Biografi Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga bernama asli Joko Said lahir sekitar tahun 1940 M dari pasangan Arya Wilwatikta yang merupakan anak dari Ronggolawe. Arya Wilwatikta diketahui telah memeluk agama Islam namun ia juga dikenal sangat taklid kepada pemerintah pusat Majapahit yang menganut agama Siwa Buddha. Arya Wilwatikta menerapkan pajak yang tinggi pada rakyatnya. Joko Said tidak setuju dan membangkang pada kebijakan yang dikeluarkan ayahnya.

Pembangkangan Joko Said terhadap ayahnya semakin mencapai puncaknya ketika ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi – bagikan padi yang ada di dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang. Akibat tindakannya, ayahnya kemudian menyidang Joko Said dan menanyakan alasan yang ia perbuat. Kesempatan itu tidak disia – siakan oleh Joko Said dengan mengutarakan kebijakan ayahnya yang menumpuk makanan sementara rakyatnya hidup miskin dan kelaparan.

Ayahnya tidak terima dan menganggap Joko Said mengguruinya dalam hal agama. Dengan alasan tersebut Joko Said kemudian diusir dari kadipaten Tuban seraya mengatakan ia hanya diperbolehkan pulang setelah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat – ayat suci Al Quran. Yang dimaksud “menggetarkan seisi Tuban” adalah ketika ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas karena ilmunya.

Berdasarkan cerita yang berkembang, setelah diusir dari istana kadipaten, Joko Said berubah menjadi seorang perampok yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur. Dalam melakukan perampokan, Joko Said memilih – milih targetnya, yaitu orang – orang yang kaya namun tak mau mengeluarkan zakat dan sedekah.

Dari hasil rampokannya tersebut, ia membagi – bagikan harta yang ia dapat kepada orang – orang miskin. Diperkirakan ketika masa – masa merampok inilah ia kemudian digelari “Lokajaya” yang berarti “Perampok Budiman”. Semuanya berubah ketika Joko Said bertemu dengan Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Sunan Bonanglah yang menyadarkan Joko Said dari perbuatan buruknya mencampur aduk antara yang haq dengan sesuatu yang batil dan menyuruhnya berhenti merampok. Joko Said kemudian berguru kepada Sunan Bonang dan akhirnya menjadi ulama yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Sejarah Nama “Kalijaga”
Masih menjadi misteri nama “Kalijaga” yang disandang Joko Said. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama Kalijaga diambil dari nama sebuah dusun di Cirebon bernama Dusun Kalijaga dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Hal ini merupakan kebiasaan orang Cirebon yang menggelari seseorang dengan nama daerahnya seperti Syekh Syarif Hidayatullah yang digelari Sunan Gunung Jati karena beliau tinggal di kaki Gunung Jati. Fakta menunjukkan bahwa tidak ada “kali” atau sungai di sekitar Dusun Kalijaga. Padahal, umumnya tempat – tempat di Jawa dinamai sesuai ciri khas daerah tersebut. Misalnya nama Cirebon berasal dari wilayah yang banyak rebon (udang), atau nama Pekalongan karena banyaknya kalong (kelelawar). Oleh karena inilah klaim atas nama Kalijaga dari Cirebon menjadi kurang dapat diterima.

Riwayat lain datang dari kalangan Jawa Mistik (Kejawen). Mereka mengaitkan dengan kesukaan Joko Said yang suka berendam di kali (sungai) sehingga nampak seperti “jaga kali” atau menjaga sungai. Dalam riwayat kejawen, Joko Said pernah diperintah Sunan Bonang untuk bertapa di tepi sungai selama sepuluh tahun. Pendapat ini adalah yang paling populer bahkan diangkat menjadi film “Sunan Kalijaga” dan “Wali Sanga” pada tahun 1980an.

Dakwah Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga diperkirakan hidup sampai 100 tahun, ini berarti beliau hidup pada masa akhir Kerajaan Majapahit yaitu 1478, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, dan bahkan pada zaman Kerajaan Pajang dan awal Kerajaan Mataram Islam. Ada yang menyebutkan bahwa beliau hidup di zaman Kesultanan Cirebon dan bermukim di Dusun Kalijaga. Dalam kisah pendirian Kerajaan Pajang oleh Jaka Tingkir dan Kerajaan Mataram, namanya tak lagi disebut. Makam Sunan Kalijaga berada di Demak, tepatnya di kompleks pemakaman Masjid Agung Demak.

