Museum Brawijaya

Museum Brawijaya merupakan salah satu destinasi wisata sejarah di Malang yang menampilkan benda - benda peninggalan pada masa perjuangan warga Malang melawan penjajah. Museum Brawijaya terletak di Jl. Ijen, No. 25 A, Kota Malang yang berdiri atas prakarsa Brigjen TNI (Purn) Soerachman Pengdam VIII/BRW tahun 1959 hingga 1962 dan berdiri pada lahan seluas 10.500 m2. Museum ini diresmikan pada tanggal 4 Mei 1968 oleh Kolonel Pur. Dr. Soewondo.

Museum Brawijaya terdapat beberapa ruangan yang menyimpan barang - barang bersejarah. Halaman depan Museum Brawijaya terdapat taman senjata yang bernama Agne Yastra Loka yang memiliki makna tempat / taman (loka) senjata (yastra) yang diperoleh dari api (agne) Revolusi 1945.

Berikut adalah koleksi Taman Senjata dari Museum Brawijaya Malang :
  1. Tank buatan Jepang yang dirampas arek Suroboyo pada bulan Oktober 1945. Tank tersebut kemudian digunakan dalam perang 10 November 1945.
  2. Senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) atau dikenal dengan nama Pompom Double Loop yang merupakan hasil rebutan dari pemuda BKR dari tangan Jepang pada pertempuran pada bulan September 1945.
  3. Meriam 3,7 Inch (Si Buang) merupakan hasil rampasan dari tentara Belanda pada serangan 10 Desember 1945 oleh pasukan TKR dan laskar pejuang terhadap Belanda di pos pantai Desa Betering.
  4. Tank Amfibi AM Track yang pernah digunakan Belanda yang akan menduduki Kota Malang pada masa Perang Kemerdekaan I.
  5. Patung Jenderal Soedirman yang dimaksudkan untuk mengenang jasa Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Setelah melewati ruang awal, terdapat 2 ruangan besar yang ada di kanan dan kiri jalan setelah pintu masu. Berikut ini adalah dua ruang penyimpanan yang ada di Museum Brawijaya.

