Sunday, September 4, 2016

Arya Wiraraja : Ahli Taktik Terbaik Masa Kerajaan Singasari, Kediri dan Majapahit

Arya Wiraraja merupakan ahlitaktik dan strategi terbaik dalam sejarah Indonesia pada masa zaman kerajaan Singasari, Kediri dan Majapahit. Semua yang berada pada pihak Arya Wiraraja pasti mendapatkan keberhasilan dan mencapai puncak kejayaan baik dalam pendirian kerajaan, penaklukan wilayah maupun pengembangan suatu daerah. Pada masa kerajaan Singasari, Arya Wiraraja menjabat sebagai rakaryan demung (pengatur rumah tangga kerajaan / internal kerajaan). Selain menjabat sebagai demung, Arya Wiraraja juga menjadi ahli taktik kerajaan karena sudah dikenal di tanah Jawadwipa.

Ketika masih di Singasari, Arya Wiraraja dan para Rakaryan yang lainnya membawa Singasari ke puncak kejayaan, Kertanegara selaku penguasa Singsari pada masa itu berambisi memperluas kekuasaan sampai ke seberang barat Jawadwipa dengan cara menaklukkan kerajaan - kerajaan kecil di Sumatera atau Swarnabumi. Di Swarnabumi pada saat itu sudah tidak ada kerajaan besar setelah Sriwijaya runtuh karena penyerangan Cholamandala dari India. Kertanegara membuat rapat internal seluruh petinggi kerajaan untuk merealisasikan ambisinya menaklukkan tanah Swarnabhumi yang kemudian penaklukan ini dinamai Ekspedisi Pamalayu. Rapat internal tersebut dihadiri oleh Mahapatih Raganata, Rangga Mahisa Rangkah, Senopati Kebo Anabrang serta Arya Wiraraja selaku ahli taktik kerajaan. Dalam rapat ini, diputuskan Kebo Anabrang yang memimpin ekspedisi penaklukan Swanabhumi. Lalu Kebo Anabrang pun memberikan usulan mengenai taktik yang akan dipakai dalam ekspedisi pamalayu ini. Setelah Kebo Anabrang berpendapat mengenai taktiknya, Kertanegara pun meminta pendapat Arya Wiraraja selaku ahli strategi kerajaan. Karena Arya Wiraraja menganggap ekspedisi ini sangat penting, ia kemudian memberikan usulan yaitu membuat ekspedisi menjadi dua bagian, bagian pertama yaitu membuat peninjauan awal atau memantau kondisi Swarnabumi, dan kemudian yang ke dua barulah melakukan penyerangan. Rencana Arya Wiraraja ini didukung oleh Ragananta serta Rangkah, sayangnya Kertanegara salah menafsirkan taktik Arya Wiraraja ini. Ia menganggap Arya Wiraraja meremehkan angkatan perang Singasari dan menganggap hal tersebut akan menghabiskan biaya. Pada akhirnya taktik dari Kebo Anabrang lah yang digunakan untuk melakukan penyerangan Swarnabumi.

Ekspedisi Pamalayu selesai beberapa bulan kemudian dengan kabar Swarnabumi yang telah ditaklukkan pasukan Kebo Anabrang. Kertanegara kemudian memberikan hadiah berupa kenaikan pangkat dan jabatan, sdangkan 3 orang rakaryan lain yang menentang rencana Kebo Anabrang dan Kertanegara mendapatkan perlakuan diskriminatif serta dikucilkan di lingkungan kerajaan serta diturunkan jabatannya oleh Kertanegara. Raganata dari jabatan patih turun menjadi penasihat. Arya Wiraraja diasingkan ke Sumenep. Rangkah tidak mendapatkan status yang jelas di Singasari dan kemudian melakukan pemberontakan, namun dapat dipatahkan oleh kerajaan Singasari.

Merasa sakit hati atas pengsingannya, Arya Wiraraja kemudian bersekongkol dengan Jayakatwang, adipati Kediri yang telah lama menaruh dendam dengan Singasari karena nenek moyangnya, Kertajaya, dibunuh oleh Ken Arok di desa Ganter ketika masa awal pendirian Singasari. Kediri yang semula adalah penguasa Jawadwipa harus tunduk pada Singasari dan menjadi salah satu kadipaten di Singasari. Jayakatwang merasa bahwa dirinya dan Kediri lah yang pantas menduduki Jawadwipa meneruskan Kertajaya raja terakhir Kediri, bukan Kertanegara yang mewarisi darah Ken Arok yang menurut Jayakatwang adalah pembunuh kakek buyutnya.

