Thucydides dan Perang Peloponesos

Sumber gambar : civfanatics.com
History of The Peloponesian War merupakan sebuah karya monumental dari Thucydides, salah seorang penduduk dari Yunani yang dianggap sejarawan kedua setelah Herodotus. Thucydides lahir pada tahun 460 SM dan menulis tulisan sejarah yang hampir selalu benar dan sesuai dengan kejadian yang telah terjadi, bahkan tulisan Thucydides hampir dikatakan lebih jujur dibandingkan dengan tulisan Herodotus. Oleh karena itu, Thucydides kemudian dianggap sebagai story teller yang baik. Yang membedakan antara Thucydides dan Herodotus adalah, Thucydides dianggap sebagai sejarawan politik sedangkan Herodotus dianggap sebagai sejarawan kebudayaan. Thucydides memiliki pengaruh besar dalam penulisan historiografi dibawah dominasi politik hingga akhir abad - 19. Dalam tulisannya, Thucydides lebih condong ke hasil riset seperti bukti – bukti khusus, seperti militer dan politik serta karyanya tidak pernah melantur. Berbeda dengan Herodotus yang lebih sering menggunakan cerita rakyat atau legenda yang berkembang tanpa melakukan riset terlebih dahulu.

Buku History of The Peloponesian War yang
diperjual belikan di Amazon.com
Karya sejarah dari Thucydides yang paling fenomenal adalah History of The Peloponesian War yang disusun dalam 8 jilid. Pada jilid 1 hingga jilid 4 menceritakan mengenai sepuluh tahun Perang Peloponesus, Perang Achidamia, antara Athena dan Sparta, dan perang damai Nicias yang terjadi pada tahun 431 SM sampai 421 SM. Pada jilid 5 menjelaskan mengenai penyelesaian konflik yang terjadi antara tahun 421 SM hingga 413 SM. Pada jilid 6 dan jilid 7 berisi upaya Athena untuk menaklukkan Sicity pada tahun 415 SM hingga 413 SM. Yang terakhir pada jilid 8 mengisahkan tentang pendudukan Sparta terhadap benteng Decelea di wilayah Athena.

Perang Peloponesus merupakan perang terbesar yang pernah mengguncang Yunani dan meluas hingga ke Barbar. Dalam mengisahkan perang ini, Thucydides juga merujuk pada tulisan Herodotus dan Homerus. Perang Peloponesus merupakan perang yang terjadi antara orang Yunani dengan Sparta yang berlangsung antara tahun 431 SM hingga 404 SM. Thucydides membeberkan alasan adanya peperangan ini adalah ekspansionisme Athena. Athena merupakan sebuah negara dengan kekuatan armada laut yang kuat. Athena pernah membebaskan Lonia dari kekuasaan Persia. Athena memberi gaji anggota armada laut dan memasukkannya pada anggota majelis. Hal inilah yang kemudian menjadikan Athena terkenal sebagai negara yang demokratis. Berbeda dengan Sparta, negara Sparta dikenal dengan pasukan militer angkatan darat yang kuat dengan artileri bersenjatakan senjata – senjata berat. Perang Peloponesus terjadi akibat perluasan pengaruh Athena hingga ke negara yang termasuk ke dalam Liga Peloponnesia dan memiliki konflik dengan Corinth mengenai Corrycra.

Peta Liga Peloponnesia dan Pengaruh Athena
Sumber : Wikimedia.org
Sparta dan Liga Peloponnesia
Liga Peloponenesia atau Liga Peloponesus merupakan persekutuan negara – negara di wilayah Peloponnesos pada abad ke – 6 dan ke – 5 SM. Liga ini didirikan oleh Sparta. Berdasarkan catatan sejarah, sekitar akhir abad ke - 6 SM, Sparta menjadi negara paling kuat di wilayah Peloponnesia baik dalam bidang politik maupun militer. Sparta kemudian mendapat sekutu yaitu Korintus dan Elis, berkat menghentikan tirani di Korintus dan membantu Elis dalam mengendalikan Olimpiade. Sparta melanjutkan strategi ini untuk mendapatkan sekutu lain di liga mereka. Sparta pernah mengalahkan Tegea di perang perbatasan dan menawarkan sebuah kerjasama aliansi dalam bidang pertahanan, inilah titik balik kebijakan luar negeri Sparta.

Negara – negara di bagian tengah dan utara pun pada akhirnya bergabung pada aliansi Liga Peloponnesia. Liga Peloponnesia akhirnya meluas hampir meliputi seluruh wilayah Peloponnesia kecuali Argos dan Akhaia. Dominasi Sparta kemudian dikukuhkan dengan mengalahkan Argos dalam perang yang terjadi pada tahun 546 SM. Liga Peloponnesia dijalankan oleh Sparta sebagai pemimpinnya, dan dikendalikan oleh 2 lembaga, yaitu Dewan Sparta dan Kongres Sekutu dimana masing – masing negara sekutu memiliki hak atas kekuasaan geopolitik negara tersebut. Tidak ada upeti bagi negara sekutu kepada Sparta, namun apabila terjadi peperangan negara – negara sekutu diminta bantuan berupa sepertiga dari militer negara masing - masing.

Hanya negara Sparta yang mampu mengadakan kongres Liga Peloponnesia untuk melakukan rapat. Meskipun dalam kongres setiap negara memiliki satu suara dan menghasilkan suatu keputusan, Sparta sebagai pemimpin liga tidak perlu mematuhi keputusan tersebut. Liga ini memberi perlindungan dan keamanan bagi para anggotanya terutama Sparta. Liga ini merupakan persekutuan yang sangat stabil yang mendukung sistem oligarki serta menentang tirani dan demokrasi.