Ruang Penyimpanan I
Ruang penyimpanan menyimpan benda - benda koleksi tahun 1945-1949. Berikut adalah benda - benda yang dipamerkan pada ruang penyimpanan :
  1. Foto para Panglima Kodam di Jawa Timur dari 1945 hingga sekarang.
  2. Lukisan seragam PETA, HEIHO dan pejuang.
  3. Lukisan Pamen, Pama, Bintara dan Tamtama prajurit PETA.
  4. Burung merpati pos yang pernah digunakan sebagai kurir di daerah Komando Ronggolawe, Lamongan / Bojonegoro dengan front Surabaya pada tahun 1946.
  5. Pedang samurai yang pernah dipakai perwira Jepang yang kemudian direbut TKR dari tentara Jepang di perkebunan Ngrakah, Sepanon, Kabupaten Kediri.
  6. Meja kursi yang pernah digunakan untuk melakukan perundingan gencatan senjata antara TKR dengan Sekutu di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1945. Indonesia diwakili oleh Soekarno sedangkan dari Sekutu diwakili oleh Mayjen Havtorn dan Brigjen Mallaby.
  7. Senjata buatan pabrik senjata Mrican Kediri tahun 1945 - 1946.
  8. Alat penghubung atau radio yang pernah digunakan pada tahun 1945 - 1946 oleh Denhub Brawijaya.
  9. Lukisan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
  10. Peralatan Jenderal Sudirman ketika melakukan perang gerilya di Desa Loceret, Bajulan, Nganjuk. 
  11. Peta rute perang gerilya Jenderal Soedirman.
  12. Alat kesehatan yang digunakan Dr. Harjono yang gugur ketika menghadapi Belanda dalam pertempuran di Krian, Mojokerto pada tahun 1948.
  13. Pakaian dan mantel dr. Soebandi, dokter Brigade III / Damarwulam merangkap Resimen Militer Jember.
  14. peralatan yang pernah digunakan Kapten Soemitro pada Perang Kemerdekaan di Nongkojajar, Pasuruan pada tahun 1948.
  15. Mata uang Indonesia pada masa revolusi.
  16. Senjata peninggalan TRIP yang digunakan dalam pertempuran di Gunungsari pada tanggal 28 November 1945.
  17. Mobil sedan keluaran pabrik Desoto USA tahun 1941 yang digunakan Kolonel Sungkono Panglima Divisi I / Jawa Timur 1948.
  18. Dan lain - lain.
Ruang Penyimpanan II
Ruang penyimpanan selanjutnya menyimpan benda - benda koleksi dari tahun 1950 - 1976, diantaranya :
  1. Peta kota Malang dan perkembangannya
  2.  Foto - foto burgemaster dan walikota Malang dari zaman pemerintahan Belanda hingga sekarang
  3. Meriam dan bejana besi
  4. Senjata hasil rampasan dari PRRI / Permesta
  5. Komputer pertaa yang digunakan Jawatan Keuangan, Kodam VIII / Brawijaya
  6. Maket patung Raden Wijaya sebagai Prabu Brawijaya Teks Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dari marmer.
  7. Peta penugasan pasukan Brawijaya
  8. Alat musik yang pernah digunakan Detasemen Musik Kodam V / Brawijaya.
  9. Peralatan perang yang pernah digunakan pasukan Brwaijaya untuk merebut Irian Barat pada Operasi Trikora
  10. Peralatan tradisional rakyat Irian Jaya.
  11. Lukisan timbul Mayjen Soeharto sebagai Panglima Mandala dalam rangka merebut kembali Irian Barat.
  12. Atribut Kapten dr. Arjoko dari Jawatan Kesehatan Kodam VIII / Brawijaya yang gugur di Irian Jaya pada bulan Maret 1964 akibat pesawat udara yang ditumpanginya jatuh di Ganyem, Irian Jaya.
  13. Bendera Katanga
  14. Seragam tentara Papua buatan Belanda.
  15. Dan banyak lagi
Selain dua ruangan penyimpanan  diatas terdapat ruangan lain yakni ruangan buku bersejarah dan halaman tengah yang terdapat sebuah perahu serta gerbong maut.
  1. Perpustakaan Museum
    Perpustakaan ini merupakan tempat koleksi buku serta dokumen (audio visual) sejarah perjuangan TNI, karya - karya umum dan referensi yang terkait dengan pengabdian kepada NKRI.
  2. Gerbong Maut
    Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda mendarat di Pasir Putih dan menyerang beberapa kota, salah satunya Bondowoso. Gerbong barang bernomor GR 10152 adalah salah satu dari tiga gerbong yang mengangkut 100 orang tawanan pejuang Indonesia yang dipenjara di Bondowoso. Pada tanggal 23 September 1947 pukul 02.00 100 orang tawanan tersebut  dipindahkan ke Surabaya. Karena berdesak - desakan di dalam gerbong yang sempit dan tertutup dengan udara panas mengakibatkan banyak tentara meninggal. Para pejuang yang masih hidup menggedor - gedor meminta air dan meminta dibukakan agar udara bisa masuk. Prajurit Belanda hanya menjawab "Tidak ada air, yang ada hanyalah peluru" Sesampainya di Surabaya, sebanyak 46 orang meninggal sedangkan 42 orang dalam keadaan lemas dan 12 orang masih sehat. 12 orang yang masih sehat dimasukkan penjara di Kali Sosok, Surabaya. Dua gerbong lain terdapat Surabaya dan Bondowoso.
  3. Perahu Segigir
    Pada bulan November 1947, Belanda berhasil menguasai Pasongsongan, Sumenep. Pasukan Joko Tole yang sebelumnya menduduki wilayah tersebut terpaksa mundur ke Desa Prenduan pesisir antara Sumenep dan Pamekasan. Markas baru tersebut diketahui pihak Belanda dan kemudian melancarkan rencana serangan. Rencana serangan tersebut diketahui mata - mata pejuang dan dilaporkan Letkol Chandra Hasan, Komandan Resimen Joko Tole.

    Menjelang malam hari, secara diam - diam Letkol Chandra Hasan memindahkan pasukannya ke Paiton, Kabupaten Probolinggo, sedangkan pemerintahan sipil dipindah ke Tuban. Perahu Segigir inilah yang digunakan oleh Letkol Chandra Hasan untuk memimpin pasukan melawan Belanda.
Informasi Museum Brawijaya
Jl. Ijen No 25 A, Malang
Telp. 0341-562 394
Buka Senin sampai Sabtu : 08.00 - 14.00
Minggu atau libur nasional : 08.00 - 15.00
Harga tiket dewasa / rombongan / anak - anak Rp. 2.000 (harga mungkin sudah naik).

Semboyan Museum Brawijaya
Cara Uthapana Cakra yang berarti Sinar yang membangkitkan kekuatan"

Foto Museum Brawijaya








Blogger
Disqus

No comments