataram Kuno menganut dua agama yaitu Hindu dan Buddha, namun masyarakatnya bisa hidup rukun dan saling bertoleransi. Hal ini terlihat pada candi yang bercorak Hindu dan Buddha seperti Candi Plaosan.



EmoticonEmoticon