Biografi Sir Thomas Stamford Raffles

Sir Thomas Stamford Raffles
Raffles dengan nama lengkap Sir Thomas Stamford Bingley Raffles lahir pada tanggal 6 Juli 1781 di lepas pantai Jamaica dan meninggal pada tanggal 5 Juli 1826 di London, Inggris. Pada tahun 1795, Raffles mendapat pekerjaan pertamanya di East India Company (EIC) sebagai pegawai di perusahaan tersebut. Atas kerja kerasnya, pada tahun 1804 Raffles dipindahkan ke Penang (kemudian Prince of Wales) dan dipromosikan sebagai Asisten Sekretaris Kepresidenan untuk wilayah Malaysia. Kepiawaiannya dalam memerintah di daerah Malaysia dan pemahaman berbahasa Melayu membuat Raffles ditunjuk sebagai penerjemah bahasa Melayu oleh pemerintahan Inggris. Pada tahun 1811, ia ditunjuk Inggris untuk menjadi Gubernur Letnan di Jawa dan selanjutnya dipromosikan menjadi Gubernur Bengkulu. Pada tanggal 19 Januari 1819, Raffles mendirikan Singapura modern.

Ketika memerintah di Jawa, pemerintahan Raffles didasarkan pada prinsip – prinsip liberal dengan dasar kebebasan dan kepastian hukum. Prinsip kebebasan meliputi kebebasan menanam dan kebebasan berdagang, keduanya akan dijamin oleh pemerintah Inggris. Raffles berusaha menerapkan sistem kolonialisme seperti yang ada di India yang kemudian dikenal dengan sistem pajak tanah (landrent system). Raffles menginginkan adanya kesejahteraan pada para rakyatnya dengan memberikan kebebasan dan kepastian hukum dari para penguasa agar tidak terjadi kesewenang – wenangan serta memberikan perbaikan kualitas hidup. Pokok – pokok kebijakan yang diterapkan Raffles diantaranya :
  • Penghapusan penyerahan wajib dan wajib kerja dengan memberikan kebebasan penuh terhadap komoditas penanaman dan perdagangan.
  • Penerapan sistem pajak atas tanah yang dilakukan langsung oleh pemerintah tanpa perantara – perantara bupati.
  • Penyewaan tanah di beberapa daerah yang dilakukan dengan sistem kontrak dengan batas waktu.
Sistem politik kolonial Raffles bertolak dari ideologi liberal dan memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cara memberikan kebebasan dan perlindungan serta kepastian hukum. Itu berarti struktur tradisional dan feodal yang telah ada, dirombak sedemikian rupa dengan sistem baru yang didasarkan atas prinsip legal – rasional. Pemerintahan harus lepas dari fungsi – fungsi birokrasi tradisional dan feodal, terutama pada fungsi pemungutan pajak dan pengerahan tenaga yang sebelumnya diberlakukan oleh VOC. Perubahan sistem ini sangat sulit dilakukan tanpa mengadakan perubahan mental – mental pada unsur pemerintahan yang masih mempertahankan sistem tradisional dari kolonial VOC. Kegagalan tidak dapat dihindari, pemerintah Inggris tidak sepenuhnya menghapus sistem pajak, pemerintah Inggris kemudian memberlakukan sistem pajak tanah seperti yang diberlakukan pada sistem kolonialisme Inggris di India.

Dibandingkan dengan Belanda, Inggris dipandang lebih maju pada sektor Industri dengan melihat tanah jajahan sebagai daerah pemasaran. Tingkat kesejahteraan rakyat tentu sangat berperan besar dalam pemasaran barang – barang industri Inggris. Pemerintah hanya memberikan jaminan keamanan, penegakan keadilan dan pemungutan pajak bagi para rakyatnya.

Melihat tujuan tersebut, penghalang pemberlakuan sistem kolonial Inggris adalah sistem feodal yang masih berjalan serta sistem ekonomi yang bersifat tertutup sehingga pembayaran pajak bersifat innatural. Kebijakan Raffles tidak sepenuhnya melepaskan rakyat dari penderitaan. Sebagai contoh adanya pemungutan pajak yang cukup tinggi. Fakta bahwa rakyat Hindia Belanda belum sepenuhnya mengenal uang sebagai alat pembayaran. Hal ini membuat penerapan sistem landrente menemui hambatan.

Pada sisi lain, Raffles selain memberikan penderitaan pada bangsa ini, Raffles juga berjasa pada bangsa ini dalam beberapa bidang diantaranya:
  • Pengangkatan kembali Sultan Sepuh (Hamengkubuwana II) di Yogyakarta sebagai sultan Yogyakarta 
  • Penemuan bunga bangkai yang diberi nama Rafflesia Arnoldi 
  • Penulisan sejarah Pulau Jawa yang terangkum dalam buku berjudul History of Java 
  • Membantu dan mendukung dalam perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan 
  • Istri Raffles bernama Olivia Marianne berjasa sebagai perintis Kebun Raya Bogor.