Sunan Kalijaga memiliki kisah – kisah aneh seperti menjaga sungai selama 10 tahun, dapat terbang, dapat menurunkan hujan dengan menghentakkan kaki, mengurung petir bernama Ki Ageng Selo di Masjid Demak serta kisah – kisah lain. Sunan Kalijaga dikenal sebagai perancang bangunan yang mahir. Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak merupakan buktinya. “Soko tatal” (pecahan kayu) yang menjadi penyangga Masjid Agung Demak salah satunya adalah buatan dari Sunan Kalijaga. Ia dikenal sebagai orang yang toleran pada agama dan kebudayaan lokal. Beliaupun tegas dalam hal akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, beliau menerimanya.

Wayang beber kuno yang detail dengan bentuk manusia dirubah menjadi wayang kulit yang samar dan tidak terlalu mirip manusia karena sepengetahuannya bahwa menggambar dan mencitrakan suatu yang mirip manusia dalam ajaran agama Islam haram hukumnya. Diceritakan beliau melakukan pertunjukan pewayangan dari desa ke desa dengan dirinya sendiri sebagai dalangnya. Semua orang menyaksikan pertunjukan tanpa dipungut biaya sepeserpun dan hanya diminta mengucap dua kalimat syahadat. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa masyarakat harus didekati secara bertahap.

Pertama bersyahadat terlebih dahulu dan selanjutnya berkembang dalam segi ibadah dan pengetahuan Islam. Beliau berpendapat apabila Islam sudah dipahami, maka dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Pewayangan yang dibawa Sunan Kalijaga bukanlah cerita pewayangan yang ada di agama Hindu seperti Mahabarata, Ramayana dan lain – lain namun menggunakan penokohan Pandawa, Kurawa dan lain – lain dengan alur cerita yang berbeda.

Beliau mengganti lakon – lakonnya seperti Layang Kalimasada, Lakon Petruk dadi Ratu, yang semuanya memiliki ruh Islam yang kental. Karakter – karakternya pun ditambah seperti karakter Punakawan yang syarat akan muatan Islam. Adapun istilah dalam pewayangan merujuk pada Bahasa Arab diantaranya :
  • Dalang
    Istilah Dalang diambil dari kata “Dalla” berasal dari Bahasa Arab yang berarti menunjukkan. Dalam hal ini seorang yang dinamakan Dalang menunjukkan kebenaran kepada penonton wayang. Mandalla’alal Khari Kafa’ilihi (Barangsiapa menunjukkan jalan kebenaran atau kebajikan kepada orang lain, pahalanya sama dengan pelaku kebijakan itu sendiri -Sahih Bukhari)
  • Semar
    Kata Semar diambil dari Bahasa Arab “Simaar” yang berarti Paku. Dalam hal ini, Sunan Kalijaga ingin menyampaikan seorang muslim harus memiliki pendirian yang kuat layaknya sebuah paku. Simaaruddunya.
  • Petruk
    Kata Petruk erasal dari Bahasa Arab “Fat-ruuk” yang berarti “tinggalkan:. Maksudnya seorang muslim harus meninggalkan penyembahan selain Allah. Fatruuk-kuluu man siwallaahi.
  • Gareng
    Kata Gareng diambil dari Bahasa Arab yaitu “Qariin” yang berarti teman. Maksudnya seorang muslim harus berusaha mencari teman sebanyak – banyaknya untuk diajak ke arah kebaikan. Nalaa Qaarin.
  • Bagong
    Kata Bagong diambil dari Bahasa Arab “Baghaa” yang berarti berontak. Maksutnya agar seorang muslim berontak dari kezaliman.

Seni ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaan sekaten, grebeg maulud serta seni suara suluk merupakan media dakwah semata. Hal ini sama dengan yang dilakukan Rosulullah SAW yang mengandalkan syair Al-Quran sebagai metode dak’wah yang efektif dalam menaklukkan hati suku – suku di Arab yang gemar berdeklamasi.

Pertunjukan pewayangan yang dilakukan Sunan Bonang memiliki kesamaan dengan apa yang dilakukan Khalifa Umar bin Khattab yang keluar masuk perkampungan guna memberikan hiburan kepada para rakyat yang membutuhkan. Kesamaan ini menunjukkan bahwa Sunan Kalijaga merupakan pemimpin yang berkarakter, memiliki ciri dan sifat kepemimpinan Islam sejati, bukan Kejawen.


Blogger
Disqus

No comments