Zaman Neolitikum (Zaman Batu Muda)

Neolitikum berasal dari kata Neo yang berarti baru atau muda dan Lithos yang berarti batu. Neolitikum berarti zaman batu baru atau zaman batu muda. Ciri khas dari zaman neolitikum adalah alat yang digunakan telah diasah lebih halus dan bentuknya semakin baik. Pada masa ini mulai dikenal pembuatan alat yang berasal dari tanah liat.

Kebudayaan neolitikum merupakan perkembangan dari masa food gathering ke food producing. Kehidupan yang semula menggantungkan pada alam mulai beralih untuk mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Hasil kebudayaan pada masa neolitikum adalah jenis kapak persegi dan kapak lonjong. Penyebaran kebudayaan pada masa neolitikum diantaranya Melayu Austronesia yang sebagian bangsa emigran Asia dari Tenggara.

Ciri – Ciri Zaman Neolitikum
  • Hasil kebudayaan sudah dihaluskan dan diberi tangkai 
  • Alat yang digunakan diantaranya kapak persegi dan kapak lonjong 
  • Pakaian terbuat dari kulit kayu dan kulit binatang 
  • Perhiasan terbuat dari kulit kerang, terakota dan batu 
  • Tempat tinggal sudah menetap (sedenter
  • Memiliki kemampuan bercocok tanam 
  • Menganut kepercayaan animisme dan dinamisme
Cara Hidup pada Zaman Neolitkum
Diperkirakan kebudayaan ini datang pada 2000 SM dan membawa kebudayaan maju serta menggantikan kebudayaan zaman batu madya. Mereka dikenal dengan bangsa Indonesia purba. Terdapat perubahan besar pada cara hidup pada zaman neolitikum dibandingkan pada zaman sebelumnya. Pada zaman ini manusia telah hidup secara berkelompok, menetap dan tinggal bersama dalam sebuah kampung atau pemukiman. Pada zaman ini juga telah terbuat peraturan dan kerjasama, pembagian kerja serta cara penghidupan didalam ikatan kerjasama kelompok. Dapat dikatakan pada masa inilah dasar – dasar kerjasama sebagaimana kita dapatkan pada zaman sekarang. Peninggalan Kebudayaan Zaman Neolitikum

Perkembangan kebudayaan zaman batu muda lebih berkembang daripada zaman batu madya. Hal ini dikarenakan adanya imigrasi penduduk Proto Melayu dari Yunani, Cina Selatan ke Asia Tenggara termasuk ke Indonesia. Kedatangan bangsa Proto Melayu membawa kebudayaan baru berupa kapak persegi. Kebudayaan neolitikum ini kemudian menyebar ke seluruh Nusantara. R. Soekmono menuturkan, kebudayaan neolitikum inilah yang menjadi dasar Indonesia sekarang ini.

Berdasarkan penemuan, hasil kebudayaan pada masa zaman batu muda di Indonesia terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok besar yaitu kapak persegi dan kapak lonjong disamping ada hasil – hasil kebudayaan lain.

Peninggalan kebudayaan zaman batu muda (neolitikum) adalah sebagai berikut :
  1. Kapak Persegi
    Kapak persegi adalah kapak yang berbentuk memanjang dengan penampang lintang berbentuk persegi panjang atau trapesium. Kapak ini terbuat dari batu api yang kuat atau kaldeson. Penyebutan kapak persegi berasal dari penyebutan van Heine Galdern. Kapak persegi yang ditemukan di Indonesia barat diantaranya di Sumatera, Jawa dan Bali. Sedangkan pada Indonesia timur kapak persegi ditemukan di beberapa tempat diantaranya Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Kalimantan. Pusat – pusat kerajinan kapak persegi banyak ditemukan di wilayah Jawa dan Sumatera seperti di Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Karawang, Tasikmalaya, Pacitan dan lereng Gunung Ijen.

    Fungsi dari kapak persegi yaitu sebagai lambang kebesaran, jimat, dan alat upacara. Variasi lain dari kapak persegi diantaranya kapak bahu, kapak atas, kapak biolah, dan kapak penarah. Jenis lain yang ada di Asia (Jepang dan Filipina) tetapi tidak ditemukan di Indonesia adalah kapak bahu.
     
