Pecanya Dwi Tunggal Soekarno-Hatta

Soekarno dan Hatta, merupakan dua sosok kunci kemerdekaan Indonesia. Keduanya memiliki kepribadian yang berbeda namun dapat bersatu padu demi kemerdekaan Indonesia. Soekarno merupakan pemuda Jawa dari rakyat biasa yang sangat dekat dengan rakyat dan memilih bersekolah di dalam negeri, sedangkan Hatta keturunan ningrat Sumatera yang mampu belajar hingga ke Belanda dan lebih berpandangan ke barat namun kurang begitu dekat dengan rakyatnya. Pasca Pemilu 1955, keduanya mengalami kerenggangan. Pada tanggal 1 Desember 1955, secara resmi Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil presiden.

Pengunduran diri Hatta merupakan wujud protes atas ketidakcocokan pernyataan - pernyataan yang dikeluarkan oleh Soekarno kala itu. Pada pidatonya, Soekarno mengatakan keinginannya berunding bersama dan menyatukan partai - partai menjadi satu partai karena pandangan Soekarno Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer tidak berkembang. Hatta sebagai seorang demokrat masih percaya sistem demokrasi multi partai akan membawa nilai positif bagi Indonesia. Perbedaan pendapat antara Soekarno dan Hatta tidak hanya muncul pada 1950an, namun sejak masa pergerakan nasional pun keduanya kerap kali mengalami perbedaan pendapat. .

Akan tetapi, setelah tahun 1950an jurang perbedaan pandangan antara keduanya mengenai politik Indonesia semakin lebar. Sistem demokrasi konstitusional yang sangat dibanggakan Hatta dianggap Soekarno sebagai sistem politik yang tidak cocok bagi Indonesia. Kenyataannya, Demokrasi Parlementer menjadi sistem yang kacau balau terutama dalam menjalankan program pemerintah. Selain perbedaan pandangan Soekarno Hatta juga terkait masalah komunisme, Soekarno yakin bahwa komunisme mampu dikendalikan, namun Hatta sangat menentang komunisme sebagai bahaya laten yang harus dilenyapkan. Puncaknya Hatta mengundurkan diri pada 1 Desember 1955.

Pergolakan politik dan keadaan keamanan yang semakin memburuk mendorong Soekarno mengeluarkan suatu konsepsi yaitu Konsepsi Presiden pada 21 Februari 1957. Kala itu, Soekarno mengambil alih pemerintahan dan melaksanakan Demorasi Terpimpin, yaitu suatu sistem sentralisasi yang dipimpin Presiden, namun sangat ditentang oleh Hatta.

Sikap Hatta diungkapkan dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita. Dalam tulisan tersebut, Hatta mengkritik kebijakan - kebijakan Soekarno. Hatta menulis "bagi saya yang lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien ada baiknya diberikan kesempatan yang sama dalam waktu yang layak apakah sistem itu akan menjadi suatu sukses atau kegagalan".
Blogger
Disqus

No comments