Selama menjabat sebagai Gubernur Jawa, Raffles menerapkan kebijakan – kebijakan, diantaranya :
Bidang Pemerintahan
  •  Membagi Pulau Jawa kedalam 16 karesidenan yang berlaku hingga tahun 1964.
  • Mengubah sistem pemerintahan yang sebelumnya bercorak tradisional menjadi sistem pemerintahan kolonial bercorak Barat.
  • Bupati dan penguasa pribumi dilepaskan dari kedudukannya yang diperoleh secara turun – temurun. 
  • Sistem juri ditetapkan dalam pengadilan
Bidang Ekonomi dan Keuangan
Raffles mengeluarkan kebijakan pembebasan penanaman tanaman ekspor kepada para petani, sedangkan pemerintah memiliki kewajiban merangsang pasar agar para petani menanam tanaman ekspor yang paling menguntungkan. Sistem pajak pada hasil bumi (contingenten) dan penyerahan wajib (verplichte leverentie) dihapuskan. Inggris membuat sistem baru yaitu sewa tanah (landrent system) dengan pemungutan yang dilakukan langsung oleh pemerintah tanpa campur tangan bupati.

Bidang Ekonomi
Diberlakukannya sistem keadilan yang lebih baik dari pada ketika Daendels berkuasa. Pada masa Daendels, sistem peradilan lebih ke arah warna kulit (ras), sedangkan Raffles lebih ke arah tingkat kriminalitas tanpa membeda – bedakan warna kulit. Badan hukum pada masa pemerintahan Raffles diantaranya :
  • Court of Justice, terdapat pada setiap residen
  • Court of Request, terdapat pada setiap divisi 
  • Police of Magistrate
Bidang Ilmu Pengetahuan
Selama menjabat di Hindia Timur, ia sangat kagum atas hewan – hewan aneh serta tanaman yang ada di wilayah tersebut. Ia ditunjuk sebagai ahli zoologi dan botani untuk menemukan hewan, tumbuhan dan mengumpulkan spesimen di wilayah Hindia Belanda. Raffles selain menjadi gubernur di Batavia juga terlibat dalam studi mengenai sejarah Jawa yang kemudian dibukukan dalam buku “History of Java” pada tahun 1817.

Berikut ini adalah jasa lain dalam bidang ilmu pengetahuan, diantaranya :
  • Ditulisnya buku “History of East Indian Archipelago” di Eidenburg pada tahun 1820 dan dibagi dalam tiga jilid 
  • Raffles dikenal aktif mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan 
  • Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi 
  • Pemindahan Prasasti Airlangga ke Calcutta, India shingga diberi nama Prasasti Calcutta
Dalam memoar tentang Raffles oleh istrinya Lady Sophia Raffles menyebutkan spesimen tapir, badak serta kijang yang dianggapnya indah. Dia menyebutkan, Raffles bahkan sempat membawa anak beruang dan kemudian ia besarkan bersama anak – anaknya. Bahkan seringkali beruang tersebut ikut makan malam, makan mangga dan minum sampanye bersama keluarga Raffles.
 Setelah Perang Nalopeon selesai, Raffles dikembalikan ke Inggris pada tahun 1815. Pada tahun 1817, Raffles menerbitkan buku History of Java yang membahas tentang sejarah dan kebudayaan Pulau Jawa pada masa itu. Pada tahun 1818, Raffles pergi ke Sumatera, dan pada tanggal 29 Januari 1819 ia mendirikan sebuah pos perdagangan bebas di ujung selatan semenanjung Malaka yang kemudian dikenal sebagai Singapura. Ini merupakan langkah yang berani karena Raffles melawan kebijakan Inggris yang tidak mau mengganggu wilayah teritorial Belanda. Selama kurang lebih enam minggu, ratusan pedagang bermunculan untuk menikmati kebijakan bebas pajak yang diterapkan Raffles di Singapura, seiring berjalannya waktu pihak Inggris memberikan persetujuan atas wilayah Singapura.

Raffles menetapkan tanggal 6 Februari 1819 sebagai hari Singapura Modern. Kekuasaan atas Pulau Singapura kemudian diserahkan pemerintahan Hindia Belanda Britania. Pada akhir 1823, Raffles meninggalkan Singapura selamanya dan kota Singapura telah siap berkembang menjadi pelabuhan terbesar di dunia. Dari tindakan Raffles yang melawan wilayah kolonial Belanda merupakan langkah kecil dan kejelian Raffles yang kemudian berdampak sangat besar pada masa sekarang. Singapura dari tahun ke tahun berkembang menjadi pelabuhan terbesar di dunia dengan letak strategis yaitu di selat malaka yang merupakan urat nadi perdagangan internasional.

Sir Thomas Stamford Raffles meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke – 45 pada tahun 1826. Pada tahun – tahun sebelumnya yaitu tahun 1821 dan 1822, ia memberikan dua makalah hasil penelitiannya dalam Zoological Society di London yang berisi deskripsi dari 34 spesies burung dan 13 spesies mamalia yang ada di Sumatera. Sebagai jasa atas penelitian hewan endemik di Hindia Belanda, nama Raffles kemudian dijadikan nama – nama hewan maupun tumbuhan seperti Megalaima rafflesi, Dinopium rafflesii, dan Chaetodon rafflesi.
Blogger
Disqus

No comments