Tuesday, November 29, 2016

Ilmu Beladiri Khas Majapahit


Kali Majapahit merupakan seni beladiri khas Majapahit atau disebut juga Sundang Majapahit. Sundang Majapahit mengadopsi ilmu - ilmu alam diantaranya
  • Sundang Gunung (aspek pertahanan) 
  • Sundang Kali / Sungai (aspek penggempuran) 
  • Sundang Laut (aspek penaklukan) 
  • Sundang Angin (aspek penyusupan) 
  • Sundang Matahari (aspek perlindungan terhadap raja dan kerabatnya)

Seni beladiri Sundang Majapahit bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Sundang Majapahit diperkenalkan oleh Mahesa Anabrang (Sri Bhatara Adwayabrahma) salah satu dari 9 arya Singasari yang kemudian menjadi petinggi di Majapahit. Ia memperkenalkan Sundang Majapahit yang merupakan perkawinan ilmu pencak silat dengan teknik telikungan / patahan yang dikombinasikan dengan senjata.

Ilmu beladiri ini pada awalnya adalah milik dari kerajaan Singasari dan Darmasraya (Kerajaan Melayu Jambi) yang kemudian diturunkan kepada Kerajaan Majapahit. Ilmu ini memadukan pedang (Sundang) yang berada di tangan kiri dan keris (Taji) yang ada di tangan kanan. Sundang Majapahit tidak memilih untuk bertahan melainkan maju menggempur dan menyusup ke titik terlemah musuh.

Dalam sejarah Majapahit, ilmu ini dianggap paling ampuh dan dianggap paling kejam dalam sejarah perang Majapahit. Seorang Ronggolawe yang juga salah satu 9 arya Singasari pun tewas ketika melawan pasukan Mahesa Anabrang. Ilmu ini digambarkan dengan "Tidak bisa dihentikan ditengah jalan, dia akan mengalir bak air bah yang tak terbendung".
Baca : Tewasnya Ronggolawe oleh Sundang Majapahit Mahesa Anabrang
Sebelum meninggal, Mahisa Anabrang mewariskan ilmunya ini ke putranya yaitu Dyah Bagus Mantlorot atau Mahesa Taruna atau disebut juga Adityawarman. Dengan Sundang Majapahit yang diwariskan ayahnya ini, ia mampu menduduki posisi tertinggi Wredhamenteri (orang kedua setelah raja) yang dianggap jauh dari posisi Gajah Mada. Ilmu Sundang Majapahit kemudian di turunkan ke 3 kerajaan mandala diantaranya Dharmasraya, Bugis Gowa dan Sulu.

Ketiga kerajaan tersebut memiliki kesamaan dalam ilmu beladiri yaitu menggunakan tali pengikat pada pergelangan yang diikatkan ke keris dan pedang atau disebut dengan Sundang. Kerajaan Dharmasraya menitik beratkan pada gerakan patahan, Bugis menitik beratkan pada kuncian dan tikaman (pencak sarung), sedangkan Sulu menitik beratkan pada reaksi (kali). Di Nusantara, ilmu ini mulai memudar seiring berjalannya waktu, hanya Sulu (wilayah selatan Filipina) yang masih melestarikan ilmu Sundang Majapahit dan masih menggunkan nama Kali Majapahit. Ilmu ini kemudian di klaim berasal dari Filipina dan mendunia hingga membuka cabang di Indonesia.

Video Demo Kali Majapahit


EmoticonEmoticon