Ketika itu, Singasari sedang melakukan ekspedisi keduanya yaitu ke seberang timur Jawadwipa. Hampir seluruh pasukan dari Singasari dikerahkan oleh Kebo Anabrang dan menyisakan sedikit untuk mengawal ibukota Singasari. Saat - saat inilah yang digunakan Arya Wiraraja untuk menggulingkan Singasari, Arya Wiraraja memberitahukan kepada Jayakatwang untuk segera melakukan penyerangan saat pasukan ekspedisi belum kembali ke Singsari. Jayakatwang kemudian menyiapkan pasukan kadipaten Kediri dalam jumlah besar untuk menyerang Singasari. Tentara Singasari yang hanya sedikit kemudian di gilas pasukan Jayakatwang, ibukota Singasari beserta Kertanegara pun mampu dikuasai. Seluruh kerabat kerajaan termasuk Kertanegara yang sedang mabuk arak tidak mampu melawan dan dibunuh oleh pasukan Jayakatwang.

Raden Wijaya sepupu Kertanegara beruntung bisa menyelamatkan dirinya beserta 9 arya terkemuka di Singasari dari serangan Jayakatwang dan kemudian atas usulan Ranggalawe (putra dari Arya Wiraraja) memberikan saran untuk melarikn diri ke daerah Sumenep untuk meminta perlindungan Arya Wararaja. Ketika sampai di Sumenep, Arya Wiraraja sebenarnya tidak mau menerima Raden Wijaya, namun atas bujukan dan negosiasi Ranggalawe bersedia membantu Raden Wijaya untuk mengembalikan tahta Singasari. Wiraraja memberikan saran kepada Raden Wijaya untuk menyerahkan diri kepada Kediri dan mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya kemudian menuruti apa kata Arya Wiraraja dan menyerahkan diri serta bersumpah serapah setia kepada Jayakatwang.

Berbulan - bulan setelah mengabdi, Raden Wijaya mampu mengambil hati Jayakatwang dengan kinerjanya yang postif untuk Kediri. Setelah dirasa sudah cukup mendapatkan kepercayaan Jayakatwang, atas saran Wiraraja kepada Jayakatwang diberi saran untuk memberikan tanah di Trowulan berupa hutan tarik yang kemudian dibuka dan dijadikan tempat peristirahatan Jayakatwang kepada Raden Wijaya. Jayakatwang dengan senang hati  memberikan tanah tersebut dan tidak menaruh curiga kepada Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian membangun Trowulan sebagai desa yang besar dibantu mantan 9 arya dari Singasari bukan sebagai tempat peristirahatan Jayakatwang, melainkan basis kekuatan pendukung Wijaya untuk menggulingkan kekuasaan Kediri.

Setelah Trowulan berkembang menjadi ramai, Arya Wiraraja melakukan negosiasi dan menghasut Shie Pie seorang panglima Mongol yang beberapa tahun lalu utusannya pernah disiksa Kertanegara karena Kertanegara enggan tunduk kepada Mongol, Arya Wiraraja menghasut Shie Pie untuk menyerang Jawadwipa. Arya Wiraraja tidak memberi tau Shie Pie bahwa Kertanegara telah tewas dan mengatakan bahwa Jayakatwang adalah Kertanegara. Shie Pie terkena hasutan Arya Wiraraja dan kemudian menyerang Kediri dengan kekuatan besar serta dibantu pasukan pembeontak dari Trowulan dipimpin oleh Raden Wijaya dan mantan 9 arya Singasari. Pasukan Kediri kalangkabut karena kalah akan jumlah dan persenjataan, Kediri yang hanya berdiri selama beberapa bulan hancur lebur dan Jayakatwang bersama keluarganya di tawan serta dipenjara.

Seusai kemenangan atas Kediri, Arya Wiraraja mengadakan pesta untuk pasukan Mongol pada malam harinya. Ia menyediakan arak kepada pasukan Mongol dan seketika para pasukan Mongol mabuk. Sebenarnya pesta ini adalah siasat dari Arya Wiraraja, disisi lain Raden Wijaya dan sembilan arya menyiapkan penyerbuan tentara Mongol tersebut. Setelah banyak dari pasukan Mongol terlelap, Raden Wijaya dan pasukannya menyergap dari segala arah dan mengunci mereka di sekitar pelabuhan. Tentara mongol tidak memiliki kesempatan dan pilihan kemudian melarikan diri menggunakan kapal dan pulang ke Mongol.
Pada akhirnya setelah usaha panjang yang dilakukan Arya Wiraraja bersama Raden Wijaya dan mantan 9 arya Singasari kemudian medirikan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama dan bergelar Sri Kertarajasa Jayawardana. Namun konflik ini masih belum selesai, pada tulisan selanjutnya akan dibahas bagaimana kisah pilu yang terjadi di internal kerajaan Majapahit.

Baca post selanjutnya, Ranggalawe pemimpin arya yang terkhianati


EmoticonEmoticon