Sumpah Palapa Gajah Mada, Pemersatu Nusantara

Terdapat beberapa kerajaan besar yang tercatat pernah berdiri dan menyatukan Nusantara dalam satu pemerintahan diantaranya Medang, Sriwijaya, Singasari dan Majapahit. Tidak bisa dipungkiri pulau Jawa adalah salah satu pulau di Nusantara yang melahirkan kerajaan - kerajaan besar di Nusantara. Salah satu kerajaan terbesar di Nusantara adalah Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Tengah.

Adalah Gajah Mada, seorang patih yang mampu menyatukan Nusantara dibawah panji Majapahit melalui sumpahnya yang bernama Sumpah Palapa. Ketika raja Jayanegara wafat pada tahun 1328 ditunjuklah Tribuwanatunggadewi yang merupakan anak Gayatri, istri muda Raden Wijaya yang sebelumnya memegang jabatan sebagai Bhre Kahuripan.

Gajah Mada menunjukkan loyalitas tinggi terhadap ratu Tribuwanatunggadewi dengan menumpas pemberontakan Sedeng. Setelah mampu meredam pemberontakan Sedeng, Gajah Mada dilantik menjadi Amangkubumi pada tahun 1336 M. Pada upacara pelantikannya, ia mengucapkan sumpah yang kemudian dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Berikut ini adalah teks Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada yang tertulis di kitab Pararaton:
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samasana isun amukti palapa".
Artinya :
Dia Gajah Mada Patih AMangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada: "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Dari Sumpah Palapa tersebut, Gajah Mada berjanji tidak akan berhenti puasa sebelum merasakan palapa (semacam garam atau rempah - rempah atau bisa juga diibaratkan dengan kenikmatan) sebelum Nusantara tunduk dibawah Majapahit. Daerah yang dikuasai atau disebut Hasta Mandala diantaranya Jawa, Andalas, Kalimantan, Malaka, sebelah timur Jawa, Bali, Nusan Tenggara, Maluku, dan Irian Barat.

Pada tahun 1350 Tribuwanatunggadewi turun tahta karena ibunya, Gayatri, wafat. Tribuwanatunggadewi kemudian digantikan putranya bernama Hayam Wuruk. Hayam Wuruk memerintah Majapahit pada periode 1350 - 1389 dengan gelar Rajasanagara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada lah Majapahit berhasil mencapai masa kejayaan dengan menaklukkan Nusantara. Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada berhasil diwujudkan.

Pada tahun 1343 Bali mampu dikuasai kemudian dilanjutkan Pagaruyung (Minangkabau) dan daerah lainnya. Nusantara untuk kedua kalinya disatukan setelah sebelumnya disatukan oleh Sriwijaya. Keberhasilan Majapahit menyatukan Nusantara karena adanya kekuatan dan ketangguhan armada lautnya. Majapahit sering dianggap sebagai kerajaan maritim meskipun letak pusat kerajaan ada di pedalaman. Rakyat Majapahit hidup sejahtera dengan hasil laut, perdagangan dan bercocok tanam.

Gajah Mada yang dikenal sebagai negarawan juga dikenal sebagai ahli hukum. Ia berhasil menyusun kitab hukum Kutaranawa yang merupakan kitab berdasarkan Kutarasastra dan kitab hukum Hindu Manwasastra. Kejayaan Majapahit ditunjang dengan kemajuan di bidang sastra. Pada tahun 1365, Mpu Prapanca berhasil menyusun kitab Negarakertagama yang berisi sejarah Kerajaan Singasari dan Majapahit. Selanjutnya Mpu Tantular yang berhasil menyusun Kitab Sutasoma dan Arjunawiwaha.

Pada tahun 1364 Gajah Mada wafat sedangkan Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 dan mampu mempertahankan kejayaannya. Majapahit mengalami masa kemunduran ketika diperintah pengganti Hayam Wuruk yaitu Wikramawardhana. Pada masa pemerintahan Wikramawardhana inilah Majapahit mengalami perang saudara sehingga menyebabkan wilayah - wilayah Majapahit satu persatu memisahkan diri. Gajah Mada tidak mempunyai kader penerus dan hal inilah yang kemudian menjadi salah satu batu sandungan perkembangan kerajaan Majapahit.
Blogger
Disqus

No comments