Biografi Herodotus

Eropa seolah menjadi kiblat ilmu pengetahuan, tak terkecuali hitoriografi sejarah. Kebudayaan Yunani dan Romawi dianggap sebagai kebudayaan dan peradaban tinggi yang berkembang di zaman Eropa Kuno. Herodotus menjadi sosok penting dibalik historiografi Eropa Kuno, karena berkat tulisannyalah historiografi di Eropa di mulai.

Historiografi Eropa Kuno diawali dari mitologi. Penulisan historiografi berkembang dari sumber sejarah lisan dan kemudian berkembang menuju sejarah tulisan saat manusia mulai mengenal tulisan. Pada awal berkembangnya historiografi sangat berkaitan erat dengan sejarah lisan dan berkembang pada tulisan berbentuk syair atau puisi. Antara keduanya memiliki perbedaan yaitu pada sejarah lisan lebih bersifat mitos, emosi, epos dan fiksi. Sedangkan pada sejarah tulisan mulai berkembang ke arah historis, rasional dan faktual.

Herodotus merupakan pelopor penulisan historiografi yaitu dalam bentuk logographoi yang kemudian dikenal dalam bentuk prosa. Perubahan dari bentuk puisi menjadi prosa inilah yang kemudian membuat Herodotus dianggap sebagai bapak sejarah. Bentuk penulisan logographoi dapat mengubah tradisi yang ada yaitu dari mistis menjadi bentuk rasional.

Tokoh Historiografi Eropa Kuno
a. Herodotus sebagai bapak sejarah (484 – 418 SM)
b. Thucydides (456 – 396 SM) sebagai bapak sejarah kritis
c. Polybus (198 – 117 SM)
d. Titus Livyus (59 – 17 SM)

Hasil Karya Historiografi Eropa Kuno
Herodotus membuat karya historiografi yang menjadi awal dari historiografi Eropa yaitu kisah tentang Perang Persia. Herodotus menggunakan unsur kajian ilmiah dalam dunia ilmu sejarah. Karyanya berisi kebudayaan Yunani. Perang Peloponnesia (431-404 SM) merupakan karya dari Thucydides yang mengisahkan tentang kesah sejarah pada lingkup politik. Bila Herodotus lebih condong ke sejarah kebudayaan, Thucydides lebih condong ke sejarah politik dan militer. Thucydides menekankan pada kritik sumber dan metode sejarah dalam karyanya. Maka kemudian lahirlah sejarah kritis.

History of Rome merupakan penggambaran dari kebesaran Romawi, termasuk kehidupan rakyat kecil, kekejaman mandor kepada pekerja, dasar hukum Romawi, proses perkembangan teori politik dan moral serta hubungan antar tradisi. Dari karya – karya tersebut kemudian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Yunani dan Romawi merupakan kebudayaan klasik yang menjadi akar kebudayaan Eropa. Historiografi Yunani lebih bebas menentukan temanya seperti karya Herodotus dan Thucydides. Sedangkan historiografi Romawi banyak dipengaruhi kebudayaan dan sistem pemerintahan yang berlaku. Umumnya tulisan sejarah Romawi bersifat heroik / patriotik dengan menunjukkan kegemilangan imperium Romawi.

Biografi Herodotus
Herodotus dianggap Cicero sebagai “bapak sejarah”. Meskipun demikian, tulisan Herodotus lebih banyak bersumber dari peristiwa yang ia lihat sendiri dan deskripsi yang ia percaya. Herodotus pergi ke berbagai tempat dan mengumpulkan informasi tangan pertama dari tempat – tempat tersebut. Dia mengatakan, “Merupakan tugas saya untuk mengulangi apa yang dikatakan, tapi jangan pernah langsung percaya dengan apa yang saya tulis tanpa syarat, pernyataan ini berlaku untuk semua karya saya”.