  2. Kapak Bahu
    Kapak bahu sama seperti kapak persegi namun di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Kapak bahu hanya ditemukan di Minahasa.
     
  3. Kapak Lonjong
    Kapak lonjong merupakan kapak yang penampangnya berbentuk lonjong atau bulat telur. Ujung dari kapak lonjong berbentuk lancip dan ditempatkan tangkai kemudian diikat menyiku. Bahan yang digunakan untuk membuatnya adalah batu kali yang berwarna kehitaman. Terdapat dua macam kapak lonjong diantaranya kapak lonjong besar (walzenbeil) yang ditemukan di Irian sehingga sering dinamakan Neolitikum Papua dan kapak lonjong kecil (keinbeil) yang banyak ditemukan di Kepulauan Tanimbar dan Seram.

    Penemuan kapak lonjong terbatas hanya pada bagian timur Indonesia yaitu Sulawesi, Sangihe Talaud, Flores, Maluku, Tanimbar, Leti dan Papua. Kapak lonjong hingga kini masih digunakan di Papua terutama di daerah terasing. Selain di Indonesia, kapak lonjong juga ditemukan di Burma, Cina dan Jepang.
     
  4. Alat Serpih
    Alat serpih dibuat dengan cara memecah bongkahan batu sehingga menghasilkan pecahan – pecahan kecil berbentuk segitiga, trapesium atau setengah bulat. Alat serpih digunakan sebagai alat pemotong, gurdi, atau penusuk. Perkembangan alat serpih berikutnya menjadi panah dan ujung tombak.
     
  5. Gurdi dan Pisau
    Gurdi dan pisau neolitik banyak ditemukan di kawasan tepi danau seperti Danau Kerinci (Jambi), Danau Bandung, Danau Cangkuang, Leles Garut, Danau Leuwilang, Bogor (Jawa Barat) Danau Tondano, Minahasa (Sulawesi Utara), dan sebuah danau di Flores Barat (Nusa Tenggara Timur).
     
  6. Perhiasan
    Perhiasan pada masa neolitikum terbuat dari batu mulia berupa gelang. Benda tersebut banyak ditemukan di daerah Tasikmalaya, Cirebon dan Bandung. Jenis lain dari perhiasan ini diantaranya kalung, manik – manik dan anting – anting. Perhiasan – perhiasan tersebut dibuat dengan bahan batu indah seperti agat, kalsedon dan jaspis.
     
  7. Gerabah
    Pada masa bercocok tanam, manusia sudah dapat membuat peralatan dari tanah liat yang dibakar yang disebut tembikar atau gerabah. Pembuatan gerabah pada zaman dahulu dibuat menggunakan tangan dan tidak menggunakan roda pemutar seperti pada zaman sekarang. Jenis benda yang terbuat dari tanah liat diantaranya kendi, mangkuk, perluk belangga dan manik – manik.

Gerabah pada masa neolitikum memegang peranan penting yaitu sebagai wadah atau tempat air. Fungsi gerabah pada saat itu digunakan untuk keperluan sehari – hari seperti keperluan upacara ataupun keperluan keperluan dekorasi.

Gerabah banyak ditemukan di lapisan teratas di bukit – bukit kerang di Sumatera dan dibukit – bukit pasir pantai di selatan Jawa seperti di Yogyakarta dan Pacitan, Kendeng Lembu (Banyuwangi), Tangerang, dan Minanga Sippaka (Sulawesi Tenggara). Selain itu, di Melolo (Sumatera Barat) juga banyak ditemukan gerabah yang berisi tulang belulang manusia.

Manusia Pendukung Zaman Neolitikum
Manusia pendukung kebudayaan kapak persegi berada di Indonesia bagian timur. Mereka berasal dari ras Proto Melayu (Melayu Tua) yang datang ke Indonesia pada 2000 tahun yang lalu. Kini ras yang termasuk dalam ras Proto Melayu antara lain : suku Sasak, Batak, Dayak dan Toraja. Sedangkan manusia pendukung kebudayaan kapak lonjong berada di Indonesia bagian timur adalah ras Papua Melanesoid.
Blogger
Disqus

No comments