Thursday, October 20, 2016

Kriteria Bahan Ajar Sejarah Yang Baik

Menurut Andi Prastowo (2011:17) baha najar merupakan segala (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi  pembelajaran. Sedangkan menurut Wasino (2010:1) bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematik baik baik secara tertulis maupun tidak tertulis yang digunakan untuk membantu guru / instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas baik bahan ajar berisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Dalam artian sempit bahan ajar bisa disebut juga seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis yang bertujuan menciptakan lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Dalam kegiatan pembelajaran, guru dituntut untuk mencapai Standar Kompetensi yang sudah ditentukan. Fungsi bahan ajar sendiri adalah alat untuk mempermudah guru dalam pencapaian SK tersebut.

Berikut ini adalah kriteria bahan ajar yang baik dan benar :
  1. Kesesuaian dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD)
    Acuan utama dalam mengembangkan bahan ajar adalah kesesuaian bahan ajar yang akan dikembangkan dengan SKKD. Hal ini dapat diartikan bahwa bahan ajar tersebut harus sesuai serta menunjang penyampaian materi guna tercapainya SKKD. Isi dalam bahan ajar tersebut harus disesuaikan dengan tema materi yang akan diajarkan, jadi apabila bahan ajar yang bersangkutan tidak memenuhi kriteria materi yang akan diajarkan maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar tersebut tidak memenuhi kriteria bahan ajar yang baik dan benar.
  2. Dapat Menumbuhkan Minat Belajar Siswa dalam Belajar Sejarah
    Seringkali pengajaran sejarah dianggap membosankan bagi sebagian orang, hal ini sependapat dengan apa yang diutarakan I Gde Widja (1981:1) kalau diperhatikan praktek - praktek pengajaran di sekolah, sering didapat kesan bahwa pelajaran sejarah itu tidak menarik, bahkan sangat mebosankan. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah, karena zaman modern ini sudah banyak pemanfaatan media berbasis elektronik untuk dijadikan penunjang pembelajaran. Dalam pengembangan bahan ajar sejarah diharapkan mampu menarik minat siswa dalam mempelajari sejarah baik dalam bahan ajar berupa teks tertulis maupun tidak tertulis.
  3. Sesuai dengan Kebutuhan SiswaDalam penyusunan bahan ajar hendaknya harus mengetahui apa yang siswa butuhkan. Pengembang bahan ajar hendaknya juga menganalisis apa yang siswa butuhkan sesuai dengan tingkat pendidikan. Sebagai contoh siswa SMP lebih cenderung menyukai hal - hal yang bersifat visual karena tidak terlalu membosankan serta merangsang pola pikir siswa untuk mengaitkan gambar dengan penjelasan, siswa SMA akan cenderung lebih ke analisis. Maka dari itu pengembang bahan ajar hendaknya juga mensiasati hal tersebut dalam bahan ajar yang dikembangkan.
  4. Flexibel
    Bahan ajar hendaknya harus fleksibel menyesuaikan kebutuhan lapangan. Seringkali bahan ajar sejarah bersifat kaku sesuai dengan pola pembelajaran. Terkadang siswa dijejali sejarah nasional sedangkan sejarah lokal daerahnya sendiri dikesampingkan. Oleh karena itu dalam sejarah peminatan pada kurikulum 2013 adalah kesempatan bagi guru untuk lebih mengembangkan bahan ajar sejarah lokal sebagai salah satu "pancingan" siswa untuk lebih tertarik pada daerahnya sendiri. Selain itu diharapkan bahan ajar juga bersifat ketermasaan dalam artian sesuatu yang baru (pembaruan).
  5. Uji Kelayakan BSNP
    Bahan ajar yang baik seharusnya memperhatikan standar baku menggunakan penilaian bahan ajar dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Penilaian BSNP mencakup empat aspek diantaranya kelayakan isi / materi, kelayakan penyajian, kelayakan bahasa, dan kelayakan kegrafikan. Untuk menilai valid atau tidaknya bisa diajukan ke ahli dan praktisi yang kompeten terhadap bidangnya. Selengkapnya baca disini
Sumber :
Wasino. 2010. Materi Diktat Menyusun Bahan Ajar yang Cerdas. Semarang: Lembaga Pengawas Kualitas Pendidikan.
Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press.
Widja, I Gde. 1989. Dasar – Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.


EmoticonEmoticon