Penyebab terjadinya Perang Peloponnesia
Latar belakang terjadinya Perang Peloponnesia adalah adanya pengaruh Athena yang tumbuh dan berkembang menguasai sebagian besar wilayah Mediterania bersama dengan Hellas / Yunani, 50 tahun sebelum perang. Thucydides berpendapat, setelah Athena menjadi pemimpin sekutu Delian, mereka memiliki kekuasaan tertinggi yang dikenal dengan Kekaisaran Athena. Athena hampir mengusir Persia dari wilayah mereka di Aegea dan menguasai sebagian besar wilayah mereka. Armada laut Athena juga berkembang pesat hingga membahayakan perbatasan negara Sparta dan Liga Peloponnesia.

Selama Perang Persia terjadi yaitu pada tahun 480 SM, kekuasaan Athena tumbuh pesat menjadi sebuah negara besar dan dengan bantuan dari sekutunya. Athena menyerang wilayah – wilayah Persia dari Lonia hingga ke Aegea. Athena kemudian membangun tembok di sekitar wilayah bisnisnya untuk menyelamatkan mereka dari serangan darat Sparta ketika Persia meninggalkan Yunani. Hal ini membuat Spartan marah namun tidak mengambil tindakan apapun.

Pada tahun 459 SM, Athena mengambil keuntungan dengan keberpihakan Megara dan Corinth bersatu berpihak ke Megara. Hal ini membantu mereka mendapatkan wilayah Isthmus Corinth yang mengakibatkan perang yang dikenal “Perang Peloponnesia I” yaitu perang antara Athena melawan Sparta, Corinth, Aegea dan negara – negara lain. Pada perang tersebut, Athena mundur dari daratan Yunani karena kekalahan akibat serangan besar artileri negara Sparta. Kemudian diadakan Perjanjian Damai 30 tahun ditandatangi oleh Athena dan Sparta pada tahun 446 SM.

Perang Peloponnesia terjadi antara kekaisaran Athena melawan Liga Peloponnesia dipimpin oleh Sparta. Sekutu Peloponnesia dipimpin oleh Sparta dengan koalisi Thebes dan Corinth. Perang ini terbagi menjadi 3 fase yaitu Perang Archidamian, Perang Sissilia dan Perang Lonia (Decelean). Perang ini diawali pada tanggal 4 April 431 SM ketika orang – orang Thebes melakukan serangan mendadak pada Plataea yang merupakan mitra Athena.

Perang Peloponnesus berakhir pada tanggal 25 April 404 SM ketika Athena menyerah dan Peloponnesia melakukan renovasi kota – kota Yunani secara keseluruhan. Kekaisaran Athena yang sebelumnya kuat dalam berperang harus rela menjadi budak Sparta. Setelah perang Peloponnesia, Sparta akhirnya menjadi penguasa Yunani. Perang Peloponnesia membawa kemiskinan dan penderitaan bagi pihak Athena dan bangsa Yunani. Athena tidak pernah lagi mendapat kemakmuran seperti sebelum perang Peloponnesia terjadi.

Penutup
Thucydides tidak hanya menggambarkan mengenai peperangan antara Athena dan Sparta selama 27 tahun, namun juga menjelaskan mengapa manusia berperang. Bagi Thucydides, harapan kemenangan adalah bayangan ujung pedang. Karena itu, perang terjadi ketika pedang dirasa semakin panjang dan tajam. Thucydides juga berpendapat bahwa perang merupakan kenyataan hidup yang tidak dapat dielakkan dan tidak memandang pada sudut moralitas. Seperti yang ia gambarkan dalam dialog antara pemimpin Melos dan Athena, seringkali manusia hanya dihadapkan pada pilihan, “siap menabuh genderang perang dan menjemput maut, atau membiarkan tenggelam dalam pesona damai hanya untuk pada akhirnya menyerah di tiang gantungan”.Dalam sejarah juga menyebutkan bahwa Sparta menjadi pemenang dari Perang Peloponesus. 33 tahun kemudian,Sparta harus bertekuk lutut di kaki Theba, pewaris Athena.

Hal yang menarik dari Perang Peloponesus adalah penggunaan senjata biologi atau kimia. Tentara Sparta menggunakan bom berbahan sulfur untuk melumpuhkan musuh. Taktik ini sangat baru pada kurun waktu sekitar 500 tahun sebelum kelahiran Kristus. Taktik perang memang menjadi salah satu hal penting dalam satu peperangan seperti memberi racun pada air minum musuh. Namun, sejarah mencatat penggunaan bahan kimia atau biologi baru dipakai pertama kali pada saat pemberian selimut yang telah diberi penyakit kepada suku Indian Amerika pada tahun 1689 – 1763.

Kita ketahui bahwa perang, senjata dan tentara memiliki keterkaitan erat satu sama lain. Perang adalah suasana yang dipenuhi dengan entah itu denting pedang dan bayonet, desing peluru atau suara ledakan bubuk mesiu yang konon menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan menurut Thommas Hobber penulis Leviathan, hal itu paling kental mewarnai kehidupan manusia hingga mereka belum sejengkal dari liang lahat. Istilah perang jika didefinisika bisa diartikan sama dengan “war”, secara etimologis berasal dari bahasa Perancis – Jerman yaitu “werra” yang berarti ketidaksepakatan (discord), dan erat kaitannya dengan bahasa Latin “bellum” yang berarti duel atau bahasa Yunani “polemos” yang berarti kontroversi agresif.
Blogger
Disqus

No comments