Friday, July 22, 2016

Sejarah Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak adalah masjid tertua di Jawa Tengah, terletak di jantung kota Demak tepatnya di barat alun - alun Demak masjid ini menjadi cikal bakal kerajaan Demak Bintoro. Masjid Demak memiliki ciri khas perpaduan arsitektur tradisional Jawa dan arab. Kini masjid ini digunakan untuk kegiatan peribadatan masyarakat sekitar dan tempat ziarah wali.

Setiap bagian masjid memiliki makna dalam bangunannya diantaranya adalah atap masjid yang berbentuk limas menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagianyaitu, Iman, Islam dan Ihsan. Di dalam masjid terdapat "Pintu Bledeg", di pintu tersebut terdapat tulisan Condro Sengkolo yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi, atau bisa dikatakan 887 Hijriyah.

Masjid Demak dibangun oleh Raden Patah bersama Wali Sanga merancang masjid ini dengan memberi gambar berupa bulus. Ini adalah cara masyarakat Jawa dalam memberitahukan kapan tahun dibangunnya Masjid melalui gambaran wujud sesuatu atau disebut Candrasengkala, sedangkan bulus merupakan Candrasengkala memet atau bisa diartikan dengan Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang memiliki makna 1401 Saka.

Bulus dapat menggambarkan angka 1401 bisa dilihat pada ciri fisik bulus yaitu, kepala menunjukkan angka 1, kaki bulus menunjukkan angka 4, tempurung bulus menggambarkan angka 0 dan ekor bulus menunjukkan angka 1. Dari penggambaran candrasengkala tersebut menggambarkan bahwa Masjid Demak dibangun pada 1401 Saka. Sedangkan tanggalnya adalah 1 Shofar.

Soko Majapahit, tiang yang terdiri dari delapan buah yang ada di serambi masjid merupakan pemberian dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi kepada Raden Fattah ketika menjabat sebagai Adipati Notoprojo di Glahahwangi Bintoro Demak pada 1475 M. Di Masjid Demak terdapat bangunan khusus bernama pawestren yang dikhususkan untuk jamaah wanita. Pawestren berasal dari kata pawestri yang berarti wanita. Bangunan ini memiliki arsitektur berbahan kayu jati dengan atap limasan berupa sirap atau genteng terbuat dari kayu jati. Terdapat delapan tiang untuk menyangga bangunan ini, empat diantaranya terdapat ukiran bermotif Majapahit. Luas lantai dari Pawestren ini adalah 15x7,30 m. Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A.Arya Purbaningrat yang terlihat dari motif ukiran berupa Makrusah atau Kholwat yang menerangkan angka 1866 M.

Pintu Bledheg merupakan pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo yang konon katanya berfungsi sebagai penangkal petir. Pintu Bledeg ini merupakan condrosengkolo yang memiliki bunyi Nogo Mulat Saliro Wani, yang memiliki makna 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H. Pada tempat imam atau disebut Mihrab terdapat hiasan berupa gambar bulus yang merupakan Condro Sengkolo memiliki arti Sariro Sunyi  Kiblating Gusti yang memiliki makna 1401 Saka. Kemudian di depan Mihrab terdapat sebuah mimbar yang digunakan untuk khotbah, benda ini disebut dengan nama Dampar Kencono warisan dari kerajaan Majapahit. Dampar Kencono ini merupakan peninggalan dari kerajaan Majapahit abad ke 15 yang dihadiahkan untuk Raden Fattah dari ayahanda Prabu Brawijaya V Raden Kertabhumi. Setelah Demak dipimpin oleh Raden Trenggono pada 1521 sampai 1560 M, secara universal wilayah Nusantara dipersatukan seolah mengulang apa yang dilakukan patih Gajah Mada.

Empat buah Soko Tatal / Soko Guru menjadi tiang utama penyangga masjid yang bersusun tiga. Tinggi dari keempat soko ini adalah 1630 cm. Formasi dari keempat soko ini dipancangkan sesuai pada penjuru mata angin.
Soko Tatal yang mulai melapuk termakan usia

  • Tiang yang berada di bagian barat laut dibuat oleh Sunan Bonang
  • Tiang yang berada di bagian barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati
  • Tiang yang berada di bagian tenggara dibuat oleh Sunan Ampel
  • Tiang yang berada di bagian timur laut dibuat oleh Sunan Kalijaga
Keempat tiang ini oleh masyarakat diberi nama Soko Tatal. Kolam Wudhu juga merupakan peninggalan dari awal berdirinya Masjid Agung Demak namun sayang kolam ini tidak dipergunakan lagi. Terakhir adalah menara untuk azan yang memiliki bahan baja yang dibangun pada abad 20 yang merupakan tuntutan dari modernisasi. Berdirinya menara ini diprakarsai oleh beberapa tokoh ulama seperti, Kh. Abdurrohman, R Danoewijoto, H. Moechsin, H. Moh Taslim dan H. Aboebakar.


EmoticonEmoticon