Saturday, March 19, 2016

Sejarah dan Eksotisme Kota Lama Semarang

Semarang adalah salah satu kota di Jawa, di kota ini banyak terdapat peninggalan sejarah, baik dari zaman Hindu Buddha maupun kolonial. Beberapa peninggalan sejarah yang masih tersisa adalah Gereja Blenduk, Candi Gedong Songo, Lawang Sewu, Sam Poo Kong dan lain – lain. Bangunan - bangunan tersebut masih terjaga keasliannya walaupun ada beberapa yang tak terawat. Kota Lama merupakan salah satu peninggalan berbentuk bangunan – bangunan kolonial yang masih eksis di Semarang. Bangunan – bangunan tua berarsitektur Belanda masih tegak berdiri disini. Terdapat juga kanal - kanal yang mengitari bangunan Kota Lama seakan – akan kita melihat Belanda kecil (Little Netherland) di kota Semarang.



Salah satu bangunan yang wajib anda kunjungi apabila di Kota Lama adalah Gereja Blenduk. Gereja ini memiliki keunikan yaitu adanya sebuah kubah yang umumnya berada di sebuah Masjid. Gereja yang bernama asli bernama Nederlandsch Indische Kerk ini masih dipergunakan untuk tempat peribadatan. Karena masyarakat sekitar kesulitan menyebutkan nama Belanda dari gereja ini kemudian masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Gereja Blenduk. Penamaan Gereja Blenduk berdasarkan kubah atas gereja tersebut yang berbentuk “belenduk” berwarna merah bata dengan kekhasannya yang terdapat dua menara tepat di depan kubah Gereja Blenduk.

Arsitektur dome pada atap gereja di bawa oleh Eropa Timur serta Timur Tengah yang mempunyai bentuk yang elegan, dengan tiang yang kokoh menopang kubah. Bagaimanapun, bentuk arsitektur seperti ini pada awalnya merupakan bentuk arsitektur Kristen Bizantin yang kemudian dilestarikan oleh kaum muslimin ketika mereka membangun masjid Islam dengan menggunakan model gereja sebagai salah satu acuan di wilayah tanah suci Palestina serta Siria yang mereka rebut dari kekuasaan Bizantin.

Selain Gereja Blenduk yang mengalami perubahan nama, jembatan yang tepat berada di selatan kota lama yang bernama Belanda, Jembatan Burg juga berubah nama menjadi Jembatan Berok karena sulitnya mengatakan nama Belanda oleh orang – orang pribumi. Jembatan ini dahulu bisa buka tutup, karena pada saat zaman kolonial jembatan ini sebagai jalan penghubung dari laut hingga ke Pasar Johar dengan menggunakan kapal – kapal kecil.

Di seberang Gereja Blenduk terdapat sebuah bangunan yang sekarang digunakan sebagai gedung asuransi. Orang – orang sering menyebutnya dengan nama Gedung Jiwasraya sedangkan baratnya terdapat sebuah restoran ikan bakar cianjur. Selain bangunan – bangunan tersebut terdapat juga bangunan lain diantaranya bangunan Gedung Marabunta dengan ornamen semut raksasa yang berada diatapnya, tempat ini pernah dilangsungkan sebuah aksi spionase oleh seorang mata – mata wanita cantik yang bernama Matahari. Selain itu ada juga sebuah stasiun yang bernama Stasiun Tawang yang masih terawat dan masih di operasikan, serta sebuah kolam yang bernama Polder Air Tawang yang digunakan untuk penyetabil masuk keluarnya air laut dan pengendali banjir. Ada juga sebuah bangunan pabrik rokok yang masih sangat terawat yang berwarna merah putih yaitu Pabrik Rokok Praoe Lajar. Selain bangunan bangunan tersebut, bangunan lainnya diantaranya Gedung Marba, Kantor Pos Pusat, Samudera Indonesia, Djakarta Lloyd serta Titik Nol KM Semarang.



Sejarah Kota Lama
Kota lama dapat terbangun karena adanya jasa Belanda terhadap Mataram yang mampu menumpas pemberontakan Trunojoyo pada 15 Januari 1678. Mataram berjanji apabila VOC mampu mengalahkan Trunojoyo maka Mataram menyerahkan daerah Pantai Utara Jawa kepada pihak VOC. Kemudian dibangunlah Semarang dengan diawali dengan dibangunnya sebuah benteng bernama Vijfhoek yang pada awalnya digunakan sebagi rumah – rumah orang Belanda. Populasi orang Belanda semakin lama semakin bertambah sehinga mengharuskan Belanda membangun rumah – rumah serta perkantoran yang berada di sebelah timur benteng.
Baca Juga : Candi Gedong Songo Semarang 
Pada 1740 sampai 1743 terjadilah sebuah peristiwa besar yang bernama Geger Pecinan. Peristiwa ini adalah peristiwa terbesar hingga VOC menduduki kawasan tersebut. Setelah perlawanan tersebut dapat dipadamkan, orang – orang Belanda membangun sebuah fortifikasi (perbentengan) yang mengelilingi Kota Lama. Karena tidak sesuai dengan perkembangan kota maka fortifikasi tersebut di bongkar pada 1824. Untuk mengenang benteng tersebut maka pemerintah Belanda membuat nama – nama jalan kota lama menggunakan nama seperti

  • Noorderwalstaat atau Jalan Tembok Utara atau sekarang dikenal dengan Jalan Merak 
  • Oosterwalstraat atau Jalan Tembok Timur yang sekarang dikenal dengan nama Jalan Cendrawasih 
  • Zuiderwalstraat atau Jalan Tembok Selatan yang lebih dikenal dengan nama Jalan Kepodang serta,
  • Westerwaalstraat atau Jalan Tembok Barat yang lebih dikenal dengan nama Jalan Mpu Tantular
Keberadaan kawasan komplek Kota Lama kemudian dikenal dengan Little Netherland karena kawasan ini lebih mirip miniatur Belanda di Kota Semarang. Pusat Kota Lama berada di Taman Srigunting. Dahulu taman ini adalah sebuah lapangan bernama Parade Plein, diperkirakan dahulu sering digunakan untuk parade militer karena tak jauh dari tempat ini terdapat sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, fungsi taman ini dahulu adalah sebuah tempat pemakaman warga Eropa atau bernama Kerkhof. Sebelum abad 19 Kerkhof dipindah dipindah ke daerah Pengapon. Sekian artikel dari Kota Lama.


EmoticonEmoticon