Sejak awal, nampaknya Herodotus sudah memiliki fikiran untuk menulis resolusi karya sejarah dalam skala panjang dan dengan pandangan tersebut ia bertekad untuk mengetahui dengan mata kepalanya tentang masa lalu. Hal ini dibuktikan dengan mengunjungi tempat – tempat terpencil. Ia pernah mengunjungi Mesir, Palestina dan Phoenicia, kemudian menembus Babel dan Susa. Herodotus juga pernah berlayar melalui Hellespont ke Laut Hitam, dan mengunjungi negara – negara yang berada di garis pantai. Setelah kembali, ia kemudian tinggal di Athena selama beberapa waktu. Ia mundur ke Thurii, Italia, dimana banyak sesamanya tinggal. Di tempat inilah kemungkinan Herodotus menulis karya – karyanya yang abadi dalam penurunan hidupnya. Menurut Suidas, Herodotus meninggal dan dimakamkan di Thurii sekitar tahun 418 SM.

Herodotus lahir pada tahun 484 SM di Halicarnassus. Sebagai sebuah kota utama yang berada dekat dengan Asia Kecil. Halicarnassus diperintah oleh Ratu Artemisia. Ratu Artemisia merupakan pengikut Xerxes, raja Persia dan telah berperang bersama dalam perang di laut Salemis. Tidak banyak hal yang bisa diceritakan dari Herodotus kecil. Ketika Herodotus masih kecil, terjadi perang antara Persia dan Yunani di Halicarnassus. Kota kelahiran Herodotus, Halicarnassus, ditaklukkan tak lama sebelum ia dilahirkan. Namun, ketika Persia menyerang Athena dan Sparta, Persia kalah. Ketika Herodotus hidup, ia mengabdikan dirinya untuk mempelajari kejadian tersebut.

Riwayat Herodotus baru banyak terkuak ketika Herodotus menginjak dewasa. Sepeninggal Ratu Artemisia digantikan oleh yang cucunya bernama Lygdamis. Ia merupakan seorang tiran sehingga tidak disukai oleh rakyatnya. Herodotus muda dan pamannya, Panyasis, merupakan seorang penyair yang terlibat dalam plot gagal untuk menggulingkan Lygdamis. Kegagalan ini mengakibatkan Panyasis ditangkap dan dieksekusi sedangkan Herodotus mampu melarikan diri dan berlindung di kota tetangga, Samos. Herodotus tinggal di Samos selama delapan tahun dan mempelajari Ionic yang digunakan untuk menulis karya – karyanya. Setelah Lygdamis digulingkan, Herodotus kembali ke Halicarnassus dan ternyata ia tidak diinginkan penguasa baru dan memaksanya keluar dari kota kelahirannya.

Herodotus kemudian menuju Athena, kota yang sedang berkembang mencapai puncak budaya, dengan cepat Herodotus merasa nyaman di Athena. Selama di Athena, Herodotus menceritakan pengalamannya dengan Lygdamis di Halicarnassus kepada sejawat cendekiawan. Pada akhirnya dari cerita tersebut, ia diberikan tunjangan untuk menopang hidup sehari – hari. Tempat yang pernah dikunjungi Herodotus diantaranya Mesir, Babilonia, Susa, Ecbatana, Crimea, Georgia, Tirus, Suriah, Thrace, Kirene, Libya dan seluruh Yunani.

Dalam bukunya, Herodotus menulis tentang kekhasan wilayah – wilayah yang pernah ia kunjungi, hewan dan tumbuhan, karakteristik orang, politik, sosial, budaya serta kisah – kisah legenda di wilayah – wilayah yang ia kunjungi. Pandangan subyektif tidak dapat dihindari mengingat hal – hal yang ditulisnya berasal dari perspektif dirinya sendiri terhadap peradaban Yunani sebagai standar untuk menilai peradaban lain.

Sekitar tahun 444 SM, orang Athena mendirikan sebuah koloni bernama Thurii di Italia selatan. Tempat tersebut menjadi pertemuan internasional dan warga terkemuka di semua bangsa beradab. Herodotus kemudian tinggal di Thurii untuk beberapa waktu dan akhirnya memilih kembali ke Athena pada tahun 432 SM. Herodotus meninggal di Athena antara tahun 426 hingga 415 SM.
Blogger
Disqus

No comments